THREE
PRINCESS AND THREE SCOUT BOY (Modern Version)
Di
adaptasi dari kisah fantasi sebelumnya
OST.
Haruka Kanata—Naruto Asian Kung-Fu
O’Hara
POV
Setelah tak
henti-hentinya tertawa karena bercanda dengan yang lain membuatku kini malah
senyum senyum sendiri di bus. Sampai-sampai orang di sekitarku memandang aneh.
Ah, dasar mereka. Ada-ada aja. Lalu senyumku sirna sejenak melihat Klerent di
bangku belakang tengah memandangku aneh. Ku palingkan wajahku ke depan. Aku
jadi mengingat ledekan Zoey. Bagaimana jika aku berakhir menyukainya. Ah, tidak
tidak. Karena dia bahkan gak bersikap baik atau menganggapku layaknya seorang
gadis, ah dasar anak itu!
Pemberhentian
terakhir masih cukup jauh. Tapi daritadi ku lihat tak ada tanda-tanda orang
ingin turun, karena aku dari tadi berdiri. Ku lihat lagi si Klerent tengan
asyik mendengarkan music sambil terpejam. Ah, mungkin aku sial sekali hari ini.
Satu kelompok dengan Klerent, di ledek Zoey, dan sekarang akan berdiri disini
sendiri. Lalu aku hanya menyembulkan nafas kesal.
Entah
mengapa perasaanku tak enak dari tadi berdiri di samping pria paruh baya yang melihatku
aneh dari tadi. Jangan-jangan dia mau merampok, atau apa. Ternyata apa yang aku
khawatirkan terjadi. Karena aku reflex maka ku tonjok orang itu. Yah, orang itu
berusaha mengambil dompet di tasku. Untung aku melihatnya, sebelum orang-orang
menhabisi masa ia telah melarikan diri. Dan yang malah bikin ku tercengang,
Klerent. Ia juga dengan sigap menarik pencuri itu, lalu di bantu oleh
orang-orang lain. supir bus memberhentikan mobilnya, memblokir semua pintu.
Orang-orang mengantarkan pencuri tersebut di kantor polisi. Aku masih syok.
Klerent, ia menghampiriku saat di kantor polisi.
“Apa
kau tak apa? Kau mestinya tak apa-apa karena pencuri itu gagal mengambil
dompetmu berkat pukulanmu.” Kali ini ia bergaya sok cool dan seperti pahlawan kesiangan.
“Yah,
tentu. Kau tahu aku kuat.” Jawabku sok tegar. Aku tak mau dia melihat mentalku
yang nyatanya lemah.
“Ah,
really?” tanyanya tak percaya dengan
seringainya. Lalu aku hanya diam tak menjawab, dan memutuskan untuk pergi
meninggalkannya. Walaupun jujur, aku sangat takut, kali aja aku bertemu kawanan
perampok atau orang jahat di tengah jalan nanti, karena aku tak benar-benar
mahir dalam beladiri.
“Hey!
Apa kau memang tak tahu rasa terima kasih, pergi begitu saja?” ia berteriak
karena aku semakin menjauh. Kalimat itu membuatku berhenti. Iya, aku ini memang
tak tahu diri. Walau begitu ia yang termasuk orang yang menolongku. Tapi, aku
gengsi berterimakasih padanya. Sekarang, ia telah berada di sampingku.
“Setidaknya,
biarkan aku mengantarmu sampai kau aman.” Tanpa ba bi bu ia menarikku. Sekarang
aku masih tercengang. Antara sadar dan tidak. Apa anak ini kesambet? Batinku.
Dia
terus menggandengku sejauh ini. Dan aku masih menikmati lamunanku. Pasti ada yang aneh, kenapa ia bersikap bak
ksatria berkuda putih? Ah, pasti dia meminta imbalan nanti. Sementara aku masih tak sadar dari lamunanku.
Ia mengagetkanku dengan menepuk-nepuk pipiku.
“Ah,
sakit tau!”
“Ye,
lagian malah ke enakan di gandeng. Haha pasti nih gak pernah di gandeng cowok
ya?” serunya meledek. Aku pun saywhat
dan malah pergi.
“Ih
apaan sok tahu!”
“Ye,
malah kabur. Apa kau berani pulang sendiri, di sini daerahnya preman-preman
loh.” Sontak kata-kata itu membuatku kembali. Lalu aku menggeleng-geleng.
“Dimana
rumahmu? Apa masih jauh?”
“Dimana
ini? Daerah apa ini?”
“Daerah
Stochorst street.”
“Rumahku
di dekat persimpangan Nebule.”
“Ah
di sana. Baiklah. Ikut denganku, ada jalan pintas yang dekat dari sini.” Aku
pun mengikutinya tanpa ragu. Entahlah, bukankah dia adalah orang yang ku benci tadi?
Tapi aku bisa percayakan keselamatanku padanya. Ini gila.
“Lalu
dimana rumahmu. Ini sudah persimpangan.” Katanya melihat sekeliling.
“Ah,
di dekat laundry itu kau lihat ada
gang. Rumahku masuk ke sana sedikit. Kau mengantarku sampai sini saja, aku bisa
sendiri kok.”
“Kalau
begitu aku pulang ya.” Ia pamit dan berjalan pergi.
“Klerent!”
aku memanggilnya, ia berhenti di sana tanpa berbalik. Aku sih tak masalah.
“Terima
kasih ya.” Kataku final. Akhirnya ku katakan itu, karena memang ia telah menyelamatkanku.
Lalu akupun berjalan berbalik. Sekilas ku lihat ia berbalik tersenyum dan
memberiku hormat bak seorang ksatria sungguhan, ada ada saja.
***
Aurelia
POV
Kata-kata
Zoey membuatku kepikiran. Apakah selama ini aku seakan memberikan Kristof harapan.
Atau kah aku yang tak bisa menolak keinginannya itu membuatnya berharap banyak
padaku. Tapi aku benar-benar sulit untuk menolaknya, kecuali… yah kecuali
tentang perasaannya.
Drrth..
drrtthh..
Ku
rogoh saku di rokku, karena ada panggilan di handphoneku. Lalu ku baca siapa yang menelpon. Aku langsung menutup
mulutku kaget saat membaca siapa si empunya. Ini Kristof. mau apa dia? Lalu ku
coba angkat telponnya.
“Ha…
halo?” kataku ragu-ragu.
“Apa
kau terdengar takut karena aku yang telpon?” suara di seberang sana terdengar
sangat dingin.
“Ada
apa Kris?” jawabku to the point.
“Apa
kau telah sampai di rumah?” tanyanya. Aku memang sudah berada di depan gerbang
rumahku, lalu ku urungkan membuka gerbang dan meneruskan bicaraku dengan Kris
di depan.
“Belum.
Aku masih di jalan.”
“Ah
begitukah? Ada hal yang ingin ku katakan denganmu.” Kali ini ia terdengar
serius.
“Katakan
saja.”
“Aku
tak bisa membicarakannya di telpon. Apa kau bisa menemuiku?”
“…”
aku tak menjawabnya.
“Kalau
kau bisa. Temui aku di kedai Italy di dekat sekolah, sekarang. Semua
terserahmu.” Ia lalu menutup telponnya. Aku tahu betul, dulu dia sering
mentraktirku di kedai itu.
Aku
masih bingung apa yang hendak ia katakan? Aku memilih untuk masuk kerumahku dan
bergegas masuk kamar lalu berganti pakaian. Aku tak tahu, apa aku harus temui
dia atau tidak. Sore ini rumah begitu sepi. Rupanya orang tuaku sedang pergi.
Tiba-tiba aku berpikr harus menemuinya. Entah dia masih dasana atau tidak. Aku harus
bergegas, ku ambil tasku. Aku berlari ke depan. Ku lihat di garasi ada sepeda
ontel adikku. Aku pun memakainya agar cepat sampai.
Ku
kayuh sepedaku dengan kecepatan penuh. Sampailah aku di kedai. Suasana kedai
tak begitu ramai. Aku langsung masuk, mataku mulai berkeliaran mencari sosok
Kris. Aku berkeliling ke seluruh sudut. Tapi, hasilnya nihil. Ah, mungkin aku sudah terlambat, ia mungkin
telah pulang. Ah betapa jahatnya aku padahal dia hanya memintaku untuk
menemuinya. Batinku dalam hati. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Kristof?”
tanyaku. “Apa.. apa kau belum pulang?”
“Bagaimana
aku bisa pulang, sedangkan orang yang ku tunggu belum datang. Aku habis dari
toilet. Apa kau mencemaskanku?” tanyanya. Aku hanya melambaikan tangan, itu
karena aku haus karena berkejaran dengan waktu, dan semua gara-gara orang ini.
“Kemarilah,
aku akan mentraktirmu makan. Ah, sebelumnya kau sudah ku pesankan minum.
Vannila es, kesukaanmu.” Tanpa aba-aba aku langsung menenggak minuman itu
karena kerongkonganku terasa kering sekali. Dan Kris hanya melihatku sambil
tertawa.
“Apa
yang ingin kau katakana Kris?” tanyaku langsung saat aku sudah merasa baikan.
“Aku
ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku.”
“Maaf?
Untuk apa?”
“Karena
telah mencintaimu. Maafkan aku. Aku sekarang akan membebaskanmu. Tak akan
menjadikanmu budakku lagi. Kau bebas. Kau bahkan bisa mencari pria yang kau
cintai. Semua terserahmu. Aku takkan mengganggumu lagi. Terima kasih untuk
selama ini.” Mendengar ia berbicara seperti itu, perasaanku bukannya senang tapi
merasa takut atau sedih. Pokoknya suatu perasaan yang gak lega dan gak enak.
Aku masih diam tercengang.
“Aku
sudah membayar makananmu. Aku akan pergi duluan. Maafkan aku Aurelia.” Itu
kata-kata terakhirnya sebelum ia beranjak pergi, meninggalkanku sendirian yang
masih berusaha memahami kata-katanya.
***
Zoey
POV
Aku
meninggalkan Aurelia di persimpangan, karena ku pikir ia sangat tidak tegas
dengan prinsipnya. Membiarkannya merenungkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Aku
mengintipnya di balik tembok pagar belokan. Ku lihat ia masih diam terpaku,
lalu berjalan lesu. Aku merasa kasihan dengan Kristof, dulu ia benar-benar
berjuang mendapatkannya. Aku tahu betul, karena kita berasala dari kelas yang
sama. Ku pikir Aurelia akan menerimanya. Ahh, Kristof yang malang.
Sesampainya
di kos, aku mencari anjingku. Rupanya ia tengah memakan sesuatu di dapur nenek.
Aku memeluknya. Dia adalah salah satu keluargaku juga disini. Maklum, karena
aku jauh dari orangtua.
Beberapa
terakhir ini aku kepikiran untuk bekerja paruh waktu. Hidup di kota besar tak
cukup hanya mengandalkan kiriman dari orangtua, kasihan mereka. Aku pun segera
membersihkan badan dan mulai mencari info lowongan kerja di Koran.
Aku
mulai menandai, mencoret, bahkan ku remas Koran itu. Sampai ku temukan beberapa
pekerjaan yang mungkin cocok denganku. Lalu aku hanya tinggal mencari lokasinya
dan mulai melamar. Ah, aku melamar saat itu juga, mumpung tak ada PR.
Aku
berkeliling kota, mencari lokasi lowongan pekerjaan yang tertera di Koran.
Pertama, ku datangi sebuah restoran ayam. Sayang di sana lowongannya telah habis.
Aku pun beranjak mencari lokasi selanjutnya. Disini adalah club malam, dengan
sebagai waiters di tempat seperti ini
membuatku ngeri, jadi ku urungkan untuk melamar disini, karena bosnya menyuruh waiters untuk berpakaian seksi.
Lalu
aku pergi ke sebuah tempat penitipan anak. Kata petugas disana aku harus
menemui seorang lelaki yang katanya bosnya. Aku mulai masuk menyusuri tempat
itu. Lumayan luas, dan seperti TK karena ada kelas kelas, di dalam mereka juga
tak hanya bermain saja tetapi juga belajar. Saat aku melihat satu ruangan, aku
terkejut. Ku lihat ada Kevin, ia sedang mengajari anak-anak disana, apa ia
bekerja disini, lalu aku memanggilnya.
“Kevin!”
panggilku. Ia terlihat kaget, lalu meninggalkan anak-anak untuk menemuiku.
“Ka..
ka.. kau? Ngapain kesini?” tanyanya penasaran.
“Ya
ampun. Segitunya. Aku bisa dimana saja, hehe. Eh, apa kau bekerja disini? Aku
butuh informasi dong. Soalnya aku lagi mencari pekerjaan paruh waktu. Dan
disini di buka lowongan itu. Kata petugas suruh temui bos disini dulu, tapi
dari tadi aku belum ketemu. Apa kau bisa mengantarku padanya?” ku lihat si
Kevin malah salah tingkah dan gagap. Kenapa dia. Apa gugup bertemu aku dan
ketahuan bekerja disini.
“Oh
ya. Sebentar.” Katanya meninggalkanku. Lalu ia segera kembali lagi menemuiku.
“Tadi
ada pesan dari bos, kalau kau berminat bekerja disini lebih baik kau baca
kontrak ini dulu. Sebaiknya kita ke ruang lobby dulu kali ya, biar enak
ngobrolnya.” Aku pun mengikutinya.
“Bagaimana?”
tanyanya setelah aku membaca kontrak disana.
“Wah,
sepertinya kau berpotensi jadi bos ya. Kelihatan bisa menghandle ini semua. Pasti bosmu percaya banget denganmu.”
“Ah.
Gak juga. Eh, bagaimana? Apa kau berminat? Yah karena disini penitipan anak
yang bernuansa edukasi, jadi hamper seperti tempat les gitu, tapi gak terjadwal
karena anak yang di titipkan akan berbeda-beda, kita hanya mengklasifikasi dari
usia saja.”
“Ah
begitu ya. Sepertinya gak masalah, aku juga suka anak kecil. Lalu apa syaratnya
untuk masuk disini?”
“Di
Koran kan sudah di cantumkan. Kau taruh saja berkasmu disini, nanti akan di
panggil saat wawancara.”
“Ah,
ya ya. Apa ini aku titipkan padamu? Eh tapi jangan lupa di sampaikan sama
bosmu. Aku menunggu panggilannya. Oke?” ku serahkan berkasku pada Kevin dan
pamit pulang, karena hari juga semakin larut.
“Pasti.
Eh apa kau berani pulang sendiri?” tanyanya.
“Iya
nih, sudah mulai larut. Mana cukup jauh dari kosku.” Kataku sebenarnya
mengerjai dia.
“Oh,
apa perlu ku antar? Atau bagaiman?” tawarnya.
“Cie,
Kevin tumben baik sih. Haha. Gak kok, gak perlu. Aku bisa sendiri. Sudah biasa
ini.”
“Beneran
gak pa-pa aku antar ya?”
“Gak
usah sudah, kau pasti juga butuh istirahat ya. Ya sudah aku pergi Kevin.”
“Begitukah?
Hati-hati ya.”
to be contine


Tidak ada komentar:
Posting Komentar