Minggu, 06 November 2016

Three Princess and Three Scout Boy Epilogue

EPILOG
O’Hara POV
            Aku tak menyangka kalau aku bisa dekat dengan seseorang, mengingat selama ini tak satupun siswa disini yang benar-benar bisa di jadikan teman, awalnya aku pesimis, tapi setelah mengenal dekat mereka, presepsiku benar-benar terbantahkan—kita membutuhkan satu sama lain.
            Klerent, dimana dia—yang biasanya menggangguku? Sudah satu minggu aku tak menemukannya—bahkan Kevin dan Kristof tak mengetahuinya, tunggu apa aku khawatir? Ah dasar anak itu. Bisa-bisanya menghilang. Ku telpon dan sms tak ada jawaban, apa aku harus ke rumahnya? Tunggu untuk apa? Ah ya? Sekarang bukankah kita teman dekat ya? Tapi, bukan itu… ada hal lain yang ku rasakan dalam hatiku, bukan perasaan sebagai teman, sahabat atau keluarga.

            Tiba-tiba saat aku melamun, Kevin dan yang lain membuyarkan lamunanku dengan memberiku sebuah kertas.
            “O’Hara gawat!” Seru Zoey.
            “Ini cepat baca! Dari Klerent, ia dating menemuiku dan memintaku memberikannya padaku.” Kata Kevin. Aku lalu membuka gulungan kertas itu. Isinya adalah gambarku, ia menggambar diriku melalui aplikasi di pc laptopnya, saat aku sedang tertidur waktu menggarap tugas waktu itu. Lalu ada sebuah kertas kecil yang berisi sebuah pesan. Membacanya lalu aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan yang lain yang teriak-teriak memanggilku menyuruhku kembali, tapi aku tak menggubris dan terus menerobos. Aku kabur, keluar dari sekolah memanjat pagar, naik bus dan membawa diriku kemana ku harus pergi.
            Setelah turun di halte setelah rumahku, lalu aku berlari. Sebelum semuanya terlambat. Aku terus berlari hingga tiba di sebuah rumah. Ku tekan bel rumahnya. Rumah itu tsepi dan tertutup rapat, aku berteriak. 

            “Klerent!”
            “Klerent, keluar! Apa kau tega sekali?” aku telah kehabisan tenagaku berteriak, tenggorokanku tercekat. Aku terlambat. Ia telah pergi, air mataku pun tumpah karena tak bisa membendung kesedihan. Iya, pesan itu berisi sebuah ungkapan perasaan sekaligus pamitan, Klerent akan pindah ke kota lain dalam waktu yang lama, entah sampai kapan. Bahkan dia tega tak memberitahuku langsung.
            Aku terduduk di depan pagar rumahnya.
            “Apa kau mencariku nona?” sebuah suara mengagetkanku. Itu Klerent. Spontan aku langsung menghambur memeluknya, ia-pun membalas pelukanku.
            “Kenapa kau begitu jahat padaku, menghilang dan tiba-tiba mau pergi?” Klerent melepaskan pelukannya, ia memandang wajahku yang sembab, lalu tersenyum.
            “Hey, maafkan aku. Lagipula aku tak jadi pergi. Haha. Tap setidaknya, aku tahu bagaimana khawatirnya kau padaku,” Klerent menyeringai, lalu aku memukulnya. Ia hanya meringis. 

Aurelia POV
            Beberapa waktu lalu ku jadikan Kristof sebagai budakku, aku benar-benar puas mengerjainnya—bagaimana tidak, ia begitu kesal namun tak bisa melawan karena dia tak ada wewenang. Kini setelah tugas selesai, selesai pula berbudakan ini. Dan aku berjanji padanya, saat ujian bahasi Inggris, jika Kristof bisa mendapat nilai A, maka aku akan mengabulkan satu keinginannya.
            Benar saja, ia mampu mendapat nilai A, dan aku harus menepati janjiku. Ia meminaku, untuk menghabiskan waktu 24 jam bersamanya a.k.a aku akan menjadi budaknya seharian full. 

            Dimulai pada pagi hari, aku telah pamit pada ibuku untuk menginap di rumah Zoey. Dan Zoey sudah ku beri tahu rencana ini, agar ibuku tak khawatir, Zoey pun setuju. Kita bertemu di taman dekat sekolah.

            Aku pikir aku benar-benar akan menjadi budaknya, ternyata aku salah besar. Dia memang menyuruhku ini itu tapi aku senang melakukan ini itu tanpa paksaan, benar kan? Kami menghabis kan waktu bersama seharian, saat ditaman kita piknik ala ala pasangan, walaupun kita bukan pasangan, tapi aku sama sekali tak keberatan. 

Lalu siang hari kita jalan-jalan di mall, sore hari kita main ding dong, lalu nonton film, dan malam hari kita makan malam roamtis di sebuah restoran. Karena jatahnya adalah sampai pagi, Kristof mengajakku ke sebuah tempat di perbukitan, di puncak. Tempat yang indah. Kita habiskan waktu untuk bercengkrama sampai pagi. Namun sejauh ini, tak ada lagi seorang Kristof mengungkapkan perasaannya. Mungkin dia terlalu lelah, lelah mengejarku dan benar-benar ingin melupakanku, hingga mungkin ini adalah permintaan terakhirnya.
            “Aurelia, kau tahu.” Katanya saat kita sedang asyik melihat lampu gemerlap kota, waktu itu pukul 02.00.
            “Ya?” Jawabku memandangnya namun ia tak berpaling dari pandangan sebelumnya.
            “Kau mungkin menginginkanku suatu saat kemudian. Aku akan tetap menunggumu, entah sampai kapan. Bahkan saat aku lelah, aku takkan menyerah mendapatkannmu. Kau harus ingat itu,” namun tanpa sempat aku menjawab, karena dari tadi aku berdiam diri saja, ia menggandengku dan mengajakku pulang.
Zoey POV
            Bekerja dengan Kevin, ku pikir dia akan benar-benar membalas semua perbuatanku selama ini, tapi kenyataannya aku salah besar. Selama ini hanya aku saja yang jahat padanya karena keanehannya, yah dia emang aneh saat di dekat cewek, payah. Padahal dengan posisinya sebagai CEO aja seharusnya bisa menarik perhatian banyak cewek, tapi dia cenderung menutupi itu semua. Aku sampai malu, betapa bodohnya aku selalu bertindak seenaknya pada seorang CEO ini.

            Dia begitu baik dengan ku menolong walaupun aku sama sekali tak bisa membalasnya. Sama, sama seperti perasaan ini yang tumbuh begitu saja tanpa pamit membuatku malu, aku sama sekali tak pantas dengannya, kau tahu kan? Aku hanya gadis desa yang ke kota untuk mencari ilmu dan menghidupi diriku disini, derajatku sangat rendah. Sama sekali tak pantas. Jadi ku pikir, lebih baik tuk ku pendam saja semuanya. Dan berjalan semstinya.

            Hingga suatu ketika, ada sebuah pesta di rumah Kevin, aku di undang olehnya. Entahlah pesta apa, sepertinya pesta perusahaan orangtuanya. Aku bahkan tak memiliki gaun untuk ke pestanya. Sempat berfikir untuk tak datag, namun di sore hari Kevin dating ke kosanku dan membawakanku sebuah gaun putih yang cantik dan sepatu.
            Kevin menungguku berdaandan, setelah aku mengganti baju ku, aku terlihat begitu elegan. Aku tak pernah menggunakan pakaian se cantik ini.
            “Cantik Zoey.” Komentar Kevin melihatku, itu membutku tersipu malu. Dia mengajakku ke mobilnya dan meluncurkan mobilnya ke rumahnya, setelah sebelumnya ia pergi ke salon mengambil dan mengganti bajunya. 

            Tiba di sebuah kompleks perumahan elit. Selama ini kita belum pernah main ke rumah Kevin. Kita hanya ke penitipan anak karena seperti rumah sendiri bagi Kevin. Lalu ku lihat di ujung sana banyak  mobil-mobil, ku pikir itu mungkin rumahnya.
            “Kevin, aku sangat gugup. Apa kau tak apa mengajakku kemari?”
            “Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” tiba-tiba Kevin menggenggam tanganku, mencoba meyakinkanku, namun malah membutku sangat gugup.
            Aku turun dari mobilnya, ia menggandengku. Aku sama sekali tak menyangka bahwa ia, mengenalkanku pada semua orang sebagai seorang soulmate. Apa dia gila, apa dia hanya berpura-pura?
            Kemudian aku bertemu dengan ibu dan ayahnya, ayahnya begitu humble dan ibunya begitu… begitu sangat elegan, bahkan mengobrolpun enggan. Aku jadi merasa minder.
            Seusai acara, Kevin mengantarkanku pulang. Daripada aku mati penasaran, aku langsung saja bertanya tentang maksudnya tadi bahwa kita adalah soulmate.
            “Apa maksudmu tadi?”
            “Tadi yang mana? Yang apa?” katanya gelagapan.
            “Tadi, kau memperkenalkanku sebagai apa?”
            “Kau adalah soulmateku.”
            “Mengapa kau tak bicarakan padaku?”
            “Apa aku harus, saat semua begitu jelas. Sekarang aku Tanya, apa kau mencintaiku?” Kevin menepikan mobilnya, pertanyaannya membuatku tak berdaya, aku tidak tahu harus bagaimana.
            “Masa depanmu masih jauh Kevin, kau harus memikirkan itu semua. Dan aku… aku hanyalah gadis desa, dan aku sama sekali tak…” belum selesai aku mengatakanya, tiba-tiba ia membekap mulutku lalu kita melanjutkan perjalanan pulang.


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar