Senin, 18 September 2017

LOVE SICK part 3

Love Sick ep. 3
Setelah pertemuannya dengan Sehun yang membuatnya malah semakin badmood akhirnya Yoona memutuskan untuk segera pulang ke rumah—ia benar-benar muak dengan sikap Sehun—yang menurutnya suka seenaknya itu, di luar seperti sok imut dan baik hati—padahal devil, batinnya.
       Yoona tiba di rumah jam tiga sore, mungkin masih ada waktu satu sampai dua jam, sehingga Yoona memilih untuk merebahkan tubuhnya—yang entah terasa sangat lelah lalu memejamkan matanya.
       Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu, Yoona pun terbangun dari tidurnya, seseorang masuk ke kamar Yoona.
       “Non, sama tuan di suruh siap-siap, karena sebentar lagi calon non mau datang, mereka sudah di perjalanan. Oh iya, ini kata tuan suruh pakai gaun ini.” Seorang pembantu di rumah Yoona mengantarkan dress selutut berwarna merah muda pastel—merah muda adalah warna yang sangat Yoona benci—apa ayahnya tidak tahu, Yoona hanya mendengus kesal.
       “Ya sudah bi, aku mau mandi dulu.” Yoona segera beringsut dan masuk kamar mandi.
       Tak sampai lima belas menit, Yoona telah menyelesaikan mandinya, ia memang tak suka berlama-lama dalam merawat tubuhnya. Ia menyambar dress merah muda itu dan memakainya, ia benar-benar risih memakai, rasanya tidak cocok. Yoona hanya menggulung rambut panjangnya dan membiarkan beberapa anak rambut tergerai, Yoona memang tak suka menggerai rambutnya karena gampang gerah. Ia lalu mulai memoles wajahnya dengan make up sederhananya, ia hanya memakai lip ice dan pelembab plus bedak padat, ia juga memakai sedikit mascara agar tak terlihat sipit—karena bangun tidur.
       “Ah, ngapain aku dandan cantik-cantik, misiku kan menggagalkan acara ini, ck!” Yoona bergumam sendiri, sampai ayahnya datang menjemput meminta Yoona untuk keluar, karena tamunya sudah datang.
       Yoona mengikuti ayahnya dari belakang. Setelah sampai di ruang tamu, kini Yoona melihat keluarga orang yang akan di jodohkannya. Terlihat seseorang lelaki paruh baya yang seumuran dengan ayahnya—namun terlihat lebih muda dan lebih cool bahkan di usia ini. Lalu di sampingnya ada seorang wanita yang telihat anggun dan cantik, ia sangat terlihat feminim dengan dress gold dan scraf warna senada yang ia balut di bahunya, ia tersenyum ramah—Yoona balas senyum. Kini pandangannya teralih pada kaki seseorang yang mungkin calonnya—Yoona melihat dari ujung kaki, lelaki bersepatu semi fantofel, bercelana permanent press pants hitam, lalu kemeja berwarna telur asin panjang yang ia lipat sampai siku, glek! Kini Yoona mengamati leher jenjang lelaki itu yang menurutnya menggoda, kini matanya tiba di bibirnya—yang merah dan tebal, lalu hidung yang… menurutnya agak pesek, dan akhirnya bertemu dengan mata itu—mata itu juga menatap Yoona, mungkin heran karena gadis itu memandangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, bahkan rambut lelaki itu terlihat rapi dengan pomade. Kini Yoona benar-benar terpesona, ini adalah nikmat Tuhan yang tak bisa di dustakan. Sampai lamunannya terhenti ketika lelaki itu mengagetkannya.
       “Halo om, perkenalkan nama saya Kai! Anak pertama dari papa.” Lelaki itu bernama Kai. Yoona pun mengalihkan pandangannya.
       Setelah berkenalan dan basa-basi, mereka-pun kini duduk di ruang makan keluarga Yoona. Di atas meja tersaji berbagai macam makanan mewah dan berlimpah. Kini Yoona berhadapan dengan Kai, lelaki itu memandanginya dengan tatapan aneh, Yoona merasa risih—apa mungkin dia menilai tampilan Yoona.
       Disisi lain Kai yang juga tak begitu setuju dengan perjodohannya, mulai memandangi gadis yang akan di jodohkan dengannya. Bahkan gadis itu tak jauh lebih cantik dari mantan-mantannya, bahkan pacarnya saat ini. Gadis itu memandangi Kai dengan tatapan menilai—namun segera salah tingkah saat mata mereka saling bertemu, Kai hanya tersenyum menyeringai—rupanya gadis itu pun juga terpesona padanya.
       Setelah menghabiskan makan malamnya. Ayah Yoona dan papanya Kai meminta mereka untuk berdua di dekat kolam renang, biar mereka saling akrab.
       Mereka duduk di bangku dengan canggung. Rupanya Kai itu malah asyik bermain iPhonenya. Tapi rasanya sebal sekali di kacangin seperti itu, Yoona juga malas menanggapi lelaki itu, ganteng-ganteng sombong—batinnya, wajar sih. Yoona berdiri dan memilih untuk berjalan di tepi kolam dan melepas sandalnya.
       “Eh, mau kemana kau?” tanya Kai yang sadar di tinggal sendirian.
       “Kemana kek, serah dong.” Yoona membalas ketus. Kai pun menaruh iPhonenya dan mengikuti Yoona.
       “Oh ya? Namamu Nanna kan?” tanya Kai basa basi. Nanna adalah nama yang biasa keluarga dekatnya saja yang panggil, awalnya Yoona tak setuju ketika ayahnya mengenalkan namanya dengan nama itu—karena Yoona merasa mereka belum jadi keluarga, tapi ayahnya bersi keras.
       “Asshh.. udah tahu tanya!” balas Yoona malas, ia merentangkan tangannya sambil berjalan mengitari kolam renangnya.
       “Ngapain sih kau? Oh ya, kau kuliah jurusan apa? Semester berapa? Dimana?” kini Kai mulai penasaran dengan gadis yang ia kira tertarik dengannya itu.
       “Ah, berisik. Itu tanya apa gak bisa satu satu ya? Kayak rel kerata api aja panjang bener.” Kata Yoona lagi dengan ketus.
       “Buset, galak amat Na? ya udah sih, jawab aja.” Kata Kai tak sabar.
       “Aku lagi jalan, kuliah jurusan sastra, semester lima, di univ. D.” jawabnya singkat.
       “Ya ampun irit amat? Marah ya gara-gara aku cuekin?” tanya Kai yang sekarang mensejajarkan langkahnya dengan Yoona.
       udah tahu tanya,dasar!” gumam Yoona dalam hati, ia berhenti berjalan dan menatap lelaki itu.
       Namun, karena sifat cerobohnya sangking kesalnya dengan lelaki di sampingnya, Yoona tak memperhatikan jalannya, sehingga ia hilang keseimbangan—dan Kai reflek menarik lengan Yoona, namun terlambat.
BYURRR!
Blup! Blup! Blup!
       Kai langsung berdiri, karena tubuhnya yang tinggi, air kolam hanya sampai dadanya, tapi Yoona. Yoona malah terlihat mengambang dan tak bergerak hanya terlihat gelembung-gelembung udara, atau kemungkinan tidak bisa berenang? Kai langsung menarik Yoona dan mendorongnya—anehnya Yoona malah menahan Kai, namun akhirnya ia lemas dan Kai memeluknya(mendorong) sampai ke tepian. Ia mengangkat Yoona.
       Kini Yoona tergolek lemas, ia terbatuk-batuk, dadanya terasa sakit, mata, hidung, telinga rasanya panas. Kai membantu Yoona untuk duduk. Keduanya basah kuyup. Yoona hanya bisa menegang.
       “Aishh, kau ini. Apa tak apa?” Kai menangkup pipi Yoona berusaha menyadarkannya. Yoona hanya mengangguk cepat, lalu berusaha berdiri. Kai membopong Yoona, namun segera di tepis gadis itu.
       Di ruang keluarga, ayah dan keluarga Kai bingung melihat anak-anaknya basah kuyup. Yoona berlari ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan kasar, Kai hanya bisa memandangi kamar itu. Ayah dan keluarga Kai segera menghampiri Kai.
       “Ya ampun, ada apa Kai?” tanya papanya.
       “Nanna jatuh ke kolam, aku menolongnya, tapi entah mengapa ia malah marah-marah.” Jawab Kai lesu, ia tak mengerti dengan sikap Yoona yang kekanakan menurutnya, bukannya terima kasih malah begitu.
       “Ah, Yoona. Maaf Kai, dia memang begitu kalau berhubungan dengan tenggelam. Kau jadi basah kuyup. Sementara kau pakai saja pakaian Suho—kakaknya Yoona, dia sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri, tapi ada beberapa pakaiannya disini, itu kamarnya—pakai saja, ada kamar mandinya juga.” ayah Yoona mengantar Kai ke kamar Suho. Lalu pamit melihat keadaan Yoona. Papa dan mamanya Kai terlihat khawatir dan menunggu di ruang keluarga.
       “Na, apa kau baik-baik saja?” kini ayah Yoona melihat Yoona sudah berganti pakainnya dengan bebydoll dan meringkuk di atas kasur. Yoona langsung menghambur, memeluk ayahnya.
       “Nanna kangen mama yah. Nanna kangen, makanya deket-deket kolam.” Gadis itu bergetar di pelukan ayahnya, lalu ayahnya mengelus sabar punggung gadisnya itu.
       “Ayah tahu, Nanna kuat kan? Gak boleh sedih, nanti mama sedih liat Nanna sedih.” Perlahan gadis itu terlelap dalam pelukannya. Rupanya Yoona punya kenangan pahit, di kolam itu—dulu, 10 tahun yang lalu, mamanya meregang nyawa karena setelah mengajak anak-anaknya berenang, mamanya malah kram, dan tak ada siapa-pun, kecuali Yoona yang sudah mentas—melihat mamanya tenggelam, Yoona hanya bisa teriak. Kolam renang adalah hal yang sangat di sukai—namun juga paling di benci.
       Ayah pun bergegas menemui koleganya itu. Kai masih di kamar Suho. Setelah meminjam kaos oblong dan jeans ¾ yang menurutnya muat—karena celana/ham kekecilan. Kai memutuskan untuk memandangi pintu kamar Yoona. Dengan ragu ia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Kai pun memutar knop dengan perlahan, kini ia melihat Yoona tengah meringkuk sembarang di kasurnya. Kai memberanikan diri untuk masuk.
       Kamar Yoona jauh dari kesan kamar perempuan. Nuansanya serba hitam dan abu-abu. Banyak pajangan-pajangan mobil sport, motor GP, band-band rocker, lalu benda-benda yang biasanya di miliki laki-laki, rupanya gadis ini adalah gadis tomboy. Yoona meringkuk dengan tubuhnya, rautnya seakan ia tengah ketakutan. Kai mengambil selimut, dan menyelimuti gadis itu. Kai mengamati calon tunangannya itu.
       Bibir tipis berwarna merah muda alami, namun pecah-pecah, hidung mungil tapi terlihat mancung, mata yang sangat sipit—tak memiliki garis mata, alis yang terlihat lurus, Kai tersenyum sendiri—ternyata Yoona cantik juga. tanpa sadar, Kai menggeleng-gelengkan kepala.
       “Sial! Ngapain aku muji-muji gadis jutek ini?” Kai pun beranjak untuk ke ruang keluarga.
       Setelah kembali ke ruang keluarga. Keluarga Kai pamit untuk pulang, ayah menyesali kejadian hari ini yang menurutnya merepotkan Kai. Kai tak masalah, lalu mereka segera pulang. Di dalam mobil, Kai hanya melamun, ingatannya kembali saat mereka tercebur dalam kolam renang. Ia melihat Yoona hanya diam dan mengambang, tanpa berusaha untuk bergerak-gerak agar bisa berdiri, itu sangat aneh. Saat Kai memeluk untuk mendorong Yoona, Yoona malah justru enggan untuk kembali ke tepi, namun karena Kai lebih kuat, mereka sampai ke tepian—malah Yoona semakin marah, aneh batinnya.

To Be Contine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar