Kamis, 06 Juli 2017

Masa Muda EP. 9




MASA MUDA (EPS. 9)

Flashback On
            “Elo?” Adam memekik ketika Safina telah menyadari kehadirannya. Kini Safina terkejut.
            “Loh, Adam…” Safina tersenyum simpul.
            “Lo ngapain disini Fin?” tanya Adam heran.
            “Oh, ayah aku di rawat disini,” jawabnya.
            “Oh, gitu ya?” Adam manggut-manggut mengerti.
            “Lo sendiri ngapain? Apa ada yang sakit juga?” tanya Fina sambil melirik kantong kresek bawaan Adam.
            “Oh enggak. Gue ke sini mau ke bokap gue,” Safina mengernyit.
            “Dokter Yohan, mungkin lo tau…” Adam menjentikan jarinya menyebutkan nama ayahnya.
            “Ah, ya… ya… jadi lo anaknya dokter? Hm..” Safina manggut-manggut paham. Adam hanya tersenyum.
            “By the way, gue ke bokap dulu ya? Mungkin dia udah nungguin gue. See you!” Adam beranjak menuju ruang ayahnya. Safina mendudukan dirinya kembali merasa heran, rupanya dunia itu sempit banget. Sampai tiba-tiba seseorang datang—mengagetkannya—Reza.
Flashback Off
***
            Pagi-pagi sekali Reza mendapat chat dari Ralin.
Ralinsyah M. : Za, lo jadi kan temenin gue ke Bogor? Hari ini bungee jumping! Gue tunggu lo di rumah ya?
            Sejenak Reza memikirkannya. Ia sudah janji sih mau bantuin Ralin, meskipun dirinya sedang kesal dengan Ralin. Yah tapi bagaimanapun dia juga sahabatnya, dan Reza nggak boleh pilih kasih, walau hatinya untuk Safina.
            Reza M. Putra : Ya, tunggu deh. sejam lagi gw otw!
            Balasnya singkat, ia segera bergegas siap-siap.
***
            Setelah izin orangtua yang masih di rumah sakit, Safina dan Adam pun pergi. Orangtua Safina pun tahu kalau Adam teman Safina dan juga anak dokter Yohan, makanya mereka mengizinkan. Lagi pula, nanti sore ayahnya juga sudah di bolehkan pulang.
            Dengan semangat Safina mengikuti Adam. Kali ini Adam membawa motor trail kesayangannya.
            “Are you ready? Lets ride!” pekik Adam, lalu menstarter dan menggas motornya.
            “Yey! Ready!” pekik Safina kemudian.
I just stay in the sun where I find
I know its hard sometimes
Pieces of peace in the sun peace of mind
I know its hard sometimes
Yeah, I think about the end just way too much
But its fun to fantasize
Oh my enemy  who wouldn’t wish who I wish
But its fun to fantasize.
Oh, oh… I’m falling, so I’m taking my time on my ride
Oh, oh… I’m falling so I’m taking my time on my ride
Taking my time on my ride…
(Twentyone Pilots-Ride)
            Sejam kemudian mereka telah melewati perbukitan, kini mereka melewati perkebunan teh. Jalan yang sudah tak asing bagi Safina kala ia hendak ingin berkemah. Tapi dia tidak tahu kemana Adam akan membawanya. Alih-alih bertanya, Safina hanya menikmati pemandangan. Kini jalanan semakin naik turun. Adam malah mengencangkan laju trailnya. Mau tidak mau Safina harus mengeratkan pegangannya pada perut Adam. Di balik helm nya, Adam tersenyum. Mungkin kalau di komik bibirnya sudah tersenyum lebar sampai kuping.
***
I’vee been reading books of old, the legends and the myths
Achilles and his gold, Hercules and his gift
Spiderman’s control, and Batman with his fists
And cleary I don’t see my self upon that list.
She said, where’d you wanna go? How much you wanna risk?
I’m not looking for somebody with some superhero gifts
Some superhero, some fairytale bliss
Just something I can turn to somebody I can kiss
I want something just like this
Duu-duu-du-du-du oh I want something just like this
(The Chainsmokers & Coldplay-Something Just Like This)
            Kota hujan Bogor, kini di banjiri oleh para pecinta alam, atau pecinta petualangan dan tantangan. Banyak yang hadir dari mereka hanya untuk menonton atau menikmati liburan di akhir pekan, beberapa juga merupakan peserta lomba. Lomba bungee jumping dilaksanakan di Taman Hiburan Bogor, letaknya di perbukitan memungkinkan ada spot bungee jumping. Kebetulan Taman Hiburan itu memiliki satu wahana bungee jumping lumayan tinggi. Sekitar 50 meter. Panitia tidak membatasi peserta, bahkan yang on the spot juga bisa daftar. Pemenang utama ada 3 dan 1 sebagai harapan. Hadiah utamanya adalah dua tiket paket wisata ke New Zeland dan uang tunai sebesar Rp. 10.000.000,-. Nggak besar memang, karena paket liburan ke luar negeri saja sudah lumayan besar. Juara ke dua adalah paket wisata ke Bali, dan uang Rp. 5.000.000,-. Juara ke tiga paket wisata ke Tengger, Jawa Timur, dan uang Rp. 2.500.000,-. Sedangkan juara harapan paket liburan ke Bandung, dengan uang Rp. 1.000.000,-. Masing-masing peserta membayar kontribusi Rp. 100.000,- include sertifikat dan mamiri(makan minum ringan) serta dokumentasi saat bungee.
            Reza dan Ralin turun dari mobil. Kali ini Reza menuruti kemauan sahabat nya yang egois ini. Ia pikir, sudah lama ia tak berbaikan dengan Ralin gegara Ralin nyari rebut melulu.
            “Wah Za, kok gue deg degan gini ya?” seru Ralin saat menuju spot bungee.
            “Udah santai aja lo. Btw lo udah daftar kan?” tanya Reza.
            “Yah, udah kok. Sumpah gue takut. Gimana kalo gue ga berani loncat,” Ralin memainkan buku-buku jarinya cemas.
            “Kan lo sendiri yang nekat ikutan? Jadi lo harus bisa, kita juga udah latihan waktu itu, dan lo berani lompat,” kata Reza.
            “Iya sih. Tapi liat para pesertanya… bikin gue minder,” Ralin menundukkan kepala.
            “Lah, gimana sih? Ya lo tetep harus berani. Emang lo kenapa sih kok ngotot banget pengen ikutan lomba ini? Kalo karena hadiahnya… gue nggak yakin, lo pasti mampu ke luar negeri karena lo tajir,”
            “Em… ya emang… sih,” kali ini Reza mengernyit heran, Ralin seperti memikirkan sesuatu, lalu ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Ya udah sih, pokok gue harus ikut. Gue mau ngilangin trauma aja. Hehe. Ayok kesana!” Ralin menggandeng lengan Reza menariknya menuju lokasi, Reza masih tidak paham dengan alasan Ralin. Dalam hati Ralin mengatakan, ia melakukan ini agar bisa dekat dengan Reza yang maniak Safina itu dan membuktikan bahwa dirinya juga sehebat Safina.
            Kali ini semua peserta berkumpul di satu tempat. Dan penonton berada di tempat lain. masih ada juga beberapa peserta yang daftar. Masih ada waktu lima menit lagi sebelum pendaftaran ditutup, dan lomba di mulai.
*** 

            Disisi lain, Adam dan Safina telah sampai di parkiran suatu Taman Hiburan. Safina hanya melongo dan heran.
            “Woy! Bengong aja! Ayok cepat, sebelum terlambat.” Adam menarik tangan Safina dan mengajaknya berlari.
            “Eh, Dam. Mau kemana?” tanyanya sambil terus berlari.
            “Hah.. hah.. hah..” mereka ngos ngosan karena berlari. Mereka sampai di suatu tempat yang telah ramai orang. Adam melepas Safina dan berlari kecil menuju panitia.
            “Kang, masih bisa?” si panitia mengangguk. Adam lalu kembali menarik Safina ke panitia.
            “Lo mau kan? Ikutan lomba bungee jumping?” tanya Adam, sontak membuat Safina terbelalak kaget. Safina masih cengo.
            “Kang, daftar satu ya?” tanpa menunggu lama persetujuan Safina, Adam mengambil formulir dan mengisinya, lalu menyerahkan ke panitia lagi.
            “Demi apa, lo bikin gue megap-megap gini sekarang mau bikin jantungan, huh?” Safina mulain stabil emosi.
            “Hehe, sori. Kejutan! Lo kan suka bungee jumping. Dan kebetulan gue tau ada event ini, dan gue yakin lo bisa.” Adam hanya terkekeh.
            “Huh dasar mas tiang listrik, bisa aja nyetrumin hati orang, eh jantung orang.” Cerocos Safina.
            “Cie, mau dong nyetrumin hati adek, biar ser.. ser.. ihir..” kekeh Adam.
            “Eh tapi, boleh juga nih! Lumayan buat penghilang stress. Pinter juga lo bikin gue seneng,” Safina menyenggol Adam.
            “Dih, senggol senggol lagi,” kali ini Adam balas senggol Safina.
            Panita pun mulai mengumumkan, bahwa pendaftaran on the spot di tutup, dan lomba akan segera di mulai.
            Adam memberikan semangat pada Safina, lalu minggir ke barisan penonton. Safina tak sabar melakukannya.
            Sampai ia duduk sendiri diantara para peserta, ia mengenali sosok yang kini memandangnya sinis. Rupanya ada yang sedang memperhatikannya dari tadi—Ralin.
            “Ralin?” pekik Safina. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar, namun pola mulutnya mengatakan nama seseorang itu. Ralin menyilangkan lengannya dan menghampiri gadis itu, ia menyeringai.
            “Oh, lo kesini juga? Bagus!” ketusnya dengan tajam.
            “G-gue, nggak tahu lo disini… b-bukannya l-lo.. takut tinggi ya?” tanyanya takut takut.
            “Takut? Basi tau nggak! Yah, bagus deh lo disini—sama cowok lain lagi, gue buktiin ke elo, kalo gue juga bisa lebih dari lo. Dan gak usah ganggu Reza!” Ralin memandang Safina Remeh. Safina hanya tertunduk, ia tak ingin rebut. Ia disini karena ingin menghilangkan stressnya, sebisa mungkin ia sabar menghadapi sahabatnya itu.

TO BE CONTINUE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar