MASA MUDA (EPS. 3)
“Ralin! Gue
gak nyangka lo bohongin kita, lo ngerjain Safina? Apa masalah kalian? Kenapa
kalian terlihat berbeda akhir akhir ini?” Reza yang menemui Ralin marah-marah.
“Za, gue
gak ngerjain dia. Atau gimana. Ya dia nya aja plin plan. Katanya mau ke
saudara, tapi kok gak jadi. Gue mana tahu!”
“Oke, saat
ini gue maafin lo. Lo tau kan lin, gue cinta sama Safina. Gue curhat ke lo
karena lo cewek, dan gue bisa minta pendapat lo!”
“Za, lo
yakin cinta sama dia?” Ralin bertanya ragu.
“Jelas. Gue
sadar sekarang gue cinta sama. Karena gue rela ngelakuin apapun demi dia. Bagi
gue, melihat dia bahagia aja udah bikin gue seneng.” Ralin hanya diam
termenung.
***
Sepeninggal
Reza, Ralin masih terdiam membeku. Giginya menggeretak, otot rahangnya
mengeras, tangannya mengepal. Yah, Ralin semakin dibuat benci dengan pengakuan
Reza. Ia marah, ia tak terima. Dia hanya menggumam. “apa sih hebatnya si Fina, kenapa Reza milih dia dari pada gue. Gue
cantik, gue kaya. Aarrggh..” lalu membanting salah satu vas bunga miliknya
di ruang tamunya.
Ia segera
mendial nama Safina di HPnya.
“Halo Lin?”
terdengar suara dari seberang sana.
“Gue mau
ngomong sama lo, penting. Sekarang. Di café seperti biasa, Rest café!” Ralin
langsung mematikan HP tanpa menunggu jawaban Safina. Ia segera mengambil tas
dan kunci mobilnya.
***
Setibanya
di Rest café, Safina mulai mencari keberadaan Ralin. Ia menemukan Ralin tengah
duduk di meja dekat kaca di belakang. Safina pun menghampirinya.
“Eh Lin,
udah lama ya?” dengan gayanya yang sumringah dan senyum lebar ia menyapa Ralin.
“Udah, gak
usah basa basi.” Kali ini nada Ralin terdengar marah.
“Loh,
kenapa toh sebenarnya sama lo Lin? Apa gue udah bikin salah?” Safina
bertanya-tanya bingung.
“Lo tanya,
apa lo salah? Lo gak sadar sadar ya? Atau lo pura-pura bego?” Ralin nyerocos.
“Bentar-bentar,
apa sih?” Safina masih bingung.
“Ah udah
lah, lo pasti tahu kan Reza ternyata suka sama lo!”
“A.. Apa?
Re.. reza suka sama gue?”Safina melongo tak percaya.
“Kan?
Pura-pura nih, dasar! Cih!” sahut Ralin ketus.
“Gue bener
gak tahu Lin!”
“Lo tahu
kan Fin, dari dulu gue suka sama dia! Dan lo janji buat bantu gue jadian sama
dia. Tapi apa? Lo malah nusuk gue dari belakang!”
“Ya ampun
Lin, gue gak ada maksud nusuk lo atau apa. Gue bener gak tahu itu.”
“Sekarang
jawab gue. Lo suka juga kan sama dia?”
“…” Safina
diam saja.
“Jawab! Lo
pasti suka kan? Ahhh, sama aja lo teman makan teman!”
“Enggak
Lin. Gue gak suka kok, gue Cuma sayang sebagai sahabat.”
“Alah basi
lo! Lo gak mau kan persahabatan ini hancur?”
“Jelas gak
mau lah Lin. Please lo jangan gini sama gue. Gue gak mau persahabatan kita hancur!
Oke gini, gue bakal ngelakuin apapun biar lo gak marah sama gue!”
“Hm.
Beneran lo? Denger gue ya? Lo tepatin janji lo! Bantu gue jadian sama Reza, dan
lo jauhin dia. Jangan deket-deket terus, nempel aja kayak perangko!”
“Oke! Kalau
itu bisa membuat persahabatan kita baik lagi, gue usahain!”
“Baiklah,
gue pergi dulu. Dan inget janji lo!”
Safina
masih tercenung dengan apa yang baru saja ia alami. Ia tak habis pikir jika
Reza akan menyukainya, ia merasa sedikit senag, namun pernyataan Ralin tadi
yang menyuruhnya menjauhi Reza itu seperti berat. Karena Reza adalah sahabat
baik banget, dan dia merasa gak bisa jauh denganya. Namun dalam hati kecilnya berharap
bahwa persahabtannya lah yang paling penting dari apapun, dan ia harus
mengesampikan ego nya. Dengan tekad, ia akan berusaha membantu Ralin. Demi
persahabatan.
***
Saat Safina
melangkahkan kakinya gontai, samar-samar ia mendengar sebuah lagu yang ia
sukai.
♫Aku
persembahkan hidupku untukmu
Telah ku relakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu
Diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah
tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku…♫
Safina bertepuk tangan saat lagu selesai.
Ia berdiri di depan panggung café. Ia tersenyum lebar, menyadari seseorang yang
pernah ia tahu. Orang itu pun mulai sadar, dan ia menyunggingkan senyum untuk
Safina. Seorang pemuda yang Safina kenal itu, menaruh gitarnya dan turun. Ia
menghampiri Fina.
“Eh elo?” Safina hanya tertawa.
“Ya ampun, mas tiang listrik. Ketemu lagi. Tapi tadi sumpah
keren akustikannnya!”
“Hah? Tiang listrik. Gue punya nama kali ya?” ternyata
pemuda ini adalah ia yang menolongnya waktu di gunung.
“Eh iya, maaf. Soalnya gue gak tahu nama lo!”
“Ya udah, kenalin. Nama gue Adam,” Adam mengulurkan
tangannya.
“Safina,” Safina membalas dengan senyumnya.
“Oh jadi nama lo Safina, cantik. Kayak orangnya. Hahah” Adam
tertawa, Safina hanya membantah.
Merekapun
melanjutkan obrolan duduk di dekat mereka berdiri tadi. Safina merasa asik dan
nyaman ngobrol dengan Adam, mereka merasa nyambung satu sama lain karena suka
becanda.
“Oh ya mas Adam, kayaknya gue harus balik nih. Ada
keperluan, hehe” Safina pamit pada Adam.
“Loh buru-buru aja sih. By
the way apa perlu gue antar?” tawarnya.
“Diantar? Pakai trail? Enggak deh makasih.” Ia mengingat
kejadian yang lalu sambil bercanda.
“Yeah, enggak kali ini gue bawa mobil. Hehe” jawab Adam.
“Nggak Mas, makasih. Gue bisa sendiri. Deket kok dari sini.”
“Oh ya, panggil gue Adam aja. Dari tadi gak enak didenger.
Kayak gue mas mas apaan gitu,”
“Iya, kan mas mas tiang listrik. Wkwkwk.” Safina terbahak.
Setelah
itu. Safina pun segera pergi dari lokasi. Ia lupa, kalau hari ini dia ingin
mencari pekerjaan paruh waktu, untuk membatu biaya kuliahnya. Namun, tiba-tiba
ia menerima sebuah pesan.
“Hah?
Reza?” gumamnya.
Message from Reza BFF :
Gue tunggu lo di basecamp. Gue mau
kasih tahu sesuatu. Sekarang!
Safina pun segera meluncur ke basecamp mereka. Tanpa
ba-bi-bu ia merasa ada yang tidak beres dengannya.
***
“Ralin?
Reza?” Saat Safina datang, sudah ada Ralin disana yang duduk dan berwajah
jutek.
“Akhirnya
lo datang Fin.” Reza menggandeng Safina masuk dengan sabar. Ralin memandangnya
tak suka.
“A.. ada
apa sih Za? Kayaknya penting banget?”
“Oke!
Karena kalian sudah kesini. Gue bakalan ngomong. Gue mau tanya kalian ini ada
apa sih? Apa kalian ada masalah? Kalian gak bisa terus nyakitin satu sama lain,
apa lagi bersikap seperti musuh!”
“…” keduanya
hanya saling pandang. Satunya tak acuh, satunya merasa gak enak.
“Kita nggak
pa-pa kok Za. Baik-baik aja. Ya gak Fin.” Ralin melempar senyum palsu.
“Hehe, iya
Za. Kita baik dan gak ada masalah sama sekali.” Sahut Fina.
“Yakin. Gue
gak mau persahabatan kita hancur. Hanya karena keegoisan pribadi semata.”
“Yah,
suer.” Kata Ralin. Mereka pun berpelukan, namun Ralin berbisik, ia berkata
bahwa, “ gue bahkan males mau meluk lo gini. Ini semua karena Reza, jadi
kesepakatan kita masih berlaku.” Safina hanya mengangguk pasrah.
TO BE CONTINUE
Spoiller : Oskar ulang tahun. Hanya sahabat yang diundang.
Ralin menumpahkan kue tart ke Safina. Reza pun marah-marah. Safina dapat kerja
paruh waktu, saat melamun memikirkan sahabatnya di jalan ia menabrak Adam di
jalan. Adam mengantarkan Safina pulang. Safina baru tahu kalau dia satu kampus
dengan Adam, lalu safina mengajaknya buggie
jumping karena merasa stress, Adam takut ketinggian dan merasa cemen jika
menolak permintaan Safina. Ia pun melakukannya, namun ia pingsan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar