Kamis, 29 Juni 2017

MASA MUDA EP. 6




MASA MUDA (EP. 6)

        Entah mengapa sejak dalam perjalanan pulang, perasaan Safina tidak enak. Tiba-tiba HPnya berbunyi. Reza? Safina mengernyit setelah kemudian ia mengangkat telponnya.
        “Halo Za?”
        “Lo dimana Fin? Kok tadi lo nggak ke basecamp?” Safina hanya tersenyum kecut mendengar suara diseberang sana.
        “Kok diem Fin?” Tanya Reza lagi.
        “Hah? Nggak Za, gue lagi sibuk aja. Lo tahu kan gue sibuk nyari part time…” kata Safina menggantung.
        “Oh, lo kenapa gak bilang gue. Kan gue bisa nyariin yang pas dan aman buat lo, gue banyak kok—“ belum sempat Reza mengoceh, Safina memotong pembicaraannya.
        “Eh Za, ntar deh. ibu gue telpon nih. Kali aja ada yang penting. Udah ya? Dah!” Safina segera menutup telponnya, dan mengangkat dari ibunya.
        “Safina, kamu dimana? Sudah pulang belum?” terdengar suara yang sedih di seberang sana, membuat Safina khawatir.
        “Bu, ada apa bu? Kok kayak nya ibu nangis ya?”
        “Ayahmu Fin… Ayahmu..” kata ibunya dengan sedikit terisak.
        “Hah? Ayah kenapa bu? Kalian nggak pa-pa kan?” Fina semakin khawatir.
        “Cepat kamu ke Rumah Sakit Harapan Medika, Ayahmu kecelakaan,” segera setelah itu Safina meminta supir putar balik dan segera menuju Ayahnya dirawat.
***
        Setelah keluar dari taxi, Safina langsung berlari. Tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja. Ia segera mencari ruangan ayahnya. Sampai akhirnya ia melihat ibunya di koridor rumah sakit.
        “Ibu!” pekik Fina saat ibunya tengah tertunduk sedih.
        “Nak. Kamu dari mana nak?” tanya ibunya mengabaikan pertanyaan Fina.
        “Bu, ayah nggak pa-pa kan?” tanya Safina Khawatir.
        “Ayahmu habis ditabrak orang saat pulang kerja. Dan orangnya nggak bertanggung jawab.”
        “Astaghfirullah. Terus bagaimana keadaannya?”
        “Entahlah, masih di tangani dokter,” Safina dan ibunya hanya saling berpelukan dan berharap keajaiban pada sang ayah.
***
        Keesokan harinya di kampus. Kali ini Reza dan Adam datang bersamaan. Membuat keduanya harus bertatapan sengit. Keduanya kini telah saling berhadapan. Menatap dengan penuh kilatan. Rupanya perang dingin antara mereka tak pernah terselesaikan.
        “Cih! Kenapa juga ketemu orang kayak elo!” cetus Reza.
        “Lo pikir gue mau?” balas Adam melengos.
        Terlihat anak-anak kampus yang melihat ini berkumpul, mereka tahu kalau Reza dan Adam adalah rival, dan mereka yakin jika Adam dan Reza bertemu mereka pasti akan duel.
        “Cih! Dasar, kemaren lo beruntung aja kalau gue kalah.” Reza membela diri.
        “Loser is a LOSER!” cetus Adam penuh penekanan.
        “Sialan!” Reza mengepalkan tangannya, rahangnya menggeretak, siap meninju wajah Adam yang menurutnya sangat menyebalkan.
BUGH!!
        Reza melayangkan tinjunya. Ia tersulut emosi, namun Adam hanya meringis kesakitan.
        “Beraninya lo. Kalau lo nggak terima sama kekalahan lo, kita balapan lagi. Balapan motor.” Tantang Adam kemudian.
        “Oke! Gue tunjukin ke elo, kalau elo—“ kemudian mengacungkan jempolnya dan ia balikan ke bawah—cemen dengan remeh. Reza mendengus kesal meninggalkan Adam sendirian
***
        Setelah kelas usai, Reza buru-buru keluar dari kelas. Ralin—notabenenya satu jurusan dan sering mengambil kelas yang sama,  mengejar Reza karena merasa aneh dengan sikapnnya sejak pagi.
        “Za! Lo mau kemana? Tunggu!” Ralin menarik lengan Reza. Kini Reza mendengus kesal, ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya.
        “Lo kenapa sih Za? Dari tadi kayaknya bĂȘte banget?” tanya Ralin sanksi.
        “Hm. Gue kesel sama Adam saingan gue. Gue juga kesal, si Safina nggak ada kabar. Lo tau dimana si Safina?” Reza memilih duduk di gazebo depan kelas.
        “Safina?” Ralin mengernyit tak mengerti.
        “Iya, dia itu kemaren gue telpon, eh buru-buru di tutup katanya ibunya telpon. Eh pas gue telpon bailik udah gak aktif aja nomornya, sampai sekarang.” Reza menunduk lelah. Ralin hanya tersenyum kecut.
        “Oh, kalau itu juga nggak tahu. Eh by the way lo ntar lagi ada acara nggak?” tanya Ralin mengalihkan pembicaraan.
        “Kenapa?” Reza mengernyit.
        “Gue boleh minta tolong nggak? Please..” Ralin memohon.
        “Tolong apa?” tanya Reza heran.
        “Entar lo tahu deh. ini penting banget soalnya, dan dari sahabat-sahabat kita Cuma elo yang bisa.”
        “Emang apa sih? Berhubungan dengan?” Reza mengedikkan bahu merasa bingung.
        “Buggie Jumping!” cetus Ralin, Reza lalu ber oh ria. Sambil tersenyum simpul.
        “Oh elo mau di ajarin? Lo mau ikut lomba lompat indah buggie jumping? Eh tunggu deh, Safina kan juga suka banget buggie jumping? Lo udah ngubungi dia belum? Siapa tahu dia mau diajak barengan gitu…” seru Reza semangat mengingat kesukaan Safina. Tapi Ralin hanya mendengus kesal, hatinya dongkol.
        “Nah itu dia, gue juga gak bisa ngubungin dia. Padahal acara tiga hari lagi. Lo mau kan bantuin gue? Lo tahu gue trauma sejak dua tahun lalu kepleset di jurang gunung Ciremei?” Ralin bergiding ngeri mengingat kejadian yang lalu, yang membuatnya menghindari ketinggian—padahal sangat menyukainya.
        “Ah, ya. Gue usahakan. Karena lo sahabat gue,” kata Reza dengan nada datar.
        “Yey! Thanks Za,” kali ini Ralin tersenyum sumringah. Dalam hatinya, ia senang karena akan terbebas dari makhluk bernama Safina.
***
        Disisi lain, Safina dan ibunya masih menunggu ayahnya. Ini sudah hari ke 3 sejak ayahnya masuk rumah sakit. Rupanya terjadi masalah dengan kakinya, sehingga di butuhkan waktu yang agak lama untuk menyembuhkannya. Seorang dokter bernama dokter Yohan keluar dari ruangan, setelah memeriksa. Safina dan ibunya segera menghampirinya.
        “Bagaimana dengan suami saya dokter?” ibu Safina langsung menanyakan keadaan ayahnya. Diikuti anggukan dari Safina.
        “Begini bu. Suami ibu mengalami patah tulang ringan di pergelangan kaki, sehingga membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 bulan,” ibunya dan Safina sontak terbelalak mendengar kabar itu.
        “Tapi tenang saja. Kami akan mengusahakan yang terbaik. Kami akan memberikan alat pada kakinya, sehingga kuat untuk belajar berjalan, jadi sementara harus pakai tongkat dulu, sampai benar-benar pulih.” Dokter mencoba menenangkan keduanya. Lalu Safina dan ibunya hanya bisa pasrah.
        “Kira-kira kapan bisa pulang dok?” tanya Safina kemudian.
        “Besok sudah bisa. Tapi masih harus pakai kursi roda, sambil nanti belajar berjalan setelah dua hari ya bu? Kalau ada kemajuan ibu bisa hubungi saya, karena masih harus control sampai 2 atau 3 bulan ke depan.” Cetus dokter Yohan dengan senyumnya. Keduanya mengangguk paham.
        “Baiklah dok, terimakasih.” Kata ibu Safina kemudian. Dokter Yohan mengangguk lalu permisi untuk pergi, baru satu langkah HPnya berbunyi, lalu mengisyaratkan untuk berlalu dan meneruskan kegiatan Safina dan ibunya, Safina masih di luar melihat dokter Yohan menerima telpon. Entahlah Safina merasa kepo dengan dokter—yang kira-kira seumuran dengan ayahnya dan baik yang sabar dan plus plus pokoknya.
        “Iya halo?” jawab dokter Yohan.
        “…” suara di seberang terdengar mengomel, namun dokter hanya terkekeh.
        “Papa nggak maksa kamu ke sini untuk belajar tentang medis, tapi ada beberapa hal yang ingin papa kasih ke kamu,” jawab dokter.
        “…” suara disana masih sayup-sayup terdengar mendengus.
        “Iya, iya. Jaga adikmu baik-baik. Jangan berantem. Kamu tahu kan kalau kamu harus jaga adikmu sejak mamamu pergi. Maafkan papa ya, papa harus ngebesarin kalian sendiri,” suara dokter tertahan, mungkin menahan sesuatu untuk keluar, terlihat dokter Yohan mengusap wajahnya kasar.
        “…”
        “Ya sudah. Besok kamu harus ke Rumah Sakit! Libur dulu nyanyinya, libur dulu ngelukisnya. Kan weekend. Harus!” perintah dokter Yohan, lalu ia menutup telponnya.
        Di depan pintu Safina masih berdiri mendengarkan. Ia membuat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan keluarga dokter Yohan, dan kemungkinan si penelpon barusan.

TO BE CONTINUE

Kamis, 22 Juni 2017

MASA MUDA EP. 5

MASA MUDA (EP. 5)

      Berhubung penulis udah lama nggak update kelanjutannya gegara asik baca novellet teenlit. Penulis jadi terinspirasi. Iya, penulis mau banting stir. Dari sebelumnya bergenre melowdrama, sekarang lebih ke teenlit dan maksain komedi. Biar pembaca nggak capek dengan bahasa yang berat dan ikut mikirin nasib mereka, hehe. Jadi penulis lagi berusaha merubah karakter mereka dan alur cerita di kemas dengan ringan. Sengaja nggak kasih spoiller karena emang mau kasih yang baru. Di episode 4 sebenarnya sudah agak-agak berubah. Di episode selanjutnya penulis akan rubah.happy reading gays!
***
      Di sebuah kamar berukuran 4x4 m. beberapa cowok tengah berbisik-bisik di depan pintu. Di dalam Safina sedang megompres dahi Adam. Yah, setelah Adam malah semakin parah di Jungle Outbound, Adam menyodorkan ponselnya untuk menelpon temannya.
Flashback ON
      “Kok gue pusing ya?” kata Adam sambil memegangi kepalanya.
      “Yah, lo jangan sakit dong! Duh, pasti gegara gue ya?”
      “Nih, telpon Mario, suruh jemput kita disini.” Adam menyodorkan HPnya dan Safina mencari nama Mario di kontaknya. Adam masih lemas.
      Tutt.. tutt..
      Setelah beberapa detik, terdengar suara di seberang sana,
      “Halo Dam? Ada apa? Lo mau ke bengkel kagak?” suara diseberang mengoceh tak jelas. Safina langsung menginterupsi.
      “Maaf mas, ini bukan Adam. Gue Safina. Ada yang penting,”
      “Hah? Safina siapa ya? Kok HP nya bisa di lo. Adam mana? Ada apa ini?” suara itu masih saja mengoceh. Safina lalu menjelaskan semuanya. Mario, si empu suara itu langsung menutup dan bilang otw menjemput Adam.
      Beberapa menit kemudian, Mario dan satu temannya datang. Mereka membopong Adam, hendak mengantar ke rumah sakit, namun Adam menolak dan memilih diajak ke kosan Mario. Akhirnya, Mario membawa motor Adam, dan Evan—teman satunya membonceng Safina.
Flashback OFF
      Setelah mengompres Adam, Safina keluar. Sepertinya dua teman Adam itu menuntut penjelasan Safina. Ia pun segera menceritakan kronologisnya.
      “Maaf, gue jadi ngerepotin kalian. Ini semua gegara gue sih,” Safina merutuki dirinya karena tantangan itu.
      “Lo kenal Adam dimana? Emang lo nggak tahu kalau dia phobia ketinggian?” Safina terkejut, ia hanya menggeleng lemah.
      “Jadi dia itu phobia ketinggian gegara waktu kecil ia jatuh dari lantai atas rumahnya dan sampai gagar otak, gitu.trus setelah kejadian itu, nyokapnya… nyokapnya bunuh diri di rooftop kantornya karena di tuduh korupsi, saat itu Adam masih berusia 10 tahun, setelah ia sembuh dari gagar otak, dan saat itu juga dia ngeliat sendiri nyokapnya jatuh, dia di bawah mau menjemput nyokapnya. Pas bokapnya lari masuk ke dalam, ia melihat nyokapnya jatuh, pas tepat di depan matanya…” Mendengar cerita Mario Safina pun menyesali perbuatannya, ia hanya terbelalak dengan kejadian na’has mamanya. Ia bergidik ngeri.
      “Ya ampun, gue sama sekali nggak tahu. Dia juga nggak berusaha menolak sama sekali.” Sesalnya.
      “BTW, lo siapanya Adam sih? Pacar barunya ya?”
      “Ah, pacar?” Safina terkekeh mendengar penuturan Evan itu.
      “Ya kali, gue pacar dia? Gak mungkin Adam mau sama gue, haha” Safina hanya terkekeh.
      “Ya mau aja kali, haha. Buktinya dia rela melompat. Padahal sebelumnya ia akan menghindari sesuatu tentang ketinggian,”  jelas Mario.
      “Gue sih baru kenal sama dia, cuman udah ketemu beberapa kali juga. Eh btw dapur dimana? Gue mau bikin bubur, nanti kalau dia bangun harus di isi perutnya, biar nggak lemes.” Dengan ragu-ragu Mario menunjukkan dapurnya. Dan kedua manusia itu saling lempar tatapan.
      “Bro, masa iya bukan pacar? Bukan pacar kok perhatian banget ya?”kata Evan, dan Mario hanya mengangguk membenarkan.
***
      Hari semakin gelap. Adam masih belum juga belum bangun. Safina jadi khawatir. Kedua temannya itu menyarankan untuk mengantar Safina pulang, karena sudah malam.
      “Lo gak di cari nyokap lo Fina? Ini sudah malem..” celetuk Mario menyadarkan Safina dari lamunannya.
      “Eh,” sahutnya kaget.
      “Iya, ini udah malam lho. Biar Adam kita yang urus deh, suer!”Evan menyela.
      “Enggak pa-pa deh, gue tungguin dia sadar, trus pastiin dia makan dulu. Soalnya ini semua kan gegara gue. Duh, gue merasa bersalah banget deh—“ tiba-tiba Adam mulai menggerakan tangannya, perlahan ia membuka matanya. Pandangannya masih kabur, ia mencoba bangun. Kompresannya jatuh, Fina mengambilnya.
      “Dam, lo bangun?” Safina lega melihatnya bangun.
      “Eh, Saf..” ia masih berusaha bersua, dan masih memegangi kepalanya. Dua manusia tadi langsung masuk ke dalam dan menyodorkan banyak pertanyaan gak bermutu.
      “Buset dah, lo ngapa bisa pingsan Dam? Malu maluin aja sama pacar lo?” kata Mario.
      “Iya lo, kalau gini kenapa kagak ajak kita-kita? Kita bakal mewakili lo kok!” kekeh Evan.
      “Eh nih siapa, pacar lo kan?” tanya Mario lagi. Safina hanya terkekeh mendengar teman-temannya Adam. Adam pun mulai sadar sepenuhnya. Ia melempar handuk kompresan pada mereka berdua.
      “Makan tuh pacar!” merekapun hanya menggerutu.
      “Bukannya nanya kabar gue, malah tanya gak penting. Basi lo!” komentar Adam.
      “Eh, lo makan bubur dulu ya..”Adam yang menyadari Safina masih ada disana membuatnya kikuk. Pasti dirinya malu-maluin tadi.
      “Nggak pa-pa Fin, gue nanti makan kok. Gue udah gak pa-pa,” jawabnya.
      “Udah sini makan dulu, lo kan masih lemes setelah pingsan tadi, apalagi di tambah langsung demam.” Safina menyodorkan semangkuk bubur yang ia buat tadi. Adam lalu memberi kode-kode untuk kedua sahabatnya. Lalu keduanya beringsut setelah berdebat sebentar.
      “Kita keluar dulu deh.. daripada jadi setan—“ mereka pun ngacir ke depan.
      “Eh mau kemana?” teriak Safina, yang diteriaki sudah kabur.
      “Udah biarin aja.” Sahut Adam.
      “Eh, gue lemes mau makan nih, tangan gue nggak kuat. Gimana dong?” Adam memelas dan menggunakan ekspresi puppy eyes. Safina hanya terkekeh.
      “Ya sudah. Mas tiang listrik, gue suapin. Oke?” Safina tertawa geli, lalu mulai menyuapi Adam setelah ia mengangguk-ngangguk kegirangan.
      Setelah Adam melahab semangkuk bubur itu, Safina pun pamit untuk pulang, melihat jam yang sudah pukul 20.00, Adam tidak tega membiarkannya pulang sendiri, ia menawarkan untuk mengantar, namun ditolak mentah-mentah. Mengingat keadaan Adam yang sedang sakit. Teman Adam juga sudah menawarkan diri, namun juga ditolak. Safina pun di pesankan taksi oleh Adam. Walau masih sedikit pusing, ia mengantar sampai ke depan. Setelah taksi datang, Safina pun lambat laun menghilang ditelan malam.
TO BE CONTINUE

SPOILLER: di tengah jalan, Safina ditelfon ibunya. Jika ayahnya sedang masuk rumah sakit, ia-pun langsung balik arah. Reza dan Adam masih ribut, kali ini di kampus, mereka duel lagi. Safina tak pernah terlihat di kampus, Reza susah menghubungi Safina, sedangkan Ralin mengompor-ngompori Reza terus. Ralin masih berusaha mebuat jarak antara Safina dan Reza.

Senin, 19 Juni 2017

MASA MUDA EP. 4

MASA MUDA (EP. 4)


            Di pagi hari yang cerah. Reza tengah buru-buru. Setelah ia mendapat telepon dari teman-temannya ia segera menginjak pedal gas dan meluncur ke suatu tempat.
            “Dimana dia?” Reza berteriak di suatu lapangan luas yang sepi, dari arah barat di balik warung kecil, teman-teman Reza telah menunggu.
            “Za sabar Za! Dia ada disini,” Leo, teman Reza menghampirinya dengan muka ketakutan.
            “Gue sudah menunggu lama untuk ini…” tiba-tiba terdengar suara mobil datang dan ngedrive.
            Seorang cowok keluar dari mobil, terlihat dari sneakers, lalu menggunakan jeans light blue robek, dan kaos putih berbalut kemeja krem kotak-kotak, rahang yang tirus, kumis tipis, ia menyeringai, rambutnya sedikit ikal.
            “Sudah lama sekali, REZA!” ia akhirnya bersua. Reza hanya mendecih.
            “Rupanya lo masih ingat perjanjian kita, Adam!” ternyata cowok itu adalah Adam, musuh bebuyutan Reza, karena mereka merasa bersaing di kampus.
            “Kali ini gue bakal kalahin lo Dam!”
            “Jangan sombong lo! Kalau gue menang, urusan kita selesai!”
            “Urusan kita gak akan pernah selesai!” Reza menatap tajam dan ber api-api, penuh ambisius. Tak kalah Adam pun menatap tajam.
            Kali ini mereka telah berada di sebuah jalan yang sepi, Reza dan Adam balapan mobil lagi, untuk bersaing. Teman-teman setia mereka telah berada di pinggir jalan untuk menyemangati. Leo berada di tengah memberi aba-aba. Setelah bendera diangkat, keduanya langsung menginjak gas, melaju membelah jalanan sepi. Saling kejar-kejaran. Terkadang Reza memimpin, namun tak lama Adam menyusul, begitu terus sampai tiga kali putaran dan finish di tempat start tadi.
            Di tengah pertandingan, HP Reza berbunyi terus menerus, ia menjadi tak berkonsentrasi. Saat ia melirik dan melihat siapa yang menelpon, ia ingat. Hari ini adalah ulang tahun Oskar, dan sahabat-sahabatnya pasti menunggu nya. Ia sangat cemas dan bingung. Disisi lain, tiba-tiba Adam menyusul dengan cepat, dan BAMM! FINISH!
            “Yuhuu, gue menang!” teriak Adam. Di belakang, Reza memukul setir kesal, ia memijat pelipisnya dan keluar menemui Adam.
            “Udah terbukti. Gue pemenangnya!” Reza mendekat dan menatap Adam tajam.
            “Oke, kali ini lo menang, ini semua gara-gara gue ada hal yang mendesak, tapi ingat! Gue bakal ngalahin lo lain kali,” dengan segera Reza pergi meninggalkan tempat itu, ngebut. Yang lain hanya melongo. Adam memandang heran.
***
            Disisi lain, Oskar sudah berada di cafĂ© sejak tadi. Ia masih menunggu ketiga sahabatnya. Ia juga telah menelpon, Whatsapp, tapi mereka tak ada satupun yang mengangkat. Ia heran, akhir-akhir ini mereka suka sibuk sendiri-sendiri.
            Dari arah pintu masuk, terlihat ketiga sahabat yang ditunggu itu lari menuju Oskar.
            “Oskar, sorry kita telat!” Oskar hanya melengos.
            “Happy Birthday Oskar, tenang kita nggak lupa kok sama ultah lo, Cuma lagi ada kendala aja tadi!” kata Safina mencoba menenangkan hatinya.
            “Iya Kar, Safina bener.” Reza membenarkan ucapan Safina.
            “Iye, udah-udah! Gue maafin kalian hari ini karena memang gue ulang tahun, jadi kita happy-happy, oke!”
            Kemudian seorang waiters membawakan kue tart pesanan Oskar, dan beberapa camilan dan minuman. Mereka menyanyikan lagu HBD, lalu Oskar make a wish dan tiup lilin. Mereka pun bercanda sambil main colek-colekan krim kue. Safina asik berdua sama Reza, mereka tak sadar, sepasang mata memandangi dengan tatapan sinis. Lalu ia pura-pura memegang kue tart dan berjalan di samping Safina, lalu ia menjatuhkan kuenya tepat di wajahnya, sontak semua terperangah dengan kelakuan—Ralin.
            “Ralin!” syok Safina melihat dirinya penuh kue. Reza langsung berdiri.
            “Ups! Sorry! Beneran gue gak sengaja. Gue mau kasih lo potongan kue, eh malah jatuh,” alibinya.
            “Maksud lo apa Lin? Lo sengaja ya?” semprot Reza. Ralin makin kesal.
            “Ya ampun, hati-hati dong lo Lin!” kata Oskar.
            “Sini gue bersihin!” Reza mengambil tisu dan mengelap wajah Safina. Melihat itu, Ralin semakin kesal. Ia pun permisi ke toilet, disusul Safina yang ingin membersihkan wajahnya.
            “Eh, lo lupa apa pura-pura lupa sih Fin?” Ralin menarik tangan Safina saat ia berpapasan di toilet.
            “Eh, maaf Lin. Bukan maksud gue seperti itu,”
            “Alah, bilang aja lo suka sama dia!”
            “Maafin gue Lin, gue Cuma gak mau dia curiga. Tapi gue akan usahain lo deket sama dia,” jawab Safina. Ralin hanya melengos pergi.
*** 

            Keesokan harinya setelah ultah Oskar. Saat pulang kuliah Safina masih memikirkan permintaan Ralin. Ia bingung, namun tak mau persahabatannya hancur. Tiba-tiba Safina menabrak seseorang di depannya.
BRUK!!
            Semua buku orang itu jatuh, Safina juga akan terjatuh. Namun segera ditarik. Dah, tau lah adegan seorang cowok menangkap cewek yang mau jatuh. Mereka pun saling pandang, setelah itu buru-buru berdiri.
            “Mas tiang listrik!” pekiknya.
            “Sst.. Adam!” Adam menginterupsi.
            “Eh, iya! Maaf Dam, gue gak sengaja.”
            “Lo ngelamun ya? Gue daritadi lihat lo, sampai lo gak tahu kalau gue lagi di depan lo!” tebaknya.
            “Hehe,” Safina hanya terkekeh dan menggaruk-garuk rambut yang tak tersana gatal itu.
            “Lo kuliah disini ya? Gue baru lihat lo, by the way lo jurusan apa sih?”
            “Iya, gue baru masuk semester 1, karena gue mandek setahun. Gue jurusan Fashion Desain.”
            “Oh gitu ya? Wah keren dong yang mau jadi desainer. Hehe.”
            “Aamiin. Kalo lo?”
            “Gue Art and Design,”
            “Cie seniman,” Safina tersenyum.
            “Lo mau pulang? Apa mau gue anterin?”
            “Iya mau pulang, gak usah lah ngerepotin.”
            “Udah anggep aja biar kita bisa lebih akrab,” mendengar tawaran itu membuat Safina terkekeh geli. Karena merasa ada rejeki nomplok, ia pun menganggukkan tawarannya.
            Safina langsung menaiki motor tanpa aba-aba. Adam menyodorkan helm padanya. Adam sudah tahu ia harus kemana, karena ia sudah pernah mengantarnya pulang. Dalam perjalanan Safina banyak diam, mungkin karena ada masalah, karena daritadi juga banyak melamun. Adam hanya mengira-ngira. Akhirnya merekapun sampai di gang rumah Safina.
            “Makasih ya Dam,” Adam hanya mengangguk. Lalu Safina pergi.
            “Tunggu!” Safina pun berbalik.
            “Ada apa?” tanyanya bingung.
            “Helm gue balikin!” Safina pu tersadar, ia melepas helmnya dan menyodorkan pada Adam.
            “Eh tunggu deh!” cegah Adam lagi.
            “Ada apa lagi?”
            “Sini, duduk sini bentar!” Adam turun dari motornya, dan duduk di sebuah Gazebo depan toko yang tertutup. Safinapun mengikuti perintahnya.
            “Lo kenapa, daritadi ngelamun mulu? Lagi ada masalah?”
            “…” Safina tak menjawab, ia hanya menerawang jauh.
            “Ya udah kalau gak mau cerita, gue—“ belum sempat bicara, Safina pun bangkit.
            “Eh besok ikut gue yuk!” ajaknya. Adam hanya mengernyit.
            “Sebenarnya gue lagi stress banget. Tapi gue gak bisa cerita sama lo. Tapi gue bingung mau ngapain ya daritadi, terus gue punya ide deh. kan besok libur nih weekend. Lo kosong jam berapa?” mendengar tawaran Safina, Adam menjadi semangat.
            “Oh oke. Gue free!” katanya tersenyum. “Mau kemana emang?” tanyanya penasaran.
            “Rahasia, yang jelas seru. Dan bakal ngilangin stress gue. Kita ketemuan di perempatan Kalibata ya? Jam 9 pagi.”
            “Lo nggak di jemput aja?” tawarnya, Safina hanya menggeleng. Adam pun hanya mengangguk.
***
            Hari yang ditunggu Adam tiba. Ia menantikan jalan bareng Safina, walaupun itu memang ajakan Safina karena ia merasa stress. Tapi tak apa, karena ia senang bisa berteman apalagi kalau sampai dekat dengannya. Dari seberang jalan, Safina melambaikan tangannya. Adam menghampirinya. Setelah basa basi, Adam langsung menuruti perintah Safina. Kemana ia akan mengajaknya.
            Tidak jauh dari lokasi ketemuannya, masuk ke dalam gang. Mereka pun sampai di lokasi.
            “Junggle Outbond?” Adam mengernyit.
            “Yups! Selamat datang di arena favorit gue,” pekik Safina. Safina langsung lari dan masuk ke dalam, terlihat penjaga tiket itu seperti sudah hafal dengannya. Mereka langsung masuk dan tiba di tujuannya.
“HAHH? Buggie jumping? Lo serius?” Adam terbelalak melihat wahana itu, ia menelan ludah dan panic.
“Yuhu, gue tantang lo! Berani nggak lo naik ini. Kalau lo berani, gue bakal kabulin satu permintaan lo,” Adam hanya semakin panas dingin, ia tak ingin Safina tahu jika sangat takut ketinggian. Disisi lain ia ingin tawarannya yang mengatakn akan mengabulkan permintaannya. Dengan sangat berat hati ia menyetujuinya.
            Safina dengan enjoy nya ia melakukan buggie jumping, ia naik dengan semangat. Sementara Adam hanya mengikutinya dengan lemas. Menaiki anak tangga dan pemandangan terbuka saja membuat kakinya lemas, ia tak bisa membayangkan jika ia harus terjun di ketinggian 10 meter. What? 10 meter, mungkin dia akan pingsan. Batinnya berkecamuk.
            Kini gilirannya, Safina menunggu di bawah. Semua alat keselamatan telah di sematkan di seluruh tubuhnya, Safina meneriakinya dari bawah. Sedangkan Adam ragu-ragu. Ia belum siap. Padahal petugas sudah melepasnya untuk segera terjun. Sudah hampir sepuluh menit Adam masih diatas. Melihat itu Safina menjadi khawatir, namun rasa itu buyar ketika melihat Adam berteriak, yah. Dia melompat.
            “MAMAA!! AAA! MAMA!”
            “MAMA MAAFIN ADAM MAA!”
            “MAMAAAAAAAAA..” Teriakan itu terhenti tiba-tiba. Safina yang melihatnya langsung lari.
            Safina menepuk-nepuk pipi Adam. Yah, dia pingsan setelah berteriak. Wajahnya memerah karena berteriak dan mungkin menangis. Petugas membantu Safina membawa di pos jaga.
            “Adam. Bangun dong!” safina masih menepuk-nepuk pipinya. Ia sesekali mengolesi minyak kayu putih, namun tak kunjung sadar.
            “Ma.. mama… mama..” Adam mulai meracau. Safina menyadarkannya.
            “Dam, lo nggak pa-pa?” beberapa saat ia mulai sadar.
            “Eh, Fina? Kita dimana nih?”
            “Lo pingsan! Masih di pos jaga jungle outbond.” Adam memijat kepalanya yang pusing, dan mengerjap-ngerjap untuk memulihkan kesadarannya. Namun, badanya serasa lemas sekali.
            “Wah Dam? Kok muka lo jadi pucet banget. Lo pusing ya? Ha? Lo kok tiba-tiba panas badannya?” Safina memeriksa dahinya.

TO BE CONTINUE