THREE
PRINCESS AND TRHEE SCOUT BOY
Flash
Fantasy Fiction
Kamu pasti pernah
dengar atau tahu tentang cerita 7 kurcaci dan putri salju kan? Bagaimana jika
kurcacinya Cuma 3? Masihkah mereka memperebutkan 1 putri? Lalu bagaimana kalau
ternyata putrinya juga ada 3? Wah pas sekali kan? Tapi, apa iya semudah itu?
Jangan jangan masih ada persaiangn antara putri, antara kurcaci? Ini kisah
tentang 3 orang putri yang bersaudara, dan 3 orang kurcaci yang bersahabat.
Akankah mereka memiliki pasangan masing-masing? Atau adakah putri yang patah
hati? Atau kurcaci yang patah hati? Lets cekidot!
***
Di
musim semi ini telah terjadi perang persaudaraan. Hal ini karena raja yang
memilih pangeran ketiga sebagai putra mahkota dan menggantikannya di kursi
tahta. Awalnya berjalan lancar saja. Namun, setelah raja meninggal. Semuanya
berubah. Pangeran pertama dan kedua merasa tak terima. Di tengah riuhnya
peperangan,istri pangeran William(pangeran ke-1) melahirkan. Ia melahirkan
seorang putri yang sangat cantik. Di musim semi ini. Ia namai putrinya,
Aurelia. Musim pun berubah. Kali ini salju turun. Perang masih terus terjadi,
namun sudah tak sesering dulu. Kali ini istri pangeran Santiago(pangeran ke 2)
melahirkan. Ia juga melahirkan putri yang cantik. Lalu ia namai putri O’Hara. Terakhir,
di akhir musim panas setelah itu istri pangeran Matthew(pangeran ke 3)
melahirkan putri juga, yang ia namai putri Zoey.
![]() |
| Princess O'Hara |
Suasana
kerajaan masih belum meredam. Hari demi hari, tahun demi tahun masih saja
seperti ini. Akan tetapi ketiga putri itu tumbuh baik. Mereka bahkan bermain
bersama-sama di dalam istana utama.
![]() |
| Princess Zoey |
Tujuh
belas tahun berlalu. Kini ketiga putri yang lahir di tahun yang sama ini tumbuh
menjadi seorang putri yang sangat cantik. Aurelia yang sangat lemah lembut dan
santun, hobinya memasak. Ia makin anggun mengenakan gaun berwarna merah soft di
padu warna putih dan renda-renda abu-abu sedangkan rambutnya tergerai dengan bandana yang sepadu dengan
gaunnya. Putri O’Hara ia terlihat
tomboy, namun tetap cantik. Ia hobi seni bela diri dan pedang.hobinya yang tak
biasa ini kadang membuat ibunya khawatir, bagaimana kalau tak ada pangeran lain
yang mau dengannya. Putri O’Hara masih terlihat sangat anggun meskipun memakai pakaian
khas untuk latihan pedang. Baju berompi tembaga dan celana kulot serta sepatu
boot, dengan rambut panjang dikuncir kuda dan berpita merah jambu. Sedangkan
putri Zoey seperti biasa, ia terlihat sangat tegas dan keibuan. Dia yang paling
muda, tapi yang paling dewasa. Ia memakai gaun warna biru kesayangannya, dengan
rambut yang ia sanggul, dan menyisakan sedikit di bagian kuping. Serta poni
yang ia selalu banggakan. Hobinya adalah merajut. Kalau ia sedang kesal, ia
lebih memilih untuk merajut apapun yang bisa ia lakukan. Ia menjadi sangat
cantik ketika memakai hasil rajutan nya itu. Maka tak heran, di musim apapun ia
selalu mengenakan syal, atau kupluk di kepala. Kadang juga sarung tangan,
bahkan rompi.
Mereka
prihatin dengan keadaan negeri ini. Belasan tahun belum juga mereda perang itu.
Akhirnya mereka semua merencanakan sesuatu.
“kita
harus segera hentikan perang ini apapun caranya!” dengan berapi-api O’Hara
menyampaikan unek uneknya. Kemudian datanglah Aurelia dengan membawa sebuah
peta,
“Sepertinya
aku punya ide. Tapi entahlah!” ia menunjukkan peta tersebut pada saudara-saudaranya.
“oh,
peta apa ini?” Zoey mengangkat alis heran.
“peta
negeri ini. Aku menemukannya di sebuah lemari tua di gudang bawah tanah.” Kata
Aurelia menerawang.
“Apa
rencanamu?”
“….”
Aurelia menjelaskan panjang lebar. Kedua saudaranyapun manggut-manggut
mengerti.
“kapan
kita beraksi?” O’Hara antusias.
“Bagaimana
kalau besok malam? Misi ini sangat berbahaya, jadi kita harus hati-hati.”
Aurelia agak cemas.
“Kau
benar. Kita harus siapkan semuanya dari sekarang. Bagaimana?” Zoey beranjak
dari kasur nyaman Aurelia dan mulai heboh. Yah, seperti biasa Zoey memang putri
yang sangat riweh. Semuanya pun mengikuti Zoey dan menyiapkan apa yang perlu
dibawa.
Sebuah
rencana yang terbilang konyol, namun mungkin mengasyikan, dan semoga saja
mereka berhasil menyatukan para ayahandanya. Karena rencana mereka adalah kabur
dari istana dan hidup di hutan. Mereka akan membuat seakan-akan ketiga putrinya
ini di culik. Dengan demikian ketiga pangeran akan bekerja sama mencari mereka.
***
![]() |
| 3 Scout Boy |
Disisi
lain di negeri antah berantah nun jauh disana. Tinggalah 3 orang kurcaci.
Mereka sudah mengembara beberapa tahun ini. Mereka tinggal di tengah hutan yang
kalau orang bilang adalah hutan terlarang. 3 kurcaci ini biasa memburu,
bercocok tanam, terkadang membangun atau menciptakan sesuatu di hutan, mereka
juga sangat akrab dengan hewan-hewan termasuk harimau dan singa. Kristopher,
atau temannya memanggilnya Kristof adalah kurcaci yang sangat dingin juga keras
kepala, ia tak akan berbicara sesuatu yang tidak penting. Ia lebih suka bekerja
di areal sekitar rumah guanya daripada keliling untuk berburu. Yang kedua
adalah Klerent, ia konyol dan bertingkah aneh, suka bicara sesuatu yang gak
penting dan jarang pulang ke gua. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk
berburu, atau menemukan sesuatu yang baru di hutan. Dan yang terakhir adalah
Kevin. Ia yang paling rajin dalam bekerja, apapun ia lakukan meskipun kerjanya
agak sedikit lemot ketimbang temannya yang lain, biasanya Kevinlah yang menjadi
penengah saat temannya bertengkar atau menjadi penasehat saat terjadi masalah.
![]() |
| Kristopher |
Kalau
dalam bayangan kalian mereka seperti kurcaci biasanya, kalian salah besar. Karena
mereka tak begitu kecil dan terkesan normal. Namun karena mereka mengenakan
busana yang biasa kurcaci kenakan dan pekerjaan yang dilakukan semakin mirip
dengan kurcaci sesungguhnya.
Di
suatu sore yang mendung, Klerent berencana untuk berburu. Ia mengajak kedua
temannya, namun keduanya menolak karena hari mau hujan. Keinginan yang tak
terbantahkan, akhirnya Klerent memutuskan untuk pergi sendiri.
“Dasar
bocah, gak kerasan banget di rumah!” Kevin hanya berdecak melihat temannya
memaksa pergi.
“Haha,
biarkan saja dia.” Dengan tatapan kosong Kristof melihat kepergian Klerent.
***
Di
tempat lain, di pintu gerbang istana. Aurelia, O’Hara, dan Zoey sudah bersiap
untuk melarikan diri. Mereka tengah mengatur tak tik dan strategi agar lolos
dari penjaga pintu gerbang.
Akhirnya
setelah bersusah payah menyamar menjadi seorang pedagang besar, mereka lolos
dari penjaga. Kini, mereka bertiga harus melewati desa dan berjalan menuju
hutan terlarang. Sejauh itu, rencana mereka berjalan lancar. Namun, saat tiba
di perbatasan hutan, terlihat begitu gelap dan menakutkan, sedangkan mereka
hanya memiliki penerangan seadanya.
“Kau
yakin kita lanjut?” Zoey menatap kedua saudaranya. Mereka semua mengenakan
tudung.
“Yah,
kita sudah sejauh ini.” Kata O’Hara yakin.
“Dia
benar. Ayo jalan.” Aurelia memimpin, diikuti saudara yang lain.
Mereka
melewati semak belukar, ranting pohon yang menjuntai menghalangi pemandangan,
sesekali terdengar suara hewan malam. Dengan penuh keberanian mereka terus
berjalan menyusuri hutan hujan itu. Tepat hampir fajar. Mereka telah sampai di
tengah hutan. Mereka memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu pagi, dan melakukan
rencana selanjutnya.
***
“Ah,
payah. Padahal ini Cuma mendung, dan gak hujan. Akhirnya aku berangkat
sendirikan?” Klerent mengomel sendiri. Sambil ia menyiapkan panahnya untuk
berburu. Ia sudah berjalan jauh, dan hari hamper pagi, namun ia belum menemukan
buruannya. Tiba-tiba ia melihat cahaya-cahaya yang melintas. Ia memutuskan
untuk bersembunyi dan mengintip saja.
Klerent
sangat terkejut jika yang ia lihat adalah manusia. 3 manusia yang masuk hutan.
Ia heran, karena selama ini tak pernah ada manusia yang berani masuk ke hutan.
Ia lebih terkejut lagi ketika mereka semua adalah gadis-gadis cantik. Ia
bingung, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Namun
saat mereka lengah dari perhatian Klerent, tiba-tiba ada yang mengejutkannya.
“Hey!
Siapa kau!” O’Hara memergoki Klerent. Klerent pun tak mau kalah dan berkacak
pinggang.
“Aku
penghuni hutan ini. Kau yang siapa berani-beraninya masuk kesini.” Kini O’Hara
hanya tertawa sinis.
“Kau
hanya penghuni. Bukan pemilik. Akulah pemilik hutan ini. Hahaha.” Kali ini
O’Hara tertawa sombong.
“Wah.
Sombong sekali kau!” dengan kasar Klerent menyerang O’Hara. Berkat kemampuan
bela dirinya,ia mampu menepis. Sempat bersi tegang, namun saudara O’Hara yang
lain datang dan menghentikan.
“Berhenti!
Ada apa ini?” Aurelia mencoba menghentikan perkelahian. Semuapun tertuju
padanya. Hari mulai terang.
“Kalian
ini siapa? Datang mengganggu kedamaian kami.” Klerent mencoba protes.
“Maaf
tuan. Kami tak bermaksud mengganggu. Tapi kami sedang tersesat dan kami tak
bisa pulang dari desa.” Zoey mencoba menjelaskan. Kali ini O’Hara kaget dan
berbisik.
“Kenapa
kau bilang seperti itu?” Tanya O’Hara. Zoey hanya berkedip lalu Aurelia
menyahut.
“Iya
tuan. Kami tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.” Kini mereka mencoba meyakinkan
Klerent.
“Ah.
Benarkah?” kali ini Klerent tidak yakin. “kalau begitu, apa kalian minta antar
ke perbatasan desa?”
“sebenarnya
kami ingin. Tapi disana sedang terjadi peperangan. Jadi kami sembunyi dulu.”
“Kalu
begitu ikutlah bekerja di tempatku. Bagaiman?”
“Apa?
Bekerja? Kau kira kami orang biasa?”
“O’Hara!
Tak apa lah kita bekerja, asalkan punya tempat sembunyi.”
“Kau
benar. Oh iya, siapa namamu?”
“Panggil
saja Klerent.”
“Aku
Aurelia, ini adikku Zoey dan O’Hara.”
***
Mereka
mengikuti kemana Klerent pergi. Tak lama, sampailah mereka di sebuah gua.
Mereka masuk ke dalam. Rupanya di dalam gua ini telah di sulap menjadi rumah
oleh mereka. Kedatangan Klerent dengan membawa 3 gadis cantik-cantik membuat
Kristof dan Kevin heran.
“Hey.
Siapa mereka Klerent?” Kristof terlihat tak suka.
“Mereka
akan bekerja untuk kita. Hehe” Klerent menjelaskan.
“Untuk
apa?” Kevin mulai berargumen. Akhirnya Aurelia menjelaskan maksud dan tujuannya
kemari. Kristof memandang tak suka, karena ia memang tak suka berbagi apalagi
bertemu orang baru. Kevin manggut-manggut mencoba mengerti, dan Klerent sih
terserah karena memang ia jarang di rumah.
***
“Kalian
tinggal dan bekerja disini. Dan kami adalah bosnya, jadi aku harap jangan
membuat kesalahan disini. Mengerti?” Kristof menjelaskan dengan tegas.
“Baiklah!
Lalu apa yang akan kami kerjakan?” Tanya Aurelia.
“Kau,
ikut aku menanam dan panen wortel di lading!” Kristof menunjuk Aurelia. “Kau
sepertinya… cocok untuk ikut berburu dengan Klerent.” Seru Kristof lagi.
“Apa!”
O’Hara kaget dan tak terima.
“Ya!
Kau harus nurut apa kata Klerent, dan hanya kau yang sepertinya bisa.” Jelas
Kristof lagi.
“Dan
Kevin, kau dengan dia. Suruh saja dia yang membenarkan bendungan di sungai.”
Perintah Kristof lagi.
“Apa
itu tak terlalu berat olehnya?” sergah Kevin.
“Hem,
biarkan saja. Kau jangan terlalu baik padanya Kevin.” Kali ini Klerent yang
berkomentar.
“Tak
apa. aku tak keberatan.” Zoey menerima dengan sopan.
Setelah
percakapan itu, di pagi hari tentunya dengan sarapan seadanya mereka semua
mulai pergi bekerja ke tempat masing-masing. Kali ini Kristof bersama Aurelia
menuju ladang dekat gua untuk menanam dan memanen wortel, hal itu tak di
sia-siakan Kristof.
“Hey
kau! Sebaiknya cepat kau panen wortelku itu. Aku akan duduk di sini dan
menunggumu!” perintah Kristof.
“Apa
kau tak ingin membantuku?” Tanya Aurelia hati-hati.
“Karena
kau bekerja padaku. Jadi kau lah yang kerjakan, aku kan juga sudah menanamnya.”
Kali ini Kristof duduk dan menunjuk-nunjuk. Kelakuannya benar-benar bak raja.
Aurelia hanya bisa mendesah kesal dan melakukannya dengan hati dongkol.
“Kalau
saja dia tahu, ayahku adalah raja negeri ini. Mati kau Kristof!” Aurelia
mencabuti wortel sambil marah-marah gak jelas. Dan sekarang Kristof sedang
tertidur di bawah pohon yang jauh disana.
Di
sisi lain, kali ini O’Hara mengikuti kemana Klerent pergi.
“Mengapa
aku harus bersamamu, dari semua orang!” O’Hara protes.
“Ah,
berisik kau! Sudah ikuti saja aku. Aku yakin kau akan ketagihan nanti. Haha.”
Klerent tertawa.
Tak
lama kemudian Klerent melihat seekor kijang, dengan reflex ia menarik O’Hara
untuk sembunyi, namun sayang kaki malang Klerent terpeleset dan, baamm! O’Hara harus ikut jatuh
bersamanya. Sesaat tiba-tiba menjadi slow
motion. Kalau kalian berharap ini adegan romantic, kalian salah. Dengan
reflex juga, O’Hara yang sadar telah jatuh dalam pelukan Klerent reflex
menampar laki-laki itu.
“plaak!”
“Apa
yang kau lakukan?” Klerent terkejut bukan main. Kali ini O’Hara berdiri mengambil
kuda-kuda.
“Kau
pasti sengaja melakukannya bukan?”
“Lihat.
Kijangnya kabur gara-gara kau berisik. Dasar! Aku menarikmu untuk sembunyi,
sialnya aku malah terpeleset, sialnya lagi kau memukulku.” Mereka pun hanya
bisa sungut-sungutan.
Di
sebuah sungai, disana Kevin dan Zoey sedang bekerja sama membenarkan bendungan
yang jebol.
“Ah,
terimakasih tuan, kau sangat baik pada kami. Telah mengizinkan kami tinggal
disini.” Zoey memulai percakapan agar tak canggung.
“Tak
apa nona, panggil saja aku Kevin. Aku hanya berfikir bagaiman 3 orang gadis
cantik bisa tersesat di hutan terlarang ini, padahal sudah sekian tahun ini tak
ada ornag yang berani masuk.” Jelas Kevin
“Ah
seperti itu. Yah, kami memang pergi ke hutan untuk bersembunyi dari keadaan
perang di desa kami, Kevin. Tapi, apakah kalian dari dulu tinggal di sini, atau
bagaimana?”
“Oh.
Tidak. Kami punya rumah. Kami juga punya kehidupan masing-masing sebelumnya.
Tapi kami bertemu di suatu tempat saat itu, setelah saling mengenal beberapa
musim kemudian kami putuskan untuk bersembunyi. Dan entah sampai kapan kami
akan tinggal disini.”
“Apa
kau tak berniat untuk kembali?”
“Entahlah…”
percakapan itu masih berlangsung. Kali ini suasana menjadi hangat dan akrab,
sehingga pekerjaan beratpun tak terasa.
Hari
pertama para putri ini bekerja benar-benar sesuatu. Berbeda dengan dua
saudaranya, Zoey lebih bisa akrab dengan Kevin dan berlaku baik pada yang lain.
sedangkan O’Hara masih ketus dan selalu bertengkar dengan Klerent. Aurelia
bersikap baik pada semuanya, namun Kristof satu-satunya yang dingin dengannya.
***
Malam
hari setelah hari yang panjang usai. 3 kurcaci memutuskan untuk berkumpul.
“ada
apa Kevin?” Klerent mulai dengan pertanyaannya.
“Setelah
kalian bersama mereka, adakah yang mencurigakan?” Kevin bertanya hati-hati.
“Aku
tak percaya mereka adalah orang biasa. Kau tahu kan? Aku melihat Aurelia
memakai gaun di balik jubahnya. Dan dari gerak gerik mereka seperti bukan orang
biasa.” Kali ini Kristof menganalisa sambil mengusap dagu berfikir.
“Kau
benar Kris. Orang biasa tak mungkin mahir memainkan seni pedang. O’Hara sangat
terampil dan kemampuannya sangat baik, dan segala ucapan-ucapannya membuatku
curiga. Seakan mereka adalah orang penting negeri ini.” Klerent ikut
berkomentar.
“Hm…
seperti itu ya. Sebentar. Kita kumpulkan bukti saja dulu. Sementara jangan
mencurigakan, kita lakukan semua seperti biasa dan bersikap seperti biasa, lalu
setelah semua informasi terkumpul, tindakan apa yang harus kita lakukan.
Bagaimana?” keduanyapun sepakat dan kembali ke kamar masing-masing. Para putri
itu mereka tempatkan di ruangan kosong dekat dapur mereka dan harus berbagi
ruangan sempit.
Di
runagan sempit itu, para putri sedang menyusun strategi.
“Bagaimana kita menjadikan mereka kambing hitam?”
“Apa tak berbahaya? Bagaimana nanti kalau mereka
menuntut? Mereka sudah baik pada kita.”
“Apa? Baik? Kita adalah budak di sini Zoey.”
“Lalu sampai kapan kita akan tinggal?”
“Bergerak cepat. Agar kita bisa juga cepat keluar
dari sini.”
“Kau O’Hara, saat kau berburu bersama Klerent,
ajaklah dia sampai ke perbatasan. Diam-diam kau harus melempar sebuah
ultimatum, atau tanda bahwa kita sedang menjadi tawanan.”
“Lalu?”
“Zoey dan aku meyakinkan mereka kita benar-benar
butuh bantuan meraka.”
“Yah, apa tak sebaiknya jujur saja Aurelia?”
“Jangan dulu Zoey. Kita juga jangan terlalu percaya
pada mereka. Kau tahu, bahkan kita sedang jadi budak mereka.”
***
Di
suatu pagi yang cerah, seperti biasa semua bersiap untuk bekerja. Tak ada yang
memulai untuk mengobrol. Mereka semua diam dan dengan pikirannya masing-masing.
Ini sudah beberapa hari sejak para putri tinggal bersama para kurcaci. Dengan
santai Aurelia mengikuti kemana Kristof pergi. Kristof merasa jengah.
“Kenapa
kau selalu mengikutiku, ha?” Kristof yang berbalik badan membuat Aurelia kaget.
“Maaf?”
Tanya Aurelia.
“Ah,
sudah lah. Kau memang selalu menyusahkan ku.”
“Lalu
aku disini adalah untuk bekerja. Kalau O’Hara sekarang bekerja bersama Klerent
dan Zoey dengan Kevin, lantas apa yang harus aku lakukan selain denganmu?”
pertanyaan Aurelia membuat Kristof garuk kepala.
“Ah,
sudahlah ayo pergi.” Kristof merasa frustasi ia berjalan cepat pergi, di ikuti
oleh Aurelia yang setia menjadi pengikutnya.
Sesampainya
di sebuah tempat, yang terlihat seperti taman mungkin, Kristof menyuruh Aurelia
untuk memetik apel untuknya.
“Hey
kau! Aku disini bukan mengajakmu untuk piknik. Tapi bekerja. Sana petik
apelnya!” kata Kristof saat melihat Aurelia yang sangat menikmati suasana yang
begitu sejuk. Sejenak Kristof tersenyum melihat Aurelia, namun segera ia tepis
saat Aurelia menoleh.
“A..
Apa? Petik apel?” katnay terkejut.
“Yah,
taman ini kami yang buat. Dan ini di kelilingi oleh pohon apel merah, kau lihat
saja keliling nya, pasti banyak pohon yang sudah berbuah. Cepat kerjakan.”
“Ba..
baik..” Aurelia bergegas membawa keranjang dan mulai memetiknya. Ia saat
terkesan, apalagi bisa memetik langsung.
Sudah
beberapa jam dan banyak sekali hasil panennya. Aurelia hanya memilih buah yang
dahannya pendek atau bisa di jangkau.
“Kris…
apa kau bisa menolongku?” Tanya Aurelia ragu-ragu.
“Banyak
apel yang matang di atas sana. Tapi aku tak bisa memanjatnya.”
“Aishh..
kau ini!” di pikir Aurelia ia akan kena marah. Nyatanya Kristof malah beranjak
dan mulai memanjat pohon. Ia memilih apel-apel dan memetik dengan cepat.
“Wah.
Kau sangat hebat Kris.” Kristof membusungkan dada dan tersenyum. Sejenak
Aurelia tertawa. Lalu Kristof langsung bersikap dingin dan salah tingkah.
“Ah,
begini saja tak bisa kau.” Mereka pun duduk sejenak di bawah pohon apel,
menikmati hamparan hijau rumput dan bunga-bunga serta pohon apel yang berbuah.
Keduanya dengan pikiran masing-masing. Kristof mengambil apel dan menggigitnya.
Ia lalu mengambil lagi dan di berikan pada Aurelia.
“Makanlah!
Kau pasti haus.” Untuk waktu sepersekian detik, bukan apel yang Aurelia lihat.
Tapi mata Kristof. Ia melihat sebuah ketulusan. Aurelia lalu tersenyum dan
mengambil apel itu. Bisa dilihat Kristof tiba-tiba tersipu malu dan salah
tingkah.
“Terima
kasih Kris. Sepertinya kau baik juga.”
“Jangan
salah sangka. Aku hanya kasihan.”
“Ah,
terserahlah. Hem.. apel ini manis sekali. Segar, apalagi di petik langsung dari
pohonnya.” Kali ini Kristof hanya melihatnya sambil tersenyum, ada sebuah
tenang di dalamnya.
***
Di
tempat lain, kali ini benar-benar berbeda. Entah mengapa O’Hara tak bergeming
sama sekali, biasanya ia akan sangat cerewet dengan Klerent. Klerent pun merasa
tak enak karena harus diam diaman sepanjang jalan.
“O’Hara
kau pasti akan sangat senang nanti. Kita akan berburu di hutan mati. Di sana
banyak tempat bagus dan pastinya banyak kijan dan babi hutan di sana. Lalu kau
bisa sepuasnya belajar memanah denganku. Bagaimana?” Klerent mencoba mencairkan
suasana.
“Apa?
Aku memang ingin sekali belajar memanah. Tapi bukan sama kau!” sautnya ketus.
“Aish,
dasar kau! Ya sudah kalu begitu. Siapa yang akan mengajari gadis galak
sepertimu kalau bukan Cuma aku.”
“Klerent!”
O’Hara berteriak keras, dan Klerent hanya bisa tertawa.
Kali
ini mereka berburu lumayan jauh. Seperti di janjikan Klerent, ia mengajak ke
hutan mati. Hutan ini sangat di pedalaman.
“Klerent.
Apa ini yang kau maksud?”
“Iya.
Selamat datang di hutan mati. Ini surga tersembunyi hutan terlarang.”
“Mengapa
tempat se indah ini namanya hutan mati?” O’Hara masih takjub.
“Entahlah.
Dari dulu juga sudah begini. Ah, artinya aku tak sia-sia mengajakmu ke sini
dong! Kau bisa tersenyum dan ngomong lagi. Haha.”
“Ih,
memangnya aku bisu.”
“Klerent.
Aku ingin berenang di air terjun.”
“Apa
kau yakin? Di sana dalam sekali.”
“Aku
tak tahan berjalan jauh membuatku gerah. Dan aku pandai berenang.”
“Dengan
ku disini. Apa kau tak malu?”
“Aishh..
dasar! Aku pakai bajuku lah.”
“Oh,
tapi jangan jauh-jauh ya. Bahaya di sana. Awas! Jangan mendekati air terjunnya.”
“Ah
cerewet sekali kau ini.”
“Hey
jangan jauh jauh. Aku disini sambil mengawasi babi hutan. Oke?”
“…”
tak ada jawaban. Tapi terdengar percikan air, sepertinya O’Hara tengah asyik
bermain air.
Sudah
agak lama sejak O’Hara pamit untuk berenag. Namun kali ini Klerent tak
mendengar suara O’Hara lagi. Klerent menjadi khawatir. Ia pun bergegas untuk
melihat keadaan O’Hara.
Betapa
terkejutnya Klerent, melihat O’Hara berenang di bawah guyuran air terjun.
“O’Hara!
Kembalilah. Jangan kesitu. Bahaya. Ayo kembali.”
“Apa?”
teriak O’Hara.
“Kembalilah.”
Teriakan Klerent saat ini lebih kencang.
“Oke.
Aku kembali.” Saat O’Hara berusaha untuk kembali, tiba-tiba kakinya kram,
akhirnya ia hilang kendali dan akan tenggelam. Klerent yang menyadari itu,
langsung terjun menyelamatkan O’Hara.
Mereka
telah sampai di tepi kolam. Klerent mengguncang-guncang tubuh O’Hara. Tapi ia
tak sadar. Klerent juga menepuk-nepuk pipi dan menekan dadanya. Akhirnya
setelah beberapa kali usaha, O’Hara pun terbatuk-batuk dan mulai sadar.
“O’Hara,
bangunlah! Bangun ku bilang! Kau bodoh ya? Aku kan sudah memperingatkanmu.”
Kristof mengomel dan marah-marah. Dan O’Hara yang telah sadar hanya
memandangnya jengah.
“Kenapa
kau cerewet sekali, ha? Aku tak apa.” Katanya santai.
“Dasar!”
***
Di
tempat yang lain juga Zoey dan Kevin masih di rumah. Ia menyuruh Zoey untuk
tetap di rumah dan hanya diam untuk beberapa saat.
“Apakah
hari ini aku tak ada pekerjaan?” kata Zoey yang mulai bosan.
“Hehe.
Kau mungkin berharap seperti itu ya? Tapi kau salah. Pekerjaanmu ada disini.
Ayo ikuti aku.” Kata Kevin tenang. Zoey hanya bisa tercengang. Zoey penasaran.
Kira-kira pekerjaan apa yang hendak ia tunjukkan.
Beberapa
saat kemudian, sampailah mereka di belakang gua. Disan ada sebuah gudang yang
sangat kotor, dan sepertinya tak pernah terpakai.
“Kau
lihat. Ruangan itu tak pernah kami sentuh lagi. Kami hanya akan menaruh barang
tak terpakai lalu meninggalkannya. Aku harap setelah ini menjadi lebih rapid an
bersih. Kau bisa kan?”
“Oh..
o.. oke. Oke. Kita bisa.”
“Ya,
kita. Hehe.”
“Apa
kau berencana membuatku bekerja sendiri, dengan jenis pekerjaan yang berat ini?
Huh?”
“Tentu
saja tidak.”
Mereka
pun bergotong royong mengeluarkan semua isinya. Sampai sekarang, wajah mereka
terlihat cemong dan berantakan karena tempatnya yang sangat kotor.
“Ah,
pekerjaan ini sangat berat. Ah, bahkan aku terlihat sangat kotor.”
“Maaf,
apa kau kelelahan?”
“Yah,
tapi tak apa. Aku akan bersemangat.”
“Kalau
begitu. Ayo lanjut.” Kevin pun beranjak dan mulai membersihkan gudangnya.
“Ah,
dasar. Harus sabar. Sebentar lagi selesai. Ini terakhir.”
Mereka
pun membersihakan seluruh ruangannya. Lalu memasukkan dan menata kembali
ruangannya.
Setelah
pekerjaan selesai, mereka pun membersihkan diri. Kemudian Kevin memasak. Ia
membuatkan makanan untuk Zoey. Karena ia tahu, setelah pekerjaan yang
melelahkan itu. Zoey pasti kelaparan. Mereka menikmati masakan Kevin. Sederhana
sih, tapi saat lapar apapun bisa enak. Tak lama setelah itu. Aurelia dan
Kristof dating dengan membawa 3 kerenjang apel yang ia panen.
Mereka
juga ikut bergabung makan. Kemudian datanglah Klerent dan O’Hara. Mereka
terlihat acak adut. Gara-gara insiden tenggelamnya O’Hara. Dan tak ada hasil
buruan karena O’Hara tak terlihat baik, ia bahkan harus dipapah. Zoey dan
Aurelia bergegas menghampiri O’Hara dan membawanya ke kamar.
***
“Hari
ini sesuatu banget.” Klerent mengeluh.
“Hey.
Dia kenapa?” Tanya Kristof.
“Aku
mengajaknya ke hutan mati. Ia berenang dan kakinya kram.”
“Apa?
Kau yakin gak papa mengajaknya kesana?”
“Ah,
entahlah. Ku harap dia bisa di percaya. Yang aku heran adalah saat ia tak sadar
dan aku mencoba melonggarkan pakaiannya aku menemukan sesuatu. Ini adalah
sebuah kalung, dan di dalam nya ada fotonya.” Klerent mengambil kalung O’Hara
dan menyimpannya di sakunya. “Apa kalian tahu, siapa mereka?” mereka membuka
kalung. Kevin terkejut bukan main.
“Apa
kau tahu Kevin? Bagaimana dengan mu Kris?”
“Aku
tak tahu siapa mereka. Tapi dari segi penampilan sepertinya keluarga kerajaan.”
Sahut Kristoper.
“Kau
gak salah ambil kan Klerent?”
“Iya,
aku yakin Kev. Ini pasti O’Hara kecil. Lalu ini ayah dan ibunya. Ah,
cantiknya.”
“Gak
salah lagi. Dugaanku pasti benar. Mereka adalah putri kerajaan Oscar. Beliau
telah wafat, dan rajanya sekarang adalah raja Matthew. Salah satu ayah dari
mereka.” Kevin menjelaskan dengan teliti.
“Apa!”
dua orang yang lain tersentak kaget. Mereka tak habis fikir.
“Lalu
mengapa mereka lari ke hutan, dan membohongi kita?”
“Apa
harus kita kasih pelajaran?”
***
Pagi-pagi
sekali, terdengar suara ribut di luar. Para kurcaci pun memastikan apa yang
terjadi. Para putri masih sembunyi di
dalam kamar.
“Gawat.
Itu pasukan kerajaan. Mau apa mereka.” Kristof bingung bukan kepalang.
Para
putri keluar kamar. Dan menyaksikan semua menjadi kalang kabut.mereka yakin.
Itu adalah para pesuruh kerajaan karena mereka telah membaca ultimatum yang
diam-diam O’Hara kirim ke luar. Sekarang sebaiknya mereka temui para prajurit,
lalu ikut pulang ke istana.
Para
prajurit berhasil membobol gua. Kevin, Klerent, dan Kristof bersiaga dengan
pedang masing-masing. Sedangkan para putri saling berpelukan.
“Apa
mau kalian?” sergah Kevin
“Kembalikan
putri kami. Kalian telah menculiknya. Tangkap mereka dan masukan ke penjara
bawah tanah.” Mereka kaget bukan main. Itu tuduhan yang tak benar, para putri
pun juga sangat kaget, begitu cepat pihak istana mengambil tindakan. Kristof
memandang ke tiga putri dengan tatapan penuh amarah. Mereka di kepung dan di
bawa ke tahanan.
***
Semua
ini melenceng dari rencana awal. Bahkan mereka memenjarakan orang yang menolong
mereka. Mereka tak habis pikir. Hanya Zoey yang bisa menjelaskan dan membantu
mereka agar bisa mengeluarkannya dari penjara.
Putusan
hukuman akan di bacakan nanti. Dan tahanan dan perwakilan rakyat akan menjadi
saksi. Sekaligus para putri dan keluarga kerajaan. Lalu apakah perang masih
berlanjut? Seperti yang di rencanakan sebelumnya. Perang itu bahkan sudah usai.
Upacara perdamaian juga telah di gelar, karena mereka harus bekerja sama menemukan
para penerus kerajaan. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalaha, bagaimana
membebaskan para kurcaci agar tak terlibat dalam masalah ini.
Putusan pun di
tetapkan. Dengan tegas raja Matthew menghukum ketiganya dengan hukuman pancung.
Ketiga putri berontak mereka bertiga berlari ke depan singgah sana kursi raja.
Di tehah itu petir menyambar dan hujan turun. Deras sekali. Zoey. Hanya dia
yang bisa membujuk ayahnya.
“Maafkan kami baginda
raja. Mereka bertiga tak bersalah sama sekali. Ini inisiatif kami bertiga. Maka
terima jika engkau menghukum kami, dan bebaskanlah merka bertiga.” Aurelia,
O’Hara dan Zoey bertunduk pada raja memohon. Semua keluarga kaget dengan
tindakan para putri.
“Mereka telah membantu
menyembunyikan kalian. Maka mereka tetap di hukum.” Zoey menoleh pada ketiga kurcaci, sekarang
Zoey melihat ekspresi wajah itu. Wajah marah, kecewa, dan sedih. Dengan
keberaniannya Zoey mengungkapkan segalanya. Ia bercerita tentang kehidupannya
selama di hutan. Sejenak raja mulai berfikir. Lalu beliau berdiri. Membuat
semuanya terkejut.
“Perdana mentri Lukas!
Beri mereka bertiga hukuman yang berat.” Raja menjeda kalimatnya, semuanya
terutama 3 kurcaci sangat terpukul. “Berikan mereka bertiga tanggung jawab
besar. Mereka kan ku jadikan sebagai mentri kehutanan.” Sampai disini raja pun
tersenyum. Para putri merasa lega dengan titah raja. Para kurcaci pun juga
merasa selamat dari maut. Dan itu benar-benar sebuah pengalaman yang sangat
mendebarkan.
***
Para
kurcaci memilih untuk tetap hidup di dalam hutan. Bagi mereka, di sanalah
rumahnya. Akan tetapi tak mengabaikan tugas penting dari raja. Para putri
kembali dengan aktifitas masing-masing. Terkadang mereka mengunjungi rumah para
kurcaci. Mereka semua sekarang berteman baik. Namun, tak menghilangkan sifat masing-masing.
Dimana Kris yang masih suka dingin dengan Aurelia, atau O’Hara yang ketus, dan
hanya cerewet pada Klerent, atau Zoey dan Kevin yang bisa berteman normal dan
baik-baik saja. Dan entahlah, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Karena
tugas kerajaan itu sangat berat membuat para kurcaci menjadi orang-orang yang
sangat sibuk. Para putri juga bisa menikmati kehidupannya lagi sebagai seorang
putri. Mungkin itu berlangsung, sampai ketiganya telah menemukan seorang
pangeran dan segala kesenangan ini akan berakhir. Atau sesuatu yang tak terduga
akan terjadi di masa depan.
Seperti
itulah kisah awal mula, bagaimana para putri berteman dengan para kurcaci dari
hutan antah berantah. Bagaimana menyatukan sebuah perbedaan yang nyaris 100
persen, lalu mengabaikan hal itu dan berjalan ber iringan.karena tak ada hal
yang tak mungkin di dunia ini.
THE END
JR,
Okt ‘16







Tidak ada komentar:
Posting Komentar