Jumat, 21 Oktober 2016

Just A Friend #LATEPOST #Februari'16




Author             : Wasi’atul Amalia
Title                 : Just A Friend
Genre              : Teens, Friendship, Romance, and Other
Main Cast        : Shi Woo, Go Nam Soon, Lee Eunbi and other cast.

Jinan, Changwon-si,  17 Januari 2015.
Shi Woo sedang bersiap dan berkemas untuk pindah ke Seoul hari itu. Ia dan keluarganya harus pindah dari Jinan karena appa[1]-nya di tugaskan di Seoul. Dengan terpaksa—Shi Woo yang sudah di tingkat 2 SMA nya juga harus pindah sekolah. Ia sudah di daftarkan di SMA “S” dan rencananya ia akan mulai bersekolah besok.
***
            Gyeonggi-do, SMA “S”, 18 Januari 2016.
Hari ini adalah hari pertama Shi Woo di sekolah “S”, dengan gayanya yang cuek ia hanya memperkenalkan diri lalu duduk di bangku kosong. Ia masuk di kelas 2-3.
            Anyeonghaseo[2]. Selamat datang di SMA kami, Shi Woo-ssi. Namaku Go Nam Soon, ketua kelas ini.” Nam Soon yang berada di sebelah Shi Woo memperkenalkan diri. Ia tadi juga di tugaskan guru untuk mengantarnya keliling sekolah.
            Ne[3], Gomawoyo[4]”.
            Setelah bercakap dengan Nam Soon, mata Shi Woo tak sengaja melihat Lee Eunbi yang berada tepat di arah jam 9-nya. Ia memincingkan matanya, lalu mengamati gadis itu. Sepertinya Shi Woo sudah tertarik dengan gadis itu. Ia bahkan tak berpaling.
***
            Jam istirahat pertama Nam Soon mengajak Shi Woo keliling. Ia menjelaskan segalanya tentang sekolah, maklum Go Nam Soon memang ketua yang tanggung jawab dan ramah sekali. Shi Woo hanya manggut-manggut dari tadi.
            “Aissh, sudah keliling dari tadi aku jadi lapar, apa kau ingin bergabung denganku untuk makan siang?” tawar Nam Soon karena ia kelaparan.
            Geuraeyo[5].
***
            Saat sampai di kantin Go Nam Soon melihat teman-teman gengnya sedang makan, lalu mengajak Shi Woo bergabung.
            “Wah, pak ketua sedang sibuk, ya? Hehe.” Seru Chae Yeong Sin.
            “Siapa ini, Shi Woo-ssi.. ahh, anak baru itu ya?” Kim Yeol melirik Shi Woo yang berdiri saja dari tadi membawa nampan makannya.
            “Oh ya, perkenalkan. Dia Shi Woo murid baru di kelasku dan Eunbi. Shi Woo-ya, perkenalkan mereka sahabatku. Kau jangan sungkan, kau bisa gabung dengan kami.” Kata Go Nam Soon menjelaskan.
            Yaa! Namaku Kim Yeol, jangan sungkan main sama kami.” Shi Woo hanya membalas dengan anggukan.
            “Chae Yeong Sin. Oh ya, silahkan duduk Shi Woo-ssi.” Kemudian Shi Woo duduk di sebelah Chae Yeong Sin dan berhadapan dengan Lee Eunbi.
            “Aku Lee Eunbi. Kita sekelas.” Kali ini Eunbi baru membuka suara. Suara lembutnya mampu menerbangkan Shi Woo, membuatnya sepersekian detik tak sadar.
            “Shi Woo-ssi, gwenchana-yo[6]?” Eunbi merasa aneh karena Shi Woo melihatnya tanpa berkedip.
            “Whoaa... yaa! Kau kenapa Shi Woo-ya? Apa kau menyukai Eunbi-ah?” Go Nam Soon menebak gelagat Shi Woo.
            Ania[7]. Aah, molla[8]. Aku merasa banyak pikiran. Aku permisi dulu ya!” tiba-tiba Shi Woo meninggalkan mereka lalu bergegas menuju kamar mandi.
***
            “oh, kenapa ini jantungku seperti mau copot, rasanya panas dingin, suaranya membuatku merinding. Aigoo.. apakah aku menyukai gadis itu? Lee Eunbi... auranya kuat sekali, seakan menyihirku untuk jatuh ke dalamnya. Ah, aku tak sanggup menghadapinya. Tapi.. hanya aku bisa dekat dengannya maka aku harus dekat dengan teman-temannya. Aishh, jinjja[9] ishh...” Shi Woo berkata sendiri sambil memegang dadanya yang deg-degan di balik bilik kamar mandi, ia mencoba menenangkan hatinya yang tak keruan itu.
*** 

            SMA “S”, 5 Maret 2015. Bel istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan keluar untuk sekedar makan siang ataupun menghirup udara segar diluar kelas.
            “Shi Woo-ya kau tak ke kantin?” Nam Soon merasa lapar jadi ia mengajak Shi Woo ke kantin.
            Ania, kau saja. Aku masih ada urusan.” Balas Shi Woo sok cuek seperti biasanya. Lalu Go Nam Soon melenggang pergi begitu saja.
            Hari ini Shi Woo harus mengajak Lee Eunbi berbicara berdua. Ia lalu beranjak ke tempat duduk Eunbi—yang sibuk mengemasi pelajaran barusan.
            “Eunbi-ah, kita harus bicara.” Shi Woo menatap Lee Eunbi tajam.
            “Shi Woo-ssi, anduwe[10]...” dari semua teman Go Nam Soon yang dekat juga dengan Shi Woo, hanya Lee Eunbi yang tetap memanggilnya –ssi.
            “Aku mohon, berikan aku 10 menit. Lalu ku tunggu kau di atap gedung ini.” Kali ini tatapan Shi Woo menghangat seakan sangat memohon, lalu pergi meninggalkan Eunbi dengan sejuta keraguan.
***
            “Shi Woo-ssi...” suara yang sangat di tunggunya akhirnya muncul juga. Kini Shi Woo bisa sedikit tersenyum—tanpa menghilangkan kesan coolnya.
            “Shi Woo-ssi, palleyo[11] katakan apa yang ingin kau bicarakan. Kau hanya punya waktu 10 menit.”
            yaa! Eunbi-ah, kau pikir ku lakukan ini dengan sengaja sampai saat ini? Isshh.. jinjja[12].” kini Lee Eunbi memandangnya skeptis.
            “Ah.. geurae.. geurae. Awalnya memang iya. Tapi lama-lama aku merasa nyaman bermain dengan mereka. Banyak hal yang ku dapatkan bersama kalian. Kalian tulus menerimaku apa adanya. Tapi, tidak dapat di pungkiri sejak awal memang aku menyukaimu, Eunbi-ah. Lalu apakah aku salah, huh? Shi Woo mencoba berterus terang akan semuanya.
            Ne. Kau salah besar Shi Woo-ya. Bukan seperti itu caranya kalau kau menyukai dan ingin dekat dengan seseorang. Tak seharusnya kau berbohong pada mereka dan membuatnya semakin rumit.”
            “Tapi Eunbi-ah, itu dulu. Sekarang aku benar-benar tulus bersama kalian.”
            Jeongmal[13]? Geojitmal hajimara[14] Shi Woo-ssi.” Kali ini Lee Eunbi penuh emosi, darahnya seakan mengalir cepat membuat kulitnya terlihat merah, bahkan ia sampai berkaca-kaca.
            “Aku bersumpah Eunbi-ah. Percaya padaku!” kali ini Shi Woo bernada frustasi. Tidak tahu lagi bagaimana nantinya.
            Mianhaeyo[15] Shi Woo-ssi. Sebelum semuanya terlambat. Tapi aku tak bisa menerima perasaanmu. Kencan bersama teman sendiri itu tidak enak. Aku harap kau bisa mengerti Shi Woo-ssi, suatu saat kau akan tahu apa maksudku. Aku pergi.” Setelah terdengar suara bel istirahat berbunyi, Lee Eunbi langsung meninggalkan Shi Woo.
            Shi Woo masih mencerna maksud Lee Eunbi, ia bolos pelajaran dan memilih mengasingkan diri di atap. Ia masih berbalut emosi, kemarahan, kekecewaan, kesedihan bercampur jadi satu saat itu.
***

            Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah, besok adalah liburan untuk awal musim panas di Korea Selatan. Ini adalah keputusan berat untuk Shi Woo, jelas Lee Eunbi menolaknya mentah-mentah. Kalau ia terus bergabung dengan Nam Soon CS pasti Lee Eunbi tidak mau bergabung, kalau Shi Woo meninggalkan Nam Soon CS citranya akan tercoreng bahkan ia belum tentu bisa dekat lagi dengan Lee Eunbi.
            Shi Woo memutuskan untuk merenung di atas gedung seperti biasa. Tiba-tiba Go Nam Soon datang.
            “Bukankah kita sekarang dekat sekali?” kata Go Nam Soon membuyarkan lamunan Shi Woo.
            Gomawoyo. Kau sudah mau berteman denganku. Maafkan aku atas semuanya. Aku tak akan mengganggu kalian atau bahkan merusak persahabatan kalian.”
            “Aku sudah taHu Shi Woo-ya. Aku tahu semuanya. Kau menyukai Eunbi. Tapi di sisi lain ternyata kau bisa mengerti arti persahabatan disini.”
            “Maafkan aku Nam Soon-ah. Aku memang salah. Berat meninggalkan kalian karena aku merasa dekat.”
            “Terlalu dekat sampai tak terlihat, Shi Woo-ya. Kau tak perlu meninggalkan kami. Ku lihat kau tulus.”
            Heh! Mungkin sering terjadi persahabatan yang berakhir dengan cinta. Tapi cinta kadang tidak berakhir dengan persahabatan. Sekarang aku mengerti maksud Eunbi, lagi pula kita masih muda. Aku akan mendapatkannya bukan dengan cara yang kotor.”
            “Apakah kau akan meninggalkan kami? Apakah kau se egois itu?”
            “Aku tak sanggup terlibat terus dengan Lee Eunbi.”
            “Lalu apa rencanamu?”
            “Aku sudah mempersiapka untuk studiku di Inggris. Aku akan meninggalkan Seoul. Dan aku memilih untuk menghabiskan masa sekolahku di sana.” Shi Woo menerawang langit dan menghembuskan nafas dalam-dalam, menghirup udara di sekolah yang memberinya banyak sekali kenangan. Arti cinta, persahabatan, keegoisannya, ke setiakawanan, perselisihan, persamaan, tawa, hangatnya kebersamaan, semua ia serap. Berharap semua akan baik-baik saja saat ia pergi. Lalu Go Nam Soon hanya mendesah pelan, menghadapi sahabat  yang satu ini.
***
            “Cinta dan persahabatan adalah hal dekat namun jelas sangat berbeda. Mereka bagaikan air dan minyak, tak bisa menyatu namun bisa berdampingan. Tapi hal lain justru membuat semakin kres. Kalau kau memilih persahabatan, lupakan cintamu. Kala kau memilih cinta, korbankan persahabatan. Karena sahabat yang jadi cinta bukan kesalahan tapi berakibat pada yang lain. Kalau tidak kuat sebaiknya tinggalkan semua dan memulai yang baru. Karena saat cinta pada sahabat berakhir, semua akan beda. Tak bisa seperti dulu lagi. Dan aku tak ingin hal seperti itu.” Shi Woo bergumam dalam hati, ia dengan pikirannya melayang jauh dan terbang menuju tananh Inggris berharap semua kembali normal. Tapi ia tak bermaksud melarikan diri. Ia hanya membutuhkan waktu sendiri sampai tiba saatnya.[]


[1] Ayah
[2] Halo(apa kabar)
[3] Ya
[4] Terimakasih(formal)
[5] Baiklah
[6] Tidak apa-apa
[7] Tidak
[8] Tidak tahu
[9] Sungguh
[10] Tidak bisa
[11] Cepat
[12] Sungguh
[13] Benarkah
[14] Jangan bohong
[15] Maafkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar