Kamis, 22 Juni 2017

MASA MUDA EP. 5

MASA MUDA (EP. 5)

      Berhubung penulis udah lama nggak update kelanjutannya gegara asik baca novellet teenlit. Penulis jadi terinspirasi. Iya, penulis mau banting stir. Dari sebelumnya bergenre melowdrama, sekarang lebih ke teenlit dan maksain komedi. Biar pembaca nggak capek dengan bahasa yang berat dan ikut mikirin nasib mereka, hehe. Jadi penulis lagi berusaha merubah karakter mereka dan alur cerita di kemas dengan ringan. Sengaja nggak kasih spoiller karena emang mau kasih yang baru. Di episode 4 sebenarnya sudah agak-agak berubah. Di episode selanjutnya penulis akan rubah.happy reading gays!
***
      Di sebuah kamar berukuran 4x4 m. beberapa cowok tengah berbisik-bisik di depan pintu. Di dalam Safina sedang megompres dahi Adam. Yah, setelah Adam malah semakin parah di Jungle Outbound, Adam menyodorkan ponselnya untuk menelpon temannya.
Flashback ON
      “Kok gue pusing ya?” kata Adam sambil memegangi kepalanya.
      “Yah, lo jangan sakit dong! Duh, pasti gegara gue ya?”
      “Nih, telpon Mario, suruh jemput kita disini.” Adam menyodorkan HPnya dan Safina mencari nama Mario di kontaknya. Adam masih lemas.
      Tutt.. tutt..
      Setelah beberapa detik, terdengar suara di seberang sana,
      “Halo Dam? Ada apa? Lo mau ke bengkel kagak?” suara diseberang mengoceh tak jelas. Safina langsung menginterupsi.
      “Maaf mas, ini bukan Adam. Gue Safina. Ada yang penting,”
      “Hah? Safina siapa ya? Kok HP nya bisa di lo. Adam mana? Ada apa ini?” suara itu masih saja mengoceh. Safina lalu menjelaskan semuanya. Mario, si empu suara itu langsung menutup dan bilang otw menjemput Adam.
      Beberapa menit kemudian, Mario dan satu temannya datang. Mereka membopong Adam, hendak mengantar ke rumah sakit, namun Adam menolak dan memilih diajak ke kosan Mario. Akhirnya, Mario membawa motor Adam, dan Evan—teman satunya membonceng Safina.
Flashback OFF
      Setelah mengompres Adam, Safina keluar. Sepertinya dua teman Adam itu menuntut penjelasan Safina. Ia pun segera menceritakan kronologisnya.
      “Maaf, gue jadi ngerepotin kalian. Ini semua gegara gue sih,” Safina merutuki dirinya karena tantangan itu.
      “Lo kenal Adam dimana? Emang lo nggak tahu kalau dia phobia ketinggian?” Safina terkejut, ia hanya menggeleng lemah.
      “Jadi dia itu phobia ketinggian gegara waktu kecil ia jatuh dari lantai atas rumahnya dan sampai gagar otak, gitu.trus setelah kejadian itu, nyokapnya… nyokapnya bunuh diri di rooftop kantornya karena di tuduh korupsi, saat itu Adam masih berusia 10 tahun, setelah ia sembuh dari gagar otak, dan saat itu juga dia ngeliat sendiri nyokapnya jatuh, dia di bawah mau menjemput nyokapnya. Pas bokapnya lari masuk ke dalam, ia melihat nyokapnya jatuh, pas tepat di depan matanya…” Mendengar cerita Mario Safina pun menyesali perbuatannya, ia hanya terbelalak dengan kejadian na’has mamanya. Ia bergidik ngeri.
      “Ya ampun, gue sama sekali nggak tahu. Dia juga nggak berusaha menolak sama sekali.” Sesalnya.
      “BTW, lo siapanya Adam sih? Pacar barunya ya?”
      “Ah, pacar?” Safina terkekeh mendengar penuturan Evan itu.
      “Ya kali, gue pacar dia? Gak mungkin Adam mau sama gue, haha” Safina hanya terkekeh.
      “Ya mau aja kali, haha. Buktinya dia rela melompat. Padahal sebelumnya ia akan menghindari sesuatu tentang ketinggian,”  jelas Mario.
      “Gue sih baru kenal sama dia, cuman udah ketemu beberapa kali juga. Eh btw dapur dimana? Gue mau bikin bubur, nanti kalau dia bangun harus di isi perutnya, biar nggak lemes.” Dengan ragu-ragu Mario menunjukkan dapurnya. Dan kedua manusia itu saling lempar tatapan.
      “Bro, masa iya bukan pacar? Bukan pacar kok perhatian banget ya?”kata Evan, dan Mario hanya mengangguk membenarkan.
***
      Hari semakin gelap. Adam masih belum juga belum bangun. Safina jadi khawatir. Kedua temannya itu menyarankan untuk mengantar Safina pulang, karena sudah malam.
      “Lo gak di cari nyokap lo Fina? Ini sudah malem..” celetuk Mario menyadarkan Safina dari lamunannya.
      “Eh,” sahutnya kaget.
      “Iya, ini udah malam lho. Biar Adam kita yang urus deh, suer!”Evan menyela.
      “Enggak pa-pa deh, gue tungguin dia sadar, trus pastiin dia makan dulu. Soalnya ini semua kan gegara gue. Duh, gue merasa bersalah banget deh—“ tiba-tiba Adam mulai menggerakan tangannya, perlahan ia membuka matanya. Pandangannya masih kabur, ia mencoba bangun. Kompresannya jatuh, Fina mengambilnya.
      “Dam, lo bangun?” Safina lega melihatnya bangun.
      “Eh, Saf..” ia masih berusaha bersua, dan masih memegangi kepalanya. Dua manusia tadi langsung masuk ke dalam dan menyodorkan banyak pertanyaan gak bermutu.
      “Buset dah, lo ngapa bisa pingsan Dam? Malu maluin aja sama pacar lo?” kata Mario.
      “Iya lo, kalau gini kenapa kagak ajak kita-kita? Kita bakal mewakili lo kok!” kekeh Evan.
      “Eh nih siapa, pacar lo kan?” tanya Mario lagi. Safina hanya terkekeh mendengar teman-temannya Adam. Adam pun mulai sadar sepenuhnya. Ia melempar handuk kompresan pada mereka berdua.
      “Makan tuh pacar!” merekapun hanya menggerutu.
      “Bukannya nanya kabar gue, malah tanya gak penting. Basi lo!” komentar Adam.
      “Eh, lo makan bubur dulu ya..”Adam yang menyadari Safina masih ada disana membuatnya kikuk. Pasti dirinya malu-maluin tadi.
      “Nggak pa-pa Fin, gue nanti makan kok. Gue udah gak pa-pa,” jawabnya.
      “Udah sini makan dulu, lo kan masih lemes setelah pingsan tadi, apalagi di tambah langsung demam.” Safina menyodorkan semangkuk bubur yang ia buat tadi. Adam lalu memberi kode-kode untuk kedua sahabatnya. Lalu keduanya beringsut setelah berdebat sebentar.
      “Kita keluar dulu deh.. daripada jadi setan—“ mereka pun ngacir ke depan.
      “Eh mau kemana?” teriak Safina, yang diteriaki sudah kabur.
      “Udah biarin aja.” Sahut Adam.
      “Eh, gue lemes mau makan nih, tangan gue nggak kuat. Gimana dong?” Adam memelas dan menggunakan ekspresi puppy eyes. Safina hanya terkekeh.
      “Ya sudah. Mas tiang listrik, gue suapin. Oke?” Safina tertawa geli, lalu mulai menyuapi Adam setelah ia mengangguk-ngangguk kegirangan.
      Setelah Adam melahab semangkuk bubur itu, Safina pun pamit untuk pulang, melihat jam yang sudah pukul 20.00, Adam tidak tega membiarkannya pulang sendiri, ia menawarkan untuk mengantar, namun ditolak mentah-mentah. Mengingat keadaan Adam yang sedang sakit. Teman Adam juga sudah menawarkan diri, namun juga ditolak. Safina pun di pesankan taksi oleh Adam. Walau masih sedikit pusing, ia mengantar sampai ke depan. Setelah taksi datang, Safina pun lambat laun menghilang ditelan malam.
TO BE CONTINUE

SPOILLER: di tengah jalan, Safina ditelfon ibunya. Jika ayahnya sedang masuk rumah sakit, ia-pun langsung balik arah. Reza dan Adam masih ribut, kali ini di kampus, mereka duel lagi. Safina tak pernah terlihat di kampus, Reza susah menghubungi Safina, sedangkan Ralin mengompor-ngompori Reza terus. Ralin masih berusaha mebuat jarak antara Safina dan Reza.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar