Jumat, 11 Maret 2016

Just Plan



Tak pernah terbayang akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati bersama tlah hilang dan sirna
Hitam putih perlu janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara tlah kita lewati tuk dapatkan jawaban ini
Bila memang harus berpisah aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya kau kan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah tapi ku tetap menjalani kosongnya hati
Semua mimpi kita yang pernah terjadi di simpan tuk jadi histori

Hari dimana semua anak muda lajang impikan kini di depan mata. Iya, hari pernikahan. Hari ini adalah hari pernikahanku dengan seseorang yang ku kenal singkat. Tapi bagaimana mungkin di hari yang seharusnya berbahagia ini hatiku teringat akan sesosok dirinya.
            Aku berkaca pada cermin. Setelah selesai di rias, aku meminta waktu untuk sendiri. Kulihat diriku di balik cermin dengan sanggul dan di rias pengantin Jawa. Dengan paes dan riasan itu aku terlihat berbeda manglingi kata orang Jawa. Rasanya masih percaya tidak percaya. Tapi... mungkin ini adalah sebuah jawaban dari doaku selama ini. Saat seperti ini,  aku teringat masa lalu.
***
“Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak ...” sosok lelaki yang bertubuh dempal dan tinggi ini berlutut melamarku.
“Maukah kamu menjadi pertama dan terakhir untukku?” dan aku hanya bisa terperangah oleh kata-katanya.
Setelah setahun menjalin hubungan dengan Rehan kali ini ia melamarku. Putus nyambung sudah sering terjadi. Semua waktu yang pernah kita lewati bersama selalu memberikan kesan. Aku sayang sama Rehan.
Memoriku seakan memutar klip kenanganku bersama Rehan. Dia memang lelaki yang sangat lembut dan tenang. Sifatnya tak mudah gegabah. Aku bahkan hampir tahu kelakuan buruknya. Setidaknya aku tahu juga kalau dia sudah menguranginya.
Lalu ku jawab lamarannya dengan senyum. Dalam senyumku-pun ada kegelisahan. Ada sesuatu yang aneh. Bukankah ini yang ku tunggu? Lalu mengapa hatiku tak merasa bahagia. Bukan, bukan tak bahagia. Aku bahagia karena di lamar oleh orang yang ku cintai. Tapi ada rasa ragu di hati.
***
            Setelah hari lamaran secara personal itu, aku masih merasa gelisah. ku putuskan untuk bercerita pada ibuku. Dan ibuku hanya menyuruhku untuk berdoa, minta jawaban atas kegelisahan ini.
            Setelah satu minggu lebih aku tak bertemu Rehan, aku juga terus meminta petunjuk. Komunikasi masih jalan tapi justru semakin jarang. Hari itu aku berencana berkunjung ke kantor Rehan. Niatku ingin melepas rindu, ku bawakan beberapa kue yang ku buat sendiri.
            Itu adalah kali pertama aku berkunjung kesana. Karena tak bisa di hubungi aku bertanya pada bagian informasi untuk menanyakan keberadaan Rehan.
            “Maaf mbak, bisa bertemu dengan Rehan? Rehan Attalah,”
            “Maaf, apa sudah buat janji?”
            “Em, belum sih. Tapi kira-kira Rehannya ada nggak ya?”
            “Sebentar, coba saya panggilkan,” Kemudian mbak itu menekan tombol telepon, lalu menanyakan namaku. Beberapa detik kemudian.
            “Maaf mbak. Mbak tunggu aja di lobi lantai dua. Pak Rehan sebentar lagi ada rapat. Mungkin 30 menit selesai.” Menunggu 30 menit? Okelah. Begitu pikirku dalam hati.
            “Makasih mbak.”
***
            Setelah 30 menit ku tunggu, tapi Rehan belum juga muncul. Aku-pun mulai gelisah. apalagi sebenarnya aku paling tak suka menunggu. Setelah satu jam belum juga muncul. Dengan suasana hati yang kesal dan kecewa pun ku putuskan untuk pergi saja, namun saat aku berdiri dan langsung berbalik dari kursi tak sengaja aku menabrak seseorang, sampai orang itu jatuh. Dan kue yang rata-rata banyak coklatnya jatuh berhamburan menimpa orang itu. Aku hanya bisa melongo. Salah siapa dia berjalan cepat dan tak melihat diriku.
            “Kamu!” dia menunjukku, dan aku hanya menutup mulut. Lalu buru-buru ku bereskan kue-kue yang berserakan.
            “Hati hati dong! Argh.. jadi coklat semua kan?” aku hanya diam dan tak berinisiatif untuk minta maaf. Orang ini kelihatan belagu dan sok banget deh. Emang ganteng sih, tapi ...
            “Heh, mau kemana?” katanya saat aku beranjak pergi tanpa sepatah kata-pun.
            “Maaf, lain kali saya akan berhati-hati.” Kataku karena tak ingin memperpanjang masalah.
            “Aku mau kamu belajar tanggung jawab. Aku gak tahu kamu siapa dan ngapain ya, tapi baju ini kotor karena kamu padahal aku harus balik ke ruang rapat.”
            “Tapi saya juga ada urusan penting.”
            “Bersihkan ini di pantri dan harus selesai setelah 5 menit.”
            Dengan terpaksa aku-pun harus membersihkan kemejanya yang belepotan coklat. Ia mengantarku dan menungguku di pantri. Tapi, saat aku sedang menunggu baju itu kering di mesin cuci, tak sengaja aku melihat Rehan berjalan melewati pantri bersama ibunya. Aku-pun reflek pergi menyusul Rehan. Sedang orang tadi memanggilku.
            “Rehan.” Rehan dan ibunyapun menoleh. Tapi pandangan Rehan justru berubah cemas dan ketakutan. Ku akui memang ibunya tak pernah benar-benar suka denganku. Entahlah.
            “Loh, Shella? Kamu kok di sini?” tanyanya heran.
            “Iya, aku dari tadi.”
            “Biar mama yang bicara Rehan,” ibunya langsung menemuiku dan mengajak duduk.
***
            Wah, saat itu perkataan ibu Rehan membuatku kaget. Dengan mudahnya dia bilang untuk membatalkan pertunangan resmi. Dia tidak bisa menerima mantu sepertiku. Dan Rehan masih sangat muda untuk menikah. Begitu banyak lagi alasan yang rasanya di ada-adakan. Anehnya aku gak marah atau kesal, hanya kecewa. Rehan memang sangat penurut dengan ibunya.
            Semuanya berakhir begitu saja. Aku sangat kecewa. Bahkan Rehan tak berkata sepatah katapun. Dia pergi bersama ibunya. Aku masih duduk di kursi dekat pantri. Saat seperti itu, orang tadi masih menuntut tanggung jawabku? Aahh, gila.
            “Eh, bajuku dong di urus dulu. Aku gak tahu ya apa hubungan kamu dan Rehan. tapi jangan lupakan tanggung jawab.” Lalu aku kembali ke pantri. Aku pasrah. Setelah urusan ini selesai aku akan pulang dan tak ingin berlama-lama disini.
            “Ini sudah bersih.” Ku serahkan kemejanya itu.
            “Hem, aku David. Sepertinya kamu sedang butuh teman. Mau ngopi?” tiba-tiba orang tadi berubah jadi asi atau hanya sok asik dan sok peduli. Tapi masa bodo lah, sepertinya tawarannya menarik, lalu ku iyakan.
***
            Seminggu setelah putus dan bertemu David. Tiba-tiba aku memimpikan sosok David dalam tidurku. Setelah itu, entah mengapa aku menjadi dekat dengannya.
            Rasa traumatik masih ada. Apalagi hal itu begitu saja terjadi beberapa waktu lalu. Tapi, dengan Gentleman David datang ke rumah bersama orangtuanya. Dia melamarku.
            Entah mengapa semuanya di beri kemudahan. Begitu selesai melamar, dan aku juga langsung mengiyakan. Kita mencari tanggal untuk pernikahan. Dan itu di gelar tepat sebulan setelah lamaran ini.
***
            Ku dengar seruan “alhamdulillah” di luar. Sepertinya David telah memlakukan akad dengan lancar. Lalu aku di panggil untuk keluar, dan tanda tangan surat.
            Disini aku duduk. Bersama seseorang yang ternyata di takdirkan untukku. Sebagus apapun rencana, tapi kalau Tuhan tak menghendaki tetap saja.
            Ternyata Rehan datang di resepsi pernikahanku kali ini.
            “Selamat ya Shella. Terimakasih untuk kenanganmu. Ternyata kita tidak berjodoh. Semoga kamu sama David bisa Sakinah Mawadah dan Warrohmah.” Aku meng-amini. Dan David tersenyum
            Manusia hanya bisa merencanakan, tapi Tuhan yang bisa memutuskan. Apakah rencana itu baik atau tidak. Dan Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusianya. Sebegitu cepat perasaanku untuk David, dan begitu saja menghilangkan kenangan untuk Rehan. selamat tinggal Rehan, pilihanku adalah kamu, tapi nyatanya kau bukan orang yang mendampingiku di sini karena kau bukanlah pilihan Tuhan. Semoga kita semua di berkahi dan mengambil hikmahnya.[]
Wasi’atul Amalia,read.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar