Senin, 05 Juni 2017

MASA MUDA (EP. 3)

MASA MUDA (EPS. 3)

            “Ralin! Gue gak nyangka lo bohongin kita, lo ngerjain Safina? Apa masalah kalian? Kenapa kalian terlihat berbeda akhir akhir ini?” Reza yang menemui Ralin marah-marah.
            “Za, gue gak ngerjain dia. Atau gimana. Ya dia nya aja plin plan. Katanya mau ke saudara, tapi kok gak jadi. Gue mana tahu!”
            “Oke, saat ini gue maafin lo. Lo tau kan lin, gue cinta sama Safina. Gue curhat ke lo karena lo cewek, dan gue bisa minta pendapat lo!”
            “Za, lo yakin cinta sama dia?” Ralin bertanya ragu.
            “Jelas. Gue sadar sekarang gue cinta sama. Karena gue rela ngelakuin apapun demi dia. Bagi gue, melihat dia bahagia aja udah bikin gue seneng.” Ralin hanya diam termenung.
***
            Sepeninggal Reza, Ralin masih terdiam membeku. Giginya menggeretak, otot rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Yah, Ralin semakin dibuat benci dengan pengakuan Reza. Ia marah, ia tak terima. Dia hanya menggumam. “apa sih hebatnya si Fina, kenapa Reza milih dia dari pada gue. Gue cantik, gue kaya. Aarrggh..” lalu membanting salah satu vas bunga miliknya di ruang tamunya.
            Ia segera mendial nama Safina di HPnya.
            “Halo Lin?” terdengar suara dari seberang sana.
            “Gue mau ngomong sama lo, penting. Sekarang. Di café seperti biasa, Rest café!” Ralin langsung mematikan HP tanpa menunggu jawaban Safina. Ia segera mengambil tas dan kunci mobilnya.
***
            Setibanya di Rest café, Safina mulai mencari keberadaan Ralin. Ia menemukan Ralin tengah duduk di meja dekat kaca di belakang. Safina pun menghampirinya.
            “Eh Lin, udah lama ya?” dengan gayanya yang sumringah dan senyum lebar ia menyapa Ralin.
            “Udah, gak usah basa basi.” Kali ini nada Ralin terdengar marah.
            “Loh, kenapa toh sebenarnya sama lo Lin? Apa gue udah bikin salah?” Safina bertanya-tanya bingung.
            “Lo tanya, apa lo salah? Lo gak sadar sadar ya? Atau lo pura-pura bego?” Ralin nyerocos.
            “Bentar-bentar, apa sih?” Safina masih bingung.
            “Ah udah lah, lo pasti tahu kan Reza ternyata suka sama lo!”
            “A.. Apa? Re.. reza suka sama gue?”Safina melongo tak percaya.
            “Kan? Pura-pura nih, dasar! Cih!” sahut Ralin ketus.
            “Gue bener gak tahu Lin!”
            “Lo tahu kan Fin, dari dulu gue suka sama dia! Dan lo janji buat bantu gue jadian sama dia. Tapi apa? Lo malah nusuk gue dari belakang!”
            “Ya ampun Lin, gue gak ada maksud nusuk lo atau apa. Gue bener gak tahu itu.”
            “Sekarang jawab gue. Lo suka juga kan sama dia?”
            “…” Safina diam saja.
            “Jawab! Lo pasti suka kan? Ahhh, sama aja lo teman makan teman!”
            “Enggak Lin. Gue gak suka kok, gue Cuma sayang sebagai sahabat.”
            “Alah basi lo! Lo gak mau kan persahabatan ini hancur?”
            “Jelas gak mau lah Lin. Please lo jangan gini sama gue. Gue gak mau persahabatan kita hancur! Oke gini, gue bakal ngelakuin apapun biar lo gak marah sama gue!”
            “Hm. Beneran lo? Denger gue ya? Lo tepatin janji lo! Bantu gue jadian sama Reza, dan lo jauhin dia. Jangan deket-deket terus, nempel aja kayak perangko!”
            “Oke! Kalau itu bisa membuat persahabatan kita baik lagi, gue usahain!”
            “Baiklah, gue pergi dulu. Dan inget janji lo!”
            Safina masih tercenung dengan apa yang baru saja ia alami. Ia tak habis pikir jika Reza akan menyukainya, ia merasa sedikit senag, namun pernyataan Ralin tadi yang menyuruhnya menjauhi Reza itu seperti berat. Karena Reza adalah sahabat baik banget, dan dia merasa gak bisa jauh denganya. Namun dalam hati kecilnya berharap bahwa persahabtannya lah yang paling penting dari apapun, dan ia harus mengesampikan ego nya. Dengan tekad, ia akan berusaha membantu Ralin. Demi persahabatan.
***
            Saat Safina melangkahkan kakinya gontai, samar-samar ia mendengar sebuah lagu yang ia sukai.
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah ku relakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu
Diam seribu bahasa
 Dan hati kecilku bicara
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku…
            Safina bertepuk tangan saat lagu selesai. Ia berdiri di depan panggung café. Ia tersenyum lebar, menyadari seseorang yang pernah ia tahu. Orang itu pun mulai sadar, dan ia menyunggingkan senyum untuk Safina. Seorang pemuda yang Safina kenal itu, menaruh gitarnya dan turun. Ia menghampiri Fina.
“Eh elo?” Safina hanya tertawa.
“Ya ampun, mas tiang listrik. Ketemu lagi. Tapi tadi sumpah keren akustikannnya!”
“Hah? Tiang listrik. Gue punya nama kali ya?” ternyata pemuda ini adalah ia yang menolongnya waktu di gunung.
“Eh iya, maaf. Soalnya gue gak tahu nama lo!”
“Ya udah, kenalin. Nama gue Adam,” Adam mengulurkan tangannya.
“Safina,” Safina membalas dengan senyumnya.
“Oh jadi nama lo Safina, cantik. Kayak orangnya. Hahah” Adam tertawa, Safina hanya membantah.
            Merekapun melanjutkan obrolan duduk di dekat mereka berdiri tadi. Safina merasa asik dan nyaman ngobrol dengan Adam, mereka merasa nyambung satu sama lain karena suka becanda.
“Oh ya mas Adam, kayaknya gue harus balik nih. Ada keperluan, hehe” Safina pamit pada Adam.
“Loh buru-buru aja sih. By the way apa perlu gue antar?” tawarnya.
“Diantar? Pakai trail? Enggak deh makasih.” Ia mengingat kejadian yang lalu sambil bercanda.
“Yeah, enggak kali ini gue bawa mobil. Hehe” jawab Adam.
“Nggak Mas, makasih. Gue bisa sendiri. Deket kok dari sini.”
“Oh ya, panggil gue Adam aja. Dari tadi gak enak didenger. Kayak gue mas mas apaan gitu,”
“Iya, kan mas mas tiang listrik. Wkwkwk.” Safina terbahak.
            Setelah itu. Safina pun segera pergi dari lokasi. Ia lupa, kalau hari ini dia ingin mencari pekerjaan paruh waktu, untuk membatu biaya kuliahnya. Namun, tiba-tiba ia menerima sebuah pesan.
            “Hah? Reza?” gumamnya.
            Message from Reza BFF :
            Gue tunggu lo di basecamp. Gue mau kasih tahu sesuatu. Sekarang!
     Safina pun segera meluncur ke basecamp mereka. Tanpa ba-bi-bu ia merasa ada yang tidak beres dengannya.
***
            “Ralin? Reza?” Saat Safina datang, sudah ada Ralin disana yang duduk dan berwajah jutek.
            “Akhirnya lo datang Fin.” Reza menggandeng Safina masuk dengan sabar. Ralin memandangnya tak suka.
            “A.. ada apa sih Za? Kayaknya penting banget?”
            “Oke! Karena kalian sudah kesini. Gue bakalan ngomong. Gue mau tanya kalian ini ada apa sih? Apa kalian ada masalah? Kalian gak bisa terus nyakitin satu sama lain, apa lagi bersikap seperti musuh!”
            “…” keduanya hanya saling pandang. Satunya tak acuh, satunya merasa gak enak.
            “Kita nggak pa-pa kok Za. Baik-baik aja. Ya gak Fin.” Ralin melempar senyum palsu.
            “Hehe, iya Za. Kita baik dan gak ada masalah sama sekali.” Sahut Fina.
            “Yakin. Gue gak mau persahabatan kita hancur. Hanya karena keegoisan pribadi semata.”
            “Yah, suer.” Kata Ralin. Mereka pun berpelukan, namun Ralin berbisik, ia berkata bahwa, “ gue bahkan males mau meluk lo gini. Ini semua karena Reza, jadi kesepakatan kita masih berlaku.” Safina hanya mengangguk pasrah.


TO BE CONTINUE
Spoiller : Oskar ulang tahun. Hanya sahabat yang diundang. Ralin menumpahkan kue tart ke Safina. Reza pun marah-marah. Safina dapat kerja paruh waktu, saat melamun memikirkan sahabatnya di jalan ia menabrak Adam di jalan. Adam mengantarkan Safina pulang. Safina baru tahu kalau dia satu kampus dengan Adam, lalu safina mengajaknya buggie jumping karena merasa stress, Adam takut ketinggian dan merasa cemen jika menolak permintaan Safina. Ia pun melakukannya, namun ia pingsan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar