THREE
PRINCESS AND THREE SCOUT BOY (Modern Version)
Di
adaptasi dari kisah fantasi sebelumnya
OST.
Haruka Kanata—Naruto Asian Kung-Fu
O’Hara
POV
Musim panas berlalu.
Berlalu pula masa membusuk di rumah. Ah, tak ada tempat lain yang harus di tuju
kalau bukan sekolah. Membolos, lalu kemana tujuannya? Tak ada. Karena kau hanya
mengenal lingkungan sekolahmu. Kau tak mengenal dunia luar. Beginilah nasib
orang yang tak punya siapa siapa selain sekolah.
***
Pagi
ini ku lalui hari awal masuk dengan perasaan biasa saja. Dengan malas ku
selempangkan tas dan buru-buru berangkat dan melewatkan sarapanku. Dengan masih menguncir rambut sambil berjalan
lalu memakai sepatu dan bergegas menuju halte terdekat. Seperti biasa, aku
mulai memasang headphone di telingaku
sambil menanti sampai di sekolah. Tiba-tiba sesuatu menggangguku.
“….”
Seseorang lelaki dengan memakai seragam yang sama sepertinya tengah mengajakku
mengobrol, namun karena aku mendengarkan music jadinya gak kedengeran. Aku hanya
terbengong melihatnya mengoceh. Sepertinya ia mulai naik darah dan melepas headphoneku kasar. Aku pun melotot.
“Ah,
pantas saja kau mengabaikanku.” Seorang ini sok akrab.
“Siapa?”
sahutku ketus.
“Hey,
kita berasal dari sekolah yang sama. Apa aku salah kalau menyapamu dengan
baik?” katanya.
“Salah
besar, karena aku tak mengenalmu.”
“Hari
setelah liburan kenaikan kelas. Liburan musim panas yang panjang. Siapa tahu
nanti kita sekelas? Hehe ya kan?” ia mengedipkan matanya padaku. Aku merasa
risih dan ingin segera pergi dari orang ini.
“Oh
iya, nama ku Klerent. Siapa namamu?” Tanya nya lagi.
“Dasar
cerewet!” jawabku, lalu segera beranjak karena bus sudah berhenti di halte
sekolah. Sepertinya ia mengikutiku. Sampai di koridor kelas-kelas, ia masih
mengikutiku. Aku merasa kesal dan berbalik ke arahnya.
“Hey!
Kau sengaja mengikutiku ya?” nadaku meninggi, membuat beberapa orang melihat
kami.
“Hah?
Dasar GR. Aku mau ke aula, melihat pengumuman kelas. Dasar!” ia pun tersenyum
licik. Sukses. Ia membuaku malu. Awas saja.
Setelah
aku melihat namaku. Aku pun langsung menuju kelas dan mencari bangku strategis
mumpung masih pagi, pasti masih sedikit siswa yang datang. Sesampainya di
kelas, benar saja. Aku pun telah mengincar bangku di belakang dekat jendela. Saat
hendak menaruh tas, tiba-tiba orang lain mendorongku dan duduk dengan sengaja.
Saat melihat orangnya, aku begitu terkejut. Dia yang tadi membuatku kesal.
“Maaf,
tapi aku duluan sampai sini dan aku sudah duduk di sini.” Karena malas
berdebat, aku pun mengalah dan sempat ingin menonjoknya tapi hanya bercanda, lalu
dengan malas ku tarik kursi di sebelahnya dan menaruh tasku.
***
Aurelia
POV
Hari
masuk pertama dan menjadi awal untuk perubahan kelas baru, setelah kenaikan
kelas. Antara senang dan sedih. Senang karena bisa naik kelas dengan nilai
memuaskan dan akan merasakan atmosfer baru. Sedih karena harus berpisah dengan
beberapa teman lama, semoga bisa sekelas lagi.
Aku
mulai berdandan, dengan gaya se segar mungkin, karena ini adalah hari pertama
dan tak ingin merusak atau membuatku menjadi badmood. Ku gerai rambut panjangku. Lalu memakai tas dan membawa beberapa buku. Tak lupa kacamata,
yang biasa ku gunakan saat membaca saja.
Karena
rumah ku tak begitu jauh, aku hanya cukup berjalan kaki dari rumah. Pagi yang
cerah untuk sebuah awal yang baru. Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Sampai
di persimpangan jalan aku melihat seseorang yang tak ingin ku lihat di hari
pertama. Lalu aku berhenti, karena ingin tahu apa reaksinya melihatku kali ini.
Ia sangat terkejut dan bersusah payah berpaling, lalu ia melewatiku saja dan
seolah-olah tak mengenalku. Ya, aku paham dengan itu. Mungkin dia butuh waktu.
Kristopher,
lelaki yang satu bulan lalu terpaksa ku tolak, karena aku benar-benar tak ada
perasaan dengannya. Apalagi kita sekelas. Lagi pula, aku masih ingin konsen ke
pelajaran, kalau sampai nilaiku turun. Ayahku dan ibuku pasti marah besar. Ah,
aku sangat merasa bersalah padanya. Aku tak berharap bisa sekelas lagi
dengannya.
Lalu
ku lanjutkan perjalananku ke sekolah. Aku sengaja berhenti lama agar Kristof
bisa jauh di depanku dan tak perlu melihatku. Aku pun menuju aula untuk
mengetahui kelasku.
Mataku
mulai berkeliaran mencari nama ku di kelas 2. Sampai akhirnya mataku berhenti
dan tertuju pada kelas 2.2, yah itu namaku, Aurelia. Lalu aku berbalik dan bamm! Aku menabrak seseorang.
“…”
aku tercengang. Ia hanya mengangkat satu alisnya.
“Apa
kau tak apa?” tanyanya.
“Ya.
Tentu.” Sahutku cepat dan menghindar.
“Kalau
kau terus seperti itu, mungkin kau akan kesusahan untuk hari hari berikutnya,
Aurel.” Aku hanya bisa menahan nafasku, sembari mencerna omongannya.
“Iya,
kita satu kelas lagi nona Aurelia Johnson. Selamat ya, karena kau harus
berhadapan lagi denganku. Lelaki yang kau tolak saat liburan musim panas tiba.”
Katanya dengan santai, aku hanya terperangah, tak tahu harus berbuat apa. Lalu
ia pergi meninggalkanku yang masih mematung.
***
Zoey
POV
Setelah sarapan
di rumah kosku, aku bergegas untuk pergi ke sekolah. Tak lupa ku beri makan
anjingku yang ku titipkan pada Nenek Nini yang punya kosan ini.
“Nenek!
Aku pergi dulu. Jangan lupa jaga anjingku!” sapaku riang pada nenek. Ia pun
membalas dengan senyum dan anggukan.
Lalu
aku mulai berjalan kaki melewati gang gang sempit di lingkungan kosku. Karena
aku berasal dari luar kota, sehingga aku harus hidup sendiri di kota orang
untuk belajar. Tapi aku telah melewati ini satu tahun, kini aku sudah naik di
kelas dua semoga lancar semuanya.
Tak
ada yang special denganku, layaknya seperti anak kos biasanya saja. Tapi aku
tak cupu, seperti yang biasanya orang bayangkan. Aku bahkan anti berdandan
cupu. Meskipun aku orang desa yang jauh dari kota, aku bisa cukup modis. Hehe,
itu karena aku suka membaca majalah mode. Aku berharap kali ini bisa sekelas
dengan anak-anak yang asik dan gak mebosankan.
Setibanya
di sekolah, aku berhenti sejenak lalu menatap gedung sekolahku. Sudah susah
payah agar aku bisa sekolah disini, tak ingin mengecewakan orang tuaku dan
mulai bersemangat mencari ilmu. Tiba-tiba saat asik melamun, seseorang
menabrakku.
“Bruk!” seseorang sseperti habis berlari
dan ketakutan.
“Eh,
maaf maaf gak sengaja. Sekali lagi maafkan aku.” Aku hanya melihat
penampilannya, dari bawah ujung sepatu sampai atas ujung rambutnya. Lelaki ini
terlihat… cupu.
“Kau
tak apa kan? Aku minta maaf.” Katanya lagi, ia hanya bisa menundukkan kepala
saat aku memerhatikannya.
“Aku
gak pa-pa kok. Tapi, sepertinya kau ada… masalah, atau apa?” kataku penasaran
dengan sikapnya.
“Eh,
enggak kok. Aku baik-baik saja hanya buru-buru, takut terlat.” Katanya langsung
bersikap biasa saja, lalu mulai beranjak.
“Stop!”
kataku tiba-tiba.
“Sepertinya
kau tak asing. Dari kelas apa dulu?”
“Ahh,
aku.. dulu kelas 1.1.” ia malah menjawab terbata-bata, aneh sekali. Sekarang
aku ingat, kelasnya berada tepat di sebelahku. Menurut rumor anak ini memang
cupu, lalu aku mengangguk dan dia permisi untuk duluan.
Aku
lalu menuju ke aula untuk mengetahui kelasku berada.
Sesampainya di aula, suasana mulai sepi. Terang saja
ini sudah hampir masuk kelas, aku mulai melakukan pencarian dengan menggunakan
jari telunjukku. Dan, yah ku temukan diriku di kelas 2.2, sejenak aku tak
sadar, ada tangan lain yang juga menunjuk namanya, seketika itu aku menoleh,
“Kau!”
To be continue.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar