TERJEBAK DUNIA DIANA
“Kalau kau anggap
ini semua tidak serius. Kau salah besar. Kau!” Diana menunjuk Ramuel yang
sedang mendecih, lalu balas menatap tajam dan mengedikkan bahu acuh.
“Pecundang kelas
kakap! Bye maksimal!” Diana
meninggalkan Ramuel yang terheran-heran.
***
Kejadian
itu sudah sebulan lalu terjadi. Kejadian yang membuat Diana syok berat saat
mengetahui Ramuel memainkan perasaannya. Ramuel adalah musisi di kampusnya. Ia
menjadikan Diana sebagai ajang taruhan, sebagai balasannya maka Lecy akan
menerima Ramuel sebagai pasangannya. Ramuel memang tergila-gila dengan Lecy
sang primadona kampus. Seandainya Ramuel kalah taruhan, maka ia harus serahkan
gitar kesayangannya—yang jika di jual bernilai puluhan juta pada teman-temannya
itu.
Sayup-sayup Ramuel terngiang perkataan Diana.
“Oh,
jadi selama ini kau mempermainkanku? Setelah semua terjadi, ku pikir kau tulus
ya? Kau tampak begitu tulus waktu itu. Melewati hari bersamamu. Dan bodohnya
aku percaya. Lalu jatuh cinta beneran. Tapi setelah semua ini apa? Semoga kau
juga tak terjebak permainanmu sendiri Ram. Ku doakan kau semoga tak jatuh cinta
beneran sama aku, biar saja aku yang rasakan sakit ini.” Begitulah oceh Diana
saat memergoki Ramuel berbincang dengan Lecy dan teman-temannya.
“Yups.
Kau boleh putuskan aku kalau mau.” Suara Ramuel sedikit tercekat dan tergetar
namun mencoba tenang.
“Kalau kau anggap
ini semua tidak serius. Kau salah besar. Kau !” Diana menunjuk Ramuel yang
sedang mendecih, lalu balas menatap tajam dan mengedikkan bahu acuh.
“Pecundang kelas
kakap! Bye maksimal!” Diana
meninggalkan Ramuel yang terheran-heran.
“Maaf, Diana.
Aarrgh...” Ramuel mengacak rambut frustasi melihat kepergian Diana. Setelah
setahun ia bersama, mencoba mengenal lebih dekat yang namanya Diana, lalu
menembaknya. Semua itu seakan bukan karena taruhan, tapi setelah seminggu
berjalan, rupanya kali ini Lecy yang menginginkan Ramuel dan teman-temannya-pun
membujuk Ramuel memutuskan Diana. Sampai saat mereka ketemuan untuk penyerahan
Lecy. Diana menguping.
***
Sepertinya
hal yang tak diinginkan terjadi dengan Ramuel. Betapa Diana adalah gadis
idaman. Ia yang ceria, yang selalu bisa buat tersenyum siapapun yang di
dekatnya, ia gadis yang baik hati dan sabar. Ada ketulusan di setiap
langkahnya. Mungkin dari luar ia hanyalah orang biasa yang cupu dan pintar, dan
kebanyakan orang memanfaatkan kepintarannya dengan di bully. Tapi, saat Ramuel
mulai bisa membuka matanya yang terlihat adalah Diana yang cantik, yang sabar
dan mengajarkan banyak kebaikan. Lalu ia mulai melupakan taruhan, tapi
perasaannya masih bimbang, dimana ia masih menginginkan Lecy tapi mulai
tertarik dengan dunia Diana.
Pilihan
tetap pilihan, Ramuel telah memilih Lecy. Penyesalan tetap ada. Tapi Ramuel tak
sanggup melihat ia menyakiti Diana lebih jauh lagi. Ramuel memilih mulai
melupakan dan menjauhi Diana.
***
Seminggu,
dua minggu, sebulan, dua bulan, setahun... berlalu tapi Ramuel tak merasa
bahagia bersama Lecy. Ia hanya merindukan sosok Diana. Bahkan Diana yang dulu
biasa berjualan di kantin atau membagikan permen ke anak jalanan di jembatan
sebelah kampus juga tak pernah muncul lagi. Ramuel berinisiatif menanyakan pada
anak-anak jalanan itu.
“Permisi
dek. Nih kakak bawain makanan buat kalian, ayo ngumpul-ngumpul.” Ramuel membawa
2 kantong kresek yang berisi banyak makanan. Ia dulu pernah di ajak Diana main
di sini.
“Yee..
ada kak Ramuel bawa makanan, ayo ngumpul,” teriak salah satu anak yang
menyambut Ramuel.
“Kok
sendirian kak? Kak Diana mana? Sudah lama banget kak Diana gak pernah mampir.
Kita kangen.” Celetuk salah seorang.
“Loh,
emang sejak kapan kak Diana gak pernah mampir?” tanya Ramuel penasaran.
“Sudah
setahun mungkin. Terakhir ke mari kak Diana banyak berpesan dan meminta maaf.
Katanya mau pulang kampung sebentar dan janji mau balik lagi untuk ngajari kita
kak.”
“Pulang
kampung? Oh jadi kak Diana selain bagi permen juga ngajari kalian baca tulis
ya?”
“Iya
kak. Kok kakak gak tahu sih. Kakak kan pacarnya. Waktu itu juga kesini sama kak
Diana. Tapi sayang, kakak kan gak mau gabung sama kita dan nunggu di jalan ya?”
komen salah satu anak yang makan dengan lahab itu.
“Hehe,
iya maaf. Kakak waktu itu terburu-buru. Bukan, kakak bukan pacarnya, hanya
teman. Dan kita tidak sedekat itu. Oh ya, emang kampung kak Diana dimana sih?”
“Wah,
gak tahu ya kak.”
“Oh,
ya udah. Abisin makannya ya?”
“Iya,
makasih kak.”
Setelah
menemui anak-anak itu, Ramuel segera beranjak pamit meninggalkan anak-anak itu.
Meskipun Cuma sekali ia ke tempat itu, mereka mengenali Ramuel karena ia adalah
satu-satunya teman Diana yang pernah di ajak kesitu.
Tiba-tiba,
saat Ramuel meninggalkan kawasan itu ia berpapasan dengan seorang gadis yang
terlihat buru-buru sampai tak melihat siapa yang di hadapannya. Ramuel langsung
sadar dan berbalik. Gadis itu... Diana.
“Diana,”
panggil Ramuel. Sontak Diana langsung berhenti. Sepersekian detik ia masih
mencoba mencerna suara yang barusan memanggilnya. Ia masih sangat ingat itu
suara siapa. Jantungnya masih berdegup mendengarnya, hawa panas dingin
menyergap. Itu suara Ramuel. Perlahan-lahan ia mulai berbalik.
“Ram?”
kebiasaan Diana hanya memanggil Ramuel dengan sebutan Ram.
“Doamu
itu nggak manjur Di. Kau benar, aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu.
Bahkan sampai setahun ini, aku menyesalinya. Aku salah jika kau menderita
sendiri. Aku juga merasakannya. Maaf, kini aku-pun tahu rasa sakitnya. Maaf
banget Di.”
“Aku
sudah memaafkanmu Ram. Dari dulu juga aku sudah memaafkanmu.” Diana
mengembangkan senyumnya lalu mendekati Ramuel.
“Aku
benar-benar jatuh cinta padamu Di. Semoga kau masih menyimpan rasa untukku.
Apakah kau mau kembali padaku? Aku benar-benar menderita Di.”
“Maaf
Ram. Kali ini aku yang benar-benar minta maaf. Itu semua sudah berlalu, dan kau
sangat terlambat Ram.” Ramuel-pun berubah ekspresi menjadi khawatir. Lalu
datanglah seorang lelaki tampan yang memanggil Diana.
“Sayang,
alat-alat tulisnya masih banyak yang belum di turunkan.” Lalu Diana membalas
dengan jawaban “ya” lalu menjelaskan pada Ramuel yang terlihat bingung.
“Maaf.
Tapi aku sudah menikah dengan Axel. Aku sudah menikah Ram. Aku mulai belajar
melupakanmu. Dan Axel-lah penolongku.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar