Senin, 09 Oktober 2017

LOVE SICK part 5

LOVE SICK part 5


Disisi lain. setelah dengan brutal Yoona memukuli Kai. Ia segera berganti pakain dan mengumpat sendiri.
       “Dasar lelaki gila! Apa yang dia lakukan di kamarku?” gumamnya. Sekarang ia malu menemuinya, karena kejadian tadi. Mau taruh mana mukanya. Selama ini tak pernah ada yang melihatnya setelah mandi apalagi hanya mengenakan handuk yang dililitkan sekenanya.
       “Lagi pula, ngapain dia ke rumah?” setelah berpikir, dengan berjalan bolak balik di kamarnya. Ia pun memutuskan untuk keluar dan menemuinya di ruang tamu.
       Yoona melihat Kai bermain PS yang di ruang TV. Berlagak seperti rumah sendiri rupanya. Karena Kai merasa bosan menunggu gadis itu, ia berjalan ke ruang TV dan menemukan PS nganggur.(Ya kali nganggur bangKai?).
       “Ishh.. setelah masuk kamar orang seenaknya, sekarang mainin PS orang?” suara Yoona yang membuat Kai tersentak dan mendongak—melihat Yoona sudah mendelik menatapnya dingin.
       “Udah selesai? Katanya kau sedang sakit?” tanya Kai mengalihkan pembicaraan.
       “Terus kenapa kalau sakit?” Kai menatap gadis itu, ia memicingkan matanya—menatap seolah-olah Yoona tidak sakit, dia sehat-sehat saja sekarang.
       “Aku sakit!” jawabnya singkat dan gugup lalu duduk di Sofa sebelah Kai, ia melipat tangannya ke dada. Kai mengerutkan kening, heran.
       “Hatiku yang sakit.” Kini suaranya tampak melemah dan wajahnya sendu. Kai mematikan PS nya dan beranjak mendekati Yoona.
       “Kau kenapa Na? ada masalah?” sahut Kai, sok peduli.
       “Cih, sejak kapan kau menjadi peduli, huh?” Yoona menepis tangan Kai yang seenak jidat mengelus pucuk kepalanya.
       “Maaf reflek.” Sahut Kai, sambil meniup tangannya yang ditepis Yoona.
       “Kenapa kau ada disini?” Tanya Yoona penuh selidik.
       “Disuruh papa.” Jawab Kai enteng. Sekarang Kai kembali bermain iPhonenya.
       “Oh, sekarang aku sudah mendingan, kau boleh pulang.” Cetus Yoona karena merasa risih.
Krrrkk… Krrkk..
       Yoona memegangi perutnya. Ia lupa, kalau sejak semalam belum makan sama sekali. Badannya juga baru mendingan, setelah demam semalam. Sarapan yang pembantunya buatkan tak tersentuh, karena malas. Kai mengantongi kembali HPnya. Ia terkekeh geli.
       “Kayaknya ada yang kelaparan nih…” ejek Kai, ia melihat jarum di arloji Fossilnya menujukkan pukul lima sore.
       “Ish.. apaan sih.” Yoona malu mengakuinya.
       “Ya sudah, aku masakin buat tunanganku, boleh kan?” Tawar Kai.
       “Eh, ngapain? Gak usah, delivery aja.” Sahut Yoona, ia hendak beranjak mengambil HPnya.
       “Udah tenang aja. Delivery terus gak baik bagi kesehatan. Kau bisa mengandalkanku Nanna.” Kai pun menuju ke dapur Yoona. Mencari bahan yang sudah ada dan mengolah dengan sederhana.
       Dengan terampil, Kai mengolah masakan sederhana begitu tampak menggiurkan. Di depannya Yoona mengamati setiap pergerakan Kai yang menurutnya sangat lincah—bak seorang chef. Yoona memangku tangannya sambil mengamatinya. Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam ia mengagumi sosok itu. Bahkan Yoona tanpa sadar membuka mulutnya karena tergoda dengan bau masakan yang di hidangkan.
       Kai mengibas-ngibaskan tangannya karena melihat Yoona melamun. Karena ia tak merespon, Kai pun punya ide jahil. Ia segera mengambil selada dan memasukkan sedikit daging yang ia masak, lalu ia memasukkan saus cabai ekstra pedas plus sebiji cabe rawit. Kai menyuapi Yoona. Karena kaget, Yoona segera mengunyah suapan itu, namun sepersekian detik ia memuntahkannya dan heboh karena kepedesan.
       Dengan sigap, Kai mengambilkan air dan menyodorkannya ke Yoona. Yoona hanya bisa meneguk air sampai rasa pedas nya hilang. Kai hanya terkekeh.
       “Kai ahh, sihhalanhhh!” pekiknya sambil kepedesan.
       “Ini nih, minum susu aja. Susu efek—“ belum selesai menjelaskan, tangan Yoona segera menyambar susu kotak di tangan Kai. Kai tersenyum geli, tanpa sadar tangannya—yang nakal itu kembali mengelus pucuk kepala Yoona.
       Setelah lega meminumnya, Yoona merasa mendingan—namun ia tersadar, sesuatu yang sangat nyaman apa yang ia rasakan saat ini? Batinnya. Yoona mendongakkan kepalanya. Memandang pergerakan yang dilakukan Kai, Kai mengelus pucuk kepalanya dan tersenyum sangat menawan—Yoona merasa di alam bawah sadar, sampai akhirnya otak cantiknya menyela, menyuruhnya untuk berkomentar.
       “Kau?” sela Yoona memandangnya tajam. Kai yang sadar pun segera melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangannya.
       “Maaf.” Jawabnya singkat.
***
       Keesokan harinya, Yoona segera menuju ke kalasnya. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh. Aneh sekali karena ia bahkan senyum-senyum sendiri sejak kejadian kemarin. Hal itu membuatnya merasa gila.
       “Dor!” tembak Irene yang menemukan Yoona tengah melamun sendirian di kelas.
       “Ashhh… Irene! Dasar!” kesal Yoona pada Irene. Irene hanya terkikik melihat sahabatnya kaget.
       “Uh kenapa lagi sih uri­-Yoona ini? Huh? Cerita dong!” goda Irene.
       “Nggak ada, masih pusing aja bekas kemaren.” Yoona beralasan karena malu untuk cerita tentang Kai.
       “Oh iya. Kau kan sakit. Sebenarnya kau sakit apa? Tapi sekarang udah sehat kan?” tanya Irene penuh kekhawatiran.
       “Eh, gak pa-pa Ren, aku udah baikan sekarang. Biasa, masuk angin aja.” Kata Yoona lagi.
       “En Na, tahu gak sih ada cowok keren abis, aku suka deh sama dia.”
       “Oh ya? Berarti kau sudah bisa move on  dong dari si Baekhyun itu?” seru Yoona antusias. Mengingat sahabtanya itu susah banget melupakan mantannya yang pergi entah kemana.
       “Isshh.. geumarre[1]!  Jangan sebut lagi nama sialan itu, aku tak sudi, cih!” Irene mengalihkan pandangan, tanda tak menyukai membahas masa lalunya.
       “Oke, geundae[2], siapakah lelaki beruntung yang membuka hati Irene-ku ini?” tanya Yoona sangat penasaran.
       “Ah, chakkaman[3], Ukshi[4] seorang itu kakak angkatan itu? Bukannya dia menyukaimu ya Irene, siapa namanya… em.. Chan.. ee.. Chan.. Yeol? Ah, Chanyeol oppa!” Yoona menebak-nebak si lelaki itu.
       “Ehem…” Irene hanya menggelang. “Ah, aku bahkan tak tahu, siapa? Chanyeol oppa? Apa iya dia menyukai-ku, bukannya dia popular? Tidak mungkin lah kalau dia menyukaiku. Haha kau ini ada-ada saja.” Irene jadi tersipu.
       “Ciee, seneng ada yang naksir. Terus kalau bukan Chanyeol oppa, siapa dong?” tanya Yoona penuh selidik.
       “Em… namanya Kai… dia baik banget, juga ganteng.” Irene menyebut namanya dengan malu-malu. Seketika Yoona tercekat, pikirannya berkecamuk.
       Huh? Kai? Apa mungkin Kai-ku? Astaga dia bukan milikku. Aahh mikir apa sih aku. Bodohnya aku tak menanyakan dia kuliah dimana? Bisa saja Kai yang lain kan? Tapi kata Irene dia tampan, Kai juga yah tampan sih, tapi masa iya? Aah, kok aku jadi khawatir sih. Semoga saja orang yang beda, karena kalau sampai itu Kai yang sama pasti masalah besar akan terjadi!” Yoona curhat sama batinnya sendiri, sambil ia menggiggit bibir bawahnya tanda kecemasan.
       “Na… Yoona, kau ngelamun lagi?” Irene mengguncang-guncang bahu Yoona.
       “Ah, haha… sorry sorry!”
       “Kau gak pa-pa Na?”
       “Aku baik-baik saja. Oh ya, Kai itu kuliah disini?” tanya Yoona mencoba menelisik Kai yang di ceritakan Irene ini.
       “Oh, iya. Dia anak ekonomi, semesternya sama kayak kita. Kita ketemunya selalu di perpus sih, hehe. Kenapa Na?” cerita Irene.
       “Eh, gak pa-pa. Cuma pengen tahu, kayak apa sih yang bikin Irene bisa klepek-klepek gini.” Kilah Yoona. Ia bermisi ingin menyelidiki Kai. Kai-nya dan Kai-nya Irene, apakah orang yang sama atau beda.

to be continue 


[1] hentikan
[2] tapi
[3] Tunggu sebentar
[4] mungkinkah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar