Rabu, 25 Oktober 2017

LOVE SICK PART 10

LOVE SICK part 10

Di sisi lain. Chanyeol terus berusaha sebisanya dan pantang menyerah meminta maaf pada Irene. Karena kebodohannya ia mengorbankan perasaan Irene. Chanyeol tak mengira jika Irene akan berakhir menyukai Kai—dan itu diluar ekspetasinya. Chanyeol melupakan fakta jika Kai memang sang penakhluk.
       Seperti saat ini, Chanyeol terus membuntuti Irene yang berada di perpus. Karena risih, Irene segera meninggalkannya dan pergi ke klub jurnalis. Tak sampai itu, Chanyeol bahkan menunggu hingga Irene selesai urusannya di klub itu.
       Melihat Chanyeol gigih dan pantang menyerah seperti saat ini—ia terlihat tertidur di kursi depan. Awalnya Irene sangat terganggu, ia sangat kecewa dengan Chanyeol yang awalnya ia pikir baik. Namun, lama-lama Irene jadi kasihan, melihat ia berusaha keras meminta maaf padanya. Irene yang awalnya ingin pergi begitu saja meninggalkan Chanyeol sendirian itu, memilih berbalik. Hari yang mulai gelap membuat Irene tak tega.
       “Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Kalau mau tidur sebaiknya pulang sana!” omel Irene di depan Chanyeol tanpa menegur/mengguncangkan untuk membangunkan Chanyeol. Chanyeol yang terkaget karena suara keras Irene pun segera terbangun dan salah tingkah.
       “Ah, Irene-ssi… maaf! Maafkan aku.” Kata Chanyeol terburu-buru, karena ia tak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
       “Kau ingin menginap disini, atau kau mau mengobrol denganku. Jika kau ingin menginap sebaiknya aku pulang saja. Jika tidak, ikuti aku!” perintah Irene pada Chanyeol. Awalnya Chanyeol masih mencerna kalimat Irene—karena ia baru bangun dan kesadarannya masih separuh. Irene melipat tangan ke dadanya.
       “Ck!” Irene pergi meninggalkan Chanyeol. Sesaat setelah menyadarinya, Chanyeol langsung berlari menyusul Irene.
       “Ya! Tunggu, aku ikut denganmu! Jangan tinggalkan aku!” Chanyeol lalu mensejajarkan langkahnya dengan Irene.
       Di tengah jalanan yang kini mulai padat. Lampu-lampu juga sudah mulai berkelap-kelip menerangi hari yang semakin gelap. Mereka berdua berjalan di trotoar kota sekitar kampus. Irene hanya bersedekap, sesekali tersenyum tipis melihat kelakuan Chanyeol yang kikuk karena ketakutan.
       Beberapa menit berlalu. Irene terus melangkahkan kakinya meninggalkan kampus. Di sampingnya Chanyeol setia mengikuti. Ia tak berani buka suara—padahal ia tak tahan dengan keheningan—mulutnya gatal untuk sekedar berkata omong kosong, namun di situasi yang saat ini, ia mencoba menahan dirinya.
       Setelah berjalan sekitar 15 menit, Irene menghentikan langkahnya. Chanyeol pun tanpa sadar berucap,
       “Eh, mengapa kau berhenti? Apa sudah sampai?” chanyeol melihat ke sekeliling yang ada hanya perumahan cukup elit dan terlihat sepi.
       “Ishh… dasar!” Irene memalingkan wajahnya melihat cowok jangkung di sampingnya yang berubah sok asik.
       “Ah, mian.” Kata Chanyeol menutup bibir tipisnya dan bertanya lancang.
       “Ayo ikut aku, masuk!” Irene memasuki salah satu rumah besar di kompleks tersebut. Chanyeol mengikutinya dari belakang.
       “Eng… kau duduk lah dulu. Aku akan mengambil minum.” Tawar Irene saat di teras rumahnya dan menyuruh Chanyeol masuk di ruang tamu.
       “Ah, nde araseo[1]!” Chanyeol mendaratkan bokongnya pada sofa super empuk di rumah lumayan besar ini.
       Chanyeol mengedarkan pada sekeliling rumah itu. Rumahnya sangat sepi. Selain model rumahnya yang semi kontemporer, rumah itu terlihat mewah dengan barang-barang yang berwarna gold. Terlihat beberapa pajangan foto. Seperti foto keluarga. Karena penasaran,  Chanyeol mendekat dan mengamati beberapa potret di sebuah meja berisi foto-foto tersebut. Satu foto menarik perhatiannya. Bayi perempuan yang lucu dan berkuncir dua, Chanyeol tersenyum melihat foto itu. Ia kemudian beralih pada foto sebelahnya, seorang gadis kecil dengan make up tipis dengan membawa sebuah mic, sepertinya habis bernyanyi atau menjadi MC. Chanyeol menebak jika itu adalah foto-foto Irene, karena setelah foto tersebut, ada foto lagi dengan mic juga tapi Irene menggunakan seragam, mungkin ketika SMP. Di sebelahnya ada fotonya saat wisuda SMA. Dan sesaat Chanyeol terhenyak, ia kembali ke sebuah pigura yang tertutup—atau sengaja tak di berdirikan di meja. Chanyeol melihat foto wisuda SMA Irene dengan mamanya. Chanyeol tak menemukan saudara Irene—mungkin dia adalah anak tunggal—pikirnya, dan ada yang janggal, yah! Chanyeol tak menemukan foto ayahnya. Dengan rasa penasaran, Chanyeol membuka perlahan pigura yang tertungkup. Dan, Chanyeol sedikit terkejut setengah mati.
       “Apa yang kau lakukan?” Chanyeol tersentak dan mengembalikan foto yang ia lihat kembali. Irene yang datang sangat mengejutkannya.
       “Ah, a.. ak- aku… aku hanya melihat foto-fotomu. Rupanya kau cantik dari kecil ya?” Chanyeol berusaha mengalihkan pembicaraannya. Setelah menaruh minuman untuk Chanyeol, Irene mendekati Chanyeol yang berdiri di dekat meja tadi.
       “Oh ya?” tanya Irene penuh kecurigaan sambil melirik pigura di sebelah Chanyeol. Chanyeol hanya mengangguk.
       “Hm.. ya sudah. Seprtinya kau tahu sesuatu. Ini rumahku. Aku memintamu kemari karena banyak hal yang perlu diluruskan. Oh ya, kalau kau ingin tahu soal keluargaku, kau bisa tanyakan saja jika penasaran, tak perlu menutupi dan malu-malu.” Seringai Irene. Chanyeol hanya menelan ludah kelu.
       “Ah.. haha. Ya.. itu, bagaimana dengan ayah dan saudaramu?” tanya Chanyeol akhirnya.
       “Ah, rupanya kau benar-benar penasaran ya?” tanya Irene balik.
       “Eng… itu.. karena tak asing dengan foto anak laki-laki di sampingmu, dan laki-laki yang sepertinya ayahmu.”
       “Oh ya? Mereka memang keluargaku, dulu. Itu adalah ayah dan kakakku.” Jawab Irene santai.
       “Ha? Jinjjaru? Dyo adalah kakakmu?” Chanyeol terperangah sampai menutup mulutnya tak percaya.
       “Tunggu! Kau mengenal Dyo-oppa?” Irene malah balik tanya.
       “Whoaaa, daebak[2]! Jadi kau adiknya Dyo? Aku tak menyangka anak itu memiliki adik.” Chanyeol heboh sendiri.
       “Hey, aku tanya kau tahu Dyo-oppa?” tanya Irene sekali lagi.
       “Iya. Dia teman SMA ku.” Jawab Chanyeol masih speechless.
       “Wah, ternyata dunia ini sempit ya?” Chanyeol masih terheran-heran.
       “Hem… kau benar. Ayah dan mamaku bercerai saat aku kelas 3 SMP. Dyo memilih tinggal dengan ayah karena Dyo tak dekat dengan mama. Sedangkan aku, aku tak tahu harus memilih siapa, aku menyayangi keduanya—mereka bukanlah pilihan…” sejenak Irene menghentikan kata-katanya, ia menunduk mengingat kenyataan pahit itu. Chanyeol melihatnya menitikan air mata sekilas.
       “Ah, maaf Irene-ssi, aku tak bermaksud membuatmu sedih.” Chanyeol merasa bersalah jika mengungkit masa lalu gadis itu.
       “Sudahlah, itu sudah lama sekali. Lagi pula aku harus mendengar penjelasanmu.” Irene menengadahkan kepalanya mencegah air matanya kelar dan mengalihkan pembicaraan, Chanyeol setuju.
       “Iya, apa kau mau mendengarkanku?” tanya Chanyeol meyakinkan lagi. Irene mengangguk cepat.
       Chanyeol mulai bercerita di awal Irene masuk sebagai mahasiswa baru, ia telah terpikat oleh gadis itu. Dari ia yang selalu memperhatikan langkah gadis itu yang terlihat murung dan tak ceria. Sampai beberapa tahun, Chanyeol tak berani berkenalan dengan Irene karena minder. Sampai akhirnya Chanyeol memiliki ide yang menurutnya paling bodoh sekarang. Yaitu, memanfaatkan ke populeran Kai. Ia tak bermaksud mempermainkan hati Irene, rupanya Irene malah terpikat oleh pesona Kai—Chanyeol melupakan fakta jika Kai merupakan lady killer.
       Irene mendengarkan dengan seksama—tak terasa mereka mengobrol dan bercerita sampai larut malam. Semua mengalir begitu saja. Awalnya Irene bersikap ketus pada Chanyeol namun lama-lama Irene menjadi nyaman saat mengobrol dengan Chanyeol. Di rumah, Irene hanya sendirian di temani oleh pembantu yang mungkin sudah istirahat.
       “Irene-ssi. Ini sudah malam, terimakasih kau mau mendengarkan penjelasanku. Terimakasih kau mau memaafkanku ya?” Chanyeol mengembangkan senyumnya sangking senangnya karena Irene menerima alasannya dan memaafkannya.
       “Ishh.. iya. Soal perasaanmu…” Irene menggantungkan kalimatnya.
       “Ah, tenang saja. Untuk masalah hati, kau tak perlu pikirkan, itu urusanku. Kau sudah memaafkan aku saja rasanya lega sekali.” Sergah Chanyeol tiba-tiba. Ia tak ingin mendengar penolakan yang menurutnya sangat menyakitinya, Chanyeol memiringkan bibirnya dan tersenyum kecut.
       “Ya sudah. Aku pamit saja. Ini sudah larut, bisa bahaya kalau kelamaan. Hehe.” Chanyeol pun pamit pulang. Irene hanya memandang punggung pria jangkung itu, lalu ia menyunggingkan senyumnya tipis. Lega, itu rasanya.


[1] Ya, baiklah
[2] Hebat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar