Selasa, 31 Januari 2017

FREEDOMPAIN

FREEDOMPAIN
            Lelaki kocak itu menyulutkan api ke rokoknya. Ia menghisap dalam dalam. Lalu menyembulkan asap, berbentuk “O”. Sejenak ia tersenyum miris. Gadis yang sejak tadi menemaninya itu pun bersua.
            “Lu tuh kalo sumpek suka ngerokok ya Le?” Ale, lelaki kocak itu hanya menanggapinya dengan tertawa. Sesekali menyesap sisa rokoknya.
            “Lu kok gak ikut anak-anak pulang sih Nyak?” si Ale mengalihkan pembicaraan.
            “Karena gua tau lu lagi sumpek ntar lu malah hilang kendali, hehe..” goda Anyak, gadis yang menemani lelaki kocak itu.
            “Udah malem Nyak, lu pulang aja. Gua gak pa-pa.” sorot mata Ale rupanya sudah kabur, ia merasa ngantuk berat, namun banyak beban yang ia pikirkan. Itu sangat terlihat jelas.
            “Ya sudah, ayok kita pulang. Lu tuh udah capek gini. Mau sampai kapan disini?” sempat berdebat. Akhirnya Ale mau juga pulang, setelah mengantar Anyak.
            Bukannya pulang, Ale justru melacukan motornya ke tempat Edo, sahabatnya.
            “Lu ngapain malem-malem ke tempat gua sih bray?” Edo meresa tidurnya terganggu. Tapi, Ale masa bodo dan milih berbaring di sofa lapuk di kamar kos Edo.
            “Gak pa-pa. gua numpang tidur bray.”
            “Lu kesini pasti ada masalah deh? tapi kalo gak mau cerita sekarang ya sudah, gua mau lanjutin tidur gua.”
            “Gua bingung bray. Asli bingung banget. Agrrhh..” Ale mengacak rambutnya kesal.
            “Masih bingung saja? Yakinin dulu hati lu, jangan sampai lu nyesel.” Edo beranjak ke kasur dan merem merem karena ngantuk. Ale pun masih menerawang jauh. Ia sedang bingung.
            Memorinya sedang berselancar kembali mengingatkan kenangan-kenangan yang sudah banyak ia lakukan. Perceraian orangtuanya membuatnya sangat hancur, ia adalah anak satu-satunya. Ia bahkan jarang pulang ke rumah. Namun, yang ia pikirkan bukan lagi masalah keluarganya, tapi tentang hatinya. Siapa yang harus ia percaya, dan untuk siapa sebenarnya hatinya. Semua Nampak membingungkan karena mereka dating di waktu yang tepat namun momen yang tak tepat.
***
            Suara ayam mulai berkokok, Ale yang terjaga semalaman masih terjaga di dini hari, ia memutuskan untuk pergi. Ia lajukan motornya, bahkan fajar di ufuk timur hanya terlihat mengintip. Rupanya pagi itu sedang mendung.
            Hari ini Ale merasa lelah dengan semua kebingungannya. Ia bahkan tak bisa mengambil keputusan pasti. Siapa yang ia pilih, siapa yang ia percaya, ataukah tak memilih semuanya dan menjadi lelaki brengsek saja. Di perjalanan, di sejuknya embun pagi. Ia berhenti sejenak di jalan persawahan. Ia memejamkan matanya dalam-dalam. Ingatannya sedang melayang-layang. Sejenak ia merogoh saku dan mengambil HP dan menyolokkan earphone, lalu mencari music di menu, dan klik lagu favoritnya “Broken Home-5SOS”.
            Davelina, Davelina, Davelina… ia terus merapalkan nama itu. Masih sangat segar di ingatannya, betapa gadis itu memilih meninggalkannya dan pergi jauh, membuat Ale hancur, namun saat ia hendak membuka hatinya untuk orang lain, ia datan lagi dan menginginkan Ale kembali. Dalam hatinya memang masih ingin bersama Davelina, ia masih mencintainya. Tapi ia gak bisa seegoin itu. Bagaimana dengan Anya? Ia tahu betul kalau Anya menyukainya dan sekarang sudah dekan sekali, walaupun Ale masih ingin membuka hati, dan tiba-tiba Davelina datang lagi di kehidupannya itu sungguh membuat bingung.
             Mana yang lebih besar? Rasa itu untuk Davelina, ataukah rasa kecewanya? Atau rasa kasihannya terhadap Anya. Ia benar-benar belum siap menerima kenyataan itu. Ia teringat akan kejadian itu, kejadian dua hari lalu,
THROWBACK
            “Nya ntar lagi gue mau ke bengkel dulu ya? Kayaknya motor gue gak enak gini, gak pa-pa kan?” Ale membelokan motornya kea rah bengkel langganannya.
            “Oke santai aja Le. Ini masih pagi banget. Dari pada kenapa-napa. Hehe” Anya menyunggingkan senyum lebarnya seperti biasa.
            “Sorry nih Nya, gue baru bisa nepatin janji gue sekarang, btw kenapa sih lu suka ke taman bermain? Kayak anak kecil aja?”
            “Hehe, iya gak pa-pa gue ngerti. Gue suka aja. Seru sih. Bisa ngilangin stress.” Jawabnya sambil senyum senyum.
            Ceritanya mereka berdua pernah taruhan dan yang kalah harus ngabulin permintaan yang menang. Kebetulan si Anya menang. Dan ia Cuma pengan main di taman bermain, tapi karena di luar kota ia tak punya kesempatan untuk main sendiri ke sana.
            Sesampainya di bengkel, si Ale ikut ikutan montirnya buat benerin. Dan si Anya terpaksa menunggu sendirian. Yang ia lakukan hanyalah melihat si Ale yang lagi riweh sama motornya. Anya gak pernah tahu sejak kapan ia mulai menyukai Ale, mungkin karena terbiasa bersama, namun Anya tak bisa memaksakan perasaannya karena Anya tahu betul, Ale belum melupakan Davelina.
            “Duh, sorry banget Nya nunggu lama? Lu pasti boring ya?” Ale membersihkan tangannya, sepertinya sudah selesai.
            “Gak pa-pa kok. Sudah?”
            “Oke, berangkat!”   
            Ale mulai melajukan motornya, perjalannya kira-kira 3 jam dari kota mereka. Makanya mereka sudah safety riding. Sepanjang perjalanan itu pun Anya tak henti hentinya mengoceh. Ia akan merasa bosan jika diam saja, untuk itu ia tak segan untuk bercerita apapun. Matanya berbinar, bibirnya tak henti untuk melengkungkan senyumnya. Bahkan Ale tak pernah melihatnya sedih, ah mungkin lebih baik seperti itu saja, batin Ale.
            Sesampainya di taman bermain itu, Anya langsung berhambur berlarian. Melihat itu Ale terkekeh, bagaimana ia bisa punya teman yang kekanakan dan konyol seperti itu. Pertama Anya langsung main Giant Swing, dilanjut Tornado, tak lelah ia lanjut 360 Swing, si Ale sudah lemas banget dan pucat pasi.
            “Haha, cemen lu. Gini aja udah mabok lu Le.” Anya sedang mengejek Ale yang tengah terkapar di Gazebo. Tak ada jawaban dari Ale.
            “Ah gak asik lu. Ya udah lu tunggu sini, gue beli minum oke?” Anya meninggalkan Ale yang tengah tepar.
            Disisi lain, Ale duduk dan memandang sekitar. Ia pernah dating kesini dengan Davelina. Bedanya mereka berdua sama sama takut main mainan ekstrim, dan memilih berjalan mengelilingi taman dan makan makan. Tiba tiba saja saat Ale melamun, ia melihat Davelina. Ale mengejar gadis itu.
            “Davelina!” teriak Ale. Gadis itu pun berhenti, dan membalikkan badannya. Mereka berdua tercengang. Masih sadar dan tidak.
            Di balik kerumunan banyak orang itu pun Davelina berlari dan memeluk Ale. Ale juga hanya bisa pasrah. Ia menemukan Davelina. Namun kekecewannya mengingatkannya, ia melepas Davelina dengan kasar. Dan masih tak bersua.
            Anya kembali dan tak menemukan Ale, ia lalu mencari Ale ke sekeliling. Sampai akhirnya Anya menemuka Ale, betapa terkejutnya ia melihat Ale sedang berpelukan. Ia reflek menjatuhkan minumannya dan menutup mulutnya, ia berfikir mungkin ia Davelina. Lalu ia memilih kembali dan menunggu saja di gazebo.
            Davelina mengajak Ale ke coffeshop. Mereka mengobrol panjang lebar sampai lupa waktu. Davelina ingin pulang, ia memang tinggal di kota ini dan berencana kembali besok karena urusan pekerjaan. Lalu Ale menawarkan untuk mengantarkan pulang. Namun Davelina menolak. Ale pun tersadar, bahwa ia bersama Anya. Ia pun bergegas meninggalka Davelina setelah pamit, kembali ke gazebo. Namun saat sampai disana nihil. Tidak ada Anya. Ale menelpon juga nomor nya tak aktif. Ia berkliling mencari tapi tetap tak ada. Saat itu iya benar-benar merasa bersalah.
            Anya sudah menunggu 2 jam, tapi Ale belum kembali. Ia putuskan untuk pulang naik bis. Mungkin Ale masih butuh waktu bertemu dengan Davelina, saat ingin mengabari ternyata batre HP nya habis. Ia pun berpikir Ale mungkin tak kan mencarinya dan tak mungkin khawatir. Anya melangkahkan kakinya menuju halte bis, ia Nampak lesu. Bahkan di dalam bis ia hanya melamun, namun lama lama titik titik air mulai menetes membasahi pipi yang biasanya kemerahan. Ia merasa kecewa, Ale melupakannya dan memilih bertemu Davelina. Ia benar-benar kecewa.
            Ale mencemaskan Anya. Ia pun segera melajukan motornya pulang. Ia terus menghubungi Anya namun nomornya tidak aktif. Ia mau tak mau harus ke rumah Anya untuk mengecek keadaan Anya apakah sudah sampai atau belum.
            Hari semakin menggelap, matahari telah kembali ke peraduan di senja yang sedikit mendung itu. Ale masih di perjalanan. Ia tak tenang, ia tak tahu apa yang terjedi pada Anya, dan semua itu salahnya.
            Di tengah perjalanan, HPnya berbunyi, Ale menepi. Itu telpon dari Anya, dia bialng bahwa dia baru sampai dari rumah,dan Ale tak perlu lagi mencemaskannya. Anya berfikir bahwa Ale mungkin butuh waktu bersama Davelina. Sebelum Ale mengatakan hal lain, Anya telah menutup telponnya, mungkin marah.
            Keesokan harinya mereka bertemu, bersama teman lain. kelihatanya Anya tidak marah sama Ale, dia juga terlihat dan bersikap biasa saja dengan Ale, sehingga Ale tak mengkhawatirkannya lagi, walaupun sebelumnya sempat meminta maaf yang banyak. Sampai akhirnya teman yang lain pada pulang, kini tinggal Ale dan Anya.
THROWBACK OFF
            Ale membuka matanya perlahan, ia harus memicingkan matanya karena kini matahari telah meninggi dan menyinari bumi. Ia menghembuskan nafas berat. Sejenak berfikir untuk kedua kali sebelum akhirnya melajukan motornya.
            Ia akan menuju ke tempat seseorang yang selama ini ia tak sadari akan kebenarannya. Ke tempat dimana ia seharusnya sadari, ke tempat dimana ia rasakan “rumah” lain, ke tempat yang di sebut “pulang”, ke tempat hati itu ingin.
            Ale telah sampai di tempat itu. Jam masih menunjukkal pukul 07.30. kemungkinan dia sedang sarapan, atau bersih-bersih. Dengan mantap ia masuk ke dalam tempat itu. Sejenak memandang tempat itu, setelah akhirnya seseorang menyapa.
            “Nak Ale? Kok gak masuk malam melamun, hehe.” Ibu paruh baya menyapa Ale.
            “Eh, ibuk. Iya ibuk Ale boleh masuk?” kaget Ale.
            “Ya boleh dong! Ayo, udah sarapan? Ayo sarapan bareng ya?” tawar ibu itu, Ale hanya mengangguk.
            Saat sampai di meja makan, ia bertatapan dengan orang yang ingin ia temui. Mereka saling pandang. Yang satu terlihat kaget dan heran, dan yang satu menuntut sesuatu, bukan., lebih tepatnya dengan mata rasa bersalahnya ia terlihat sayu.
            “Gue mau ngomong sama lu, boleh kan?” ia pun menyelesaikan makannya dan beranjak menuju Ale.
            “Ya Le. Ada apa sih? Tumben banget lu ke rumah gue. Pagi-pagi lagi?” katanya lagi.
            “Gue minta maaf banget sama lu ya?”
            “Ya ampun. Iya Le, gue udah maafin lu dari kemarin kok.”
            “Davelina…” sebut Ale, dan ia mengernyit diam.
            “Gue emang bodoh! Seharusnya memang gue gak perlu nemuin Davelina waktu itu.”
            “Lu gak bodoh Le. Lu lagi kalut aja.”
            “Anya, gue tahu lu suka sama gue kan?”
            “Apa? Lu tahu dari mana?” seru Anya, orang itu kaget.
            “Karen ague bisa ngerasain itu, dan bodohnya gue gak sadar akan hal itu,” Anya hanya tersenyum getir.
            “Selama ini gue selalu cemasin lu, gue selalu nyariin lu saat lu gak ada, dan gue takut kalau terjadi apa-apa sama lu… itu semua bukan karena kita dekat sebagai sahabat, gue pikir gue juga udah mulai suka sama lu…”
            “Terkadang kita memang mengharapkan akan hal indah adalah sesuatu yang indah, tapi pengorbanan juga akan indah kalau lu ikhlas ngejalaninnya Le..”
            “Maksud lu apa Nya?” Tanya Ale heran.
            “Lu harus berkorban sebelum mendapatkan keindahan itu Le, jadi… gue gak mau kita bersama. Cukup seperti ini sampai waktu yang tak di tentukan. Karena gue tahu lu masih gamang akan keputusan lu, jadi sebaiknya di pikirkan lagi. Gue gak mau kehilangan lu, kehilangan sebagai pasangan dan sahabat. Oke?”
            Ale pun mengangguk pasrah, dia benar. Perlu pengorbanan atau perjuangan untuk berakhir indah dan bebas.


JR, 31 Jan ‘17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar