Senin, 14 Agustus 2017

MASA MUDA 14 (LAST)




MASA MUDA EP. 14


            Dengan beraninya Adam mencium pipi Safina mebuat Safina hilang kesadaran. Dia benar-benar gila. Keduanya gila. Ingin rasanya saat itu juga Safina memuntahkan sumpah serapah, menampar, menjitak, menjambak, bahkan menendang bokong lelaki jangkung itu. Tapi tubuhnya kaku, mulutnya terkunci, ia seperti patung. Aliran darahnya berdesir, suhu tubuhnya panas-dingin, dan jantungnya berdegub kencang. Setelah ia cukup sadar, Safina mencari sosok yang kurang ajar itu. Namun, hatinya menghangat kala melihat lelaki itu.
            “A-pakah ini namanya aku juga mencintainya?” gumam Safina sambil memegang pipinya, ia tersenyum menyadarinya.
            Safina pun segera beranjak menemui lelaki itu, ia tak habis pikir, apakah keputusannya tepat? Namun hatinya sudah sangat amat yakin—karena beberapa hari ini sudah uring-uringan.
            Melihat Safina yang terus tersenyum membuat Adam yang awalnya canggung pun ikut tersenyum malu-malu. Dengan cepat Safina menautkan jari-jarinya ke jari-jari Adam. Adam yang sadar mengeratkan genggaman itu, mereka berjalan sambil terus tersenyum dan menggoyang-goyangkan gandengannya. Sesekali Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia masih belum mengerti dengan Safina.
            Setelah pulang dari coffeshop waktu sudah menjelang malam, mereka memutuskan untuk segera berkemas dan memanggil taksi untuk ke bandara Auckland. Yah nanti jam 12 malam mereka harus sudah take off. Saat taksi itu datang, Safina menarik kuping Adam yang tinggi itu, Adam pun membungkuk.
            “Denger ya? Gue ngomong sekali dan gak akan gue ulangi lagi, jadi denger baik-baik!” cetus Safina lalu membisikkan kata-kata itu di telinga Adam.
            “Ha? A-apa!” pekik Adam masih syok dengan bisikan Safina dan membuatnya melamun.
            “Lo mau pulang ke Indonesia apa masih mau disini?” titah Safina yang sudah masuk taksi dan dibarengi dengan delikan matanya. Adam-pun segera memasuki taksi dan tersenyum.
            “Makasih ya Fin!” Adam pun menarik tangan Safina dan menggenggamnya.
            Yah, rupanya bisikan tadi adalah jawaban pernyataan Adam saat bungee. Safina mengatakan kalau dirinya juga memiliki rasa yang sama dengan Adam, itu yang membuat Adam terus tersipu malu dan tak henti-hentinya menebar senyum. Ternyata New Zealand mampu memberikan cerita cinta dan menaburkan bunga-bunga buat keduanya.
            Bagaimana dengan Reza? Safina telah menyiapkan jawaban terbaiknya untuk Reza. Karena yang dirasakannya adalah sayang bukan cinta.
***
Jakarta,
            Seperti yang diduga, Safina ternyata telah ditunggu ketiga sahabatnya itu—Reza, Ralin, Oskar. Safina langsung menghambur—awalnya sih, namun ia melupakan sesuatu, masalah Reza, Ralin. Ia bingung harus bersikap seperti apa, apakah ia harus berpura-pura.
            Tanpa sadar Adam yang berada di belakang Safina merangkul bahunya, ia meremas bahu Safina, maksudnya bahwa semua akan baik-baik saja.
            Safina memeluk ketiga sahabatnya sekaligus—kangen, pasti. Namun masalahnya cukup memberi benteng—mungkin hanya Oskar yang menyadarinya.
            “Gila, Fina lo enak banget bisa liburan ke NZ, gue juga pengen kali,” celetuk Oskar.
            “Ah lo kan bisa nabung kalo lo mau,” Jawab Safina asal.
            “Lo capek kan? Gimana kalau kita langsung pulang?” tawar Reza.
            “Iya langsung pulang aja deh,” Jawab Safina, melirik Adam yang masih di belakangnya.
            “Lo pulang bareng kita kan Fin?” tanya Ralin, kali ini Ralin tak menatapnya sinis, ia seperti Ralin yang dulu—sebelum terobsesi dengan Reza. Rupanya banyak yang ia lewatkan selama di NZ—itu karena HP nya tidak bisa digunakan karena tidak menggunakan mode internasional.
            “Em, gimana?” tanya Safina pada Adam—karena Adam hanya diam dan mengikuti mereka, hal itu pun tak lepas dari pandangan Reza yang jengah.
            “Ya udah, lo pulang bareng mereka aja, gue bisa naik taksi, okey?” Safina hanya mengangguk dan say good bye, lalu segera masuk ke mobil Reza dengan meninggalkan Adam.
            Di balik kemudi, Reza terus menatap spion dalam mobilnya, ia melihat Safina yang gelisah di belakang—Oskar mengajaknya mengobrol, tapi malah dia tak menyahuti.
            Setelah mengantar Safina pulang, Reza mengantar Oskar ke kantor bokapnya. Kini tinggal Ralin dan Reza, Reza masih mendengus kesal.
            “Sepertinya… tadi itu sudah sangat jelas, apa jawaban Safina buat lo. Gue benar-benar gak bisa bantu lo, karena…” Ralin menggantung kalimatnya, Rezapun mendecih.
            “Ck! Gue udah siap. Sangat siap. Dan maaf, gue udah nyakitin perasaan lo. Maaf…” Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mereka telah sampai di rumah Ralin.
            “Ya udah Za gue balik, oh ya. Gue berat banget sih terima ini semua, tapi… persahabatan kita nggak pantes buat di korbanin Za, inget itu!” Ralin beranjak dan masuk ke rumahnya. Kini tinggal Reza seorang, apa benar ia siap dengan jawaban Safina, itu berat. Bagaimana dengan Ralin—yang menyukainya, sedangkan dirinya malah menyukai Safina dengan terang-terangan.
***
            Tiga hari setelah kepulangan Safina, akhirnya Safina menghubugi Reza dan mengajaknya bertemu. Sudah lama sekali sejak pernyataannya itu. Hati Reza serasa mati rasa.
            Mereka tiba di sebuah taman dekat kampus mereka, Safina telah menunggunya, Reza dengan berat melangkah mendekati gadis itu.
            “Hai Fin, apa kabar?” sapa Reza, Safina awalnya diam namun segera tersenyum kecut, terlihat dari bibirnya saja yang di tarik, namun matanya tidak.
            “Za, lo baik-baik aja kan?” tanya Safina yang tampak khawatir. Reza hanya mengangguk dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, pertanyaan itu benar-benar bodoh, batinnya.
            “Duduk dulu Za!” cetus Safina, Reza pun duduk disamping Safina dan memandang lurus saat ngobrol.
            “Lo ngajak gue ketemu, ada yang ingin lo sampaikan kan? Ya udah katakan!” perintah Reza—kini ia merasa dingin dengan sikapnya itu.
            “Ya, lo bener. Gue mau jawab pernyataan lo,” lidahnya kelu, namun ia harus segera mengatakannya—mengingat ia telah menerima perasaan Adam.
            “Gue… gue gak bisa terima perasaan lo, maaf! Persahabatan emang yang nomer satu, tapi alasan lainnya adalah karena gue tidak memiliki rasa lebih dari sekedar sayang—pada sahabat,” kini Safina menunduk menyesal—itu bukan jawaban terbaik—batinnya. Reza menghembuskan napas panjang seakan tahu alasannya, ia memalingkan pandangannya dan memandang Safina.
            “Karena lo suka Adam?” sontak pertanyaan itu membuat Safina tersentak, bagaimana Reza tahu.
            “Oke cukup! Sikap lo sudah menjawab segala kegundahan gue selama ini.” Reza memalingkan pandangannya, Safina masih tak percaya itu, ia makin menundukkan pandangannya.
            “Maaf… maaf banget…”
            “Mungkin ini memang takdir, Tuhan sedang menguji persahabatan kita bukan?” Reza segera beranjak, ia pamit untuk pergi. Ia bisa merelakan Safina untuk bersama Adam—tapi ia tak merelakan persahabatan mereka hancur.
            “Lo harus janji, kalau kita—gue, lo, Ralin, dan Oskar adalah sahabat—ah lebih dari itu, kita saudara, jadi jangan saling menyakiti lagi, oke?” itu permintaan Reza yang saat ini masih bisa dituruti oleh Safina.
            “Tentu, gue janji!” kata Safina, Reza say goodbye pamit untuk pergi. Safina memandangi punggung lebar sahabatnya itu—ia merasa bersalah sekaligus lega, ia tak tahu jika akhirnya bakal begini.
***
            Adam berada di tempat biasa mereka melakukan balapan mobil. Ia sedang menunggu seseorang, seseorang yang tak pernah lelah menantangnya, padahal dirinya sudah sangat lelah.
            Tiba-tiba orang yang ia pikirkan tiba,
            “Lo udah lama?” tanya Reza—orang itu basa basi.
            “Ck! Lo mau nantang gue lagi?” tanya Adam ketus.
            “Of course! Gue ajak lo balapan sekali lagi, kalo lo menang… kita berhenti—semuanya. Gue gak bakal ganggu lo, semua persaingan ini selesai, gue gak bakal iri-iri an lagi sama lo, dan… lo… boleh miliki Safina,” mendengar pernyataan terakhir Reza membuat Adam tersentak, Adam tahu jika Reza menyukai Safina—karena saat Reza menembak Safina, Adam tak sengaja melihatnya, makanya saat itu ia tak pulang dan menunggu Safina yang malah justru terlihat sedih.
            “Oke! Deal!” Adam mengulurkan tangannya tanda deal.
            “Lalu kalau gue menang?” tanya Reza mengangkat satu alisnya.
            “Gue bakal menyerahkan semua nya sama lo, terserah lo mau apa.” Tawar Adam.
            “Kalau jauhin Safina, lo mau?” tanya Reza hati-hati. Air muka Adam berubah pias. Ini pilihan berat.
            “Oke, fine!” akhirnya Adam memutuskan pilihan bodoh itu, ia mendengus kesal. Reza hanya mendecih.
            Adam memasuki mobilnya. Reza hanya tersenyum kecut, bagaimana jika Reza menang—artinya pasti Adam benar-benar menjauhi Safina—karena Adam dan dirinya selalu supportif, dan itu artinya membuat sedih Safina bukan? Reza yakin, pasti Adam berusaha untuk menang sekarang, Reza tak perlu mengoyo—ini adalah caranya berdamai dengan rival nya agar tak terlihat lemah.
            Mereka pun mulai menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Tak ada yang mengalah—mereka terlihat kompetitif, namun di jarak hampir finish—Reza mulai mundur dan memelankan mobilnya sedikit, sampai akhirnya Adam berhasil ke finish terlebih dahulu. Mereka keluar dari mobil dengan tatapan curiga Adam.
            “Lo enggak sengaja ngalah kan?” tanya Adam penuh selidik.
            “Buat apa gue ngalah? Bukannya semua itu merugikan gue?” jawab Reza. Adam hanya mengangguk paham, semua yang ia tawarkan mungkin merugikannya.
            “Selamat! Lo udah menang. Dan pasti gue bakal janji sama pernyataan gue tadi,” Reza menyakukan kedua tangannya pada celananya.
            “Oke, janji adalah janji kalo lo lelaki sejati!” Adam mengulurkan tangannya tersenyum sumringah—tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba berdamai. Reza mengeluarkan tangan kanannya hendak menjabat, tapi.
BUGH!
            Satu pukulan telak. Reza menghajar Adam sampai terhuyung. Lalu menolongnya.
            “Sorry! Ini yang terakhir, dan juga buat Safina. Lo udah bisa sama Safina, gue terima—tapi inget, Safina dan yang lain sahabat gue—jangan sampai lo sakitin dia, atau berusaha buat ngejauhin Safina dari kita-kita, oke?” kini Reza menjabat tangan Adam. Adam hanya meringis menahan sakit, dan tersenyum. Ia memeluk Reza.
            “Thanks Bro!” jawab Adam maih berpelukan, Reza melepasnya.
            “Ih, kok kita jadi menye-menye gini?” Reza dan Adam pun saling tertawa sampai terbahak-bahak, mereka asik mengobrol dan bercerita dari awal mula mereka jadi rival sampai persaingan-persaingan tak berujung dan selalu merasa banyak yang di saingin. Kadang mereka menemukan titik dimana ternyata mereka salah paham, kadang juga saling ngerjain dan merekapun saling toyor menoyor, terus lama-lama mereka saling meminta maaf. Mereka mengobrol sampai lupa waktu.
            “Ternyata tanpa kita saingan gini, gue merasa lega. Nggak terbebani ya?” kata Reza.
            “Ye, gue juga udah capek banget musuhan sama lo. Lo nya aja keras kepala.” Jawab Adam apa adanya.
            “Gue emang keras kepala, dan Safina telah memukul gue sehingga gue sadar, janji lo harus buat Safina bahagia!” cetus Adam tersenyum miring.
            “Gue janji kok! Thanks banget Za!” mereka pun saling berpelukan lagi dan pamit untuk pulang.
            “Oh iya, minggu depan kita mau camping. Gimana kalo lo gabung?” tawar Reza yang di iyakan oleh Adam.
***
            Satu minggu kemudian, seperti yang sudah di rencanakan. Mereka melakukan camping ceria di Cibodas. Reza, Ralin, Oskar, Safina dan Adam. Semua sudah tahu jika si Adam dan Safina sudah jadian di New Zeland, itu membuat mereka iri. Namun turut berbahagia atas keduanya. Reza dan Ralin masih malu-malu dan canggung karena pengakuan Ralin tapi Oskar selalu di tengah-tengah mereka.
            Akhirnya mereka memutuskan, bahwa camping ini sebagai kembalinya persahabatan Reza, Ralin, Oskar, dan Safina dan berdamainya Reza dan Adam sekaligus jadiannya Safina dan Adam, jadi waktu harus di maksimalkan untuk seru-seruan.
            Di mulai dari mendirikan dua tenda, membuat api unggun, memasak berbequean, sampai main truth or dare. Dimana si Reza lebih sering dare, dan Adam akan selalu truth. Walaupun Adam dan Reza berdamai namun jiwa saingan mereka masih melekat, terbukti dari berbagai permainan mereka menjadi rival dan bersaing ketat lalu di akhiri tawa dari kelimanya.
            Sampai tengah malam, mereka masih di depan api unggun, kini Adam mulai memetikkan gitar kesayangannya, menyanyikan lagu-lagu mellow lalu diikuti oleh kelimanya yang ikutan bernyanyi. Mereka menghabiskan malam sambil terus bermain.
            Kini semua memiliki kelegaan di hatinya masing-masing. Tidak ada tawa terpaksa atau dikulum. Semuanya tulus. Mereka lega, untuk saat ini semua masalah yang berlarut telah terpecahkan. Mereka membawa suasana hangat di tengah dinginnya pegunungan—sesuatu yang jarang terjadi—setelah sekian lama, di malam cerah, di dinginnya Puncak, Bogor, di antara cahaya kuning api unggun, merajut asa.

T A M A T

PS: Uwaaa… akhirnya bisa menyelesaikan cerbung ini setelah beberapa kali buntu, dengan ending yang harus bagaimana. Hehe, tunggu cerita cerita saya selanjutnya. Terimakasih sudah membaca. Gomawoyo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar