Rabu, 27 September 2017

LOVE SICK 4

LOVE SICK EP. 4 

Keesokan harinya. Sehun dan Chanyeol menghampiri Kai yang sedang melamun saat menonton futsal di lapangan.
       “Kenapa kau?” kini Chanyeol menepuk pundak Kai, namun Kai tak bergeming.
       “Wih, gimana perjodohanmu Kai? Lancar?” tanya Sehun yang memang sudah tahu Kai akan di jodohkan.
       “Apa? Kai di jodohkan? Gak salah?” tanya Chanyeol yang kaget setengah mati, lalu tertawa terbahak-bahak, mengingat Kai adalah rajanya playboy, bagaimana nasib pacar-pacarnya itu.
       “Ah, entahlah. Aku sebenarnya tak ingin melanjutkannya. Tapi aku penasaran sama gadis itu. Ku pikir dia sama seperti gadis lainnya, yang ada aku malah di jutekin.” Sontak Sehun dan Chanyeol tertawa keras sampai memegangi perutnya.
       “Ah ya hyung! Aku sudah dapat id Line, WA, bahkan alamat Irene, nih!” Kai menyerahkan iPhonenya ke Chanyeol.
       “Ahh, Kai the beth!” Sehun mengacungkan jempolnya.
       “Inget ya. Jangan pacari Irene. Cukup deketin, oke?” cetus Chanyeol, Kai hanya mengacungkan jempol.
       “Oh ya, Thehun boleh cerita nggak?” Sehun mulai menerawang, mengingat kejadian kemarin. Kedua sahabatnya pun mengangguk—tak biasanya Sehun mau berbagi cerita, karena ia biasa jadi pendengar.
       “Kemarin, aku menemui gadith itu.” Sehun memainkan ujung kemejanya.
       “Tunggu, gadis yang dulu kau ceritakan itu? Yang kau tolong di klub berenang? Yang katanya aneh, ikut klub renang tapi takut berenang, terus jadi dekat sama Sehun.” Chanyeol mencoba menebak. Sehun mengangguk pelan. Kai menyimak.
       “Iya, jadi thejak kita dekat, rupanya aku menyukai gaidith itu… diam-diam aku thlalu memperhatikannya dengan berkedok teman. Tapi aku tak beruthaha mengungkapkan, karena takut di tolak dan akhirnya dia menjauhiku. Thampai akhirnya, ia mengungkapkan perathaannya padaku, dia menyukaiku juga. tapi apa yang ku lakukan? Aku malah kabur membiarkan dia sendirian di klub, aku bingung—aku menyukainya juga—tapi aku tak bisa berpacaran, kau tahu—apa mereka akan menerimaku yang seperti anak kecil? Makanya—thejak saat itu aku menghindarinya—bodoh kan?”
       Kedua sahabatnya memeberikan rangkulan menguatkan.
       “Yah, yang sabar Sehun-ah, kita tahu kau pasti akan dewasa. Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran oke? Apa tak sebaiknya kau meminta maaf padanya? Kau bahkan tak memberikan gadis itu penjelasan sama sekai.” Kini Chanyeol member wejangan.
       “Oh ya, bagaimana perasaanmu sekarang kepadanya?” kini Kai bertanya penasaran.
       “Entahlah, aku ratha aku hanya dilingkupi ratha bersalah—tapi gak tahu kalau dia.” Sehun mengedikkan bahunya.
       “Siapa namanya, aku penasaran? Kau tak pernah cerita tentang gadis-gadis.” Kini Kai menggoda Sehun.
       “Yoona, anak sastra. Sekarang sudah keluar dari klub berenang—sejak saat itu.” Keduanya ber ‘oh’ ria.
***
       Seperti biasa, Chanyeol menyuruh Kai untuk ke perpus menemui Irene, sedangkan dirinya akan bersembunyi mengamati.
       Seperti yang Kai firasatkan, bahwa mungkin Irene akan tertarik padanya, tidak mengelak juga jika seandainya Irene bukan gebetan Chanyeol, Kai akan memacarinya. Mereka mengobrol dan tampak sudah akrab, namun setelah keasyikan Kai lupa, ada yang mengamati mereka. Takut berbuat terlalu jauh, Kai mengakhiri obrolan mereka dan pamit untuk pergi.
       Setelah ketemu Chanyeol, Kai memberikan info tentang Irene yang mungkin Chanyeol butuh. Seperti, Irene memang rajin ke perpus saat tak ada kerjaan, ia mengikuti klub jurnalis, Irene menyukai music balad ketimbang pop, atau seperti makanan favoritnya adalah salad alias dia adalah vegetarian, dan lain-lain.
       Hyung, apakah belum cukup? Perjanjian ini apa tak bisa di hentikan?” tanya Kai ragu-ragu.
       “Hmm.. kau bertahanlah sebentar lagi, aku tak cukup berani mendekatinya.” Chanyeol memelas. Kai hanya menghela napas panjang.
       Sesaat kemudian, Kai mendapat telepon dari papanya. Setelah menutup telepon itu, Kai pamit untuk pulang duluan.
***
       Setelah mendapat kabar dari papanya. Mau tak mau Kai harus melakukan perintah papanya itu. Kai mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sedang menuju alamat yang baru saja kemarin ia datangi namun penuh dramatic—begitu pikirnya.
       “Ah, mungkin menarik jika ku lanjutkan saja perjodohan ini. Persetan dengan gadis itu yang akan menolak. Saat aku bosan, aku bisa membatalkannya bukan?” gumam Kai sendirian.(Kai!! Dasar emang lu vangsadh!)
       Tiga puluh menit kemudian, Kai sudah sampai di rumah Yoona. Ia segera memarkirkan mobilnya. Lalu mengetuk pintu. Ada seorang pembantu yang membukakan pintu. Kai masuk. Ternyata papa Kai menyuruhnya menemani Yoona yang sakit—akibta kejadian semalam, karena ayahnya sedang di tugaskan keluar kota oleh papanya. Jadi papanya Kai adalah bos ayahnya Yoona.
       Setelah bertanya pada pembantu Yoona, karena kakak-kakak Yoona sudah menikah, jadi mereka tidak tinggal di sini. Suho kakak pertama Yoona memilih tinggal di rumah nya sendiri. Yuri kakak keduanya tinggal bersama suaminya. Jadilah dirumah hanya ada ayah dan Yoona, sedangkan pembatu hanya akan datang pagi saat pekerjaan telah selesai mereka akan pulang.
       Setelah ngobrol sebentar dengan pembatu, Kai langsung menuju ke kamar Yoona. Ia mengetuk pintu kamar Yoona, namun tak ada jawaban. Kai membuka knop pintunya perlahan, kepalanya menyembul mengitarkan pandangan. Aneh, tak ada siapa-pun. Kai lalu membuka lebar pintunya dan perlahan masuk.
       Kai memandangi lagi kamar Yoona yang kini terlihat berantakan, buku berserakan, bantal, selimut, guling acak-acakan.
       “Ckckck… apa-apaan gadis itu, benar-benar tidak rapi.” Gumam Kai sambil menggeleng-geleng kepalanya.
       Sepersekian detik kemudian, pintu kamar mandi di sebelah Kai berdiri terbuka lebar. And than…
KYAAAAA!
       “Apa yang kau lakukan? Dasar yadong[1]!” pekik Yoona yang terkejut dengan kedatangan Kai di dalam kamarnya. Ia segera meraih benda apa saja untuk memukuli badan Kai. Kai pun mengaduh kesakitan. Setelah terusir, Yoona langsung menutup kasar pintu kamarnya. Di depan pintu itu, Kai hanya terengah sambil tercengang.
       “Gadis gila! Sumpah sakit semua. Siapa yang yadong? Mana aku tahu kalau dia sedang mandi dan masih menggunakan handuk seperti itu, ternyata dia terlihat seksi, kulitnya putih mulus… #$()^%!$#@$*” PLAK! Kai menampar pipinya sendiri yang mulai berpikiran aneh-aneh, padahal dirinya menolak di sebut yadong.
       Kai memegangi dadanya yang sekarang bergemuruh.
       “Oke, tenang. Ini Cuma reaksi malu saja kan? Bukan… bukan… yang lain.” Kai meyakinkan dirinya untuk tenang dan tidak gugup. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang tamu.

to be continue


[1] mesum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar