Kamis, 06 Juli 2017

Masa Muda (Ep. 8)

MASA MUDA (EPISODE 8)


                Setelah bersusah payah untuk menemukan Safina, akhirnya Reza menemukan kabar tentangnya. Ia mengetahuinya setelah kembali ke rumahnya. Kata tetangga, kemarin Safina pulang sebentar membawa sebuah tas. Rupanya ia dan ibunya selalu di rumah sakit karena ayahnya kecelakaan, dan sudah seminggu belum pulang. Satu fakta lagi yang Reza nggak ketahui sama sekali, ia tak habis fikir mengapa Safina makin tertutup pada sahabatnya itu, terutama Reza. Apa salahnya menceritakan sedikit masalahnya itu, apalagi mereka mengenal sudah hampir 7 tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Setelah mendapat kabar itu akhirnya ia meluncurkan motornya ke rumah sakit tempat Safina berada.
                Reza tidak tahu tempat pasti Safina berada, untuk itu ia menanyakan pada resepsionis. Untungnya Reza tahu nama ayah Safina. Setelah seorang resepsionis mengatakan sebuah ruangan bernama bunga itu menujukkan arah pada Reza, Reza pun mengangguk paham lalu berterima kasih dan pergi.
                Dilihatnya dari kejauhan, ia melihat sosok yang sangat ia rindukan, bibirnya menyematkan senyum kelegaan.
                “Elo?” Safina tersentak melihat kehadiran Reza, bagaimana bisa sahabatnya itu muncul dihadapannya setelah ia dengan sengaja tidak memberikan kabar karena takun membuatnya khawatir.
                “Ya ampun Fin. Sumpah lo tega banget sama gue. Lo tega bikin gue gila… gila mikirin lo, lo ngilang gitu aja setelah gue telpon seminggu yang lalu. Gue pikir lo tuh ilang!” cerocos Reza menemukan Safina baik baik saja sekarang.
                “Ahaha, Za.. Za.. gue pikir kenapa. Sori ya?” sahutnya dengan nada sedikit rasa seperti kecewa.
                “Iya lah, gimana bisa orang yang paling cerewet, orang yang perhatian, dan orang yang gue sayang tiba-tiba hilang—“ mendengar penuturan itu, hati Safina terasa panas—ada sengatan yang amat dahsyat. Ia tidak tahu rasa itu, lidahnya kelu untuk berkomentar. Namun segera ia tepis, dengan tersenyum miring.
                “Ah iya. Kita kan udah sahabatan 7 tahun lagi. Pasti kita saling menyayangi—“ Safina mengedarkan pandangannya ke arah lain, ia tak ingin menatap mata Reza karena takut, takut Reza melihat kekecewaannya. Namun tiba-tiba,
GREP!
                Reza memeluk Safina tiba-tiba, Safina heran, ia meyandar pada dada bidang milik sahabatnya, perasaannya tak menentu. Namun Safina berpositif thinking. Reza mengelus punggungnya lembut.  Sejenak terasa pucuk kepalanya di kecup oleh sahabatnya. Reza lalu melepas pelukan itu, dan memandang manic mata hitam milik Safina.
                “Lo salah Fin. Gue emang sangat khawatir sama lo, kelewat khawatir malah sampai buat gue gila tau nggak? Dan tentu gue sayang—sejak dulu kita awal sahabatan… tapi..” Reza menggantung kalimatnya, melihat manic mata Safina lagi, meyakinkan diri. Yah, Reza telah memendam perasaan itu—entah sejak kapan ia memilik rasa pada Safina, yang jelas ia belum pernah mengungkapkannya. Ia hanya pernah bercerita pada Ralin. Safina mengernyit menunggu kata-kata Reza.
                “Tapi?” tanya Safina tak sabar.
                “Ih nggak sabar banget deh lo? Santai dong!” cetus Reza sambil terkekeh, membuatnya sedikit rileks sekarang. Kemudian ia memegang kedua bahu Safina, ia terlihat serius sekarang dan memandang Safina lekat-lekat.
                “Tapi… entah mengapa rasa sayang seorang sahabat itu berubah.. berubah seiring dengan waktu… gue sayang sama lo Fin. Sayang banget malah… tapi bukan sebagai sahabat,” Reza melihat keterkejutan pada diri Safina. Terbukti karena Safina terbelalak dengan matanya yang membulat lebar. Reza meyakinkan perasaan pada Safina lagi.
                “Gue nggak tahu sejak kapan, yang jelas rasa ini lebih dari sahabat.” Tegasnya lagi.
                “K-kenapa Za?” Safina dengan nada masih terkejut. Ia pun menjatuhkan bokongnya pada bangku yang tadi ia duduki. Entah mengapa sendi-sendi kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya. Jantungnya memacu lebih cepat dari biasanya, darahnya mengalir terasa sangat panas, namun tiba-tiba dingin. Ubun-ubunnya serasa di siram air es. Ia masih mencerna pengakuan Reza. Entah ia harus merasa senang atau sedih. Safina bingung.
                “Lo… nggak pa-pa kan Fin? Gue Cuma mau ngungkapin aja sebelum semua terlambat. Gue nggak mau menyesal,” sahut Reza yang kini juga duduk di sampingnya.
                “O-oke makasih Za…” Safina memejamkan matanya, ia menghembuskan nafas panjang. Ia masih bingung. Peryataan Reza adalah sesuatu yang ia ingin tahu namun sangat tak ingin ia dengar saat ini, sejenak kata-kata Ralin bermunculan dengan segala ancaman-ancamannya. Reza masih menunggu, ia lantas memegang telapak tangan Safina dan menggenggamnya—ia menciumnya, Safina terkejut.
                “Hm… gue gak minta lo buat jadi pacar gue atau gimana. Gue Cuma mau ungkapin rasa ini, dan gue harap lo juga sama seperti gue. Walau gue nggak tahu apa perasaan lo ke gue—gue Cuma minta lo jawab, apa perasaan lo ke gue Safina!” kini Reza memandang manic mata itu, dengan masih menggenggam tangan Safina. Disisi lain Safina tiba-tiba merasa terlalu banyak emosi yang ia dapatkan hari ini, ia bahkan tak sanggup berkata-kata. Hatinya tak menentu, sesak, senang, terkejut, kecewa, entah bahkan ia tak mampu menafsirkannya. Ia tersentak saat Reza meminta jawaban atas perasaannya—ia belum tahu, perasaan apa dalam dirinya itu.
                “Za… boleh gue minta sesuatu ke elo?” sahut Safina lemah, suaranya tertahan di udara. Reza hanya mendengar samar-samar. Ia tahu Safina seperti menahan untuk tak menangis, mungkin. Reza hanya mengangguk dengan semangat.
                “Gue mau… minta waktu sama lo. Gue belum bisa jawab sekarang, gue…” kali ini Reza menutup mulup Safina dengan telunjuknya.
                “Sstt.. lo nggak usah merasa terbebani sama gue. Gue bakal nunggu kapanpun. Kapanpun Fin.” Setelah itu Safina menunduk, ia benar-benar terkejut, kepalanya tiba-tiba terasa sangat pening.
                Sudah lama sejak pengakuan Reza, mereka hanya terduduk diam dengan pikirannya masing-masing, setelah kemudian Reza lupa belum menjenguk anyahnya. Kemudian Safina mengantar pada ruang ayahnya yang tak jauh dari sana. Beberapa saat kemudian Reza ijin pulang, dengan perasaan leganya. Yah, ia merasa lega telah mengungkapka isi hatinya, walau ia belum tahu apa perasaan Safina terhadapnya.
***
                Setelah kepergian Reza, Safina kembali menuju ruangan ayahnya dengan perasaan campur aduk. Ia masih bingung—apakah perasaannya selama ini sama Reza, Reza sangat baik dan membuatnya nyaman berada di dekatnya—tentu ia juga sayang sama Reza, hal itu juga ia rasakan dengan Ralin maupun Oskar. Tapi rasa lain yang nggak pernah ia sadari adalah Safina merasa takut, takut akan kehilangan Reza-nya. Reza yang selalu mengulurkan tangannya saat jatuh, Reza yang mengalah untuknya, Reza yang selalu jadi pahlawan saat ia terpuruk, Reza yang hanya akan mendengar omelannya saat dirinya emosi, semuanya. Reza memang yang terbaik. Tapi apa iya itu cinta? Tapi bagaimana dengan Ralin. Ia lupa, lupa kalau Ralin menyukai Reza sejak dulu, dan Safina benar-benar harus jauhin Reza. Safina mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruang ayahnya. Ia memilih untuk ke taman rumah sakit. Disana ada gazebo-gazebo untuk pasien maupun penjenguk, mungkin agar mereka tak merasa bosan berada di tempat pesakitan ini.
                Safina duduk dan memandang bunga-bunga di depannya. Pikirannya nyalang. Sambil sesekali ia memeluk tubuhnya merasa dingin. Udara malam saat itu sedang terasa sangat dingin dan menusuk, apalagi angin yang berembus sangat kencang. Sesekali ia mengelus-elus lengannya. 

                Tiba-tiba seseorang menyentuhkan sesuatu yang hangat pada pipinya. Safina terkejut. Membalikkan wajahnya melihat siapa gerangan yang membuatnya sedikit kaget—dan ngeri karena malam-malam di luar, meskipun cukup ramai orang berlalu lalang di koridor yang menghubungkan ruangan satu dan yang lain di tengah taman ini.
                “Woy, ngelamun aja lo?” tanya seseorang itu.
                “Ah elo nih. Sumpah gue kaget! Gue kira lo dedemit tau nggak!” pekik Safina yang sebal dan juga lega, karena yang mengganggunya itu bukan dedemit seperti yang ia pikirkan.
                “Sialan lo! Emang gue demit!” Ia menjitak kepala Safina pelan dan mendengus kesal.
                “Hehe sori..” Safina hanya terkekeh.
                “Oh iya, nih kopi buat lo. Gue liat lo sendirian aja disini, pasti lo butuh anget-anget kan? Jadi gue beliin kopi. Apa lagi malam ini anginnya kenceng banget,” Orang itu menyodorkan kopi pada Safina, ia menerima kopi itu dan membalasnya dengan senyuman. Seorang itu  menyesap kopi yang ia beli juga. 
                “Thanks ya? Iya nih, kenapa malam ini dingin.. brrr..” kata Safina yang memandang orang itu. Orang itu lalu memalingkan wajah dan balas memandangnya, Safian menjadi salah tingkah.
                “Lo masih dingin?” tanyanya lalu meletakkan kopinya. “Lo bisa peluk gue,” orang itu memandang Safina menggoda, lalu mengedipkan matanya bak om om genit. Sontak Safina menjitak kepalanya dan terkekeh geli.
                “Lo gila ya. Ihh, stress lo! Sumpah kayak om om genit lo! Hahaha” kali ini orang itu tersenyum melihat Safina kembali tertawa.  Orang itu lalu membuka sweaternya. Setelah itu, ia memakaikannya pada Safina. Safina hanya melongo, ia menuruti orang itu yang kini memakaikannya sweater seperti balita.
                “Lo pakai ya. Biar gak dingin.” Kini orang itu hanya menyisakan kaos oblong putih yang terasa pas di badannya. Dan Safina telah mengenakan sweater orang itu yang terasa kedodoran di pakainya, namun lumayan membuatnya hangat.
                “Sekali lagi, thanks ya? Mas tiang listrik.” Awalnya ia tersenyum, namun mendapat pelototan setelah meyebutkan namanya dengan sebutan yang tak ia suka. Safian hanya berisyarat minta ampin, dengan menangkupkan kedua telapak tangannya meminta maaf, sambil tertawa ringan. Mereka pun saling tertawa. Yah, orang itu adalah Adam—yang kini sekarang bercanda dengan Safina.
                “Oh ya. Besok ikut gue yuk. Biar lo enggak murung gitu. Gue jamin lo suka deh,” tawar Adam saat itu. Safina hanya mengangguk, ia butuh hiburan.
TO BE CONTINUE.

Kyaa!! Si Reza nembak Safina? Kira-kira Fina bakal jawab apa ya? Setuju nggak kalo mereka jadian? Eh, tapi ngapain ya Adam ada di rumah sakit dimana Safina berada? Dan mau di ajak kemana sih si Safina sama Adam? Kayaknya Safina sama Adam makin dekat aja nih. Wah, kita lihat saja di epsisode berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar