MASA MUDA (eps. 2)
Lalu
saya akan mencoba melanjutkan kembali kisah-kisah masa muda para pemuda di
zaman sekarang ini. Dimana kisah itu hanya kalian alami saat masih muda saja,
hehe.
***
Masih segar dalam ingatanya. Ketiga
temannya meninggalkannya sendirian, membuatnya sangat ketakutan. Bahkan ia
harus mengalami kecelakaan kecil. Ia pikir harinya akan semakin apes. Namun
seorang pemuda memberikannya pertolongan. Dengan senyum coolnya pemuda itu mengulurkan tangannya. (tiba-tiba backsongnya
jadi something just like this nya coldplay ft. the chainmokers).
“Lo nggak pa-pa?” tanya pemuda itu.
Safina hanya diam. Lalu pemuda itu membantunya berdiri.
“Lo ngapain disini sendirian?” tanya
pemuda itu sekali lagi.
“Eh, makasih mas. Anu.. gue
ditinggal sama teman-teman gue.” Jawab Safina meringis menahan sakit.
“Hah? Ditinggal? Kok bisa sih? Eh,
ya sudah gue anterin lo ke puskesmas dulu.” Pemuda itu menuntun Safina ke
motornya.
Safina naik motor itu dengan
hati-hati.
“Pegangan yang kuat, gue mau ngebut!
Biar keburu ke kotanya gak kemalaman.” Safina hanya bengong.
Pemuda itu melajukan motornya
kencang membelah angin gunung yang dingin, Safina yang terkejut segera memeluk
erat pemuda itu, ia memejamkan matanya merasa ngeri. Sedangkan pemuda itu hanya
terkekeh.
***
Disisi lain, Reza dkk telah sampai
Jakarta dengan selamat, semua telah kembali ke rumah masing-masing. Beberapa
saat kemudian, Reza mendapat telpon dari ibu Safina. Ibunya bertanya, apa
mereka telah kembali ke Jakarta atau belum, dan ibunya ingin menanyakan kabar
anaknya itu, karena HP nya mati dan tidak ada kabar. Menyadari ada yang aneh,
Reza pun bilang bahwa mereka segera pulang. Setelah ia menutup telponnya. Ia
segera mengabari Ralin.
“Halo Za, ada apa?”
“Lo jujur sama gue, dimana Safina?”
“Loh, ya dirumah saudaranya lah.”
“Lo bohong kan Lin? Gue tau Safina,
dia kalau ada apa-apa pasti cerita. Ini pasti akal akalan lo kan? Biar dia
ditinggal, gue udah curiga sama lo!”
“Loh apaan sih Za, lo kok
nuduh-nuduh gue…” belum selesai bicara, Reza mematikan telponnya.
Reza melihat jam didinding kamarnya,
pukul 18.30. ia mengambil jaket dan bergegas pergi. Melajukan mobilnya.
Ia tak habis pikir dengan Ralin,
mengapa ia mengerjai Safina. Ralin memang terlihat beda akhir-akhir ini dengan
Safina. Dan harusnya Reza tahu kalau ini kerjaan Ralin. Reza khawatir dengan
keadaan Safina. HP nya mati dan gak bisa dihubungi.
***
Sesampainya di perkotaan, pemuda itu
mengantar Safina ke puskesmas. Ia langsung ditangani.
Beberapa saat kemudian, ia telah
kembali. Tak ada luka serius, hanya lecet saja. Pemuda itu bersyukur.
“Makasih ya mas?”
“Justru gue minta maaf sama lo,
gara-gara gue lo jadi jatuh.”
“Iya mas,”
“Oh ya? Rumah lo dimana? Biar gue
antar lo pulang. Lo kan masih luka gini, udah malam juga.”
Beberapa kali Safina menolak tawaran
pemuda itu, namun akhirnya mau juga karena terpaksa, ia juga merasa tak kuat
jalan karena lelah dan agak sakit di dengkulnya.
Sesampainya di gang rumah Safina,
Safina meminta berhenti di depan. Ia beralasan bahwa rumahnya tak jauh dari
sana, dan motor tidak dapat masuk. Safina pun masuk dan menghilang dalam gang.
Pemuda itu pun lupa sesuatu. Yah, dia lupa menanyakan nama cewek itu.
***
Dua jam setelah ia pergi, Reza
sampai di post camping. Ia berkeliling ditengah hawa dingin yang menusuk. Ia
tak menemukan Safina, ia meremas rambutnya kesal. Tiba-tiba ada seorang
bapak-bapak menegurnya.
“Den cari siapa?”
“Oh, bapak. Bapak lihat nggak,
cewek, cantik, tingginya kira-kira segini, terus tadi pakai kupluk krem, ada
tahi lalat di pipi.”
“Oh, neng geulis? Tadi mah mau
pulang katanya, terus ditinggal temannya. Saya suruh tunggu angkutan di ujung
jalan. Mungkin sudah pulang den.”
“Oh, makasih pak!”
“Dimana lo Safina…” Reza mendial lagi nomor Safina, ia melihat jam
pada arloji, menunjukkan pukul 21.30.
“Halo Za?” mendengar suara itu, Reza
tersenyum.
“Lo udah sampai Fin?”
“Ooh, iya gue baru sampai…”
“Alhamdulillah. Fin, sorry banget
gue gak tahu kalo ternyata lo ketinggalan, ini gara gara Ralin bohongin gue.
Dia bilang lo mau ke rumah saudara lo. Maafin kita ya Fin.”
“Oh, emm.. Za. Lo gak usah salahin
diri lo ataupun Ralin. Ini salah paham aja. Emang gue cerita mungkin mau ke
saudara, tapi gak jadi. Eh ternyata kalian udah pergi…”
“Grrr… ya ampun gitu ya? Ah, tapi
sukur deh lo udah pulang.. grr..” Reza menjawab sambil menggigil.
“Za? Lo kok menggigil sih? Eh lo
dimana? Za?”
“Ah nggak kok. Ini efek semalam kita
masih diatas, hehe. Efek capek juga kali.”
“Oh, ya udah lo istirahat deh,
kirain lo nyusul gue ke gunung.”
Setelah ia menutup telponnya. Reza
merasa lega Safina telah kembali. Bukannya apa apa. Selama ini memang ada rasa
lain terhadap Safina. Sebuah rasa yang entah dari kapan munculnya, sehingga ia
ingin melakukan apapun untuknya. Apapun. Bahkan seperti sekarang. Masih di kaki
gunung, padahal sama sama capek. Demi siapa? Safina. Dan yang tahu semua ini
hanyalah Ralin. Iya, Reza curhat ke Ralin.
To
BE CONTINUE
Spoiller
: Reza memarahi Ralin. Mengapa ia membohonginya. Ralin menyeret Safina. Dan
mengatakan bahwa ia bahkan tak selevel jika bergaul dengannya. Safina bingung
dengan sikap drastis Ralin. Disisi lain Safina melihat mas tiang listrik(pemuda
yang membatunya) sedang tampil main gitar di sebuah café. Reza meminta Safina
untuk menceritakaan permasalahannya dengan Ralin, karena Reza dan Oskar curiga
ada yang aneh dengan mereka berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar