LOVE SICK part 5
Disisi lain. setelah
dengan brutal Yoona memukuli Kai. Ia segera berganti pakain dan mengumpat
sendiri.
“Dasar lelaki gila! Apa yang dia lakukan di kamarku?”
gumamnya. Sekarang ia malu menemuinya, karena kejadian tadi. Mau taruh mana
mukanya. Selama ini tak pernah ada yang melihatnya setelah mandi apalagi hanya
mengenakan handuk yang dililitkan sekenanya.
“Lagi pula, ngapain dia ke rumah?” setelah berpikir, dengan
berjalan bolak balik di kamarnya. Ia pun memutuskan untuk keluar dan menemuinya
di ruang tamu.
Yoona melihat Kai bermain PS yang di ruang TV. Berlagak
seperti rumah sendiri rupanya. Karena Kai merasa bosan menunggu gadis itu, ia
berjalan ke ruang TV dan menemukan PS nganggur.(Ya kali nganggur bangKai?).
“Ishh.. setelah masuk kamar orang seenaknya, sekarang mainin
PS orang?” suara Yoona yang membuat Kai tersentak dan mendongak—melihat Yoona
sudah mendelik menatapnya dingin.
“Udah selesai? Katanya kau sedang sakit?” tanya Kai
mengalihkan pembicaraan.
“Terus kenapa kalau sakit?” Kai menatap gadis itu, ia memicingkan
matanya—menatap seolah-olah Yoona tidak sakit, dia sehat-sehat saja sekarang.
“Aku sakit!” jawabnya singkat dan gugup lalu duduk di Sofa
sebelah Kai, ia melipat tangannya ke dada. Kai mengerutkan kening, heran.
“Hatiku yang sakit.” Kini suaranya tampak melemah dan wajahnya
sendu. Kai mematikan PS nya dan beranjak mendekati Yoona.
“Kau kenapa Na? ada masalah?” sahut Kai, sok peduli.
“Cih, sejak kapan kau menjadi peduli, huh?” Yoona menepis
tangan Kai yang seenak jidat mengelus pucuk kepalanya.
“Maaf reflek.” Sahut Kai, sambil meniup tangannya yang ditepis
Yoona.
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Yoona penuh selidik.
“Disuruh papa.” Jawab Kai enteng. Sekarang Kai kembali bermain
iPhonenya.
“Oh, sekarang aku sudah mendingan, kau boleh pulang.” Cetus
Yoona karena merasa risih.
Krrrkk… Krrkk..
Yoona memegangi perutnya. Ia lupa, kalau sejak semalam belum
makan sama sekali. Badannya juga baru mendingan, setelah demam semalam. Sarapan
yang pembantunya buatkan tak tersentuh, karena malas. Kai mengantongi kembali
HPnya. Ia terkekeh geli.
“Kayaknya ada yang kelaparan nih…” ejek Kai, ia melihat jarum
di arloji Fossilnya menujukkan pukul lima sore.
“Ish.. apaan sih.” Yoona malu mengakuinya.
“Ya sudah, aku masakin buat tunanganku, boleh kan?” Tawar Kai.
“Eh, ngapain? Gak usah, delivery
aja.” Sahut Yoona, ia hendak beranjak mengambil HPnya.
“Udah tenang aja. Delivery
terus gak baik bagi kesehatan. Kau bisa mengandalkanku Nanna.” Kai pun menuju
ke dapur Yoona. Mencari bahan yang sudah ada dan mengolah dengan sederhana.
Dengan terampil, Kai mengolah masakan sederhana begitu tampak
menggiurkan. Di depannya Yoona mengamati setiap pergerakan Kai yang menurutnya
sangat lincah—bak seorang chef. Yoona memangku tangannya sambil mengamatinya.
Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam ia mengagumi sosok itu. Bahkan Yoona
tanpa sadar membuka mulutnya karena tergoda dengan bau masakan yang di
hidangkan.
Kai mengibas-ngibaskan tangannya karena melihat Yoona melamun.
Karena ia tak merespon, Kai pun punya ide jahil. Ia segera mengambil selada dan
memasukkan sedikit daging yang ia masak, lalu ia memasukkan saus cabai ekstra
pedas plus sebiji cabe rawit. Kai menyuapi Yoona. Karena kaget, Yoona segera
mengunyah suapan itu, namun sepersekian detik ia memuntahkannya dan heboh
karena kepedesan.
Dengan sigap, Kai mengambilkan air dan menyodorkannya ke
Yoona. Yoona hanya bisa meneguk air sampai rasa pedas nya hilang. Kai hanya
terkekeh.
“Kai ahh, sihhalanhhh!” pekiknya sambil kepedesan.
“Ini nih, minum susu aja. Susu efek—“ belum selesai
menjelaskan, tangan Yoona segera menyambar susu kotak di tangan Kai. Kai
tersenyum geli, tanpa sadar tangannya—yang nakal itu kembali mengelus pucuk kepala
Yoona.
Setelah lega meminumnya, Yoona merasa mendingan—namun ia
tersadar, sesuatu yang sangat nyaman apa yang ia rasakan saat ini? Batinnya.
Yoona mendongakkan kepalanya. Memandang pergerakan yang dilakukan Kai, Kai
mengelus pucuk kepalanya dan tersenyum sangat menawan—Yoona merasa di alam
bawah sadar, sampai akhirnya otak cantiknya menyela, menyuruhnya untuk
berkomentar.
“Kau?” sela Yoona memandangnya tajam. Kai yang sadar pun
segera melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangannya.
“Maaf.” Jawabnya singkat.
***
Keesokan harinya, Yoona segera menuju ke kalasnya. Entah
mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh. Aneh sekali karena ia bahkan
senyum-senyum sendiri sejak kejadian kemarin. Hal itu membuatnya merasa gila.
“Dor!” tembak Irene yang menemukan Yoona tengah melamun
sendirian di kelas.
“Ashhh… Irene! Dasar!” kesal Yoona pada Irene. Irene hanya
terkikik melihat sahabatnya kaget.
“Uh kenapa lagi sih uri-Yoona
ini? Huh? Cerita dong!” goda Irene.
“Nggak ada, masih pusing aja bekas kemaren.” Yoona beralasan
karena malu untuk cerita tentang Kai.
“Oh iya. Kau kan sakit. Sebenarnya kau sakit apa? Tapi
sekarang udah sehat kan?” tanya Irene penuh kekhawatiran.
“Eh, gak pa-pa Ren, aku udah baikan sekarang. Biasa, masuk
angin aja.” Kata Yoona lagi.
“En Na, tahu gak sih ada cowok keren abis, aku suka deh sama
dia.”
“Oh ya? Berarti kau sudah bisa move on dong dari si
Baekhyun itu?” seru Yoona antusias. Mengingat sahabtanya itu susah banget
melupakan mantannya yang pergi entah kemana.
“Isshh.. geumarre[1]!
Jangan sebut lagi nama sialan itu,
aku tak sudi, cih!” Irene mengalihkan pandangan, tanda tak menyukai membahas
masa lalunya.
“Oke, geundae[2],
siapakah lelaki beruntung yang membuka hati Irene-ku ini?” tanya Yoona sangat
penasaran.
“Ah, chakkaman[3],
Ukshi[4]
seorang itu kakak angkatan itu? Bukannya dia menyukaimu ya Irene, siapa
namanya… em.. Chan.. ee.. Chan.. Yeol? Ah, Chanyeol oppa!” Yoona menebak-nebak si lelaki itu.
“Ehem…” Irene hanya menggelang. “Ah, aku bahkan tak tahu,
siapa? Chanyeol oppa? Apa iya dia
menyukai-ku, bukannya dia popular? Tidak mungkin lah kalau dia menyukaiku. Haha
kau ini ada-ada saja.” Irene jadi tersipu.
“Ciee, seneng ada yang naksir. Terus kalau bukan Chanyeol oppa, siapa dong?” tanya Yoona penuh
selidik.
“Em… namanya Kai… dia baik banget, juga ganteng.” Irene
menyebut namanya dengan malu-malu. Seketika Yoona tercekat, pikirannya
berkecamuk.
“Huh? Kai? Apa mungkin
Kai-ku? Astaga dia bukan milikku. Aahh mikir apa sih aku. Bodohnya aku tak
menanyakan dia kuliah dimana? Bisa saja Kai yang lain kan? Tapi kata Irene dia
tampan, Kai juga yah tampan sih, tapi masa iya? Aah, kok aku jadi khawatir sih.
Semoga saja orang yang beda, karena kalau sampai itu Kai yang sama pasti
masalah besar akan terjadi!” Yoona curhat sama batinnya sendiri, sambil ia
menggiggit bibir bawahnya tanda kecemasan.
“Na… Yoona, kau ngelamun lagi?” Irene mengguncang-guncang bahu
Yoona.
“Ah, haha… sorry sorry!”
“Kau gak pa-pa Na?”
“Aku baik-baik saja. Oh ya, Kai itu kuliah disini?” tanya
Yoona mencoba menelisik Kai yang di ceritakan Irene ini.
“Oh, iya. Dia anak ekonomi, semesternya sama kayak kita. Kita
ketemunya selalu di perpus sih, hehe. Kenapa Na?” cerita Irene.
“Eh, gak pa-pa. Cuma pengen tahu, kayak
apa sih yang bikin Irene bisa klepek-klepek gini.” Kilah Yoona. Ia bermisi
ingin menyelidiki Kai. Kai-nya dan Kai-nya Irene, apakah orang yang sama atau
beda.
to be continue

Tidak ada komentar:
Posting Komentar