MASA MUDA (EPISODE
8)
Setelah bersusah payah untuk
menemukan Safina, akhirnya Reza menemukan kabar tentangnya. Ia mengetahuinya
setelah kembali ke rumahnya. Kata tetangga, kemarin Safina pulang sebentar
membawa sebuah tas. Rupanya ia dan ibunya selalu di rumah sakit karena ayahnya
kecelakaan, dan sudah seminggu belum pulang. Satu fakta lagi yang Reza nggak
ketahui sama sekali, ia tak habis fikir mengapa Safina makin tertutup pada
sahabatnya itu, terutama Reza. Apa salahnya menceritakan sedikit masalahnya
itu, apalagi mereka mengenal sudah hampir 7 tahun, itu bukan waktu yang
sebentar. Setelah mendapat kabar itu akhirnya ia meluncurkan motornya ke rumah
sakit tempat Safina berada.
Reza tidak tahu tempat pasti
Safina berada, untuk itu ia menanyakan pada resepsionis. Untungnya Reza tahu
nama ayah Safina. Setelah seorang resepsionis mengatakan sebuah ruangan bernama
bunga itu menujukkan arah pada Reza, Reza pun mengangguk paham lalu berterima
kasih dan pergi.
Dilihatnya dari kejauhan, ia
melihat sosok yang sangat ia rindukan, bibirnya menyematkan senyum kelegaan.
“Elo?” Safina tersentak melihat
kehadiran Reza, bagaimana bisa sahabatnya itu muncul dihadapannya setelah ia
dengan sengaja tidak memberikan kabar karena takun membuatnya khawatir.
“Ya ampun Fin. Sumpah lo tega
banget sama gue. Lo tega bikin gue gila… gila mikirin lo, lo ngilang gitu aja
setelah gue telpon seminggu yang lalu. Gue pikir lo tuh ilang!” cerocos Reza
menemukan Safina baik baik saja sekarang.
“Ahaha, Za.. Za.. gue pikir
kenapa. Sori ya?” sahutnya dengan nada sedikit rasa seperti kecewa.
“Iya lah, gimana bisa orang yang
paling cerewet, orang yang perhatian, dan orang yang gue sayang tiba-tiba
hilang—“ mendengar penuturan itu, hati Safina terasa panas—ada sengatan yang
amat dahsyat. Ia tidak tahu rasa itu, lidahnya kelu untuk berkomentar. Namun
segera ia tepis, dengan tersenyum miring.
“Ah iya. Kita kan udah sahabatan
7 tahun lagi. Pasti kita saling menyayangi—“ Safina mengedarkan pandangannya ke
arah lain, ia tak ingin menatap mata Reza karena takut, takut Reza melihat
kekecewaannya. Namun tiba-tiba,
GREP!
Reza memeluk Safina tiba-tiba,
Safina heran, ia meyandar pada dada bidang milik sahabatnya, perasaannya tak
menentu. Namun Safina berpositif thinking. Reza mengelus punggungnya
lembut. Sejenak terasa pucuk kepalanya
di kecup oleh sahabatnya. Reza lalu melepas pelukan itu, dan memandang manic
mata hitam milik Safina.
“Lo salah Fin. Gue emang sangat
khawatir sama lo, kelewat khawatir malah sampai buat gue gila tau nggak? Dan
tentu gue sayang—sejak dulu kita awal sahabatan… tapi..” Reza menggantung
kalimatnya, melihat manic mata Safina lagi, meyakinkan diri. Yah, Reza telah
memendam perasaan itu—entah sejak kapan ia memilik rasa pada Safina, yang jelas
ia belum pernah mengungkapkannya. Ia hanya pernah bercerita pada Ralin. Safina
mengernyit menunggu kata-kata Reza.
“Tapi?” tanya Safina tak sabar.
“Ih nggak sabar banget deh lo?
Santai dong!” cetus Reza sambil terkekeh, membuatnya sedikit rileks sekarang.
Kemudian ia memegang kedua bahu Safina, ia terlihat serius sekarang dan
memandang Safina lekat-lekat.
“Tapi… entah mengapa rasa sayang
seorang sahabat itu berubah.. berubah seiring dengan waktu… gue sayang sama lo
Fin. Sayang banget malah… tapi bukan sebagai sahabat,” Reza melihat
keterkejutan pada diri Safina. Terbukti karena Safina terbelalak dengan matanya
yang membulat lebar. Reza meyakinkan perasaan pada Safina lagi.
“Gue nggak tahu sejak kapan,
yang jelas rasa ini lebih dari sahabat.” Tegasnya lagi.
“K-kenapa Za?” Safina dengan
nada masih terkejut. Ia pun menjatuhkan bokongnya pada bangku yang tadi ia
duduki. Entah mengapa sendi-sendi kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya.
Jantungnya memacu lebih cepat dari biasanya, darahnya mengalir terasa sangat
panas, namun tiba-tiba dingin. Ubun-ubunnya serasa di siram air es. Ia masih mencerna
pengakuan Reza. Entah ia harus merasa senang atau sedih. Safina bingung.
“Lo… nggak pa-pa kan Fin? Gue
Cuma mau ngungkapin aja sebelum semua terlambat. Gue nggak mau menyesal,” sahut
Reza yang kini juga duduk di sampingnya.
“O-oke makasih Za…” Safina
memejamkan matanya, ia menghembuskan nafas panjang. Ia masih bingung. Peryataan
Reza adalah sesuatu yang ia ingin tahu namun sangat tak ingin ia dengar saat
ini, sejenak kata-kata Ralin bermunculan dengan segala ancaman-ancamannya. Reza
masih menunggu, ia lantas memegang telapak tangan Safina dan menggenggamnya—ia
menciumnya, Safina terkejut.
“Hm… gue gak minta lo buat jadi
pacar gue atau gimana. Gue Cuma mau ungkapin rasa ini, dan gue harap lo juga
sama seperti gue. Walau gue nggak tahu apa perasaan lo ke gue—gue Cuma minta lo
jawab, apa perasaan lo ke gue Safina!” kini Reza memandang manic mata itu,
dengan masih menggenggam tangan Safina. Disisi lain Safina tiba-tiba merasa
terlalu banyak emosi yang ia dapatkan hari ini, ia bahkan tak sanggup berkata-kata.
Hatinya tak menentu, sesak, senang, terkejut, kecewa, entah bahkan ia tak mampu
menafsirkannya. Ia tersentak saat Reza meminta jawaban atas perasaannya—ia
belum tahu, perasaan apa dalam dirinya itu.
“Za… boleh gue minta sesuatu ke
elo?” sahut Safina lemah, suaranya tertahan di udara. Reza hanya mendengar
samar-samar. Ia tahu Safina seperti menahan untuk tak menangis, mungkin. Reza
hanya mengangguk dengan semangat.
“Gue mau… minta waktu sama lo.
Gue belum bisa jawab sekarang, gue…” kali ini Reza menutup mulup Safina dengan
telunjuknya.
“Sstt.. lo nggak usah merasa
terbebani sama gue. Gue bakal nunggu kapanpun. Kapanpun Fin.” Setelah itu
Safina menunduk, ia benar-benar terkejut, kepalanya tiba-tiba terasa sangat
pening.
Sudah lama sejak pengakuan Reza,
mereka hanya terduduk diam dengan pikirannya masing-masing, setelah kemudian
Reza lupa belum menjenguk anyahnya. Kemudian Safina mengantar pada ruang
ayahnya yang tak jauh dari sana. Beberapa saat kemudian Reza ijin pulang,
dengan perasaan leganya. Yah, ia merasa lega telah mengungkapka isi hatinya,
walau ia belum tahu apa perasaan Safina terhadapnya.
***
Setelah kepergian Reza, Safina
kembali menuju ruangan ayahnya dengan perasaan campur aduk. Ia masih
bingung—apakah perasaannya selama ini sama Reza, Reza sangat baik dan
membuatnya nyaman berada di dekatnya—tentu ia juga sayang sama Reza, hal itu
juga ia rasakan dengan Ralin maupun Oskar. Tapi rasa lain yang nggak pernah ia
sadari adalah Safina merasa takut, takut akan kehilangan Reza-nya. Reza yang
selalu mengulurkan tangannya saat jatuh, Reza yang mengalah untuknya, Reza yang
selalu jadi pahlawan saat ia terpuruk, Reza yang hanya akan mendengar omelannya
saat dirinya emosi, semuanya. Reza memang yang terbaik. Tapi apa iya itu cinta?
Tapi bagaimana dengan Ralin. Ia lupa, lupa kalau Ralin menyukai Reza sejak
dulu, dan Safina benar-benar harus jauhin Reza. Safina mengurungkan niatnya
untuk kembali ke ruang ayahnya. Ia memilih untuk ke taman rumah sakit. Disana
ada gazebo-gazebo untuk pasien maupun penjenguk, mungkin agar mereka tak merasa
bosan berada di tempat pesakitan ini.
Safina duduk dan memandang
bunga-bunga di depannya. Pikirannya nyalang. Sambil sesekali ia memeluk
tubuhnya merasa dingin. Udara malam saat itu sedang terasa sangat dingin dan
menusuk, apalagi angin yang berembus sangat kencang. Sesekali ia mengelus-elus
lengannya.
Tiba-tiba seseorang menyentuhkan
sesuatu yang hangat pada pipinya. Safina terkejut. Membalikkan wajahnya melihat
siapa gerangan yang membuatnya sedikit kaget—dan ngeri karena malam-malam di
luar, meskipun cukup ramai orang berlalu lalang di koridor yang menghubungkan
ruangan satu dan yang lain di tengah taman ini.
“Woy, ngelamun aja lo?” tanya
seseorang itu.
“Ah elo nih. Sumpah gue kaget!
Gue kira lo dedemit tau nggak!” pekik Safina yang sebal dan juga lega, karena
yang mengganggunya itu bukan dedemit seperti yang ia pikirkan.
“Sialan lo! Emang gue demit!” Ia
menjitak kepala Safina pelan dan mendengus kesal.
“Hehe sori..” Safina hanya
terkekeh.
“Oh iya, nih kopi buat lo. Gue
liat lo sendirian aja disini, pasti lo butuh anget-anget kan? Jadi gue beliin
kopi. Apa lagi malam ini anginnya kenceng banget,” Orang itu menyodorkan kopi
pada Safina, ia menerima kopi itu dan membalasnya dengan senyuman. Seorang itu menyesap kopi yang ia beli juga.
“Thanks ya? Iya nih, kenapa malam
ini dingin.. brrr..” kata Safina yang memandang orang itu. Orang itu lalu
memalingkan wajah dan balas memandangnya, Safian menjadi salah tingkah.
“Lo masih dingin?” tanyanya lalu
meletakkan kopinya. “Lo bisa peluk gue,” orang itu memandang Safina menggoda,
lalu mengedipkan matanya bak om om genit. Sontak Safina menjitak kepalanya dan
terkekeh geli.
“Lo gila ya. Ihh, stress lo!
Sumpah kayak om om genit lo! Hahaha” kali ini orang itu tersenyum melihat
Safina kembali tertawa. Orang itu lalu
membuka sweaternya. Setelah itu, ia memakaikannya pada Safina. Safina hanya
melongo, ia menuruti orang itu yang kini memakaikannya sweater seperti balita.
“Lo pakai ya. Biar gak dingin.”
Kini orang itu hanya menyisakan kaos oblong putih yang terasa pas di badannya.
Dan Safina telah mengenakan sweater orang itu yang terasa kedodoran di
pakainya, namun lumayan membuatnya hangat.
“Sekali lagi, thanks ya? Mas
tiang listrik.” Awalnya ia tersenyum, namun mendapat pelototan setelah
meyebutkan namanya dengan sebutan yang tak ia suka. Safian hanya berisyarat
minta ampin, dengan menangkupkan kedua telapak tangannya meminta maaf, sambil
tertawa ringan. Mereka pun saling tertawa. Yah, orang itu adalah Adam—yang kini
sekarang bercanda dengan Safina.
“Oh ya. Besok ikut gue yuk. Biar
lo enggak murung gitu. Gue jamin lo suka deh,” tawar Adam saat itu. Safina
hanya mengangguk, ia butuh hiburan.
TO BE CONTINUE.
Kyaa!! Si Reza
nembak Safina? Kira-kira Fina bakal jawab apa ya? Setuju nggak kalo mereka
jadian? Eh, tapi ngapain ya Adam ada di rumah sakit dimana Safina berada? Dan
mau di ajak kemana sih si Safina sama Adam? Kayaknya Safina sama Adam makin
dekat aja nih. Wah, kita lihat saja di epsisode berikutnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar