THREE
PRINCESS AND THREE SCOUT BOY (Modern Version)
Di
adaptasi dari kisah fantasi sebelumnya
OST.
Haruka Kanata—Naruto Asian Kung-Fu
Author
POV
Sebuah
kisah yang terjadi berbarengan dalam satu waktu membuat kisah ini berlanjut.
Tak ada yang pernah sengaja untuk membuat sekenario ini kecuali penulis.
Semuanya justru tak ingin terlibat dalam kisah ini, tapi penulis beranggapan
ini adalah takdir. Bukan suatu kebetulan belaka yang mereka fikir. Mereka akan
mengerti apa itu takdir setelah melewatinya bukan? Itu juga yang penulis
tekankan.
O’Hara
memasang wajah kecut, dengan mata yang menatap orang di sebelah nya tajam, ia
melipat kedua tangannya di dada. Sementara orang yang mebuatnya kesal malah
tengah asyik bermain handphone. Entah
apa yang O’Hara rapalkan sampai-sampai membuat wajahnya sangat kaku, mungkin
dendam kesumat. Sejenak lalu Klerent menoleh dan ia hanya tertawa bodoh saja.
Di
sisi lain, Aurelia yang mengetahui akan sekelas lagi dengan Kristof merasa tak mood sekali untuk masuk kelas. Karena ia
tahu, Kristof telah ada di sana duluan. Ia gak pernah bayangkan untuk
berhadapan lagi dengannya. Akhirnya, dengan perasaan yang campur aduk, Aurelia
memilih siasat untuk mencari bangku yang jauh jangkauannya dengan Kristof.
Benar
saja, ia melihat Kristof telah duduk di bangku belakang, tepat di depan
Klerent. Sepertinya mereka berdua terlihat sangat akrab dan bercengkrama.
Akhirnya Aurelia memilih duduk di bangku pojok depan sendiri.
Zoey
dan Kevin berjalan bersama menuju ke kelas. Karena sepertinya mereka akan
terlambat masuk kelas. Kedua-dua nya yang terlihat biasa saja menandakan bahwa
kalau terlambat adalah makanan sehari-harinya. Mereka pun hanya saling diam
sesekali mengawasi gerak gerik satu sama lain menganalisa. Saat keduanya
sampai, terang saja. Guru wali kelas telah berada di dalam, seperti biasa
mereka punya seribu dalih. Karena hari pertama masuk, akhirnya mereka lolos
dari hukuman. Dan menuju bangku yang kosong. Hanya saja mereka tak dapat
memilih bangku karena terlambat. Dan itu sama sekali bukan masalah. Kevin duduk
di depan O’Hara dan Zoey duduk di samping O’Hara. O’Hara hanya mengawasi Zoey
dan Kevin yang saling lempar pandang, lalu tertawa.
***
Hari-hari
di awal kelas 2 adalah bahwa kenyataan tugas yang terus membabi buta. Tak
seperti saat kelas 1 yang masih di dampingi saat guru memberi tugas pun
cenderung mudah. Namun di kelas 2, siswa di harapkan untuk lebih mandiri. Di
samping tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya agar berprestasi juga
kegamangan dan kenakalan kenakalan mereka juga tak terkendali. Khus usnya kelas
2.2. seperti O’Hara yang masih saja sering bersinggungan dengan Klerent yang
membuat keributan saat suasana sepi, dll. Atau Aurelia wakil ketua kelas yang selalu di suruh-suruh oleh sang ketua
kelas—Kristof. atau nasib Kevin yang kadang-kadang di bully oleh Zoey karena ke anehannya. Atau dengan tak sengajanya si
Klerent, Kristof, dan Kevin yang sering bersama-sama terlibat perkelahian
dengan Orlan CS yang merasa sok kuasa di kelas ini. Aurelia dan Zoey yang
dulunya satu kelas juga sering bareng kemudian O’Hara bergabung dengan mereka
karena ia duduk di dekat Zoey sehingga mereka menjadi akrab. Mereka bertiga
juga kerap ngomongin trio cs. Klerent, Kristof, dan Kevin karena masing-masing
memiliki problema dengan mereka.
Hingga
suatu hari, bu Barbara, wali kelas mereka yang notabenenya adalah guru Bahasa
Inggris, memberi mereka tugas kelompok. Akan ada 6 orang setiap satu kelompok.
Bu Barbara mulai membacakan nama siswa perkelompok.
“Kemudian
untuk kelompok 3, terdiri dari Kristof, Kevin…” mereka berdua saling bertatapan
tak masalah.
“O’Hara…”
lanjut bu Barbara. O’Hara menggiggit bibir bawahnya. Ia merasa was was.
“Zoey..”
keduanya ber tatapan.
“Klerent…
dan Aurelia.”
“Mampus!”
reflex O’Hara menggebrak meja, membuat seisi kelas tertuju padanya.
“Anggota
kelompok tak dapat di ubah dan di ganggu gugat. Waktu membuat tugas ini adalah
tiga bulan. Karena ini adalah tugas adverstisement
jadi ibu harapkan kalian bisa bekerja sama dengan sebuah perusahaan, dan
kalian yang membuat iklan itu dengan bahasa inggris yang baik.” Tak ada
tanggapan lain dari seluruh siswa, hanya muka pucat pasi dari beberapa orang
saja. Mereka baru saja tertimpa musibah—berkelompok dengan para musuh
bebuyutan.
***
Jam
pulang sekolah. O’Hara yang notabenenya
keras dengan otoritas penuh—mengalahkan si Aurelia bahkan Kristof untuk
mengoordinir mereka berkumpul. Kini terlihat dari raut wajah mereka yang
ogah-ogahan untuk berkumpul. Namun, Aurelia mengambil alih pimpinan dengan
mulai menceritakan konsep apa yang akan di usung.
“Ya,
mengesampingkan dendam pribadi aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.
Mohon kerja sama dan sama kerjanya ya?” ucap Aurelia se manis mungkin. Namun,
Kristof hanya mendecih sedangkan yang lain hanya diam dan seakan berfikir. Kali
ini Zoey dan Kevin angkat suara.
“Ya,
aku harap kita kesampingkan dulu deh masalah kita dan mulai bekerja menggarap
tugas ini. Karena sepertinya ini lumayan sulit.” Zoey merasa khawatir dengan
nilainya.
“Kalian
tujuh belas tahun ke atas kan? Ya, sudah waktunya lah kita belajar dewasa. Aku
harap kalian bisa professional, bukan kalian tapi aku juga.” Kevin berkata sok
bijak dengan kata-kata ajaibnya yang gak semua orang tahu. Mereka semua sedikit
tercengang.
“what happen guys?” menyadari yang lain
bengong Kevin menjadi salah tingkah.
“Ahh,
ini benar-benar berat. Aku bisa terima. Tapi dengan dia!” O’Hara menunjuk
Klerent. “… benar-benar… ishh..” ia menggeleng gelengkan kepalanya.
“Yee,
siapa juga yang mau sekelompok sama nenek sihir!” sahut Klerent tak terima.
“O’Hara!
Klerent! Sudahlah, toh Cuma tiga bulan ini. Itupun kan gak tiap hari. Ya?” Zoey
mencoba meyakinkan mereka untuk mengesampingkan masalah pribadi.
“Oke
kalau begitu kita lanjutkan besok saja sepulang sekolah di kafe atau taman gitu
biar gak sumpek.” Usul Aurelia.
“Ya
sudah, besok ke kedai kopi pamanku saja. Kita bisa bebas berlama-lama di sana.
Kalau mau.” Usul Kristof
“Oke
setuju. Sudah aku pulang dulu.” Klerent beranjak dan pergi. Semua pun setuju
untuk rapat di kedai kopi milik paman Kristof, dan membubarkan diri.
Kini
tinggal O’Hara, Aurelia, dan Zoey yang baru beranjak pulang. Mereka berjalan
keluar bersama sambil bincang-bincang.
“Oh
ya, O’Hara. Apa kau segitu bencinya sih sama Klerent? Hati-hati. Nanti… suka
loh. Hahha.” Aurelia dan Zoey tertawa cekikikan. Sedangkan O’Hara hanya manyun.
“Yeh,
gak bakal lah. Orang dia ngeselin. Siapa yang gak kesel, liat mukanya aja
rasanya pengen nabok.” O’Hara berapi-api.
“Cie,
pengen nabok apa pengen ngelus-ngelus.” Ejek Zoey, ia langsung berlari
mengganden Aurelia. O’Hara yang tak terima mengejarnya.
Mereka
pun berakhir di gerbang sekolah dengan canda tawa yang mereka ciptakan. O’Hara
berpisah karena ia menaiki bus. Lalu Zoey dan Aurelia memutuskan untuk berjalan
pulang bersama. Karena mereka satu jalan.
“Eh,
by the way apa kau masih terlibat
dengan Kristof? kok sepertinya dia gak enak gitu melihatmu.”
“Ah,
entahlah Zoey. Aku juga pusing. Aku harus berbuat apa? Bahkan kau tahu sekarang
aku sungguh seperti budak olehnya. Apa ia tak bisa melupakanku. Karena aku
sungguh tak ada perasaan dengannya Zoey.”
“Apa
kau tak bisa membuka hati dengannya. Ku lihat kau nyaman saja kala selalu
berdua dengannya.”
“Sudah
ku coba. Tapi malah aku yang tak nyaman. Seakan diriku memaksa. Lalu apa yang
harus ku lakukan? Ia makin semena-mena padaku. Aku malah bisa membencinya kalau
sikapnya terus-terusan seperti itu Zoey.
“Eng..
ya udah sabar aja Aurelia. Kau tahu, kau hanya perlu bersikap biasa saja dan
jangan terlihat memberinya harapan kalau kau tak ingin itu. Kalau kau merasa ia
berbuat semena-mena seharusnya kau bisa menolak.”
“Iya
Zoey. Makasih ya. Tapi, aku benar-benar merasa bersalah dan gak bisa menolak
apapun keinginannya Zoey, kecuali menolak perasaannya.”
“Ahh
seperti itu. Oh ya, jangan lupa besok ya. Pokok semangat terus sekolahnya.
Oke?” Zoey pun berbelok menghilang di persimpangan. Aurelia melambaikan tangannya
dan berjalan lurus menuju rumahnya.
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar