MASA MUDA EP. 14
Dengan beraninya Adam
mencium pipi Safina mebuat Safina hilang kesadaran. Dia benar-benar gila.
Keduanya gila. Ingin rasanya saat itu juga Safina memuntahkan sumpah serapah,
menampar, menjitak, menjambak, bahkan menendang bokong lelaki jangkung itu.
Tapi tubuhnya kaku, mulutnya terkunci, ia seperti patung. Aliran darahnya
berdesir, suhu tubuhnya panas-dingin, dan jantungnya berdegub kencang. Setelah
ia cukup sadar, Safina mencari sosok yang kurang ajar itu. Namun, hatinya
menghangat kala melihat lelaki itu.
“A-pakah ini namanya
aku juga mencintainya?” gumam Safina sambil memegang pipinya, ia tersenyum
menyadarinya.
Safina pun segera
beranjak menemui lelaki itu, ia tak habis pikir, apakah keputusannya tepat?
Namun hatinya sudah sangat amat yakin—karena beberapa hari ini sudah
uring-uringan.
Melihat Safina yang
terus tersenyum membuat Adam yang awalnya canggung pun ikut tersenyum
malu-malu. Dengan cepat Safina menautkan jari-jarinya ke jari-jari Adam. Adam
yang sadar mengeratkan genggaman itu, mereka berjalan sambil terus tersenyum
dan menggoyang-goyangkan gandengannya. Sesekali Adam menggaruk tengkuknya yang
tidak gatal, ia masih belum mengerti dengan Safina.
Setelah pulang dari
coffeshop waktu sudah menjelang malam, mereka memutuskan untuk segera berkemas
dan memanggil taksi untuk ke bandara Auckland. Yah nanti jam 12 malam mereka
harus sudah take off. Saat taksi itu datang, Safina menarik kuping Adam yang
tinggi itu, Adam pun membungkuk.
“Denger ya? Gue ngomong
sekali dan gak akan gue ulangi lagi, jadi denger baik-baik!” cetus Safina lalu
membisikkan kata-kata itu di telinga Adam.
“Ha?
A-apa!” pekik Adam masih syok dengan bisikan Safina dan membuatnya melamun.
“Lo mau pulang ke
Indonesia apa masih mau disini?” titah Safina yang sudah masuk taksi dan
dibarengi dengan delikan matanya. Adam-pun segera memasuki taksi dan tersenyum.
“Makasih ya Fin!” Adam
pun menarik tangan Safina dan menggenggamnya.
Yah, rupanya bisikan
tadi adalah jawaban pernyataan Adam saat bungee. Safina mengatakan kalau
dirinya juga memiliki rasa yang sama dengan Adam, itu yang membuat Adam terus
tersipu malu dan tak henti-hentinya menebar senyum. Ternyata New Zealand mampu
memberikan cerita cinta dan menaburkan bunga-bunga buat keduanya.
Bagaimana dengan Reza?
Safina telah menyiapkan jawaban terbaiknya untuk Reza. Karena yang dirasakannya
adalah sayang bukan cinta.
***
Jakarta,
Seperti yang diduga,
Safina ternyata telah ditunggu ketiga sahabatnya itu—Reza, Ralin, Oskar. Safina
langsung menghambur—awalnya sih, namun ia melupakan sesuatu, masalah Reza,
Ralin. Ia bingung harus bersikap seperti apa, apakah ia harus berpura-pura.
Tanpa sadar Adam yang
berada di belakang Safina merangkul bahunya, ia meremas bahu Safina, maksudnya
bahwa semua akan baik-baik saja.
Safina memeluk ketiga
sahabatnya sekaligus—kangen, pasti. Namun masalahnya cukup memberi
benteng—mungkin hanya Oskar yang menyadarinya.
“Gila, Fina lo enak
banget bisa liburan ke NZ, gue juga pengen kali,” celetuk Oskar.
“Ah lo kan bisa nabung
kalo lo mau,” Jawab Safina asal.
“Lo capek kan? Gimana
kalau kita langsung pulang?” tawar Reza.
“Iya langsung pulang
aja deh,” Jawab Safina, melirik Adam yang masih di belakangnya.
“Lo pulang bareng kita
kan Fin?” tanya Ralin, kali ini Ralin tak menatapnya sinis, ia seperti Ralin
yang dulu—sebelum terobsesi dengan Reza. Rupanya banyak yang ia lewatkan selama
di NZ—itu karena HP nya tidak bisa digunakan karena tidak menggunakan mode
internasional.
“Em, gimana?” tanya
Safina pada Adam—karena Adam hanya diam dan mengikuti mereka, hal itu pun tak
lepas dari pandangan Reza yang jengah.
“Ya udah, lo pulang
bareng mereka aja, gue bisa naik taksi, okey?” Safina hanya mengangguk dan say
good bye, lalu segera masuk ke mobil Reza dengan meninggalkan Adam.
Di balik kemudi, Reza
terus menatap spion dalam mobilnya, ia melihat Safina yang gelisah di
belakang—Oskar mengajaknya mengobrol, tapi malah dia tak menyahuti.
Setelah mengantar
Safina pulang, Reza mengantar Oskar ke kantor bokapnya. Kini tinggal Ralin dan
Reza, Reza masih mendengus kesal.
“Sepertinya… tadi itu
sudah sangat jelas, apa jawaban Safina buat lo. Gue benar-benar gak bisa bantu
lo, karena…” Ralin menggantung kalimatnya, Rezapun mendecih.
“Ck! Gue udah siap.
Sangat siap. Dan maaf, gue udah nyakitin perasaan lo. Maaf…” Reza menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal, mereka telah sampai di rumah Ralin.
“Ya udah Za gue balik,
oh ya. Gue berat banget sih terima ini semua, tapi… persahabatan kita nggak
pantes buat di korbanin Za, inget itu!” Ralin beranjak dan masuk ke rumahnya.
Kini tinggal Reza seorang, apa benar ia siap dengan jawaban Safina, itu berat.
Bagaimana dengan Ralin—yang menyukainya, sedangkan dirinya malah menyukai
Safina dengan terang-terangan.
***
Tiga hari setelah
kepulangan Safina, akhirnya Safina menghubugi Reza dan mengajaknya bertemu.
Sudah lama sekali sejak pernyataannya itu. Hati Reza serasa mati rasa.
Mereka tiba di sebuah
taman dekat kampus mereka, Safina telah menunggunya, Reza dengan berat
melangkah mendekati gadis itu.
“Hai Fin, apa kabar?”
sapa Reza, Safina awalnya diam namun segera tersenyum kecut, terlihat dari
bibirnya saja yang di tarik, namun matanya tidak.
“Za, lo baik-baik aja
kan?” tanya Safina yang tampak khawatir. Reza hanya mengangguk dan menggaruk
rambutnya yang tidak gatal, pertanyaan itu benar-benar bodoh, batinnya.
“Duduk dulu Za!” cetus
Safina, Reza pun duduk disamping Safina dan memandang lurus saat ngobrol.
“Lo ngajak gue ketemu,
ada yang ingin lo sampaikan kan? Ya udah katakan!” perintah Reza—kini ia merasa
dingin dengan sikapnya itu.
“Ya, lo bener. Gue mau
jawab pernyataan lo,” lidahnya kelu, namun ia harus segera mengatakannya—mengingat
ia telah menerima perasaan Adam.
“Gue… gue gak bisa
terima perasaan lo, maaf! Persahabatan emang yang nomer satu, tapi alasan
lainnya adalah karena gue tidak memiliki rasa lebih dari sekedar sayang—pada
sahabat,” kini Safina menunduk menyesal—itu bukan jawaban terbaik—batinnya.
Reza menghembuskan napas panjang seakan tahu alasannya, ia memalingkan
pandangannya dan memandang Safina.
“Karena lo suka Adam?”
sontak pertanyaan itu membuat Safina tersentak, bagaimana Reza tahu.
“Oke cukup! Sikap lo sudah
menjawab segala kegundahan gue selama ini.” Reza memalingkan pandangannya,
Safina masih tak percaya itu, ia makin menundukkan pandangannya.
“Maaf… maaf banget…”
“Mungkin ini memang
takdir, Tuhan sedang menguji persahabatan kita bukan?” Reza segera beranjak, ia
pamit untuk pergi. Ia bisa merelakan Safina untuk bersama Adam—tapi ia tak
merelakan persahabatan mereka hancur.
“Lo harus janji, kalau
kita—gue, lo, Ralin, dan Oskar adalah sahabat—ah lebih dari itu, kita saudara,
jadi jangan saling menyakiti lagi, oke?” itu permintaan Reza yang saat ini
masih bisa dituruti oleh Safina.
“Tentu, gue janji!”
kata Safina, Reza say goodbye pamit untuk pergi. Safina memandangi punggung
lebar sahabatnya itu—ia merasa bersalah sekaligus lega, ia tak tahu jika akhirnya
bakal begini.
***
Adam berada di tempat
biasa mereka melakukan balapan mobil. Ia sedang menunggu seseorang, seseorang
yang tak pernah lelah menantangnya, padahal dirinya sudah sangat lelah.
Tiba-tiba orang yang ia
pikirkan tiba,
“Lo udah lama?” tanya
Reza—orang itu basa basi.
“Ck! Lo mau nantang gue
lagi?” tanya Adam ketus.
“Of course! Gue ajak lo
balapan sekali lagi, kalo lo menang… kita berhenti—semuanya. Gue gak bakal
ganggu lo, semua persaingan ini selesai, gue gak bakal iri-iri an lagi sama lo,
dan… lo… boleh miliki Safina,” mendengar pernyataan terakhir Reza membuat Adam
tersentak, Adam tahu jika Reza menyukai Safina—karena saat Reza menembak
Safina, Adam tak sengaja melihatnya, makanya saat itu ia tak pulang dan
menunggu Safina yang malah justru terlihat sedih.
“Oke! Deal!” Adam
mengulurkan tangannya tanda deal.
“Lalu kalau gue
menang?” tanya Reza mengangkat satu alisnya.
“Gue bakal menyerahkan
semua nya sama lo, terserah lo mau apa.” Tawar Adam.
“Kalau jauhin Safina,
lo mau?” tanya Reza hati-hati. Air muka Adam berubah pias. Ini pilihan berat.
“Oke, fine!” akhirnya
Adam memutuskan pilihan bodoh itu, ia mendengus kesal. Reza hanya mendecih.
Adam memasuki mobilnya.
Reza hanya tersenyum kecut, bagaimana jika Reza menang—artinya pasti Adam
benar-benar menjauhi Safina—karena Adam dan dirinya selalu supportif, dan itu
artinya membuat sedih Safina bukan? Reza yakin, pasti Adam berusaha untuk
menang sekarang, Reza tak perlu mengoyo—ini adalah caranya berdamai dengan rival
nya agar tak terlihat lemah.
Mereka pun mulai
menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Tak ada yang
mengalah—mereka terlihat kompetitif, namun di jarak hampir finish—Reza mulai
mundur dan memelankan mobilnya sedikit, sampai akhirnya Adam berhasil ke finish
terlebih dahulu. Mereka keluar dari mobil dengan tatapan curiga Adam.
“Lo enggak sengaja
ngalah kan?” tanya Adam penuh selidik.
“Buat apa gue ngalah?
Bukannya semua itu merugikan gue?” jawab Reza. Adam hanya mengangguk paham,
semua yang ia tawarkan mungkin merugikannya.
“Selamat! Lo udah
menang. Dan pasti gue bakal janji sama pernyataan gue tadi,” Reza menyakukan
kedua tangannya pada celananya.
“Oke, janji adalah
janji kalo lo lelaki sejati!” Adam mengulurkan tangannya tersenyum sumringah—tidak
ada angin tidak ada hujan tiba-tiba berdamai. Reza mengeluarkan tangan kanannya
hendak menjabat, tapi.
BUGH!
Satu pukulan telak.
Reza menghajar Adam sampai terhuyung. Lalu menolongnya.
“Sorry! Ini yang
terakhir, dan juga buat Safina. Lo udah bisa sama Safina, gue terima—tapi
inget, Safina dan yang lain sahabat gue—jangan sampai lo sakitin dia, atau
berusaha buat ngejauhin Safina dari kita-kita, oke?” kini Reza menjabat tangan
Adam. Adam hanya meringis menahan sakit, dan tersenyum. Ia memeluk Reza.
“Thanks Bro!” jawab
Adam maih berpelukan, Reza melepasnya.
“Ih, kok kita jadi
menye-menye gini?” Reza dan Adam pun saling tertawa sampai terbahak-bahak,
mereka asik mengobrol dan bercerita dari awal mula mereka jadi rival sampai
persaingan-persaingan tak berujung dan selalu merasa banyak yang di saingin.
Kadang mereka menemukan titik dimana ternyata mereka salah paham, kadang juga
saling ngerjain dan merekapun saling toyor menoyor, terus lama-lama mereka
saling meminta maaf. Mereka mengobrol sampai lupa waktu.
“Ternyata tanpa kita
saingan gini, gue merasa lega. Nggak terbebani ya?” kata Reza.
“Ye, gue juga udah
capek banget musuhan sama lo. Lo nya aja keras kepala.” Jawab Adam apa adanya.
“Gue emang keras
kepala, dan Safina telah memukul gue sehingga gue sadar, janji lo harus buat
Safina bahagia!” cetus Adam tersenyum miring.
“Gue janji kok! Thanks
banget Za!” mereka pun saling berpelukan lagi dan pamit untuk pulang.
“Oh iya, minggu depan
kita mau camping. Gimana kalo lo gabung?” tawar Reza yang di iyakan oleh Adam.
***
Satu minggu kemudian,
seperti yang sudah di rencanakan. Mereka melakukan camping ceria di Cibodas.
Reza, Ralin, Oskar, Safina dan Adam. Semua sudah tahu jika si Adam dan Safina
sudah jadian di New Zeland, itu membuat mereka iri. Namun turut berbahagia atas
keduanya. Reza dan Ralin masih malu-malu dan canggung karena pengakuan Ralin
tapi Oskar selalu di tengah-tengah mereka.
Akhirnya mereka
memutuskan, bahwa camping ini sebagai kembalinya persahabatan Reza, Ralin,
Oskar, dan Safina dan berdamainya Reza dan Adam sekaligus jadiannya Safina dan
Adam, jadi waktu harus di maksimalkan untuk seru-seruan.
Di mulai dari
mendirikan dua tenda, membuat api unggun, memasak berbequean, sampai main truth
or dare. Dimana si Reza lebih sering dare, dan Adam akan selalu truth. Walaupun
Adam dan Reza berdamai namun jiwa saingan mereka masih melekat, terbukti dari
berbagai permainan mereka menjadi rival dan bersaing ketat lalu di akhiri tawa
dari kelimanya.
Sampai tengah malam,
mereka masih di depan api unggun, kini Adam mulai memetikkan gitar
kesayangannya, menyanyikan lagu-lagu mellow lalu diikuti oleh kelimanya yang
ikutan bernyanyi. Mereka menghabiskan malam sambil terus bermain.
Kini semua memiliki
kelegaan di hatinya masing-masing. Tidak ada tawa terpaksa atau dikulum.
Semuanya tulus. Mereka lega, untuk saat ini semua masalah yang berlarut telah
terpecahkan. Mereka membawa suasana hangat di tengah dinginnya
pegunungan—sesuatu yang jarang terjadi—setelah sekian lama, di malam cerah, di
dinginnya Puncak, Bogor, di antara cahaya kuning api unggun, merajut asa.
T A M A T
PS: Uwaaa… akhirnya bisa menyelesaikan cerbung ini setelah beberapa kali
buntu, dengan ending yang harus bagaimana. Hehe, tunggu cerita cerita saya
selanjutnya. Terimakasih sudah membaca. Gomawoyo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar