MASA MUDA (EP. 4)
Di pagi
hari yang cerah. Reza tengah buru-buru. Setelah ia mendapat telepon dari
teman-temannya ia segera menginjak pedal gas dan meluncur ke suatu tempat.
“Dimana
dia?” Reza berteriak di suatu lapangan luas yang sepi, dari arah barat di balik
warung kecil, teman-teman Reza telah menunggu.
“Za sabar
Za! Dia ada disini,” Leo, teman Reza menghampirinya dengan muka ketakutan.
“Gue sudah
menunggu lama untuk ini…” tiba-tiba terdengar suara mobil datang dan ngedrive.
Seorang
cowok keluar dari mobil, terlihat dari sneakers, lalu menggunakan jeans light
blue robek, dan kaos putih berbalut kemeja krem kotak-kotak, rahang yang tirus,
kumis tipis, ia menyeringai, rambutnya sedikit ikal.
“Sudah lama
sekali, REZA!” ia akhirnya bersua. Reza hanya mendecih.
“Rupanya lo
masih ingat perjanjian kita, Adam!” ternyata cowok itu adalah Adam, musuh
bebuyutan Reza, karena mereka merasa bersaing di kampus.
“Kali ini
gue bakal kalahin lo Dam!”
“Jangan
sombong lo! Kalau gue menang, urusan kita selesai!”
“Urusan
kita gak akan pernah selesai!” Reza menatap tajam dan ber api-api, penuh
ambisius. Tak kalah Adam pun menatap tajam.
Kali ini
mereka telah berada di sebuah jalan yang sepi, Reza dan Adam balapan mobil
lagi, untuk bersaing. Teman-teman setia mereka telah berada di pinggir jalan
untuk menyemangati. Leo berada di tengah memberi aba-aba. Setelah bendera
diangkat, keduanya langsung menginjak gas, melaju membelah jalanan sepi. Saling
kejar-kejaran. Terkadang Reza memimpin, namun tak lama Adam menyusul, begitu
terus sampai tiga kali putaran dan finish di tempat start tadi.
Di tengah
pertandingan, HP Reza berbunyi terus menerus, ia menjadi tak berkonsentrasi.
Saat ia melirik dan melihat siapa yang menelpon, ia ingat. Hari ini adalah ulang
tahun Oskar, dan sahabat-sahabatnya pasti menunggu nya. Ia sangat cemas dan
bingung. Disisi lain, tiba-tiba Adam menyusul dengan cepat, dan BAMM! FINISH!
“Yuhuu, gue
menang!” teriak Adam. Di belakang, Reza memukul setir kesal, ia memijat
pelipisnya dan keluar menemui Adam.
“Udah
terbukti. Gue pemenangnya!” Reza mendekat dan menatap Adam tajam.
“Oke, kali
ini lo menang, ini semua gara-gara gue ada hal yang mendesak, tapi ingat! Gue
bakal ngalahin lo lain kali,” dengan segera Reza pergi meninggalkan tempat itu,
ngebut. Yang lain hanya melongo. Adam memandang heran.
***
Disisi
lain, Oskar sudah berada di café sejak tadi. Ia masih menunggu ketiga
sahabatnya. Ia juga telah menelpon, Whatsapp, tapi mereka tak ada satupun yang
mengangkat. Ia heran, akhir-akhir ini mereka suka sibuk sendiri-sendiri.
Dari arah
pintu masuk, terlihat ketiga sahabat yang ditunggu itu lari menuju Oskar.
“Oskar,
sorry kita telat!” Oskar hanya melengos.
“Happy
Birthday Oskar, tenang kita nggak lupa kok sama ultah lo, Cuma lagi ada kendala
aja tadi!” kata Safina mencoba menenangkan hatinya.
“Iya Kar,
Safina bener.” Reza membenarkan ucapan Safina.
“Iye,
udah-udah! Gue maafin kalian hari ini karena memang gue ulang tahun, jadi kita
happy-happy, oke!”
Kemudian
seorang waiters membawakan kue tart pesanan Oskar, dan beberapa camilan dan
minuman. Mereka menyanyikan lagu HBD, lalu Oskar make a wish dan tiup lilin.
Mereka pun bercanda sambil main colek-colekan krim kue. Safina asik berdua sama
Reza, mereka tak sadar, sepasang mata memandangi dengan tatapan sinis. Lalu ia
pura-pura memegang kue tart dan berjalan di samping Safina, lalu ia menjatuhkan
kuenya tepat di wajahnya, sontak semua terperangah dengan kelakuan—Ralin.
“Ralin!”
syok Safina melihat dirinya penuh kue. Reza langsung berdiri.
“Ups!
Sorry! Beneran gue gak sengaja. Gue mau kasih lo potongan kue, eh malah jatuh,”
alibinya.
“Maksud lo
apa Lin? Lo sengaja ya?” semprot Reza. Ralin makin kesal.
“Ya ampun,
hati-hati dong lo Lin!” kata Oskar.
“Sini gue
bersihin!” Reza mengambil tisu dan mengelap wajah Safina. Melihat itu, Ralin
semakin kesal. Ia pun permisi ke toilet, disusul Safina yang ingin membersihkan
wajahnya.
“Eh, lo
lupa apa pura-pura lupa sih Fin?” Ralin menarik tangan Safina saat ia
berpapasan di toilet.
“Eh, maaf
Lin. Bukan maksud gue seperti itu,”
“Alah,
bilang aja lo suka sama dia!”
“Maafin gue
Lin, gue Cuma gak mau dia curiga. Tapi gue akan usahain lo deket sama dia,”
jawab Safina. Ralin hanya melengos pergi.
***
Keesokan
harinya setelah ultah Oskar. Saat pulang kuliah Safina masih memikirkan
permintaan Ralin. Ia bingung, namun tak mau persahabatannya hancur. Tiba-tiba
Safina menabrak seseorang di depannya.
BRUK!!
Semua buku
orang itu jatuh, Safina juga akan terjatuh. Namun segera ditarik. Dah, tau lah
adegan seorang cowok menangkap cewek yang mau jatuh. Mereka pun saling pandang,
setelah itu buru-buru berdiri.
“Mas tiang
listrik!” pekiknya.
“Sst..
Adam!” Adam menginterupsi.
“Eh, iya!
Maaf Dam, gue gak sengaja.”
“Lo
ngelamun ya? Gue daritadi lihat lo, sampai lo gak tahu kalau gue lagi di depan
lo!” tebaknya.
“Hehe,”
Safina hanya terkekeh dan menggaruk-garuk rambut yang tak tersana gatal itu.
“Lo kuliah
disini ya? Gue baru lihat lo, by the way lo jurusan apa sih?”
“Iya, gue
baru masuk semester 1, karena gue mandek setahun. Gue jurusan Fashion Desain.”
“Oh gitu
ya? Wah keren dong yang mau jadi desainer. Hehe.”
“Aamiin.
Kalo lo?”
“Gue Art
and Design,”
“Cie
seniman,” Safina tersenyum.
“Lo mau
pulang? Apa mau gue anterin?”
“Iya mau
pulang, gak usah lah ngerepotin.”
“Udah
anggep aja biar kita bisa lebih akrab,” mendengar tawaran itu membuat Safina
terkekeh geli. Karena merasa ada rejeki nomplok, ia pun menganggukkan
tawarannya.
Safina
langsung menaiki motor tanpa aba-aba. Adam menyodorkan helm padanya. Adam sudah
tahu ia harus kemana, karena ia sudah pernah mengantarnya pulang. Dalam
perjalanan Safina banyak diam, mungkin karena ada masalah, karena daritadi juga
banyak melamun. Adam hanya mengira-ngira. Akhirnya merekapun sampai di gang rumah
Safina.
“Makasih ya
Dam,” Adam hanya mengangguk. Lalu Safina pergi.
“Tunggu!”
Safina pun berbalik.
“Ada apa?”
tanyanya bingung.
“Helm gue
balikin!” Safina pu tersadar, ia melepas helmnya dan menyodorkan pada Adam.
“Eh tunggu
deh!” cegah Adam lagi.
“Ada apa
lagi?”
“Sini,
duduk sini bentar!” Adam turun dari motornya, dan duduk di sebuah Gazebo depan
toko yang tertutup. Safinapun mengikuti perintahnya.
“Lo kenapa,
daritadi ngelamun mulu? Lagi ada masalah?”
“…” Safina
tak menjawab, ia hanya menerawang jauh.
“Ya udah
kalau gak mau cerita, gue—“ belum sempat bicara, Safina pun bangkit.
“Eh besok
ikut gue yuk!” ajaknya. Adam hanya mengernyit.
“Sebenarnya
gue lagi stress banget. Tapi gue gak bisa cerita sama lo. Tapi gue bingung mau
ngapain ya daritadi, terus gue punya ide deh. kan besok libur nih weekend. Lo
kosong jam berapa?” mendengar tawaran Safina, Adam menjadi semangat.
“Oh oke.
Gue free!” katanya tersenyum. “Mau kemana emang?” tanyanya penasaran.
“Rahasia,
yang jelas seru. Dan bakal ngilangin stress gue. Kita ketemuan di perempatan
Kalibata ya? Jam 9 pagi.”
“Lo nggak
di jemput aja?” tawarnya, Safina hanya menggeleng. Adam pun hanya mengangguk.
***
Hari yang
ditunggu Adam tiba. Ia menantikan jalan bareng Safina, walaupun itu memang
ajakan Safina karena ia merasa stress. Tapi tak apa, karena ia senang bisa
berteman apalagi kalau sampai dekat dengannya. Dari seberang jalan, Safina
melambaikan tangannya. Adam menghampirinya. Setelah basa basi, Adam langsung
menuruti perintah Safina. Kemana ia akan mengajaknya.
Tidak jauh
dari lokasi ketemuannya, masuk ke dalam gang. Mereka pun sampai di lokasi.
“Junggle
Outbond?” Adam mengernyit.
“Yups!
Selamat datang di arena favorit gue,” pekik Safina. Safina langsung lari dan
masuk ke dalam, terlihat penjaga tiket itu seperti sudah hafal dengannya.
Mereka langsung masuk dan tiba di tujuannya.
“HAHH? Buggie jumping? Lo serius?” Adam
terbelalak melihat wahana itu, ia menelan ludah dan panic.
“Yuhu, gue tantang lo! Berani nggak lo
naik ini. Kalau lo berani, gue bakal kabulin satu permintaan lo,” Adam hanya
semakin panas dingin, ia tak ingin Safina tahu jika sangat takut ketinggian.
Disisi lain ia ingin tawarannya yang mengatakn akan mengabulkan permintaannya.
Dengan sangat berat hati ia menyetujuinya.
Safina
dengan enjoy nya ia melakukan buggie jumping, ia naik dengan semangat.
Sementara Adam hanya mengikutinya dengan lemas. Menaiki anak tangga dan
pemandangan terbuka saja membuat kakinya lemas, ia tak bisa membayangkan jika
ia harus terjun di ketinggian 10 meter. What? 10 meter, mungkin dia akan
pingsan. Batinnya berkecamuk.
Kini
gilirannya, Safina menunggu di bawah. Semua alat keselamatan telah di sematkan
di seluruh tubuhnya, Safina meneriakinya dari bawah. Sedangkan Adam ragu-ragu.
Ia belum siap. Padahal petugas sudah melepasnya untuk segera terjun. Sudah
hampir sepuluh menit Adam masih diatas. Melihat itu Safina menjadi khawatir,
namun rasa itu buyar ketika melihat Adam berteriak, yah. Dia melompat.
“MAMAA!!
AAA! MAMA!”
“MAMA
MAAFIN ADAM MAA!”
“MAMAAAAAAAAA..”
Teriakan itu terhenti tiba-tiba. Safina yang melihatnya langsung lari.
Safina
menepuk-nepuk pipi Adam. Yah, dia pingsan setelah berteriak. Wajahnya memerah
karena berteriak dan mungkin menangis. Petugas membantu Safina membawa di pos
jaga.
“Adam.
Bangun dong!” safina masih menepuk-nepuk pipinya. Ia sesekali mengolesi minyak
kayu putih, namun tak kunjung sadar.
“Ma.. mama…
mama..” Adam mulai meracau. Safina menyadarkannya.
“Dam, lo
nggak pa-pa?” beberapa saat ia mulai sadar.
“Eh, Fina?
Kita dimana nih?”
“Lo
pingsan! Masih di pos jaga jungle outbond.” Adam memijat kepalanya yang pusing,
dan mengerjap-ngerjap untuk memulihkan kesadarannya. Namun, badanya serasa
lemas sekali.
“Wah Dam?
Kok muka lo jadi pucet banget. Lo pusing ya? Ha? Lo kok tiba-tiba panas
badannya?” Safina memeriksa dahinya.
TO BE CONTINUE


Tidak ada komentar:
Posting Komentar