Jumat, 21 Oktober 2016

THREE PRINCESS AND THREE SCOUT BOY



THREE PRINCESS AND TRHEE SCOUT BOY
Flash Fantasy Fiction

Kamu pasti pernah dengar atau tahu tentang cerita 7 kurcaci dan putri salju kan? Bagaimana jika kurcacinya Cuma 3? Masihkah mereka memperebutkan 1 putri? Lalu bagaimana kalau ternyata putrinya juga ada 3? Wah pas sekali kan? Tapi, apa iya semudah itu? Jangan jangan masih ada persaiangn antara putri, antara kurcaci? Ini kisah tentang 3 orang putri yang bersaudara, dan 3 orang kurcaci yang bersahabat. Akankah mereka memiliki pasangan masing-masing? Atau adakah putri yang patah hati? Atau kurcaci yang patah hati? Lets cekidot!
***
         
Princess Aurelia
 Di musim semi ini telah terjadi perang persaudaraan. Hal ini karena raja yang memilih pangeran ketiga sebagai putra mahkota dan menggantikannya di kursi tahta. Awalnya berjalan lancar saja. Namun, setelah raja meninggal. Semuanya berubah. Pangeran pertama dan kedua merasa tak terima. Di tengah riuhnya peperangan,istri pangeran William(pangeran ke-1) melahirkan. Ia melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Di musim semi ini. Ia namai putrinya, Aurelia. Musim pun berubah. Kali ini salju turun. Perang masih terus terjadi, namun sudah tak sesering dulu. Kali ini istri pangeran Santiago(pangeran ke 2) melahirkan. Ia juga melahirkan putri yang cantik. Lalu ia namai putri O’Hara. Terakhir, di akhir musim panas setelah itu istri pangeran Matthew(pangeran ke 3) melahirkan putri juga, yang ia namai putri Zoey.
Princess O'Hara

            Suasana kerajaan masih belum meredam. Hari demi hari, tahun demi tahun masih saja seperti ini. Akan tetapi ketiga putri itu tumbuh baik. Mereka bahkan bermain bersama-sama di dalam istana utama. 
Princess Zoey

            Tujuh belas tahun berlalu. Kini ketiga putri yang lahir di tahun yang sama ini tumbuh menjadi seorang putri yang sangat cantik. Aurelia yang sangat lemah lembut dan santun, hobinya memasak. Ia makin anggun mengenakan gaun berwarna merah soft di padu warna putih dan renda-renda abu-abu sedangkan rambutnya  tergerai dengan bandana yang sepadu dengan gaunnya.  Putri O’Hara ia terlihat tomboy, namun tetap cantik. Ia hobi seni bela diri dan pedang.hobinya yang tak biasa ini kadang membuat ibunya khawatir, bagaimana kalau tak ada pangeran lain yang mau dengannya. Putri O’Hara masih terlihat sangat anggun meskipun memakai pakaian khas untuk latihan pedang. Baju berompi tembaga dan celana kulot serta sepatu boot, dengan rambut panjang dikuncir kuda dan berpita merah jambu. Sedangkan putri Zoey seperti biasa, ia terlihat sangat tegas dan keibuan. Dia yang paling muda, tapi yang paling dewasa. Ia memakai gaun warna biru kesayangannya, dengan rambut yang ia sanggul, dan menyisakan sedikit di bagian kuping. Serta poni yang ia selalu banggakan. Hobinya adalah merajut. Kalau ia sedang kesal, ia lebih memilih untuk merajut apapun yang bisa ia lakukan. Ia menjadi sangat cantik ketika memakai hasil rajutan nya itu. Maka tak heran, di musim apapun ia selalu mengenakan syal, atau kupluk di kepala. Kadang juga sarung tangan, bahkan rompi.
            Mereka prihatin dengan keadaan negeri ini. Belasan tahun belum juga mereda perang itu. Akhirnya mereka semua merencanakan sesuatu.
            “kita harus segera hentikan perang ini apapun caranya!” dengan berapi-api O’Hara menyampaikan unek uneknya. Kemudian datanglah Aurelia dengan membawa sebuah peta,
            “Sepertinya aku punya ide. Tapi entahlah!” ia menunjukkan peta tersebut pada saudara-saudaranya.
            “oh, peta apa ini?” Zoey mengangkat alis heran.
            “peta negeri ini. Aku menemukannya di sebuah lemari tua di gudang bawah tanah.” Kata Aurelia menerawang.
            “Apa rencanamu?”
            “….” Aurelia menjelaskan panjang lebar. Kedua saudaranyapun manggut-manggut mengerti.
            “kapan kita beraksi?” O’Hara antusias.
            “Bagaimana kalau besok malam? Misi ini sangat berbahaya, jadi kita harus hati-hati.” Aurelia agak cemas.
            “Kau benar. Kita harus siapkan semuanya dari sekarang. Bagaimana?” Zoey beranjak dari kasur nyaman Aurelia dan mulai heboh. Yah, seperti biasa Zoey memang putri yang sangat riweh. Semuanya pun mengikuti Zoey dan menyiapkan apa yang perlu dibawa.
            Sebuah rencana yang terbilang konyol, namun mungkin mengasyikan, dan semoga saja mereka berhasil menyatukan para ayahandanya. Karena rencana mereka adalah kabur dari istana dan hidup di hutan. Mereka akan membuat seakan-akan ketiga putrinya ini di culik. Dengan demikian ketiga pangeran akan bekerja sama mencari mereka.
*** 
3 Scout Boy
            Disisi lain di negeri antah berantah nun jauh disana. Tinggalah 3 orang kurcaci. Mereka sudah mengembara beberapa tahun ini. Mereka tinggal di tengah hutan yang kalau orang bilang adalah hutan terlarang. 3 kurcaci ini biasa memburu, bercocok tanam, terkadang membangun atau menciptakan sesuatu di hutan, mereka juga sangat akrab dengan hewan-hewan termasuk harimau dan singa. Kristopher, atau temannya memanggilnya Kristof adalah kurcaci yang sangat dingin juga keras kepala, ia tak akan berbicara sesuatu yang tidak penting. Ia lebih suka bekerja di areal sekitar rumah guanya daripada keliling untuk berburu. Yang kedua adalah Klerent, ia konyol dan bertingkah aneh, suka bicara sesuatu yang gak penting dan jarang pulang ke gua. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk berburu, atau menemukan sesuatu yang baru di hutan. Dan yang terakhir adalah Kevin. Ia yang paling rajin dalam bekerja, apapun ia lakukan meskipun kerjanya agak sedikit lemot ketimbang temannya yang lain, biasanya Kevinlah yang menjadi penengah saat temannya bertengkar atau menjadi penasehat saat terjadi masalah.
Kristopher
 
Klerent
         
Kevin
   Kalau dalam bayangan kalian mereka seperti kurcaci biasanya, kalian salah besar. Karena mereka tak begitu kecil dan terkesan normal. Namun karena mereka mengenakan busana yang biasa kurcaci kenakan dan pekerjaan yang dilakukan semakin mirip dengan kurcaci sesungguhnya.
            Di suatu sore yang mendung, Klerent berencana untuk berburu. Ia mengajak kedua temannya, namun keduanya menolak karena hari mau hujan. Keinginan yang tak terbantahkan, akhirnya Klerent memutuskan untuk pergi sendiri.
            “Dasar bocah, gak kerasan banget di rumah!” Kevin hanya berdecak melihat temannya memaksa pergi.
            “Haha, biarkan saja dia.” Dengan tatapan kosong Kristof melihat kepergian Klerent.
***
            Di tempat lain, di pintu gerbang istana. Aurelia, O’Hara, dan Zoey sudah bersiap untuk melarikan diri. Mereka tengah mengatur tak tik dan strategi agar lolos dari penjaga pintu gerbang.
            Akhirnya setelah bersusah payah menyamar menjadi seorang pedagang besar, mereka lolos dari penjaga. Kini, mereka bertiga harus melewati desa dan berjalan menuju hutan terlarang. Sejauh itu, rencana mereka berjalan lancar. Namun, saat tiba di perbatasan hutan, terlihat begitu gelap dan menakutkan, sedangkan mereka hanya memiliki penerangan seadanya.
            “Kau yakin kita lanjut?” Zoey menatap kedua saudaranya. Mereka semua mengenakan tudung.
            “Yah, kita sudah sejauh ini.” Kata O’Hara yakin.
            “Dia benar. Ayo jalan.” Aurelia memimpin, diikuti saudara yang lain.
            Mereka melewati semak belukar, ranting pohon yang menjuntai menghalangi pemandangan, sesekali terdengar suara hewan malam. Dengan penuh keberanian mereka terus berjalan menyusuri hutan hujan itu. Tepat hampir fajar. Mereka telah sampai di tengah hutan. Mereka memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu pagi, dan melakukan rencana selanjutnya.
***
            “Ah, payah. Padahal ini Cuma mendung, dan gak hujan. Akhirnya aku berangkat sendirikan?” Klerent mengomel sendiri. Sambil ia menyiapkan panahnya untuk berburu. Ia sudah berjalan jauh, dan hari hamper pagi, namun ia belum menemukan buruannya. Tiba-tiba ia melihat cahaya-cahaya yang melintas. Ia memutuskan untuk bersembunyi dan mengintip saja.
            Klerent sangat terkejut jika yang ia lihat adalah manusia. 3 manusia yang masuk hutan. Ia heran, karena selama ini tak pernah ada manusia yang berani masuk ke hutan. Ia lebih terkejut lagi ketika mereka semua adalah gadis-gadis cantik. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
            Namun saat mereka lengah dari perhatian Klerent, tiba-tiba ada yang mengejutkannya.
            “Hey! Siapa kau!” O’Hara memergoki Klerent. Klerent pun tak mau kalah dan berkacak pinggang.
            “Aku penghuni hutan ini. Kau yang siapa berani-beraninya masuk kesini.” Kini O’Hara hanya tertawa sinis.
            “Kau hanya penghuni. Bukan pemilik. Akulah pemilik hutan ini. Hahaha.” Kali ini O’Hara tertawa sombong.
            “Wah. Sombong sekali kau!” dengan kasar Klerent menyerang O’Hara. Berkat kemampuan bela dirinya,ia mampu menepis. Sempat bersi tegang, namun saudara O’Hara yang lain datang dan menghentikan.
            “Berhenti! Ada apa ini?” Aurelia mencoba menghentikan perkelahian. Semuapun tertuju padanya. Hari mulai terang.
            “Kalian ini siapa? Datang mengganggu kedamaian kami.” Klerent mencoba protes.
            “Maaf tuan. Kami tak bermaksud mengganggu. Tapi kami sedang tersesat dan kami tak bisa pulang dari desa.” Zoey mencoba menjelaskan. Kali ini O’Hara kaget dan berbisik.
            “Kenapa kau bilang seperti itu?” Tanya O’Hara. Zoey hanya berkedip lalu Aurelia menyahut.
            “Iya tuan. Kami tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.” Kini mereka mencoba meyakinkan Klerent.
            “Ah. Benarkah?” kali ini Klerent tidak yakin. “kalau begitu, apa kalian minta antar ke perbatasan desa?”
            “sebenarnya kami ingin. Tapi disana sedang terjadi peperangan. Jadi kami sembunyi dulu.”
            “Kalu begitu ikutlah bekerja di tempatku. Bagaiman?”
            “Apa? Bekerja? Kau kira kami orang biasa?”
            “O’Hara! Tak apa lah kita bekerja, asalkan punya tempat sembunyi.”
            “Kau benar. Oh iya, siapa namamu?”
            “Panggil saja Klerent.”
            “Aku Aurelia, ini adikku Zoey dan O’Hara.”
***
            Mereka mengikuti kemana Klerent pergi. Tak lama, sampailah mereka di sebuah gua. Mereka masuk ke dalam. Rupanya di dalam gua ini telah di sulap menjadi rumah oleh mereka. Kedatangan Klerent dengan membawa 3 gadis cantik-cantik membuat Kristof dan Kevin heran.
            “Hey. Siapa mereka Klerent?” Kristof terlihat tak suka.
            “Mereka akan bekerja untuk kita. Hehe” Klerent menjelaskan.
            “Untuk apa?” Kevin mulai berargumen. Akhirnya Aurelia menjelaskan maksud dan tujuannya kemari. Kristof memandang tak suka, karena ia memang tak suka berbagi apalagi bertemu orang baru. Kevin manggut-manggut mencoba mengerti, dan Klerent sih terserah karena memang ia jarang di rumah.
***   
            “Kalian tinggal dan bekerja disini. Dan kami adalah bosnya, jadi aku harap jangan membuat kesalahan disini. Mengerti?” Kristof menjelaskan dengan tegas.
            “Baiklah! Lalu apa yang akan kami kerjakan?” Tanya Aurelia.
            “Kau, ikut aku menanam dan panen wortel di lading!” Kristof menunjuk Aurelia. “Kau sepertinya… cocok untuk ikut berburu dengan Klerent.” Seru Kristof lagi.
            “Apa!” O’Hara kaget dan tak terima.
            “Ya! Kau harus nurut apa kata Klerent, dan hanya kau yang sepertinya bisa.” Jelas Kristof lagi.
            “Dan Kevin, kau dengan dia. Suruh saja dia yang membenarkan bendungan di sungai.” Perintah Kristof lagi.
            “Apa itu tak terlalu berat olehnya?” sergah Kevin.
            “Hem, biarkan saja. Kau jangan terlalu baik padanya Kevin.” Kali ini Klerent yang berkomentar.
            “Tak apa. aku tak keberatan.” Zoey menerima dengan sopan.
            Setelah percakapan itu, di pagi hari tentunya dengan sarapan seadanya mereka semua mulai pergi bekerja ke tempat masing-masing. Kali ini Kristof bersama Aurelia menuju ladang dekat gua untuk menanam dan memanen wortel, hal itu tak di sia-siakan Kristof.
            “Hey kau! Sebaiknya cepat kau panen wortelku itu. Aku akan duduk di sini dan menunggumu!” perintah Kristof.
            “Apa kau tak ingin membantuku?” Tanya Aurelia hati-hati.
            “Karena kau bekerja padaku. Jadi kau lah yang kerjakan, aku kan juga sudah menanamnya.” Kali ini Kristof duduk dan menunjuk-nunjuk. Kelakuannya benar-benar bak raja. Aurelia hanya bisa mendesah kesal dan melakukannya dengan hati dongkol.
            “Kalau saja dia tahu, ayahku adalah raja negeri ini. Mati kau Kristof!” Aurelia mencabuti wortel sambil marah-marah gak jelas. Dan sekarang Kristof sedang tertidur di bawah pohon yang jauh disana.
            Di sisi lain, kali ini O’Hara mengikuti kemana Klerent pergi.
            “Mengapa aku harus bersamamu, dari semua orang!” O’Hara protes.
            “Ah, berisik kau! Sudah ikuti saja aku. Aku yakin kau akan ketagihan nanti. Haha.” Klerent tertawa.
            Tak lama kemudian Klerent melihat seekor kijang, dengan reflex ia menarik O’Hara untuk sembunyi, namun sayang kaki malang Klerent terpeleset dan, baamm! O’Hara harus ikut jatuh bersamanya. Sesaat tiba-tiba menjadi slow motion. Kalau kalian berharap ini adegan romantic, kalian salah. Dengan reflex juga, O’Hara yang sadar telah jatuh dalam pelukan Klerent reflex menampar laki-laki itu.
            plaak!”
            “Apa yang kau lakukan?” Klerent terkejut bukan main. Kali ini O’Hara berdiri mengambil kuda-kuda.
            “Kau pasti sengaja melakukannya bukan?”
            “Lihat. Kijangnya kabur gara-gara kau berisik. Dasar! Aku menarikmu untuk sembunyi, sialnya aku malah terpeleset, sialnya lagi kau memukulku.” Mereka pun hanya bisa sungut-sungutan.
            Di sebuah sungai, disana Kevin dan Zoey sedang bekerja sama membenarkan bendungan yang jebol.
            “Ah, terimakasih tuan, kau sangat baik pada kami. Telah mengizinkan kami tinggal disini.” Zoey memulai percakapan agar tak canggung.
            “Tak apa nona, panggil saja aku Kevin. Aku hanya berfikir bagaiman 3 orang gadis cantik bisa tersesat di hutan terlarang ini, padahal sudah sekian tahun ini tak ada ornag yang berani masuk.” Jelas Kevin
            “Ah seperti itu. Yah, kami memang pergi ke hutan untuk bersembunyi dari keadaan perang di desa kami, Kevin. Tapi, apakah kalian dari dulu tinggal di sini, atau bagaimana?”
            “Oh. Tidak. Kami punya rumah. Kami juga punya kehidupan masing-masing sebelumnya. Tapi kami bertemu di suatu tempat saat itu, setelah saling mengenal beberapa musim kemudian kami putuskan untuk bersembunyi. Dan entah sampai kapan kami akan tinggal disini.”
            “Apa kau tak berniat untuk kembali?”
            “Entahlah…” percakapan itu masih berlangsung. Kali ini suasana menjadi hangat dan akrab, sehingga pekerjaan beratpun tak terasa.
            Hari pertama para putri ini bekerja benar-benar sesuatu. Berbeda dengan dua saudaranya, Zoey lebih bisa akrab dengan Kevin dan berlaku baik pada yang lain. sedangkan O’Hara masih ketus dan selalu bertengkar dengan Klerent. Aurelia bersikap baik pada semuanya, namun Kristof satu-satunya yang dingin dengannya.
***
            Malam hari setelah hari yang panjang usai. 3 kurcaci memutuskan untuk berkumpul.
            “ada apa Kevin?” Klerent mulai dengan pertanyaannya.
            “Setelah kalian bersama mereka, adakah yang mencurigakan?” Kevin bertanya hati-hati.
            “Aku tak percaya mereka adalah orang biasa. Kau tahu kan? Aku melihat Aurelia memakai gaun di balik jubahnya. Dan dari gerak gerik mereka seperti bukan orang biasa.” Kali ini Kristof menganalisa sambil mengusap dagu berfikir.
            “Kau benar Kris. Orang biasa tak mungkin mahir memainkan seni pedang. O’Hara sangat terampil dan kemampuannya sangat baik, dan segala ucapan-ucapannya membuatku curiga. Seakan mereka adalah orang penting negeri ini.” Klerent ikut berkomentar.
            “Hm… seperti itu ya. Sebentar. Kita kumpulkan bukti saja dulu. Sementara jangan mencurigakan, kita lakukan semua seperti biasa dan bersikap seperti biasa, lalu setelah semua informasi terkumpul, tindakan apa yang harus kita lakukan. Bagaimana?” keduanyapun sepakat dan kembali ke kamar masing-masing. Para putri itu mereka tempatkan di ruangan kosong dekat dapur mereka dan harus berbagi ruangan sempit.
                Di runagan sempit itu, para putri sedang menyusun strategi.
                “Bagaimana kita menjadikan mereka kambing hitam?”
                “Apa tak berbahaya? Bagaimana nanti kalau mereka menuntut? Mereka sudah baik pada kita.”
                “Apa? Baik? Kita adalah budak di sini Zoey.”
                “Lalu sampai kapan kita akan tinggal?”
                “Bergerak cepat. Agar kita bisa juga cepat keluar dari sini.”
                “Kau O’Hara, saat kau berburu bersama Klerent, ajaklah dia sampai ke perbatasan. Diam-diam kau harus melempar sebuah ultimatum, atau tanda bahwa kita sedang menjadi tawanan.”
                “Lalu?”
                “Zoey dan aku meyakinkan mereka kita benar-benar butuh bantuan meraka.”
                “Yah, apa tak sebaiknya jujur saja Aurelia?”
                “Jangan dulu Zoey. Kita juga jangan terlalu percaya pada mereka. Kau tahu, bahkan kita sedang jadi budak mereka.”
***
            Di suatu pagi yang cerah, seperti biasa semua bersiap untuk bekerja. Tak ada yang memulai untuk mengobrol. Mereka semua diam dan dengan pikirannya masing-masing. Ini sudah beberapa hari sejak para putri tinggal bersama para kurcaci. Dengan santai Aurelia mengikuti kemana Kristof pergi. Kristof merasa jengah.
            “Kenapa kau selalu mengikutiku, ha?” Kristof yang berbalik badan membuat Aurelia kaget.
            “Maaf?” Tanya Aurelia.
            “Ah, sudah lah. Kau memang selalu menyusahkan ku.”
            “Lalu aku disini adalah untuk bekerja. Kalau O’Hara sekarang bekerja bersama Klerent dan Zoey dengan Kevin, lantas apa yang harus aku lakukan selain denganmu?” pertanyaan Aurelia membuat Kristof garuk kepala.
            “Ah, sudahlah ayo pergi.” Kristof merasa frustasi ia berjalan cepat pergi, di ikuti oleh Aurelia yang setia menjadi pengikutnya.
            Sesampainya di sebuah tempat, yang terlihat seperti taman mungkin, Kristof menyuruh Aurelia untuk memetik apel untuknya.
            “Hey kau! Aku disini bukan mengajakmu untuk piknik. Tapi bekerja. Sana petik apelnya!” kata Kristof saat melihat Aurelia yang sangat menikmati suasana yang begitu sejuk. Sejenak Kristof tersenyum melihat Aurelia, namun segera ia tepis saat Aurelia menoleh.
            “A.. Apa? Petik apel?” katnay terkejut.
            “Yah, taman ini kami yang buat. Dan ini di kelilingi oleh pohon apel merah, kau lihat saja keliling nya, pasti banyak pohon yang sudah berbuah. Cepat kerjakan.”
            “Ba.. baik..” Aurelia bergegas membawa keranjang dan mulai memetiknya. Ia saat terkesan, apalagi bisa memetik langsung.
            Sudah beberapa jam dan banyak sekali hasil panennya. Aurelia hanya memilih buah yang dahannya pendek atau bisa di jangkau.
            “Kris… apa kau bisa menolongku?” Tanya Aurelia ragu-ragu.
            “Banyak apel yang matang di atas sana. Tapi aku tak bisa memanjatnya.”
            “Aishh.. kau ini!” di pikir Aurelia ia akan kena marah. Nyatanya Kristof malah beranjak dan mulai memanjat pohon. Ia memilih apel-apel dan memetik dengan cepat.
            “Wah. Kau sangat hebat Kris.” Kristof membusungkan dada dan tersenyum. Sejenak Aurelia tertawa. Lalu Kristof langsung bersikap dingin dan salah tingkah.
            “Ah, begini saja tak bisa kau.” Mereka pun duduk sejenak di bawah pohon apel, menikmati hamparan hijau rumput dan bunga-bunga serta pohon apel yang berbuah. Keduanya dengan pikiran masing-masing. Kristof mengambil apel dan menggigitnya. Ia lalu mengambil lagi dan di berikan pada Aurelia.
            “Makanlah! Kau pasti haus.” Untuk waktu sepersekian detik, bukan apel yang Aurelia lihat. Tapi mata Kristof. Ia melihat sebuah ketulusan. Aurelia lalu tersenyum dan mengambil apel itu. Bisa dilihat Kristof tiba-tiba tersipu malu dan salah tingkah.
            “Terima kasih Kris. Sepertinya kau baik juga.”
            “Jangan salah sangka. Aku hanya kasihan.”
            “Ah, terserahlah. Hem.. apel ini manis sekali. Segar, apalagi di petik langsung dari pohonnya.” Kali ini Kristof hanya melihatnya sambil tersenyum, ada sebuah tenang di dalamnya.
***
            Di tempat lain, kali ini benar-benar berbeda. Entah mengapa O’Hara tak bergeming sama sekali, biasanya ia akan sangat cerewet dengan Klerent. Klerent pun merasa tak enak karena harus diam diaman sepanjang jalan.
            “O’Hara kau pasti akan sangat senang nanti. Kita akan berburu di hutan mati. Di sana banyak tempat bagus dan pastinya banyak kijan dan babi hutan di sana. Lalu kau bisa sepuasnya belajar memanah denganku. Bagaimana?” Klerent mencoba mencairkan suasana.
            “Apa? Aku memang ingin sekali belajar memanah. Tapi bukan sama kau!” sautnya ketus.
            “Aish, dasar kau! Ya sudah kalu begitu. Siapa yang akan mengajari gadis galak sepertimu kalau bukan Cuma aku.”
            “Klerent!” O’Hara berteriak keras, dan Klerent hanya bisa tertawa.
            Kali ini mereka berburu lumayan jauh. Seperti di janjikan Klerent, ia mengajak ke hutan mati. Hutan ini sangat di pedalaman.
            “Klerent. Apa ini yang kau maksud?”
            “Iya. Selamat datang di hutan mati. Ini surga tersembunyi hutan terlarang.”
            “Mengapa tempat se indah ini namanya hutan mati?” O’Hara masih takjub.
            “Entahlah. Dari dulu juga sudah begini. Ah, artinya aku tak sia-sia mengajakmu ke sini dong! Kau bisa tersenyum dan ngomong lagi. Haha.”
            “Ih, memangnya aku bisu.”
            “Klerent. Aku ingin berenang di air terjun.”
            “Apa kau yakin? Di sana dalam sekali.”
            “Aku tak tahan berjalan jauh membuatku gerah. Dan aku pandai berenang.”
            “Dengan ku disini. Apa kau tak malu?”
            “Aishh.. dasar! Aku pakai bajuku lah.”
            “Oh, tapi jangan jauh-jauh ya. Bahaya di sana. Awas! Jangan mendekati air terjunnya.”
            “Ah cerewet sekali kau ini.”
            “Hey jangan jauh jauh. Aku disini sambil mengawasi babi hutan. Oke?”
            “…” tak ada jawaban. Tapi terdengar percikan air, sepertinya O’Hara tengah asyik bermain air.
            Sudah agak lama sejak O’Hara pamit untuk berenag. Namun kali ini Klerent tak mendengar suara O’Hara lagi. Klerent menjadi khawatir. Ia pun bergegas untuk melihat keadaan O’Hara.
            Betapa terkejutnya Klerent, melihat O’Hara berenang di bawah guyuran air terjun.
            “O’Hara! Kembalilah. Jangan kesitu. Bahaya. Ayo kembali.”
            “Apa?” teriak O’Hara.
            “Kembalilah.” Teriakan Klerent saat ini lebih kencang.
            “Oke. Aku kembali.” Saat O’Hara berusaha untuk kembali, tiba-tiba kakinya kram, akhirnya ia hilang kendali dan akan tenggelam. Klerent yang menyadari itu, langsung terjun menyelamatkan O’Hara.
            Mereka telah sampai di tepi kolam. Klerent mengguncang-guncang tubuh O’Hara. Tapi ia tak sadar. Klerent juga menepuk-nepuk pipi dan menekan dadanya. Akhirnya setelah beberapa kali usaha, O’Hara pun terbatuk-batuk dan mulai sadar.
            “O’Hara, bangunlah! Bangun ku bilang! Kau bodoh ya? Aku kan sudah memperingatkanmu.” Kristof mengomel dan marah-marah. Dan O’Hara yang telah sadar hanya memandangnya jengah.
            “Kenapa kau cerewet sekali, ha? Aku tak apa.” Katanya santai.
            “Dasar!”
***
            Di tempat yang lain juga Zoey dan Kevin masih di rumah. Ia menyuruh Zoey untuk tetap di rumah dan hanya diam untuk beberapa saat.
            “Apakah hari ini aku tak ada pekerjaan?” kata Zoey yang mulai bosan.
            “Hehe. Kau mungkin berharap seperti itu ya? Tapi kau salah. Pekerjaanmu ada disini. Ayo ikuti aku.” Kata Kevin tenang. Zoey hanya bisa tercengang. Zoey penasaran. Kira-kira pekerjaan apa yang hendak ia tunjukkan.
            Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di belakang gua. Disan ada sebuah gudang yang sangat kotor, dan sepertinya tak pernah terpakai.
            “Kau lihat. Ruangan itu tak pernah kami sentuh lagi. Kami hanya akan menaruh barang tak terpakai lalu meninggalkannya. Aku harap setelah ini menjadi lebih rapid an bersih. Kau bisa kan?”
            “Oh.. o.. oke. Oke. Kita bisa.”
            “Ya, kita. Hehe.”
            “Apa kau berencana membuatku bekerja sendiri, dengan jenis pekerjaan yang berat ini? Huh?”
            “Tentu saja tidak.”
            Mereka pun bergotong royong mengeluarkan semua isinya. Sampai sekarang, wajah mereka terlihat cemong dan berantakan karena tempatnya yang sangat kotor.
            “Ah, pekerjaan ini sangat berat. Ah, bahkan aku terlihat sangat kotor.”
            “Maaf, apa kau kelelahan?”
            “Yah, tapi tak apa. Aku akan bersemangat.”
            “Kalau begitu. Ayo lanjut.” Kevin pun beranjak dan mulai membersihkan gudangnya.
            “Ah, dasar. Harus sabar. Sebentar lagi selesai. Ini terakhir.”
            Mereka pun membersihakan seluruh ruangannya. Lalu memasukkan dan menata kembali ruangannya.
            Setelah pekerjaan selesai, mereka pun membersihkan diri. Kemudian Kevin memasak. Ia membuatkan makanan untuk Zoey. Karena ia tahu, setelah pekerjaan yang melelahkan itu. Zoey pasti kelaparan. Mereka menikmati masakan Kevin. Sederhana sih, tapi saat lapar apapun bisa enak. Tak lama setelah itu. Aurelia dan Kristof dating dengan membawa 3 kerenjang apel yang ia panen.
            Mereka juga ikut bergabung makan. Kemudian datanglah Klerent dan O’Hara. Mereka terlihat acak adut. Gara-gara insiden tenggelamnya O’Hara. Dan tak ada hasil buruan karena O’Hara tak terlihat baik, ia bahkan harus dipapah. Zoey dan Aurelia bergegas menghampiri O’Hara dan membawanya ke kamar.
***
            “Hari ini sesuatu banget.” Klerent mengeluh.
            “Hey. Dia kenapa?” Tanya Kristof.
            “Aku mengajaknya ke hutan mati. Ia berenang dan kakinya kram.”
            “Apa? Kau yakin gak papa mengajaknya kesana?”
            “Ah, entahlah. Ku harap dia bisa di percaya. Yang aku heran adalah saat ia tak sadar dan aku mencoba melonggarkan pakaiannya aku menemukan sesuatu. Ini adalah sebuah kalung, dan di dalam nya ada fotonya.” Klerent mengambil kalung O’Hara dan menyimpannya di sakunya. “Apa kalian tahu, siapa mereka?” mereka membuka kalung. Kevin terkejut bukan main.
            “Apa kau tahu Kevin? Bagaimana dengan mu Kris?”
            “Aku tak tahu siapa mereka. Tapi dari segi penampilan sepertinya keluarga kerajaan.” Sahut Kristoper.
            “Kau gak salah ambil kan Klerent?”
            “Iya, aku yakin Kev. Ini pasti O’Hara kecil. Lalu ini ayah dan ibunya. Ah, cantiknya.”
            “Gak salah lagi. Dugaanku pasti benar. Mereka adalah putri kerajaan Oscar. Beliau telah wafat, dan rajanya sekarang adalah raja Matthew. Salah satu ayah dari mereka.” Kevin menjelaskan dengan teliti.
            “Apa!” dua orang yang lain tersentak kaget. Mereka tak habis fikir.
            “Lalu mengapa mereka lari ke hutan, dan membohongi kita?”
            “Apa harus kita kasih pelajaran?”
***
            Pagi-pagi sekali, terdengar suara ribut di luar. Para kurcaci pun memastikan apa yang terjadi. Para putri  masih sembunyi di dalam kamar.
            “Gawat. Itu pasukan kerajaan. Mau apa mereka.” Kristof bingung bukan kepalang.
            Para putri keluar kamar. Dan menyaksikan semua menjadi kalang kabut.mereka yakin. Itu adalah para pesuruh kerajaan karena mereka telah membaca ultimatum yang diam-diam O’Hara kirim ke luar. Sekarang sebaiknya mereka temui para prajurit, lalu ikut pulang ke istana.
            Para prajurit berhasil membobol gua. Kevin, Klerent, dan Kristof bersiaga dengan pedang masing-masing. Sedangkan para putri saling berpelukan.
            “Apa mau kalian?” sergah Kevin
            “Kembalikan putri kami. Kalian telah menculiknya. Tangkap mereka dan masukan ke penjara bawah tanah.” Mereka kaget bukan main. Itu tuduhan yang tak benar, para putri pun juga sangat kaget, begitu cepat pihak istana mengambil tindakan. Kristof memandang ke tiga putri dengan tatapan penuh amarah. Mereka di kepung dan di bawa ke tahanan.
***
            Semua ini melenceng dari rencana awal. Bahkan mereka memenjarakan orang yang menolong mereka. Mereka tak habis pikir. Hanya Zoey yang bisa menjelaskan dan membantu mereka agar bisa mengeluarkannya dari penjara.
            Putusan hukuman akan di bacakan nanti. Dan tahanan dan perwakilan rakyat akan menjadi saksi. Sekaligus para putri dan keluarga kerajaan. Lalu apakah perang masih berlanjut? Seperti yang di rencanakan sebelumnya. Perang itu bahkan sudah usai. Upacara perdamaian juga telah di gelar, karena mereka harus bekerja sama menemukan para penerus kerajaan. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalaha, bagaimana membebaskan para kurcaci agar tak terlibat dalam masalah ini.
Putusan pun di tetapkan. Dengan tegas raja Matthew menghukum ketiganya dengan hukuman pancung. Ketiga putri berontak mereka bertiga berlari ke depan singgah sana kursi raja. Di tehah itu petir menyambar dan hujan turun. Deras sekali. Zoey. Hanya dia yang bisa membujuk ayahnya.
“Maafkan kami baginda raja. Mereka bertiga tak bersalah sama sekali. Ini inisiatif kami bertiga. Maka terima jika engkau menghukum kami, dan bebaskanlah merka bertiga.” Aurelia, O’Hara dan Zoey bertunduk pada raja memohon. Semua keluarga kaget dengan tindakan para putri.
“Mereka telah membantu menyembunyikan kalian. Maka mereka tetap di hukum.”  Zoey menoleh pada ketiga kurcaci, sekarang Zoey melihat ekspresi wajah itu. Wajah marah, kecewa, dan sedih. Dengan keberaniannya Zoey mengungkapkan segalanya. Ia bercerita tentang kehidupannya selama di hutan. Sejenak raja mulai berfikir. Lalu beliau berdiri. Membuat semuanya terkejut.
“Perdana mentri Lukas! Beri mereka bertiga hukuman yang berat.” Raja menjeda kalimatnya, semuanya terutama 3 kurcaci sangat terpukul. “Berikan mereka bertiga tanggung jawab besar. Mereka kan ku jadikan sebagai mentri kehutanan.” Sampai disini raja pun tersenyum. Para putri merasa lega dengan titah raja. Para kurcaci pun juga merasa selamat dari maut. Dan itu benar-benar sebuah pengalaman yang sangat mendebarkan.
***
            Para kurcaci memilih untuk tetap hidup di dalam hutan. Bagi mereka, di sanalah rumahnya. Akan tetapi tak mengabaikan tugas penting dari raja. Para putri kembali dengan aktifitas masing-masing. Terkadang mereka mengunjungi rumah para kurcaci. Mereka semua sekarang berteman baik. Namun, tak menghilangkan sifat masing-masing. Dimana Kris yang masih suka dingin dengan Aurelia, atau O’Hara yang ketus, dan hanya cerewet pada Klerent, atau Zoey dan Kevin yang bisa berteman normal dan baik-baik saja. Dan entahlah, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Karena tugas kerajaan itu sangat berat membuat para kurcaci menjadi orang-orang yang sangat sibuk. Para putri juga bisa menikmati kehidupannya lagi sebagai seorang putri. Mungkin itu berlangsung, sampai ketiganya telah menemukan seorang pangeran dan segala kesenangan ini akan berakhir. Atau sesuatu yang tak terduga akan terjadi di masa depan.
            Seperti itulah kisah awal mula, bagaimana para putri berteman dengan para kurcaci dari hutan antah berantah. Bagaimana menyatukan sebuah perbedaan yang nyaris 100 persen, lalu mengabaikan hal itu dan berjalan ber iringan.karena tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini.

THE END
                                                                                                                        JR, Okt ‘16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar