Author :
Wasi’atul Amalia
Title :
Just A Friend
Genre :
Teens, Friendship, Romance, and Other
Main Cast : Shi Woo, Go Nam Soon, Lee Eunbi and other cast.
Jinan,
Changwon-si, 17 Januari 2015.
Shi Woo sedang bersiap dan berkemas
untuk pindah ke Seoul hari itu. Ia dan keluarganya harus pindah dari Jinan
karena appa[1]-nya di tugaskan di Seoul. Dengan
terpaksa—Shi Woo yang sudah di tingkat 2 SMA nya juga harus pindah sekolah. Ia
sudah di daftarkan di SMA “S” dan rencananya ia akan mulai bersekolah besok.
***
Gyeonggi-do,
SMA “S”, 18 Januari 2016.
Hari ini adalah hari pertama Shi Woo di
sekolah “S”, dengan gayanya yang cuek ia hanya memperkenalkan diri lalu duduk
di bangku kosong. Ia masuk di kelas 2-3.
“Anyeonghaseo[2].
Selamat datang di SMA kami, Shi Woo-ssi. Namaku Go Nam Soon, ketua kelas
ini.” Nam Soon yang berada di sebelah Shi Woo memperkenalkan diri. Ia tadi juga
di tugaskan guru untuk mengantarnya keliling sekolah.
Setelah
bercakap dengan Nam Soon, mata Shi Woo tak sengaja melihat Lee Eunbi yang
berada tepat di arah jam 9-nya. Ia memincingkan matanya, lalu mengamati gadis
itu. Sepertinya Shi Woo sudah tertarik dengan gadis itu. Ia bahkan tak
berpaling.
***
Jam
istirahat pertama Nam Soon mengajak Shi Woo keliling. Ia menjelaskan segalanya
tentang sekolah, maklum Go Nam Soon memang ketua yang tanggung jawab dan ramah
sekali. Shi Woo hanya manggut-manggut dari tadi.
“Aissh,
sudah keliling dari tadi aku jadi lapar, apa kau ingin bergabung denganku untuk
makan siang?” tawar Nam Soon karena ia kelaparan.
“Geuraeyo[5].”
***
Saat
sampai di kantin Go Nam Soon melihat teman-teman gengnya sedang makan, lalu
mengajak Shi Woo bergabung.
“Wah,
pak ketua sedang sibuk, ya? Hehe.” Seru Chae Yeong Sin.
“Siapa
ini, Shi Woo-ssi.. ahh, anak baru itu ya?” Kim Yeol melirik Shi Woo yang
berdiri saja dari tadi membawa nampan makannya.
“Oh
ya, perkenalkan. Dia Shi Woo murid baru di kelasku dan Eunbi. Shi Woo-ya,
perkenalkan mereka sahabatku. Kau jangan sungkan, kau bisa gabung dengan kami.”
Kata Go Nam Soon menjelaskan.
“Yaa! Namaku Kim Yeol, jangan sungkan
main sama kami.” Shi Woo hanya membalas dengan anggukan.
“Chae
Yeong Sin. Oh ya, silahkan duduk Shi Woo-ssi.” Kemudian Shi Woo duduk di
sebelah Chae Yeong Sin dan berhadapan dengan Lee Eunbi.
“Aku
Lee Eunbi. Kita sekelas.” Kali ini Eunbi baru membuka suara. Suara lembutnya
mampu menerbangkan Shi Woo, membuatnya sepersekian detik tak sadar.
“Shi
Woo-ssi, gwenchana-yo[6]?”
Eunbi merasa aneh karena Shi Woo melihatnya tanpa berkedip.
“Whoaa...
yaa! Kau kenapa Shi Woo-ya? Apa kau
menyukai Eunbi-ah?” Go Nam Soon menebak gelagat Shi Woo.
“Ania[7].
Aah, molla[8].
Aku merasa banyak pikiran. Aku permisi dulu ya!” tiba-tiba Shi Woo meninggalkan
mereka lalu bergegas menuju kamar mandi.
***
“oh, kenapa ini jantungku seperti mau copot,
rasanya panas dingin, suaranya membuatku merinding. Aigoo.. apakah aku menyukai
gadis itu? Lee Eunbi... auranya kuat sekali, seakan menyihirku untuk jatuh ke
dalamnya. Ah, aku tak sanggup menghadapinya. Tapi.. hanya aku bisa dekat
dengannya maka aku harus dekat dengan teman-temannya. Aishh, jinjja[9]
ishh...” Shi Woo berkata sendiri sambil memegang dadanya yang deg-degan di
balik bilik kamar mandi, ia mencoba menenangkan hatinya yang tak keruan itu.
***
SMA
“S”, 5 Maret 2015. Bel istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan keluar untuk
sekedar makan siang ataupun menghirup udara segar diluar kelas.
“Shi
Woo-ya kau tak ke kantin?” Nam Soon merasa lapar jadi ia mengajak Shi Woo ke
kantin.
“Ania, kau saja. Aku masih ada urusan.”
Balas Shi Woo sok cuek seperti biasanya. Lalu Go Nam Soon melenggang pergi
begitu saja.
Hari
ini Shi Woo harus mengajak Lee Eunbi berbicara berdua. Ia lalu beranjak ke
tempat duduk Eunbi—yang sibuk mengemasi pelajaran barusan.
“Eunbi-ah,
kita harus bicara.” Shi Woo menatap Lee Eunbi tajam.
“Shi
Woo-ssi, anduwe[10]...”
dari semua teman Go Nam Soon yang dekat juga dengan Shi Woo, hanya Lee Eunbi
yang tetap memanggilnya –ssi.
“Aku
mohon, berikan aku 10 menit. Lalu ku tunggu kau di atap gedung ini.” Kali ini
tatapan Shi Woo menghangat seakan sangat memohon, lalu pergi meninggalkan Eunbi
dengan sejuta keraguan.
***
“Shi
Woo-ssi...” suara yang sangat di tunggunya akhirnya muncul juga. Kini Shi Woo
bisa sedikit tersenyum—tanpa menghilangkan kesan coolnya.
“Shi
Woo-ssi, palleyo[11]
katakan apa yang ingin kau bicarakan. Kau hanya punya waktu 10 menit.”
“yaa! Eunbi-ah, kau pikir ku lakukan ini
dengan sengaja sampai saat ini? Isshh.. jinjja[12].”
kini Lee Eunbi memandangnya skeptis.
“Ah..
geurae.. geurae. Awalnya memang iya.
Tapi lama-lama aku merasa nyaman bermain dengan mereka. Banyak hal yang ku
dapatkan bersama kalian. Kalian tulus menerimaku apa adanya. Tapi, tidak dapat
di pungkiri sejak awal memang aku menyukaimu, Eunbi-ah. Lalu apakah aku salah, huh? Shi Woo mencoba berterus terang
akan semuanya.
“Ne. Kau salah besar Shi Woo-ya. Bukan
seperti itu caranya kalau kau menyukai dan ingin dekat dengan seseorang. Tak
seharusnya kau berbohong pada mereka dan membuatnya semakin rumit.”
“Tapi
Eunbi-ah, itu dulu. Sekarang aku benar-benar tulus bersama kalian.”
“Jeongmal[13]?
Geojitmal hajimara[14]
Shi Woo-ssi.” Kali ini Lee Eunbi penuh emosi, darahnya seakan mengalir cepat
membuat kulitnya terlihat merah, bahkan ia sampai berkaca-kaca.
“Aku
bersumpah Eunbi-ah. Percaya padaku!” kali ini Shi Woo bernada frustasi. Tidak
tahu lagi bagaimana nantinya.
“Mianhaeyo[15]
Shi Woo-ssi. Sebelum semuanya terlambat. Tapi aku tak bisa menerima
perasaanmu. Kencan bersama teman sendiri itu tidak enak. Aku harap kau bisa
mengerti Shi Woo-ssi, suatu saat kau akan tahu apa maksudku. Aku pergi.”
Setelah terdengar suara bel istirahat berbunyi, Lee Eunbi langsung meninggalkan
Shi Woo.
Shi
Woo masih mencerna maksud Lee Eunbi, ia bolos pelajaran dan memilih
mengasingkan diri di atap. Ia masih berbalut emosi, kemarahan, kekecewaan,
kesedihan bercampur jadi satu saat itu.
***
Hari
ini adalah hari terakhir masuk sekolah, besok adalah liburan untuk awal musim
panas di Korea Selatan. Ini adalah keputusan berat untuk Shi Woo, jelas Lee
Eunbi menolaknya mentah-mentah. Kalau ia terus bergabung dengan Nam Soon CS
pasti Lee Eunbi tidak mau bergabung, kalau Shi Woo meninggalkan Nam Soon CS
citranya akan tercoreng bahkan ia belum tentu bisa dekat lagi dengan Lee Eunbi.
Shi
Woo memutuskan untuk merenung di atas gedung seperti biasa. Tiba-tiba Go Nam
Soon datang.
“Bukankah
kita sekarang dekat sekali?” kata Go Nam Soon membuyarkan lamunan Shi Woo.
“Gomawoyo. Kau sudah mau berteman
denganku. Maafkan aku atas semuanya. Aku tak akan mengganggu kalian atau bahkan
merusak persahabatan kalian.”
“Aku
sudah taHu Shi Woo-ya. Aku tahu semuanya. Kau menyukai Eunbi. Tapi di sisi lain
ternyata kau bisa mengerti arti persahabatan disini.”
“Maafkan
aku Nam Soon-ah. Aku memang salah. Berat meninggalkan kalian karena aku merasa
dekat.”
“Terlalu
dekat sampai tak terlihat, Shi Woo-ya. Kau tak perlu meninggalkan kami. Ku
lihat kau tulus.”
“Heh! Mungkin sering terjadi persahabatan
yang berakhir dengan cinta. Tapi cinta kadang tidak berakhir dengan
persahabatan. Sekarang aku mengerti maksud Eunbi, lagi pula kita masih muda.
Aku akan mendapatkannya bukan dengan cara yang kotor.”
“Apakah
kau akan meninggalkan kami? Apakah kau se egois itu?”
“Aku
tak sanggup terlibat terus dengan Lee Eunbi.”
“Lalu
apa rencanamu?”
“Aku
sudah mempersiapka untuk studiku di Inggris. Aku akan meninggalkan Seoul. Dan
aku memilih untuk menghabiskan masa sekolahku di sana.” Shi Woo menerawang
langit dan menghembuskan nafas dalam-dalam, menghirup udara di sekolah yang
memberinya banyak sekali kenangan. Arti cinta, persahabatan, keegoisannya, ke
setiakawanan, perselisihan, persamaan, tawa, hangatnya kebersamaan, semua ia serap.
Berharap semua akan baik-baik saja saat ia pergi. Lalu Go Nam Soon hanya
mendesah pelan, menghadapi sahabat yang
satu ini.
***
“Cinta dan persahabatan adalah hal dekat
namun jelas sangat berbeda. Mereka bagaikan air dan minyak, tak bisa menyatu namun
bisa berdampingan. Tapi hal lain justru membuat semakin kres. Kalau kau memilih
persahabatan, lupakan cintamu. Kala kau memilih cinta, korbankan persahabatan.
Karena sahabat yang jadi cinta bukan kesalahan tapi berakibat pada yang lain.
Kalau tidak kuat sebaiknya tinggalkan semua dan memulai yang baru. Karena saat
cinta pada sahabat berakhir, semua akan beda. Tak bisa seperti dulu lagi. Dan
aku tak ingin hal seperti itu.” Shi Woo bergumam dalam hati, ia dengan
pikirannya melayang jauh dan terbang menuju tananh Inggris berharap semua
kembali normal. Tapi ia tak bermaksud melarikan diri. Ia hanya membutuhkan
waktu sendiri sampai tiba saatnya.[]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar