Rabu, 27 September 2017

LOVE SICK 4

LOVE SICK EP. 4 

Keesokan harinya. Sehun dan Chanyeol menghampiri Kai yang sedang melamun saat menonton futsal di lapangan.
       “Kenapa kau?” kini Chanyeol menepuk pundak Kai, namun Kai tak bergeming.
       “Wih, gimana perjodohanmu Kai? Lancar?” tanya Sehun yang memang sudah tahu Kai akan di jodohkan.
       “Apa? Kai di jodohkan? Gak salah?” tanya Chanyeol yang kaget setengah mati, lalu tertawa terbahak-bahak, mengingat Kai adalah rajanya playboy, bagaimana nasib pacar-pacarnya itu.
       “Ah, entahlah. Aku sebenarnya tak ingin melanjutkannya. Tapi aku penasaran sama gadis itu. Ku pikir dia sama seperti gadis lainnya, yang ada aku malah di jutekin.” Sontak Sehun dan Chanyeol tertawa keras sampai memegangi perutnya.
       “Ah ya hyung! Aku sudah dapat id Line, WA, bahkan alamat Irene, nih!” Kai menyerahkan iPhonenya ke Chanyeol.
       “Ahh, Kai the beth!” Sehun mengacungkan jempolnya.
       “Inget ya. Jangan pacari Irene. Cukup deketin, oke?” cetus Chanyeol, Kai hanya mengacungkan jempol.
       “Oh ya, Thehun boleh cerita nggak?” Sehun mulai menerawang, mengingat kejadian kemarin. Kedua sahabatnya pun mengangguk—tak biasanya Sehun mau berbagi cerita, karena ia biasa jadi pendengar.
       “Kemarin, aku menemui gadith itu.” Sehun memainkan ujung kemejanya.
       “Tunggu, gadis yang dulu kau ceritakan itu? Yang kau tolong di klub berenang? Yang katanya aneh, ikut klub renang tapi takut berenang, terus jadi dekat sama Sehun.” Chanyeol mencoba menebak. Sehun mengangguk pelan. Kai menyimak.
       “Iya, jadi thejak kita dekat, rupanya aku menyukai gaidith itu… diam-diam aku thlalu memperhatikannya dengan berkedok teman. Tapi aku tak beruthaha mengungkapkan, karena takut di tolak dan akhirnya dia menjauhiku. Thampai akhirnya, ia mengungkapkan perathaannya padaku, dia menyukaiku juga. tapi apa yang ku lakukan? Aku malah kabur membiarkan dia sendirian di klub, aku bingung—aku menyukainya juga—tapi aku tak bisa berpacaran, kau tahu—apa mereka akan menerimaku yang seperti anak kecil? Makanya—thejak saat itu aku menghindarinya—bodoh kan?”
       Kedua sahabatnya memeberikan rangkulan menguatkan.
       “Yah, yang sabar Sehun-ah, kita tahu kau pasti akan dewasa. Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran oke? Apa tak sebaiknya kau meminta maaf padanya? Kau bahkan tak memberikan gadis itu penjelasan sama sekai.” Kini Chanyeol member wejangan.
       “Oh ya, bagaimana perasaanmu sekarang kepadanya?” kini Kai bertanya penasaran.
       “Entahlah, aku ratha aku hanya dilingkupi ratha bersalah—tapi gak tahu kalau dia.” Sehun mengedikkan bahunya.
       “Siapa namanya, aku penasaran? Kau tak pernah cerita tentang gadis-gadis.” Kini Kai menggoda Sehun.
       “Yoona, anak sastra. Sekarang sudah keluar dari klub berenang—sejak saat itu.” Keduanya ber ‘oh’ ria.
***
       Seperti biasa, Chanyeol menyuruh Kai untuk ke perpus menemui Irene, sedangkan dirinya akan bersembunyi mengamati.
       Seperti yang Kai firasatkan, bahwa mungkin Irene akan tertarik padanya, tidak mengelak juga jika seandainya Irene bukan gebetan Chanyeol, Kai akan memacarinya. Mereka mengobrol dan tampak sudah akrab, namun setelah keasyikan Kai lupa, ada yang mengamati mereka. Takut berbuat terlalu jauh, Kai mengakhiri obrolan mereka dan pamit untuk pergi.
       Setelah ketemu Chanyeol, Kai memberikan info tentang Irene yang mungkin Chanyeol butuh. Seperti, Irene memang rajin ke perpus saat tak ada kerjaan, ia mengikuti klub jurnalis, Irene menyukai music balad ketimbang pop, atau seperti makanan favoritnya adalah salad alias dia adalah vegetarian, dan lain-lain.
       Hyung, apakah belum cukup? Perjanjian ini apa tak bisa di hentikan?” tanya Kai ragu-ragu.
       “Hmm.. kau bertahanlah sebentar lagi, aku tak cukup berani mendekatinya.” Chanyeol memelas. Kai hanya menghela napas panjang.
       Sesaat kemudian, Kai mendapat telepon dari papanya. Setelah menutup telepon itu, Kai pamit untuk pulang duluan.
***
       Setelah mendapat kabar dari papanya. Mau tak mau Kai harus melakukan perintah papanya itu. Kai mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sedang menuju alamat yang baru saja kemarin ia datangi namun penuh dramatic—begitu pikirnya.
       “Ah, mungkin menarik jika ku lanjutkan saja perjodohan ini. Persetan dengan gadis itu yang akan menolak. Saat aku bosan, aku bisa membatalkannya bukan?” gumam Kai sendirian.(Kai!! Dasar emang lu vangsadh!)
       Tiga puluh menit kemudian, Kai sudah sampai di rumah Yoona. Ia segera memarkirkan mobilnya. Lalu mengetuk pintu. Ada seorang pembantu yang membukakan pintu. Kai masuk. Ternyata papa Kai menyuruhnya menemani Yoona yang sakit—akibta kejadian semalam, karena ayahnya sedang di tugaskan keluar kota oleh papanya. Jadi papanya Kai adalah bos ayahnya Yoona.
       Setelah bertanya pada pembantu Yoona, karena kakak-kakak Yoona sudah menikah, jadi mereka tidak tinggal di sini. Suho kakak pertama Yoona memilih tinggal di rumah nya sendiri. Yuri kakak keduanya tinggal bersama suaminya. Jadilah dirumah hanya ada ayah dan Yoona, sedangkan pembatu hanya akan datang pagi saat pekerjaan telah selesai mereka akan pulang.
       Setelah ngobrol sebentar dengan pembatu, Kai langsung menuju ke kamar Yoona. Ia mengetuk pintu kamar Yoona, namun tak ada jawaban. Kai membuka knop pintunya perlahan, kepalanya menyembul mengitarkan pandangan. Aneh, tak ada siapa-pun. Kai lalu membuka lebar pintunya dan perlahan masuk.
       Kai memandangi lagi kamar Yoona yang kini terlihat berantakan, buku berserakan, bantal, selimut, guling acak-acakan.
       “Ckckck… apa-apaan gadis itu, benar-benar tidak rapi.” Gumam Kai sambil menggeleng-geleng kepalanya.
       Sepersekian detik kemudian, pintu kamar mandi di sebelah Kai berdiri terbuka lebar. And than…
KYAAAAA!
       “Apa yang kau lakukan? Dasar yadong[1]!” pekik Yoona yang terkejut dengan kedatangan Kai di dalam kamarnya. Ia segera meraih benda apa saja untuk memukuli badan Kai. Kai pun mengaduh kesakitan. Setelah terusir, Yoona langsung menutup kasar pintu kamarnya. Di depan pintu itu, Kai hanya terengah sambil tercengang.
       “Gadis gila! Sumpah sakit semua. Siapa yang yadong? Mana aku tahu kalau dia sedang mandi dan masih menggunakan handuk seperti itu, ternyata dia terlihat seksi, kulitnya putih mulus… #$()^%!$#@$*” PLAK! Kai menampar pipinya sendiri yang mulai berpikiran aneh-aneh, padahal dirinya menolak di sebut yadong.
       Kai memegangi dadanya yang sekarang bergemuruh.
       “Oke, tenang. Ini Cuma reaksi malu saja kan? Bukan… bukan… yang lain.” Kai meyakinkan dirinya untuk tenang dan tidak gugup. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang tamu.

to be continue


[1] mesum

Senin, 18 September 2017

LOVE SICK part 3

Love Sick ep. 3
Setelah pertemuannya dengan Sehun yang membuatnya malah semakin badmood akhirnya Yoona memutuskan untuk segera pulang ke rumah—ia benar-benar muak dengan sikap Sehun—yang menurutnya suka seenaknya itu, di luar seperti sok imut dan baik hati—padahal devil, batinnya.
       Yoona tiba di rumah jam tiga sore, mungkin masih ada waktu satu sampai dua jam, sehingga Yoona memilih untuk merebahkan tubuhnya—yang entah terasa sangat lelah lalu memejamkan matanya.
       Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu, Yoona pun terbangun dari tidurnya, seseorang masuk ke kamar Yoona.
       “Non, sama tuan di suruh siap-siap, karena sebentar lagi calon non mau datang, mereka sudah di perjalanan. Oh iya, ini kata tuan suruh pakai gaun ini.” Seorang pembantu di rumah Yoona mengantarkan dress selutut berwarna merah muda pastel—merah muda adalah warna yang sangat Yoona benci—apa ayahnya tidak tahu, Yoona hanya mendengus kesal.
       “Ya sudah bi, aku mau mandi dulu.” Yoona segera beringsut dan masuk kamar mandi.
       Tak sampai lima belas menit, Yoona telah menyelesaikan mandinya, ia memang tak suka berlama-lama dalam merawat tubuhnya. Ia menyambar dress merah muda itu dan memakainya, ia benar-benar risih memakai, rasanya tidak cocok. Yoona hanya menggulung rambut panjangnya dan membiarkan beberapa anak rambut tergerai, Yoona memang tak suka menggerai rambutnya karena gampang gerah. Ia lalu mulai memoles wajahnya dengan make up sederhananya, ia hanya memakai lip ice dan pelembab plus bedak padat, ia juga memakai sedikit mascara agar tak terlihat sipit—karena bangun tidur.
       “Ah, ngapain aku dandan cantik-cantik, misiku kan menggagalkan acara ini, ck!” Yoona bergumam sendiri, sampai ayahnya datang menjemput meminta Yoona untuk keluar, karena tamunya sudah datang.
       Yoona mengikuti ayahnya dari belakang. Setelah sampai di ruang tamu, kini Yoona melihat keluarga orang yang akan di jodohkannya. Terlihat seseorang lelaki paruh baya yang seumuran dengan ayahnya—namun terlihat lebih muda dan lebih cool bahkan di usia ini. Lalu di sampingnya ada seorang wanita yang telihat anggun dan cantik, ia sangat terlihat feminim dengan dress gold dan scraf warna senada yang ia balut di bahunya, ia tersenyum ramah—Yoona balas senyum. Kini pandangannya teralih pada kaki seseorang yang mungkin calonnya—Yoona melihat dari ujung kaki, lelaki bersepatu semi fantofel, bercelana permanent press pants hitam, lalu kemeja berwarna telur asin panjang yang ia lipat sampai siku, glek! Kini Yoona mengamati leher jenjang lelaki itu yang menurutnya menggoda, kini matanya tiba di bibirnya—yang merah dan tebal, lalu hidung yang… menurutnya agak pesek, dan akhirnya bertemu dengan mata itu—mata itu juga menatap Yoona, mungkin heran karena gadis itu memandangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, bahkan rambut lelaki itu terlihat rapi dengan pomade. Kini Yoona benar-benar terpesona, ini adalah nikmat Tuhan yang tak bisa di dustakan. Sampai lamunannya terhenti ketika lelaki itu mengagetkannya.
       “Halo om, perkenalkan nama saya Kai! Anak pertama dari papa.” Lelaki itu bernama Kai. Yoona pun mengalihkan pandangannya.
       Setelah berkenalan dan basa-basi, mereka-pun kini duduk di ruang makan keluarga Yoona. Di atas meja tersaji berbagai macam makanan mewah dan berlimpah. Kini Yoona berhadapan dengan Kai, lelaki itu memandanginya dengan tatapan aneh, Yoona merasa risih—apa mungkin dia menilai tampilan Yoona.
       Disisi lain Kai yang juga tak begitu setuju dengan perjodohannya, mulai memandangi gadis yang akan di jodohkan dengannya. Bahkan gadis itu tak jauh lebih cantik dari mantan-mantannya, bahkan pacarnya saat ini. Gadis itu memandangi Kai dengan tatapan menilai—namun segera salah tingkah saat mata mereka saling bertemu, Kai hanya tersenyum menyeringai—rupanya gadis itu pun juga terpesona padanya.
       Setelah menghabiskan makan malamnya. Ayah Yoona dan papanya Kai meminta mereka untuk berdua di dekat kolam renang, biar mereka saling akrab.
       Mereka duduk di bangku dengan canggung. Rupanya Kai itu malah asyik bermain iPhonenya. Tapi rasanya sebal sekali di kacangin seperti itu, Yoona juga malas menanggapi lelaki itu, ganteng-ganteng sombong—batinnya, wajar sih. Yoona berdiri dan memilih untuk berjalan di tepi kolam dan melepas sandalnya.
       “Eh, mau kemana kau?” tanya Kai yang sadar di tinggal sendirian.
       “Kemana kek, serah dong.” Yoona membalas ketus. Kai pun menaruh iPhonenya dan mengikuti Yoona.
       “Oh ya? Namamu Nanna kan?” tanya Kai basa basi. Nanna adalah nama yang biasa keluarga dekatnya saja yang panggil, awalnya Yoona tak setuju ketika ayahnya mengenalkan namanya dengan nama itu—karena Yoona merasa mereka belum jadi keluarga, tapi ayahnya bersi keras.
       “Asshh.. udah tahu tanya!” balas Yoona malas, ia merentangkan tangannya sambil berjalan mengitari kolam renangnya.
       “Ngapain sih kau? Oh ya, kau kuliah jurusan apa? Semester berapa? Dimana?” kini Kai mulai penasaran dengan gadis yang ia kira tertarik dengannya itu.
       “Ah, berisik. Itu tanya apa gak bisa satu satu ya? Kayak rel kerata api aja panjang bener.” Kata Yoona lagi dengan ketus.
       “Buset, galak amat Na? ya udah sih, jawab aja.” Kata Kai tak sabar.
       “Aku lagi jalan, kuliah jurusan sastra, semester lima, di univ. D.” jawabnya singkat.
       “Ya ampun irit amat? Marah ya gara-gara aku cuekin?” tanya Kai yang sekarang mensejajarkan langkahnya dengan Yoona.
       udah tahu tanya,dasar!” gumam Yoona dalam hati, ia berhenti berjalan dan menatap lelaki itu.
       Namun, karena sifat cerobohnya sangking kesalnya dengan lelaki di sampingnya, Yoona tak memperhatikan jalannya, sehingga ia hilang keseimbangan—dan Kai reflek menarik lengan Yoona, namun terlambat.
BYURRR!
Blup! Blup! Blup!
       Kai langsung berdiri, karena tubuhnya yang tinggi, air kolam hanya sampai dadanya, tapi Yoona. Yoona malah terlihat mengambang dan tak bergerak hanya terlihat gelembung-gelembung udara, atau kemungkinan tidak bisa berenang? Kai langsung menarik Yoona dan mendorongnya—anehnya Yoona malah menahan Kai, namun akhirnya ia lemas dan Kai memeluknya(mendorong) sampai ke tepian. Ia mengangkat Yoona.
       Kini Yoona tergolek lemas, ia terbatuk-batuk, dadanya terasa sakit, mata, hidung, telinga rasanya panas. Kai membantu Yoona untuk duduk. Keduanya basah kuyup. Yoona hanya bisa menegang.
       “Aishh, kau ini. Apa tak apa?” Kai menangkup pipi Yoona berusaha menyadarkannya. Yoona hanya mengangguk cepat, lalu berusaha berdiri. Kai membopong Yoona, namun segera di tepis gadis itu.
       Di ruang keluarga, ayah dan keluarga Kai bingung melihat anak-anaknya basah kuyup. Yoona berlari ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan kasar, Kai hanya bisa memandangi kamar itu. Ayah dan keluarga Kai segera menghampiri Kai.
       “Ya ampun, ada apa Kai?” tanya papanya.
       “Nanna jatuh ke kolam, aku menolongnya, tapi entah mengapa ia malah marah-marah.” Jawab Kai lesu, ia tak mengerti dengan sikap Yoona yang kekanakan menurutnya, bukannya terima kasih malah begitu.
       “Ah, Yoona. Maaf Kai, dia memang begitu kalau berhubungan dengan tenggelam. Kau jadi basah kuyup. Sementara kau pakai saja pakaian Suho—kakaknya Yoona, dia sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri, tapi ada beberapa pakaiannya disini, itu kamarnya—pakai saja, ada kamar mandinya juga.” ayah Yoona mengantar Kai ke kamar Suho. Lalu pamit melihat keadaan Yoona. Papa dan mamanya Kai terlihat khawatir dan menunggu di ruang keluarga.
       “Na, apa kau baik-baik saja?” kini ayah Yoona melihat Yoona sudah berganti pakainnya dengan bebydoll dan meringkuk di atas kasur. Yoona langsung menghambur, memeluk ayahnya.
       “Nanna kangen mama yah. Nanna kangen, makanya deket-deket kolam.” Gadis itu bergetar di pelukan ayahnya, lalu ayahnya mengelus sabar punggung gadisnya itu.
       “Ayah tahu, Nanna kuat kan? Gak boleh sedih, nanti mama sedih liat Nanna sedih.” Perlahan gadis itu terlelap dalam pelukannya. Rupanya Yoona punya kenangan pahit, di kolam itu—dulu, 10 tahun yang lalu, mamanya meregang nyawa karena setelah mengajak anak-anaknya berenang, mamanya malah kram, dan tak ada siapa-pun, kecuali Yoona yang sudah mentas—melihat mamanya tenggelam, Yoona hanya bisa teriak. Kolam renang adalah hal yang sangat di sukai—namun juga paling di benci.
       Ayah pun bergegas menemui koleganya itu. Kai masih di kamar Suho. Setelah meminjam kaos oblong dan jeans ¾ yang menurutnya muat—karena celana/ham kekecilan. Kai memutuskan untuk memandangi pintu kamar Yoona. Dengan ragu ia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Kai pun memutar knop dengan perlahan, kini ia melihat Yoona tengah meringkuk sembarang di kasurnya. Kai memberanikan diri untuk masuk.
       Kamar Yoona jauh dari kesan kamar perempuan. Nuansanya serba hitam dan abu-abu. Banyak pajangan-pajangan mobil sport, motor GP, band-band rocker, lalu benda-benda yang biasanya di miliki laki-laki, rupanya gadis ini adalah gadis tomboy. Yoona meringkuk dengan tubuhnya, rautnya seakan ia tengah ketakutan. Kai mengambil selimut, dan menyelimuti gadis itu. Kai mengamati calon tunangannya itu.
       Bibir tipis berwarna merah muda alami, namun pecah-pecah, hidung mungil tapi terlihat mancung, mata yang sangat sipit—tak memiliki garis mata, alis yang terlihat lurus, Kai tersenyum sendiri—ternyata Yoona cantik juga. tanpa sadar, Kai menggeleng-gelengkan kepala.
       “Sial! Ngapain aku muji-muji gadis jutek ini?” Kai pun beranjak untuk ke ruang keluarga.
       Setelah kembali ke ruang keluarga. Keluarga Kai pamit untuk pulang, ayah menyesali kejadian hari ini yang menurutnya merepotkan Kai. Kai tak masalah, lalu mereka segera pulang. Di dalam mobil, Kai hanya melamun, ingatannya kembali saat mereka tercebur dalam kolam renang. Ia melihat Yoona hanya diam dan mengambang, tanpa berusaha untuk bergerak-gerak agar bisa berdiri, itu sangat aneh. Saat Kai memeluk untuk mendorong Yoona, Yoona malah justru enggan untuk kembali ke tepi, namun karena Kai lebih kuat, mereka sampai ke tepian—malah Yoona semakin marah, aneh batinnya.

To Be Contine

LOVE SICK part 2

 LOVE SICK Ep. 2
Yoona tiba di kelas pagi—agak siangnya dengan wajah bertekuk-tekuk, membuat sahabatnya yang melihatnya menjadi khawatir.
       “Oh.. uri[1]-Yoona kenapa nih pagi-pagi sudah bĂȘte?” tanya Irene—sahabat Yoona yang keibuan.
       “Irene-ah, kau tahu tidak? Ayah jadi menjodohkanku, aku jadi sebal.” Yoona mencebikkan bibirnya.
       “Hmm… perjodohannya jadi ya? Padahal kita baru semester lima. Ah, tenang Yoona-ah. Kau bisa kenal dulu kan? Siapa tahu cocok.” Irene menjentikkan jarinya.
       “Ishh, kau sama saja.” Kali ini Yoona memilih pindah tempat duduk di pojok belakang, ingin menenangkan—dan meratapi nasibnya. Irene hanya bisa menggeleng-geleng, ia hapal betul jika sahabatnya lagi ngambek pasti suka menyendiri.
       Beberapa jam berlalu—akhirnya kelas Yoona berakhir. Irene segera menemui Yoona yang masih menatap jandela.
       “Yoona-ah, aku mau ke perpus, apa kau mau ikut?” tawar Irene.
       “Aishh.. kau ini mengganggu saja. Apa? Perpus? Gila ya? Kau kan tahu aku akan tertidur jika lama-lama di tempat itu, agghh.. jinjja. Bisa-bisa aku tambah stress.” Kini Irene hanya terkekeh menanggapi omelan Yoona yang memang benar adanya.
       “Sudahlah, kau jalani saja. Aku pergi dulu!” pamit Irene yang meninggalkan Yoona dengan wajah bertekuk bibir mencebik, serta tangan yang ia lipat didada.
***
       Setelah meninggalkan Yoona, Irene segera bergegas ke perpus. Irene memang lebih rajin dan pintar ketimbang Yoona—wajahnya juga cantik dan rupawan—khas orang kaya. Yoona juga cantik, tapi penampilannya yang cuek dan asal kadang menyembunyikan kecantikannya.
       Irene segera memilih beberpa buku, lalu mengambil tempat duduk. Belum sempat ia duduk, seseorang menyeruduknya dari belakang.
BRUKK!
       Seketika buku-buku Yoona bertebaran. Seorang pria itu meminta maaf berkali-kali dan membantunya.
       “Ah, maaf-maaf. Aku tak sengaja, maaf ya? Ah ini bukunya. Sekali lagi maaf ya?” Irene yang menundukkan kepalanya karena memungut buku—lantas mendongakkan kepalanya setelah lelaki yang menabraknya meminta maaf. Sepersekian detik, Irene terkesima dengan lelaki itu.
       “Ah, tak apa. Tak usah khawatir.” Jawab Irene tulus dan mengembangkan senyumnya. Lelaki itu pun balas dengan senyum—paling menawannya—sengaja dibuat—untuk tebar pesona.
       “Ah, aku sungguh minta maaf, karena kecerobohanku. Sini ku bantu.” Lelaki itu mengambil beberapa buku dari tangan Irene dan mengambil tempat duduk lalu menaruh buku itu pada meja baca.
       “Ah, kau tak usah repot-repot. Aku tak apa, dan kau sudah ku maafkan.” Kali ini Irene memamerkan gigi putihnya.
       “Oh ya? Boleh aku duduk denganmu?” tanya lelaki itu santai. Irene mengangguk.
       “Namamu siapa?” tanya lelaki itu basa basi.
       “Irene!” Irene mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
       “Kai.” Lelaki yang ternyata bernama Kai itu-pun membalas uluran tangan Irene, keduanya saling lempar senyum.
       Baru sebentar, rupanya mereka sudah terlihat akrab. Di ujung perpus, seseorang mengamati dengan intents, jauh dilubuk hatinya ada sesuatu yang menusuk dan sesak. Setelah dirasa cukup, sosok itu pun diam-diam mengacungkan jempol dan mengedipkan mata pada Kai. Yah, dia adalah Chanyeol. Baru setelah Chanyeol meng-kode, Kai pamit untuk pergi.
***
       Yoona yang masih sebal dengan kelakuan sahabatnya itu berjalan dengan langkah berat. Ini masih siang, ia tak ingin cepat cepat pulang. Kata ayah acaranya sore ya, tapi Yoona sama sekali tak bersemangat, lalu tanpa sadar kakinya terus menapaki anak tangga hingga akhirnya ia sampai di tempat yang sudah lama sekali sejak terakhir kali kesana. Yoona tanpa sadar menjatuhkan tas yang berat itu ke lantai, lalu berjalan sampai di ujung—kini Yoona berada di rooftop kampusnya—tempat favoritnya dulu—bersama seseorang yang sangat baik, tapi itu dulu. Yoona memandangi areal sekitar kampusnya, membiarkan angin membelai lembut rambutnya  yang di kuncir kuda dan beberapa helai anak rambut yang melayang-layang, perlahan menghirup nafas dalam-dalam—jauh dilubuk hatinya ia merindukan sosok itu, seseorang yang telah lama ia ingin lupakan. Perlahan mata Yoona telah di penuhi cairan yang mengambang dan sepertinya tak mampu menahannya—sehingga tetesan itu pun terjatuh.
       “Ternyata kau kethini?” sebuah suara yang sangat ia hapal dengan logat cadelnya membuat Yoona terkejut, perlahan ia berbalik melihat sosok itu.
       “Kau?” suara Yoona bahkan melayang di udara.
       “Iya. Apa kabar Yoona-ah? Aku thungguh merindukanmu..” kini Sehun—yah, siapa lagi yang cadel itu menundukkan pandangannya, hatinya sakit menemui Yoona lagi setelah selama ini bertindak seperti pengecut—benar-benar tak tahu diri, batinnya.
       “Cih! Dasar brings*k! kau tanya apa kabar ku? Selamat, aku sangat tidak baik!” kini Yoona menatapnya dengan dingin, gadis itu beranjak mengambil tasnya yang berada di samping Sehun—lalu melewatinya dengan menyenggol kasar lelaki itu dan pergi.
       Sehun mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras—tanpa di sadari matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar bodoh dan sangat lemah, dan pastinya pecundang sejati—bahkan ia tak bisa menjelaskan alasannya selama ini menghindarinya atau pura-pura tak kenal, bodoh—batinnya.

To Be Contine


[1] kita