LOVE SICK part 8
Setibanya Kai di rumah Yoona. Kai bertanya pada pembantunya,
apakah Yoona sudah pulang atau belum. Ternyata benar. Yoona sudah pulang dan
sekarang sedang main di tepi kolam.
Kai segera menuju ke lokasi. Saat di samping rumah, Kai
melihat Yoona telah berganti pakaian dengan kaos oblong dan training. Ia
terlihat di temani beberapa camilan dan cola. Ia terlihat mengoceh atau seperti
orang curhat, tapi sendirian. Ia bahkan mengangguk atau menggelengkan kepalanya
saat sendirian. Itu membuat Kai menjadi penasaran. Ia-pun segera mendekati
Yoona dengan mengendap-endap. Sambil ia berusaha menguping perkataanya.
“Ahhh… molla… kenapa
aku bisa gila begini ya? Apa urusannya, mau dia sama gadis-gadis itu, mau sama
Irene, mau sama siapa kek. Sama sekali bukan urusanku! Aku kan gak suka banget
sama lagak belagunya itu.” Yoona terus meracau, tak sadar Kai kini tepat berada
di belakangnya.
“Ma.. Nanna bingung. Kai akan bertunangan denganku. Tapi
mungkin Kai sama sepertiku tak menyetujuinya. Kai juga memilih dekat dengan
Irene dan Irene sangat menyukainya… aku harus bagaimana Ma? Kau tahu, kejadian
barusan membuatku syok. Bagaimana jika Irene tahu kalau Kai adalah pemain atau
playboy? Cepat atau lambat aku harus melepasnya bukan? Aku tak ingin Irene
membenciku lagi…” racauan Yoona berubah menjadi sedikit isakan gadis itu. Yoona
melipat lututnya dan menatap kolam renang kosong itu.
“Maaf Na…” tiba-tiba Kai membuat Yoona tersentak kaget dan
segera membalikkan pandangannya. Ia tak habis pikir jika Kai menyusulnya. Yoona
bahkan tak sanggup menghadapi lelaki itu. Ia masih bertahan pada posisinya dan
berpaling darinya.
“Aku bisa menjelaskan semuanya..” kini Kai berjalan mendekati
Yoona dan duduk disebelah Yoona. Yoona bahkan jengah untuk melihat Kai.
“Mau apa kau kemari?” kata Yoona ketus.
“Aku tak kan pernah membatalkan pertunangan kita.” Cetus Kai
sangat tegas. Membuat hati Yoona semakin tak karuan.
“Gila ya? Aku sudah menolak dari dulu. Dan kau sepertinya juga
tak setuju dengan pertunangan ini. Jangan main-main dong!” Yoona meninggikan
kalimatnya.
“Ya aku gila Nanna! Gila karena kau!” tak kalah emosional, Kai
merasa frustasi. Yoona hanya mendengus kesal.
“Menurutmu apa aku masih mau denganmu? Kau playboy! Pemain
gadis! Emosian! Kau bahkan mendekati SAHABATKU—IRENE!” Yoona sudah merasa
dongkol dengan permainan Kai—sampai ia menunjuk dan menekan pada dada Kai di
setiap kata-katanya.
Kai terkejut saat Yoona menyebut nama Irene. Ia mulai
menggenggam tangan Yoona yang masih berada di dadanya.
“Iya, aku playboy, aku pemain gadis. Tapi itu dulu Na! dan
kejadian tadi, itu karena aku cemburu Na. aku cemburu sama Sehun!” Yoona
menarik tangannya dari genggaman Kai.
“Bodo amat!” ketus Yoona.
“Irene. Aku mendekatinya bukan karena keinginanku. Ceritanya
panjang. Dan aku tak mengira jika dia menyukaiku Na… plis… maafkan aku…
kenyataannya… aku tak ingin menolak pertunangan ini.” Jelas Kai. Namun Yoona
tak peduli.
“Bagaimana dengan Irene? Kau harus bertanggung jawab. Aku tak
mau menyakitinya. Aku bahkan tak memberitahunya jika kau akan bertunangan
denganku.” Kini Yoona menatap sayu Kai. Kai hanya menunduk.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau mau kita tetap batal? Kau
lebih mementingkan sahabatmu itu, bahkan tak tahu keadaanmu?” sergah Kai tak
terima.
“Jangan menilai orang yang bahkan belum lama kau kenal, Kai!
Aku lebih tahu apa yang harus ku lakukan. Aku tak bisa menyakiti Irene lagi!”
kali ini Yoona menatap tajam Kai. Kai tak sanggup berkata. Yoona benar, Kai tak
pernah tahu apa yang terjadi dimasa lalu Yoona.
“Lagi pula. Sepertinya kau masih bingung dan labil. Siapa yang
kau pilih sebenarnya.” Kini Yoona beranjak dan meninggalkan Kai yang masih di
tempat dengan posisi masih tercenung dengan kata-kata terakhir Yoona. Kai
merutuki ke playboy-annya yang belum ia hilangkan, padahal ia berencana
memutuskan pacar-pacarnya dan tak lagi bergaul dengan gadis-gadis, namun
semuanya sudah terjadi. Apa yang harus Kai lakukan?.
“Gadis itu kau Na! aku memilihmu, sejak pertama bertemu
denganmu!” Kai bergumam memandang kosong bayangan punggung Yoona yang telah
menghilang.
Kai segera mendial
nama “Chanyeolie-Hyung” di iPhonenya.
“yeobseo[1]?
Dimana kau?” tanya Kai to the point.
“Oh, aku sedang di kafe, apa ada yang penting?” tanya Chanyeol
di seberang.
“Kau di kafe mana?” buru Kai.
“Ahh.. di Coffe Bay…” jawab Chanyeol.
“Baiklah aku segera kesana, jangan pergi!” sahut Kai.
“Tapi ak—“ belum selesai bicara Kai langsung menutup
panggilannya.
***
Sesampainya di Coffe Bay hari telah berganti menjadi malam.
Kai langsung menerobos masuk melewati keramaian pelanggan yang berlalu lalang.
Kai mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan Kafe, mencari sosok yang ia
cari. Sesekali ia bercelingukan karena padatnya pengunjung. Lalu di arah jam
Sembilan, ia dapat mengenali rambut Chanyeol yang di warnai coklat dan karena
ia jangkung, dari belakang terlihat yang paling tinggi bahkan saat duduk. Kai
segera berjalan menghampirinya.
Semakin mendekat, Kai justru di buat kaget. Rupanya Chanyeol
tak sendiri. Kai mendekat perlahan.
“Kai-ssi?” jawab gadis di depan Chanyeol. Chanyeol segera
menoleh ke belakang.
“Kai-ah!” pekik Chanyeol.
“Kalian saling mengenal?” tanya Irene heran. Chanyeol hanya
menunduk.
“Sangat kenal. Kebetulan kau disini, sekalian saja. Aku ingin
mengklarifikasi sesuatu!” Kai menarik kursi dan menjatuhkan bokong seksinya di
bangku sebelah Chanyeol.
“Sesuatu?” tanya Irene lagi.
“Yah, hyung kita
harus mengakhirnya sekarang!” cetus Kai memandang mantap Chanyeol, namun
Chanyeol memiringkan bibirnya dan meragu.
“Akhiri? Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi?” kali ini Irene
semakin bingung dengan percakapan dua orang di depannya.
Kali ini Kai memejamkan mata sejenak. Banyak hal yang
berkecamuk dalam pikirannya. Ia tak bisa memikirkan apa akibatnya jika ia
mengatakan semuanya. Bagaiman perasaan Irene, bagaimana perasaannya, bagaimana
masa depannya dengan Yoona, bagaimana persahabatannya dengan Chanyeol, dengan
Sehun, bagaimana persahabatan Yoona dengan Irene. Apakah semua orang akan pergi
satu persatu?
“Kalau begitu, aku siap Kai-ah. Kau katakanlah!” kali ini
Chanyeol menepuk bahu Kai—menyadarkannya. Sama seperti Kai, Chanyeol juga tak
ingin kebohongan malah membuatnya semakin buruk.
Di seberang, Irene menunggu klarifikasi dari dua orang di
depannya.
“Sebelumnya aku minta maaf Irene… aku… berpura-pura
mendekatimu saja!” cetus Kai membuat Irene terperangah tak percaya.
“Maaf Irene. Aku yang menyuruhnya mendekatimu… karena aku
menyukaimu sejak kau masuk di kampus dulu.” Kali ini Chanyeol menambahi dan
Irene makin tercengang, lalu ia tertawa getir.
“Ah.. ha.. ha.. lucu sekali. Apa permainan ini menyenangkan.”
Irene berkata skeptic.
“Maaf Irene. Aku tidak benar-benar menyukaimu. Ku pikir aku
harus segera mengakhirinya. Dan satu lagi, aku akan bertunangan dengan Nanna,
ahh.. Yoona.” Tambah Kai makin membuat Irene syok.
“Apa? Kau gila?” bentak Irene. Ia tak habis pikir, setelah
mempermainkannya, ia malah bertunangan dengan sahabatnya.
“Irene-ssi tenanglah. Sepertinya kau salah paham. Banyak hal
yang terjadi di luar itu. Kami tak bermaksud mempermainkanmu.” Chanyeol
berusaha menenangkan Irene yang hendak menampar Kai. Mereka semua bersitegang.
Irene masih belum terima perlakuan kedua lelaki yang dianggapnya sangat
baik—dulunya.
“Lepas! Kalian berdua, tak pernah ku maafkan. Jangan pernah
muncul lagi di hadapanku!” tunjuk Irene untuk kedua lelaki itu.
“Yah, maaf. Aku memang sudah akan bertunangan dengan Nanna
sebelum mengenalmu. Dan untuk itu, salah kan saja Chanyeol yang menyuruhku
mendekatimu.” Kali ini justru Kai menyalahkan Chanyeol.
“A-apa? Kau kan sudah setuju, lagipula mana tahu kalau kau
bertunangan denga Yoona.” Seru Chanyeol tak terima. Suasana makin keruh.
Ketiga orang itu saling mengepalkan genggaman. Segera karena
Irene merasa tak kuat dengan gemuruh hatinya yang tiba tiba merasa sangat
teriris langsung menyibak Kai dan Chanyeol secara kasar yang menghalangi
jalannya. Ia memilih pergi.
Chanyeol dan Kai saling berpandangan. Chanyeol mengedikkan
bahu dan mulai menyalahkan Kai, lalu mengejar Irene. Kini tinggalah Kai
sendirian. Ia mendudukan dirinya, entah mengapa lututnya terasa sangat lemas
bahkan untuk berdiri.
Sesekali Kai memijit keningnya yang rasanya sangat
memusingkan. Pikirannya sangat kacau. Ia tak sanggup untuk pergi dari tempat
itu. Kai lagi-lagi meremas rambutnya kasar—emosinya meluap. Kai merasa tidak
adil, ia marah, ia kecewa, ia sedih juga, ia ingin menangis, tapi malu. Hal ini
mengingatkannya dengan kejadian tiga tahun lalu.
Tiga tahun lalu, saat Kai berada di kelas 3 SMA, ada seseorang
yang menarik perhatian Kai, dulu sejak kelas 1 dan 2, gadis itu selalu Kai CS bully karena penampilannya yang cupu
tapi selalu melawan Kai jika Kai mengganggu, walau akhirnya gadis itu kalah dan
berakhir tragis. Kai belum pernah sekelas dengannya. Namun, saat awal masuk
kelas 3, rupanya Kai satu kelas dengan gadis itu, gadis itu tak lagi cupu.
Bahkan gayanya sudah sangat fashionable.
Hal itu membuat Kai penasaran, saat mengganggu gadis itu, bukannya senang malah
Kai yang harus menahan diri, karena setiap didekatnya—jantungnya terasa tak
karuan dan sulit bernapas. Benar saja, dalam waktu beberapa bulan lamanya, Kai
jatuh di pelukan gadis itu. Gadis itu sangat susah Kai dapatkan. Sekalinya
dapat, Kai tak pernah melepasnya. Dulu—senakal-nakalnya Kai, tak pernah
mempermainkan hati gadis. Ia hanya akan memilih siapa yang ia cintai. Awalnya
hubungan Kai dan gadis itu baik-baik saja, bahkan jauh dari pertengkaran.
Namun, setelah mereka lulus dan kuliah di tempat berbeda—bahkan gadis itu
memilih kuliah di luar negeri, selang beberapa bulan. Gadis itu memutuskan
hubungannya dan bilang, jika ia menemukan orang yang cocok diluar sana, dan
sebaiknya Kai tak menunggunya. Awalnya Kai tak percaya, namun saat liburan
gadis itu pulang dan membawa kekasih bulenya itu dan tak pernah lagi
menghubungi Kai sampai saat ini. Hal itu membuat Kai frustasi dan stress berat.
Sehingga dalam waktu singkat Kai berubah menjadi benar-benar bangsat karena
baginya, untuk apa baik jika kita tak di perlakukan dengan baik pula. Tapi, ia
tak pernah melewati batas. Itulah alasan, Kai yang memilih menjadi seorang
playboy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar