Senin, 09 Oktober 2017

Love Sick part 6

LOVE SICK part 6
Sehun sedang mencari-cari Yoona. Ia akan meminta maaf atas apa yang ia lakukan selama ini dan menjelaskan semuanya secara detail. Setidaknya walau ia tak mendapatkan kesempatan menjelaskan, ia harus minta maaf, Sehun sudah bertekad, ia tak ingin di rundung perasaan bersalah. Kedua sahabatnya telah memberikannya penguatan—sehingga ia-pun langsung pergi untuk menemukan Yoona.
       Ia telah keliling di gedung sastra, namun tak kunjung menemukan yang dicarinya. Karena merasa capek. Sehun memilih duduk di depan kelas di sebuah bangku panjang. Sesekali ia memijit dahinya dan mengusap beberapa bulir keringat yang meleleh di sepanjang dahi dan jambangnya.
       Sampai akhirnya, ia melihat seseorang yang ia tunggu-tunggu. Yoona tengah keluar dari kelas dan berjalan begitu tergesa-gesa. Sehun pun mengikuti langkah Yoona. Yoona terlihat terburu-buru dengan mengambil langkah besar. Sehun memutuskan untuk mengikutinya dari balakang.
       Dari arah jalannya, Yoona sama sekali tak menghiraukan sekitar sehingga memudahkan Sehun untuk mengikuti secara diam-diam. Tapi tunggu, gedung ekonomi. Ngapain Yoona ke gedung ekonomi. Ekonomi adalah jurusan Sehun dan Kai, sedangkan Chanyeol mengambil Hukum.
       Yoona berdiri di depan gedung, ia terlihat mondar mandir, seperti tengah mencari sesuatu. Sesekali ia memutuskan untuk masuk, namun beberapa saat keluar lagi. Sehun yang mengamati dari balik pohon merasa penasaran dengan kelakuan Yoona.
       Yoona memutuskan untuk duduk di bangku samping pintu masuk. Karena merasa timingnya pas, Sehun memutuskan untuk menemuinya, Sehun mengepalkan tangannya agar merasa yakin.
       Belum sampai Sehun menginjakkan kakinya di gedung ekonomi, Sehun melihat Kai kelur gedung dengan tas yang di cangklong sekenanya, saat ingin menyapa. Namun Sehun melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
       “Kai-ah!” pekik Yoona saat melihat Kai keluar gedung. Mendengar namanya di panggil, Kai menghentikan langkahnya. Ia merasa tak asing dengan suara itu. Kai masih memunggungi Yoona, ia lalu memutuskan berbalik.
       “Ternyata benar. Kau Kai.” Setelah Kai berbalik—ia sangat terkejut dengan keberadaan calon tunangannya itu, Yoona atau Nanna yang biasa Kai kenal kini bertemu di kampus. Yoona memandang dengan tatapan tak percaya.
       Tak kalah dengan Yoona, Kai sampai harus memundurkan langkahnya karena Yoona ada di depan matanya.
       “Na… Nanna!” tunjuk Kai juga tak kalah terkejutnya dengan Yoona.
       “Rupanya kau Kai si anak ekonomi itu?” Yoona mulai mendekati Kai, memastikannya.
       “Hah? Emang iya. Kau kan tak pernah menanyakan tentangku. Kenapa kau mencariku, huh? Kangen ya?” Kai menutupi kegugupannya karena jarak mereka sangat dekat, membuatnya ingin menggoda calon tunangannya itu.
       “Ishh.. hentikan!” Yoona mendorong Kai kebelakang, namun Sehun sudah berada di belakang Kai.
       “Sehun-ssi?” pekik Yoona. Kai pun terlihat bingung, begitupun Sehun.
       “Apa hubungan kalian?” tanya Sehun dengan wajah tak berdosanya.
       “Lah, harusnya aku yang bertanya, apa kau kenal dengan Nanna?” kini Kai malah balik tanya.
       “Nanna?  Namanya Yoona.” Sergah Sehun. Kini mereka berdua menuntut penjelasan dengan menatap Yoona yang tak mampu berkata-kata.
       Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk berbicara di gazebo kampus di taman. Sebelumnya di perjalanan tak ada sepatah katapun terlontar dari ketiganya. Yoona hanya menunduk sendiri berjalan didepan dua makhluk yang menurutnya sangat menyebalkan dalam hidupnya itu, Sehun dan Kai malah asyik tatap-tatapan dan bertanya-tanya lewat gerakan mata, namun mereka memilih untuk saling diam, menyaksikan tingkah Yoona itu.
       “Oke, apa yang mau kalian tahu?” kali ini Yoona membuka suara setelah sampai di lokasi.
       “Apa kau mengenal Sehun?” kali ini Kai yang pertama kali menanyakan rasa keingintahuannya.
       “Kenal? Lebih tepatnya pernah mengenal lalu dilupakan.” Yoona menyindir Sehun, ia berkata sarkas. Sehun hanya menunduk merasa bersalah.
       “Dan kau, ku pikir aku tak perlu menjelaskan hubunganku dengan Kai, karena kita sudah lama tak berteman, jadi untuk apa aku menjelasnkannya padamu?” kini Yoona hanya tersenyum kecut, mengingat kekecewaannya pada lelaki satu ini.
       Melihat situasi tak mengenakkan itu, Kai mulai membaca situasi. Ia memberi isyarat pada Sehun, dan bertanya “dia?” lalu Sehun menunduk lesu. “Dia” maksudnya adalah gadis yang ditinggalkan Sehun dulu.
       “Na, kayaknya kau harus selesaikan dulu masalahmu dengan Sehun. Untuk masalahmu dan aku, nanti kita bisa selesaikan di lain waktu.” Putus Kai kemudian. Yoona hanya mendelik. Kai memohon pengertiannya. Setelah ter-pak-sa mengiyakan, Kai pun segera pergi dan meninggalkan mereka berdua.
       Entah mengapa Kai merasa sesuatu terasa menyesakkan. Melihat tatapan kecewa Yoona, mengingat cerita masa lalu mereka. Apakah Yoona masih menyukai Sehun. Ternyata gadis itu adalah Yoona, Nanna yang ia kenal.
***
       Sepersekian menit, hanya ada keheningan diantara Yoona dan Sehun, sampai akhirnya Sehuan mengeluarkan sebuah kata yang mungkin ditunggu Yoona selama ini.
       “Ma-af…” satu kata berjuta makna, begitulah terasa kata itu terdengar, kata yang sangat berat di dengar oleh suara Sehun yang sangat rendah itu, di tambah hembusan panjang nafasnya yang menyiratkan sebuah penyesalan yang amat dalam, bahkan kini Sehun tak mampu menatap gadistu. Perlahan ia memajukan langkahnya, ia mulai berlutut di depan Yoona dengan tertunduk.
       “Thekali lagi maafkan aku Yoona, aku memang orang paling pecundang di dunia ini. Ku mohon maaafkan lah aku!” Sehun menunduk sambil berlutut. Yoona yang terkejut memundurkan langkahnya. Yoona tak mengira Sehun berbuat seperti itu di depannya.
       “Berdirilah!” Yoona memegang kedua bahu Sehun. Sekilas ia melirik wajah Sehun yang terpejam pasrah—ia juga melihat titik air yang membasahi pipinya—apa mungkin lelaki di depannya ini memang seseorang yang lemah—dan belum bisa dewasa dalam menghadapi masalah.
       “Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf padaku, Sehun-ssi.” Ungkap Yoona, membuat Sehun menengadahkan kepalanya dan berdiri perlahan. Kini wajahnya mulai ia kembangkan sedikit senyum.
       “Benarkah?” tanya Sehun antusias.
       “Yah, ku pikir aku sudah memaafkanmu selama ini, aku hanya kecewa. Gara-gara perasaanku ini aku jadi egois dan membuatku kehilangan teman sebaik kau. Aku benar-benar bodoh bukan?” kini Yoona hanya tersenyum kecut, mencoba menerima kenyataan pahit dahulu.
       “Ah, kau thalah Yoona-ah, akulah biangnya. Gara-gara aku kau jadi menderita. Maafkan aku yang kekanakan ini.” Sehun menundukkan pandangan lagi.
       “Kau sudah ku maafkan Sehun. Hanya saja mungkin… aku belum bisa sedekat denganmu dulu…” Yoona menggantungkan kata-katanya, karena takut menyinggung Sehun.
       “Ahh.. tak mathalah kalau kau tak mau berteman denganku lagi. Aku berthyukur kau mau memaafkanku dan aku telah meminta maaf padamu. Sejujurnya saat itu… aku juga menyukaimu, mungkin aku memang bodoh—bodoh karena meninggalkanmu—orang yang paling baik dan membiarkanmu terluka…” ungkap Sehun.
       “Apa? Kau juga menyukaiku?” pekik Yoona merasa tak percaya—bagaimana orang di depannya ini dulu juga menyukainya tapi malah membiarkannya terluka, dasar! Batinnya. Kini gejolak hatinya semakin campur aduk, ia tak tahu harus merasa senang atau kecewa sekaligus, pusing rasanya.
       “Iya. Thaat itu aku menyukaimu. Tapi thekarang aku tak kan menuntut, aku thadar betul jika aku thangat tidak pantath untuk Yoona. Yoona pantath mendapat yang lebih baik dari aku.” Kali ini Sehun menyunggingkan sedikit bibirnya—menguatkan hatinya.
       walaupun jika saat ini aku menyukaimu… aku benar-benar tak pantas Yoona…” lanjut Sehun dalam hati, yang tak mungkin di dengar Yoona. Yoona hanya terdiam.
       Obrolan mereka-pun berakhir ketika merasa tak ada lagi yang perlu di jelaskan. Yoona pamit pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Sehun—yang kini menatap nyalang kepergian gadis itu. Entah mengapa pikirannya berkecamuk, lega, senang, sedih, dan sesak. Mungkin itu kata yang cukup mendiskripsikan hatinya saat ini.

TO BE CONTINUE !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar