MASA MUDA 13 (NZ III)
Matamata, NZ.
“Thanks banget ya Dam.
Lo udah banyak bantu gue. Gue gak tahu harus balas apa,” Safina mengulum
senyum.
“Gue ikhlas. Lo gak
usah ngerasa hutang apa-apa sama gue,” jawab Adam acuh, mereka menuju kembali
ke motel. Besok adalah hari terakhir mereka di NZ.
“Hmm, oke mas tiang
listrik!” kini Safina bisa menyunggingkan senyum lebarnya. Adam pun menepuk
bahu Safina lembut.
Mereka telah tiba di
halaman motel, mereka berjalan-jalan sebentar di sekitar jalan itu. Sesekali
Safina memeluk tubuhnya dengan bersedekap. Adam yang melihat itu-pun teringat
sesuatu. Ia membuka tas ranselnya dan mengambil sebuah benda.
“Ini buat lo!” Adam
menyerahkan jaket yang ia beli di Auckland kemarin, Safina mengernyit.
“Udah, lo pake ya?”
Adam menautkan jaket itu ke bahu Safina. Safina diam, ia mendongak menantap
manic mata Adam dengan lekat, sesekali Adam terlihat gugup.
“Akh… A..da a-pa?”
Gugup Adam.
“Kenapa lo baik sama
gue?” tanya Safina final.
“Anu.. ak..u.. gue
pengen aja, khem..” Adam berdehem untuk menormalkan suaranya, ia sempat kaget,
mengapa menjadi gagap dan jantungnya memacu lebih dari biasanya, ia tak bisa
bernapas.
“Gue tahu elo tulus.. tapi..?”
Safina memandang sekali lagi mata itu, Adam pun balas mengunci pandangan itu,
kini malah Safina yang terlihat salah tingkah.
“Ah, ya.. makasih.
Apapun itu makasih banyak!” Safina memalingkan pandangan dan menautkan jaket
pemberian Adam lalu berjalan mendahului. Di belakang, Adam masih menautkan
kedua alisnya, lalu diam-diam ia menyeringai, ia menjentikkan jarinya dan
tersenyum lebar.
***
Jakarta.
“Oke Za! Gue udah gak
tahan liat lo uring-uringan gini. Apa lo bilang? Mau nyusul mereka ke NZ? Ini
sudah 4 hari, besok juga mereka balik Za.” Ralin mengomel saat mengetahui Reza
mencari tiket ke NZ. Reza masih tak menggubris keberadaan Ralin, ia hanya
melengos.
“Za!” Ralin mencekal
lengan Reza. Kini Reza menatap menuntut, apa lagi.
“Gue tahu elo cintanya
Cuma sama Safina, tapi apa lo gak coba buat lihat orang lain yang menginginkan
lo? Lo egois Za!” Ralin menundukkan pandangannya.
“Maksud lo apa?” Reza
mengangkat alisnya heran.
“Lo emang gak pernah
mandang gue ada ya Za? Lo tahu nggak? Gue.. gue.. suka, sayang, cinta sama lo
Za!” Reza melepas cekalan Ralin lemas, ia tak mampu berkata-kata.
“Gue suka lo bahkan
sebelum lo curhat tentang Safina. Selama ini gue diem Za, karena gue tahu. Elo
seneng gue juga akan seneng. Tapi apa? Lo malah kayak orang gila gini tahu
nggak? Gue capek, gue selama ini udah sabar, gue setia mendengar curhatan lo
soal Safina, semua gue iya-in kalo lo minta tolong, minta saran buat nembak
Safina, tapi sekarang… sekarang gue gak bisa… udah cukup semua ini.” Ralin
mencelos mengungkapkan isi hatinya selama ini, ia menghela nafas panjang.
“Jadi, lo…” Reza
terduduk lemas. Ia tak sanggup berkomentar, tak tahu harus bersikap apa. Ia
bingung.
“Kita semua bersahabat,
tapi sayang itu dulu. Sebelum perasaan aneh sialan ini muncul, dan yah itu
kenyataannya. Jadi semua terserah lo. Gue udah capek. Gue pergi!” Ralin
memutuskan untuk pergi dari tempat Reza, meninggalkan kebingungan di pikiran
hati Reza. Reza menatap langit-langit dengan gusar, ia memeras rambutnya kasar.
“Arrrgghh!” Reza
berteriak frustasi.
Keesokan harinya,
Safina dan Adam melanjutkan perjalanan terakhir mereka di Taupo. Subuh-subuh
mereka checkout dan menuju ke kota Taupo, sekitar 1,5 jam dari Matamata. Mereka langsung menuju ke lokasi wisata, ke
danau Taupo.
Setelah sarapan, mereka
jalan-jalan ke sekeliling danau. Danau itu terlihat luas dan segar. Udara juga
terasa semakin dingin, kini Safina memakai jaket pemberian Adam, ia senantiasa
memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya.
“Duileeh, seneng amat
make jaketnya,” ejek Adam.
“Ih apa sih, orang
seneng aja bisa jalan-jalan sama lo, eh jalan-jalan di New Zeland.” Safina
segera meralat kalimat yang keceplosan itu.
“Haha, tuh kan, lo aja
mengakui kalo lo lebih seneng jalan sama gue daripada si Reza,” Adam sedikit
jengah mengucapkan nama Reza. Kini Safina terdiam, ia teringat sesuatu.
Setelah nama Reza
disebut, Safina ingat, ia belum menjawab pernyataan Reza, ia ke NZ untuk
menjernihkan pikirannya, sikap apa yang harus ia lakukan. Sekarang lelaki di
depannya ini justru membuatnya gila. Yah, semakin dekat dengan Adam membuatnya
gila, gila karena setelah jalan dengannya ia akan mengingat-ngingat saat mau
tidur dan tersenyum bahkan tertawa sendiri.
“Fin. Lo nggak pa-pa?”
Adam yang menyadari air muka Fina yang berubah mendadak setelah mendengar nama
Reza pun menyadarkannya dengan mengguncang-guncangkan bahunya.
“Ah.. Eh, iya gak pa-pa
k-kok,” Fina mengalihkan pandangannya saat Adam memandangnya. Adam hanya ingin
memastikan dengan perubahan itu.
“Tunggu, masalah lo
selama ini… bukan Reza kan?” Adam bertanya penuh selidik.
“B-bukan lah, apaan
sih!” Safina memalingkan wajahnya dengan memandangi hamparan danau Taupo.
“Kita lanjut
jalan-jalan. Sayang sekali tak di nikmati, kan niatnya biar gak stress.” Adam
pun mengamini dan memilih diam menuruti kemauan Safina.
Setelah mereka puas
berjalan-jalan dan tak lupa foto-foto, mereka beristirahat di pinggiran.
“Lo capek gak Fina?”
tanya Adam.
“Enggak sih, kenapa?”
“Di deket sini ada air
terjun juga lo, mau lihat?” ajak Adam. Safina mengangguk semangat, ia segera
berdiri dan menarik Adam untuk segera mengajak ke tempat yang di maksud itu.
Kini mereka menyusuri
jalan setapak yang sudah mulus, dengan kanan kiri hutan yang hijau. Udaranya
begitu menyegarkan. Sesekali Safina merentangkan tangannya membiarkan udara
segar cenderung dingin di sana untuk memenuhi rongga paru-parunya. Adam
memasukkan kedua tangan pada coat hitamnya.
“Fin,” Adam berhenti.
Safina yang tidak menyadarinya terus berjalan, sampai ia merasa tak ada suara,
ia menoleh melihat Adam jauh berada di belakang, Safina pun berbalik dan
menarik tangannya.
“Aduh, ada apa sih sama
mas tiang listrik ini. Ayo kita cepet jalannya biar gak kesorean nanti!” Safina
senantiasa menarik lengan Adam, Adam hanya tersenyum.
Akhirnya setelah
beberapa menit mereka tiba di ujung jalan, ada sebuah gazebo besar tempat untuk
melihat air terjun yang menumpahkan air sangat amat deras ke danau Taupo,
tingginya tak seberapa tapi debit airnya sangat banyak dan deras, membuat yang
melihatnya bergidik.
“Uwa… keren banget.”
Seru Safina.
“Ayo kita foto-foto!”
Adam mengeluarkan HP di sakunya dan membuka kamera HPnya. Mereka kemudian
selfie. Kadang foto sendiri-sendiri.
Setelah puas menikmati
air terjun. Mereka pun beranjak.
“Oh ya Fin, ada satu
hal yang mau gue katakana ke elo.” Kata Adam tiba-tiba.
‘Ya udah katakana saja
sekarang,” tanggap Safina.
“Nanti, saat udah tiba
waktunya.” Adam berkata lemah. Safina yang menyadari itu menepuk bahu Adam
keras.
“Aha.. ha. Gak nyangka
udah hari terakhir!” kata Safina canggung.
“Sebelum cabut, masih
ada waktu sampai nanti malam. Kita take off jam 12 malam. Gue mau ajak lo ke
tempat terakhir di daerah sini.” Adam manarik Safina meninggalkan air terjun
Taupo yang bergemuruh.
Mereka disebuah tempat,
tak jauh dari lokasi danau. Mereka memasuki kawasan, dari depan sudah terlihat.
Tower apa yang ada di hadapan mereka.
“Bu..bungie? lo ?
ketempat bungie?” Safina berbinar-binar melihat hal kesukaannya itu.
“Yaps! Welcome to Taupo
Bungy. Dan disini hal yang bakal gue katakana, disini.”
“Oh ya? Oke!” mereka
menaiki katrol untuk menaiki bungie.
“Tunggu! Lo ikut ke atas?”
Adam mengagguk yakin, “Hah? Se-serius?”
Safina meragukan.
“Iya. Sumpah! Gue juga
bakal terjun!” sontak pernyataan itu membuat Safina terbelalak kaget.
“K-kalo nan-“ belum
sempat komentar sudah Adam potong.
“Kali ini gue ga boleh
pingsan. Kalau pingsan mending gue mati aja.” Katanya penuh keyakinan. Melihat
Adam yang sangat semangat itu, Safina hanya mencoba percaya padanya.
Setibanya di atas, Adam
melihat dua orang terjun bersamaan. Rupanya bungie jumping bisa dilakukan dengan
tandem. Ia pun punya ide cemerlang.
“Fin, lo tahu gue masih
agak-agak takut ketinggian?” Fina mengangguk. “Lo mau kan tolongin gue?” tanya
Adam, lagi-lagi Safina mengangguk. “Kita terjun bareng!” cetus Adam. Safina
yang ingin menolong-pun mengiyakan.
Mereka telah memasang
alat keamanan, setelah mendengar instruktur memberi arahan, mereka berdiri
beriringan, Adam tak kuasa melihat bawah. Safina yang melihat itu mengelus dada
Adam lembut.
“Lo bisa Dam!
Kendalikan diri lo,” titah Safina. Bagaimana Adam bisa tenang, rupanya ide
gilanya malah membuatnya ingin mati, dengan sekuat tenanga ia mencoba tenang.
“Fin, gue gak bakal
ngulangi apa yang bakal gue katakana sebentar lagi, jadi lo harus denger
baik-baik, oke? Hitungan ke tiga kita terjun bareng!” belum sempat mencerna kata-kata
Adam, Adam sudah mengintruksi.
“Satu.. dua… tiga!”
mereka pun terjun bebas dengan ketinggian 50 meter, saling merangkul, dengan
pemandangan danau Taupo. Di bawah sana, Adam berteriak tepat di telinga Safina.
“SAFINA ANANDAYU! I…
LOVE… YOU!” teriak Adam, sontak yang melihat bertepuk tangan, kini Safina diam
mematung. Ia bukannya tidak dengar, ia sangat sangat mendengar kalimat itu,
pipinya seperti udang rebus, memerah. Badannya kaku seakan ingin pingsan. Adam
berteriak membebaskan diri dan merasa lega.
***
Setelah kejadian tadi,
mereka berdua malah terlihat canggung. Adam tak berani menegur Safina yang
malah bertindak mengabaikannya dan pura-pura mengalihkan perhatiannya tiap
disinggung mengenai pernyataannya tadi.
“Kita ngopi dulu yuk!”
ajak Adam akhirnya, Safina mengangguk pelan. Ia benar-benar gugup dan tak tahu
harus bersikap apa, mungkin ngopi adalah option yang bagus untuk mencairkan
suasana.
Mereka akhirnya tiba di
coffeshop terdekat. Safina masih senantiasa menunduk, Adam berdehem untuk
beberapa detik, mencoba mencairkan suasana tapi gagal.
Dua cangkir coffelate
datang. Seorang waiters yang membawa-pun berkomentar,
“Excuseme Mr and Mrs. Would
you like to another order, like dessert? We have a discont for couple when both
of you orderer!” kata waiters itu menunjukkam menu makanan manis atau penutup
kepada keduanya, Safina hanya melirik Adam.
“Oh, okey. I’ll put
them.” Kata Adam cepat, waiters itu mengangguk dan tersenyum pergi.
Keduanya menyesap kopi
pesanan mereka. Adam menyesap sedikit, banyak ia menghirup aromanya dalam-dalam
dengan gaya coolnya. Safina mengapit cangkir dengan kedua tangannya, ia tidak
menyesap—tapi menenggak, kopi hangat itu seketika terkuras. Rupanya rasa
gugupnya sanggup membuatnya kehausan. Adam yang menyadari itu hanya tergelak.
“Apa lo gugup? Lo pasti
gugup karena pernyataan gue ya? Ah, pasti kali ini lo tersiksa banget deh,”
kekeh Adam di balas cebikan Safina.
“Ih.. Eng.. Ye.. kagak.
Sok tahu lo!” Safina jadi salah tingkah.
Dessert yang Adam
pesan-pun datang. Dua ice cream yang terlihat lezat itu menggiurkan, Safina
menelan ludah.
“Lo boleh makan, itu
buat lo.” Perintah Adam. Safina segera menyendok ice cream itu cepat-cepat.
Lamat-lamat Adam memperhatikan betapa antusiasnya Safina memakan ice cream
sampai belepotan, Adam hanya terkekeh geli. Ia pun menyadarkan tangannya pada
meja, tangan kanannya terulur memegang pipi Safina. Safina yang menyadari
menghentikan kegiatannya dan menatap terpaku—bahkan mulutnya sedikit menganga.
Dengan lembut tangan
Adam mengusap ice cream di bibir samping Safina, dengan cepat ia menjilat ice
cream itu ke mulutnya sendiri. Safina masih syok. Adam kembali mendekatkan
pandangannya dan menatap Safina.
“Gue sudah bilang, apa
yang gue katakan tadi nggak akan gue ulang, lo pasti dengar kan? Jadi gue mau
lo jawab sekarang!” sontak Safina terbatu-batuk mencoba mencerna perintah Adam.
“A-apa? Apa lo bilang?”
tanya Safina masih gugup.
“Ck! Gue gak mau ulang,
tapi rupanya lo belum sadar! Gue mau lo jawab sekarang!”
“G-gue… Gue masih
bingung,” bohong Safina yang sangat kentara, ia tidak bingung—hanya malu saja
mengakui.
Cup!
Dengan cepat Adam
mengecup pipi Safina.Safina terbelalak kaget, ia menutup mulutnya. Dan tangan
satunya memegang pipinya. Adam segera kabur dengan pergi ke kasir dan menunggu
di luar. Ia juga benar-benar malu, tindakan nekat dan bodoh itu malah
meminimalkan kemungkinan ia masih bisa di tolak.
“Ahh.. sial! Bego
banget gue! Hah!” Adam menggigit tangannya yang tergenggam, ia merutuki
kebodohannya itu.
Kini Safina pun ikut
keluar, ia memandang Adam yang uring-uringan di luar. Safina terkekeh geli. Ia
berlari menghampiri Adam. Melihat kedatangan Safina, Adam menjadi salah
tingkah. Safina yang melihat itu-pun tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar
melihat Adam yang seperti maling ketangkap basah. Adam pun jadi heran dengan
perubahan sikap Safina. Safina masih berdiri di depannya dengan senyum
sumringahnya.
TO BE CONTINUE
PS: Karena author lagi sibuk nyekripshit! Jadi mungkin beberapa episode
lagi bakalan tamat yaaa reads… dan gara-gara kebanyakan makan comeback EXO jadi
ketagihan dan bayangin, pemain Masa Muda itu dari EXO
*Aiihhmalahngelanyarauthor, misalnya si Adam itu Sehun, Reza itu Kai, dan Oskar
itu si Chanyeol (Duileeh jadi TRIO Vangsadh dong?) nah buat ceweknya author sih
gak kepikiran, tapi kayaknya si Safina itu Kim So Hyun deh (Author sukanya dia)
terus si Ralin itu Krystal (mantannya si Kai) hoho. Mohon maap gak maksud
nyeleweng Cuma mengungkapkan kegelisahan, muehehe.. see you for last episode.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar