MASA MUDA
(EP. 11 SPECIAL GOES TO NEW ZELAND)
Tiga
hari setelah hari itu, setelah Safina mengajak Adam, setelah izin pada
orangtuanya. Walau awalnya sangat tidak diperbolehkan, apalagi dengan seorang
lelaki walaupun orangtuanya percaya bahwa Adam adalah orang baik tetap saja.
Namun setelah begitu di yakinkan, akhirnya Safina mendapat izin. Adam pun
apalagi, malah harus jagain Safina disana, walau juga belum pernah kesana,
namun Adam pernah ke luar negeri seperti Eropa dan Australia dulu saat kursus
music, zaman sekarang juga tinggal pakai internet untuk mengetahui
informasinya.
Tiga
hari itu pun serasa banyak tantangan, karena Reza juga dengan terang-terangan
mencegah Safina pergi dengan Adam dan menawarkan diri untuk menggantikannya,
tak ayal Safina sempat goyah dan uring-uringan. Namun setelah berpikir secara
matang-matang, dan berkat istikhoroh ia memantapkan hatinya. Dari awal yang ia
ajak adalah Adam, terlepas dia musuh Reza atau teman yang baru ia kenal, namun
entah mengapa ia percaya, sangat percaya pada Adam yang entah sejak kapan juga
membuat hari-harinya berwarna itu.
***
International Soekarno-Hatta
Airport, 04.00 AM.
“Are
you ready?” seru Adam, saat keduanya telah di bandara dengan backpack
kebanggaan anak gunung, dan style sangat casual tapi keren.
“Ready
dong!” jawab Safina, ia terlihat sederhana dengan backpacknya juga dan terlihat
santai.
Mereka
pun segera mengikuti prosedur pengecekan. Setelah melewati begitu banyak
pengecekan, mereka tiba di lorong pesawatnya.
15
menit lagi mereka akan take off dengan bandara tujun Auckland.
***
Auckland
Airport, 07.00 PM.
Setelah
kurang lebih 16 jam perjalanan dengan pesawat, akhirnya mereka menginjakkan
kaki untuk pertama kalinya di Auckland, NZ.
♪Fighting flames of fire, Hang
onto burning wires
We don’t
care anymore. Are we fading lovers?
We keep
wasting colors, maybe we should let this go♪
“Whoaa,
ini New Zeland Dam?” Safina mengedarkan pandangan ke segala penjuru, ia
benar-benar takjub, matanya berbinar-binar, lalu mengenakan jaket yang ia
keluarkan di tasnya karena udara di NZ sejuk antara 10 sampai 20 derajat di
bulan Juli.
“Yeah,
welcome to NZ (En Zei, enghlish read)!” pekik Adam dengan merentangkan kedua
tangannya, memberikan udara baru NZ di hirup dalam dalam.
“Hwaah…
sumpah gak nyangka bisa ke luar negeri!” Safina jingkat jingkat kegirangan
seperti anak kecil, Adam hanya terkikik geli, orang-orang melihatnya aneh.
“Eh
udah-udah. Norak tau! Malu-maluin aja. Cukup lo tadi di pesawat yang heboh eh
tiba-tiba molor, udah gitu tidurnya mangap plus ngiler lagi, ihh… hahah” Adam
terbahak-bahak, Safina menjadi malu ia mengutuk dirinya yang sangat katrok itu,
lalu mencubit lengan Adam.
“Ishh..
sakit tau!” Adam meringis kesakitan.
“Frustrasion,
desperation, you say I need some kind of medication. Situasion, no motivation. Destination,
permanent vacation.” Lagu permanent vacationnya 5sos, Safina bernyanyi dengan
nada mencibir, biarpun dia tidak paham lagunya, tapi dia tahu kalau itu lagu
tentang liburan.
“Ih
sok deh. suaranya kayak bebek juga. Haha” cibir Adam, namun Safina
mengabaikannya dan masih asik bernyanyi dengan riang gembira.
“Kemana
kita Dam?” mereka memberhentikan taksi dan naik, Adam menyebutkan nama sebuah
penginapan di dekat bandara dan supir itu melajukan taksinya.
“Kalau
lihat paket wisata kita nginepnya di dekat bandara, di Sky High Hotels,” Adam
membacakan brosur dan beberapa tiket masuk wana wisata, Safina hanya
mengangguk.
“Ya
udah, itu gue serahin ke elo yang ngerti, gue percayain sama lo, termasuk hidup
gue,” Safina berkata sok serius dan di buat-buat membuat ada menahan tawanya
melihat gelagatnya. Adam hanya menggeleg geleng dan terkekeh.
Beberapa
menit, mereka telah sampai di depan hotel.
Sky High Hotels, 08.30 PM.
“Kita
nginep sini Dam?” Safina mengerutkan dahinya.
“Iya.”
Jawab Adam singkat, mereka menuju meja resepsionis. Safina melirik Adam, lalu
Adam mengangguk. Artinya Adam yang akan bicara, mengingat Safina tak begitu
mahir berbahasa inggris.
“Excuse
me, we from Indonesia. We want to check in. we from event bungee jumping taman
hiburan Bogor, jungle land.” Tanya Adam dengan bahasa inggris berlogat
Indonesia pastinya.
“Okay,
we’ll process.” Petugas itu melakukan sesuatu dengan komputernya.
“Two
rooms with name Adam Raengga Yohan dan Anandayu Safina?” tanya petugas itu.
“That’s
right.” Adam mengangguk-anggukan kepalanya cepat.
“Okay,
wait. This your key. For two days?” petugas itu memberi dua kunci dan bertanya
dengan menunjukkan dua jari untuk menanyakan hari mereka check out.
“Yeah,
sure. For two days. Thanks.” Petugas itu membungkuk memberkan senyum ramahnya.
Adam
dan Safina segera menuju lokasi kamarnya dengan melihat nomor kamarnya. Setelah
naik satu tangga, mereka sampai. Rupanya kamar mereka berhadapan. Itu
memudahkan jika terjadi sesuatu.
“Oke
Fin. Sekarang lo masuk, mungkin bersih-bersih badan. Terus istirahat, besok
kita baru mulai jalan-jalannya.” Safina mengangguk, ia membuka kamar dan masuk.
Adam pun memasuki kamarnya.
***

Auckland Central Bussines
District (Pusat kota Auckland, NZ)
Pagi,
agak siang sih. Rupanya mereka kesiangan karena kecapaian. Mereka memutuskan
untuk jalan-jalan di puat kota. Mereka
hanya di beri beberapa tiket oleh panitia event, dan bisa di datangi kapan
saja. Untuk logistic dan transportasi mereka harus mengucurkan sendiri dari
dana pribadi. Sempat Adam di kasih uang lomba itu oleh Safina namun di tolak
mentah-mentah, sudah di ajak saja adalah anugerah, kilahnya.
Mereka
memilih naik bus nya Selandia Baru. Dengan penuh kegembiraan Safina terus
tersenyum saat mereka melewati kota di Auckland. Udara di siang ini cukup
sejuk, matahari juga bersinar cerah namun tak terasa menyengat, hanya hangat.
“Gue
bakal ajak lo ketempat yang terkenal di sini Fin.”
“Oke,
markemon!” Safina memekik antusias, Adam mengerutkan dahi.
“Mari
kita kemon!” Safina memberi penjelasan, Adam pun terkekeh.
Beberpa
menit mereka pun turun di kota. Banyak aktifitas yang terjadi, seperti
perkantoran, perdagangan, pendidikan. Kota ini ramai.
“Ayo
kita foto-foto!” pekik Fina.
“Oh,
sabar dong! Entar lo foto sampai puas deh, tapi kita harus foto di sana!”
tunjuk Adam pada sebuah jalan, lalu ia melihat latar belakangnya. Ada sebuah
gedung pencakar langit.
“Itu
namanya Sky Tower. Kita harus ke sana biar keliatan pas di foto.” Mereka pun
segera beranjak dan mulai foto-foto mengabadikan momen dengan latar belakang
Sky Tower.
Setelah
puas dengan foto-foto, mereka melanjutkan perjalanan.
“Kita
kemana lagi Dam?” tanya Safina.
“Lo
lebih suka museum atau laut?” Adam malah balik tanya.
“Em..”
Safina tampak berfikir. Lalu ia menjentikkan jarinya.
“Kayaknya
laut lebih asik, lebih bebas!” seru Safina.
“Ahaha…”
Adam tertawa di buat-buat. “Yah, itu pilihan bagus, karena ge-ra-tis!” katanya
dengan tekanan. Safina menaikkan satu alisnya.
“Karena
kalau di museum bayar Fin, hehe irit!” sahut Adam, Safina mengiyakan.
Merekapun
sampai di pelabuhan Auckland. Tepatnya, Waitemata Harbour. Merupakan salah satu
pelabuhan di Aucklad.
Mereka
cukup menikmati pemandangan di pelabuhan, laut yang berwarna biru, angin
sepoy-sepoy. Aktivitas kapal, perdagangan dan lain-lain. setelah
foto-foto(kegiatan wajib.red) mereka memilih untuk bersantai sebentar di kedai
untuk makan dan menikati suasana.
TO BE CONTINUE
Spoiller : Adam dan Safina masih
di NZ, karena waktu di kota masih ada. Adam kasih kejutan ke tempat keren di
Auckland. Safina menikmati perjalanan. Setelah 2 hari, mereka menuju ke
Matamata dan Taupo dengan sisa hari yang mereka miliki merka terlihat senang.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar