Kamis, 01 Juni 2017

MASA MUDA Ep. 2

MASA MUDA (eps. 2)
Lalu saya akan mencoba melanjutkan kembali kisah-kisah masa muda para pemuda di zaman sekarang ini. Dimana kisah itu hanya kalian alami saat masih muda saja, hehe.
***
            Masih segar dalam ingatanya. Ketiga temannya meninggalkannya sendirian, membuatnya sangat ketakutan. Bahkan ia harus mengalami kecelakaan kecil. Ia pikir harinya akan semakin apes. Namun seorang pemuda memberikannya pertolongan. Dengan senyum coolnya pemuda itu mengulurkan tangannya. (tiba-tiba backsongnya jadi something just like this nya coldplay ft. the chainmokers).
            “Lo nggak pa-pa?” tanya pemuda itu. Safina hanya diam. Lalu pemuda itu membantunya berdiri.
            “Lo ngapain disini sendirian?” tanya pemuda itu sekali lagi.
            “Eh, makasih mas. Anu.. gue ditinggal sama teman-teman gue.” Jawab Safina meringis menahan sakit.
            “Hah? Ditinggal? Kok bisa sih? Eh, ya sudah gue anterin lo ke puskesmas dulu.” Pemuda itu menuntun Safina ke motornya.
            Safina naik motor itu dengan hati-hati.
            “Pegangan yang kuat, gue mau ngebut! Biar keburu ke kotanya gak kemalaman.” Safina hanya bengong.
            Pemuda itu melajukan motornya kencang membelah angin gunung yang dingin, Safina yang terkejut segera memeluk erat pemuda itu, ia memejamkan matanya merasa ngeri. Sedangkan pemuda itu hanya terkekeh.
***
            Disisi lain, Reza dkk telah sampai Jakarta dengan selamat, semua telah kembali ke rumah masing-masing. Beberapa saat kemudian, Reza mendapat telpon dari ibu Safina. Ibunya bertanya, apa mereka telah kembali ke Jakarta atau belum, dan ibunya ingin menanyakan kabar anaknya itu, karena HP nya mati dan tidak ada kabar. Menyadari ada yang aneh, Reza pun bilang bahwa mereka segera pulang. Setelah ia menutup telponnya. Ia segera mengabari Ralin.
            “Halo Za, ada apa?”
            “Lo jujur sama gue, dimana Safina?”
            “Loh, ya dirumah saudaranya lah.”
            “Lo bohong kan Lin? Gue tau Safina, dia kalau ada apa-apa pasti cerita. Ini pasti akal akalan lo kan? Biar dia ditinggal, gue udah curiga sama lo!”
            “Loh apaan sih Za, lo kok nuduh-nuduh gue…” belum selesai bicara, Reza mematikan telponnya.
            Reza melihat jam didinding kamarnya, pukul 18.30. ia mengambil jaket dan bergegas pergi. Melajukan mobilnya.
            Ia tak habis pikir dengan Ralin, mengapa ia mengerjai Safina. Ralin memang terlihat beda akhir-akhir ini dengan Safina. Dan harusnya Reza tahu kalau ini kerjaan Ralin. Reza khawatir dengan keadaan Safina. HP nya mati dan gak bisa dihubungi.
***
            Sesampainya di perkotaan, pemuda itu mengantar Safina ke puskesmas. Ia langsung ditangani.
            Beberapa saat kemudian, ia telah kembali. Tak ada luka serius, hanya lecet saja. Pemuda itu bersyukur.
            “Makasih ya mas?”
            “Justru gue minta maaf sama lo, gara-gara gue lo jadi jatuh.”
            “Iya mas,”
            “Oh ya? Rumah lo dimana? Biar gue antar lo pulang. Lo kan masih luka gini, udah malam juga.”
            Beberapa kali Safina menolak tawaran pemuda itu, namun akhirnya mau juga karena terpaksa, ia juga merasa tak kuat jalan karena lelah dan agak sakit di dengkulnya.
            Sesampainya di gang rumah Safina, Safina meminta berhenti di depan. Ia beralasan bahwa rumahnya tak jauh dari sana, dan motor tidak dapat masuk. Safina pun masuk dan menghilang dalam gang. Pemuda itu pun lupa sesuatu. Yah, dia lupa menanyakan nama cewek itu.
***
            Dua jam setelah ia pergi, Reza sampai di post camping. Ia berkeliling ditengah hawa dingin yang menusuk. Ia tak menemukan Safina, ia meremas rambutnya kesal. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menegurnya.
            “Den cari siapa?”
            “Oh, bapak. Bapak lihat nggak, cewek, cantik, tingginya kira-kira segini, terus tadi pakai kupluk krem, ada tahi lalat di pipi.”
            “Oh, neng geulis? Tadi mah mau pulang katanya, terus ditinggal temannya. Saya suruh tunggu angkutan di ujung jalan. Mungkin sudah pulang den.”
            “Oh, makasih pak!”
            “Dimana lo Safina…” Reza mendial lagi nomor Safina, ia melihat jam pada arloji, menunjukkan pukul 21.30.
            “Halo Za?” mendengar suara itu, Reza tersenyum.
            “Lo udah sampai Fin?”
            “Ooh, iya gue baru sampai…”
            “Alhamdulillah. Fin, sorry banget gue gak tahu kalo ternyata lo ketinggalan, ini gara gara Ralin bohongin gue. Dia bilang lo mau ke rumah saudara lo. Maafin kita ya Fin.”
            “Oh, emm.. Za. Lo gak usah salahin diri lo ataupun Ralin. Ini salah paham aja. Emang gue cerita mungkin mau ke saudara, tapi gak jadi. Eh ternyata kalian udah pergi…”
            “Grrr… ya ampun gitu ya? Ah, tapi sukur deh lo udah pulang.. grr..” Reza menjawab sambil menggigil.
            “Za? Lo kok menggigil sih? Eh lo dimana? Za?”
            “Ah nggak kok. Ini efek semalam kita masih diatas, hehe. Efek capek juga kali.”
            “Oh, ya udah lo istirahat deh, kirain lo nyusul gue ke gunung.”
            Setelah ia menutup telponnya. Reza merasa lega Safina telah kembali. Bukannya apa apa. Selama ini memang ada rasa lain terhadap Safina. Sebuah rasa yang entah dari kapan munculnya, sehingga ia ingin melakukan apapun untuknya. Apapun. Bahkan seperti sekarang. Masih di kaki gunung, padahal sama sama capek. Demi siapa? Safina. Dan yang tahu semua ini hanyalah Ralin. Iya, Reza curhat ke Ralin.
           
To BE CONTINUE
Spoiller : Reza memarahi Ralin. Mengapa ia membohonginya. Ralin menyeret Safina. Dan mengatakan bahwa ia bahkan tak selevel jika bergaul dengannya. Safina bingung dengan sikap drastis Ralin. Disisi lain Safina melihat mas tiang listrik(pemuda yang membatunya) sedang tampil main gitar di sebuah café. Reza meminta Safina untuk menceritakaan permasalahannya dengan Ralin, karena Reza dan Oskar curiga ada yang aneh dengan mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar