Minggu, 06 Agustus 2017

MASA MUDA EP. 13

MASA MUDA 13 (NZ III)

Matamata, NZ.
            “Thanks banget ya Dam. Lo udah banyak bantu gue. Gue gak tahu harus balas apa,” Safina mengulum senyum.
            “Gue ikhlas. Lo gak usah ngerasa hutang apa-apa sama gue,” jawab Adam acuh, mereka menuju kembali ke motel. Besok adalah hari terakhir mereka di NZ.
            “Hmm, oke mas tiang listrik!” kini Safina bisa menyunggingkan senyum lebarnya. Adam pun menepuk bahu Safina lembut.
            Mereka telah tiba di halaman motel, mereka berjalan-jalan sebentar di sekitar jalan itu. Sesekali Safina memeluk tubuhnya dengan bersedekap. Adam yang melihat itu-pun teringat sesuatu. Ia membuka tas ranselnya dan mengambil sebuah benda.
            “Ini buat lo!” Adam menyerahkan jaket yang ia beli di Auckland kemarin, Safina mengernyit.
            “Udah, lo pake ya?” Adam menautkan jaket itu ke bahu Safina. Safina diam, ia mendongak menantap manic mata Adam dengan lekat, sesekali Adam terlihat gugup.
            “Akh… A..da a-pa?” Gugup Adam.
            “Kenapa lo baik sama gue?” tanya Safina final.
            “Anu.. ak..u.. gue pengen aja, khem..” Adam berdehem untuk menormalkan suaranya, ia sempat kaget, mengapa menjadi gagap dan jantungnya memacu lebih dari biasanya, ia tak bisa bernapas.
            “Gue tahu elo tulus.. tapi..?” Safina memandang sekali lagi mata itu, Adam pun balas mengunci pandangan itu, kini malah Safina yang terlihat salah tingkah.
            “Ah, ya.. makasih. Apapun itu makasih banyak!” Safina memalingkan pandangan dan menautkan jaket pemberian Adam lalu berjalan mendahului. Di belakang, Adam masih menautkan kedua alisnya, lalu diam-diam ia menyeringai, ia menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar.
***
Jakarta.
            “Oke Za! Gue udah gak tahan liat lo uring-uringan gini. Apa lo bilang? Mau nyusul mereka ke NZ? Ini sudah 4 hari, besok juga mereka balik Za.” Ralin mengomel saat mengetahui Reza mencari tiket ke NZ. Reza masih tak menggubris keberadaan Ralin, ia hanya melengos.
            “Za!” Ralin mencekal lengan Reza. Kini Reza menatap menuntut, apa lagi.
            “Gue tahu elo cintanya Cuma sama Safina, tapi apa lo gak coba buat lihat orang lain yang menginginkan lo? Lo egois Za!” Ralin menundukkan pandangannya.
            “Maksud lo apa?” Reza mengangkat alisnya heran.
            “Lo emang gak pernah mandang gue ada ya Za? Lo tahu nggak? Gue.. gue.. suka, sayang, cinta sama lo Za!” Reza melepas cekalan Ralin lemas, ia tak mampu berkata-kata.
            “Gue suka lo bahkan sebelum lo curhat tentang Safina. Selama ini gue diem Za, karena gue tahu. Elo seneng gue juga akan seneng. Tapi apa? Lo malah kayak orang gila gini tahu nggak? Gue capek, gue selama ini udah sabar, gue setia mendengar curhatan lo soal Safina, semua gue iya-in kalo lo minta tolong, minta saran buat nembak Safina, tapi sekarang… sekarang gue gak bisa… udah cukup semua ini.” Ralin mencelos mengungkapkan isi hatinya selama ini, ia menghela nafas panjang.
            “Jadi, lo…” Reza terduduk lemas. Ia tak sanggup berkomentar, tak tahu harus bersikap apa. Ia bingung.
            “Kita semua bersahabat, tapi sayang itu dulu. Sebelum perasaan aneh sialan ini muncul, dan yah itu kenyataannya. Jadi semua terserah lo. Gue udah capek. Gue pergi!” Ralin memutuskan untuk pergi dari tempat Reza, meninggalkan kebingungan di pikiran hati Reza. Reza menatap langit-langit dengan gusar, ia memeras rambutnya kasar.
            “Arrrgghh!” Reza berteriak frustasi.
*** 


            Keesokan harinya, Safina dan Adam melanjutkan perjalanan terakhir mereka di Taupo. Subuh-subuh mereka checkout dan menuju ke kota Taupo, sekitar 1,5 jam dari Matamata.  Mereka langsung menuju ke lokasi wisata, ke danau Taupo.
            Setelah sarapan, mereka jalan-jalan ke sekeliling danau. Danau itu terlihat luas dan segar. Udara juga terasa semakin dingin, kini Safina memakai jaket pemberian Adam, ia senantiasa memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya.
            “Duileeh, seneng amat make jaketnya,” ejek Adam.
            “Ih apa sih, orang seneng aja bisa jalan-jalan sama lo, eh jalan-jalan di New Zeland.” Safina segera meralat kalimat yang keceplosan itu.
            “Haha, tuh kan, lo aja mengakui kalo lo lebih seneng jalan sama gue daripada si Reza,” Adam sedikit jengah mengucapkan nama Reza. Kini Safina terdiam, ia teringat sesuatu.
            Setelah nama Reza disebut, Safina ingat, ia belum menjawab pernyataan Reza, ia ke NZ untuk menjernihkan pikirannya, sikap apa yang harus ia lakukan. Sekarang lelaki di depannya ini justru membuatnya gila. Yah, semakin dekat dengan Adam membuatnya gila, gila karena setelah jalan dengannya ia akan mengingat-ngingat saat mau tidur dan tersenyum bahkan tertawa sendiri.
            “Fin. Lo nggak pa-pa?” Adam yang menyadari air muka Fina yang berubah mendadak setelah mendengar nama Reza pun menyadarkannya dengan mengguncang-guncangkan bahunya.
            “Ah.. Eh, iya gak pa-pa k-kok,” Fina mengalihkan pandangannya saat Adam memandangnya. Adam hanya ingin memastikan dengan perubahan itu.
            “Tunggu, masalah lo selama ini… bukan Reza kan?” Adam bertanya penuh selidik.
            “B-bukan lah, apaan sih!” Safina memalingkan wajahnya dengan memandangi hamparan danau Taupo.
            “Kita lanjut jalan-jalan. Sayang sekali tak di nikmati, kan niatnya biar gak stress.” Adam pun mengamini dan memilih diam menuruti kemauan Safina.
            Setelah mereka puas berjalan-jalan dan tak lupa foto-foto, mereka beristirahat di pinggiran.
            “Lo capek gak Fina?” tanya Adam.
            “Enggak sih, kenapa?”
            “Di deket sini ada air terjun juga lo, mau lihat?” ajak Adam. Safina mengangguk semangat, ia segera berdiri dan menarik Adam untuk segera mengajak ke tempat yang di maksud itu.
*** 
            Kini mereka menyusuri jalan setapak yang sudah mulus, dengan kanan kiri hutan yang hijau. Udaranya begitu menyegarkan. Sesekali Safina merentangkan tangannya membiarkan udara segar cenderung dingin di sana untuk memenuhi rongga paru-parunya. Adam memasukkan kedua tangan pada coat hitamnya.
            “Fin,” Adam berhenti. Safina yang tidak menyadarinya terus berjalan, sampai ia merasa tak ada suara, ia menoleh melihat Adam jauh berada di belakang, Safina pun berbalik dan menarik tangannya.
            “Aduh, ada apa sih sama mas tiang listrik ini. Ayo kita cepet jalannya biar gak kesorean nanti!” Safina senantiasa menarik lengan Adam, Adam hanya tersenyum.
            Akhirnya setelah beberapa menit mereka tiba di ujung jalan, ada sebuah gazebo besar tempat untuk melihat air terjun yang menumpahkan air sangat amat deras ke danau Taupo, tingginya tak seberapa tapi debit airnya sangat banyak dan deras, membuat yang melihatnya bergidik.
            “Uwa… keren banget.” Seru Safina.
            “Ayo kita foto-foto!” Adam mengeluarkan HP di sakunya dan membuka kamera HPnya. Mereka kemudian selfie. Kadang foto sendiri-sendiri.
            Setelah puas menikmati air terjun. Mereka pun beranjak.
            “Oh ya Fin, ada satu hal yang mau gue katakana ke elo.” Kata Adam tiba-tiba.
            ‘Ya udah katakana saja sekarang,” tanggap Safina.
            “Nanti, saat udah tiba waktunya.” Adam berkata lemah. Safina yang menyadari itu menepuk bahu Adam keras.
            “Aha.. ha. Gak nyangka udah hari terakhir!” kata Safina canggung.
            “Sebelum cabut, masih ada waktu sampai nanti malam. Kita take off jam 12 malam. Gue mau ajak lo ke tempat terakhir di daerah sini.” Adam manarik Safina meninggalkan air terjun Taupo yang bergemuruh.
*** 
            Mereka disebuah tempat, tak jauh dari lokasi danau. Mereka memasuki kawasan, dari depan sudah terlihat. Tower apa yang ada di hadapan mereka.
            “Bu..bungie? lo ? ketempat bungie?” Safina berbinar-binar melihat hal kesukaannya itu.
            “Yaps! Welcome to Taupo Bungy. Dan disini hal yang bakal gue katakana, disini.”
            “Oh ya? Oke!” mereka menaiki katrol untuk menaiki bungie.
            “Tunggu! Lo ikut ke atas?” Adam mengagguk yakin,  “Hah? Se-serius?” Safina meragukan.
            “Iya. Sumpah! Gue juga bakal terjun!” sontak pernyataan itu membuat Safina terbelalak kaget.
            “K-kalo nan-“ belum sempat komentar sudah Adam potong.
            “Kali ini gue ga boleh pingsan. Kalau pingsan mending gue mati aja.” Katanya penuh keyakinan. Melihat Adam yang sangat semangat itu, Safina hanya mencoba percaya padanya.
            Setibanya di atas, Adam melihat dua orang terjun bersamaan. Rupanya bungie jumping bisa dilakukan dengan tandem. Ia pun punya ide cemerlang.
            “Fin, lo tahu gue masih agak-agak takut ketinggian?” Fina mengangguk. “Lo mau kan tolongin gue?” tanya Adam, lagi-lagi Safina mengangguk. “Kita terjun bareng!” cetus Adam. Safina yang ingin menolong-pun mengiyakan.
            Mereka telah memasang alat keamanan, setelah mendengar instruktur memberi arahan, mereka berdiri beriringan, Adam tak kuasa melihat bawah. Safina yang melihat itu mengelus dada Adam lembut.
            “Lo bisa Dam! Kendalikan diri lo,” titah Safina. Bagaimana Adam bisa tenang, rupanya ide gilanya malah membuatnya ingin mati, dengan sekuat tenanga ia mencoba tenang.
            “Fin, gue gak bakal ngulangi apa yang bakal gue katakana sebentar lagi, jadi lo harus denger baik-baik, oke? Hitungan ke tiga kita terjun bareng!” belum sempat mencerna kata-kata Adam, Adam sudah mengintruksi.
            “Satu.. dua… tiga!” mereka pun terjun bebas dengan ketinggian 50 meter, saling merangkul, dengan pemandangan danau Taupo. Di bawah sana, Adam berteriak tepat di telinga Safina.
            “SAFINA ANANDAYU! I… LOVE… YOU!” teriak Adam, sontak yang melihat bertepuk tangan, kini Safina diam mematung. Ia bukannya tidak dengar, ia sangat sangat mendengar kalimat itu, pipinya seperti udang rebus, memerah. Badannya kaku seakan ingin pingsan. Adam berteriak membebaskan diri dan merasa lega.
***
            Setelah kejadian tadi, mereka berdua malah terlihat canggung. Adam tak berani menegur Safina yang malah bertindak mengabaikannya dan pura-pura mengalihkan perhatiannya tiap disinggung mengenai pernyataannya tadi.
            “Kita ngopi dulu yuk!” ajak Adam akhirnya, Safina mengangguk pelan. Ia benar-benar gugup dan tak tahu harus bersikap apa, mungkin ngopi adalah option yang bagus untuk mencairkan suasana.
            Mereka akhirnya tiba di coffeshop terdekat. Safina masih senantiasa menunduk, Adam berdehem untuk beberapa detik, mencoba mencairkan suasana tapi gagal.
            Dua cangkir coffelate datang. Seorang waiters yang membawa-pun berkomentar,
            “Excuseme Mr and Mrs. Would you like to another order, like dessert? We have a discont for couple when both of you orderer!” kata waiters itu menunjukkam menu makanan manis atau penutup kepada keduanya, Safina hanya melirik Adam.
            “Oh, okey. I’ll put them.” Kata Adam cepat, waiters itu mengangguk dan tersenyum pergi.
            Keduanya menyesap kopi pesanan mereka. Adam menyesap sedikit, banyak ia menghirup aromanya dalam-dalam dengan gaya coolnya. Safina mengapit cangkir dengan kedua tangannya, ia tidak menyesap—tapi menenggak, kopi hangat itu seketika terkuras. Rupanya rasa gugupnya sanggup membuatnya kehausan. Adam yang menyadari itu hanya tergelak.
            “Apa lo gugup? Lo pasti gugup karena pernyataan gue ya? Ah, pasti kali ini lo tersiksa banget deh,” kekeh Adam di balas cebikan Safina.
            “Ih.. Eng.. Ye.. kagak. Sok tahu lo!” Safina jadi salah tingkah.
            Dessert yang Adam pesan-pun datang. Dua ice cream yang terlihat lezat itu menggiurkan, Safina menelan ludah.
            “Lo boleh makan, itu buat lo.” Perintah Adam. Safina segera menyendok ice cream itu cepat-cepat. Lamat-lamat Adam memperhatikan betapa antusiasnya Safina memakan ice cream sampai belepotan, Adam hanya terkekeh geli. Ia pun menyadarkan tangannya pada meja, tangan kanannya terulur memegang pipi Safina. Safina yang menyadari menghentikan kegiatannya dan menatap terpaku—bahkan mulutnya sedikit menganga.
            Dengan lembut tangan Adam mengusap ice cream di bibir samping Safina, dengan cepat ia menjilat ice cream itu ke mulutnya sendiri. Safina masih syok. Adam kembali mendekatkan pandangannya dan menatap Safina.
            “Gue sudah bilang, apa yang gue katakan tadi nggak akan gue ulang, lo pasti dengar kan? Jadi gue mau lo jawab sekarang!” sontak Safina terbatu-batuk mencoba mencerna perintah Adam.
            “A-apa? Apa lo bilang?” tanya Safina masih gugup.
            “Ck! Gue gak mau ulang, tapi rupanya lo belum sadar! Gue mau lo jawab sekarang!”
            “G-gue… Gue masih bingung,” bohong Safina yang sangat kentara, ia tidak bingung—hanya malu saja mengakui.
Cup!
            Dengan cepat Adam mengecup pipi Safina.Safina terbelalak kaget, ia menutup mulutnya. Dan tangan satunya memegang pipinya. Adam segera kabur dengan pergi ke kasir dan menunggu di luar. Ia juga benar-benar malu, tindakan nekat dan bodoh itu malah meminimalkan kemungkinan ia masih bisa di tolak.
            “Ahh.. sial! Bego banget gue! Hah!” Adam menggigit tangannya yang tergenggam, ia merutuki kebodohannya itu.
            Kini Safina pun ikut keluar, ia memandang Adam yang uring-uringan di luar. Safina terkekeh geli. Ia berlari menghampiri Adam. Melihat kedatangan Safina, Adam menjadi salah tingkah. Safina yang melihat itu-pun tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar melihat Adam yang seperti maling ketangkap basah. Adam pun jadi heran dengan perubahan sikap Safina. Safina masih berdiri di depannya dengan senyum sumringahnya.

TO BE CONTINUE

PS: Karena author lagi sibuk nyekripshit! Jadi mungkin beberapa episode lagi bakalan tamat yaaa reads… dan gara-gara kebanyakan makan comeback EXO jadi ketagihan dan bayangin, pemain Masa Muda itu dari EXO *Aiihhmalahngelanyarauthor, misalnya si Adam itu Sehun, Reza itu Kai, dan Oskar itu si Chanyeol (Duileeh jadi TRIO Vangsadh dong?) nah buat ceweknya author sih gak kepikiran, tapi kayaknya si Safina itu Kim So Hyun deh (Author sukanya dia) terus si Ralin itu Krystal (mantannya si Kai) hoho. Mohon maap gak maksud nyeleweng Cuma mengungkapkan kegelisahan, muehehe.. see you for last episode.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar