Tak pernah terbayang akan jadi
seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati
bersama tlah hilang dan sirna
Hitam putih perlu janji
kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara tlah kita lewati
tuk dapatkan jawaban ini
Bila memang harus berpisah aku akan
tetap setia
Bila memang ini ujungnya kau kan
tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
dunia kita berbeda
Bila memang ini
ujungnya kau kan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah tapi ku tetap
menjalani kosongnya hati
Semua mimpi kita yang pernah
terjadi di simpan tuk jadi histori
Hari
dimana semua anak muda lajang impikan kini di depan mata. Iya, hari pernikahan.
Hari ini adalah hari pernikahanku dengan seseorang yang ku kenal singkat. Tapi
bagaimana mungkin di hari yang seharusnya berbahagia ini hatiku teringat akan
sesosok dirinya.
Aku berkaca pada cermin. Setelah
selesai di rias, aku meminta waktu untuk sendiri. Kulihat diriku di balik
cermin dengan sanggul dan di rias pengantin Jawa. Dengan paes dan riasan itu
aku terlihat berbeda manglingi kata
orang Jawa. Rasanya masih percaya tidak percaya. Tapi... mungkin ini adalah
sebuah jawaban dari doaku selama ini. Saat seperti ini, aku teringat masa lalu.
***
“Aku
ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak ...” sosok lelaki yang bertubuh
dempal dan tinggi ini berlutut melamarku.
“Maukah
kamu menjadi pertama dan terakhir untukku?” dan aku hanya bisa terperangah oleh
kata-katanya.
Setelah
setahun menjalin hubungan dengan Rehan kali ini ia melamarku. Putus nyambung
sudah sering terjadi. Semua waktu yang pernah kita lewati bersama selalu
memberikan kesan. Aku sayang sama Rehan.
Memoriku
seakan memutar klip kenanganku bersama Rehan. Dia memang lelaki yang sangat
lembut dan tenang. Sifatnya tak mudah gegabah. Aku bahkan hampir tahu kelakuan
buruknya. Setidaknya aku tahu juga kalau dia sudah menguranginya.
Lalu
ku jawab lamarannya dengan senyum. Dalam senyumku-pun ada kegelisahan. Ada
sesuatu yang aneh. Bukankah ini yang ku tunggu? Lalu mengapa hatiku tak merasa
bahagia. Bukan, bukan tak bahagia. Aku bahagia karena di lamar oleh orang yang
ku cintai. Tapi ada rasa ragu di hati.
***
Setelah hari lamaran secara personal
itu, aku masih merasa gelisah. ku putuskan untuk bercerita pada ibuku. Dan
ibuku hanya menyuruhku untuk berdoa, minta jawaban atas kegelisahan ini.
Setelah satu minggu lebih aku tak
bertemu Rehan, aku juga terus meminta petunjuk. Komunikasi masih jalan tapi
justru semakin jarang. Hari itu aku berencana berkunjung ke kantor Rehan.
Niatku ingin melepas rindu, ku bawakan beberapa kue yang ku buat sendiri.
Itu adalah kali pertama aku
berkunjung kesana. Karena tak bisa di hubungi aku bertanya pada bagian
informasi untuk menanyakan keberadaan Rehan.
“Maaf mbak, bisa bertemu dengan
Rehan? Rehan Attalah,”
“Maaf, apa sudah buat janji?”
“Em, belum sih. Tapi kira-kira
Rehannya ada nggak ya?”
“Sebentar, coba saya panggilkan,”
Kemudian mbak itu menekan tombol telepon, lalu menanyakan namaku. Beberapa
detik kemudian.
“Maaf mbak. Mbak tunggu aja di lobi
lantai dua. Pak Rehan sebentar lagi ada rapat. Mungkin 30 menit selesai.” Menunggu 30 menit? Okelah. Begitu
pikirku dalam hati.
“Makasih mbak.”
***
Setelah 30 menit ku tunggu, tapi
Rehan belum juga muncul. Aku-pun mulai gelisah. apalagi sebenarnya aku paling
tak suka menunggu. Setelah satu jam belum juga muncul. Dengan suasana hati yang
kesal dan kecewa pun ku putuskan untuk pergi saja, namun saat aku berdiri dan
langsung berbalik dari kursi tak sengaja aku menabrak seseorang, sampai orang
itu jatuh. Dan kue yang rata-rata banyak coklatnya jatuh berhamburan menimpa
orang itu. Aku hanya bisa melongo. Salah siapa dia berjalan cepat dan tak
melihat diriku.
“Kamu!” dia menunjukku, dan aku
hanya menutup mulut. Lalu buru-buru ku bereskan kue-kue yang berserakan.
“Hati hati dong! Argh.. jadi coklat
semua kan?” aku hanya diam dan tak berinisiatif untuk minta maaf. Orang ini
kelihatan belagu dan sok banget deh. Emang ganteng sih, tapi ...
“Heh, mau kemana?” katanya saat aku
beranjak pergi tanpa sepatah kata-pun.
“Maaf, lain kali saya akan
berhati-hati.” Kataku karena tak ingin memperpanjang masalah.
“Aku mau kamu belajar tanggung
jawab. Aku gak tahu kamu siapa dan ngapain ya, tapi baju ini kotor karena kamu
padahal aku harus balik ke ruang rapat.”
“Tapi saya juga ada urusan penting.”
“Bersihkan ini di pantri dan harus selesai
setelah 5 menit.”
Dengan terpaksa aku-pun harus
membersihkan kemejanya yang belepotan coklat. Ia mengantarku dan menungguku di
pantri. Tapi, saat aku sedang menunggu baju itu kering di mesin cuci, tak
sengaja aku melihat Rehan berjalan melewati pantri bersama ibunya. Aku-pun
reflek pergi menyusul Rehan. Sedang orang tadi memanggilku.
“Rehan.” Rehan dan ibunyapun
menoleh. Tapi pandangan Rehan justru berubah cemas dan ketakutan. Ku akui
memang ibunya tak pernah benar-benar suka denganku. Entahlah.
“Loh, Shella? Kamu kok di sini?”
tanyanya heran.
“Iya, aku dari tadi.”
“Biar mama yang bicara Rehan,”
ibunya langsung menemuiku dan mengajak duduk.
***
Wah, saat itu perkataan ibu Rehan
membuatku kaget. Dengan mudahnya dia bilang untuk membatalkan pertunangan
resmi. Dia tidak bisa menerima mantu sepertiku. Dan Rehan masih sangat muda
untuk menikah. Begitu banyak lagi alasan yang rasanya di ada-adakan. Anehnya
aku gak marah atau kesal, hanya kecewa. Rehan memang sangat penurut dengan
ibunya.
Semuanya berakhir begitu saja. Aku
sangat kecewa. Bahkan Rehan tak berkata sepatah katapun. Dia pergi bersama
ibunya. Aku masih duduk di kursi dekat pantri. Saat seperti itu, orang tadi
masih menuntut tanggung jawabku? Aahh, gila.
“Eh, bajuku dong di urus dulu. Aku
gak tahu ya apa hubungan kamu dan Rehan. tapi jangan lupakan tanggung jawab.”
Lalu aku kembali ke pantri. Aku pasrah. Setelah urusan ini selesai aku akan
pulang dan tak ingin berlama-lama disini.
“Ini sudah bersih.” Ku serahkan
kemejanya itu.
“Hem, aku David. Sepertinya kamu
sedang butuh teman. Mau ngopi?” tiba-tiba orang tadi berubah jadi asi atau
hanya sok asik dan sok peduli. Tapi masa bodo lah, sepertinya tawarannya
menarik, lalu ku iyakan.
***
Seminggu setelah putus dan bertemu
David. Tiba-tiba aku memimpikan sosok David dalam tidurku. Setelah itu, entah
mengapa aku menjadi dekat dengannya.
Rasa traumatik masih ada. Apalagi
hal itu begitu saja terjadi beberapa waktu lalu. Tapi, dengan Gentleman David datang ke rumah bersama
orangtuanya. Dia melamarku.
Entah mengapa semuanya di beri
kemudahan. Begitu selesai melamar, dan aku juga langsung mengiyakan. Kita
mencari tanggal untuk pernikahan. Dan itu di gelar tepat sebulan setelah
lamaran ini.
***
Ku dengar seruan “alhamdulillah” di
luar. Sepertinya David telah memlakukan akad dengan lancar. Lalu aku di panggil
untuk keluar, dan tanda tangan surat.
Disini aku duduk. Bersama seseorang
yang ternyata di takdirkan untukku. Sebagus apapun rencana, tapi kalau Tuhan
tak menghendaki tetap saja.
Ternyata Rehan datang di resepsi
pernikahanku kali ini.
“Selamat ya Shella. Terimakasih
untuk kenanganmu. Ternyata kita tidak berjodoh. Semoga kamu sama David bisa
Sakinah Mawadah dan Warrohmah.” Aku meng-amini. Dan David tersenyum
Manusia hanya bisa merencanakan,
tapi Tuhan yang bisa memutuskan. Apakah rencana itu baik atau tidak. Dan Tuhan
Maha membolak-balikkan hati manusianya. Sebegitu cepat perasaanku untuk David,
dan begitu saja menghilangkan kenangan untuk Rehan. selamat tinggal Rehan, pilihanku adalah kamu, tapi nyatanya kau bukan
orang yang mendampingiku di sini karena kau bukanlah pilihan Tuhan. Semoga kita
semua di berkahi dan mengambil hikmahnya.[]
Wasi’atul
Amalia,read.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar