LOVE SICK part 10
Di sisi lain. Chanyeol
terus berusaha sebisanya dan pantang menyerah meminta maaf pada Irene. Karena
kebodohannya ia mengorbankan perasaan Irene. Chanyeol tak mengira jika Irene
akan berakhir menyukai Kai—dan itu diluar ekspetasinya. Chanyeol melupakan
fakta jika Kai memang sang penakhluk.
Seperti saat ini, Chanyeol terus membuntuti Irene yang berada
di perpus. Karena risih, Irene segera meninggalkannya dan pergi ke klub
jurnalis. Tak sampai itu, Chanyeol bahkan menunggu hingga Irene selesai urusannya
di klub itu.
Melihat Chanyeol gigih dan pantang menyerah seperti saat
ini—ia terlihat tertidur di kursi depan. Awalnya Irene sangat terganggu, ia
sangat kecewa dengan Chanyeol yang awalnya ia pikir baik. Namun, lama-lama
Irene jadi kasihan, melihat ia berusaha keras meminta maaf padanya. Irene yang
awalnya ingin pergi begitu saja meninggalkan Chanyeol sendirian itu, memilih
berbalik. Hari yang mulai gelap membuat Irene tak tega.
“Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Kalau mau tidur
sebaiknya pulang sana!” omel Irene di depan Chanyeol tanpa
menegur/mengguncangkan untuk membangunkan Chanyeol. Chanyeol yang terkaget
karena suara keras Irene pun segera terbangun dan salah tingkah.
“Ah, Irene-ssi… maaf! Maafkan aku.” Kata Chanyeol
terburu-buru, karena ia tak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
“Kau ingin menginap disini, atau kau mau mengobrol denganku.
Jika kau ingin menginap sebaiknya aku pulang saja. Jika tidak, ikuti aku!”
perintah Irene pada Chanyeol. Awalnya Chanyeol masih mencerna kalimat
Irene—karena ia baru bangun dan kesadarannya masih separuh. Irene melipat
tangan ke dadanya.
“Ck!” Irene pergi meninggalkan Chanyeol. Sesaat setelah
menyadarinya, Chanyeol langsung berlari menyusul Irene.
“Ya! Tunggu, aku ikut denganmu! Jangan tinggalkan aku!”
Chanyeol lalu mensejajarkan langkahnya dengan Irene.
Di tengah jalanan yang kini mulai padat. Lampu-lampu juga
sudah mulai berkelap-kelip menerangi hari yang semakin gelap. Mereka berdua
berjalan di trotoar kota sekitar kampus. Irene hanya bersedekap, sesekali
tersenyum tipis melihat kelakuan Chanyeol yang kikuk karena ketakutan.
Beberapa menit berlalu. Irene terus melangkahkan kakinya
meninggalkan kampus. Di sampingnya Chanyeol setia mengikuti. Ia tak berani buka
suara—padahal ia tak tahan dengan keheningan—mulutnya gatal untuk sekedar
berkata omong kosong, namun di situasi yang saat ini, ia mencoba menahan
dirinya.
Setelah berjalan sekitar 15 menit, Irene menghentikan
langkahnya. Chanyeol pun tanpa sadar berucap,
“Eh, mengapa kau berhenti? Apa sudah sampai?” chanyeol melihat
ke sekeliling yang ada hanya perumahan cukup elit dan terlihat sepi.
“Ishh… dasar!” Irene memalingkan wajahnya melihat cowok
jangkung di sampingnya yang berubah sok asik.
“Ah, mian.” Kata
Chanyeol menutup bibir tipisnya dan bertanya lancang.
“Ayo ikut aku, masuk!” Irene memasuki salah satu rumah besar
di kompleks tersebut. Chanyeol mengikutinya dari belakang.
“Eng… kau duduk lah dulu. Aku akan mengambil minum.” Tawar
Irene saat di teras rumahnya dan menyuruh Chanyeol masuk di ruang tamu.
“Ah, nde araseo[1]!”
Chanyeol mendaratkan bokongnya pada sofa super empuk di rumah lumayan besar
ini.
Chanyeol mengedarkan pada sekeliling rumah itu. Rumahnya
sangat sepi. Selain model rumahnya yang semi kontemporer, rumah itu terlihat
mewah dengan barang-barang yang berwarna gold.
Terlihat beberapa pajangan foto. Seperti foto keluarga. Karena penasaran, Chanyeol mendekat dan mengamati beberapa
potret di sebuah meja berisi foto-foto tersebut. Satu foto menarik
perhatiannya. Bayi perempuan yang lucu dan berkuncir dua, Chanyeol tersenyum
melihat foto itu. Ia kemudian beralih pada foto sebelahnya, seorang gadis kecil
dengan make up tipis dengan membawa
sebuah mic, sepertinya habis bernyanyi atau menjadi MC. Chanyeol menebak jika
itu adalah foto-foto Irene, karena setelah foto tersebut, ada foto lagi dengan
mic juga tapi Irene menggunakan seragam, mungkin ketika SMP. Di sebelahnya ada
fotonya saat wisuda SMA. Dan sesaat Chanyeol terhenyak, ia kembali ke sebuah
pigura yang tertutup—atau sengaja tak di berdirikan di meja. Chanyeol melihat
foto wisuda SMA Irene dengan mamanya. Chanyeol tak menemukan saudara
Irene—mungkin dia adalah anak tunggal—pikirnya, dan ada yang janggal, yah!
Chanyeol tak menemukan foto ayahnya. Dengan rasa penasaran, Chanyeol membuka
perlahan pigura yang tertungkup. Dan, Chanyeol sedikit terkejut setengah mati.
“Apa yang kau lakukan?” Chanyeol tersentak dan mengembalikan
foto yang ia lihat kembali. Irene yang datang sangat mengejutkannya.
“Ah, a.. ak- aku… aku hanya melihat foto-fotomu. Rupanya kau
cantik dari kecil ya?” Chanyeol berusaha mengalihkan pembicaraannya. Setelah
menaruh minuman untuk Chanyeol, Irene mendekati Chanyeol yang berdiri di dekat
meja tadi.
“Oh ya?” tanya Irene penuh kecurigaan sambil melirik pigura di
sebelah Chanyeol. Chanyeol hanya mengangguk.
“Hm.. ya sudah. Seprtinya kau tahu sesuatu. Ini rumahku. Aku
memintamu kemari karena banyak hal yang perlu diluruskan. Oh ya, kalau kau
ingin tahu soal keluargaku, kau bisa tanyakan saja jika penasaran, tak perlu
menutupi dan malu-malu.” Seringai Irene. Chanyeol hanya menelan ludah kelu.
“Ah.. haha. Ya.. itu, bagaimana dengan ayah dan saudaramu?”
tanya Chanyeol akhirnya.
“Ah, rupanya kau benar-benar penasaran ya?” tanya Irene balik.
“Eng… itu.. karena tak asing dengan foto anak laki-laki di
sampingmu, dan laki-laki yang sepertinya ayahmu.”
“Oh ya? Mereka memang keluargaku, dulu. Itu adalah ayah dan
kakakku.” Jawab Irene santai.
“Ha? Jinjjaru? Dyo
adalah kakakmu?” Chanyeol terperangah sampai menutup mulutnya tak percaya.
“Tunggu! Kau mengenal Dyo-oppa?” Irene malah balik tanya.
“Whoaaa, daebak[2]!
Jadi kau adiknya Dyo? Aku tak menyangka anak itu memiliki adik.” Chanyeol heboh
sendiri.
“Hey, aku tanya kau tahu Dyo-oppa?” tanya Irene sekali lagi.
“Iya. Dia teman SMA ku.” Jawab Chanyeol masih speechless.
“Wah, ternyata dunia ini sempit ya?” Chanyeol masih
terheran-heran.
“Hem… kau benar. Ayah dan mamaku bercerai saat aku kelas 3
SMP. Dyo memilih tinggal dengan ayah karena Dyo tak dekat dengan mama.
Sedangkan aku, aku tak tahu harus memilih siapa, aku menyayangi keduanya—mereka
bukanlah pilihan…” sejenak Irene menghentikan kata-katanya, ia menunduk
mengingat kenyataan pahit itu. Chanyeol melihatnya menitikan air mata sekilas.
“Ah, maaf Irene-ssi, aku tak bermaksud membuatmu sedih.”
Chanyeol merasa bersalah jika mengungkit masa lalu gadis itu.
“Sudahlah, itu sudah lama sekali. Lagi pula aku harus
mendengar penjelasanmu.” Irene menengadahkan kepalanya mencegah air matanya
kelar dan mengalihkan pembicaraan, Chanyeol setuju.
“Iya, apa kau mau mendengarkanku?” tanya Chanyeol meyakinkan
lagi. Irene mengangguk cepat.
Chanyeol mulai bercerita di awal Irene masuk sebagai mahasiswa
baru, ia telah terpikat oleh gadis itu. Dari ia yang selalu memperhatikan
langkah gadis itu yang terlihat murung dan tak ceria. Sampai beberapa tahun,
Chanyeol tak berani berkenalan dengan Irene karena minder. Sampai akhirnya
Chanyeol memiliki ide yang menurutnya paling bodoh sekarang. Yaitu,
memanfaatkan ke populeran Kai. Ia tak bermaksud mempermainkan hati Irene,
rupanya Irene malah terpikat oleh pesona Kai—Chanyeol melupakan fakta jika Kai
merupakan lady killer.
Irene mendengarkan dengan seksama—tak terasa mereka mengobrol
dan bercerita sampai larut malam. Semua mengalir begitu saja. Awalnya Irene
bersikap ketus pada Chanyeol namun lama-lama Irene menjadi nyaman saat
mengobrol dengan Chanyeol. Di rumah, Irene hanya sendirian di temani oleh
pembantu yang mungkin sudah istirahat.
“Irene-ssi. Ini sudah malam, terimakasih kau mau mendengarkan
penjelasanku. Terimakasih kau mau memaafkanku ya?” Chanyeol mengembangkan
senyumnya sangking senangnya karena Irene menerima alasannya dan memaafkannya.
“Ishh.. iya. Soal perasaanmu…” Irene menggantungkan
kalimatnya.
“Ah, tenang saja. Untuk masalah hati, kau tak perlu pikirkan,
itu urusanku. Kau sudah memaafkan aku saja rasanya lega sekali.” Sergah
Chanyeol tiba-tiba. Ia tak ingin mendengar penolakan yang menurutnya sangat
menyakitinya, Chanyeol memiringkan bibirnya dan tersenyum kecut.
“Ya sudah. Aku pamit saja. Ini sudah larut, bisa bahaya kalau
kelamaan. Hehe.” Chanyeol pun pamit pulang. Irene hanya memandang punggung pria
jangkung itu, lalu ia menyunggingkan senyumnya tipis. Lega, itu rasanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar