Rabu, 25 Oktober 2017

LOVE SICK part 9

LOVE SICK part 9

Beberapa hari kemudian. Tak satu-pun dari mereka yang saling menyapa. Kai dan Chanyeol memilih untuk saling menghindari, berbeda jurusan dan semester membuat mereka gampang untuk menghindar. Berbeda dengan mereka Yoona dan Irene masih saling menyapa walau canggung. Mereka hanya saling menyapa namun larut dalam pikiran masing-masing dan diam, tak ada salah satu dari mereka yang mencoba memulai percakapan hangat seperti biasanya. Keduanya memilih untuk saling bungkam. Mungkin mereka membutuhkan waktu menerima semuanya.
       Di luar sana, Sehun terlambat menyadari kedua sahabatnya saling menghindar, karena seperti biasa Kai akan mengacuhkannya saat Sehun mulai bercerita atau bercanda, padahal di akhir candaan, Kai akan terkikik karena menahan tawanya. Namun akhir-akhir ini Kai terlalu mengacuhkannya dan sering terlihat murung. Awalnya Sehun tak curiga, namun mengingat mereka bertiga tak pernah lagi berkumpul membuat Sehun curiga. Setiap di ajak berkumpul, Kai dan Chanyeol akan menolak jika ada salah satu yang ikut. Hal itu membuat Sehun frustasi, sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua. Sehun bingung harus mulai mencari tahu dari mana.
       Saat sendiri, Sehun berjalan melewati jurusan Sastra. Sehun melihat Yoona di depan kelasnya sendirian. Ia terlihat melamun, sama murungnya dengan Kai akhir-akhir ini batinnya. Sehun memberanikan diri menemui gadis yang sudah lama—sejak kejadian minta maaf itu tak ia temui.
       “Yoona-ya!” tegur Sehun pelan, takut mengganggu.
       “Uh?” tanya Yoona yang sadar saat Sehun berada di depannya.
       “Mau ngobrol thambil ngopi?” tawar Sehun hati-hati, takut ditolak mentah-mentah.
       “Boleh. Aku juga merasa ngantuk.” Tak di sangka Yoona menerima begitu saja. Sehun lantas menggandeng lengan Yoona karena semangat. Yoona yang terkejut menghentikan langkahnya dan memandang tangan yang menggandengnya.
       “sudah lama sekali bukan? Dia melakukannya lagi. Entah kebiasaan atau bagaimana. Orang di depanku selalu melakukan semaunya. Tapi… jelas terasa beda. Dulu aku sulit bernapas dan jantungku tak karuan. Sekarang… perasaanku biasa saja. Mungkin aku bisa menerimanya—berteman.” Batin Yoona berperang saat kejadian yang seperti de javu ini terjadi.
       “Ah, maaf ! aku tak thengaja, ayo ikuti aku.”Sehun segera melepas genggamannya dan berjalan diikuti Yoona.
       Disisi lain, seseorang memandang dengan cemas. Hatinya berkecamuk, rasanya seperti lava gunung merapi yang ingin segera memuntahkan ke permukaan.   
       Setelah beberapa meter mereka keluar dari areal kampus, sampailah mereka ke kafe di sekitar kampus. Mereka mulai mengambil tempat duduk dan memesan dua kopi kesukaan masing-masing. Dengan penuh keberanian, Sehun memulai percakapan.
“Ehm… apa kau baik-baik thaja?”  tanya Sehun sedikit khawatir, karena sepanjang perjalanan Yoona hanya diam tak bergeming.
“Ah, kau menyadarinya ya?” Yoona menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk. Jelas ia sangat kentara jika sedang gelisah.
“Apa ada thesuatu yang terjadi… Kai-ssi?” tanya Sehun tiba-tiba. Membuat Yoona sedikit tersentak.
       “Ah, entahlah. Akhir-akhir ini banyak yang aku fikirkan.” Jawab Yoona lemah dan terdengar putus asa.
       “Emm.. jika kau tak keberatan, mungkin kau bitha membaginya kepadaku.” Tawar Sehun.
       “Aku tak yakin. Tapi akan aku coba sedikit bagi padamu, mungkin kau punya saran…” kata Yoona menimbang. Sehun mengangguk cepat tak keberatan.
       “Begini… kau tahu Irene sahabatku?” Yoona memulai ceritanya. Sehun mengangguk.
       “sebenarnya sudah beberapa hari ini kita tak dekat seperti dulu. Awalnya saling sapa namun canggung, lama-lama malah terasa sangat jauh, walau hanya say hi, tapi kita tak lagi mengobrol banyak atau bercanda…” Yoona menghembuskan nafas berat.
       “Lalu, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Sehun.
       “Aku ingin kita seperti dulu, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana? Apa aku harus meminta maaf padanya, atau aku harus pura-pura tak terjadi sesuatu seperti ini?” cerita Yoona yang kini terlihat sedih.
       “Hmmm.. kau coba thaja ajak dia mengobrol berdua denganmu. Lalu kau tanyakan apa mathalahnya, apa jika meminta maaf itu tak cukup? Jika dia menolakmu, maka kau perlu uthaha ekstra.” Saran Sehun.
       “Ah benar juga. aku selama ini tak berani mengajak ngobrol duluan. Karena aku selalu berpikir jika dia tak kan memanfaafkanku lagi.” Jelas Yoona.
       “Lalu bagaimana dengan Kai?” tanya Sehun tiba-tiba dengan senyum yang dipaksakan.
       “Ah, entahlah tapi aku harus menemuinya dan meluruskannya.
       “Em, ya kupikir sebaiknya kau temui dia. Karena sejak terakhir kali ku lihat dia sangat murung dan lebih pendiam dari biasanya, emosinya juga tidak stabil, dia mudah marah tanpa sebab. Seperti orang gila…” cerita Sehun mengingat sahabatnya itu seperti orang yang tidak waras.
       “Ahhh… apa sampai seperti itu?” tanya Yoona ragu-ragu.
       “Aku tak tahu apa yang terjadi pastinya, tapi ini semua pasti berhubungan denganmu. Ya, bukankah kalian akan di jodohkan? Ku dengar Kai menerimanya, tapi mengapa kalian justru terlihat bermusuhan?” kali ini Sehun mengingat sesuatu, sesuatu yang sangat ia hindari untuk ditanyakan, karena saat Yoona mengkonfirmasi perjodohannya dengan Kai itu artinya ia harus siap berlapang dada.
       “Eng… kalau itu sih.. aku dari awal menolak perjodohan ini, tapi aku tak mengira akan serumit ini kejadiannya. Hufft..” Yoona menghembuskan nafas berat.
       “Ya, Yoona-ya. Jika kau merasa banyak sekali yang kau pikirkan. Sebaiknya kau tak perlu memikirkannya, kau hanya tinggal menemui mereka dan menanyakan apa masalahnya dan bagaimana penyelesaiannya yang baik.” Saran Sehun tegas. (mian, penulis lagi gak nulis cadel untuk sesi Sehun, karena bagi penulis disaat serius cadel-nya itu sangat mengganggu/mianhae).
       kamsahae[1] Sehun-ssi. Aku merasa lega.” Yoona mulai mengembangkan senyumnya.
       “Sama-sama!” Sehun tak kalah mengembangkan senyum lebarnya.
       “Ya! Kau sudah sembuh dari ke cadelanmu?” pekik Yoona saat menyadari logat “S” Sehun terdengar normal.
       “Hei, aku memang tak cadel, aku hanya kesusahan mengucapkannya karena mulut ku kecil dan aku memakai behel di dalam sehingga menyulitkanku.” Kilah Sehun sambil terlihat kesal. Yoona hanya terkikik geli. Sehun lega melihat Yoona bisa tertawa saat ini.


[1] Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar