EPILOG
O’Hara
POV
Aku tak
menyangka kalau aku bisa dekat dengan seseorang, mengingat selama ini tak
satupun siswa disini yang benar-benar bisa di jadikan teman, awalnya aku
pesimis, tapi setelah mengenal dekat mereka, presepsiku benar-benar
terbantahkan—kita membutuhkan satu sama lain.
Klerent,
dimana dia—yang biasanya menggangguku? Sudah satu minggu aku tak
menemukannya—bahkan Kevin dan Kristof tak mengetahuinya, tunggu apa aku
khawatir? Ah dasar anak itu. Bisa-bisanya menghilang. Ku telpon dan sms tak ada
jawaban, apa aku harus ke rumahnya? Tunggu untuk apa? Ah ya? Sekarang bukankah
kita teman dekat ya? Tapi, bukan itu… ada hal lain yang ku rasakan dalam
hatiku, bukan perasaan sebagai teman, sahabat atau keluarga.
Tiba-tiba
saat aku melamun, Kevin dan yang lain membuyarkan lamunanku dengan memberiku
sebuah kertas.
“O’Hara
gawat!” Seru Zoey.
“Ini
cepat baca! Dari Klerent, ia dating menemuiku dan memintaku memberikannya
padaku.” Kata Kevin. Aku lalu membuka gulungan kertas itu. Isinya adalah
gambarku, ia menggambar diriku melalui aplikasi di pc laptopnya, saat aku
sedang tertidur waktu menggarap tugas waktu itu. Lalu ada sebuah kertas kecil
yang berisi sebuah pesan. Membacanya lalu aku memutuskan untuk pergi.
Meninggalkan yang lain yang teriak-teriak memanggilku menyuruhku kembali, tapi
aku tak menggubris dan terus menerobos. Aku kabur, keluar dari sekolah memanjat
pagar, naik bus dan membawa diriku kemana ku harus pergi.
Setelah
turun di halte setelah rumahku, lalu aku berlari. Sebelum semuanya terlambat.
Aku terus berlari hingga tiba di sebuah rumah. Ku tekan bel rumahnya. Rumah itu
tsepi dan tertutup rapat, aku berteriak.
“Klerent!”
“Klerent,
keluar! Apa kau tega sekali?” aku telah kehabisan tenagaku berteriak,
tenggorokanku tercekat. Aku terlambat. Ia telah pergi, air mataku pun tumpah
karena tak bisa membendung kesedihan. Iya, pesan itu berisi sebuah ungkapan
perasaan sekaligus pamitan, Klerent akan pindah ke kota lain dalam waktu yang lama,
entah sampai kapan. Bahkan dia tega tak memberitahuku langsung.
Aku
terduduk di depan pagar rumahnya.
“Apa
kau mencariku nona?” sebuah suara mengagetkanku. Itu Klerent. Spontan aku
langsung menghambur memeluknya, ia-pun membalas pelukanku.
“Kenapa
kau begitu jahat padaku, menghilang dan tiba-tiba mau pergi?” Klerent
melepaskan pelukannya, ia memandang wajahku yang sembab, lalu tersenyum.
“Hey,
maafkan aku. Lagipula aku tak jadi pergi. Haha. Tap setidaknya, aku tahu
bagaimana khawatirnya kau padaku,” Klerent menyeringai, lalu aku memukulnya. Ia
hanya meringis.
Aurelia
POV
Beberapa
waktu lalu ku jadikan Kristof sebagai budakku, aku benar-benar puas
mengerjainnya—bagaimana tidak, ia begitu kesal namun tak bisa melawan karena
dia tak ada wewenang. Kini setelah tugas selesai, selesai pula berbudakan ini.
Dan aku berjanji padanya, saat ujian bahasi Inggris, jika Kristof bisa mendapat
nilai A, maka aku akan mengabulkan satu keinginannya.
Benar
saja, ia mampu mendapat nilai A, dan aku harus menepati janjiku. Ia meminaku,
untuk menghabiskan waktu 24 jam bersamanya a.k.a aku akan menjadi budaknya
seharian full.
Dimulai
pada pagi hari, aku telah pamit pada ibuku untuk menginap di rumah Zoey. Dan
Zoey sudah ku beri tahu rencana ini, agar ibuku tak khawatir, Zoey pun setuju.
Kita bertemu di taman dekat sekolah.
Aku
pikir aku benar-benar akan menjadi budaknya, ternyata aku salah besar. Dia
memang menyuruhku ini itu tapi aku senang melakukan ini itu tanpa paksaan,
benar kan? Kami menghabis kan waktu bersama seharian, saat ditaman kita piknik
ala ala pasangan, walaupun kita bukan pasangan, tapi aku sama sekali tak
keberatan.
Lalu siang hari kita jalan-jalan di mall, sore hari kita main ding
dong, lalu nonton film, dan malam hari kita makan malam roamtis di sebuah
restoran. Karena jatahnya adalah sampai pagi, Kristof mengajakku ke sebuah
tempat di perbukitan, di puncak. Tempat yang indah. Kita habiskan waktu untuk
bercengkrama sampai pagi. Namun sejauh ini, tak ada lagi seorang Kristof
mengungkapkan perasaannya. Mungkin dia terlalu lelah, lelah mengejarku dan
benar-benar ingin melupakanku, hingga mungkin ini adalah permintaan
terakhirnya.
“Aurelia,
kau tahu.” Katanya saat kita sedang asyik melihat lampu gemerlap kota, waktu
itu pukul 02.00.
“Ya?”
Jawabku memandangnya namun ia tak berpaling dari pandangan sebelumnya.
“Kau
mungkin menginginkanku suatu saat kemudian. Aku akan tetap menunggumu, entah
sampai kapan. Bahkan saat aku lelah, aku takkan menyerah mendapatkannmu. Kau
harus ingat itu,” namun tanpa sempat aku menjawab, karena dari tadi aku berdiam
diri saja, ia menggandengku dan mengajakku pulang.
Zoey
POV
Bekerja dengan
Kevin, ku pikir dia akan benar-benar membalas semua perbuatanku selama ini,
tapi kenyataannya aku salah besar. Selama ini hanya aku saja yang jahat padanya
karena keanehannya, yah dia emang aneh saat di dekat cewek, payah. Padahal
dengan posisinya sebagai CEO aja seharusnya bisa menarik perhatian banyak
cewek, tapi dia cenderung menutupi itu semua. Aku sampai malu, betapa bodohnya
aku selalu bertindak seenaknya pada seorang CEO ini.
Dia
begitu baik dengan ku menolong walaupun aku sama sekali tak bisa membalasnya.
Sama, sama seperti perasaan ini yang tumbuh begitu saja tanpa pamit membuatku
malu, aku sama sekali tak pantas dengannya, kau tahu kan? Aku hanya gadis desa
yang ke kota untuk mencari ilmu dan menghidupi diriku disini, derajatku sangat
rendah. Sama sekali tak pantas. Jadi ku pikir, lebih baik tuk ku pendam saja
semuanya. Dan berjalan semstinya.
Hingga
suatu ketika, ada sebuah pesta di rumah Kevin, aku di undang olehnya. Entahlah
pesta apa, sepertinya pesta perusahaan orangtuanya. Aku bahkan tak memiliki
gaun untuk ke pestanya. Sempat berfikir untuk tak datag, namun di sore hari
Kevin dating ke kosanku dan membawakanku sebuah gaun putih yang cantik dan
sepatu.
Kevin
menungguku berdaandan, setelah aku mengganti baju ku, aku terlihat begitu
elegan. Aku tak pernah menggunakan pakaian se cantik ini.
“Cantik
Zoey.” Komentar Kevin melihatku, itu membutku tersipu malu. Dia mengajakku ke
mobilnya dan meluncurkan mobilnya ke rumahnya, setelah sebelumnya ia pergi ke
salon mengambil dan mengganti bajunya.
Tiba
di sebuah kompleks perumahan elit. Selama ini kita belum pernah main ke rumah
Kevin. Kita hanya ke penitipan anak karena seperti rumah sendiri bagi Kevin.
Lalu ku lihat di ujung sana banyak
mobil-mobil, ku pikir itu mungkin rumahnya.
“Kevin,
aku sangat gugup. Apa kau tak apa mengajakku kemari?”
“Tenang
saja, semua akan baik-baik saja,” tiba-tiba Kevin menggenggam tanganku, mencoba
meyakinkanku, namun malah membutku sangat gugup.
Aku
turun dari mobilnya, ia menggandengku. Aku sama sekali tak menyangka bahwa ia,
mengenalkanku pada semua orang sebagai seorang soulmate. Apa dia gila, apa dia hanya berpura-pura?
Kemudian
aku bertemu dengan ibu dan ayahnya, ayahnya begitu humble dan ibunya begitu… begitu sangat elegan, bahkan mengobrolpun
enggan. Aku jadi merasa minder.
Seusai
acara, Kevin mengantarkanku pulang. Daripada aku mati penasaran, aku langsung
saja bertanya tentang maksudnya tadi bahwa kita adalah soulmate.
“Apa
maksudmu tadi?”
“Tadi
yang mana? Yang apa?” katanya gelagapan.
“Tadi,
kau memperkenalkanku sebagai apa?”
“Kau
adalah soulmateku.”
“Mengapa
kau tak bicarakan padaku?”
“Apa
aku harus, saat semua begitu jelas. Sekarang aku Tanya, apa kau mencintaiku?”
Kevin menepikan mobilnya, pertanyaannya membuatku tak berdaya, aku tidak tahu
harus bagaimana.
“Masa
depanmu masih jauh Kevin, kau harus memikirkan itu semua. Dan aku… aku hanyalah
gadis desa, dan aku sama sekali tak…” belum selesai aku mengatakanya, tiba-tiba
ia membekap mulutku lalu kita melanjutkan perjalanan pulang.
THE END