Rabu, 25 Oktober 2017

LOVE SICK part 12

LOVE SICK part 12 (ENDING)

       Dua bulan kemudian.
       “Gila, aku gak nyangka kalau kau benar-benar mendapatkannya.” Seru Kai antusias.
       “Benar hyung. Ku pikir Kai dulu yang akan melangkah ke jenjang ini.” Sehun menimpali.
       “Ah, memang seharusnya aku pergi duluan kan, karena aku lebih tua dari kalian. Dasar kunyuk!” umpat Chanyeol pada dua sohibnya itu.
       “Ah, sebentar lagi Kai akan menyusul, bagaimana denganku ya?” tiba-tiba Sehun merasa sedih.
       “Haha. Kau pasti akan segera mendapatkannya uri-Sehunnie. Rupanya bayi kita tumbuh dewasa ya?” ejek Chanyeol yang menganggap jika Sehun itu masih sangat kekanakan.
       “Haha, benar!” Kata Kai mengamini. Sehun hanya makin cemberut. 


       “Sayang, rupanya kau disini bersama bangsad squad ya?” seorang gadis dengan baju gaun pengantin berwarna white gold itu menghampiri Chanyeol cs.
       “Ah, Irene-ssi apa kau sudah kembali dari toilet?” Chanyeol langsung merangkul istri yang beberapa jam lalu ia sudah sahkan. Sekarang mereka mengadakan resepsi sederhana yang santai bertema outdoor.

       Rupanya tak lama semenjak Chanyeol dan Irene berbaikan, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sampai lama-lama Irene menyadari, jika ia sangat membutuhkan Chanyeol dalam hidupnya dan kenyataan bahwa hatinya memilihnya. Dan satu bulan setelah kelulusannya, Chanyeol melamar gadis itu.
       “Hehhh, kalian membuatku iri saja.” Sela Kai melihat kemesraan sahabatnya itu.
       “Haha, makanya kau cepat nikahi tunanganmu itu, huh.” Jawab Irene.
       “Haissh… aku belum ingin menikah muda, dan aku belum lulus. Memang kalian tuh yang kebelet nikah, ya kan?” sergah Kai.
       “Hai kalian kok tega banget tinggalin aku sendiri makan disana dan kalian asyik ngobrol dan kumpul-kumpul? Jahat-jahat!” Yoona yang membawa piring kecil berisi kue itu langsung menghambur ke kumpulan itu. Yoona juga sempat-sempatnya meninju dada bidang Kai dengan manja. 

       “Ciee, duh makin mesra aja tuh? Buruan di sahkan deh!” sindir Sehun yang panas karena hanya dirinya yang sendirian.
       “Huu, iri ya?” ledek Yoona. Kai langsung merangkul pundak Yoona.
Mereka semua berkumpul dan ber ha-ha-hi-hi. Tidak menyangka jika akhirnya Chanyeol menikahi gadis yang ia sukai selama 3 ah bukan 4 tahun. Perjuangan yang lumayan melelahkan dan juga menyakitkan, namun berakhir bahagia. Begitu juga dengan Kai. Ia pikir tak lagi bisa menemukan gadis yang ia cintai setelah di khianati, namun kehadiran Yoona membuatnya melek, hatinya dengan terang-terangan bergetar saat bersamanya, namun masalahnya juga ada padanya yang memilih menjadi badboy dan menghancurkan kepercayaan Yoona, namun segala perjuangannya pun terbayarkan ketika kebenaran itu terkuak dan dengan sendirinya gadis yang ia nantikan kembali menemuinya dan membalas perasaannya. Lalu Sehun? Sehun yang kekanakan tak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Bahkan perasaannya untuk Yoona harus bertepuk sebelah tangan, dan dia sudah memilih untuk melepas Yoona dari dulu. Tapi, baru-baru ini Sehun sedang dekat dengan seorang gadis SMA. Buka gadis SMA biasa, gadis yang sudah ia kenal sejak Sehun SMA kira-kira enam tahun lalu—saat gadis itu masih belia, dan sekarang menjelma menjadi seorang gadis cantik dan anggun.

“Chanyeol oppa! Ah, kalian semua disini rupanya… unie.. kau memang cantik sekali, tak salah kalau Chanyeol oppa memilihmmu. Daebak! Kai oppa sama Yoona unie makin mesra aja, kapan nyusul? Cie… eh, itu si anak ayam betah amat sendirian?” seorang gadis yang merupakan adik kandung Chanyeol itu datang-datang dan langsung nyerocos. 

“Gayoung-ah…” semua kompak menyela dengan namanya dan seketika gadis itu terdiam dan terkekeh.
mian~”  Gayoung(anggap saja sebagai Moon Gayoung cewek di webdrama EXO Nextdoor) mengangkat tangannya untuk meminta maaf. Sehun memandang sinis gadis tengik itu.
“Sehun-ah. Bisakah kau temani adik manisku ini jalan-jalan sekitar sini, bukankah kau membutuhkan teman?” saran Chanyeol, Sehun hanya terbelalak. Gayoung langsung berseru.
            kajja[1]! Sehun oppa kan baik? Kajja, kajja, kajja, kita jalan jalan!” Tanpa komando Gayoung mengampit lengan Sehun. Yang awalnya cemberut, Sehun hanya bisa tertawa melihat tingkah polos dan konyol Gayoung.
Rupanya selama Sehun berusaha melupakan perasaannya terhadap Yoona, ada seorang Gayoung yang tanpa sadar selalu menghiburnya, walaupun bawel dan konyol, dari luar terlihat kekanakan namun sebenarnya ia sangat dewasa, jauh ebih dewasa pemikirannya di banding Sehun, itu yang membuat Sehun senang berada dekat dengannya. Apakah mereka akan menjadi pasangan? Biarlah itu menjadi takdir. Karena mereka masih terlalu muda untuk ke jenjang lebih serius.

TAMAT

PS: Thanks you for read my first fanfiction. Hwaitting chinggu!


[1] Ayo pergi

LOVE SICK part 11

LOVE SICK PART 11

Beberapa hari berlalu. Chanyeol yang sudah lama tak menegur Kai, setelah mendapatkan maaf dari Irene, ia juga minta maaf pada Kai yang memanfaatkannya. Kai pun menerima maafnya dan mereka berdua saling meminta maaf. Akhirnya squad bangsad mereka kembali berkumpul setelah sekian lama.
       Sejak Yoona tak bertegur sapa dengan Kai. Yoona menjadi gadis yang pendiam dan murung. Irene yang sudah dapat menerima kenyataanpun tak tega melihat sahabatnya itu menyiksa dirinya dengan tak berteman dengan Kai, entah mengapa Irene mempunyai firasat jika Yoona terpaksa menjauhi Kai karena dirinya—mungkin Yoona telah jatuh cinta dengan Kai. Meskipun Irene dan Yoona masih sering bertegur sapa, namun Yoona lebih sering menolak dan menghindar jika di ajak hangout bareng.
       Irene memutuskan untuk memaksa Yoona agar dapat mengobrol lebih lama dan menjelaskan semuanya, karena menjauh seperti itu membuat Irene tak nyaman.
       Setelah kelas berakhir, Irene segera menghampiri Yoona.
       “Sudah sangat lama sekali kau mencoba menghindariku Yoona-yah! Banyak hal yang harus kita bicarakan!” tegur Irene saat melihat Yoona merapihkan mejanya.
       “Hmm.. bukankah semua sudah selesai. Aku membatalkan pertunanganku. Jadi kita tak ada hubungan, dan tak perlu lagi di bicarakan. Toh kita baik-baik saja kan?” Yoona segera beranjak meninggalkan Irene. Mendengar pembatalan pertunangannya itu membuat Irene terkejut. Irene langsung menarik lengan Yoona.
       “Tunggu! Bukan itu yang harusnya terjadi. Please! Aku minta waktumu sebentar saja.” Setelah sejenak merenungkan permintaan sahabtanya itu, Yoona-pun mengangguk. Lalu ia mengikuti kemana Irene membawanya.
****
       Setelah obrolannya dengan Irene, Yoona pun tak langsung pulang. Ia harus pergi ke tempat dimana seharusnya ia pergi. Sudah sebulan sejak pembatalan tunangannya dengan Kai. Sejak saat itu Yoona yang tahu Irene menyukai Kai langsung memutuskan agar ayahnya membatalkan tunangannya, awalnya Kai menolak. Kai bukan menghindari Yoona, ia bahkan setiap hari mecoba meminta maaf pada Yoona, banyak hal yang ia lakukan agar Yoona tak membatalkan pertunangan dan meminta maaf. Namun, sifat egois dan keras kepala nya Yoona membuat Kai akhirnya mengabulkan apapun keinginan Yoona—jika itu membuatnya bahagia, membatalkan tunangannya dan tak menganggunya lagi.
       Di perjalanan, banyak hal yang ia sesali. Ia belum pernah pergi ke rumah orang ini. Namun, ayahnya dengan senang hati memberikan alamatnya. Banyak hal yang berkecamuk dalam hatinya. Yoona sangat gelisah, taksi yang ia tumpangi berhenti di sebuah perumahan mewah. Banyak rumah berjajar dengan megah. Yoona melihat SMS di ponselnya. Blok A1 no. 17. Tidak salah, itu adalah tujuan Yoona.
       Yoona menghembuskan nafas berat. Ia menyiapkan hatinya. Ia juga memandang rumah yang begitu megah itu, tangannya ragu-ragu memencet bel pada pintu gerbang yang tinggi menjulang itu.
       Setelah beberapa saat. Seorang penjaga membukakan pintu.
       “Mau cari siapa neng?” tanya penjaga itu.
       “Maaf pak! Kai ada?” akhirnya Yoona menanyakan keberadaan lelaki yang membuatnya gelisah. Penjaga itu pun tersenyum dan menyuruh Yoona masuk.
       “Silakan neng, masuk aja. Tunggu di dalam.” Yoona mengikuti ajakan penjaga itu yang mengantarnya masuk ke ruang tamu.
       Yoona baru pertama kali ke rumah Kai, dan itu malah membuatnya minder. Bahkan rumahnya tak se megah dan sebesar milik Kai, maklumlah karena papanya Kai adalah bos. Yoona masih duduk di tepian kursi ruang tamu, ia sangat gelisah. Apa yang akan ia katakan terlebih dulu pada Kai. Sudah lama sekali, dan tiba-tiba mencarinya. Dasar bodoh! Yoona merutuki kebodohannya.
       “Apa kau akhirnya merindukanku?” suara lembut dan rendah yang Yoona hapal itu pun muncul. Kai berdiri di depannya, ia mengenakan Tshirt reglan cerah dan celana pendek santai, lalu kedua tangannya ia sakukan, seperti biasa—ia tampak cool. Yoona yang tersentak, berdiri seketika. Ia hanya memandang lelaki yang sudah lama ia campakan itu. Tidak tahu harus berucap apa.
       “Kai….” Yoona hanya mampu menyebut namanya, lidahnya terasa kelu. Seketika, matanya terasa berembun. Yoona menahannya dengan mendongak keatas, ia tak ingin Kai melihatnya menangis. Kai segera mendekati Yoona.
       Kini Kai tepat dihadapan gadis itu, Kai dengan intens memandang mata gadis yang sangat amat ia rindukan itu, Yoona yang di pandang itu pun tak lagi mampu menahan air matanya, kini air mata itu jatuh. Yoona hanya menggigit bibirnya, menahan suaranya agar tak terisak. Semakin Kai memandang dengan tatapan sendu, semakin Yoona merasa bersalah.
       “Ma…af…” Yoona berkata sambil bergetar. Ia tak tahan. Dengan cepat Kai menarik bahunya dan menariknya dalam pelukannya. Kai memeluk Yoona dengan erat, sangat erat karena Kai sangat takut kehilangannya. Yoona pun dengan ragu-ragu melingkarkan lengannya pada tubuh Kai. Ia bebas mengeluarkan segala beban, kesedihan, perasaan bersalah, dan semuanya tentang Kai dengan menangis dalam pelukan Kai.
       Sudah beberapa lama mereka saling pelukan. Meluapkan segala emosi yang terpendam. Dengan lembut Kai mengelus pucuk kepala gadis yang dari awal telah ia jatuhi cinta itu. Setelah merasa baikan, Yoona pun melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya kasar. Ia memandang Kai dengan puppy eyesnya. Kai merasa gemas, dengan lembut ia mengusap sisa air mata pada pipi Yoona dan terkekeh geli.
       “Ih, dasar cengeng!” kata Kai sambil mengusap pipi Yoona itu. Yoona menahan gerakan tangan Kai.
       “Maafkan aku… aku memang bodoh…” masih menggenggam tangan Kai dengan kedua tangannya. Kai melirik tangannya.
       “Ya! Kau memang benar-benar bodoh! Kau bahkan berlagak sebagai cupid tapi stupid!” sindir Kai.
       “Ih, aku tahu. Aku memang benar-benar bodoh. Cinta itu selalu menyakitkan!” Yoona menghempaskan tangan Kai.
       “Ya! Kau! Issh… aku akan memberimu dan menunjukkan padamu bahwa cinta itu indah dan tidak menyakitkan.” Kai tersenyum tulus. Yoona hanya memandang pria itu dan balas tersenyum. Kai mengeratkan kembali pelukannya.
       “Aku mencintaimu… sungguh… mencintaimu..” ucap Kai tulus. Sejenak Yoona terperangah. Yoona sudah tahu jika Kai menyukainya, tapi Kai tak pernah mengatakan cinta padanya.
       Nado sarangeo[1]


[1] Aku juga mencintaimu

LOVE SICK PART 10

LOVE SICK part 10

Di sisi lain. Chanyeol terus berusaha sebisanya dan pantang menyerah meminta maaf pada Irene. Karena kebodohannya ia mengorbankan perasaan Irene. Chanyeol tak mengira jika Irene akan berakhir menyukai Kai—dan itu diluar ekspetasinya. Chanyeol melupakan fakta jika Kai memang sang penakhluk.
       Seperti saat ini, Chanyeol terus membuntuti Irene yang berada di perpus. Karena risih, Irene segera meninggalkannya dan pergi ke klub jurnalis. Tak sampai itu, Chanyeol bahkan menunggu hingga Irene selesai urusannya di klub itu.
       Melihat Chanyeol gigih dan pantang menyerah seperti saat ini—ia terlihat tertidur di kursi depan. Awalnya Irene sangat terganggu, ia sangat kecewa dengan Chanyeol yang awalnya ia pikir baik. Namun, lama-lama Irene jadi kasihan, melihat ia berusaha keras meminta maaf padanya. Irene yang awalnya ingin pergi begitu saja meninggalkan Chanyeol sendirian itu, memilih berbalik. Hari yang mulai gelap membuat Irene tak tega.
       “Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Kalau mau tidur sebaiknya pulang sana!” omel Irene di depan Chanyeol tanpa menegur/mengguncangkan untuk membangunkan Chanyeol. Chanyeol yang terkaget karena suara keras Irene pun segera terbangun dan salah tingkah.
       “Ah, Irene-ssi… maaf! Maafkan aku.” Kata Chanyeol terburu-buru, karena ia tak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
       “Kau ingin menginap disini, atau kau mau mengobrol denganku. Jika kau ingin menginap sebaiknya aku pulang saja. Jika tidak, ikuti aku!” perintah Irene pada Chanyeol. Awalnya Chanyeol masih mencerna kalimat Irene—karena ia baru bangun dan kesadarannya masih separuh. Irene melipat tangan ke dadanya.
       “Ck!” Irene pergi meninggalkan Chanyeol. Sesaat setelah menyadarinya, Chanyeol langsung berlari menyusul Irene.
       “Ya! Tunggu, aku ikut denganmu! Jangan tinggalkan aku!” Chanyeol lalu mensejajarkan langkahnya dengan Irene.
       Di tengah jalanan yang kini mulai padat. Lampu-lampu juga sudah mulai berkelap-kelip menerangi hari yang semakin gelap. Mereka berdua berjalan di trotoar kota sekitar kampus. Irene hanya bersedekap, sesekali tersenyum tipis melihat kelakuan Chanyeol yang kikuk karena ketakutan.
       Beberapa menit berlalu. Irene terus melangkahkan kakinya meninggalkan kampus. Di sampingnya Chanyeol setia mengikuti. Ia tak berani buka suara—padahal ia tak tahan dengan keheningan—mulutnya gatal untuk sekedar berkata omong kosong, namun di situasi yang saat ini, ia mencoba menahan dirinya.
       Setelah berjalan sekitar 15 menit, Irene menghentikan langkahnya. Chanyeol pun tanpa sadar berucap,
       “Eh, mengapa kau berhenti? Apa sudah sampai?” chanyeol melihat ke sekeliling yang ada hanya perumahan cukup elit dan terlihat sepi.
       “Ishh… dasar!” Irene memalingkan wajahnya melihat cowok jangkung di sampingnya yang berubah sok asik.
       “Ah, mian.” Kata Chanyeol menutup bibir tipisnya dan bertanya lancang.
       “Ayo ikut aku, masuk!” Irene memasuki salah satu rumah besar di kompleks tersebut. Chanyeol mengikutinya dari belakang.
       “Eng… kau duduk lah dulu. Aku akan mengambil minum.” Tawar Irene saat di teras rumahnya dan menyuruh Chanyeol masuk di ruang tamu.
       “Ah, nde araseo[1]!” Chanyeol mendaratkan bokongnya pada sofa super empuk di rumah lumayan besar ini.
       Chanyeol mengedarkan pada sekeliling rumah itu. Rumahnya sangat sepi. Selain model rumahnya yang semi kontemporer, rumah itu terlihat mewah dengan barang-barang yang berwarna gold. Terlihat beberapa pajangan foto. Seperti foto keluarga. Karena penasaran,  Chanyeol mendekat dan mengamati beberapa potret di sebuah meja berisi foto-foto tersebut. Satu foto menarik perhatiannya. Bayi perempuan yang lucu dan berkuncir dua, Chanyeol tersenyum melihat foto itu. Ia kemudian beralih pada foto sebelahnya, seorang gadis kecil dengan make up tipis dengan membawa sebuah mic, sepertinya habis bernyanyi atau menjadi MC. Chanyeol menebak jika itu adalah foto-foto Irene, karena setelah foto tersebut, ada foto lagi dengan mic juga tapi Irene menggunakan seragam, mungkin ketika SMP. Di sebelahnya ada fotonya saat wisuda SMA. Dan sesaat Chanyeol terhenyak, ia kembali ke sebuah pigura yang tertutup—atau sengaja tak di berdirikan di meja. Chanyeol melihat foto wisuda SMA Irene dengan mamanya. Chanyeol tak menemukan saudara Irene—mungkin dia adalah anak tunggal—pikirnya, dan ada yang janggal, yah! Chanyeol tak menemukan foto ayahnya. Dengan rasa penasaran, Chanyeol membuka perlahan pigura yang tertungkup. Dan, Chanyeol sedikit terkejut setengah mati.
       “Apa yang kau lakukan?” Chanyeol tersentak dan mengembalikan foto yang ia lihat kembali. Irene yang datang sangat mengejutkannya.
       “Ah, a.. ak- aku… aku hanya melihat foto-fotomu. Rupanya kau cantik dari kecil ya?” Chanyeol berusaha mengalihkan pembicaraannya. Setelah menaruh minuman untuk Chanyeol, Irene mendekati Chanyeol yang berdiri di dekat meja tadi.
       “Oh ya?” tanya Irene penuh kecurigaan sambil melirik pigura di sebelah Chanyeol. Chanyeol hanya mengangguk.
       “Hm.. ya sudah. Seprtinya kau tahu sesuatu. Ini rumahku. Aku memintamu kemari karena banyak hal yang perlu diluruskan. Oh ya, kalau kau ingin tahu soal keluargaku, kau bisa tanyakan saja jika penasaran, tak perlu menutupi dan malu-malu.” Seringai Irene. Chanyeol hanya menelan ludah kelu.
       “Ah.. haha. Ya.. itu, bagaimana dengan ayah dan saudaramu?” tanya Chanyeol akhirnya.
       “Ah, rupanya kau benar-benar penasaran ya?” tanya Irene balik.
       “Eng… itu.. karena tak asing dengan foto anak laki-laki di sampingmu, dan laki-laki yang sepertinya ayahmu.”
       “Oh ya? Mereka memang keluargaku, dulu. Itu adalah ayah dan kakakku.” Jawab Irene santai.
       “Ha? Jinjjaru? Dyo adalah kakakmu?” Chanyeol terperangah sampai menutup mulutnya tak percaya.
       “Tunggu! Kau mengenal Dyo-oppa?” Irene malah balik tanya.
       “Whoaaa, daebak[2]! Jadi kau adiknya Dyo? Aku tak menyangka anak itu memiliki adik.” Chanyeol heboh sendiri.
       “Hey, aku tanya kau tahu Dyo-oppa?” tanya Irene sekali lagi.
       “Iya. Dia teman SMA ku.” Jawab Chanyeol masih speechless.
       “Wah, ternyata dunia ini sempit ya?” Chanyeol masih terheran-heran.
       “Hem… kau benar. Ayah dan mamaku bercerai saat aku kelas 3 SMP. Dyo memilih tinggal dengan ayah karena Dyo tak dekat dengan mama. Sedangkan aku, aku tak tahu harus memilih siapa, aku menyayangi keduanya—mereka bukanlah pilihan…” sejenak Irene menghentikan kata-katanya, ia menunduk mengingat kenyataan pahit itu. Chanyeol melihatnya menitikan air mata sekilas.
       “Ah, maaf Irene-ssi, aku tak bermaksud membuatmu sedih.” Chanyeol merasa bersalah jika mengungkit masa lalu gadis itu.
       “Sudahlah, itu sudah lama sekali. Lagi pula aku harus mendengar penjelasanmu.” Irene menengadahkan kepalanya mencegah air matanya kelar dan mengalihkan pembicaraan, Chanyeol setuju.
       “Iya, apa kau mau mendengarkanku?” tanya Chanyeol meyakinkan lagi. Irene mengangguk cepat.
       Chanyeol mulai bercerita di awal Irene masuk sebagai mahasiswa baru, ia telah terpikat oleh gadis itu. Dari ia yang selalu memperhatikan langkah gadis itu yang terlihat murung dan tak ceria. Sampai beberapa tahun, Chanyeol tak berani berkenalan dengan Irene karena minder. Sampai akhirnya Chanyeol memiliki ide yang menurutnya paling bodoh sekarang. Yaitu, memanfaatkan ke populeran Kai. Ia tak bermaksud mempermainkan hati Irene, rupanya Irene malah terpikat oleh pesona Kai—Chanyeol melupakan fakta jika Kai merupakan lady killer.
       Irene mendengarkan dengan seksama—tak terasa mereka mengobrol dan bercerita sampai larut malam. Semua mengalir begitu saja. Awalnya Irene bersikap ketus pada Chanyeol namun lama-lama Irene menjadi nyaman saat mengobrol dengan Chanyeol. Di rumah, Irene hanya sendirian di temani oleh pembantu yang mungkin sudah istirahat.
       “Irene-ssi. Ini sudah malam, terimakasih kau mau mendengarkan penjelasanku. Terimakasih kau mau memaafkanku ya?” Chanyeol mengembangkan senyumnya sangking senangnya karena Irene menerima alasannya dan memaafkannya.
       “Ishh.. iya. Soal perasaanmu…” Irene menggantungkan kalimatnya.
       “Ah, tenang saja. Untuk masalah hati, kau tak perlu pikirkan, itu urusanku. Kau sudah memaafkan aku saja rasanya lega sekali.” Sergah Chanyeol tiba-tiba. Ia tak ingin mendengar penolakan yang menurutnya sangat menyakitinya, Chanyeol memiringkan bibirnya dan tersenyum kecut.
       “Ya sudah. Aku pamit saja. Ini sudah larut, bisa bahaya kalau kelamaan. Hehe.” Chanyeol pun pamit pulang. Irene hanya memandang punggung pria jangkung itu, lalu ia menyunggingkan senyumnya tipis. Lega, itu rasanya.


[1] Ya, baiklah
[2] Hebat