MASA MUDA
(EPS. 10)
Lomba
dimulai. Penonton melihat dari bawah. Beberapa peserta sesuai nomor urut,
dipanggil ke atas bukit dan naik katrol. System bungee jumping di tempat ini
memang mendukung karena perbukitan dan menjorok ke jurang, namun tidak terlalu
tinggi. Demi faktor keamanan dan menambah adrenalin, petugas memang menambah
semacam crene untuk bungee jumping.
Beberapa
peserta banyak yang sudah merasakan pacuan adrenalinnya. Ada yang berekspresi
ketakutan, ada yang malah kesenengan, ada yang merem aja sampai bawah, ada yang
nangis-nangis, ada yang bergaya ala supermen, spidermen, betmen, dan masih
banyak lagi. Panitia akan menilai, lompatan siapa yang paling indah—ini event
yang aneh bukan? Iya, namanya juga fiction.
Di
area tunggu peserta, sebisa mungkin Safina menjauhi Ralin. Itu adalah
permintaan Ralin, karena sampai saat ini Reza tidak tahu kalau Safina ikut
lomba.
“Heh,
denger ya Fin. Gue gak mau tahu. Lo udah sama sekali nggak bantuin gue, jadi
Cuma dengan ngejauhi Reza gue bisa deket sama dia.” Cetus Ralin sinis.
“Sori
Lin, gue belum bisa bantu lo. Karena ayah gue harus sakit jadi—“
“Yah,
untuk itu gue maklumin, karena dengan lo ngilang si Reza jadi gak usah
deket-deket lo, dan gue bisa pepet dia terus, haha.” Potong Ralin menyeringai.
“Oh,”
Safina hanya ber”oh”ria, ia jadi ingat kejadian waktu itu, dimana Reza
ngungkapin rasa padanya, yang sampai sekarang Safina bingung ingin menjawab
apa, dan bagaimana jika Ralin sampai tahu? Pasti gadis itu akan memusuhinya
sungguhan dan akan membuat Safina sengsara. Kini Ralin telah dipanggil dengan
tiga peserta lainnya. Safina masih merenungi nasibnya.
Padahal
tujuannya adalah melepas stress, bukan menambah beban. Safina jadi tidak konsen
dan merasa mual, ia ingin mundur saja dari lomba. Namun tiba-tiba HPnya berbunyi.
Ia segera melihat notifikasi chat nya.
Adam Raengga Y. : Fighting! Lo harus
bagus pas loncat. Oke?
Safina
terkekeh mendapat pesan itu, ia segera mereplay chatnya.
Anandayu Safina : Gue mual L.
Belum
sempat ia keluar dari chat roomnya dengan Adam, lelaki itu telah membalasnya.
Adam Raengga Y. : Hahh? Serius, gw
perlu ksana g? gw k sana y?
Safina
dibuat senyum senyum sendiri oleh chat Adam, eh tunggu. Sejak kapan ia menjadi
tersipu. Pipinya terasa panas, padahal Cuma gara-gara chat nya Adam. Ia pun
mereplay lagi.
Anandayu Safina : Eh, paan sih. Gw g pp. J ini gw dah mendingan.
Adam Raengga Y. : Serius? Sukur deh J. Semangat Sapinul. Elo pasti
bakal jadi yg terkeren deh :D.
Sebutan
itu membuatnya mendelik kesal, Sapinul? Bisa-bisanya Adam memanggilnya seperti
itu, pikirnya. Namun sebelum membalas hendak protes, panitia melayangkan nama
Ralin. Itu artinya gadis itu akan memulai. Akhirnya Safina menutup room
chatnya. Dan fokus melihat sahabatnya—kalau masih dianggap itu.
Di
sana Ralin sudah di baluti oleh berbagai alat keamanan. Ralin memejamkan
matanya sebelum ia memutuskan untuk melompat. Ralin melompat! Safina
mengamatinya, Ralin bisa, ia melewati masa traumanya rupanya. Bahkan ia terjun
tak seperti ketakutan, lompatan itu biasa saja, tapi juga tak terlihat kaku
atau keren. Safina hanya menelan ludah kelu.
Satu
persatu para peserta telah melewatinya. Banyak yang ternyata peserta pemula
sehingga mereka malah ketakutan, namun tak sedikit juga yang berlaga keren,
mereka berpose seperti superhero.
“Anandayu
Safina, Redi Areza, Fifit Kanea, dan Roman Dylan!” panitia sudah mengumumkan
peserta yang akan bungee. Safina segera mengikuti peserta yang lain.
Safina
adalah peserta pertama yang akan terjun. Sebelumnya ia berdoa. Ia ingat bahwa
dirinya disini karena Adam, ia juga berniat untuk melepas stress, jadi mengapa
ia malah merasa tertekan.
Panitia
memasangkan alat keamanan. Safina memejamkan matanya, merasakan hembusan hawa
sejuk khas pegunungan, sesekali angin menerpa kasar anak rambut Safina. Ia
mulai mengembangkan senyum. Saat panitia mulai memberi aba-aba, ia pun terjun.
Safina
membuka matanya, merentangkan kedua tangannya, jiwanya membuncah, ini adalah
kesukaannya, berteriak sambil tersenyum lebar, ia terjun dengan badan berputar
lalu tergelantung ke depan ke belakang, momen itu dimanfaatkan Safina untuk
berpose.
***
Adam
segera menyusul Safina yang telah bungee.
“Oh
men! Sumpah itu tadi keren banget!” pekik Adam tiba-tiba memeluk Safina. Safina
membalas pelukan itu dengan suka cita. Ia merasa lega sekaligus senang banget
dengan pengalaman kali ini. Namun ia segera tersadar, ia telah melewati
batasannya.
“Eh,
sori.” Safina melepas pelukan itu dan tersenyum kecut.
“Eh
kok jadi elo yang minta maaf. Gue yang salah, sori lancang.” Kilah Adam. Safina
hanya tersenyum simpul.
Namun,
tiba-tiba seseorang meneriakinya dari belakang.
“SAFINA?”
Suara itu berat dan penuh penekanan.
“Reza?”
Safina mengerutkan keningnya.
“Berani-beraninya
lo deketin Safina?” Reza menarik lengan Safina dan memandang tajam Adam.
“Lo
siapanya?” tanya Adam penuh tuntutan.
“Gue
yang sangat amat dekat dengan Safina sejak tujuh tahun lalu!” Reza mengeratkan
genggamannya pada Safina, sampai jarinya memutih, Safina hanya meringis menahan
sakit. Entah mengapa mendengar Reza berbicara seperti itu, hatinya sedikit
tidak enak.
“Terus?
Apa hak lo ngelarang dia buat temenan sama gue?” cetus Adam tak kalah.
“Za,
lo apaan sih? Lepasin!” Safina menepis tangan Reza.
“Fin,
kok lo? Dia itu bahaya Fin. Dia musuh bebuyutan gue. Jangan temenan sama dia!”
perintah Reza. Safina sesekali memandang Ralin jengah, gadis itu memberinya
tatapan sinis. Lalu melihat Reza dan Adam bergantian, ia bingung harus bersikap
seperti apa.
“Emang
gitu ya? Gue bahaya? Kalau gue bahaya kenapa gue gak dari dulu aja celakain
dia?” bantah Adam.
“Lo
pasti sengaja ya deketin dia buat ngancurin gue?” tunjuk Reza, kini jarak
mereka sangat tipis, dan keduanya memandang tajam. Terlihat Adam menggeram,
tangannya mengepal.
“Lo?
Lo emang musuh gue. Tapi gue nggak sepicik itu,” Adam memberi penekanan pada
kata “picik”, mereka masih beradu pandang. Safina menengahi.
“STOP!”
Keduanya memandang Safina.
“Udah
Za, gue udah gede, gue bisa nentuin sama siapa gue berteman, dan lo Dam, lebih baik
lo gak usah dulu ladenin Reza, karena gue kenal banget dia emang mudah emosi,
jadi please… gue disini karena ngilangin stress, kenapa malah jadi nambah
stress sih..” lagi-lagi Adam merasakan sesak setelah mendengar tutur Safina
yang sangat kenal Reza itu. keduanya pun tertunduk.
“Za..”
Safina memegang bahu Reza. “Lo kan datang sama Ralin, jadi lo sama dia aja, gue
kan sama Adam, jadi biar gue sama dia aja. Gue gak nyangka juga kalau kita
bertemu dan sialnya kalian adalah rival. So, biarin gue tenang. Lo juga harus
tenangin diri lo, oke?” Safina pun pamit, dan mengajak Adam untuk ke atas. Ia
memilih untuk bersama Adam, menurutnya ini sudah adil. Karena ia memang pergi
dengan Adam.
***
Safina
masih terdiam membisu, pikirannya penuh dengan kejadian tadi. Adam yang
melihatnya menjadi prihatin. Mereka berjalan dengan penuh keheningan.
“Fin,
gue beli minum dulu ya? Lo duduk di sini sambil nunggu pengumuman pemenang!”
Adam pamit, Safina pun duduk di antara banyak orang.
Tak
selang beberapa Adam kembali dengan dua botol minuman dingin.
“Ini
buat lo, mudah-mudahan sih bisa mendinginkan pikiran lo,” ia menyerahkan botol
itu pada Safina.
“Thanks!”
Safina segera meneguk minuman itu, sejak tadi pengumuman pemenang dimulai.
Juara harapan sudah diumumkan.
Tiba
pada juara tiga, peserta pun mulai deg degan.
“Juara
ke tiga, dengan dua paket wisata ke pegunungan Tengger, 3 hari dua malam, dan
sejumlah uang tunai jatuh pada…. Redi Areza!” sontak si pemilik nama itu
berteriak karena bahagia. Safina merasa kecewa. Masih ada juara dua dan satu,
kini mereka berdua berdoa lamat-lamat.
“Juara
ke dua, dengan dua paket wisata ke Bali, selama 6 hari 5 malam, dan unag tunai
jatuh pada…. Alexandra Frans! Peserta dari Swiss.” Semuapun merasa kecewa,
iyalah bule, pasti jago. Pikir mereka. Kini tinggal satu harapan. Safina
menjadi tak bersemangat, ia tidak yakin dirinya akan menang.
“Juara
pertama, dua paket wisana ke New Zeland, selama 6 hari 5 malam, dengan sejumlah
uang tunai jatuh pada….” Para peserta semakin di buat penasaran dan jantungan
karena semua berharap.
“Jatuh
pada… peserta yang pastinya sangat ciamik tadi. Pada siapa?” peserta mulai
menyorakkan, karena MC nya sangat membuat penasaran.
“Selamat
pada… Anandayu Safina!” sontak mendengar namanya terpanggil membuatnya
terbelalak kaget, ia masih tak percaya. Adam meneriakinya.
“Safina!
Lo menang!” pekik Adam. Safina yang sadar langsung berteriak kegirangan,
lagi-lagi meluk Adam. Setelah bersuka cita, ia segera naik ke panggung.
Setelah
penyerahan hadiah, para pemenang foto-foto. Kemudian setelah acara selesai,
para pemenang langsung mengurusi hadiahnya. Dimana semua perjalanan akan
dilaksanakan tiga hari dari sekarang, sehingga pemenang harus mengisi formulir
segara keperluan, dan juga menentukan partner traveling.
Safina
menimbang-nimbang, siapa yang akan ia ajak ke New Zeland, ia bahkan belum
pernah ke luar negeri. Safina menjentikkan jarinya dan mengambil HPnya, ia
mendial nomor seseorang.
“Halo!
Lo bisa masuk kesini nggak?” suara diseberang mengiyakan lalu memutuskan
panggilan.
***
“Ada
apa Fin?” tanyanya.
“Elo…
mau gak temenin gue ke New Zeland?” seketika senyumnya mengembang, mungkin
sudah sampai kuping. Safina tersenyum malu-malu, takut kalau di tolak, namun
kekhawatirannya salah.
“Dengan
senang hati, tuan putri…” Safina pun tersenyum lega. “Sapinul,” ejek Adam
kemudian dib alas dengan jitakan yang mendarat di kepala Adam.
TO BE CONTINE
PS: Yuhu… namanya juga fiction, jadi
sori banget kalau absurd dan gak masuk akal ya? Yah… intinya sih kan gak jauh-jauh
dari hobi para karakternya. Terus penulis udah gak sabar banget buat ngajakin
pembaca ngikutin kegiatan Safina dan Adam ke New Zeland. Walau penulis juga
belum pernah kesana sih, Cuma liat di tv, tapi penulis pengen banget kalau
karakter kita liburan kesana, hehe oke gais, di tunggu deh updatennya goes to
New Zeland.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar