MASA MUDA
(EP. 6)
Entah
mengapa sejak dalam perjalanan pulang, perasaan Safina tidak enak. Tiba-tiba
HPnya berbunyi. Reza? Safina mengernyit setelah kemudian ia mengangkat
telponnya.
“Halo
Za?”
“Lo
dimana Fin? Kok tadi lo nggak ke basecamp?” Safina hanya tersenyum kecut
mendengar suara diseberang sana.
“Kok
diem Fin?” Tanya Reza lagi.
“Hah?
Nggak Za, gue lagi sibuk aja. Lo tahu kan gue sibuk nyari part time…” kata
Safina menggantung.
“Oh,
lo kenapa gak bilang gue. Kan gue bisa nyariin yang pas dan aman buat lo, gue
banyak kok—“ belum sempat Reza mengoceh, Safina memotong pembicaraannya.
“Eh
Za, ntar deh. ibu gue telpon nih. Kali aja ada yang penting. Udah ya? Dah!”
Safina segera menutup telponnya, dan mengangkat dari ibunya.
“Safina,
kamu dimana? Sudah pulang belum?” terdengar suara yang sedih di seberang sana,
membuat Safina khawatir.
“Bu,
ada apa bu? Kok kayak nya ibu nangis ya?”
“Ayahmu
Fin… Ayahmu..” kata ibunya dengan sedikit terisak.
“Hah?
Ayah kenapa bu? Kalian nggak pa-pa kan?” Fina semakin khawatir.
“Cepat
kamu ke Rumah Sakit Harapan Medika, Ayahmu kecelakaan,” segera setelah itu
Safina meminta supir putar balik dan segera menuju Ayahnya dirawat.
***
Setelah
keluar dari taxi, Safina langsung berlari. Tanpa ia sadari air matanya mengalir
begitu saja. Ia segera mencari ruangan ayahnya. Sampai akhirnya ia melihat
ibunya di koridor rumah sakit.
“Ibu!”
pekik Fina saat ibunya tengah tertunduk sedih.
“Nak.
Kamu dari mana nak?” tanya ibunya mengabaikan pertanyaan Fina.
“Bu,
ayah nggak pa-pa kan?” tanya Safina Khawatir.
“Ayahmu
habis ditabrak orang saat pulang kerja. Dan orangnya nggak bertanggung jawab.”
“Astaghfirullah.
Terus bagaimana keadaannya?”
“Entahlah,
masih di tangani dokter,” Safina dan ibunya hanya saling berpelukan dan
berharap keajaiban pada sang ayah.
***
Keesokan
harinya di kampus. Kali ini Reza dan Adam datang bersamaan. Membuat keduanya
harus bertatapan sengit. Keduanya kini telah saling berhadapan. Menatap dengan
penuh kilatan. Rupanya perang dingin antara mereka tak pernah terselesaikan.
“Cih!
Kenapa juga ketemu orang kayak elo!” cetus Reza.
“Lo
pikir gue mau?” balas Adam melengos.
Terlihat
anak-anak kampus yang melihat ini berkumpul, mereka tahu kalau Reza dan Adam
adalah rival, dan mereka yakin jika Adam dan Reza bertemu mereka pasti akan
duel.
“Cih!
Dasar, kemaren lo beruntung aja kalau gue kalah.” Reza membela diri.
“Loser
is a LOSER!” cetus Adam penuh penekanan.
“Sialan!”
Reza mengepalkan tangannya, rahangnya menggeretak, siap meninju wajah Adam yang
menurutnya sangat menyebalkan.
BUGH!!
Reza
melayangkan tinjunya. Ia tersulut emosi, namun Adam hanya meringis kesakitan.
“Beraninya
lo. Kalau lo nggak terima sama kekalahan lo, kita balapan lagi. Balapan motor.”
Tantang Adam kemudian.
“Oke!
Gue tunjukin ke elo, kalau elo—“ kemudian mengacungkan jempolnya dan ia balikan
ke bawah—cemen dengan remeh. Reza mendengus kesal meninggalkan Adam sendirian
***
Setelah
kelas usai, Reza buru-buru keluar dari kelas. Ralin—notabenenya satu jurusan
dan sering mengambil kelas yang sama,
mengejar Reza karena merasa aneh dengan sikapnnya sejak pagi.
“Za!
Lo mau kemana? Tunggu!” Ralin menarik lengan Reza. Kini Reza mendengus kesal,
ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya.
“Lo
kenapa sih Za? Dari tadi kayaknya bĂȘte banget?” tanya Ralin sanksi.
“Hm.
Gue kesel sama Adam saingan gue. Gue juga kesal, si Safina nggak ada kabar. Lo
tau dimana si Safina?” Reza memilih duduk di gazebo depan kelas.
“Safina?”
Ralin mengernyit tak mengerti.
“Iya,
dia itu kemaren gue telpon, eh buru-buru di tutup katanya ibunya telpon. Eh pas
gue telpon bailik udah gak aktif aja nomornya, sampai sekarang.” Reza menunduk
lelah. Ralin hanya tersenyum kecut.
“Oh,
kalau itu juga nggak tahu. Eh by the way lo ntar lagi ada acara nggak?” tanya
Ralin mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa?”
Reza mengernyit.
“Gue
boleh minta tolong nggak? Please..” Ralin memohon.
“Tolong
apa?” tanya Reza heran.
“Entar
lo tahu deh. ini penting banget soalnya, dan dari sahabat-sahabat kita Cuma elo
yang bisa.”
“Emang
apa sih? Berhubungan dengan?” Reza mengedikkan bahu merasa bingung.
“Buggie
Jumping!” cetus Ralin, Reza lalu ber oh ria. Sambil tersenyum simpul.
“Oh
elo mau di ajarin? Lo mau ikut lomba lompat indah buggie jumping? Eh tunggu
deh, Safina kan juga suka banget buggie jumping? Lo udah ngubungi dia belum?
Siapa tahu dia mau diajak barengan gitu…” seru Reza semangat mengingat kesukaan
Safina. Tapi Ralin hanya mendengus kesal, hatinya dongkol.
“Nah
itu dia, gue juga gak bisa ngubungin dia. Padahal acara tiga hari lagi. Lo mau
kan bantuin gue? Lo tahu gue trauma sejak dua tahun lalu kepleset di jurang
gunung Ciremei?” Ralin bergiding ngeri mengingat kejadian yang lalu, yang
membuatnya menghindari ketinggian—padahal sangat menyukainya.
“Ah,
ya. Gue usahakan. Karena lo sahabat gue,” kata Reza dengan nada datar.
“Yey!
Thanks Za,” kali ini Ralin tersenyum sumringah. Dalam hatinya, ia senang karena
akan terbebas dari makhluk bernama Safina.
***
Disisi
lain, Safina dan ibunya masih menunggu ayahnya. Ini sudah hari ke 3 sejak ayahnya
masuk rumah sakit. Rupanya terjadi masalah dengan kakinya, sehingga di butuhkan
waktu yang agak lama untuk menyembuhkannya. Seorang dokter bernama dokter Yohan
keluar dari ruangan, setelah memeriksa. Safina dan ibunya segera
menghampirinya.
“Bagaimana
dengan suami saya dokter?” ibu Safina langsung menanyakan keadaan ayahnya.
Diikuti anggukan dari Safina.
“Begini
bu. Suami ibu mengalami patah tulang ringan di pergelangan kaki, sehingga
membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 bulan,” ibunya dan Safina sontak
terbelalak mendengar kabar itu.
“Tapi
tenang saja. Kami akan mengusahakan yang terbaik. Kami akan memberikan alat
pada kakinya, sehingga kuat untuk belajar berjalan, jadi sementara harus pakai
tongkat dulu, sampai benar-benar pulih.” Dokter mencoba menenangkan keduanya.
Lalu Safina dan ibunya hanya bisa pasrah.
“Kira-kira
kapan bisa pulang dok?” tanya Safina kemudian.
“Besok
sudah bisa. Tapi masih harus pakai kursi roda, sambil nanti belajar berjalan
setelah dua hari ya bu? Kalau ada kemajuan ibu bisa hubungi saya, karena masih
harus control sampai 2 atau 3 bulan ke depan.” Cetus dokter Yohan dengan
senyumnya. Keduanya mengangguk paham.
“Baiklah
dok, terimakasih.” Kata ibu Safina kemudian. Dokter Yohan mengangguk lalu
permisi untuk pergi, baru satu langkah HPnya berbunyi, lalu mengisyaratkan
untuk berlalu dan meneruskan kegiatan Safina dan ibunya, Safina masih di luar
melihat dokter Yohan menerima telpon. Entahlah Safina merasa kepo dengan
dokter—yang kira-kira seumuran dengan ayahnya dan baik yang sabar dan plus plus
pokoknya.
“Iya
halo?” jawab dokter Yohan.
“…”
suara di seberang terdengar mengomel, namun dokter hanya terkekeh.
“Papa
nggak maksa kamu ke sini untuk belajar tentang medis, tapi ada beberapa hal
yang ingin papa kasih ke kamu,” jawab dokter.
“…”
suara disana masih sayup-sayup terdengar mendengus.
“Iya,
iya. Jaga adikmu baik-baik. Jangan berantem. Kamu tahu kan kalau kamu harus
jaga adikmu sejak mamamu pergi. Maafkan papa ya, papa harus ngebesarin kalian
sendiri,” suara dokter tertahan, mungkin menahan sesuatu untuk keluar, terlihat
dokter Yohan mengusap wajahnya kasar.
“…”
“Ya
sudah. Besok kamu harus ke Rumah Sakit! Libur dulu nyanyinya, libur dulu
ngelukisnya. Kan weekend. Harus!” perintah dokter Yohan, lalu ia menutup
telponnya.
Di
depan pintu Safina masih berdiri mendengarkan. Ia membuat
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan keluarga dokter Yohan, dan
kemungkinan si penelpon barusan.
TO BE CONTINUE


