Senin, 03 Juli 2017

MASA MUDA (EP. 7)

MASA MUDA (EP. 7)
           
Sudah hampir satu minggu, Safina sama sekali tidak ada kabar. Di samperin ke rumah namun kosong. Tetangga pun juga tak ada yang tahu. Mereka bilang, keluarga itu sudah tidak terlihat sejak seminggu yang lalu.
Reza, Ralin dan Oskar melangkahkan kaki hampa setelah mendengar berita itu. Mereka tidak tahu di mana keberadaan Safina—beda hal nya dengan Ralin, ia terlihat biasa saja—padahal jauh dilubuk hatinya ia sedikit mengkhawatirkan sahabat—yang kini ia nobatkan sebagai musuh terbesarnya itu.
“Kenapa lo Lin? Nglamun aja?” cetus Oskar tiba-tiba. Ralin tersentak kaget dan hanya menyengir.
“Eh, gue bingung aja. Dimana si Fina itu,” sahutnya bohong.
“Ya sudah kita coba cari tahu di tempat lain. eh, by the way kalian tahu nggak tempat kerja part time si Safina?” tanya Reza, keduanya hanya menggeleng. Reza prihatin, bagaimana mungkin sahabatnya tak ada satu pun yang tahu—kehidupan pribadi Safina, Safina jarang sekali menceritakan kehidupannya, selama ini ia hanya menjadi pendengar yang baik dan setia.
“Duh, mana besok tanding buggie jumpingnya. Gue kan belum bisa-bisa banget. Yuk Za, kita latihan terakhir kali…” rengek Ralin, namun hanya di balas dengan tatapan tajamnya.
“Tunggu! Elo? Ikut buggie jumping?” Oskar mengernyit. Di balas anggukan oleh Ralin.
“Yuk Za. Eh elo kalau mau ikut ayok bareng!” ajak Ralin pada Oskar.
“Lo nggak tahu situasi banget ya?” sahut Reza ketus, namun tidak merubah wajah khawatirnya. Ralin hanya cemberut.
“Yah, tapi kan Za—“ belum sempat mengatakan, Ralin sudah di potong Reza.
“Lo kalau mau latihan, sana sama Oskar deh!” sejenak menatap Ralin jengah dan memandang Oskar yang hanya mengeryit. “Ah, atau lo berangkat sendiri aja. Kita disini bingung nyari sahabat malah lo egois. Lo lupa? Siapa yang udah banyak berkorban buat lo, hah?” Reza mencelos, kalimat itu mengalir begitu saja karena ia merasa jengah dengan Ralin yang dari dulu memiliki sikap egois Ini, ia ingat betul, siapa yang sanggup menangani sikap egois gadis itu—hanya Safina—ia rela mengalah, rela jatuh, dan mungkin siap sakit hati mungkin.
“Za! Lo mau kemana?” kini Reza pergi meninggalkan Ralin, yang di susul oleh Oskar yang mengedikkah bahunya, mengamini pernyataan Reza tentang sikap Ralin.
***
            Sudah satu minggu pula ayah Safina di rawat, prediksi yang mengatakan dua hari lalu bisa keluar, nyatanya harus terpending karena kondisi tak memungkinkan—sudah seminggu pula keluarga kecil ini setia menemani—bahkan Safian bolos kuliah, demi kerja part time serabutan, demi membiayai perawatan ayahnya yang terbilang cukup mahal. Ibunya tak sampai hati melihat anaknya yang berkorban itu, padahal masih menjadi tanggung jawab mereka. Namun Safina selalu bersikeras untuk tidak khawatir pada diri nya. Semua akan baik-baik saja—pikirnya.
            Saat itu Safina tengah berjalan di koridor sendirian, ia baru pulang bekerja. Karena merasa lelah, ia memilih duduk sebentar di bangku pajang di koridor. Tiba-tiba dokter Yohan yang melewatinya menyapanya, sudah seminggu ini keluarga Safina menjadi akrab dengan dokter yang sangat ramah ini.
            “Eh Safina, bengong aja?” sapanya saat melihat Safina duduk dan termenung, Safina yang terkejut hanya meringis.
            “Eh dok, hehe. Nggak pa-pa kok. Mau ke mana?” tanya Safina basa basi.
            “Ah ini, saya menunggu anak saya. Katanya mau ke sini, ada sesuatu yang mau saya kasih tahu. Tapi karena nggak bisa di rumah, jadi saya suruh ke sini,” cerita dokter Yohan.
            “Oh, anak doker ada berapa? Wah, pasti calon dokter juga ya? Buktinya sampa dokter nyuruh ke rumah sakit.” Tebak Fina. Dokter Yohan hanya menghembuskan nafas berat.
            “Saya punya dua anak. Cowok dan cewek. Yah, pinginnya sih begitu, hehe. Tapi, kalau anak saya memilih untuk masa depannya—yang menurutnya baik, saya bisa apa?” dokter Yohan hanya menerawang jauh. Safina jadi tidak enak hati.
            “Eh, maaf dok. Emang sekarang dia suka sama hal apa?” tanya Fina penasaran.
            “Anak saya suka banget sama seni. Yah, dia lebih memilih untuk menjadi seniman, daripada seorang dokter. Mungkin dia trauma,” kalimat dokter Yohan menggantung, seperti memikirkan sesuatu yang tak ingin ia ingat.
            “Ah, itu tidak buruk kok dok. Lagian seniman juga bagus. Hmm.. kalau dokter keberatan untuk cerita sama saya, saya tidak akan tanya-tanya lagi kok dok, maafkan saya yang lancang ini. Hehe, dokter sepertinya memiliki kenangan yang tak ingin di ceritakan,” komentar Safina pada akhirnya, ia bahkan merasa tercekat melihat perubahan air muka dokter yang selalu tersenyum ramah—kini menjadi pias.
            “Ah tidak kok! Kamu benar Safina, biarlah cita-cita seorang anak sesuai keinginannya. Karena kalau di paksa, saya tak tahu apa yang akan terjadi. Walaupun saya ingin anak-anak saya menjadi seorang dokter, tapi saya sudah mengesampingkan itu semua, anak-anak saya berhak bahagia—apalagi sejak istri saya… meninggal belasan tahun lalu, saya harus merawat kedua anak saya seorang diri—tentunya akan terasa beda dengan orangtua yang lengkap, seperti kamu Fin.” Kini dokter Yohan mengusap bahu Safina lembut, ia tersenyum getir. Mengingat bagaimana kerasnya hidup setelah istrinya itu tiada.
            “Dokter, maaf banget Safina malah buat dokter sedih gegara pertanyaan-pertanyaan saya.” Safian terkejut sekali, ketika dokter mengakui bahwa keluarga mereka di tinggal oleh orang—yang mungkin sangat sangat mereka cintai, Safina memahami itu. Kini keduanya hanya saling berdian dan termenung, setelah kemudian dokter pamit ke ruangannya, dan tak usah memikirkan obrolan mereka barusan, karena menurut dokter hal tersebut sudah berlalu.
***
            Di depan sebuah rumah sakit—yang cukup besar. Seorang pria jangkung turun dari mobil—yang biasa ia kendarai untuk balapan. Dilepaskannya kacamata hitam miliknya dengan kasar, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Sudah lama sekali sejak terakhir ia masuk rumah sakit, yah ia benci rumah sakit, menurutnya rumah sakit adalah salah satu tempat mengerikan dimana orang yang ia sayangi bisa saja menderita bahkan harus pergi selamanaya—ia benci itu. Hal itu juga yang mengurungkan niat cita-cita kecilnya untuk menjadi seorang dokter, karena dokter bukan Tuhan, yang mampu menyembuhkan orang yang di sayangi, walau terkadang berhasil, tapi yang dialami justru sebaliknya, semua orang yang ia sayangi tak pernah kembali, mereka akan pergi selamanya, dan itu membuatnya sangat benci. Bahkan ketika sakit, ia lebih memilih untuk di rumah saja.
            Ia mendengus kesal, menghembuskan napas panjang. Tak habis pikir, kali ini ayahnya menyuruh—bukan tapi memaksanya untuk datang ke rumah sakit. Padahal sebelumnya ayahnya tak pernah memaksanya.
            Ia lalu mulai melangkahkan kakinya dengan berat, membawa sebuah tas berisi makanan kesukaan ayahnya. Ia pergi menuju lift, ia masih ingat betul, ayahnya berada di lantai 2.
            Ia menelusuri koridor untuk sampai ruangan ayahnya, karena ruangannya berada di pojok. Sepanjang ia mencium bau alcohol, obat-obatan, cairan pel lantai menjadi satu membuatnya semakin muak. Bagaimana bisa ayahnya betah di tempat seperti ini. Sampai akhirnya ia menemukan seorang gadis yang ia sangat kenali, siluetnya sangat jelas kentara. Ia yakin, pasti ia adalah gadis yang ia kenal. Lamat-lama ia mendekati gadis yang tengah melamun sendirian itu.
            “Elo?” sahutnya ketika gadis itu tak menyadari kedatangannya. Gadis itu hanya terbelalak kaget.

TO BE CONTINUE

Hem, kira-kira dengan siapa Ralin akan pergi buggie jumping, sedangkan Reza malah marah dengannya? Terus siapa sih anak si dokter Yohan itu, seperti tidak asing kan? Dan ada masa lalu apa si dokter Yohan itu yang membuatnya akan berubah murung ketika mengingatnnya, dan siapakah mereka yang bertemu di koridor rumah sakit? Liahat kelanjutannya di episode selanjutnya gaess…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar