Sabtu, 05 November 2016

Moderen Versions (TPTSB) part 1



THREE PRINCESS AND THREE SCOUT BOY (Modern Version)
Di adaptasi dari kisah fantasi sebelumnya
OST. Haruka Kanata—Naruto Asian Kung-Fu


O’Hara POV
Musim panas berlalu. Berlalu pula masa membusuk di rumah. Ah, tak ada tempat lain yang harus di tuju kalau bukan sekolah. Membolos, lalu kemana tujuannya? Tak ada. Karena kau hanya mengenal lingkungan sekolahmu. Kau tak mengenal dunia luar. Beginilah nasib orang yang tak punya siapa siapa selain sekolah.
***
            Pagi ini ku lalui hari awal masuk dengan perasaan biasa saja. Dengan malas ku selempangkan tas dan buru-buru berangkat dan melewatkan sarapanku.  Dengan masih menguncir rambut sambil berjalan lalu memakai sepatu dan bergegas menuju halte terdekat. Seperti biasa, aku mulai memasang headphone di telingaku sambil menanti sampai di sekolah. Tiba-tiba sesuatu menggangguku. 

            “….” Seseorang lelaki dengan memakai seragam yang sama sepertinya tengah mengajakku mengobrol, namun karena aku mendengarkan music jadinya gak kedengeran. Aku hanya terbengong melihatnya mengoceh. Sepertinya ia mulai naik darah dan melepas headphoneku kasar. Aku pun melotot.
            “Ah, pantas saja kau mengabaikanku.” Seorang ini sok akrab.
            “Siapa?” sahutku ketus.
            “Hey, kita berasal dari sekolah yang sama. Apa aku salah kalau menyapamu dengan baik?” katanya.
            “Salah besar, karena aku tak mengenalmu.”
            “Hari setelah liburan kenaikan kelas. Liburan musim panas yang panjang. Siapa tahu nanti kita sekelas? Hehe ya kan?” ia mengedipkan matanya padaku. Aku merasa risih dan ingin segera pergi dari orang ini.
            “Oh iya, nama ku Klerent. Siapa namamu?” Tanya nya lagi.
            “Dasar cerewet!” jawabku, lalu segera beranjak karena bus sudah berhenti di halte sekolah. Sepertinya ia mengikutiku. Sampai di koridor kelas-kelas, ia masih mengikutiku. Aku merasa kesal dan berbalik ke arahnya.
            “Hey! Kau sengaja mengikutiku ya?” nadaku meninggi, membuat beberapa orang melihat kami.
            “Hah? Dasar GR. Aku mau ke aula, melihat pengumuman kelas. Dasar!” ia pun tersenyum licik. Sukses. Ia membuaku malu. Awas saja.
            Setelah aku melihat namaku. Aku pun langsung menuju kelas dan mencari bangku strategis mumpung masih pagi, pasti masih sedikit siswa yang datang. Sesampainya di kelas, benar saja. Aku pun telah mengincar bangku di belakang dekat jendela. Saat hendak menaruh tas, tiba-tiba orang lain mendorongku dan duduk dengan sengaja. Saat melihat orangnya, aku begitu terkejut. Dia yang tadi membuatku kesal.
            “Maaf, tapi aku duluan sampai sini dan aku sudah duduk di sini.” Karena malas berdebat, aku pun mengalah dan sempat ingin menonjoknya tapi hanya bercanda, lalu dengan malas ku tarik kursi di sebelahnya dan menaruh tasku.
***
Aurelia POV
            Hari masuk pertama dan menjadi awal untuk perubahan kelas baru, setelah kenaikan kelas. Antara senang dan sedih. Senang karena bisa naik kelas dengan nilai memuaskan dan akan merasakan atmosfer baru. Sedih karena harus berpisah dengan beberapa teman lama, semoga bisa sekelas lagi.
            Aku mulai berdandan, dengan gaya se segar mungkin, karena ini adalah hari pertama dan tak ingin merusak atau membuatku menjadi badmood. Ku gerai rambut panjangku. Lalu memakai tas dan  membawa beberapa buku. Tak lupa kacamata, yang biasa ku gunakan saat membaca saja.
            Karena rumah ku tak begitu jauh, aku hanya cukup berjalan kaki dari rumah. Pagi yang cerah untuk sebuah awal yang baru. Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Sampai di persimpangan jalan aku melihat seseorang yang tak ingin ku lihat di hari pertama. Lalu aku berhenti, karena ingin tahu apa reaksinya melihatku kali ini. Ia sangat terkejut dan bersusah payah berpaling, lalu ia melewatiku saja dan seolah-olah tak mengenalku. Ya, aku paham dengan itu. Mungkin dia butuh waktu.

            Kristopher, lelaki yang satu bulan lalu terpaksa ku tolak, karena aku benar-benar tak ada perasaan dengannya. Apalagi kita sekelas. Lagi pula, aku masih ingin konsen ke pelajaran, kalau sampai nilaiku turun. Ayahku dan ibuku pasti marah besar. Ah, aku sangat merasa bersalah padanya. Aku tak berharap bisa sekelas lagi dengannya.
            Lalu ku lanjutkan perjalananku ke sekolah. Aku sengaja berhenti lama agar Kristof bisa jauh di depanku dan tak perlu melihatku. Aku pun menuju aula untuk mengetahui kelasku.
            Mataku mulai berkeliaran mencari nama ku di kelas 2. Sampai akhirnya mataku berhenti dan tertuju pada kelas 2.2, yah itu namaku, Aurelia. Lalu aku berbalik dan bamm! Aku menabrak seseorang.
            “…” aku tercengang. Ia hanya mengangkat satu alisnya.
            “Apa kau tak apa?” tanyanya.
            “Ya. Tentu.” Sahutku cepat dan menghindar.
            “Kalau kau terus seperti itu, mungkin kau akan kesusahan untuk hari hari berikutnya, Aurel.” Aku hanya bisa menahan nafasku, sembari mencerna omongannya.
            “Iya, kita satu kelas lagi nona Aurelia Johnson. Selamat ya, karena kau harus berhadapan lagi denganku. Lelaki yang kau tolak saat liburan musim panas tiba.” Katanya dengan santai, aku hanya terperangah, tak tahu harus berbuat apa. Lalu ia pergi meninggalkanku yang masih mematung.
***
Zoey POV
            Setelah sarapan di rumah kosku, aku bergegas untuk pergi ke sekolah. Tak lupa ku beri makan anjingku yang ku titipkan pada Nenek Nini yang punya kosan ini.
            “Nenek! Aku pergi dulu. Jangan lupa jaga anjingku!” sapaku riang pada nenek. Ia pun membalas dengan senyum dan anggukan.
            Lalu aku mulai berjalan kaki melewati gang gang sempit di lingkungan kosku. Karena aku berasal dari luar kota, sehingga aku harus hidup sendiri di kota orang untuk belajar. Tapi aku telah melewati ini satu tahun, kini aku sudah naik di kelas dua semoga lancar semuanya.
            Tak ada yang special denganku, layaknya seperti anak kos biasanya saja. Tapi aku tak cupu, seperti yang biasanya orang bayangkan. Aku bahkan anti berdandan cupu. Meskipun aku orang desa yang jauh dari kota, aku bisa cukup modis. Hehe, itu karena aku suka membaca majalah mode. Aku berharap kali ini bisa sekelas dengan anak-anak yang asik dan gak mebosankan.
            Setibanya di sekolah, aku berhenti sejenak lalu menatap gedung sekolahku. Sudah susah payah agar aku bisa sekolah disini, tak ingin mengecewakan orang tuaku dan mulai bersemangat mencari ilmu. Tiba-tiba saat asik melamun, seseorang menabrakku. 

            Bruk!” seseorang sseperti habis berlari dan ketakutan.
            “Eh, maaf maaf gak sengaja. Sekali lagi maafkan aku.” Aku hanya melihat penampilannya, dari bawah ujung sepatu sampai atas ujung rambutnya. Lelaki ini terlihat…  cupu.
            “Kau tak apa kan? Aku minta maaf.” Katanya lagi, ia hanya bisa menundukkan kepala saat aku memerhatikannya.
            “Aku gak pa-pa kok. Tapi, sepertinya kau ada… masalah, atau apa?” kataku penasaran dengan sikapnya.
            “Eh, enggak kok. Aku baik-baik saja hanya buru-buru, takut terlat.” Katanya langsung bersikap biasa saja, lalu mulai beranjak.
            “Stop!” kataku tiba-tiba.
            “Sepertinya kau tak asing. Dari kelas apa dulu?”
            “Ahh, aku.. dulu kelas 1.1.” ia malah menjawab terbata-bata, aneh sekali. Sekarang aku ingat, kelasnya berada tepat di sebelahku. Menurut rumor anak ini memang cupu, lalu aku mengangguk dan dia permisi untuk duluan.
            Aku lalu menuju ke aula untuk mengetahui kelasku berada.
Sesampainya di aula, suasana mulai sepi. Terang saja ini sudah hampir masuk kelas, aku mulai melakukan pencarian dengan menggunakan jari telunjukku. Dan, yah ku temukan diriku di kelas 2.2, sejenak aku tak sadar, ada tangan lain yang juga menunjuk namanya, seketika itu aku menoleh,
            “Kau!” 
To be continue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar