LOVE SICK part 6
Sehun sedang
mencari-cari Yoona. Ia akan meminta maaf atas apa yang ia lakukan selama ini
dan menjelaskan semuanya secara detail. Setidaknya walau ia tak mendapatkan
kesempatan menjelaskan, ia harus minta maaf, Sehun sudah bertekad, ia tak ingin
di rundung perasaan bersalah. Kedua sahabatnya telah memberikannya
penguatan—sehingga ia-pun langsung pergi untuk menemukan Yoona.
Ia telah keliling di gedung sastra, namun tak kunjung
menemukan yang dicarinya. Karena merasa capek. Sehun memilih duduk di depan
kelas di sebuah bangku panjang. Sesekali ia memijit dahinya dan mengusap
beberapa bulir keringat yang meleleh di sepanjang dahi dan jambangnya.
Sampai akhirnya, ia melihat seseorang yang ia tunggu-tunggu.
Yoona tengah keluar dari kelas dan berjalan begitu tergesa-gesa. Sehun pun
mengikuti langkah Yoona. Yoona terlihat terburu-buru dengan mengambil langkah
besar. Sehun memutuskan untuk mengikutinya dari balakang.
Dari arah jalannya, Yoona sama sekali tak menghiraukan sekitar
sehingga memudahkan Sehun untuk mengikuti secara diam-diam. Tapi tunggu, gedung
ekonomi. Ngapain Yoona ke gedung ekonomi. Ekonomi adalah jurusan Sehun dan Kai,
sedangkan Chanyeol mengambil Hukum.
Yoona berdiri di depan gedung, ia terlihat mondar mandir,
seperti tengah mencari sesuatu. Sesekali ia memutuskan untuk masuk, namun
beberapa saat keluar lagi. Sehun yang mengamati dari balik pohon merasa
penasaran dengan kelakuan Yoona.
Yoona memutuskan untuk duduk di bangku samping pintu masuk.
Karena merasa timingnya pas, Sehun
memutuskan untuk menemuinya, Sehun mengepalkan tangannya agar merasa yakin.
Belum sampai Sehun menginjakkan kakinya di gedung ekonomi, Sehun
melihat Kai kelur gedung dengan tas yang di cangklong sekenanya, saat ingin
menyapa. Namun Sehun melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
“Kai-ah!” pekik Yoona saat melihat Kai keluar gedung.
Mendengar namanya di panggil, Kai menghentikan langkahnya. Ia merasa tak asing
dengan suara itu. Kai masih memunggungi Yoona, ia lalu memutuskan berbalik.
“Ternyata benar. Kau Kai.” Setelah Kai berbalik—ia sangat
terkejut dengan keberadaan calon tunangannya itu, Yoona atau Nanna yang biasa
Kai kenal kini bertemu di kampus. Yoona memandang dengan tatapan tak percaya.
Tak kalah dengan Yoona, Kai sampai harus memundurkan
langkahnya karena Yoona ada di depan matanya.
“Na… Nanna!” tunjuk Kai juga tak kalah terkejutnya dengan
Yoona.
“Rupanya kau Kai si anak ekonomi itu?” Yoona mulai mendekati
Kai, memastikannya.
“Hah? Emang iya. Kau kan tak pernah menanyakan tentangku.
Kenapa kau mencariku, huh? Kangen
ya?” Kai menutupi kegugupannya karena jarak mereka sangat dekat, membuatnya
ingin menggoda calon tunangannya itu.
“Ishh.. hentikan!” Yoona mendorong Kai kebelakang, namun Sehun
sudah berada di belakang Kai.
“Sehun-ssi?” pekik Yoona. Kai pun terlihat bingung, begitupun
Sehun.
“Apa hubungan kalian?” tanya Sehun dengan wajah tak
berdosanya.
“Lah, harusnya aku yang bertanya, apa kau kenal dengan Nanna?”
kini Kai malah balik tanya.
“Nanna? Namanya Yoona.”
Sergah Sehun. Kini mereka berdua menuntut penjelasan dengan menatap Yoona yang
tak mampu berkata-kata.
Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk berbicara di gazebo
kampus di taman. Sebelumnya di perjalanan tak ada sepatah katapun terlontar
dari ketiganya. Yoona hanya menunduk sendiri berjalan didepan dua makhluk yang
menurutnya sangat menyebalkan dalam hidupnya itu, Sehun dan Kai malah asyik
tatap-tatapan dan bertanya-tanya lewat gerakan mata, namun mereka memilih untuk
saling diam, menyaksikan tingkah Yoona itu.
“Oke, apa yang mau kalian tahu?” kali ini Yoona membuka suara
setelah sampai di lokasi.
“Apa kau mengenal Sehun?” kali ini Kai yang pertama kali
menanyakan rasa keingintahuannya.
“Kenal? Lebih tepatnya pernah mengenal lalu dilupakan.” Yoona
menyindir Sehun, ia berkata sarkas. Sehun hanya menunduk merasa bersalah.
“Dan kau, ku pikir aku tak perlu menjelaskan hubunganku dengan
Kai, karena kita sudah lama tak berteman, jadi untuk apa aku menjelasnkannya
padamu?” kini Yoona hanya tersenyum kecut, mengingat kekecewaannya pada lelaki
satu ini.
Melihat situasi tak mengenakkan itu, Kai mulai membaca
situasi. Ia memberi isyarat pada Sehun, dan bertanya “dia?” lalu Sehun menunduk
lesu. “Dia” maksudnya adalah gadis yang ditinggalkan Sehun dulu.
“Na, kayaknya kau harus selesaikan dulu masalahmu dengan
Sehun. Untuk masalahmu dan aku, nanti kita bisa selesaikan di lain waktu.”
Putus Kai kemudian. Yoona hanya mendelik. Kai memohon pengertiannya. Setelah
ter-pak-sa mengiyakan, Kai pun segera pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Entah mengapa Kai merasa sesuatu terasa menyesakkan. Melihat
tatapan kecewa Yoona, mengingat cerita masa lalu mereka. Apakah Yoona masih
menyukai Sehun. Ternyata gadis itu adalah Yoona, Nanna yang ia kenal.
***
Sepersekian menit, hanya ada keheningan diantara Yoona dan
Sehun, sampai akhirnya Sehuan mengeluarkan sebuah kata yang mungkin ditunggu
Yoona selama ini.
“Ma-af…” satu kata berjuta makna, begitulah terasa kata itu
terdengar, kata yang sangat berat di dengar oleh suara Sehun yang sangat rendah
itu, di tambah hembusan panjang nafasnya yang menyiratkan sebuah penyesalan
yang amat dalam, bahkan kini Sehun tak mampu menatap gadistu. Perlahan ia
memajukan langkahnya, ia mulai berlutut di depan Yoona dengan tertunduk.
“Thekali lagi maafkan aku Yoona, aku memang orang paling
pecundang di dunia ini. Ku mohon maaafkan lah aku!” Sehun menunduk sambil
berlutut. Yoona yang terkejut memundurkan langkahnya. Yoona tak mengira Sehun
berbuat seperti itu di depannya.
“Berdirilah!” Yoona memegang kedua bahu Sehun. Sekilas ia
melirik wajah Sehun yang terpejam pasrah—ia juga melihat titik air yang
membasahi pipinya—apa mungkin lelaki di depannya ini memang seseorang yang
lemah—dan belum bisa dewasa dalam menghadapi masalah.
“Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf padaku,
Sehun-ssi.” Ungkap Yoona, membuat Sehun menengadahkan kepalanya dan berdiri
perlahan. Kini wajahnya mulai ia kembangkan sedikit senyum.
“Benarkah?” tanya Sehun antusias.
“Yah, ku pikir aku sudah memaafkanmu selama ini, aku hanya
kecewa. Gara-gara perasaanku ini aku jadi egois dan membuatku kehilangan teman
sebaik kau. Aku benar-benar bodoh bukan?” kini Yoona hanya tersenyum kecut,
mencoba menerima kenyataan pahit dahulu.
“Ah, kau thalah Yoona-ah, akulah biangnya. Gara-gara aku kau
jadi menderita. Maafkan aku yang kekanakan ini.” Sehun menundukkan pandangan
lagi.
“Kau sudah ku maafkan Sehun. Hanya saja mungkin… aku belum
bisa sedekat denganmu dulu…” Yoona menggantungkan kata-katanya, karena takut
menyinggung Sehun.
“Ahh.. tak mathalah kalau kau tak mau berteman denganku lagi.
Aku berthyukur kau mau memaafkanku dan aku telah meminta maaf padamu. Sejujurnya
saat itu… aku juga menyukaimu, mungkin aku memang bodoh—bodoh karena
meninggalkanmu—orang yang paling baik dan membiarkanmu terluka…” ungkap Sehun.
“Apa? Kau juga menyukaiku?” pekik Yoona merasa tak
percaya—bagaimana orang di depannya ini dulu juga menyukainya tapi malah
membiarkannya terluka, dasar! Batinnya. Kini gejolak hatinya semakin campur
aduk, ia tak tahu harus merasa senang atau kecewa sekaligus, pusing rasanya.
“Iya. Thaat itu aku menyukaimu. Tapi thekarang aku tak kan
menuntut, aku thadar betul jika aku thangat tidak pantath untuk Yoona. Yoona
pantath mendapat yang lebih baik dari aku.” Kali ini Sehun menyunggingkan
sedikit bibirnya—menguatkan hatinya.
“walaupun jika saat ini
aku menyukaimu… aku benar-benar tak pantas Yoona…” lanjut Sehun dalam hati,
yang tak mungkin di dengar Yoona. Yoona hanya terdiam.
Obrolan mereka-pun berakhir ketika merasa tak ada lagi yang
perlu di jelaskan. Yoona pamit pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Sehun—yang
kini menatap nyalang kepergian gadis itu. Entah mengapa pikirannya berkecamuk,
lega, senang, sedih, dan sesak. Mungkin itu kata yang cukup mendiskripsikan
hatinya saat ini.
TO BE CONTINUE !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar