MASA MUDA
(EP. 12 GOES TO NZ PART II)
Jakarta.
Semenjak
kepergian Safina bersama Adam, hati Reza semakin gusar. Bagaimana bisa setelah
ia mengungkapkan perasaannya Safina malah semakin dekat dengan Adam yang
notabenenya adalah musuh bebuyutannya itu. Bagaimana jika mereka semakin dekat
disana, begitu batin Reza.
“Lo
itu kenapa sih Za?” Ralin yang memperhatikan Reza mondar-mandir sambil mengusap
wajahnya kasar.
“Gimana
nggak gusar coba, Safina malah pergi sama Adam cowok sial itu!” kesal Reza.
“Kalau
lo khawatir, coba aja telpon.” Saran Ralin, Reza mengambil HP dan mendial nomor
Safina.
Sayang
sekali, nomor tidak aktif.
“Sial!
Pasti safina nggak mikirin HP buat bisa di pakai internasional. Aargh!” Reza
membanting HP nya di sofa, Ralin tersentak kaget.
“Cukup
Za! Cukup! Lo udah berlebihan sama Safina, kalau lo bilang udah nyatain
perasaan lo ke dia, tapi apa? Bahkan dia seneng-seneng sama Adam dan gak
mikirin perasaan lo. Harusnya sebelum dia terima atau tolak gak gini dong!”
pekik Ralin kesal karena melihat Reza hanya memikirkan Safina.
“Gue
nggak tahu. Yang jelas gue masih berharap sama dia,” keluh Reza pelan. Ralin
hanya mendengus kesal.
***
Auckland, 09.00 AM
Pagi
hari di tanah Selandia Baru, Adam dan Safina menghabiskan pagi mereka dengan
sarapan di hotel, lalu mereka merencanakan untuk sekedar belanja atau
jalan-jalan di pusat kota Auckland, mengingat nanti sore mereka harus checkout
dan pergi ke distrik Matamata.
“Udah
sarapannya? Kita ke kota lagi ya? Ke tempat yang belum sempat kita datangi.”
Tanya Adam, Safina mengangguk paham.
Udara
pagi ini cukup lebih dingin dari biasanya, Safina yang hanya memiliki jaket
parashut kualitas rendahan tentu tak dapat menutupi rasa dingin yang menusuk
itu, sesekali ia mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Adam yang
memperhatikan dari tadi menjadi tidak tega, ia melepas coatnya, untung ia
melapisi tubuhnya dengan sweater.
“Loh?”
Safina terlihat kebingungan, karena Adam memakaikan coatnya.
“Udah
pakai saja, lo pasti masih kedinginan.” Melihat Adam begitu perhatiannya
membuat Safina malu, malu karena terus merepotkannya.
“Gue
ngerepotin lo terus nih, sori ya?” Safina menatap Adam sendu. Adam yang melihat
itu segera mengalihkan pembicaraan.
“Gak
kok. Sama sekali, udah ah! Keburu siang, nanti sore kita check out.” Adam
menggandeng tangan Safina dan berjalan menyusuri Queen Street.
“Wah,
seneng banget deh bisa jalan sama lo, eh!” Safina menutup mulutnya malu,
harusnya itu adalah kata hatinya. Adam yang mendengar terkekeh.
“Siapa
yang gak seneng kalau jalan sama cowok ganteng, cowok banget deh, cool, baik,
dan pokok yang baik-baik deh!” kekeh nya. Safina hanya merutuki kebodohannya,
semua itu memang benar, batinnya.
“Tapi
sayang…” katanya menggantung.
“Sayang
kenapa?” Adam menautkan kedua alisnya.
“Aku
nggak pa-pa kok sayang,” Safina terbaha-bahak. Adam hanya tersenyum penuh arti.
“Cie
minta di panggil sayang sekarang?” ledek Adam, kini warna merona merah tercetak
di kedua pipi Safina. Sial, batinnya. Niatnya kan mau ngerjain Adam.
“Ish,
sayang kalo lo takut ketinggian!” cetus Safina, sontak membuat Adam diam
mematung. Membuat Safina sedikit khawatir akan mengingatkan sama masa lalunya.
“Dam!
Lo nggak pa-pa kan? Halo? Lo bisa dengar gue gak sih?” Safina
mengibas-ngibaskan telapak tangan di wajahnya, namun Adam masih diam tak
merespon, air mukanya berubah pucat pasi.
“Kita
ke kafe dulu, gue pengen ngopi.” Tiba-tiba Adam menarik tangan Safina
membawanya masuk ke coffeshop.
***
“Sori,
gue gak maksud meledek lo,” kata Safina hati-hati.
“Gak
pa-pa kok Fin. Emang kenyataannya kan. Tapi, kalau gue ke inget masa lalu, Cuma
dengan kopi gue bisa lebih rileks, gitu aja sih.” Safina hanya diam karena
merasa bersalah.
Setelah
ngopi-ngopi. Mereka menyusuri pasar di Auckland, walau namanya pasar tapi
terlihat seperti mall. Mereka mencoba topi ala suku Maori (suku asli NZ),
mencoba segala asesoris, mencoba, pakaian, jaket, dan lain-lain. Adam sudah
mengantongi beberpa barang yang ia belikan untuk oleh-oleh ayah dan adiknya.
Namun Safina masih bingung mencari sesuatu untuk orang rumahnya, bahkan untuk
dirinya. Ia takut uang sakunya habis. Melihat itu Adam tak tinggal diam.
“Lo
mau beliin nyokap bokap lo Fin? Ambil aja?” tawar Adam. Safina jelas menggeleng
pelan.
“Udah
ambil saja!” Adam mengambil dua baju dan membayarnya. Safina hanya bisa
tersenyum kecut.
“Gue
nanti bakal ganti uang lo, gue janji. Atau entar di hotel gue kasih deh
uangnya.” Safina merasa tak enak dengan Adam, takut kalau dia di sangka
memanfaatkan kekayaan Adam.
“Udah
santai aja. Ini gue yang beliin lo, jadi gak usah ganti.”
“Gak
bisa. Gue gak bisa deh kalo hutang sama orang dan nerima pemberian orang dengan
cuma-Cuma. Jadi biarin gue bayar!” Adam memutar bola matanya. Ini orang emang
beda, disaat yang lain malah memanfaatkannya Safina malah tidak dan anti
sekali, batinnya.
“Oke
terserah.” Kata Adam pasrah.
Saat
Safina di depannya berjalan sendirian, Adam melihat jaket kulit bagus, mungkin
cocok untuk Safina, bisa digunakan nanti kalau Safina naik gunung. Adam pun
membelinya tanpa sepengetahuan Safina.
***
Auckland-Matamata, 04.00 PM –
06.30 PM.
Setelah
mereka puas jalan-jalan di pusat kota Auckland, akhirnya mereka checkout dan
segera menuju distrik Matamata. Perjalanan dari Auckland ke Matamata
membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Karena snagking capaeknya Safina sampai
tertidur di mobil yang mereka sewa.
Akhirnya
setelah pukul 06.30 mereka sampai di Matamata. Merasa mobil yang ditumpangi
berhenti, Safina pun tersadar bahwa mereka sudah sampai.
“Eh,
udah sampai ya?” tanya Fina dengan muka bantal. Adam hanya terkekeh.
“Iya
tuan putri tidur. Yuk ah buruan.”
Mereka
segera mencari penginapan di sekitar sini. Setelah mencari di internet, mereka
menyusuri jalanan di Matamata. Beberapa saat mereka telah sampai.
“Kita
nginep sini, eh?” tanya Fina bingung.
“Iya
kita nginep sini sampai besok, dan gue lihat di sini lebih murah daripada
kemaren, yah walaupun emang bagusan kemaren hotelnya, kalau ini mungkin di
sebut motel.” Adam memasuki motel dan check in untuk dua kamar. Safina tak
masalah dengan penginapan sederhana, yang penting bisa pulang kembali dengan
uang yang pas sudah cukup.
“Nih
kunci lo, besok kita ke tempat yang keren abis pokoknya. Lo pasti kegirangan!”
Adam menggodanya membuat penasaran.
“Kemana
emang?”
“Ada
deh rahasia! See you!” Adam memasuki kamarnya dan menutup rapat. Safina hanya
di buat gedeg sama ulah Adam.
***
Matamata, NZ.
Pagi
agak siang ini mereka berencana untuk menghabiskan masa trip di NZ. Beberapa
tempat memang udah di jamin sama pihak event, tapi ada beberapa tempat yang
bisa mereka kunjungi jika memungkinkan. Kali ini mereka masih di Matamata,
daerahnya sedikit berbukit.
“Lets
go!” seru Adam yang sudah janjian dengan Safina di lobi motel.
“Go
go aja mah gue, ngikut aja asal tempatnya keren.”
“Kali
ini lo harus enjoy. Kita main-main di bukit!” cetus Adam.
“Asik!
Udah gak sabar liat ijo ijo!”
Merekapun
menaiki taksi dan segera meluncur ke tempat tujuan. Perjalanan sudah mulai
melewati perkebunan hijau-hijau, Safina tak jemu jemu memandang sekitaran
Matamata ini.
“Oke,
kita sudah sampai.” Adam menarik tangan Safina untuk menuntunnya masuk kedalam.
Setelah melakukan regristrasi mereka mulai masuk di kawasan wisata.
“Hobbiton
Movie Set? Safina mengernyitkan dahi membaca tiket wisatanya.
“Yups!
Selamat datang di rumah para kurcaci di film hobbit!” seru Adam.
“Hah?
Serius?” tanya Safina tidak percaya, karena yang ia lihat hanya hamparan bukit
hijau saja.
“Sejuta
rius!” kekeh Adam. “Ya udah, lo tutup mata, pegang gue biar gak jatuh. Lo bakal
liat kejutan dari gue.” Awalnya Safina enggan, namun di paksa oleh Adam. Mau
tak mau tangannya sendiri menutup matanya dan tangan satunya menggandeng lengan
Adam.
“Lo
jangan ngerjain gue ya?” curiga Safina. Adam pun menuntunnya dengan hati-hati.
Setelah
10 menit berjalan, tibalah mereka di setting film hobbit yang terkenal itu.
Kini Adam melepaskan lengannya.
“Sekarang,
buka mata lo!” perlahan Safina membuka matanya.
“Woaahh,
amajing! Daebak! masyaAllah! Buseet!” Safina masih terpukau dan tidak percaya,
ia bisa menginjakkan kakinya disini, Hobbiton Movie Set.
Adam
yang melihat Safina hanya memandangnya geli. Betapa polosnya gadis itu yang
cenderung norak, lihat saja sekarang ia berlari kesana kemari, memegang-megang
bangunan kecil itu bahkan mencoba semua setting yang seperti perumahan itu.
TO BE CONTINUE
SPOILLER : Episode NZ Masih
lanjut. Karena di NZ mereka masih sisa dua hari, itu benar-benar dimanfaatkan.
Jalan jalan di Matamata terus mereka ke Taupo, ada danau, air terjun, dan satu
lagi kejutan untuk Fina. Di Jakarta Reza stress di tinggal Safina, Oskar bingung,
Ralin tau tapi ia malah mengkambinghitamkan dan memanfaatkan keadaan.






