Senin, 17 Juli 2017

MASA MUDA EPS. 10

MASA MUDA (EPS. 10)


          Lomba dimulai. Penonton melihat dari bawah. Beberapa peserta sesuai nomor urut, dipanggil ke atas bukit dan naik katrol. System bungee jumping di tempat ini memang mendukung karena perbukitan dan menjorok ke jurang, namun tidak terlalu tinggi. Demi faktor keamanan dan menambah adrenalin, petugas memang menambah semacam crene untuk bungee jumping.
          Beberapa peserta banyak yang sudah merasakan pacuan adrenalinnya. Ada yang berekspresi ketakutan, ada yang malah kesenengan, ada yang merem aja sampai bawah, ada yang nangis-nangis, ada yang bergaya ala supermen, spidermen, betmen, dan masih banyak lagi. Panitia akan menilai, lompatan siapa yang paling indah—ini event yang aneh bukan? Iya, namanya juga fiction.
          Di area tunggu peserta, sebisa mungkin Safina menjauhi Ralin. Itu adalah permintaan Ralin, karena sampai saat ini Reza tidak tahu kalau Safina ikut lomba.
          “Heh, denger ya Fin. Gue gak mau tahu. Lo udah sama sekali nggak bantuin gue, jadi Cuma dengan ngejauhi Reza gue bisa deket sama dia.” Cetus Ralin sinis.
          “Sori Lin, gue belum bisa bantu lo. Karena ayah gue harus sakit jadi—“
          “Yah, untuk itu gue maklumin, karena dengan lo ngilang si Reza jadi gak usah deket-deket lo, dan gue bisa pepet dia terus, haha.” Potong Ralin menyeringai.
          “Oh,” Safina hanya ber”oh”ria, ia jadi ingat kejadian waktu itu, dimana Reza ngungkapin rasa padanya, yang sampai sekarang Safina bingung ingin menjawab apa, dan bagaimana jika Ralin sampai tahu? Pasti gadis itu akan memusuhinya sungguhan dan akan membuat Safina sengsara. Kini Ralin telah dipanggil dengan tiga peserta lainnya. Safina masih merenungi nasibnya.
          Padahal tujuannya adalah melepas stress, bukan menambah beban. Safina jadi tidak konsen dan merasa mual, ia ingin mundur saja dari lomba. Namun tiba-tiba HPnya berbunyi. Ia segera melihat notifikasi chat nya.
Adam Raengga Y. : Fighting! Lo harus bagus pas loncat. Oke?
          Safina terkekeh mendapat pesan itu, ia segera mereplay chatnya.
Anandayu Safina  : Gue mual L.
          Belum sempat ia keluar dari chat roomnya dengan Adam, lelaki itu telah membalasnya.
Adam Raengga Y. : Hahh? Serius, gw perlu ksana g? gw k sana y?
          Safina dibuat senyum senyum sendiri oleh chat Adam, eh tunggu. Sejak kapan ia menjadi tersipu. Pipinya terasa panas, padahal Cuma gara-gara chat nya Adam. Ia pun mereplay lagi.
Anandayu Safina  : Eh, paan sih. Gw g pp. J ini gw dah mendingan.
Adam Raengga Y. : Serius? Sukur deh J. Semangat Sapinul. Elo pasti bakal jadi yg terkeren deh :D.
          Sebutan itu membuatnya mendelik kesal, Sapinul? Bisa-bisanya Adam memanggilnya seperti itu, pikirnya. Namun sebelum membalas hendak protes, panitia melayangkan nama Ralin. Itu artinya gadis itu akan memulai. Akhirnya Safina menutup room chatnya. Dan fokus melihat sahabatnya—kalau masih dianggap itu.
          Di sana Ralin sudah di baluti oleh berbagai alat keamanan. Ralin memejamkan matanya sebelum ia memutuskan untuk melompat. Ralin melompat! Safina mengamatinya, Ralin bisa, ia melewati masa traumanya rupanya. Bahkan ia terjun tak seperti ketakutan, lompatan itu biasa saja, tapi juga tak terlihat kaku atau keren. Safina hanya menelan ludah kelu.
          Satu persatu para peserta telah melewatinya. Banyak yang ternyata peserta pemula sehingga mereka malah ketakutan, namun tak sedikit juga yang berlaga keren, mereka berpose seperti superhero.
          “Anandayu Safina, Redi Areza, Fifit Kanea, dan Roman Dylan!” panitia sudah mengumumkan peserta yang akan bungee. Safina segera mengikuti peserta yang lain.
          Safina adalah peserta pertama yang akan terjun. Sebelumnya ia berdoa. Ia ingat bahwa dirinya disini karena Adam, ia juga berniat untuk melepas stress, jadi mengapa ia malah merasa tertekan.
          Panitia memasangkan alat keamanan. Safina memejamkan matanya, merasakan hembusan hawa sejuk khas pegunungan, sesekali angin menerpa kasar anak rambut Safina. Ia mulai mengembangkan senyum. Saat panitia mulai memberi aba-aba, ia pun terjun.
          Safina membuka matanya, merentangkan kedua tangannya, jiwanya membuncah, ini adalah kesukaannya, berteriak sambil tersenyum lebar, ia terjun dengan badan berputar lalu tergelantung ke depan ke belakang, momen itu dimanfaatkan Safina untuk berpose.
***
          Adam segera menyusul Safina yang telah bungee.
          “Oh men! Sumpah itu tadi keren banget!” pekik Adam tiba-tiba memeluk Safina. Safina membalas pelukan itu dengan suka cita. Ia merasa lega sekaligus senang banget dengan pengalaman kali ini. Namun ia segera tersadar, ia telah melewati batasannya.
          “Eh, sori.” Safina melepas pelukan itu dan tersenyum kecut.
          “Eh kok jadi elo yang minta maaf. Gue yang salah, sori lancang.” Kilah Adam. Safina hanya tersenyum simpul.
          Namun, tiba-tiba seseorang meneriakinya dari belakang.
          “SAFINA?” Suara itu berat dan penuh penekanan.
          “Reza?” Safina mengerutkan keningnya.
          “Berani-beraninya lo deketin Safina?” Reza menarik lengan Safina dan memandang tajam Adam.
          “Lo siapanya?” tanya Adam penuh tuntutan.
          “Gue yang sangat amat dekat dengan Safina sejak tujuh tahun lalu!” Reza mengeratkan genggamannya pada Safina, sampai jarinya memutih, Safina hanya meringis menahan sakit. Entah mengapa mendengar Reza berbicara seperti itu, hatinya sedikit tidak enak.
          “Terus? Apa hak lo ngelarang dia buat temenan sama gue?” cetus Adam tak kalah.
          “Za, lo apaan sih? Lepasin!” Safina menepis tangan Reza.
          “Fin, kok lo? Dia itu bahaya Fin. Dia musuh bebuyutan gue. Jangan temenan sama dia!” perintah Reza. Safina sesekali memandang Ralin jengah, gadis itu memberinya tatapan sinis. Lalu melihat Reza dan Adam bergantian, ia bingung harus bersikap seperti apa.
          “Emang gitu ya? Gue bahaya? Kalau gue bahaya kenapa gue gak dari dulu aja celakain dia?” bantah Adam.
          “Lo pasti sengaja ya deketin dia buat ngancurin gue?” tunjuk Reza, kini jarak mereka sangat tipis, dan keduanya memandang tajam. Terlihat Adam menggeram, tangannya mengepal.
          “Lo? Lo emang musuh gue. Tapi gue nggak sepicik itu,” Adam memberi penekanan pada kata “picik”, mereka masih beradu pandang. Safina menengahi.
          “STOP!” Keduanya memandang Safina.
          “Udah Za, gue udah gede, gue bisa nentuin sama siapa gue berteman, dan lo Dam, lebih baik lo gak usah dulu ladenin Reza, karena gue kenal banget dia emang mudah emosi, jadi please… gue disini karena ngilangin stress, kenapa malah jadi nambah stress sih..” lagi-lagi Adam merasakan sesak setelah mendengar tutur Safina yang sangat kenal Reza itu. keduanya pun tertunduk.
          “Za..” Safina memegang bahu Reza. “Lo kan datang sama Ralin, jadi lo sama dia aja, gue kan sama Adam, jadi biar gue sama dia aja. Gue gak nyangka juga kalau kita bertemu dan sialnya kalian adalah rival. So, biarin gue tenang. Lo juga harus tenangin diri lo, oke?” Safina pun pamit, dan mengajak Adam untuk ke atas. Ia memilih untuk bersama Adam, menurutnya ini sudah adil. Karena ia memang pergi dengan Adam.
***
          Safina masih terdiam membisu, pikirannya penuh dengan kejadian tadi. Adam yang melihatnya menjadi prihatin. Mereka berjalan dengan penuh keheningan.
          “Fin, gue beli minum dulu ya? Lo duduk di sini sambil nunggu pengumuman pemenang!” Adam pamit, Safina pun duduk di antara banyak orang.
          Tak selang beberapa Adam kembali dengan dua botol minuman dingin.
          “Ini buat lo, mudah-mudahan sih bisa mendinginkan pikiran lo,” ia menyerahkan botol itu pada Safina.
          “Thanks!” Safina segera meneguk minuman itu, sejak tadi pengumuman pemenang dimulai. Juara harapan sudah diumumkan.
          Tiba pada juara tiga, peserta pun mulai deg degan.
          “Juara ke tiga, dengan dua paket wisata ke pegunungan Tengger, 3 hari dua malam, dan sejumlah uang tunai jatuh pada…. Redi Areza!” sontak si pemilik nama itu berteriak karena bahagia. Safina merasa kecewa. Masih ada juara dua dan satu, kini mereka berdua berdoa lamat-lamat.
          “Juara ke dua, dengan dua paket wisata ke Bali, selama 6 hari 5 malam, dan unag tunai jatuh pada…. Alexandra Frans! Peserta dari Swiss.” Semuapun merasa kecewa, iyalah bule, pasti jago. Pikir mereka. Kini tinggal satu harapan. Safina menjadi tak bersemangat, ia tidak yakin dirinya akan menang.
          “Juara pertama, dua paket wisana ke New Zeland, selama 6 hari 5 malam, dengan sejumlah uang tunai jatuh pada….” Para peserta semakin di buat penasaran dan jantungan karena semua berharap.
          “Jatuh pada… peserta yang pastinya sangat ciamik tadi. Pada siapa?” peserta mulai menyorakkan, karena MC nya sangat membuat penasaran.
          “Selamat pada… Anandayu Safina!” sontak mendengar namanya terpanggil membuatnya terbelalak kaget, ia masih tak percaya. Adam meneriakinya.
          “Safina! Lo menang!” pekik Adam. Safina yang sadar langsung berteriak kegirangan, lagi-lagi meluk Adam. Setelah bersuka cita, ia segera naik ke panggung.
          Setelah penyerahan hadiah, para pemenang foto-foto. Kemudian setelah acara selesai, para pemenang langsung mengurusi hadiahnya. Dimana semua perjalanan akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang, sehingga pemenang harus mengisi formulir segara keperluan, dan juga menentukan partner traveling.
          Safina menimbang-nimbang, siapa yang akan ia ajak ke New Zeland, ia bahkan belum pernah ke luar negeri. Safina menjentikkan jarinya dan mengambil HPnya, ia mendial nomor seseorang.
          “Halo! Lo bisa masuk kesini nggak?” suara diseberang mengiyakan lalu memutuskan panggilan.
***
          “Ada apa Fin?” tanyanya.
          “Elo… mau gak temenin gue ke New Zeland?” seketika senyumnya mengembang, mungkin sudah sampai kuping. Safina tersenyum malu-malu, takut kalau di tolak, namun kekhawatirannya salah.
          “Dengan senang hati, tuan putri…” Safina pun tersenyum lega. “Sapinul,” ejek Adam kemudian dib alas dengan jitakan yang mendarat di kepala Adam.

TO BE CONTINE
PS: Yuhu… namanya juga fiction, jadi sori banget kalau absurd dan gak masuk akal ya? Yah… intinya sih kan gak jauh-jauh dari hobi para karakternya. Terus penulis udah gak sabar banget buat ngajakin pembaca ngikutin kegiatan Safina dan Adam ke New Zeland. Walau penulis juga belum pernah kesana sih, Cuma liat di tv, tapi penulis pengen banget kalau karakter kita liburan kesana, hehe oke gais, di tunggu deh updatennya goes to New Zeland.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar