Jumat, 21 Juli 2017

MASA MUDA 11 (goes to NZ 1)




MASA MUDA (EP. 11 SPECIAL GOES TO NEW ZELAND)



          Tiga hari setelah hari itu, setelah Safina mengajak Adam, setelah izin pada orangtuanya. Walau awalnya sangat tidak diperbolehkan, apalagi dengan seorang lelaki walaupun orangtuanya percaya bahwa Adam adalah orang baik tetap saja. Namun setelah begitu di yakinkan, akhirnya Safina mendapat izin. Adam pun apalagi, malah harus jagain Safina disana, walau juga belum pernah kesana, namun Adam pernah ke luar negeri seperti Eropa dan Australia dulu saat kursus music, zaman sekarang juga tinggal pakai internet untuk mengetahui informasinya.
          Tiga hari itu pun serasa banyak tantangan, karena Reza juga dengan terang-terangan mencegah Safina pergi dengan Adam dan menawarkan diri untuk menggantikannya, tak ayal Safina sempat goyah dan uring-uringan. Namun setelah berpikir secara matang-matang, dan berkat istikhoroh ia memantapkan hatinya. Dari awal yang ia ajak adalah Adam, terlepas dia musuh Reza atau teman yang baru ia kenal, namun entah mengapa ia percaya, sangat percaya pada Adam yang entah sejak kapan juga membuat hari-harinya berwarna itu.
***
International Soekarno-Hatta Airport, 04.00 AM.
          “Are you ready?” seru Adam, saat keduanya telah di bandara dengan backpack kebanggaan anak gunung, dan style sangat casual tapi keren.
          “Ready dong!” jawab Safina, ia terlihat sederhana dengan backpacknya juga dan terlihat santai.
          Mereka pun segera mengikuti prosedur pengecekan. Setelah melewati begitu banyak pengecekan, mereka tiba di lorong pesawatnya.
          15 menit lagi mereka akan take off dengan bandara tujun Auckland.
*** 

          Auckland Airport, 07.00 PM.
                   Setelah kurang lebih 16 jam perjalanan dengan pesawat, akhirnya mereka menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Auckland, NZ.
Fighting flames of fire, Hang onto burning wires
We don’t care anymore. Are we fading lovers?
We keep wasting colors, maybe we should let this go
          “Whoaa, ini New Zeland Dam?” Safina mengedarkan pandangan ke segala penjuru, ia benar-benar takjub, matanya berbinar-binar, lalu mengenakan jaket yang ia keluarkan di tasnya karena udara di NZ sejuk antara 10 sampai 20 derajat di bulan Juli.
          “Yeah, welcome to NZ (En Zei, enghlish read)!” pekik Adam dengan merentangkan kedua tangannya, memberikan udara baru NZ di hirup dalam dalam.
          “Hwaah… sumpah gak nyangka bisa ke luar negeri!” Safina jingkat jingkat kegirangan seperti anak kecil, Adam hanya terkikik geli, orang-orang melihatnya aneh.
          “Eh udah-udah. Norak tau! Malu-maluin aja. Cukup lo tadi di pesawat yang heboh eh tiba-tiba molor, udah gitu tidurnya mangap plus ngiler lagi, ihh… hahah” Adam terbahak-bahak, Safina menjadi malu ia mengutuk dirinya yang sangat katrok itu, lalu mencubit lengan Adam.
          “Ishh.. sakit tau!” Adam meringis kesakitan.
          “Frustrasion, desperation, you say I need some kind of medication. Situasion, no motivation. Destination, permanent vacation.” Lagu permanent vacationnya 5sos, Safina bernyanyi dengan nada mencibir, biarpun dia tidak paham lagunya, tapi dia tahu kalau itu lagu tentang liburan.
          “Ih sok deh. suaranya kayak bebek juga. Haha” cibir Adam, namun Safina mengabaikannya dan masih asik bernyanyi dengan riang gembira.
          “Kemana kita Dam?” mereka memberhentikan taksi dan naik, Adam menyebutkan nama sebuah penginapan di dekat bandara dan supir itu melajukan taksinya.
          “Kalau lihat paket wisata kita nginepnya di dekat bandara, di Sky High Hotels,” Adam membacakan brosur dan beberapa tiket masuk wana wisata, Safina hanya mengangguk.
          “Ya udah, itu gue serahin ke elo yang ngerti, gue percayain sama lo, termasuk hidup gue,” Safina berkata sok serius dan di buat-buat membuat ada menahan tawanya melihat gelagatnya. Adam hanya menggeleg geleng dan terkekeh.
          Beberapa menit, mereka telah sampai di depan hotel.
Sky High Hotels, 08.30 PM.
          “Kita nginep sini Dam?” Safina mengerutkan dahinya.
          “Iya.” Jawab Adam singkat, mereka menuju meja resepsionis. Safina melirik Adam, lalu Adam mengangguk. Artinya Adam yang akan bicara, mengingat Safina tak begitu mahir berbahasa inggris.
          “Excuse me, we from Indonesia. We want to check in. we from event bungee jumping taman hiburan Bogor, jungle land.” Tanya Adam dengan bahasa inggris berlogat Indonesia pastinya.
          “Okay, we’ll process.” Petugas itu melakukan sesuatu dengan komputernya.
          “Two rooms with name Adam Raengga Yohan dan Anandayu Safina?” tanya petugas itu.
          “That’s right.” Adam mengangguk-anggukan kepalanya cepat.
          “Okay, wait. This your key. For two days?” petugas itu memberi dua kunci dan bertanya dengan menunjukkan dua jari untuk menanyakan hari mereka check out.
          “Yeah, sure. For two days. Thanks.” Petugas itu membungkuk memberkan senyum ramahnya.
          Adam dan Safina segera menuju lokasi kamarnya dengan melihat nomor kamarnya. Setelah naik satu tangga, mereka sampai. Rupanya kamar mereka berhadapan. Itu memudahkan jika terjadi sesuatu.
          “Oke Fin. Sekarang lo masuk, mungkin bersih-bersih badan. Terus istirahat, besok kita baru mulai jalan-jalannya.” Safina mengangguk, ia membuka kamar dan masuk. Adam pun memasuki kamarnya.
  *** 
 Queen Street, Auckland
Auckland Central Bussines District (Pusat kota Auckland, NZ)
          Pagi, agak siang sih. Rupanya mereka kesiangan karena kecapaian. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di puat kota.  Mereka hanya di beri beberapa tiket oleh panitia event, dan bisa di datangi kapan saja. Untuk logistic dan transportasi mereka harus mengucurkan sendiri dari dana pribadi. Sempat Adam di kasih uang lomba itu oleh Safina namun di tolak mentah-mentah, sudah di ajak saja adalah anugerah, kilahnya.
          Mereka memilih naik bus nya Selandia Baru. Dengan penuh kegembiraan Safina terus tersenyum saat mereka melewati kota di Auckland. Udara di siang ini cukup sejuk, matahari juga bersinar cerah namun tak terasa menyengat, hanya hangat.
          “Gue bakal ajak lo ketempat yang terkenal di sini Fin.”  
          “Oke, markemon!” Safina memekik antusias, Adam mengerutkan dahi.
          “Mari kita kemon!” Safina memberi penjelasan, Adam pun terkekeh.
          Beberpa menit mereka pun turun di kota. Banyak aktifitas yang terjadi, seperti perkantoran, perdagangan, pendidikan. Kota ini ramai.
          “Ayo kita foto-foto!” pekik Fina.
          “Oh, sabar dong! Entar lo foto sampai puas deh, tapi kita harus foto di sana!” tunjuk Adam pada sebuah jalan, lalu ia melihat latar belakangnya. Ada sebuah gedung pencakar langit.
          “Itu namanya Sky Tower. Kita harus ke sana biar keliatan pas di foto.” Mereka pun segera beranjak dan mulai foto-foto mengabadikan momen dengan latar belakang Sky Tower.
          Setelah puas dengan foto-foto, mereka melanjutkan perjalanan.
          “Kita kemana lagi Dam?” tanya Safina.
          “Lo lebih suka museum atau laut?” Adam malah balik tanya.
          “Em..” Safina tampak berfikir. Lalu ia menjentikkan jarinya.
          “Kayaknya laut lebih asik, lebih bebas!” seru Safina.
          “Ahaha…” Adam tertawa di buat-buat. “Yah, itu pilihan bagus, karena ge-ra-tis!” katanya dengan tekanan. Safina menaikkan satu alisnya.
          “Karena kalau di museum bayar Fin, hehe irit!” sahut Adam, Safina mengiyakan.
          Merekapun sampai di pelabuhan Auckland. Tepatnya, Waitemata Harbour. Merupakan salah satu pelabuhan di Aucklad. 

          Mereka cukup menikmati pemandangan di pelabuhan, laut yang berwarna biru, angin sepoy-sepoy. Aktivitas kapal, perdagangan dan lain-lain. setelah foto-foto(kegiatan wajib.red) mereka memilih untuk bersantai sebentar di kedai untuk makan dan menikati suasana.

TO BE CONTINUE

Spoiller : Adam dan Safina masih di NZ, karena waktu di kota masih ada. Adam kasih kejutan ke tempat keren di Auckland. Safina menikmati perjalanan. Setelah 2 hari, mereka menuju ke Matamata dan Taupo dengan sisa hari yang mereka miliki merka terlihat senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar