MASA
MUDA (Cinta Bertepuk Sebelah Tangan)
Inspired
by Masa Muda
Maaf saja jika saya terus-terusan
menggunakan ide dari sebuah sinetron. Bukannya karena tak punya ide yang fresh
atau hanya ingin plagiat. Hanya saja saya menyukai alur cerita dan mungkin berhubungan
dengan kehidupan kalian, mungkin loh ? so, don’t judge creating from “title”.
Back
to stage.
Seorang gadis bernama Safina
memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada dikala sedih maupun senang. Mereka
terbentuk sejak SMP. Terdiri dari 4 orang. Safina, Ralin, Reza, dan Oskar.
Safina adalah gadis baik dan periang, rajin ibadah dan pekerja keras. Ralin,
sahabat Safina ia sangat feminim, glamour, dan sangat tegas. Reza, lelaki ini
yang selalu famous dimanapun dia berada, kaya raya, hanya saja dia pemarah dan
suka berantem. Yang terakhir Oskar, dia lucu, apa adanya, dan penakut. Mereka
suka sekali melakukan kegiatan outdoor. Contohnya naik gunung. Sejak kuliah,
mereka selalu mengagendakan waktu saat liburan untuk sekedar camping ceria atau
muncak.
Cerita masa muda mereka dimulai
saat, liburan semester. Reza, Safina, Oskar, dan Ralin sepakat. Kali ini mereka
harus muncak ke gunung Gede di Bogor.
***
“gue yakin, perjalanan kali ini
pasti seru banget! Ahh, gak sabar gue!” seru Reza yang membopong tas cariernya
dan melakukan ritual highfive lalu ngedab bersama gengnya.
“yooi man! Pastinya?” saut Oskar.
“Lo semangat banget Za? Hehe.” Sahut
Safina.
“Ih, iya nih gak sabar ya Za?” kata
Ralin.
Di titik ini. Ada hawa yang berbeda
diantara Ralin, Safina, dan Reza. Entah mengapa perasaan Safina tidak enak.
“Lo kenapa Fin? Lo sehat kan?” kata
Reza perhatian.
“Eh, gak pa-pa kok. Beneran!” jawab
Safina.
“Apa’an sih lo Fin? Jangan manja
deh! jangan ngacoin semuanya lo!” ketus Ralin.
“Apa’an sih lo Lin. Kalau Safina
kenapa-napa ntar lo yang mau tanggung jawab?” bentak Reza.
“Enggak kok bener gue gak pa-pa.”
“Udah, udah! Kenapa jadi pada rebut
sih? Perjalanan ini gak main-main, wajar kalo Reza khawatir sama Safina,
takutnya kan kenapa-napa. Udah sih sekarang Safina kan gak pa-pa jadi gak usah
rebut aja, oke?” oskar mencoba menengahi.
Perjalanan pun dimulai. Awalnya
tidak ada kendala yang berarti. Namun entah mengapa di tengah-tengah, Ralin
seperti sengaja untuk terus-terus mencelakai Safina tiap kali Reza mendekati
Safina.
Mereka pun berjalan pelan namun
pasti, menuju puncak gunung. Berharap impian mereka tercapai, menancapkan
bendera merah putih dan bendera persahabatan. Berharap juga menjadi “friendshipgoals” .
Benar saja, beberapa jam kemudian,
setelah melewati lelah berpeluh karena melewati medan yang lumayan. Sampailah mereka
di puncak. Seketika keempatnya bersyukur. Lalu mereka berpelukan penuh haru.
Oskar menancapka bendera. Keempatnya baris dan hormat. Setelah itu mereka
foto-foto untuk mengabadikan momen langka itu.
Keesokan harinya, setelah mereka
camping, mereka memutuskan untuk turun gunung. Dengan manja dan sok cari
perhatiannya, Ralin gandeng-gandeng Reza. Safina mulai curiga, hanya saja ia
menepis segala prasangkanya.
Sampailah mereka di post 1, kaki
gunung. Semuapun beranjak untuk pulang. Akan tetapi Safina ingin ke toilet,
Ralin mengantarnya.
Beberapa
menit kemudian, Ralin kembali sendirian.
“Safina mana Lin?” tanya Reza cemas.
“Eh, itu Za. Fina mau pulang ke
rumah saudara di dekat sini. Jadi dia gak ikut pulang kita,” Ralin
terpatah-patah.
“Masa sih? Lu yakin? Emang sih dia
punya saudara disini,” kata Oskar.
“Ah ngaco kali lu Lin.” Kata Reza
gak percaya.
“Suer!” Ralin mengacungkan dua jari
membentuk huruf V.
Dengan susah payah Ralin meyakinkan
Reza dan Oskar, akhirnya mereka percaya dan segera meninggalkan parkiran wisata
outdor itu.
Disisi lain,
“Lin, Ralin… lu dimana?” Safina baru
keluar dari kamar mandi.
“Teh! Teteh cari temannya ya?”
seorang penjaga toilet menyahut.
“Iya mang, mamang lihat?”
“Tadi sih dia lari, buru-buru ditu,
tapi gak tahu yah kenapa,”
“Ya sudah mang, makasih…” Safina
berlari menuju tempat parkiran.
Dengan nafas masih terengah, ia
mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun ia tak melihat mobil Reza.
“Ya Allah. Pada kemana ya? Masa gue
di tinggalin,” Safina mulai cemas. Ia menuju tukang parker dan menanyakan
keberadaan temannya.
“Mang, nuhun. Boleh tanya?”
“Iya neng, kunaon atuh?”
“Mamang lihat teman-teman saya
nggak? Mereka bertiga, baru turun gunung. Mobilnya Honda jazz warna merah,”
“Oh, barudak itu? Mereka sudah
pergi. Barusan saja.”
“Hah? Kok pergi sih, gue kan belum
selesai kok ditinggal?” Safina mulai putus asa.
“Kalau mau pulang bisa naik bis mini
neng, tapi masih 1 KM dari sini. Ini kan jam 3 sore, jam setengah 5 udah
terakhir.”
“Ya sudah mang, makasih.” Safina
segera cabut dan berjalan kaki menyusuri jalan yang mulai sepi, hawa pegunungan
semakin terasa dingin. Beberapa saat ia hanya merasa takut. Kabut mulai turun
menyelimuti. Sampai ada sebuah motor yang melintas. Niatnya safina ingin
meminta bantuan, namun yang ada motor ini malah menyerempet dan membuatnya
jatuh.
“Auu!” mendengar teriakan itu,
seorang pemuda yang naik motor trail itu berhenti, ia lari menuju kearah safina.
Angin semilir menghantam tubuh
keduanya, hembusannya sangat kencang. Sepersekian detik pemuda itu memancarkan
karismanya. Pemuda berperawakan tinggi semampai, berkulit putih, mengenakan
seragam trail, ia melepas helemnya dan menyibakkan rambut kerennya, Safina
hanya melongo. Ia sampai lupa dengan sakitnya.
To
Be Continue
Hem,
kira-kira siapa pemuda berkarisma ini ya? Apa alasan Ralin kalau Reza sampai
tahu ia berbohong tentang Safina, bagaimana kelanjutan kisah persahabatan
mereka? Lalu bagaimana kisah Safina dan pemuda ini. Simak terus di blog saya
kapan-kapan. :D
@wasik.aml



Ralin cemburu melihat kedekatan antara Reza dan Safina. Cuman akal2annya Ralin yg niat ninngal Safina. hheee
BalasHapusMungkin cowok itu, yg nantinya jadi penyelamat Safina? heheee
hehehe sipp.. bisa jadi. atau malah kebalik?
BalasHapus