MASA MUDA (EP. 5)
Berhubung penulis udah lama nggak update
kelanjutannya gegara asik baca novellet teenlit. Penulis jadi terinspirasi.
Iya, penulis mau banting stir. Dari sebelumnya bergenre melowdrama, sekarang
lebih ke teenlit dan maksain komedi. Biar pembaca nggak capek dengan bahasa
yang berat dan ikut mikirin nasib mereka, hehe. Jadi penulis lagi berusaha
merubah karakter mereka dan alur cerita di kemas dengan ringan. Sengaja nggak
kasih spoiller karena emang mau kasih yang baru. Di episode 4 sebenarnya sudah
agak-agak berubah. Di episode selanjutnya penulis akan rubah.happy reading
gays!
***
Di sebuah kamar berukuran 4x4 m. beberapa
cowok tengah berbisik-bisik di depan pintu. Di dalam Safina sedang megompres
dahi Adam. Yah, setelah Adam malah semakin parah di Jungle Outbound, Adam
menyodorkan ponselnya untuk menelpon temannya.
Flashback
ON
“Kok gue pusing ya?” kata Adam sambil
memegangi kepalanya.
“Yah, lo jangan sakit dong! Duh, pasti
gegara gue ya?”
“Nih, telpon Mario, suruh jemput kita
disini.” Adam menyodorkan HPnya dan Safina mencari nama Mario di kontaknya.
Adam masih lemas.
Tutt.. tutt..
Setelah beberapa detik, terdengar suara di
seberang sana,
“Halo Dam? Ada apa? Lo mau ke bengkel
kagak?” suara diseberang mengoceh tak jelas. Safina langsung menginterupsi.
“Maaf mas, ini bukan Adam. Gue Safina. Ada
yang penting,”
“Hah? Safina siapa ya? Kok HP nya bisa di
lo. Adam mana? Ada apa ini?” suara itu masih saja mengoceh. Safina lalu
menjelaskan semuanya. Mario, si empu suara itu langsung menutup dan bilang otw
menjemput Adam.
Beberapa menit kemudian, Mario dan satu
temannya datang. Mereka membopong Adam, hendak mengantar ke rumah sakit, namun
Adam menolak dan memilih diajak ke kosan Mario. Akhirnya, Mario membawa motor
Adam, dan Evan—teman satunya membonceng Safina.
Flashback
OFF
Setelah mengompres Adam, Safina keluar.
Sepertinya dua teman Adam itu menuntut penjelasan Safina. Ia pun segera
menceritakan kronologisnya.
“Maaf, gue jadi ngerepotin kalian. Ini
semua gegara gue sih,” Safina merutuki dirinya karena tantangan itu.
“Lo kenal Adam dimana? Emang lo nggak tahu
kalau dia phobia ketinggian?” Safina terkejut, ia hanya menggeleng lemah.
“Jadi dia itu phobia ketinggian gegara
waktu kecil ia jatuh dari lantai atas rumahnya dan sampai gagar otak, gitu.trus
setelah kejadian itu, nyokapnya… nyokapnya bunuh diri di rooftop kantornya
karena di tuduh korupsi, saat itu Adam masih berusia 10 tahun, setelah ia
sembuh dari gagar otak, dan saat itu juga dia ngeliat sendiri nyokapnya jatuh,
dia di bawah mau menjemput nyokapnya. Pas bokapnya lari masuk ke dalam, ia
melihat nyokapnya jatuh, pas tepat di depan matanya…” Mendengar cerita Mario Safina
pun menyesali perbuatannya, ia hanya terbelalak dengan kejadian na’has mamanya.
Ia bergidik ngeri.
“Ya ampun, gue sama sekali nggak tahu. Dia
juga nggak berusaha menolak sama sekali.” Sesalnya.
“BTW, lo siapanya Adam sih? Pacar barunya
ya?”
“Ah, pacar?” Safina terkekeh mendengar
penuturan Evan itu.
“Ya kali, gue pacar dia? Gak mungkin Adam
mau sama gue, haha” Safina hanya terkekeh.
“Ya mau aja kali, haha. Buktinya dia rela
melompat. Padahal sebelumnya ia akan menghindari sesuatu tentang ketinggian,” jelas Mario.
“Gue sih baru kenal sama dia, cuman udah
ketemu beberapa kali juga. Eh btw dapur dimana? Gue mau bikin bubur, nanti
kalau dia bangun harus di isi perutnya, biar nggak lemes.” Dengan ragu-ragu
Mario menunjukkan dapurnya. Dan kedua manusia itu saling lempar tatapan.
“Bro, masa iya bukan pacar? Bukan pacar
kok perhatian banget ya?”kata Evan, dan Mario hanya mengangguk membenarkan.
***
Hari semakin gelap. Adam masih belum juga
belum bangun. Safina jadi khawatir. Kedua temannya itu menyarankan untuk
mengantar Safina pulang, karena sudah malam.
“Lo gak di cari nyokap lo Fina? Ini sudah
malem..” celetuk Mario menyadarkan Safina dari lamunannya.
“Eh,” sahutnya kaget.
“Iya, ini udah malam lho. Biar Adam kita
yang urus deh, suer!”Evan menyela.
“Enggak pa-pa deh, gue tungguin dia sadar,
trus pastiin dia makan dulu. Soalnya ini semua kan gegara gue. Duh, gue merasa
bersalah banget deh—“ tiba-tiba Adam mulai menggerakan tangannya, perlahan ia
membuka matanya. Pandangannya masih kabur, ia mencoba bangun. Kompresannya
jatuh, Fina mengambilnya.
“Dam, lo bangun?” Safina lega melihatnya
bangun.
“Eh, Saf..” ia masih berusaha bersua, dan
masih memegangi kepalanya. Dua manusia tadi langsung masuk ke dalam dan
menyodorkan banyak pertanyaan gak bermutu.
“Buset dah, lo ngapa bisa pingsan Dam?
Malu maluin aja sama pacar lo?” kata Mario.
“Iya lo, kalau gini kenapa kagak ajak
kita-kita? Kita bakal mewakili lo kok!” kekeh Evan.
“Eh nih siapa, pacar lo kan?” tanya Mario
lagi. Safina hanya terkekeh mendengar teman-temannya Adam. Adam pun mulai sadar
sepenuhnya. Ia melempar handuk kompresan pada mereka berdua.
“Makan tuh pacar!” merekapun hanya
menggerutu.
“Bukannya nanya kabar gue, malah tanya gak
penting. Basi lo!” komentar Adam.
“Eh, lo makan bubur dulu ya..”Adam yang
menyadari Safina masih ada disana membuatnya kikuk. Pasti dirinya malu-maluin
tadi.
“Nggak pa-pa Fin, gue nanti makan kok. Gue
udah gak pa-pa,” jawabnya.
“Udah sini makan dulu, lo kan masih lemes
setelah pingsan tadi, apalagi di tambah langsung demam.” Safina menyodorkan
semangkuk bubur yang ia buat tadi. Adam lalu memberi kode-kode untuk kedua
sahabatnya. Lalu keduanya beringsut setelah berdebat sebentar.
“Kita keluar dulu deh.. daripada jadi
setan—“ mereka pun ngacir ke depan.
“Eh mau kemana?” teriak Safina, yang
diteriaki sudah kabur.
“Udah biarin aja.” Sahut Adam.
“Eh, gue lemes mau makan nih, tangan gue
nggak kuat. Gimana dong?” Adam memelas dan menggunakan ekspresi puppy eyes.
Safina hanya terkekeh.
“Ya sudah. Mas tiang listrik, gue suapin.
Oke?” Safina tertawa geli, lalu mulai menyuapi Adam setelah ia
mengangguk-ngangguk kegirangan.
Setelah Adam melahab semangkuk bubur itu,
Safina pun pamit untuk pulang, melihat jam yang sudah pukul 20.00, Adam tidak
tega membiarkannya pulang sendiri, ia menawarkan untuk mengantar, namun ditolak
mentah-mentah. Mengingat keadaan Adam yang sedang sakit. Teman Adam juga sudah
menawarkan diri, namun juga ditolak. Safina pun di pesankan taksi oleh Adam.
Walau masih sedikit pusing, ia mengantar sampai ke depan. Setelah taksi datang,
Safina pun lambat laun menghilang ditelan malam.
TO
BE CONTINUE
SPOILLER:
di tengah jalan, Safina ditelfon ibunya. Jika ayahnya sedang masuk rumah sakit,
ia-pun langsung balik arah. Reza dan Adam masih ribut, kali ini di kampus,
mereka duel lagi. Safina tak pernah terlihat di kampus, Reza susah menghubungi
Safina, sedangkan Ralin mengompor-ngompori Reza terus. Ralin masih berusaha
mebuat jarak antara Safina dan Reza.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar