LOVE SICK EP. 4
Keesokan harinya. Sehun dan Chanyeol menghampiri Kai
yang sedang melamun saat menonton futsal di lapangan.
“Kenapa
kau?” kini Chanyeol menepuk pundak Kai, namun Kai tak bergeming.
“Wih,
gimana perjodohanmu Kai? Lancar?” tanya Sehun yang memang sudah tahu Kai akan
di jodohkan.
“Apa?
Kai di jodohkan? Gak salah?” tanya Chanyeol yang kaget setengah mati, lalu
tertawa terbahak-bahak, mengingat Kai adalah rajanya playboy, bagaimana nasib
pacar-pacarnya itu.
“Ah,
entahlah. Aku sebenarnya tak ingin melanjutkannya. Tapi aku penasaran sama
gadis itu. Ku pikir dia sama seperti gadis lainnya, yang ada aku malah di
jutekin.” Sontak Sehun dan Chanyeol tertawa keras sampai memegangi perutnya.
“Ah ya hyung! Aku
sudah dapat id Line, WA, bahkan alamat Irene, nih!” Kai menyerahkan iPhonenya
ke Chanyeol.
“Ahh, Kai the beth!” Sehun mengacungkan jempolnya.
“Inget ya. Jangan pacari Irene. Cukup deketin, oke?” cetus
Chanyeol, Kai hanya mengacungkan jempol.
“Oh ya, Thehun boleh cerita nggak?” Sehun mulai menerawang,
mengingat kejadian kemarin. Kedua sahabatnya pun mengangguk—tak biasanya Sehun
mau berbagi cerita, karena ia biasa jadi pendengar.
“Kemarin, aku menemui gadith itu.” Sehun memainkan ujung
kemejanya.
“Tunggu, gadis yang dulu kau ceritakan itu? Yang kau tolong di
klub berenang? Yang katanya aneh, ikut klub renang tapi takut berenang, terus
jadi dekat sama Sehun.” Chanyeol mencoba menebak. Sehun mengangguk pelan. Kai
menyimak.
“Iya, jadi thejak kita dekat, rupanya aku menyukai gaidith
itu… diam-diam aku thlalu memperhatikannya dengan berkedok teman. Tapi aku tak
beruthaha mengungkapkan, karena takut di tolak dan akhirnya dia menjauhiku.
Thampai akhirnya, ia mengungkapkan perathaannya padaku, dia menyukaiku juga. tapi
apa yang ku lakukan? Aku malah kabur membiarkan dia sendirian di klub, aku
bingung—aku menyukainya juga—tapi aku tak bisa berpacaran, kau tahu—apa mereka
akan menerimaku yang seperti anak kecil? Makanya—thejak saat itu aku
menghindarinya—bodoh kan?”
Kedua sahabatnya memeberikan rangkulan menguatkan.
“Yah, yang sabar Sehun-ah, kita tahu kau pasti akan dewasa.
Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran oke? Apa tak sebaiknya kau meminta maaf
padanya? Kau bahkan tak memberikan gadis itu penjelasan sama sekai.” Kini
Chanyeol member wejangan.
“Oh ya, bagaimana perasaanmu sekarang kepadanya?” kini Kai
bertanya penasaran.
“Entahlah, aku ratha aku hanya dilingkupi ratha bersalah—tapi
gak tahu kalau dia.” Sehun mengedikkan bahunya.
“Siapa namanya, aku penasaran? Kau tak pernah cerita tentang
gadis-gadis.” Kini Kai menggoda Sehun.
“Yoona, anak sastra. Sekarang sudah keluar dari klub
berenang—sejak saat itu.” Keduanya ber ‘oh’ ria.
***
Seperti biasa, Chanyeol menyuruh Kai untuk ke perpus menemui
Irene, sedangkan dirinya akan bersembunyi mengamati.
Seperti yang Kai firasatkan, bahwa mungkin Irene akan tertarik
padanya, tidak mengelak juga jika seandainya Irene bukan gebetan Chanyeol, Kai
akan memacarinya. Mereka mengobrol dan tampak sudah akrab, namun setelah keasyikan
Kai lupa, ada yang mengamati mereka. Takut berbuat terlalu jauh, Kai mengakhiri
obrolan mereka dan pamit untuk pergi.
Setelah ketemu Chanyeol, Kai memberikan info tentang Irene
yang mungkin Chanyeol butuh. Seperti, Irene memang rajin ke perpus saat tak ada
kerjaan, ia mengikuti klub jurnalis, Irene menyukai music balad ketimbang pop,
atau seperti makanan favoritnya adalah salad alias dia adalah vegetarian, dan
lain-lain.
“Hyung, apakah belum
cukup? Perjanjian ini apa tak bisa di hentikan?” tanya Kai ragu-ragu.
“Hmm.. kau bertahanlah sebentar lagi, aku tak cukup berani
mendekatinya.” Chanyeol memelas. Kai hanya menghela napas panjang.
Sesaat kemudian, Kai mendapat telepon dari papanya. Setelah
menutup telepon itu, Kai pamit untuk pulang duluan.
***
Setelah mendapat kabar dari papanya. Mau tak mau Kai harus
melakukan perintah papanya itu. Kai mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan
sedang. Ia sedang menuju alamat yang baru saja kemarin ia datangi namun penuh
dramatic—begitu pikirnya.
“Ah, mungkin menarik jika ku lanjutkan saja perjodohan ini.
Persetan dengan gadis itu yang akan menolak. Saat aku bosan, aku bisa
membatalkannya bukan?” gumam Kai sendirian.(Kai!! Dasar emang lu vangsadh!)
Tiga puluh menit kemudian, Kai sudah sampai di rumah Yoona. Ia
segera memarkirkan mobilnya. Lalu mengetuk pintu. Ada seorang pembantu yang
membukakan pintu. Kai masuk. Ternyata papa Kai menyuruhnya menemani Yoona yang
sakit—akibta kejadian semalam, karena ayahnya sedang di tugaskan keluar kota
oleh papanya. Jadi papanya Kai adalah bos ayahnya Yoona.
Setelah bertanya pada pembantu Yoona, karena kakak-kakak Yoona
sudah menikah, jadi mereka tidak tinggal di sini. Suho kakak pertama Yoona
memilih tinggal di rumah nya sendiri. Yuri kakak keduanya tinggal bersama suaminya.
Jadilah dirumah hanya ada ayah dan Yoona, sedangkan pembatu hanya akan datang
pagi saat pekerjaan telah selesai mereka akan pulang.
Setelah ngobrol sebentar dengan pembatu,
Kai langsung menuju ke kamar Yoona. Ia mengetuk pintu kamar Yoona, namun tak
ada jawaban. Kai membuka knop pintunya perlahan, kepalanya menyembul
mengitarkan pandangan. Aneh, tak ada siapa-pun. Kai lalu membuka lebar pintunya
dan perlahan masuk.
Kai memandangi lagi kamar Yoona yang kini terlihat berantakan,
buku berserakan, bantal, selimut, guling acak-acakan.
“Ckckck… apa-apaan gadis itu, benar-benar tidak rapi.” Gumam
Kai sambil menggeleng-geleng kepalanya.
Sepersekian detik kemudian, pintu kamar mandi di sebelah Kai
berdiri terbuka lebar. And than…
KYAAAAA!
“Apa yang kau lakukan? Dasar yadong[1]!”
pekik Yoona yang terkejut dengan kedatangan Kai di dalam kamarnya. Ia segera
meraih benda apa saja untuk memukuli badan Kai. Kai pun mengaduh kesakitan.
Setelah terusir, Yoona langsung menutup kasar pintu kamarnya. Di depan pintu
itu, Kai hanya terengah sambil tercengang.
“Gadis gila! Sumpah sakit semua. Siapa yang yadong? Mana aku tahu kalau dia sedang
mandi dan masih menggunakan handuk seperti itu, ternyata dia terlihat seksi,
kulitnya putih mulus… #$()^%!$#@$*” PLAK! Kai menampar pipinya sendiri yang
mulai berpikiran aneh-aneh, padahal dirinya menolak di sebut yadong.
Kai memegangi dadanya yang sekarang bergemuruh.
“Oke, tenang. Ini Cuma reaksi malu saja kan? Bukan… bukan…
yang lain.” Kai meyakinkan dirinya untuk tenang dan tidak gugup. Ia memutuskan
untuk kembali ke ruang tamu.
to be continue


