Minggu, 06 November 2016

TPTSB Part 3



THREE PRINCESS AND THREE SCOUT BOY (Modern Version)
Di adaptasi dari kisah fantasi sebelumnya
OST. Haruka Kanata—Naruto Asian Kung-Fu
O’Hara POV

            Setelah tak henti-hentinya tertawa karena bercanda dengan yang lain membuatku kini malah senyum senyum sendiri di bus. Sampai-sampai orang di sekitarku memandang aneh. Ah, dasar mereka. Ada-ada aja. Lalu senyumku sirna sejenak melihat Klerent di bangku belakang tengah memandangku aneh. Ku palingkan wajahku ke depan. Aku jadi mengingat ledekan Zoey. Bagaimana jika aku berakhir menyukainya. Ah, tidak tidak. Karena dia bahkan gak bersikap baik atau menganggapku layaknya seorang gadis, ah dasar anak itu!

            Pemberhentian terakhir masih cukup jauh. Tapi daritadi ku lihat tak ada tanda-tanda orang ingin turun, karena aku dari tadi berdiri. Ku lihat lagi si Klerent tengan asyik mendengarkan music sambil terpejam. Ah, mungkin aku sial sekali hari ini. Satu kelompok dengan Klerent, di ledek Zoey, dan sekarang akan berdiri disini sendiri. Lalu aku hanya menyembulkan nafas kesal.
            Entah mengapa perasaanku tak enak dari tadi berdiri di samping pria paruh baya yang melihatku aneh dari tadi. Jangan-jangan dia mau merampok, atau apa. Ternyata apa yang aku khawatirkan terjadi. Karena aku reflex maka ku tonjok orang itu. Yah, orang itu berusaha mengambil dompet di tasku. Untung aku melihatnya, sebelum orang-orang menhabisi masa ia telah melarikan diri. Dan yang malah bikin ku tercengang, Klerent. Ia juga dengan sigap menarik pencuri itu, lalu di bantu oleh orang-orang lain. supir bus memberhentikan mobilnya, memblokir semua pintu. Orang-orang mengantarkan pencuri tersebut di kantor polisi. Aku masih syok. Klerent, ia menghampiriku saat di kantor polisi.
            “Apa kau tak apa? Kau mestinya tak apa-apa karena pencuri itu gagal mengambil dompetmu berkat pukulanmu.” Kali ini ia bergaya sok cool dan seperti pahlawan kesiangan.
            “Yah, tentu. Kau tahu aku kuat.” Jawabku sok tegar. Aku tak mau dia melihat mentalku yang nyatanya lemah.
            “Ah, really?” tanyanya tak percaya dengan seringainya. Lalu aku hanya diam tak menjawab, dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Walaupun jujur, aku sangat takut, kali aja aku bertemu kawanan perampok atau orang jahat di tengah jalan nanti, karena aku tak benar-benar mahir dalam beladiri.
            “Hey! Apa kau memang tak tahu rasa terima kasih, pergi begitu saja?” ia berteriak karena aku semakin menjauh. Kalimat itu membuatku berhenti. Iya, aku ini memang tak tahu diri. Walau begitu ia yang termasuk orang yang menolongku. Tapi, aku gengsi berterimakasih padanya. Sekarang, ia telah berada di sampingku.
            “Setidaknya, biarkan aku mengantarmu sampai kau aman.” Tanpa ba bi bu ia menarikku. Sekarang aku masih tercengang. Antara sadar dan tidak. Apa anak ini kesambet? Batinku.
            Dia terus menggandengku sejauh ini. Dan aku masih menikmati lamunanku. Pasti ada yang aneh, kenapa ia bersikap bak ksatria berkuda putih? Ah, pasti dia meminta imbalan nanti.  Sementara aku masih tak sadar dari lamunanku. Ia mengagetkanku dengan menepuk-nepuk pipiku.
            “Ah, sakit tau!”
            “Ye, lagian malah ke enakan di gandeng. Haha pasti nih gak pernah di gandeng cowok ya?” serunya meledek. Aku pun saywhat dan malah pergi.
            “Ih apaan sok tahu!”
            “Ye, malah kabur. Apa kau berani pulang sendiri, di sini daerahnya preman-preman loh.” Sontak kata-kata itu membuatku kembali. Lalu aku menggeleng-geleng.
            “Dimana rumahmu? Apa masih jauh?”
            “Dimana ini? Daerah apa ini?”
            “Daerah Stochorst street.”
            “Rumahku di dekat persimpangan Nebule.”
            “Ah di sana. Baiklah. Ikut denganku, ada jalan pintas yang dekat dari sini.” Aku pun mengikutinya tanpa ragu. Entahlah, bukankah dia adalah orang yang ku benci tadi? Tapi aku bisa percayakan keselamatanku padanya. Ini gila.
            “Lalu dimana rumahmu. Ini sudah persimpangan.” Katanya melihat sekeliling.
            “Ah, di dekat laundry itu kau lihat ada gang. Rumahku masuk ke sana sedikit. Kau mengantarku sampai sini saja, aku bisa sendiri kok.”
            “Kalau begitu aku pulang ya.” Ia pamit dan berjalan pergi.
            “Klerent!” aku memanggilnya, ia berhenti di sana tanpa berbalik. Aku sih tak masalah.
            “Terima kasih ya.” Kataku final. Akhirnya ku katakan itu, karena memang ia telah menyelamatkanku. Lalu akupun berjalan berbalik. Sekilas ku lihat ia berbalik tersenyum dan memberiku hormat bak seorang ksatria sungguhan, ada ada saja.


***
Aurelia POV
            Kata-kata Zoey membuatku kepikiran. Apakah selama ini aku seakan memberikan Kristof harapan. Atau kah aku yang tak bisa menolak keinginannya itu membuatnya berharap banyak padaku. Tapi aku benar-benar sulit untuk menolaknya, kecuali… yah kecuali tentang perasaannya.
Drrth.. drrtthh..
            Ku rogoh saku di rokku, karena ada panggilan di handphoneku. Lalu ku baca siapa yang menelpon. Aku langsung menutup mulutku kaget saat membaca siapa si empunya. Ini Kristof. mau apa dia? Lalu ku coba angkat telponnya.
            “Ha… halo?” kataku ragu-ragu.
            “Apa kau terdengar takut karena aku yang telpon?” suara di seberang sana terdengar sangat dingin.
            “Ada apa Kris?” jawabku to the point.
            “Apa kau telah sampai di rumah?” tanyanya. Aku memang sudah berada di depan gerbang rumahku, lalu ku urungkan membuka gerbang dan meneruskan bicaraku dengan Kris di depan.
            “Belum. Aku masih di jalan.”
            “Ah begitukah? Ada hal yang ingin ku katakan denganmu.” Kali ini ia terdengar serius.
            “Katakan saja.”
            “Aku tak bisa membicarakannya di telpon. Apa kau bisa menemuiku?”
            “…” aku tak menjawabnya.
            “Kalau kau bisa. Temui aku di kedai Italy di dekat sekolah, sekarang. Semua terserahmu.” Ia lalu menutup telponnya. Aku tahu betul, dulu dia sering mentraktirku di kedai itu.
            Aku masih bingung apa yang hendak ia katakan? Aku memilih untuk masuk kerumahku dan bergegas masuk kamar lalu berganti pakaian. Aku tak tahu, apa aku harus temui dia atau tidak. Sore ini rumah begitu sepi. Rupanya orang tuaku sedang pergi. Tiba-tiba aku berpikr harus menemuinya. Entah dia masih dasana atau tidak. Aku harus bergegas, ku ambil tasku. Aku berlari ke depan. Ku lihat di garasi ada sepeda ontel adikku. Aku pun memakainya agar cepat sampai.
            Ku kayuh sepedaku dengan kecepatan penuh. Sampailah aku di kedai. Suasana kedai tak begitu ramai. Aku langsung masuk, mataku mulai berkeliaran mencari sosok Kris. Aku berkeliling ke seluruh sudut. Tapi, hasilnya nihil. Ah, mungkin aku sudah terlambat, ia mungkin telah pulang. Ah betapa jahatnya aku padahal dia hanya memintaku untuk menemuinya. Batinku dalam hati. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. 

            “Kristof?” tanyaku. “Apa.. apa kau belum pulang?”
            “Bagaimana aku bisa pulang, sedangkan orang yang ku tunggu belum datang. Aku habis dari toilet. Apa kau mencemaskanku?” tanyanya. Aku hanya melambaikan tangan, itu karena aku haus karena berkejaran dengan waktu, dan semua gara-gara orang ini.
            “Kemarilah, aku akan mentraktirmu makan. Ah, sebelumnya kau sudah ku pesankan minum. Vannila es, kesukaanmu.” Tanpa aba-aba aku langsung menenggak minuman itu karena kerongkonganku terasa kering sekali. Dan Kris hanya melihatku sambil tertawa.
            “Apa yang ingin kau katakana Kris?” tanyaku langsung saat aku sudah merasa baikan.
            “Aku ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku.”
            “Maaf? Untuk apa?”
            “Karena telah mencintaimu. Maafkan aku. Aku sekarang akan membebaskanmu. Tak akan menjadikanmu budakku lagi. Kau bebas. Kau bahkan bisa mencari pria yang kau cintai. Semua terserahmu. Aku takkan mengganggumu lagi. Terima kasih untuk selama ini.” Mendengar ia berbicara seperti itu, perasaanku bukannya senang tapi merasa takut atau sedih. Pokoknya suatu perasaan yang gak lega dan gak enak. Aku masih diam tercengang.
            “Aku sudah membayar makananmu. Aku akan pergi duluan. Maafkan aku Aurelia.” Itu kata-kata terakhirnya sebelum ia beranjak pergi, meninggalkanku sendirian yang masih berusaha memahami kata-katanya.
***
Zoey POV
            Aku meninggalkan Aurelia di persimpangan, karena ku pikir ia sangat tidak tegas dengan prinsipnya. Membiarkannya merenungkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Aku mengintipnya di balik tembok pagar belokan. Ku lihat ia masih diam terpaku, lalu berjalan lesu. Aku merasa kasihan dengan Kristof, dulu ia benar-benar berjuang mendapatkannya. Aku tahu betul, karena kita berasala dari kelas yang sama. Ku pikir Aurelia akan menerimanya. Ahh, Kristof yang malang.
            Sesampainya di kos, aku mencari anjingku. Rupanya ia tengah memakan sesuatu di dapur nenek. Aku memeluknya. Dia adalah salah satu keluargaku juga disini. Maklum, karena aku jauh dari orangtua.
            Beberapa terakhir ini aku kepikiran untuk bekerja paruh waktu. Hidup di kota besar tak cukup hanya mengandalkan kiriman dari orangtua, kasihan mereka. Aku pun segera membersihkan badan dan mulai mencari info lowongan kerja di Koran.
            Aku mulai menandai, mencoret, bahkan ku remas Koran itu. Sampai ku temukan beberapa pekerjaan yang mungkin cocok denganku. Lalu aku hanya tinggal mencari lokasinya dan mulai melamar. Ah, aku melamar saat itu juga, mumpung tak ada PR.
            Aku berkeliling kota, mencari lokasi lowongan pekerjaan yang tertera di Koran. Pertama, ku datangi sebuah restoran ayam. Sayang di sana lowongannya telah habis. Aku pun beranjak mencari lokasi selanjutnya. Disini adalah club malam, dengan sebagai waiters di tempat seperti ini membuatku ngeri, jadi ku urungkan untuk melamar disini, karena bosnya menyuruh waiters untuk berpakaian seksi.
            Lalu aku pergi ke sebuah tempat penitipan anak. Kata petugas disana aku harus menemui seorang lelaki yang katanya bosnya. Aku mulai masuk menyusuri tempat itu. Lumayan luas, dan seperti TK karena ada kelas kelas, di dalam mereka juga tak hanya bermain saja tetapi juga belajar. Saat aku melihat satu ruangan, aku terkejut. Ku lihat ada Kevin, ia sedang mengajari anak-anak disana, apa ia bekerja disini, lalu aku memanggilnya. 

            “Kevin!” panggilku. Ia terlihat kaget, lalu meninggalkan anak-anak untuk menemuiku.
            “Ka.. ka.. kau? Ngapain kesini?” tanyanya penasaran.
            “Ya ampun. Segitunya. Aku bisa dimana saja, hehe. Eh, apa kau bekerja disini? Aku butuh informasi dong. Soalnya aku lagi mencari pekerjaan paruh waktu. Dan disini di buka lowongan itu. Kata petugas suruh temui bos disini dulu, tapi dari tadi aku belum ketemu. Apa kau bisa mengantarku padanya?” ku lihat si Kevin malah salah tingkah dan gagap. Kenapa dia. Apa gugup bertemu aku dan ketahuan bekerja disini.
            “Oh ya. Sebentar.” Katanya meninggalkanku. Lalu ia segera kembali lagi menemuiku.
            “Tadi ada pesan dari bos, kalau kau berminat bekerja disini lebih baik kau baca kontrak ini dulu. Sebaiknya kita ke ruang lobby dulu kali ya, biar enak ngobrolnya.” Aku pun mengikutinya.
            “Bagaimana?” tanyanya setelah aku membaca kontrak disana.
            “Wah, sepertinya kau berpotensi jadi bos ya. Kelihatan bisa menghandle ini semua. Pasti bosmu percaya banget denganmu.”
            “Ah. Gak juga. Eh, bagaimana? Apa kau berminat? Yah karena disini penitipan anak yang bernuansa edukasi, jadi hamper seperti tempat les gitu, tapi gak terjadwal karena anak yang di titipkan akan berbeda-beda, kita hanya mengklasifikasi dari usia saja.”
            “Ah begitu ya. Sepertinya gak masalah, aku juga suka anak kecil. Lalu apa syaratnya untuk masuk disini?”
            “Di Koran kan sudah di cantumkan. Kau taruh saja berkasmu disini, nanti akan di panggil saat wawancara.”
            “Ah, ya ya. Apa ini aku titipkan padamu? Eh tapi jangan lupa di sampaikan sama bosmu. Aku menunggu panggilannya. Oke?” ku serahkan berkasku pada Kevin dan pamit pulang, karena hari juga semakin larut.
            “Pasti. Eh apa kau berani pulang sendiri?” tanyanya.
            “Iya nih, sudah mulai larut. Mana cukup jauh dari kosku.” Kataku sebenarnya mengerjai dia.
            “Oh, apa perlu ku antar? Atau bagaiman?” tawarnya.
            “Cie, Kevin tumben baik sih. Haha. Gak kok, gak perlu. Aku bisa sendiri. Sudah biasa ini.”
            “Beneran gak pa-pa aku antar ya?”
            “Gak usah sudah, kau pasti juga butuh istirahat ya. Ya sudah aku pergi Kevin.”
            “Begitukah? Hati-hati ya.”
  to be contine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar