Selasa, 02 Mei 2017

MATASA



MATASA? Apa yang anda pikirkan mendengar kata itu? Mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu ya? Yah wajar lah. Karena ini hanyalah singkatan dari sebuah sekolah, madrasah lebih tepatnya. Madrasah tsanawiyah satu jember. Yeps! Kali ini saya akan sedikit menceritakan pengalaman saya menjadi guru praktikan di sekolah yang katanya favorit ini. Yah namanya juga nomor satu, negeri lagi. Harusnya favorit dong! Awalnya sih minder, sumpah! Cuma setelah dijalani yah gak semenakutkan yang saya bayangin sebelumnya.
MATASA. Punya ciri khas. Aroma keringat siswa dan pengap lorong koridor kelas VIIIG, VIIIB, VIIIC, Perpus, dan entahlah menciptakan sebuah bau-bauan khas. Bukan bau busuk, tidak juga harum, hanya saja khas. Di peron(tempat duduk depan kelas) IXG beraroma pomade(minyak rambut) juga menjadikannya khas. Aroma laboratorium IPA (BaseCamp) dengan kipas yang bersua (Ssrrrhhh), sabun cuci tangan, dan para tengkorak yang setia menjadi penunggu, lorong ruang guru IPA yang menjadi tempat peristirahatan sementara dan ruang makeup dadakan, tempat melihat film horror juga. Peron depan ruang guru yang menjadi tempat nongkrong asyik untuk wifian, kadang harus menjadi tempat yang membuatmu pusing dengan keriuhan dan lalu lalang para guru. Parkiran khusus para praktikan yang harus di parkir di depan kelas, sehingga kala hujan harus kehujanan, dan kadang menjadi kejahilan para siswa yang iseng. Terkadang setiap kelas memiliki aroma berbeda-beda. Namun tetap satu jenis kepengapan, tapi ada beberapa kelas yang lumayan segar aromanya, entahlah, setiap masuk kelas itu hawanya segar, siswanya sedikit, dan gak begitu pengap.
Lalu apa lagi ya? Yah, tak lupa musholla yang saya namakan aliran kiri dan kanan. Kenapa? Karena musholla sebelah kiri lebih adem, luas, dan sejuk akan tetpai memiliki misteri yang belum terpecahkan. Sedangkan sebelah kanan, cenderung sempit, panas, dan menjadi lalu lalang siswa yang berwudlu.
Sekolah ini terlihat tidak terlalu luas. Namun, berkeliling ke seluruh sekolah lumayan membuat kakimu gempor, apalagi pakai highheels.
Jajanan favorit saya adalah sesuatu yang dilarang dan sangat berbahaya. Sosis, balado, boncabe. Yah, kami merasa masih sama dengan siswa di sekolah. Tahu bahwa sangat tidak sehat, namun masih saja digemari.
Mungkin tak banyak cerita yang ku ukir bersama siswa seperti teman yang lain. namun, saya bisa merasakan hawa euphoria sekolah. Seperti kembali lagi menjadi seorang siswa, namun tak bisa untuk ikut berpartisipasi hanya saja mengamati, menyimak.
Setiap orang memiliki kesannya sendiri. Memilih menjadi kaku atau lost control itu pilihan. Seharusnya dalam proses belajar, tak ada yang perlu dimasukkan kedalam hati. Yang baik-baik diambil, yang jelek di doakan semoga menjadi baik. Benar? Menjadi orang juga jangan terlalu naïf. Hanya saja berupaya menjadi objektif saja.
MATASA bagi kami adalah tempat baru yang memberikan pelajaran. Kenapa? Karena dalam praktek lapang, tentu tak hanya problem pembelajaran yang hadir, disini kamu akan menemukan problematika yang terjadi di dunia profesi, masyarakat, dan instansi. Yang mana ini hanya secuil sentilan bagi kami agar peka. Mana yang benar dan salah, dan cara agar bersikap dewasa dalam menghadapi sebuah problem. Selain itu belajar tentang tanggung jawab, konsekuen,dan tidak egois. Mengapa? Karena kami hidup berenambelas membawa satu bendera.
Saya rasa problem sosial yang dihadapi di praktek lapang ini masih belum seberapa dibanding kenyataannya, hanya saja disini tempatnya belajar. Semuanya tergantung cara pandang kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar