Minggu, 06 November 2016

TPTSB Part 4

Author POV
             Keesokan harinya. Seperti telah disepakati bersama, keenamnya memutuskan untuk meeting ala ala di kedai kopi paman Kristof. semuanya telah berkumpul di depan gedung sekolah. Keenamnya juga masih dengan sisa perasaan kemarin dengan pengalaman masing-masing, namun terlihat bagaimana canggungnya suasana.
            “Eem, Kris. Apa kau bisa langsung ajak kita kesana?” Tanya Zoey berusaha mencairkan suasana yang sedang sangat “canggung” itu.
            “Tentu. Ayo jalan!” Kristof memimpin dan lainnya mengikuti.
            “Eh Kevin, gimana lamaranku? Apakah aku sudah di panggil?” Zoey menyenggol Kevin yang berada di sebelahnya. Kevin menjawab dengan gugup.
            “Oh.. eh, itu… mungkin masih proses. Kau tunggu saja ya?”
            “Hem, seperti itu ya. Oke deh aku tunggu kabar darimu.” Kevin hanya menganggukkan kepala.
            Mereka semua berjalan bersama tapi tak satupun yang saling mengobrol, dengan Kristof di depan lalu diikuti oleh Zoey dan Kevin di belakangnya, Klerent yang disisi berbeda dan Aurelia dan O’Hara di paling belakang.
            “Eh, Rel. mengapa kau terlihat begitu menjauhi Kristof sih? Aku memang dengar sih rumor tentangmu dulu dengan Kevin. Apa itu benar?” O’Hara penasaran dengan kisah Aurelia.
            “Hem, yah itu benar. Dan sekarang sepertinya telah usai, jadi kau tak perlu khawatir.” Kata Aurelia menjawab dengan lesu.
            “Oh ya? Lalu mengapa kau terlihat sedih? Dan tampaknya kalian tidak sedang baik-baik saja? Apa aku salah?”
            “Entahlah, ini begitu rumit. Dia mencoba menyelesaikan sepihak. Tanpa aku.”
            “Ah, begitu ya?” tiba-tiba saja Klerent yang usil menjegal kaki O’Hara dari depan karena O’Hara tidak focus akhirnya ia hampir terjatuh, namun malah Klerent di tarik dan dua-duanya hampir terjatuh.

            “Aisshh.. dasar kau!” O’Hara memaki Klerent. Lalu Klerent membantu O’Hara berdiri.
            “Hahaha…” yang lain hanya menertawakan. Klerent hanya meringis kuda. O’Hara merasa tak terima dan memukul kepalanya.
            “Apa yang kau lakukan ha?” bentak O’Hara.
            “Yah, kau itu kepo saja dengan urusan orang lain. jadinya aku iseng.” O’Hara hanya mendelik.
            “Ciee.. ciee.. hahah.” Kelimanya kompak menertawakan.
            Karena kejadian ini akhirnya suasana menjadi cair. Bahkan mereka terlihat seperti tak ada masalah satu sama lain.
            Kali ini mereka telah berkumpul di kedai. Dimulai dengan membuat perencanaan konsep, target, proposal, dan segala tetek bengeknya. Untuk saat ini mereka benar-benar serius. Tak seperti biasanya, kali ini mereka mengesampikan egonya. Dan setelah mereka pikir-pikir, bahwa mereka yang lain tak se buruk yang selama ini mereka tahu. Mereka hanya belum saling mengenal saja.
            Hampir tiga jam mereka duduk dan saling berargumen, bahkan tak ada sesi bercanda sama sekali, Klerent yang biasanya usil ia langsung diam ketika mengamati tugas yang menurutnya sangat memusingkannya ini, karena selama ini ia tak pernah benar-benar serius. Kevin sejak awal mendominasi jalannya rapat sampai setelah itu menemukan kesepakatan bersama. Akhirnya mereka memutuskan untuk membagi tugas kelompoknya. Lalu setelah terkumpul semua data, akan di kerjakan bersama lagi.
            “Auuhh… tugas ini benar-benar payah. Melelahkan sekali.” Keluh Klerent yang terlihat mengantuk sekali.
            “Oke, kalau begitu apa sudah tentukan pembagiannya?” kata Kristof yang masih tak mudeng, lalu yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
            “Kau saja yang menjelaskan Vin.” Suruh Zoey.
            “Kan tadi sudah di kocok namanya. Lalu Aurelia yang ambil nama-namanya. Nah, bagian pertama mencari produsen produk, kebetulan nama yang keluar adalah aku dan Zoey. Kemudian kedua membuat design iklan, itu tugasnya Klerent dan O’Hara, terakhir nih. Membuat proposal dan kata-kata iklan pakai bahasa Inggris adalah kau dan Aurelia, oke? Mengerti?” Kevin menjelaskan dengan telaten. Karena Kris tadi dari belakang dan tak mengikuti kocokan ini.
            “Apa? Sama dia?”
            “Kenapa sama aku?” sergah Aurelia.
            “Gak pa-pa sih. Kau tahu kan bahasa Inggrisku lemah?”
            “Tak apa, nanti juga bisa. Makanya belajar dong!” seru Aurelia.
            “Haha, bener tuh. Aurelia kan jago bahasa Inggrisnya tuh, jadi belajar sana sama dia!” ledek Zoey.
            Setelah kesepakatan hasil kocokan itu mereka pun membubarkan diri dan pulang masing-masing. Kristof memilih untuk tetap tinggal di kedai. Kini tinggal Aurelia sendirian yang masih belum pulang, ia masih merapikan isi tasnya karena tadi buku-buku dan netbooknya ia keluarkan untuk bahan. Kris yang masih mengamatinya dari tadi pun mulai membantunya mengemasi barang-barangnya.
            “Sudah Kris. Makasih ya?” Aurelia bernada lemah.
            “Kenapa kau? Bukankah seharusnya kau senang aku tak mengganggumu lagi?” Kris memegang bahunya. Aurelia melepaskannya lalu berpaling. Tanpa berbalik ia berkata,
            “Tak ada yang terjadi. Semua memang persis seperti apa yang ku mau. Aku pulang dulu.” Aurelia berkata dingin lalu berjalan keluar. Kristof menerawang, apakah ada yang salah dengannya atau bahkan si Kristof sendiri yang tak menyadari sesuatu.
***
            Seperti biasa, O’Hara dan Klerent menaiki bus yang sama. Kalau biasanya mereka duduk berjauhan bak tak mengenal satu sama lain, entah mengapa kali ini mereka memilih duduk bersama dan bercengkrama walaupun terasa canggung.
            “Eh, selama ini kenapa sih kau membenciku?” pertanyaan to the point  Klerent membuat O’Hara keki.
            “Aish dasar anak ini! Sikap sok akrab mu ini membuatku risih.”
            “Ah seperti itu ya. Bukankah kita akan menjadi akrab, jadi kenapa enggak?” Klerent mendekatkan wajahnya pada O’Hara. O’Hara menjadi terkejut, pipinya bersemu merah. Ia menjadi gugup. Sepersekian detik Klerent mengamati O’Hara. Kemudian Klerent menyeringai, ia menepuk kepala O’Hara.
            “Haha, apa kau terpesona denganku gadis slebor?” sontak pukulan mendarat di pipi Klerent.
            “Klerent. Sakit tau! Ahh dasar kau ini!” O’Hara memanyunkan bibirnya.
            “Asshh.. apa-apa an kau menamparku. Apa jangan-jangan kau benar-benar terpesona ya? Hahah tuh lihat wajahmu memerah.”
            “…” tak ada jawaban dari O’Hara ia hanya medesah kesal.
            “O’Hara, kupikir kau tak sekuat yang terlihat ya? Matamu… matamu sangat meredup. Tak ada kilatan di dalamnya. Apa mungkin kau hanya terlihat kuat saja selama ini?” mereka berdua saling memandang. Bagaimana Klerent bisa menilai O’Hara seperti itu. Namun O’Hara memandangnya penuh arti dan memutuskan untuk tak menjawabnya. Hari mulai gelap, O’Hara semakin mengantuk. Ia menguap lalu berpaling dan memejamkan matanya. Klerent melihat O’Hara sepertinya benar-benar tertidur, ia kasihan melihat O’Hara yang tertidur ke samping jalan, lalu ia membenarkan letak kepalanya, ia sandarkan padanya. Sebuah atmosfer yang tiba-tiba terasa berbeda, udara terasa semakin dingin, orang-orang terlihat saling berdiam. Hanya suara bus dan kendaraan diluar. Klerent merasa merinding. 

*** 

            Drrtth.. Drrtthh..
            Setelah sepulang dari kerja kelompok tadi, Zoey langsung pulang dan sampai di kosan ia makan lalu pergi mandi. Sekarang ia berencana untuk tidur lebih awal, namun ia mendengar handphonenya berbunyi.
            1 pesan dari Kevin
     “Kepada Zoey Michelline di harapkan untuk kehadirannya besok, 23 Mei 2015 pukul 15.00 di kantor penitipan anak Kasih Bunda untuk melakukan wawancara. Di harapkan memakai pakaian rapi dan bersepatu.”
            Setelah membaca pesan itu, Zoey langsung berteriak. Ia segera mencari pakaian yang cocok. Ia sibuk memilih dan memilah di lemarinya. Semuanya menjadi berantakan karena ulahnya. Entah mengapa ia begitu menjadi excited, padahal wawancara saja bahkan ia belum tentu keterima. Tapi ia berdo’a agar ia bisa di terima, karena sudah merasa sangat cocok sekali dengan pekerjaan itu. Tak lupa Zoey membalas pesan Kevin. Selanjutnya mungkin ia akan berekan kerja dengan Kevin, ia harus baik-baikin dia agar Kevin tak mengadu hal yang macam-macam. 

            1 pesan terkirim kepada Kevin
     “Terimakasih banyak untuk infonya yah Kekev…”
     di seberang sana, Kevin yang menerima balasan dari Zoey tertawa,
            “Kekev? Ya ampun ada-ada nih anak. Suka banget usilin aku ya. Ckckck. Bagaimana kalau dia tahu bahwa aku ini bosnya ya?” Kevin menerawang, ia memikirkan cara bagaimana menjelaskannya pada Zoey, sedangkan selama ini ia mengerjai Zoey dengan menyembunyikan identitasnya sebaga bos di penitipan anak yang ia rintis berdasarkan saham ibunya. Sejak muda memang Kevin berbakat dalam dunia bisnis, sehingga ibunya memberinya saham untuk membangun usaha untuknya.
            1 pesan dari Kevin
     “Kekev? Sejak kapan? Yah, ku harap kau siapkan semuanya, jangan lupa juga dengan tugas cari produk. Semangat Zozoy! \(*.*)/”
            Zoey tertawa mendapat balasan dengan Kevin. Entah sejak kapan mereka sudah hampir dua jam saling chatingan. Zoey melupakan niatnya untu tidur lebih awal rupanya, karena menemukan sesuatu yang menarik.
***
            Sekolah berjalan seperti biasanya dengan problematika dan kenakalan remaja seperti biasanya juga. Namun kali ini ada yang beda, tak ada keributan di pagi hari. Suasana seakan menjadi normal. Tak ada ulah trio cs. meladeni ulah Orlan cs. Sempat membuat mereka bingung, namun mereka memutuskan untuk pergi.
            Klerent dan Kristof yang tiba lebih pagi kali ini mereka ngobrolin tugas bahasa Inggris, dimana mengeluhkan tugas itu. Tiba-tiba Zoey datang mengagetkan dan menghambur pada mereka.
            “Woy.. woy.. pada ngomongin apa sih? Ikutan dong?” katanya dengan wajah ceria dan PD.
            “Kesambet apaan nih? Tumben banget pagi? Biasanya juga terlambat?” ledek Klerent.
            “Sebentar, ada yang salah sepertinya. Kenapa kau? Apa sesuatu terjadi? Eh tunggu! Kenapa kau jadi sok akrab ke kita hanya karena kita satu kelompok, huh?”
            “Ya emang gak boleh? Loh, bukankah kita menjadi rekan kerja? Untuk membangun kemistri maka dalam kehidupan nyata harus berteman, bukan?”
            “Cih, gaya!” cibir Klerent.
            “Huh, dasar tengil. Pantes O’Hara suka kesel dengan kau!”
            “Masa bodo!” Klerent acuh.
            “Oh ya. Ada apa denganmu? Kau belum jawab pertanyaanku,” Kristof penasaran.
            “Hehe, iya dong! Nanti sore aku dapat panggilan wawancara ke sebuah perusahaan, dan kebetulan Kevin sedikit banyak membantuku. Ah, gak sabar. Semoga aku di terima ya?”
            “Emang dimana?”
            “Di penitipan anak, tapi keren banget deh menejemen dan strateginya.”
            “Tunggu! Penitipan anak? Kevin banyak membantumu?” Klerent melirik Kristof.
            “Apa kau sudah bertemu dengan bosnya?”
            “Em, belum sih. Tapi aku yakin dia adalah orang baik. Terlihat dari para pegawainya yang terjamin gitu.”
            “Oh ya. Apa kau bodoh atau bagaimana?” cibir Klerent lagi. Kini Zoey hanya mengerutkan kening, merasa tak mengerti.
            “Kau tahu siapa pemiliknya?” Zoey hanya menggelang.
            “Nama bosnya, Kevin Manson Alexander.” Sontak Zoey terbelalak. Ia tak percaya yang di katakana Kristof. tapi Kristof meyakinkannya dengan fakta-fakta. Zoey seakan di siram es batu. Bagaimana bisa Kevin membohonginya, ia tak habis fikir. Ia merasa di permainkan. Zoey lalu pergi menuju bangkunya, meninggalkan Klerent dan Kristof yang masih bertanya-tanya tentang reaksi Zoey. Mereka berdua telah di wanti-wantu untuk tak membocorkan statusnya pada anak-anak terutama Zoey. Tapi mereka kelepasan dan memang cepat atau lambat ia akan tahu, karena tahu terlambat dampaknya akan semakin fatal.
***
            Entah setan apa yang membisiki O’Hara, ia berpura-pura sakit perut dan izin untuk ke UKS padahal dia sangat sehat wal afiat. Klerent yang curiga sejak tadi-pun beberapa menit kemudian mengikuti langkah O’Hara dan berpura-pura sakit kepala dan tak kuat mengikuti pelajaran.
            Klerent langsung menuju ke UKS, tapi saat tiba disana ia bahkan tak menemukan O’Hara. Ia heran, kemana perginya O’Hara. Lalu ia menduga-duga dan langsung melangkahkan kakinya ke TKP.
            Benar saja yang di pikirkan Klerent, O’Hara pasti ada di atap gedung dan tidur di bangku panjang di sana. Klerent-pun menghampirinya.
            “Berpura-pura sakit akan mendapat 3 poin. Bolos saat jam pelajaran mendapat 1 poin. Total 4 poin. Di tambah poin-poin sebelumnya, kira-kira apa hukumannya?” suara tak asing Klerent membuat O’Hara terbangun dan jengah.
            “Jangan ganggu aku.” Sahutnya ketus.
            “Sekarang aku sudah di sini, apa menurutmu aku tak akan melakukan apa-apa? Kau melakukan pelanggaran,” Klerent menyeringai. Kini O’Hara hanya cemberut.
            “Bukankah kau juga melakukan hal sama, dasar!” cibir O’Hara. Tiba-tiba terdengar suara guru piket berkeliling, bahkan suara sepatunya membuat bulu kudu merindung. Sontak keduanya berlari dan bersembunyi. Mereka berdua bersembunyi di balik kotak listrik, O’Hara yang memaki maki membuat Kevin harus menutup mulutnya agar diam.
            Terdengar suara bantingan di pintu keluar, seertinya itu guru piket.
            “Aneh, ku dengar ada suara siswa mengobrol di sini. Tapi kok tak ada?” guru piket pun beranjak.
            Kini Klerent masih menutup mulut O’Hara dan mengamati wajahnya. O’Hara merasa aneh dengan tatapan itu, bahkan ia semakin tak bergeming. Padahal guru piket sudah pergi sejak tadi.
            “Ternyata kau cantik dari dekat ya?” komentar Klerent membuat O’Hara salah tingkah.
            “Awa.. lewas.. gwuwu wiet.” Karena menyadari nya Klerent langsung melepaskan tangannya. Mereka saling pandang sebentar, lalu memutuskan untuk kembali ke kelas. 

*** 

            Sepulang sekolah, seperti yang telah di beri tahukan sebelumnya. Zoey ada wawancara. Ia benar-benar kecewa dengan Kevin, padahal ia sudah tak lagi mengganggu atau mengerjainya. Zoey bingung harus ke sana atau tidak. Setelah brfikir. Zoey, siap atau tidak ia harus kesana dan menemuinya, kemungkinan yang mewawancarainya adalah Kevin sendiri, jadi ia akan meminta penjelasannya nanti karena ia butuh pekerjaan ini. 

            “Kevin!” Zoey memanggil Kevin yang duduk di ruang ketua.
            “Ah, kau sudah datang rupanya. Dan sepertinya kau tak terlihat kaget? Apa kau tahu dari anak-anak?” Tanya Kevin takut dan serba salah, namun Zoey tak bergeming.
            “Ah, maafkan aku Zoey! Aku tak bermaksud untuk membohongimu seperti ini. Sungguh!”
            “Apa mungkin kau ingin balas dendam denganku karena aku selalu mengerjaimu?apa maksud dari ini semua? Kau merendahkanku, huh?” Zoey mulai terpancing emosi. Kevin serba salah.
            “Enggak. Kau salah. Aku sungguh tak ada maksud,”
            “Sekarang, terserah. Kalau kau tak mau aku masuk di sini, aku bisa mengundurkan diri.” Zoey keluar, Kevin mengejar.
            “Jangan! Bukan, maksudnya tunggu. Aku sama sekali tak maksud merendahkanmu atau apa. Karena saat kau tak menyadari bahkan, ada namaku di iklan Koran, dan di depan sana apa kau tak melihat. Aku hanya mengetes kepekaanmu saja, apa aku salah. Dan, kau juga tak pernah bertanya siapa bosnya?” Mendengar penjelasan Kevin Zoey sedikit malu.
            “Jadi, apa kau tak membutuhkan pekerjaan ini?” tawar Kevin lagi.
            “Kau mengancam?” Tanya Zoey.
            “Tidak, aku hanya memberi penawaran. Tak semua orang bisa lolos dan bisa wawancara loh.” Bujuk Kevin lagi, Zoey mulai tergoda. Pekerjaan yang menyenangkan dengan gaji lumayan kapan lagi.
            “Em, aku akan pikir-pikir dulu,” kata Zoey malu-malu. Kevin hanya tersenyum.
            “Kalau kau merasa sudah siap dan mantap, ku tunggu kau di ruanganku. Oke?” Kevin meninggalkan Zoey di lobby depan.
*** 

            Disisi lain pulang sekolah, Kristof mencegat Aurelia.
            “Hey kau!” kata Kristof. Aurelia mengangkat alis heran. Ini adalah yang di tunggunya dari tadi, sebuah sapaan. Aurelia ingin ia di sapa Kristof.
            “Apa?” jawabnya menantang.
            “Cih! Dasar! Apa sekarang kau merindukanku karena aku mengabaikanmu, huh?” Kristof mencibir.
            “Itu pikiran yang sangat picik! Kenapa kau mencariku?”
            “Siapa yang picik? Aku? Atau kau, haha?” Kristof mendekatkan wajahnya pada Aurelia, lalu ia terlihat gugup.
            “Dengar nona, aku sudah tak mendekatimu. Tapi mengapa kau tampak murung? Ini bukan gara-gara aku kan?” Aurelia hanya diam, lidahnya terlalu kelu untuk mengakui itu semua.
            “Ah, ngaco! Sana belajar bahasa Inggris. Besok-besok ikut aku ke perpustakaan cari bahan, dan mulai bikin proposal.” Aurelia mengalihkan pembicaraan, lalu kabur.
            “Hey kau! Dasar gadis ini, macam-macam saja.” Rutuk Kristof dari kejauhan, karena Aurelia telah kabur. Aurelia berlari dan senyum-senyum sendiri.

to be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar