Love Sick ep. 3
Setelah pertemuannya dengan Sehun yang membuatnya
malah semakin badmood akhirnya Yoona
memutuskan untuk segera pulang ke rumah—ia benar-benar muak dengan sikap
Sehun—yang menurutnya suka seenaknya itu, di luar seperti sok imut dan baik
hati—padahal devil, batinnya.
Yoona
tiba di rumah jam tiga sore, mungkin masih ada waktu satu sampai dua jam,
sehingga Yoona memilih untuk merebahkan tubuhnya—yang entah terasa sangat lelah
lalu memejamkan matanya.
Beberapa
saat kemudian terdengar ketukan pintu, Yoona pun terbangun dari tidurnya,
seseorang masuk ke kamar Yoona.
“Non,
sama tuan di suruh siap-siap, karena sebentar lagi calon non mau datang, mereka
sudah di perjalanan. Oh iya, ini kata tuan suruh pakai gaun ini.” Seorang
pembantu di rumah Yoona mengantarkan dress selutut berwarna merah muda
pastel—merah muda adalah warna yang sangat Yoona benci—apa ayahnya tidak tahu,
Yoona hanya mendengus kesal.
“Ya
sudah bi, aku mau mandi dulu.” Yoona segera beringsut dan masuk kamar mandi.
Tak
sampai lima belas menit, Yoona telah menyelesaikan mandinya, ia memang tak suka
berlama-lama dalam merawat tubuhnya. Ia menyambar dress merah muda itu dan
memakainya, ia benar-benar risih memakai, rasanya tidak cocok. Yoona hanya
menggulung rambut panjangnya dan membiarkan beberapa anak rambut tergerai,
Yoona memang tak suka menggerai rambutnya karena gampang gerah. Ia lalu mulai
memoles wajahnya dengan make up sederhananya,
ia hanya memakai lip ice dan pelembab
plus bedak padat, ia juga memakai sedikit mascara agar tak terlihat
sipit—karena bangun tidur.
“Ah,
ngapain aku dandan cantik-cantik, misiku kan menggagalkan acara ini, ck!” Yoona
bergumam sendiri, sampai ayahnya datang menjemput meminta Yoona untuk keluar,
karena tamunya sudah datang.
Yoona
mengikuti ayahnya dari belakang. Setelah sampai di ruang tamu, kini Yoona
melihat keluarga orang yang akan di jodohkannya. Terlihat seseorang lelaki
paruh baya yang seumuran dengan ayahnya—namun terlihat lebih muda dan lebih cool bahkan di usia ini. Lalu di
sampingnya ada seorang wanita yang telihat anggun dan cantik, ia sangat
terlihat feminim dengan dress gold dan scraf warna senada yang ia balut di bahunya, ia tersenyum
ramah—Yoona balas senyum. Kini pandangannya teralih pada kaki seseorang yang
mungkin calonnya—Yoona melihat dari ujung kaki, lelaki bersepatu semi fantofel,
bercelana permanent press pants
hitam, lalu kemeja berwarna telur asin panjang yang ia lipat sampai siku, glek! Kini Yoona mengamati leher jenjang
lelaki itu yang menurutnya menggoda, kini matanya tiba di bibirnya—yang merah
dan tebal, lalu hidung yang… menurutnya agak pesek, dan akhirnya bertemu dengan
mata itu—mata itu juga menatap Yoona, mungkin heran karena gadis itu memandangnya
dari ujung kaki sampai ujung rambut, bahkan rambut lelaki itu terlihat rapi
dengan pomade. Kini Yoona benar-benar
terpesona, ini adalah nikmat Tuhan yang tak bisa di dustakan. Sampai lamunannya
terhenti ketika lelaki itu mengagetkannya.
“Halo
om, perkenalkan nama saya Kai! Anak pertama dari papa.” Lelaki itu bernama Kai.
Yoona pun mengalihkan pandangannya.
Setelah
berkenalan dan basa-basi, mereka-pun kini duduk di ruang makan keluarga Yoona.
Di atas meja tersaji berbagai macam makanan mewah dan berlimpah. Kini Yoona
berhadapan dengan Kai, lelaki itu memandanginya dengan tatapan aneh, Yoona
merasa risih—apa mungkin dia menilai tampilan Yoona.
Disisi
lain Kai yang juga tak begitu setuju dengan perjodohannya, mulai memandangi
gadis yang akan di jodohkan dengannya. Bahkan gadis itu tak jauh lebih cantik
dari mantan-mantannya, bahkan pacarnya saat ini. Gadis itu memandangi Kai
dengan tatapan menilai—namun segera salah tingkah saat mata mereka saling
bertemu, Kai hanya tersenyum menyeringai—rupanya gadis itu pun juga terpesona
padanya.
Setelah
menghabiskan makan malamnya. Ayah Yoona dan papanya Kai meminta mereka untuk
berdua di dekat kolam renang, biar mereka saling akrab.
Mereka
duduk di bangku dengan canggung. Rupanya Kai itu malah asyik bermain iPhonenya.
Tapi rasanya sebal sekali di kacangin seperti itu, Yoona juga malas menanggapi
lelaki itu, ganteng-ganteng sombong—batinnya, wajar sih. Yoona berdiri dan
memilih untuk berjalan di tepi kolam dan melepas sandalnya.
“Eh, mau
kemana kau?” tanya Kai yang sadar di tinggal sendirian.
“Kemana
kek, serah dong.” Yoona membalas ketus. Kai pun menaruh iPhonenya dan mengikuti
Yoona.
“Oh ya?
Namamu Nanna kan?” tanya Kai basa basi. Nanna adalah nama yang biasa keluarga
dekatnya saja yang panggil, awalnya Yoona tak setuju ketika ayahnya mengenalkan
namanya dengan nama itu—karena Yoona merasa mereka belum jadi keluarga, tapi
ayahnya bersi keras.
“Asshh..
udah tahu tanya!” balas Yoona malas, ia merentangkan tangannya sambil berjalan
mengitari kolam renangnya.
“Ngapain
sih kau? Oh ya, kau kuliah jurusan apa? Semester berapa? Dimana?” kini Kai
mulai penasaran dengan gadis yang ia kira tertarik dengannya itu.
“Ah,
berisik. Itu tanya apa gak bisa satu satu ya? Kayak rel kerata api aja panjang
bener.” Kata Yoona lagi dengan ketus.
“Buset,
galak amat Na? ya udah sih, jawab aja.” Kata Kai tak sabar.
“Aku
lagi jalan, kuliah jurusan sastra, semester lima, di univ. D.” jawabnya
singkat.
“Ya
ampun irit amat? Marah ya gara-gara aku cuekin?” tanya Kai yang sekarang
mensejajarkan langkahnya dengan Yoona.
“udah tahu tanya,dasar!” gumam Yoona
dalam hati, ia berhenti berjalan dan menatap lelaki itu.
Namun,
karena sifat cerobohnya sangking kesalnya dengan lelaki di sampingnya, Yoona
tak memperhatikan jalannya, sehingga ia hilang keseimbangan—dan Kai reflek
menarik lengan Yoona, namun terlambat.
BYURRR!
Blup! Blup! Blup!
Kai
langsung berdiri, karena tubuhnya yang tinggi, air kolam hanya sampai dadanya,
tapi Yoona. Yoona malah terlihat mengambang dan tak bergerak hanya terlihat gelembung-gelembung
udara, atau kemungkinan tidak bisa berenang? Kai langsung menarik Yoona dan
mendorongnya—anehnya Yoona malah menahan Kai, namun akhirnya ia lemas dan Kai
memeluknya(mendorong) sampai ke tepian. Ia mengangkat Yoona.
Kini
Yoona tergolek lemas, ia terbatuk-batuk, dadanya terasa sakit, mata, hidung,
telinga rasanya panas. Kai membantu Yoona untuk duduk. Keduanya basah kuyup.
Yoona hanya bisa menegang.
“Aishh,
kau ini. Apa tak apa?” Kai menangkup pipi Yoona berusaha menyadarkannya. Yoona
hanya mengangguk cepat, lalu berusaha berdiri. Kai membopong Yoona, namun
segera di tepis gadis itu.
Di ruang
keluarga, ayah dan keluarga Kai bingung melihat anak-anaknya basah kuyup. Yoona
berlari ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan kasar, Kai hanya bisa
memandangi kamar itu. Ayah dan keluarga Kai segera menghampiri Kai.
“Ya
ampun, ada apa Kai?” tanya papanya.
“Nanna
jatuh ke kolam, aku menolongnya, tapi entah mengapa ia malah marah-marah.”
Jawab Kai lesu, ia tak mengerti dengan sikap Yoona yang kekanakan menurutnya,
bukannya terima kasih malah begitu.
“Ah,
Yoona. Maaf Kai, dia memang begitu kalau berhubungan dengan tenggelam. Kau jadi
basah kuyup. Sementara kau pakai saja pakaian Suho—kakaknya Yoona, dia sudah
menikah dan tinggal di rumahnya sendiri, tapi ada beberapa pakaiannya disini,
itu kamarnya—pakai saja, ada kamar mandinya juga.” ayah Yoona mengantar Kai ke
kamar Suho. Lalu pamit melihat keadaan Yoona. Papa dan mamanya Kai terlihat
khawatir dan menunggu di ruang keluarga.
“Na, apa
kau baik-baik saja?” kini ayah Yoona melihat Yoona sudah berganti pakainnya
dengan bebydoll dan meringkuk di atas
kasur. Yoona langsung menghambur, memeluk ayahnya.
“Nanna
kangen mama yah. Nanna kangen, makanya deket-deket kolam.” Gadis itu bergetar
di pelukan ayahnya, lalu ayahnya mengelus sabar punggung gadisnya itu.
“Ayah
tahu, Nanna kuat kan? Gak boleh sedih, nanti mama sedih liat Nanna sedih.”
Perlahan gadis itu terlelap dalam pelukannya. Rupanya Yoona punya kenangan
pahit, di kolam itu—dulu, 10 tahun yang lalu, mamanya meregang nyawa karena
setelah mengajak anak-anaknya berenang, mamanya malah kram, dan tak ada
siapa-pun, kecuali Yoona yang sudah mentas—melihat mamanya tenggelam, Yoona
hanya bisa teriak. Kolam renang adalah hal yang sangat di sukai—namun juga
paling di benci.
Ayah pun
bergegas menemui koleganya itu. Kai masih di kamar Suho. Setelah meminjam kaos
oblong dan jeans ¾ yang menurutnya muat—karena celana/ham kekecilan. Kai
memutuskan untuk memandangi pintu kamar Yoona. Dengan ragu ia mengetuk pintu,
namun tak ada jawaban. Kai pun memutar knop dengan perlahan, kini ia melihat
Yoona tengah meringkuk sembarang di kasurnya. Kai memberanikan diri untuk masuk.
Kamar
Yoona jauh dari kesan kamar perempuan. Nuansanya serba hitam dan abu-abu.
Banyak pajangan-pajangan mobil sport, motor GP, band-band rocker, lalu
benda-benda yang biasanya di miliki laki-laki, rupanya gadis ini adalah gadis
tomboy. Yoona meringkuk dengan tubuhnya, rautnya seakan ia tengah ketakutan.
Kai mengambil selimut, dan menyelimuti gadis itu. Kai mengamati calon
tunangannya itu.
Bibir
tipis berwarna merah muda alami, namun pecah-pecah, hidung mungil tapi terlihat
mancung, mata yang sangat sipit—tak memiliki garis mata, alis yang terlihat
lurus, Kai tersenyum sendiri—ternyata Yoona cantik juga. tanpa sadar, Kai
menggeleng-gelengkan kepala.
“Sial!
Ngapain aku muji-muji gadis jutek ini?” Kai pun beranjak untuk ke ruang
keluarga.
Setelah
kembali ke ruang keluarga. Keluarga Kai pamit untuk pulang, ayah menyesali
kejadian hari ini yang menurutnya merepotkan Kai. Kai tak masalah, lalu mereka
segera pulang. Di dalam mobil, Kai hanya melamun, ingatannya kembali saat
mereka tercebur dalam kolam renang. Ia melihat Yoona hanya diam dan mengambang,
tanpa berusaha untuk bergerak-gerak agar bisa berdiri, itu sangat aneh. Saat
Kai memeluk untuk mendorong Yoona, Yoona malah justru enggan untuk kembali ke
tepi, namun karena Kai lebih kuat, mereka sampai ke tepian—malah Yoona semakin
marah, aneh batinnya.
To Be Contine

Tidak ada komentar:
Posting Komentar