LOVE SICK PART 11
Beberapa hari berlalu.
Chanyeol yang sudah lama tak menegur Kai, setelah mendapatkan maaf dari Irene,
ia juga minta maaf pada Kai yang memanfaatkannya. Kai pun menerima maafnya dan
mereka berdua saling meminta maaf. Akhirnya squad
bangsad mereka kembali berkumpul setelah sekian lama.
Sejak Yoona tak bertegur sapa dengan Kai. Yoona menjadi gadis
yang pendiam dan murung. Irene yang sudah dapat menerima kenyataanpun tak tega
melihat sahabatnya itu menyiksa dirinya dengan tak berteman dengan Kai, entah
mengapa Irene mempunyai firasat jika Yoona terpaksa menjauhi Kai karena
dirinya—mungkin Yoona telah jatuh cinta dengan Kai. Meskipun Irene dan Yoona
masih sering bertegur sapa, namun Yoona lebih sering menolak dan menghindar
jika di ajak hangout bareng.
Irene memutuskan untuk memaksa Yoona agar dapat mengobrol
lebih lama dan menjelaskan semuanya, karena menjauh seperti itu membuat Irene
tak nyaman.
Setelah kelas berakhir, Irene segera menghampiri Yoona.
“Sudah sangat lama sekali kau mencoba menghindariku Yoona-yah!
Banyak hal yang harus kita bicarakan!” tegur Irene saat melihat Yoona
merapihkan mejanya.
“Hmm.. bukankah semua sudah selesai. Aku membatalkan
pertunanganku. Jadi kita tak ada hubungan, dan tak perlu lagi di bicarakan. Toh
kita baik-baik saja kan?” Yoona segera beranjak meninggalkan Irene. Mendengar
pembatalan pertunangannya itu membuat Irene terkejut. Irene langsung menarik
lengan Yoona.
“Tunggu! Bukan itu yang harusnya terjadi. Please! Aku minta waktumu sebentar saja.” Setelah sejenak
merenungkan permintaan sahabtanya itu, Yoona-pun mengangguk. Lalu ia mengikuti
kemana Irene membawanya.
****
Setelah obrolannya dengan Irene, Yoona pun tak langsung
pulang. Ia harus pergi ke tempat dimana seharusnya ia pergi. Sudah sebulan
sejak pembatalan tunangannya dengan Kai. Sejak saat itu Yoona yang tahu Irene
menyukai Kai langsung memutuskan agar ayahnya membatalkan tunangannya, awalnya
Kai menolak. Kai bukan menghindari Yoona, ia bahkan setiap hari mecoba meminta
maaf pada Yoona, banyak hal yang ia lakukan agar Yoona tak membatalkan
pertunangan dan meminta maaf. Namun, sifat egois dan keras kepala nya Yoona
membuat Kai akhirnya mengabulkan apapun keinginan Yoona—jika itu membuatnya
bahagia, membatalkan tunangannya dan tak menganggunya lagi.
Di perjalanan, banyak hal yang ia sesali. Ia belum pernah
pergi ke rumah orang ini. Namun, ayahnya dengan senang hati memberikan
alamatnya. Banyak hal yang berkecamuk dalam hatinya. Yoona sangat gelisah,
taksi yang ia tumpangi berhenti di sebuah perumahan mewah. Banyak rumah
berjajar dengan megah. Yoona melihat SMS di ponselnya. Blok A1 no. 17. Tidak
salah, itu adalah tujuan Yoona.
Yoona menghembuskan nafas berat. Ia menyiapkan hatinya. Ia
juga memandang rumah yang begitu megah itu, tangannya ragu-ragu memencet bel
pada pintu gerbang yang tinggi menjulang itu.
Setelah beberapa saat. Seorang penjaga membukakan pintu.
“Mau cari siapa neng?” tanya penjaga itu.
“Maaf pak! Kai ada?” akhirnya Yoona menanyakan keberadaan
lelaki yang membuatnya gelisah. Penjaga itu pun tersenyum dan menyuruh Yoona
masuk.
“Silakan neng, masuk aja. Tunggu di dalam.” Yoona mengikuti
ajakan penjaga itu yang mengantarnya masuk ke ruang tamu.
Yoona baru pertama kali ke rumah Kai, dan itu malah membuatnya
minder. Bahkan rumahnya tak se megah dan sebesar milik Kai, maklumlah karena
papanya Kai adalah bos. Yoona masih duduk di tepian kursi ruang tamu, ia sangat
gelisah. Apa yang akan ia katakan terlebih dulu pada Kai. Sudah lama sekali,
dan tiba-tiba mencarinya. Dasar bodoh! Yoona merutuki kebodohannya.
“Apa kau akhirnya merindukanku?” suara lembut dan rendah yang
Yoona hapal itu pun muncul. Kai berdiri di depannya, ia mengenakan Tshirt
reglan cerah dan celana pendek santai, lalu kedua tangannya ia sakukan, seperti
biasa—ia tampak cool. Yoona yang tersentak,
berdiri seketika. Ia hanya memandang lelaki yang sudah lama ia campakan itu.
Tidak tahu harus berucap apa.
“Kai….” Yoona hanya mampu menyebut namanya, lidahnya terasa
kelu. Seketika, matanya terasa berembun. Yoona menahannya dengan mendongak keatas,
ia tak ingin Kai melihatnya menangis. Kai segera mendekati Yoona.
Kini Kai tepat dihadapan gadis itu, Kai dengan intens
memandang mata gadis yang sangat amat ia rindukan itu, Yoona yang di pandang
itu pun tak lagi mampu menahan air matanya, kini air mata itu jatuh. Yoona
hanya menggigit bibirnya, menahan suaranya agar tak terisak. Semakin Kai
memandang dengan tatapan sendu, semakin Yoona merasa bersalah.
“Ma…af…” Yoona berkata sambil bergetar. Ia tak tahan. Dengan
cepat Kai menarik bahunya dan menariknya dalam pelukannya. Kai memeluk Yoona
dengan erat, sangat erat karena Kai sangat takut kehilangannya. Yoona pun
dengan ragu-ragu melingkarkan lengannya pada tubuh Kai. Ia bebas mengeluarkan
segala beban, kesedihan, perasaan bersalah, dan semuanya tentang Kai dengan
menangis dalam pelukan Kai.
Sudah beberapa lama mereka saling pelukan. Meluapkan segala
emosi yang terpendam. Dengan lembut Kai mengelus pucuk kepala gadis yang dari
awal telah ia jatuhi cinta itu. Setelah merasa baikan, Yoona pun melepaskan
pelukannya dan mengusap air matanya kasar. Ia memandang Kai dengan puppy eyesnya. Kai merasa gemas, dengan
lembut ia mengusap sisa air mata pada pipi Yoona dan terkekeh geli.
“Ih, dasar cengeng!” kata Kai sambil mengusap pipi Yoona itu.
Yoona menahan gerakan tangan Kai.
“Maafkan aku… aku memang bodoh…” masih menggenggam tangan Kai
dengan kedua tangannya. Kai melirik tangannya.
“Ya! Kau memang benar-benar bodoh! Kau bahkan berlagak sebagai
cupid tapi stupid!” sindir Kai.
“Ih, aku tahu. Aku memang benar-benar bodoh. Cinta itu selalu
menyakitkan!” Yoona menghempaskan tangan Kai.
“Ya! Kau! Issh… aku akan memberimu dan menunjukkan padamu
bahwa cinta itu indah dan tidak menyakitkan.” Kai tersenyum tulus. Yoona hanya
memandang pria itu dan balas tersenyum. Kai mengeratkan kembali pelukannya.
“Aku mencintaimu… sungguh… mencintaimu..” ucap Kai tulus.
Sejenak Yoona terperangah. Yoona sudah tahu jika Kai menyukainya, tapi Kai tak
pernah mengatakan cinta padanya.
“Nado sarangeo[1]…”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar