Senin, 18 September 2017

LOVE SICK part 2

 LOVE SICK Ep. 2
Yoona tiba di kelas pagi—agak siangnya dengan wajah bertekuk-tekuk, membuat sahabatnya yang melihatnya menjadi khawatir.
       “Oh.. uri[1]-Yoona kenapa nih pagi-pagi sudah bête?” tanya Irene—sahabat Yoona yang keibuan.
       “Irene-ah, kau tahu tidak? Ayah jadi menjodohkanku, aku jadi sebal.” Yoona mencebikkan bibirnya.
       “Hmm… perjodohannya jadi ya? Padahal kita baru semester lima. Ah, tenang Yoona-ah. Kau bisa kenal dulu kan? Siapa tahu cocok.” Irene menjentikkan jarinya.
       “Ishh, kau sama saja.” Kali ini Yoona memilih pindah tempat duduk di pojok belakang, ingin menenangkan—dan meratapi nasibnya. Irene hanya bisa menggeleng-geleng, ia hapal betul jika sahabatnya lagi ngambek pasti suka menyendiri.
       Beberapa jam berlalu—akhirnya kelas Yoona berakhir. Irene segera menemui Yoona yang masih menatap jandela.
       “Yoona-ah, aku mau ke perpus, apa kau mau ikut?” tawar Irene.
       “Aishh.. kau ini mengganggu saja. Apa? Perpus? Gila ya? Kau kan tahu aku akan tertidur jika lama-lama di tempat itu, agghh.. jinjja. Bisa-bisa aku tambah stress.” Kini Irene hanya terkekeh menanggapi omelan Yoona yang memang benar adanya.
       “Sudahlah, kau jalani saja. Aku pergi dulu!” pamit Irene yang meninggalkan Yoona dengan wajah bertekuk bibir mencebik, serta tangan yang ia lipat didada.
***
       Setelah meninggalkan Yoona, Irene segera bergegas ke perpus. Irene memang lebih rajin dan pintar ketimbang Yoona—wajahnya juga cantik dan rupawan—khas orang kaya. Yoona juga cantik, tapi penampilannya yang cuek dan asal kadang menyembunyikan kecantikannya.
       Irene segera memilih beberpa buku, lalu mengambil tempat duduk. Belum sempat ia duduk, seseorang menyeruduknya dari belakang.
BRUKK!
       Seketika buku-buku Yoona bertebaran. Seorang pria itu meminta maaf berkali-kali dan membantunya.
       “Ah, maaf-maaf. Aku tak sengaja, maaf ya? Ah ini bukunya. Sekali lagi maaf ya?” Irene yang menundukkan kepalanya karena memungut buku—lantas mendongakkan kepalanya setelah lelaki yang menabraknya meminta maaf. Sepersekian detik, Irene terkesima dengan lelaki itu.
       “Ah, tak apa. Tak usah khawatir.” Jawab Irene tulus dan mengembangkan senyumnya. Lelaki itu pun balas dengan senyum—paling menawannya—sengaja dibuat—untuk tebar pesona.
       “Ah, aku sungguh minta maaf, karena kecerobohanku. Sini ku bantu.” Lelaki itu mengambil beberapa buku dari tangan Irene dan mengambil tempat duduk lalu menaruh buku itu pada meja baca.
       “Ah, kau tak usah repot-repot. Aku tak apa, dan kau sudah ku maafkan.” Kali ini Irene memamerkan gigi putihnya.
       “Oh ya? Boleh aku duduk denganmu?” tanya lelaki itu santai. Irene mengangguk.
       “Namamu siapa?” tanya lelaki itu basa basi.
       “Irene!” Irene mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
       “Kai.” Lelaki yang ternyata bernama Kai itu-pun membalas uluran tangan Irene, keduanya saling lempar senyum.
       Baru sebentar, rupanya mereka sudah terlihat akrab. Di ujung perpus, seseorang mengamati dengan intents, jauh dilubuk hatinya ada sesuatu yang menusuk dan sesak. Setelah dirasa cukup, sosok itu pun diam-diam mengacungkan jempol dan mengedipkan mata pada Kai. Yah, dia adalah Chanyeol. Baru setelah Chanyeol meng-kode, Kai pamit untuk pergi.
***
       Yoona yang masih sebal dengan kelakuan sahabatnya itu berjalan dengan langkah berat. Ini masih siang, ia tak ingin cepat cepat pulang. Kata ayah acaranya sore ya, tapi Yoona sama sekali tak bersemangat, lalu tanpa sadar kakinya terus menapaki anak tangga hingga akhirnya ia sampai di tempat yang sudah lama sekali sejak terakhir kali kesana. Yoona tanpa sadar menjatuhkan tas yang berat itu ke lantai, lalu berjalan sampai di ujung—kini Yoona berada di rooftop kampusnya—tempat favoritnya dulu—bersama seseorang yang sangat baik, tapi itu dulu. Yoona memandangi areal sekitar kampusnya, membiarkan angin membelai lembut rambutnya  yang di kuncir kuda dan beberapa helai anak rambut yang melayang-layang, perlahan menghirup nafas dalam-dalam—jauh dilubuk hatinya ia merindukan sosok itu, seseorang yang telah lama ia ingin lupakan. Perlahan mata Yoona telah di penuhi cairan yang mengambang dan sepertinya tak mampu menahannya—sehingga tetesan itu pun terjatuh.
       “Ternyata kau kethini?” sebuah suara yang sangat ia hapal dengan logat cadelnya membuat Yoona terkejut, perlahan ia berbalik melihat sosok itu.
       “Kau?” suara Yoona bahkan melayang di udara.
       “Iya. Apa kabar Yoona-ah? Aku thungguh merindukanmu..” kini Sehun—yah, siapa lagi yang cadel itu menundukkan pandangannya, hatinya sakit menemui Yoona lagi setelah selama ini bertindak seperti pengecut—benar-benar tak tahu diri, batinnya.
       “Cih! Dasar brings*k! kau tanya apa kabar ku? Selamat, aku sangat tidak baik!” kini Yoona menatapnya dengan dingin, gadis itu beranjak mengambil tasnya yang berada di samping Sehun—lalu melewatinya dengan menyenggol kasar lelaki itu dan pergi.
       Sehun mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras—tanpa di sadari matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar bodoh dan sangat lemah, dan pastinya pecundang sejati—bahkan ia tak bisa menjelaskan alasannya selama ini menghindarinya atau pura-pura tak kenal, bodoh—batinnya.

To Be Contine


[1] kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar