Minggu, 06 November 2016

TPTSB Part 2





THREE PRINCESS AND THREE SCOUT BOY (Modern Version)
Di adaptasi dari kisah fantasi sebelumnya
OST. Haruka Kanata—Naruto Asian Kung-Fu


Author POV
            Sebuah kisah yang terjadi berbarengan dalam satu waktu membuat kisah ini berlanjut. Tak ada yang pernah sengaja untuk membuat sekenario ini kecuali penulis. Semuanya justru tak ingin terlibat dalam kisah ini, tapi penulis beranggapan ini adalah takdir. Bukan suatu kebetulan belaka yang mereka fikir. Mereka akan mengerti apa itu takdir setelah melewatinya bukan? Itu juga yang penulis tekankan.
            O’Hara memasang wajah kecut, dengan mata yang menatap orang di sebelah nya tajam, ia melipat kedua tangannya di dada. Sementara orang yang mebuatnya kesal malah tengah asyik bermain handphone. Entah apa yang O’Hara rapalkan sampai-sampai membuat wajahnya sangat kaku, mungkin dendam kesumat. Sejenak lalu Klerent menoleh dan ia hanya tertawa bodoh saja.
            Di sisi lain, Aurelia yang mengetahui akan sekelas lagi dengan Kristof merasa tak mood sekali untuk masuk kelas. Karena ia tahu, Kristof telah ada di sana duluan. Ia gak pernah bayangkan untuk berhadapan lagi dengannya. Akhirnya, dengan perasaan yang campur aduk, Aurelia memilih siasat untuk mencari bangku yang jauh jangkauannya dengan Kristof.
            Benar saja, ia melihat Kristof telah duduk di bangku belakang, tepat di depan Klerent. Sepertinya mereka berdua terlihat sangat akrab dan bercengkrama. Akhirnya Aurelia memilih duduk di bangku pojok depan sendiri.
            Zoey dan Kevin berjalan bersama menuju ke kelas. Karena sepertinya mereka akan terlambat masuk kelas. Kedua-dua nya yang terlihat biasa saja menandakan bahwa kalau terlambat adalah makanan sehari-harinya. Mereka pun hanya saling diam sesekali mengawasi gerak gerik satu sama lain menganalisa. Saat keduanya sampai, terang saja. Guru wali kelas telah berada di dalam, seperti biasa mereka punya seribu dalih. Karena hari pertama masuk, akhirnya mereka lolos dari hukuman. Dan menuju bangku yang kosong. Hanya saja mereka tak dapat memilih bangku karena terlambat. Dan itu sama sekali bukan masalah. Kevin duduk di depan O’Hara dan Zoey duduk di samping O’Hara. O’Hara hanya mengawasi Zoey dan Kevin yang saling lempar pandang, lalu tertawa.
***
            Hari-hari di awal kelas 2 adalah bahwa kenyataan tugas yang terus membabi buta. Tak seperti saat kelas 1 yang masih di dampingi saat guru memberi tugas pun cenderung mudah. Namun di kelas 2, siswa di harapkan untuk lebih mandiri. Di samping tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya agar berprestasi juga kegamangan dan kenakalan kenakalan mereka juga tak terkendali. Khus usnya kelas 2.2. seperti O’Hara yang masih saja sering bersinggungan dengan Klerent yang membuat keributan saat suasana sepi, dll. Atau Aurelia wakil ketua kelas yang  selalu di suruh-suruh oleh sang ketua kelas—Kristof. atau nasib Kevin yang kadang-kadang di bully oleh Zoey karena ke anehannya. Atau dengan tak sengajanya si Klerent, Kristof, dan Kevin yang sering bersama-sama terlibat perkelahian dengan Orlan CS yang merasa sok kuasa di kelas ini. Aurelia dan Zoey yang dulunya satu kelas juga sering bareng kemudian O’Hara bergabung dengan mereka karena ia duduk di dekat Zoey sehingga mereka menjadi akrab. Mereka bertiga juga kerap ngomongin trio cs. Klerent, Kristof, dan Kevin karena masing-masing memiliki problema dengan mereka.
            Hingga suatu hari, bu Barbara, wali kelas mereka yang notabenenya adalah guru Bahasa Inggris, memberi mereka tugas kelompok. Akan ada 6 orang setiap satu kelompok. Bu Barbara mulai membacakan nama siswa perkelompok.
            “Kemudian untuk kelompok 3, terdiri dari Kristof, Kevin…” mereka berdua saling bertatapan tak masalah.
            “O’Hara…” lanjut bu Barbara. O’Hara menggiggit bibir bawahnya. Ia merasa was was.
            “Zoey..” keduanya ber tatapan.
            “Klerent… dan Aurelia.”
            “Mampus!” reflex O’Hara menggebrak meja, membuat seisi kelas tertuju padanya.
            “Anggota kelompok tak dapat di ubah dan di ganggu gugat. Waktu membuat tugas ini adalah tiga bulan. Karena ini adalah tugas adverstisement jadi ibu harapkan kalian bisa bekerja sama dengan sebuah perusahaan, dan kalian yang membuat iklan itu dengan bahasa inggris yang baik.” Tak ada tanggapan lain dari seluruh siswa, hanya muka pucat pasi dari beberapa orang saja. Mereka baru saja tertimpa musibah—berkelompok dengan para musuh bebuyutan.
***
            Jam pulang sekolah. O’Hara yang notabenenya keras dengan otoritas penuh—mengalahkan si Aurelia bahkan Kristof untuk mengoordinir mereka berkumpul. Kini terlihat dari raut wajah mereka yang ogah-ogahan untuk berkumpul. Namun, Aurelia mengambil alih pimpinan dengan mulai menceritakan konsep apa yang akan di usung.
            “Ya, mengesampingkan dendam pribadi aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Mohon kerja sama dan sama kerjanya ya?” ucap Aurelia se manis mungkin. Namun, Kristof hanya mendecih sedangkan yang lain hanya diam dan seakan berfikir. Kali ini Zoey dan Kevin angkat suara.
            “Ya, aku harap kita kesampingkan dulu deh masalah kita dan mulai bekerja menggarap tugas ini. Karena sepertinya ini lumayan sulit.” Zoey merasa khawatir dengan nilainya.
            “Kalian tujuh belas tahun ke atas kan? Ya, sudah waktunya lah kita belajar dewasa. Aku harap kalian bisa professional, bukan kalian tapi aku juga.” Kevin berkata sok bijak dengan kata-kata ajaibnya yang gak semua orang tahu. Mereka semua sedikit tercengang.
            what happen guys?” menyadari yang lain bengong Kevin menjadi salah tingkah.
            “Ahh, ini benar-benar berat. Aku bisa terima. Tapi dengan dia!” O’Hara menunjuk Klerent. “… benar-benar… ishh..” ia menggeleng gelengkan kepalanya.
            “Yee, siapa juga yang mau sekelompok sama nenek sihir!” sahut Klerent tak terima.
            “O’Hara! Klerent! Sudahlah, toh Cuma tiga bulan ini. Itupun kan gak tiap hari. Ya?” Zoey mencoba meyakinkan mereka untuk mengesampingkan masalah pribadi.
            “Oke kalau begitu kita lanjutkan besok saja sepulang sekolah di kafe atau taman gitu biar gak sumpek.” Usul Aurelia.
            “Ya sudah, besok ke kedai kopi pamanku saja. Kita bisa bebas berlama-lama di sana. Kalau mau.” Usul Kristof
            “Oke setuju. Sudah aku pulang dulu.” Klerent beranjak dan pergi. Semua pun setuju untuk rapat di kedai kopi milik paman Kristof, dan membubarkan diri.
            Kini tinggal O’Hara, Aurelia, dan Zoey yang baru beranjak pulang. Mereka berjalan keluar bersama sambil bincang-bincang.
            “Oh ya, O’Hara. Apa kau segitu bencinya sih sama Klerent? Hati-hati. Nanti… suka loh. Hahha.” Aurelia dan Zoey tertawa cekikikan. Sedangkan O’Hara hanya manyun.
            “Yeh, gak bakal lah. Orang dia ngeselin. Siapa yang gak kesel, liat mukanya aja rasanya pengen nabok.” O’Hara berapi-api.
            “Cie, pengen nabok apa pengen ngelus-ngelus.” Ejek Zoey, ia langsung berlari mengganden Aurelia. O’Hara yang tak terima mengejarnya.
            Mereka pun berakhir di gerbang sekolah dengan canda tawa yang mereka ciptakan. O’Hara berpisah karena ia menaiki bus. Lalu Zoey dan Aurelia memutuskan untuk berjalan pulang bersama. Karena mereka satu jalan.
            “Eh, by the way apa kau masih terlibat dengan Kristof? kok sepertinya dia gak enak gitu melihatmu.”
            “Ah, entahlah Zoey. Aku juga pusing. Aku harus berbuat apa? Bahkan kau tahu sekarang aku sungguh seperti budak olehnya. Apa ia tak bisa melupakanku. Karena aku sungguh tak ada perasaan dengannya Zoey.”
            “Apa kau tak bisa membuka hati dengannya. Ku lihat kau nyaman saja kala selalu berdua dengannya.”
            “Sudah ku coba. Tapi malah aku yang tak nyaman. Seakan diriku memaksa. Lalu apa yang harus ku lakukan? Ia makin semena-mena padaku. Aku malah bisa membencinya kalau sikapnya terus-terusan seperti itu Zoey.
            “Eng.. ya udah sabar aja Aurelia. Kau tahu, kau hanya perlu bersikap biasa saja dan jangan terlihat memberinya harapan kalau kau tak ingin itu. Kalau kau merasa ia berbuat semena-mena seharusnya kau bisa menolak.”
            “Iya Zoey. Makasih ya. Tapi, aku benar-benar merasa bersalah dan gak bisa menolak apapun keinginannya Zoey, kecuali menolak perasaannya.”
            “Ahh seperti itu. Oh ya, jangan lupa besok ya. Pokok semangat terus sekolahnya. Oke?” Zoey pun berbelok menghilang di persimpangan. Aurelia melambaikan tangannya dan berjalan lurus menuju rumahnya.

To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar