Senin, 31 Juli 2017

MASA MUDA EP 12 (NZ 2)

MASA MUDA (EP. 12 GOES TO NZ PART II)

Jakarta.
          Semenjak kepergian Safina bersama Adam, hati Reza semakin gusar. Bagaimana bisa setelah ia mengungkapkan perasaannya Safina malah semakin dekat dengan Adam yang notabenenya adalah musuh bebuyutannya itu. Bagaimana jika mereka semakin dekat disana, begitu batin Reza.
          “Lo itu kenapa sih Za?” Ralin yang memperhatikan Reza mondar-mandir sambil mengusap wajahnya kasar.
          “Gimana nggak gusar coba, Safina malah pergi sama Adam cowok sial itu!” kesal Reza.
          “Kalau lo khawatir, coba aja telpon.” Saran Ralin, Reza mengambil HP dan mendial nomor Safina.
          Sayang sekali, nomor tidak aktif.
          “Sial! Pasti safina nggak mikirin HP buat bisa di pakai internasional. Aargh!” Reza membanting HP nya di sofa, Ralin tersentak kaget.
          “Cukup Za! Cukup! Lo udah berlebihan sama Safina, kalau lo bilang udah nyatain perasaan lo ke dia, tapi apa? Bahkan dia seneng-seneng sama Adam dan gak mikirin perasaan lo. Harusnya sebelum dia terima atau tolak gak gini dong!” pekik Ralin kesal karena melihat Reza hanya memikirkan Safina.
          “Gue nggak tahu. Yang jelas gue masih berharap sama dia,” keluh Reza pelan. Ralin hanya mendengus kesal.
*** 

Auckland, 09.00 AM
          Pagi hari di tanah Selandia Baru, Adam dan Safina menghabiskan pagi mereka dengan sarapan di hotel, lalu mereka merencanakan untuk sekedar belanja atau jalan-jalan di pusat kota Auckland, mengingat nanti sore mereka harus checkout dan pergi ke distrik Matamata.
          “Udah sarapannya? Kita ke kota lagi ya? Ke tempat yang belum sempat kita datangi.” Tanya Adam, Safina mengangguk paham.
          Udara pagi ini cukup lebih dingin dari biasanya, Safina yang hanya memiliki jaket parashut kualitas rendahan tentu tak dapat menutupi rasa dingin yang menusuk itu, sesekali ia mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Adam yang memperhatikan dari tadi menjadi tidak tega, ia melepas coatnya, untung ia melapisi tubuhnya dengan sweater.
          “Loh?” Safina terlihat kebingungan, karena Adam memakaikan coatnya.
          “Udah pakai saja, lo pasti masih kedinginan.” Melihat Adam begitu perhatiannya membuat Safina malu, malu karena terus merepotkannya.
          “Gue ngerepotin lo terus nih, sori ya?” Safina menatap Adam sendu. Adam yang melihat itu segera mengalihkan pembicaraan.
          “Gak kok. Sama sekali, udah ah! Keburu siang, nanti sore kita check out.” Adam menggandeng tangan Safina dan berjalan menyusuri Queen Street.
          “Wah, seneng banget deh bisa jalan sama lo, eh!” Safina menutup mulutnya malu, harusnya itu adalah kata hatinya. Adam yang mendengar terkekeh.
          “Siapa yang gak seneng kalau jalan sama cowok ganteng, cowok banget deh, cool, baik, dan pokok yang baik-baik deh!” kekeh nya. Safina hanya merutuki kebodohannya, semua itu memang benar, batinnya.
          “Tapi sayang…” katanya menggantung.
          “Sayang kenapa?” Adam menautkan kedua alisnya.
          “Aku nggak pa-pa kok sayang,” Safina terbaha-bahak. Adam hanya tersenyum penuh arti.
          “Cie minta di panggil sayang sekarang?” ledek Adam, kini warna merona merah tercetak di kedua pipi Safina. Sial, batinnya. Niatnya kan mau ngerjain Adam.
          “Ish, sayang kalo lo takut ketinggian!” cetus Safina, sontak membuat Adam diam mematung. Membuat Safina sedikit khawatir akan mengingatkan sama masa lalunya.
          “Dam! Lo nggak pa-pa kan? Halo? Lo bisa dengar gue gak sih?” Safina mengibas-ngibaskan telapak tangan di wajahnya, namun Adam masih diam tak merespon, air mukanya berubah pucat pasi.
          “Kita ke kafe dulu, gue pengen ngopi.” Tiba-tiba Adam menarik tangan Safina membawanya masuk ke coffeshop.
***
          “Sori, gue gak maksud meledek lo,” kata Safina hati-hati.
          “Gak pa-pa kok Fin. Emang kenyataannya kan. Tapi, kalau gue ke inget masa lalu, Cuma dengan kopi gue bisa lebih rileks, gitu aja sih.” Safina hanya diam karena merasa bersalah.
          Setelah ngopi-ngopi. Mereka menyusuri pasar di Auckland, walau namanya pasar tapi terlihat seperti mall. Mereka mencoba topi ala suku Maori (suku asli NZ), mencoba segala asesoris, mencoba, pakaian, jaket, dan lain-lain. Adam sudah mengantongi beberpa barang yang ia belikan untuk oleh-oleh ayah dan adiknya. Namun Safina masih bingung mencari sesuatu untuk orang rumahnya, bahkan untuk dirinya. Ia takut uang sakunya habis. Melihat itu Adam tak tinggal diam.
          “Lo mau beliin nyokap bokap lo Fin? Ambil aja?” tawar Adam. Safina jelas menggeleng pelan.
          “Udah ambil saja!” Adam mengambil dua baju dan membayarnya. Safina hanya bisa tersenyum kecut.
          “Gue nanti bakal ganti uang lo, gue janji. Atau entar di hotel gue kasih deh uangnya.” Safina merasa tak enak dengan Adam, takut kalau dia di sangka memanfaatkan kekayaan Adam.
          “Udah santai aja. Ini gue yang beliin lo, jadi gak usah ganti.”
          “Gak bisa. Gue gak bisa deh kalo hutang sama orang dan nerima pemberian orang dengan cuma-Cuma. Jadi biarin gue bayar!” Adam memutar bola matanya. Ini orang emang beda, disaat yang lain malah memanfaatkannya Safina malah tidak dan anti sekali, batinnya.
          “Oke terserah.” Kata Adam pasrah.
          Saat Safina di depannya berjalan sendirian, Adam melihat jaket kulit bagus, mungkin cocok untuk Safina, bisa digunakan nanti kalau Safina naik gunung. Adam pun membelinya tanpa sepengetahuan Safina.
***
Auckland-Matamata, 04.00 PM – 06.30 PM.
          Setelah mereka puas jalan-jalan di pusat kota Auckland, akhirnya mereka checkout dan segera menuju distrik Matamata. Perjalanan dari Auckland ke Matamata membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Karena snagking capaeknya Safina sampai tertidur di mobil yang mereka sewa.
          Akhirnya setelah pukul 06.30 mereka sampai di Matamata. Merasa mobil yang ditumpangi berhenti, Safina pun tersadar bahwa mereka sudah sampai.
          “Eh, udah sampai ya?” tanya Fina dengan muka bantal. Adam hanya terkekeh.
          “Iya tuan putri tidur. Yuk ah buruan.”
          Mereka segera mencari penginapan di sekitar sini. Setelah mencari di internet, mereka menyusuri jalanan di Matamata. Beberapa saat mereka telah sampai.
          “Kita nginep sini, eh?” tanya Fina bingung.
          “Iya kita nginep sini sampai besok, dan gue lihat di sini lebih murah daripada kemaren, yah walaupun emang bagusan kemaren hotelnya, kalau ini mungkin di sebut motel.” Adam memasuki motel dan check in untuk dua kamar. Safina tak masalah dengan penginapan sederhana, yang penting bisa pulang kembali dengan uang yang pas sudah cukup.
          “Nih kunci lo, besok kita ke tempat yang keren abis pokoknya. Lo pasti kegirangan!” Adam menggodanya membuat penasaran.
          “Kemana emang?”
          “Ada deh rahasia! See you!” Adam memasuki kamarnya dan menutup rapat. Safina hanya di buat gedeg sama ulah Adam.
*** 

Matamata, NZ.
          Pagi agak siang ini mereka berencana untuk menghabiskan masa trip di NZ. Beberapa tempat memang udah di jamin sama pihak event, tapi ada beberapa tempat yang bisa mereka kunjungi jika memungkinkan. Kali ini mereka masih di Matamata, daerahnya sedikit berbukit.
          “Lets go!” seru Adam yang sudah janjian dengan Safina di lobi motel.
          “Go go aja mah gue, ngikut aja asal tempatnya keren.”
          “Kali ini lo harus enjoy. Kita main-main di bukit!” cetus Adam.
          “Asik! Udah gak sabar liat ijo ijo!”
          Merekapun menaiki taksi dan segera meluncur ke tempat tujuan. Perjalanan sudah mulai melewati perkebunan hijau-hijau, Safina tak jemu jemu memandang sekitaran Matamata ini.
          “Oke, kita sudah sampai.” Adam menarik tangan Safina untuk menuntunnya masuk kedalam. Setelah melakukan regristrasi mereka mulai masuk di kawasan wisata.
          “Hobbiton Movie Set? Safina mengernyitkan dahi membaca tiket wisatanya.
          “Yups! Selamat datang di rumah para kurcaci di film hobbit!” seru Adam.
          “Hah? Serius?” tanya Safina tidak percaya, karena yang ia lihat hanya hamparan bukit hijau saja.
          “Sejuta rius!” kekeh Adam. “Ya udah, lo tutup mata, pegang gue biar gak jatuh. Lo bakal liat kejutan dari gue.” Awalnya Safina enggan, namun di paksa oleh Adam. Mau tak mau tangannya sendiri menutup matanya dan tangan satunya menggandeng lengan Adam.
          “Lo jangan ngerjain gue ya?” curiga Safina. Adam pun menuntunnya dengan hati-hati.
          Setelah 10 menit berjalan, tibalah mereka di setting film hobbit yang terkenal itu. Kini Adam melepaskan lengannya.
          “Sekarang, buka mata lo!” perlahan Safina membuka matanya.
          “Woaahh, amajing! Daebak! masyaAllah! Buseet!” Safina masih terpukau dan tidak percaya, ia bisa menginjakkan kakinya disini, Hobbiton Movie Set.
          Adam yang melihat Safina hanya memandangnya geli. Betapa polosnya gadis itu yang cenderung norak, lihat saja sekarang ia berlari kesana kemari, memegang-megang bangunan kecil itu bahkan mencoba semua setting yang seperti perumahan itu.

TO BE CONTINUE

SPOILLER : Episode NZ Masih lanjut. Karena di NZ mereka masih sisa dua hari, itu benar-benar dimanfaatkan. Jalan jalan di Matamata terus mereka ke Taupo, ada danau, air terjun, dan satu lagi kejutan untuk Fina. Di Jakarta Reza stress di tinggal Safina, Oskar bingung, Ralin tau tapi ia malah mengkambinghitamkan dan memanfaatkan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar