ROMAN
PICISAN
Inspired
by sinetron roman picisan 2017
Seorang
pemuda sedang melajukan motor trail kesayangannya. Hari-hari masa putih
abu-abunya ia lewati dengan biasa saja, ia adalah seorang anak rantau. Dengan
pengetahuan pas-pasan dan juga keluarga sederhana yang mengedepankan kualitas
pendidikan.
Di
sebuah tikungan tajam ia melesat. Namun tiba-tiba sebuah mobil mengerem
mendadak, lalu ia yang di belakang mobil harus banting stir, akhirnya ia
terperosok ke bahu jalan. Seorang gadis SMA yang membawa mobil tadi segera
turun dan menolongnya.
“Woy
kira-kira dong lu kalo bawa mobil, bisa gak sih?” maki pemuda yang ternyata
bernama Roman itu. Sang gadis yang panic terus meminta maaf dan menolongnya.
Tapi si Roman makin nyolot.
“Maaf
ya mas. Gue gak sengaja, lu gak papa kan?”
“Ah
sial! Gara-gara lu gue jadi jatoh kan?” kesal si Roman.
“Apa
perlu di bawa ke rumah sakit? Atau mau biaya ganti rugi?” tanya gadis itu.
Tapi, bukannya menerima si Roman makin nyolot dan membuat si gadis geram,
“Lu
tuh udah sukur gue tolongin, kalau gak mau ya sudah. Nyolot banget.” Si Roman
lantas meninggalkan gadis itu yang mengamuk dan melajukan motornya kembali.
***
Bulan
terangi bumi di malam dingin
Angin
membelai lembut perasaan kalut
Sekapas
jatuh daun daun kering ke tanah
Ribuan
doa terapalkan dalam tiap bait do’a malam
(Roman, 2 Januari 2017)
Setelah
kejadian itu Roman mulai terinspirasi membuat puisi-puisinya lagi. Kejadian
yang sangat menyebalkan di awal masuk sekolah setelah liburan, gadis yang
cantik dan bersinar tetapi menyebalkan. Begitu batinnya.
Di
sekolahnya ia berkumpul dengan teman-temannya dan bercerita kejadian yang ia
alami. Tiba-tiba saja, ia melihat sesosok yang tidak asing baginya,
“wait! Lu lihat cewek itu gak?” tanya
Roman konyol.
“Lah,
Wulan maksud lu?” kata Samuel, teman Roman.
“Wulan?”
“Iya,
dia anak XI IPA 1, cewek yang gue certain ke elu tempo hari. Cewek yang gue
taksir. Masak lu gak tahu sih?” Roman hanya melongo. “Eh, malah cengo!”
“Eh,
sori.. sori. Oh jadi dia sekolah disini, kok gue gak tahu ya?”
Karena
merasa kakinya agak bengkak, Roman memutuskan untuk ke UKS meminta obat dan
istirahat disana. Namun, ia melihat Wulan. Wulan pun terkejut.
“Elu!”
keduanya kompak kaget.
“Jadi
lu sekolah disini?” tanya Roman.
“Emang!”
jawabnya cuek.
“Tanggung
jawab lu, nih kaki gue bengkak!”
“Siapa
suruh di ajak ke rumahsakit gak mau!”
“Ye,
nyolot lu ya!” dengan muka kesal Wulan mengambil kotak P3K lalu memberikannya
pada Roman.
“Lu
bisa make sendiri kan?” tanya Wulan.
“Ye,
tenang aja!” Roman mulai membaluri kakinya dengan minyak urut tapi dia
kesulitan karena kakinya sakit kalau di tekuk, Wulan yang gak tega melihatnya
lalu mengambil alih dan mulai membantu melumuri kaki Roman dengan minyak.
Sepersekian detik berasa slow motion, saat melihat Wulan, kata-kata puitisnya
tiba-tiba menari dalam pikirannya.
Hati
yang tulus sanggup terbaca mata
Kata
kata makian terlalu sadis diungkapkan
Namun
mata tak kan pernah bisa berbohong
Karena
kaca kaca kebencian tak Nampak dalam bayang semu
(Roman, seconds)
***
Diam-diam
Roman memikirkan Wulan. Wait? Gak
salah? Dia segera menepis bayangannya dan beranjak pergi.
Ke
esokan harinya, kakinya sudah merasa baikan. Ia entah mengapa akhir-akhir ini
ia makin sering melihat Wulan. Walaupun mereka gak secara resmi kenal, namun
kejengkelan dari keduanya membuat mereka sering balas ejekan.
Karena
sepanjang jalan Roman keinget Wulandari, ia sampai lupa jam masuk sekolah lima
menit lagi, ia pun melajukan motornya mengejar waktu.
Sesampainya
di sekolah tiba tiba ada mobil yang taka sing di depannya menghalangi jalan
menuju gerbang parkir sekolah, roman pun sengaja menyalip dan mengklakson motornya, si empunya
mobil pun harus sedikit menepikan mobil. Merasa puas bisa menyalib, Roman
tertawa lepas.
Di
parkiran sekolah Roman berlari karena melihat Pak Mudi satpam sekolah menutup
gerbang, di belakangnya Wulan juga mengejar.
“Pak
jangan di tutup!” Roman berteriak, adegan tiba-tiba menjadi slow motion. Namun
sayang pak Mudi telah menutup gerbang dan cengir-cengir.
“Pak
bukain dong pak! Please!” seru Wulan memohon.
“Iya
pak bukain!” kata Roman.
“Kamu
udah sering telat!” kata pak Mudi.
“Ye
pak kan saya baru saja sekali.” Kata Wulan gak terima.
“Maksutnya
si Roman. Ah tapi sama aja.” Kata pak Mudi lagi.
“Ih,
ini pasti gara-gara lu deh. ternyata nama lu Roman?” tuduh Wulan pada Roman.
“Enak
aja, lu aja kali nyetirnya lambat! Eh lu gak tau nama gue? Jadi lu pengen
kenalan gitu?” kata Roman sok cool.
“Bwehhh…
amit-amit!” Wulan menjulurkan lidahnya nyinyir.
“Ye,
bilang aja kali lu liat gue ganteng, jadinya mau kenalan dan jangan-jangan lu
sengaja telat biar sama gue ya?” ledek Roman. Namun sebelum Wulandari
membalasnya pak Iksan kepala sekolah datang.
“Roman
Arbani, kamu telat lagi rupanya? Loh? Wulandari kamu juga ikutan telat?
Ckckck…”
“Pak
bolehin saya masuk ya pak? Kalau Roman di hukum saja pak?” Wulan memelas.
“Kalian
berdua bapak hukum! Ikut bapak ke aula!” mereka mengikuti pak Iksan.
“Sekarang,
kalian sapu lalu pel seluruh aula ini. Cepat kerjakan!”
Dengan
mengeluh keduanya mulai menyapu seluruh aula. Dengan malas malasan Wulan
menyapu lantai sekenanya dengan bibirnya manyun. Roman yang melihatnya langsung
menegornya.
“Neng!
Lu nyapu apa lagi jalan di catwalk? Manja banget jadi cewek!” sindir Roman.
“Apa
sih. Resek banget lu! Udah sapu aja yang bersih sana!” Wulan makin manyun.
Roman melihatnya dan justru membuatnya tersenyum, menyadari hal aneh dalam
dirinya, ia menghapus sendiri anggapannya.
Akhirnya
setelah beberapa saat mereka selesai menyapu aula yang cukup luas, terlihat
keduanya berkeringat dan kepanasan.
“Eh
kita belum selesai. Ayo bangun masih harus di pel!” ajak Roman.
“Gak
usah gak pa-pa kali, gak bakal ketahuan juga kan?”
“Eh
kalo bisa jug ague maunya gitu, lu gak liat? Tuh ada pak Mudi ngawasin kita dan
siap ngelaporin kita ke pak Iksan. Mau lu suruh kerja dua kali?” Wulan pun
hanya bisa cemberut.
Wulan
mengambil pel-pelan dan Roman mengisi air di timba. Lalu mereka berdua mulai
berjalan mengepel lantai aula. Hingga sampai dimana Wulan mengepel lantai gak
sadar di belakangnya lantai masih licin karena sabun yang tercecer jatuh entah
ulah siapa. Dia pun tergelincir kebelakang dan jatuh.
“Auuuugh!”
teriak Wulan. Roman pun reflek menjatuhkan pelnya dan berlari menolong Wulan.
“Wulan!”
teriak Roman, Wulan masih meringis kesakitan.
“Lu
gak pa-pa? mana yang sakit? Aduh, kok bisa sih. Ayo minggir dulu.” Wulan hanya
memandangnya aneh.
“Ye
masih nanya lagi. Ya gue pa-pa lah. Sakit naget kali, auuu!” tiba-tiba Roman
berubah ekspresi.
“Haha,
makanya neng ati-ati, gak lihat lihat sih. Tuh kan jatuh, sakit ya?” ledek
Roman.
“Eh,
bukannya ditolongin kek!” Wulan kesal.
“Uh
cup cup cup, sini kakak gendong!” sambil ngulurin kedua tangan seperti hendak
menggendong balita.
“Ih
apa sih Roman!” Roman hanya tertawa, lalu mengulurin tangannya dengan benar.
Sejenak Wulan melihatnya. Karena Wulan hanya melihat saja Roman menarik tangan
Wulan dan membantunya berdiri.
“Auu,
pelan pelan. Punggung gue!” protes Wulan.
“Ya
elah manja amat!” Roman membopong Wulan, sepersekian detik tiba tiba slow
motion, Wulan melihat mata Roman, ada ketulusan disana.
Jika
jatuh cinta bisa membuatmu terbang
Mengapa
aku hanya bisa membuat benar-benar terasa jatuh
Jika
cinta dapat membuat berbunga bunga
Mengapa
aku hanya akan membuatnya layu
Jika
cinta harus berkata
Mengapa
aku hanya tetap membisu dalam diam
(Roman, Third)
***
Roman
mengantarkan Wulandari ke UKS.
TO BE CONTINUE....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar