Senin, 19 Juni 2017

MASA MUDA EP. 4

MASA MUDA (EP. 4)


            Di pagi hari yang cerah. Reza tengah buru-buru. Setelah ia mendapat telepon dari teman-temannya ia segera menginjak pedal gas dan meluncur ke suatu tempat.
            “Dimana dia?” Reza berteriak di suatu lapangan luas yang sepi, dari arah barat di balik warung kecil, teman-teman Reza telah menunggu.
            “Za sabar Za! Dia ada disini,” Leo, teman Reza menghampirinya dengan muka ketakutan.
            “Gue sudah menunggu lama untuk ini…” tiba-tiba terdengar suara mobil datang dan ngedrive.
            Seorang cowok keluar dari mobil, terlihat dari sneakers, lalu menggunakan jeans light blue robek, dan kaos putih berbalut kemeja krem kotak-kotak, rahang yang tirus, kumis tipis, ia menyeringai, rambutnya sedikit ikal.
            “Sudah lama sekali, REZA!” ia akhirnya bersua. Reza hanya mendecih.
            “Rupanya lo masih ingat perjanjian kita, Adam!” ternyata cowok itu adalah Adam, musuh bebuyutan Reza, karena mereka merasa bersaing di kampus.
            “Kali ini gue bakal kalahin lo Dam!”
            “Jangan sombong lo! Kalau gue menang, urusan kita selesai!”
            “Urusan kita gak akan pernah selesai!” Reza menatap tajam dan ber api-api, penuh ambisius. Tak kalah Adam pun menatap tajam.
            Kali ini mereka telah berada di sebuah jalan yang sepi, Reza dan Adam balapan mobil lagi, untuk bersaing. Teman-teman setia mereka telah berada di pinggir jalan untuk menyemangati. Leo berada di tengah memberi aba-aba. Setelah bendera diangkat, keduanya langsung menginjak gas, melaju membelah jalanan sepi. Saling kejar-kejaran. Terkadang Reza memimpin, namun tak lama Adam menyusul, begitu terus sampai tiga kali putaran dan finish di tempat start tadi.
            Di tengah pertandingan, HP Reza berbunyi terus menerus, ia menjadi tak berkonsentrasi. Saat ia melirik dan melihat siapa yang menelpon, ia ingat. Hari ini adalah ulang tahun Oskar, dan sahabat-sahabatnya pasti menunggu nya. Ia sangat cemas dan bingung. Disisi lain, tiba-tiba Adam menyusul dengan cepat, dan BAMM! FINISH!
            “Yuhuu, gue menang!” teriak Adam. Di belakang, Reza memukul setir kesal, ia memijat pelipisnya dan keluar menemui Adam.
            “Udah terbukti. Gue pemenangnya!” Reza mendekat dan menatap Adam tajam.
            “Oke, kali ini lo menang, ini semua gara-gara gue ada hal yang mendesak, tapi ingat! Gue bakal ngalahin lo lain kali,” dengan segera Reza pergi meninggalkan tempat itu, ngebut. Yang lain hanya melongo. Adam memandang heran.
***
            Disisi lain, Oskar sudah berada di café sejak tadi. Ia masih menunggu ketiga sahabatnya. Ia juga telah menelpon, Whatsapp, tapi mereka tak ada satupun yang mengangkat. Ia heran, akhir-akhir ini mereka suka sibuk sendiri-sendiri.
            Dari arah pintu masuk, terlihat ketiga sahabat yang ditunggu itu lari menuju Oskar.
            “Oskar, sorry kita telat!” Oskar hanya melengos.
            “Happy Birthday Oskar, tenang kita nggak lupa kok sama ultah lo, Cuma lagi ada kendala aja tadi!” kata Safina mencoba menenangkan hatinya.
            “Iya Kar, Safina bener.” Reza membenarkan ucapan Safina.
            “Iye, udah-udah! Gue maafin kalian hari ini karena memang gue ulang tahun, jadi kita happy-happy, oke!”
            Kemudian seorang waiters membawakan kue tart pesanan Oskar, dan beberapa camilan dan minuman. Mereka menyanyikan lagu HBD, lalu Oskar make a wish dan tiup lilin. Mereka pun bercanda sambil main colek-colekan krim kue. Safina asik berdua sama Reza, mereka tak sadar, sepasang mata memandangi dengan tatapan sinis. Lalu ia pura-pura memegang kue tart dan berjalan di samping Safina, lalu ia menjatuhkan kuenya tepat di wajahnya, sontak semua terperangah dengan kelakuan—Ralin.
            “Ralin!” syok Safina melihat dirinya penuh kue. Reza langsung berdiri.
            “Ups! Sorry! Beneran gue gak sengaja. Gue mau kasih lo potongan kue, eh malah jatuh,” alibinya.
            “Maksud lo apa Lin? Lo sengaja ya?” semprot Reza. Ralin makin kesal.
            “Ya ampun, hati-hati dong lo Lin!” kata Oskar.
            “Sini gue bersihin!” Reza mengambil tisu dan mengelap wajah Safina. Melihat itu, Ralin semakin kesal. Ia pun permisi ke toilet, disusul Safina yang ingin membersihkan wajahnya.
            “Eh, lo lupa apa pura-pura lupa sih Fin?” Ralin menarik tangan Safina saat ia berpapasan di toilet.
            “Eh, maaf Lin. Bukan maksud gue seperti itu,”
            “Alah, bilang aja lo suka sama dia!”
            “Maafin gue Lin, gue Cuma gak mau dia curiga. Tapi gue akan usahain lo deket sama dia,” jawab Safina. Ralin hanya melengos pergi.
*** 

            Keesokan harinya setelah ultah Oskar. Saat pulang kuliah Safina masih memikirkan permintaan Ralin. Ia bingung, namun tak mau persahabatannya hancur. Tiba-tiba Safina menabrak seseorang di depannya.
BRUK!!
            Semua buku orang itu jatuh, Safina juga akan terjatuh. Namun segera ditarik. Dah, tau lah adegan seorang cowok menangkap cewek yang mau jatuh. Mereka pun saling pandang, setelah itu buru-buru berdiri.
            “Mas tiang listrik!” pekiknya.
            “Sst.. Adam!” Adam menginterupsi.
            “Eh, iya! Maaf Dam, gue gak sengaja.”
            “Lo ngelamun ya? Gue daritadi lihat lo, sampai lo gak tahu kalau gue lagi di depan lo!” tebaknya.
            “Hehe,” Safina hanya terkekeh dan menggaruk-garuk rambut yang tak tersana gatal itu.
            “Lo kuliah disini ya? Gue baru lihat lo, by the way lo jurusan apa sih?”
            “Iya, gue baru masuk semester 1, karena gue mandek setahun. Gue jurusan Fashion Desain.”
            “Oh gitu ya? Wah keren dong yang mau jadi desainer. Hehe.”
            “Aamiin. Kalo lo?”
            “Gue Art and Design,”
            “Cie seniman,” Safina tersenyum.
            “Lo mau pulang? Apa mau gue anterin?”
            “Iya mau pulang, gak usah lah ngerepotin.”
            “Udah anggep aja biar kita bisa lebih akrab,” mendengar tawaran itu membuat Safina terkekeh geli. Karena merasa ada rejeki nomplok, ia pun menganggukkan tawarannya.
            Safina langsung menaiki motor tanpa aba-aba. Adam menyodorkan helm padanya. Adam sudah tahu ia harus kemana, karena ia sudah pernah mengantarnya pulang. Dalam perjalanan Safina banyak diam, mungkin karena ada masalah, karena daritadi juga banyak melamun. Adam hanya mengira-ngira. Akhirnya merekapun sampai di gang rumah Safina.
            “Makasih ya Dam,” Adam hanya mengangguk. Lalu Safina pergi.
            “Tunggu!” Safina pun berbalik.
            “Ada apa?” tanyanya bingung.
            “Helm gue balikin!” Safina pu tersadar, ia melepas helmnya dan menyodorkan pada Adam.
            “Eh tunggu deh!” cegah Adam lagi.
            “Ada apa lagi?”
            “Sini, duduk sini bentar!” Adam turun dari motornya, dan duduk di sebuah Gazebo depan toko yang tertutup. Safinapun mengikuti perintahnya.
            “Lo kenapa, daritadi ngelamun mulu? Lagi ada masalah?”
            “…” Safina tak menjawab, ia hanya menerawang jauh.
            “Ya udah kalau gak mau cerita, gue—“ belum sempat bicara, Safina pun bangkit.
            “Eh besok ikut gue yuk!” ajaknya. Adam hanya mengernyit.
            “Sebenarnya gue lagi stress banget. Tapi gue gak bisa cerita sama lo. Tapi gue bingung mau ngapain ya daritadi, terus gue punya ide deh. kan besok libur nih weekend. Lo kosong jam berapa?” mendengar tawaran Safina, Adam menjadi semangat.
            “Oh oke. Gue free!” katanya tersenyum. “Mau kemana emang?” tanyanya penasaran.
            “Rahasia, yang jelas seru. Dan bakal ngilangin stress gue. Kita ketemuan di perempatan Kalibata ya? Jam 9 pagi.”
            “Lo nggak di jemput aja?” tawarnya, Safina hanya menggeleng. Adam pun hanya mengangguk.
***
            Hari yang ditunggu Adam tiba. Ia menantikan jalan bareng Safina, walaupun itu memang ajakan Safina karena ia merasa stress. Tapi tak apa, karena ia senang bisa berteman apalagi kalau sampai dekat dengannya. Dari seberang jalan, Safina melambaikan tangannya. Adam menghampirinya. Setelah basa basi, Adam langsung menuruti perintah Safina. Kemana ia akan mengajaknya.
            Tidak jauh dari lokasi ketemuannya, masuk ke dalam gang. Mereka pun sampai di lokasi.
            “Junggle Outbond?” Adam mengernyit.
            “Yups! Selamat datang di arena favorit gue,” pekik Safina. Safina langsung lari dan masuk ke dalam, terlihat penjaga tiket itu seperti sudah hafal dengannya. Mereka langsung masuk dan tiba di tujuannya.
“HAHH? Buggie jumping? Lo serius?” Adam terbelalak melihat wahana itu, ia menelan ludah dan panic.
“Yuhu, gue tantang lo! Berani nggak lo naik ini. Kalau lo berani, gue bakal kabulin satu permintaan lo,” Adam hanya semakin panas dingin, ia tak ingin Safina tahu jika sangat takut ketinggian. Disisi lain ia ingin tawarannya yang mengatakn akan mengabulkan permintaannya. Dengan sangat berat hati ia menyetujuinya.
            Safina dengan enjoy nya ia melakukan buggie jumping, ia naik dengan semangat. Sementara Adam hanya mengikutinya dengan lemas. Menaiki anak tangga dan pemandangan terbuka saja membuat kakinya lemas, ia tak bisa membayangkan jika ia harus terjun di ketinggian 10 meter. What? 10 meter, mungkin dia akan pingsan. Batinnya berkecamuk.
            Kini gilirannya, Safina menunggu di bawah. Semua alat keselamatan telah di sematkan di seluruh tubuhnya, Safina meneriakinya dari bawah. Sedangkan Adam ragu-ragu. Ia belum siap. Padahal petugas sudah melepasnya untuk segera terjun. Sudah hampir sepuluh menit Adam masih diatas. Melihat itu Safina menjadi khawatir, namun rasa itu buyar ketika melihat Adam berteriak, yah. Dia melompat.
            “MAMAA!! AAA! MAMA!”
            “MAMA MAAFIN ADAM MAA!”
            “MAMAAAAAAAAA..” Teriakan itu terhenti tiba-tiba. Safina yang melihatnya langsung lari.
            Safina menepuk-nepuk pipi Adam. Yah, dia pingsan setelah berteriak. Wajahnya memerah karena berteriak dan mungkin menangis. Petugas membantu Safina membawa di pos jaga.
            “Adam. Bangun dong!” safina masih menepuk-nepuk pipinya. Ia sesekali mengolesi minyak kayu putih, namun tak kunjung sadar.
            “Ma.. mama… mama..” Adam mulai meracau. Safina menyadarkannya.
            “Dam, lo nggak pa-pa?” beberapa saat ia mulai sadar.
            “Eh, Fina? Kita dimana nih?”
            “Lo pingsan! Masih di pos jaga jungle outbond.” Adam memijat kepalanya yang pusing, dan mengerjap-ngerjap untuk memulihkan kesadarannya. Namun, badanya serasa lemas sekali.
            “Wah Dam? Kok muka lo jadi pucet banget. Lo pusing ya? Ha? Lo kok tiba-tiba panas badannya?” Safina memeriksa dahinya.

TO BE CONTINUE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar