LOVE SICK part 9
Beberapa hari kemudian.
Tak satu-pun dari mereka yang saling menyapa. Kai dan Chanyeol memilih untuk
saling menghindari, berbeda jurusan dan semester membuat mereka gampang untuk
menghindar. Berbeda dengan mereka Yoona dan Irene masih saling menyapa walau
canggung. Mereka hanya saling menyapa namun larut dalam pikiran masing-masing
dan diam, tak ada salah satu dari mereka yang mencoba memulai percakapan hangat
seperti biasanya. Keduanya memilih untuk saling bungkam. Mungkin mereka
membutuhkan waktu menerima semuanya.
Di luar sana, Sehun terlambat menyadari kedua sahabatnya
saling menghindar, karena seperti biasa Kai akan mengacuhkannya saat Sehun
mulai bercerita atau bercanda, padahal di akhir candaan, Kai akan terkikik
karena menahan tawanya. Namun akhir-akhir ini Kai terlalu mengacuhkannya dan
sering terlihat murung. Awalnya Sehun tak curiga, namun mengingat mereka
bertiga tak pernah lagi berkumpul membuat Sehun curiga. Setiap di ajak
berkumpul, Kai dan Chanyeol akan menolak jika ada salah satu yang ikut. Hal itu
membuat Sehun frustasi, sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua. Sehun
bingung harus mulai mencari tahu dari mana.
Saat sendiri, Sehun berjalan melewati jurusan Sastra. Sehun
melihat Yoona di depan kelasnya sendirian. Ia terlihat melamun, sama murungnya
dengan Kai akhir-akhir ini batinnya. Sehun memberanikan diri menemui gadis yang
sudah lama—sejak kejadian minta maaf itu tak ia temui.
“Yoona-ya!” tegur Sehun pelan, takut mengganggu.
“Uh?” tanya Yoona yang sadar saat Sehun berada di depannya.
“Mau ngobrol thambil ngopi?” tawar Sehun hati-hati, takut
ditolak mentah-mentah.
“Boleh. Aku juga merasa ngantuk.” Tak di sangka Yoona menerima
begitu saja. Sehun lantas menggandeng lengan Yoona karena semangat. Yoona yang
terkejut menghentikan langkahnya dan memandang tangan yang menggandengnya.
“sudah lama sekali
bukan? Dia melakukannya lagi. Entah kebiasaan atau bagaimana. Orang di depanku
selalu melakukan semaunya. Tapi… jelas terasa beda. Dulu aku sulit bernapas dan
jantungku tak karuan. Sekarang… perasaanku biasa saja. Mungkin aku bisa
menerimanya—berteman.” Batin Yoona berperang saat kejadian yang seperti de javu ini terjadi.
“Ah, maaf ! aku tak thengaja,
ayo ikuti aku.”Sehun segera melepas genggamannya dan berjalan diikuti Yoona.
Disisi lain, seseorang memandang dengan cemas. Hatinya
berkecamuk, rasanya seperti lava gunung merapi yang ingin segera memuntahkan ke
permukaan.
Setelah beberapa meter mereka keluar dari areal kampus,
sampailah mereka ke kafe di sekitar kampus. Mereka mulai mengambil tempat duduk
dan memesan dua kopi kesukaan masing-masing. Dengan penuh keberanian, Sehun
memulai percakapan.
“Ehm…
apa kau baik-baik thaja?” tanya Sehun
sedikit khawatir, karena sepanjang perjalanan Yoona hanya diam tak bergeming.
“Ah,
kau menyadarinya ya?” Yoona menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk. Jelas ia
sangat kentara jika sedang gelisah.
“Apa
ada thesuatu yang terjadi… Kai-ssi?” tanya Sehun tiba-tiba. Membuat Yoona
sedikit tersentak.
“Ah, entahlah. Akhir-akhir ini banyak yang aku fikirkan.”
Jawab Yoona lemah dan terdengar putus asa.
“Emm.. jika kau tak keberatan, mungkin kau bitha membaginya
kepadaku.” Tawar Sehun.
“Aku tak yakin. Tapi akan aku coba sedikit bagi padamu,
mungkin kau punya saran…” kata Yoona menimbang. Sehun mengangguk cepat tak
keberatan.
“Begini… kau tahu Irene sahabatku?” Yoona memulai ceritanya.
Sehun mengangguk.
“sebenarnya sudah beberapa hari ini kita tak dekat seperti
dulu. Awalnya saling sapa namun canggung, lama-lama malah terasa sangat jauh,
walau hanya say hi, tapi kita tak
lagi mengobrol banyak atau bercanda…” Yoona menghembuskan nafas berat.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Sehun.
“Aku ingin kita seperti dulu, tapi aku tak tahu harus mulai
dari mana? Apa aku harus meminta maaf padanya, atau aku harus pura-pura tak
terjadi sesuatu seperti ini?” cerita Yoona yang kini terlihat sedih.
“Hmmm.. kau coba thaja ajak dia mengobrol berdua denganmu.
Lalu kau tanyakan apa mathalahnya, apa jika meminta maaf itu tak cukup? Jika
dia menolakmu, maka kau perlu uthaha ekstra.” Saran Sehun.
“Ah benar juga. aku selama ini tak berani mengajak ngobrol
duluan. Karena aku selalu berpikir jika dia tak kan memanfaafkanku lagi.” Jelas
Yoona.
“Lalu bagaimana dengan Kai?” tanya Sehun tiba-tiba dengan
senyum yang dipaksakan.
“Ah, entahlah tapi aku harus menemuinya dan meluruskannya.
“Em, ya kupikir sebaiknya kau temui dia. Karena sejak terakhir
kali ku lihat dia sangat murung dan lebih pendiam dari biasanya, emosinya juga
tidak stabil, dia mudah marah tanpa sebab. Seperti orang gila…” cerita Sehun
mengingat sahabatnya itu seperti orang yang tidak waras.
“Ahhh… apa sampai seperti itu?” tanya Yoona ragu-ragu.
“Aku tak tahu apa yang terjadi pastinya, tapi ini semua pasti
berhubungan denganmu. Ya, bukankah kalian akan di jodohkan? Ku dengar Kai
menerimanya, tapi mengapa kalian justru terlihat bermusuhan?” kali ini Sehun
mengingat sesuatu, sesuatu yang sangat ia hindari untuk ditanyakan, karena saat
Yoona mengkonfirmasi perjodohannya dengan Kai itu artinya ia harus siap berlapang
dada.
“Eng… kalau itu sih.. aku dari awal menolak perjodohan ini,
tapi aku tak mengira akan serumit ini kejadiannya. Hufft..” Yoona menghembuskan
nafas berat.
“Ya, Yoona-ya. Jika kau merasa banyak sekali yang kau
pikirkan. Sebaiknya kau tak perlu memikirkannya, kau hanya tinggal menemui
mereka dan menanyakan apa masalahnya dan bagaimana penyelesaiannya yang baik.”
Saran Sehun tegas. (mian, penulis
lagi gak nulis cadel untuk sesi Sehun, karena bagi penulis disaat serius
cadel-nya itu sangat mengganggu/mianhae).
“kamsahae[1]
Sehun-ssi. Aku merasa lega.” Yoona mulai mengembangkan senyumnya.
“Sama-sama!” Sehun tak kalah mengembangkan senyum lebarnya.
“Ya! Kau sudah sembuh dari ke cadelanmu?” pekik Yoona saat
menyadari logat “S” Sehun terdengar normal.
“Hei, aku memang tak cadel, aku hanya kesusahan mengucapkannya
karena mulut ku kecil dan aku memakai behel di dalam sehingga menyulitkanku.”
Kilah Sehun sambil terlihat kesal. Yoona hanya terkikik geli. Sehun lega
melihat Yoona bisa tertawa saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar