LOVE SICK Ep. 2
Yoona tiba di kelas pagi—agak siangnya dengan wajah
bertekuk-tekuk, membuat sahabatnya yang melihatnya menjadi khawatir.
“Oh.. uri[1]-Yoona
kenapa nih pagi-pagi sudah bête?”
tanya Irene—sahabat Yoona yang keibuan.
“Irene-ah,
kau tahu tidak? Ayah jadi menjodohkanku, aku jadi sebal.” Yoona mencebikkan
bibirnya.
“Hmm…
perjodohannya jadi ya? Padahal kita baru semester lima. Ah, tenang Yoona-ah.
Kau bisa kenal dulu kan? Siapa tahu cocok.” Irene menjentikkan jarinya.
“Ishh,
kau sama saja.” Kali ini Yoona memilih pindah tempat duduk di pojok belakang,
ingin menenangkan—dan meratapi nasibnya. Irene hanya bisa menggeleng-geleng, ia
hapal betul jika sahabatnya lagi ngambek pasti suka menyendiri.
Beberapa
jam berlalu—akhirnya kelas Yoona berakhir. Irene segera menemui Yoona yang
masih menatap jandela.
“Yoona-ah,
aku mau ke perpus, apa kau mau ikut?” tawar Irene.
“Aishh..
kau ini mengganggu saja. Apa? Perpus? Gila ya? Kau kan tahu aku akan tertidur
jika lama-lama di tempat itu, agghh.. jinjja.
Bisa-bisa aku tambah stress.” Kini Irene hanya terkekeh menanggapi omelan Yoona
yang memang benar adanya.
“Sudahlah,
kau jalani saja. Aku pergi dulu!” pamit Irene yang meninggalkan Yoona dengan
wajah bertekuk bibir mencebik, serta tangan yang ia lipat didada.
***
Setelah
meninggalkan Yoona, Irene segera bergegas ke perpus. Irene memang lebih rajin
dan pintar ketimbang Yoona—wajahnya juga cantik dan rupawan—khas orang kaya.
Yoona juga cantik, tapi penampilannya yang cuek dan asal kadang menyembunyikan
kecantikannya.
Irene
segera memilih beberpa buku, lalu mengambil tempat duduk. Belum sempat ia
duduk, seseorang menyeruduknya dari belakang.
BRUKK!
Seketika
buku-buku Yoona bertebaran. Seorang pria itu meminta maaf berkali-kali dan
membantunya.
“Ah,
maaf-maaf. Aku tak sengaja, maaf ya? Ah ini bukunya. Sekali lagi maaf ya?”
Irene yang menundukkan kepalanya karena memungut buku—lantas mendongakkan
kepalanya setelah lelaki yang menabraknya meminta maaf. Sepersekian detik,
Irene terkesima dengan lelaki itu.
“Ah, tak
apa. Tak usah khawatir.” Jawab Irene tulus dan mengembangkan senyumnya. Lelaki
itu pun balas dengan senyum—paling menawannya—sengaja dibuat—untuk tebar
pesona.
“Ah, aku
sungguh minta maaf, karena kecerobohanku. Sini ku bantu.” Lelaki itu mengambil
beberapa buku dari tangan Irene dan mengambil tempat duduk lalu menaruh buku
itu pada meja baca.
“Ah, kau
tak usah repot-repot. Aku tak apa, dan kau sudah ku maafkan.” Kali ini Irene memamerkan
gigi putihnya.
“Oh ya?
Boleh aku duduk denganmu?” tanya lelaki itu santai. Irene mengangguk.
“Namamu
siapa?” tanya lelaki itu basa basi.
“Irene!”
Irene mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Kai.”
Lelaki yang ternyata bernama Kai itu-pun membalas uluran tangan Irene, keduanya
saling lempar senyum.
Baru
sebentar, rupanya mereka sudah terlihat akrab. Di ujung perpus, seseorang
mengamati dengan intents, jauh dilubuk hatinya ada sesuatu yang menusuk dan
sesak. Setelah dirasa cukup, sosok itu pun diam-diam mengacungkan jempol dan
mengedipkan mata pada Kai. Yah, dia adalah Chanyeol. Baru setelah Chanyeol
meng-kode, Kai pamit untuk pergi.
***
Yoona
yang masih sebal dengan kelakuan sahabatnya itu berjalan dengan langkah berat.
Ini masih siang, ia tak ingin cepat cepat pulang. Kata ayah acaranya sore ya,
tapi Yoona sama sekali tak bersemangat, lalu tanpa sadar kakinya terus menapaki
anak tangga hingga akhirnya ia sampai di tempat yang sudah lama sekali sejak
terakhir kali kesana. Yoona tanpa sadar menjatuhkan tas yang berat itu ke
lantai, lalu berjalan sampai di ujung—kini Yoona berada di rooftop kampusnya—tempat favoritnya dulu—bersama seseorang yang
sangat baik, tapi itu dulu. Yoona memandangi areal sekitar kampusnya,
membiarkan angin membelai lembut rambutnya
yang di kuncir kuda dan beberapa helai anak rambut yang melayang-layang,
perlahan menghirup nafas dalam-dalam—jauh dilubuk hatinya ia merindukan sosok
itu, seseorang yang telah lama ia ingin lupakan. Perlahan mata Yoona telah di
penuhi cairan yang mengambang dan sepertinya tak mampu menahannya—sehingga
tetesan itu pun terjatuh.
“Ternyata
kau kethini?” sebuah suara yang sangat ia hapal dengan logat cadelnya membuat
Yoona terkejut, perlahan ia berbalik melihat sosok itu.
“Kau?”
suara Yoona bahkan melayang di udara.
“Iya.
Apa kabar Yoona-ah? Aku thungguh merindukanmu..” kini Sehun—yah, siapa lagi
yang cadel itu menundukkan pandangannya, hatinya sakit menemui Yoona lagi
setelah selama ini bertindak seperti pengecut—benar-benar tak tahu diri, batinnya.
“Cih!
Dasar brings*k! kau tanya apa kabar ku? Selamat, aku sangat tidak baik!” kini
Yoona menatapnya dengan dingin, gadis itu beranjak mengambil tasnya yang berada
di samping Sehun—lalu melewatinya dengan menyenggol kasar lelaki itu dan pergi.
Sehun
mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras—tanpa di sadari matanya berkaca-kaca.
Ia benar-benar bodoh dan sangat lemah, dan pastinya pecundang sejati—bahkan ia
tak bisa menjelaskan alasannya selama ini menghindarinya atau pura-pura tak
kenal, bodoh—batinnya.
To Be Contine

Tidak ada komentar:
Posting Komentar