Jumat, 11 Maret 2016

Terjebak Dunia Dianan



TERJEBAK DUNIA DIANA
“Kalau kau anggap ini semua tidak serius. Kau salah besar. Kau!” Diana menunjuk Ramuel yang sedang mendecih, lalu balas menatap tajam dan mengedikkan bahu acuh.
“Pecundang kelas kakap! Bye maksimal!” Diana meninggalkan Ramuel yang terheran-heran.
***
            Kejadian itu sudah sebulan lalu terjadi. Kejadian yang membuat Diana syok berat saat mengetahui Ramuel memainkan perasaannya. Ramuel adalah musisi di kampusnya. Ia menjadikan Diana sebagai ajang taruhan, sebagai balasannya maka Lecy akan menerima Ramuel sebagai pasangannya. Ramuel memang tergila-gila dengan Lecy sang primadona kampus. Seandainya Ramuel kalah taruhan, maka ia harus serahkan gitar kesayangannya—yang jika di jual bernilai puluhan juta pada teman-temannya itu.
            Sayup-sayup  Ramuel terngiang perkataan Diana.
            “Oh, jadi selama ini kau mempermainkanku? Setelah semua terjadi, ku pikir kau tulus ya? Kau tampak begitu tulus waktu itu. Melewati hari bersamamu. Dan bodohnya aku percaya. Lalu jatuh cinta beneran. Tapi setelah semua ini apa? Semoga kau juga tak terjebak permainanmu sendiri Ram. Ku doakan kau semoga tak jatuh cinta beneran sama aku, biar saja aku yang rasakan sakit ini.” Begitulah oceh Diana saat memergoki Ramuel berbincang dengan Lecy dan teman-temannya.
            “Yups. Kau boleh putuskan aku kalau mau.” Suara Ramuel sedikit tercekat dan tergetar namun mencoba tenang.
“Kalau kau anggap ini semua tidak serius. Kau salah besar. Kau !” Diana menunjuk Ramuel yang sedang mendecih, lalu balas menatap tajam dan mengedikkan bahu acuh.
“Pecundang kelas kakap! Bye maksimal!” Diana meninggalkan Ramuel yang terheran-heran.
“Maaf, Diana. Aarrgh...” Ramuel mengacak rambut frustasi melihat kepergian Diana. Setelah setahun ia bersama, mencoba mengenal lebih dekat yang namanya Diana, lalu menembaknya. Semua itu seakan bukan karena taruhan, tapi setelah seminggu berjalan, rupanya kali ini Lecy yang menginginkan Ramuel dan teman-temannya-pun membujuk Ramuel memutuskan Diana. Sampai saat mereka ketemuan untuk penyerahan Lecy. Diana menguping.
***
            Sepertinya hal yang tak diinginkan terjadi dengan Ramuel. Betapa Diana adalah gadis idaman. Ia yang ceria, yang selalu bisa buat tersenyum siapapun yang di dekatnya, ia gadis yang baik hati dan sabar. Ada ketulusan di setiap langkahnya. Mungkin dari luar ia hanyalah orang biasa yang cupu dan pintar, dan kebanyakan orang memanfaatkan kepintarannya dengan di bully. Tapi, saat Ramuel mulai bisa membuka matanya yang terlihat adalah Diana yang cantik, yang sabar dan mengajarkan banyak kebaikan. Lalu ia mulai melupakan taruhan, tapi perasaannya masih bimbang, dimana ia masih menginginkan Lecy tapi mulai tertarik dengan dunia Diana.
            Pilihan tetap pilihan, Ramuel telah memilih Lecy. Penyesalan tetap ada. Tapi Ramuel tak sanggup melihat ia menyakiti Diana lebih jauh lagi. Ramuel memilih mulai melupakan dan menjauhi Diana.
***
            Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, setahun... berlalu tapi Ramuel tak merasa bahagia bersama Lecy. Ia hanya merindukan sosok Diana. Bahkan Diana yang dulu biasa berjualan di kantin atau membagikan permen ke anak jalanan di jembatan sebelah kampus juga tak pernah muncul lagi. Ramuel berinisiatif menanyakan pada anak-anak jalanan itu.
            “Permisi dek. Nih kakak bawain makanan buat kalian, ayo ngumpul-ngumpul.” Ramuel membawa 2 kantong kresek yang berisi banyak makanan. Ia dulu pernah di ajak Diana main di sini.
            “Yee.. ada kak Ramuel bawa makanan, ayo ngumpul,” teriak salah satu anak yang menyambut Ramuel.
            “Kok sendirian kak? Kak Diana mana? Sudah lama banget kak Diana gak pernah mampir. Kita kangen.” Celetuk salah seorang.
            “Loh, emang sejak kapan kak Diana gak pernah mampir?” tanya Ramuel penasaran.
            “Sudah setahun mungkin. Terakhir ke mari kak Diana banyak berpesan dan meminta maaf. Katanya mau pulang kampung sebentar dan janji mau balik lagi untuk ngajari kita kak.”
            “Pulang kampung? Oh jadi kak Diana selain bagi permen juga ngajari kalian baca tulis ya?”
            “Iya kak. Kok kakak gak tahu sih. Kakak kan pacarnya. Waktu itu juga kesini sama kak Diana. Tapi sayang, kakak kan gak mau gabung sama kita dan nunggu di jalan ya?” komen salah satu anak yang makan dengan lahab itu.
            “Hehe, iya maaf. Kakak waktu itu terburu-buru. Bukan, kakak bukan pacarnya, hanya teman. Dan kita tidak sedekat itu. Oh ya, emang kampung kak Diana dimana sih?”
            “Wah, gak tahu ya kak.”
            “Oh, ya udah. Abisin makannya ya?”
            “Iya, makasih kak.”
            Setelah menemui anak-anak itu, Ramuel segera beranjak pamit meninggalkan anak-anak itu. Meskipun Cuma sekali ia ke tempat itu, mereka mengenali Ramuel karena ia adalah satu-satunya teman Diana yang pernah di ajak kesitu.
            Tiba-tiba, saat Ramuel meninggalkan kawasan itu ia berpapasan dengan seorang gadis yang terlihat buru-buru sampai tak melihat siapa yang di hadapannya. Ramuel langsung sadar dan berbalik. Gadis itu... Diana.
            “Diana,” panggil Ramuel. Sontak Diana langsung berhenti. Sepersekian detik ia masih mencoba mencerna suara yang barusan memanggilnya. Ia masih sangat ingat itu suara siapa. Jantungnya masih berdegup mendengarnya, hawa panas dingin menyergap. Itu suara Ramuel. Perlahan-lahan ia mulai berbalik.
            “Ram?” kebiasaan Diana hanya memanggil Ramuel dengan sebutan Ram.
            “Doamu itu nggak manjur Di. Kau benar, aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Bahkan sampai setahun ini, aku menyesalinya. Aku salah jika kau menderita sendiri. Aku juga merasakannya. Maaf, kini aku-pun tahu rasa sakitnya. Maaf banget Di.”
            “Aku sudah memaafkanmu Ram. Dari dulu juga aku sudah memaafkanmu.” Diana mengembangkan senyumnya lalu mendekati Ramuel.
            “Aku benar-benar jatuh cinta padamu Di. Semoga kau masih menyimpan rasa untukku. Apakah kau mau kembali padaku? Aku benar-benar menderita Di.”
            “Maaf Ram. Kali ini aku yang benar-benar minta maaf. Itu semua sudah berlalu, dan kau sangat terlambat Ram.” Ramuel-pun berubah ekspresi menjadi khawatir. Lalu datanglah seorang lelaki tampan yang memanggil Diana.
            “Sayang, alat-alat tulisnya masih banyak yang belum di turunkan.” Lalu Diana membalas dengan jawaban “ya” lalu menjelaskan pada Ramuel yang terlihat bingung.
            “Maaf. Tapi aku sudah menikah dengan Axel. Aku sudah menikah Ram. Aku mulai belajar melupakanmu. Dan Axel-lah penolongku.”

Author : Wasi'atul Amalia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar