LOVE SICK part 7
Entah setan mana yang
membisikan sesuatu pada Kai. Setelah meninggalkan Yoona dan Sehun, ia memilih
untuk pergi ke tempat karaoke. Ia menelpon teman-teman cewek yang biasa
menemaninya saat karaoke, clubbing, atau balap motor.
Hari ini Kai merasa sangat kesal dan lelah. Ia langsung
membooking set room karaoke
berkapasitas besar. Gadis-gadis kenalannya pun satu persatu datang. Mereka
mulai asyik mendengarkan Kai bernyanyi ria—suara Kai lumayan bagus. Para gadis
menggelandot di samping kanan-kirinya dengan manja. Sesekali mereka menyuapi
pop corn atau minuman pada Kai. Kai menerima dengan senang hati.
Karena merasa makanan mereka habis, Kai memanggil pelayan
untuk pesan makanan lagi dan menyuruhnya diantar langsung ke ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan diketuk, mungkin pelayan yang datang. Kai
menyuruh teman gadisnya untuk mebuka dan mengambil makanannya, sementara dia
asyik bernyanyi—sambil kadang berteriak-teriak gak jelas.
Teman Kai mulai membuka pintu, seorang gadis membawa nampan
dengan beberapa makanan dan minuman, awalnya gadis pembawa nampan itu tersenyum
lebar melayani pelanggannya, namun saat pintu terbuka lebar seketika senyum itu
sirna.
PYAARR!!!
Satu nampan itu dengaan mulus terjatuh di depan pintu.
Semuanya terkejut, tak terkecuali Kai. Ia segera mendelik—melihat seseorang
yang membuat keributan itu. Gadis itu juga sampai menutup mulutnya—saat bertemu
pandang dengan Kai, apalagi sambil melihat beberapa gadis berpakaian seksi
mengelilingi Kai. Ia tak habis pikir.
“Na.. Nanna!” pekik Kai saat Yoona pergi dan berlari
meninggalkan segala kekacaun itu dan kekacauan hati Kai.
“Sial!” umpat Kai memaki dirinya, memaki kebodohannya sendiri.
Ia segera berlari mengejar Yoona.
Kai mencari ke seluruh tempat di karaoke tersebut, bahkan ia
nekat masuk ke ruangan karaoke orang lain dan dihadiahi umpatan. Namun ia terus
mencari keberadaan Yoona dengan tergesa—rasanya ia seperti seorang yang
ketahuan melakukan kejahatan dan sekarang menjadi buronan.
***
Yoona berlari keluar meninggalkan keterkejutannya. Ia
benar-benar syok. Ia segera ke kantor karaoke yang ternyata milik kakaknya—Suho
itu. Yoona segera melepas celemek untuk pegawai karaoke dengan kasar dan segera
menyambar tasnya. Suho yang melihatnya terbengong-bengong gara-gara kelakuan adik
nya itu.
“Na kau kenapa? Na!” karena merasa tak di gubris Suho mulai
mencegat adiknya itu di pintu keluar, dan menatap penuh selidik. Ada apa
gerangan dengan adiknya itu.
“Plis oppa. Nanna
harus pulang!” Yoona berkilah. Suho hanya mengerutkan dahinya.
“Oppa kan sudah
bilang ke ayah, jadi gak mungkin ayah suruh kau pulang Na!” Yoona hanya terdiam
seribu bahasa, namun ia tak kehabisan akal.
“Oppa! Ah, itu Unie[1]
Wendy—istri Suho sama adek Ruhui—anak Suho tuh! Mereka datang. Unie hai!” Yoona melambaikan
tangannya—namun saat Suho lengah dan berbalik melihat keadaan. Yoona justru
berlari kabur—rupanya dia menipu kakaknya, karena kenyataannya tak ada anak
istrinya disini. Suho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun, beberapa saat kemudian. Suho mendengar keributan di
ruangan karaoke, ia segera menuju lokasi—takut sesuatu terjadi. Suho melihat
seorang pemuda yang tengah kebingungan dan berlarian mencari sesuatu. Sampai
pemuda itu melihat kedatangan Suho dan menghampirinya.
“Ah tuan. Maaf apa kau pemilik karaoke disini?” tanya
Kai—pemuda itu dengan terengah. Suho hanya mengangguk pelan.
“Em.. apa kau memiliki pegawai bernama Nanna? Ah, Yoona
maksudnya?” tanya Kai penasaran dan hati-hati, mungkin Nanna akan lebih dikenal
sebagai Yoona.
“Nanna? Apa kau mengenalnya?” Suho malah balik bertanya.
“Maaf, saya tak punya waktu. Ceritanya panjang. Apa kau
melihat dia ada dimana?” Kai memburu Suho. Akhirnya Suho memberi petunjuk.
“Ah, aku mengerti. Jika adikku marah, dia mungkin akan pulang
kerumah dan menyendiri di tepi kolam renang.” Satu penjelasan Suho membuat Kai
terkejut. Adik? Batinnya.
Jangan-jangan orang di depannya adalah kakak Yoona—Suho. Kai hanya tak mampu
mengatupkan mulutnya yang ternganga karena terkejut.(kalau tahu Baekhyun yang
terkejut dan mengepalan tangannya untuk menutup mulutnta di intronya webdrama
EXO Nextdoor kira-kira seperti itu, Kai yang terkejut).
“Ahhh…” Bahkan Kai tak mampu berkata-kata lagi.
“Susulah dia. Dan jangan membuatnya sedih. Hidupnya sudah
cukup berat.” Suho menepuk bahu Kai tanpa kepo-kepo sehingga membuat Kai lega.
Akhirnya Kai minta maaf dan terimakasih lalu pamit pergi setelah berkenalan
terlebih dahulu—tanpa mejelaskan jika dia adalah calon tunangannya.
***
Disisi lain. Irene yang merasa lelah dengan kegiatan hari ini.
Ia memilih untuk langsung pulang setelah di klub jurnalis. Sudah beberapa hari
ini ia kehilangan semangat, itu dikarenakan Kai—sang pujaan tak kunjung
terlihat. Bahkan Kai tak pernah lagi ke perpus. Irene tidak mengetahui dimana
Kai biasa nongkrong. Irene juga tak berani datang ke gedung ekonomi. Sesekali
Irene mengiriminya Line, namun tak pernah di baca oleh Kai—bahkan beberapa jam
yang lalu saat Irene menanyakan kabarnya.
Namun, saat Irene hendak menyebrang jalan—gara-gara fokus
dengan iPhonenya Irene sampai tak sadar, ada sebuah motor yang ngebut dan
hampir menabraknya.
SRRRRTTT!
Seseorang menariknya dengan cepat. Sampai orang itu yang
terserempet dan Irene terlempar ke trotoar.
“Ahh.. ya Ampun!” menyadari sang penyelamat terjatuh, Irene segera
menghampirinya.
“Gwenchanayo[2]?”
tanya Irene melihat siku orang tersebut yang tergores aspal.
“Ah, taka pa. hanya sedikit perih.” Ia meringis kesakitan.
Irene langsung menuntunnya ke pinggir jalan. Dengan sigap,
Irene mengambil air minum di tasnya, lalu menyiram luka orang tersebut. Dengan
cekatan Irene segera mengambil sapu tangan miliknya dan membalutnya ke lengan
orang itu.
“Ah, kurasa ini cukup untuk menghentikan pendarahan, sementara
saja. Nanti bisa di obati lagi.” Irene melemparkan senyum tulusnya.
“Terimakasih…” sahutnya terpana.
“Harusnya aku yang terimakasih. Oh ya namamu siapa?” tanya
Irene.
“Chan… Chan… Park Chanyeol!” jawabnya gagap. Rupanya sang
penolong adalah Chanyeol.
“Aku Kim Ireuna. Panggil saja Irene, tuan Park.” Kini Irene
mengembangkan senyum lebarnya(mungkin Chanyeol sudah mangap dan air liurnya
meluber—bweehh).
“Yah, arraseo[3].”
Jawab Chanyeol tanpa sadar.
“Huh?” Irene
mengerutkan dahinya heran.
“Ah.. haha, yah, siapa yang tak mengetahuimu. Kau cukup
terkenal di kalangan anak Sastra.” Chanyeol tersenyum kikuk. Irene hanya
menepis sangkaan itu.
Akhirnya mereka-pun mengobrol beberapa saat. Sampai akhirnya
Chanyeol memberanikan diri untuk meminta id Line Irene dengan gerogi dan dengan
alasan ingin mengembalikan sapu tangannya. Irene pun hanya tertawa ringan dan
memberinya. Setelah itu mereka-pun berpisah, karena taksi Irene datang.
to be continue

Tidak ada komentar:
Posting Komentar