BOY, OH... BOY
Tidak
ada nama lain yang terlintas dalam pikiranku setelah kejadian itu. Yah, nama
itu yang selalu menggelayut di benakku. Entah siapa dia. Bahkan aku tak
mengenal ataupun tahu jelas wajahnya hanya saja, name tag di seragam dan tas yang ia kenakan membuatku mengingatnya.
Aku lupa kapan aku melihatnya atau bertemu dengannya. Yang ku ingat adalah saat
gelap malam tiba, hanya di bawah lampu jalan yang temaran, ditemani sunyi saat
itu, ia mengenakan seragam, dan aku hanya bisa melihat namanya, aku tak dapat
melihat wajahnya saat itu. Ia pergi, dan sekali lagi aku hanya bisa melihat
namanya. B.O.Y begitu aku mengejanya. Argh, itu semua sangat membuatku pusing.
Aku benar-benar tak ingat kejadian itu yang membuatku sampai terbaring di rumah
sakit ini. Bahkan tak ada yang bisa menjelaskan.
***
Di
suatu malam yang gelap, saat diriku pulang bimbingan belajar, aku merasakan ada
yang aneh. Seseorang yang mungkin ku curigai mengikutiku. Ku lihat sekeliling
jalanan tampak lengang dan sepi. Karena aku merasa sangat takut, ku percepat
langkahku sampai jalan raya. Ku pikir aku akan aman setelah naik bis, tapi
ternyata aku bahkan tak menemukan bis yang melintas di jalan raya. Pikiranku
pun semakin kalut. Aku sangat takut. Saat aku menoleh sekilas, ku lihat pria
bertopi dan kaca mata hitam itu seperti memandang ke arahku. Ia berpakaian
serba hitam.
“Oh
Tuhan, selamatkan aku!” aku berdoa sambil gemeteran, setelah itu aku mengambil
jurus langkah serubu. Aku lari sekuat tenanga, dan pria itu mengejarku.
“Ya Tuhan! Apa yang ia
inginkan dariku? Kenapa aku bisa di kejar pria itu!”
tanya ku dalam hati.
Tenagaku
mulai habis. Aku berhenti tepat di depan SMU Global. Nafasku tersengal-sengal,
aku benar-benar kehabisan tenaga sementara pria itu terus mengejar. Ku lihat
ada ruang satpam di depan gerbang, ku putuskan untuk bersembunyi disana.
Dengan
nafas memburu dan ketakutan yang dashat, rasanya jantungku mau copot. Mau apa
pria itu sebenarnya. Saat aku meringkuk ketakutan, ku lihat dari kaca gelap pos
ini pria itu tampak bingung tak menemukanku lalu memutuskan pergi. Sedikit
lega, setelah suasana aman aku-pun keluar dengan hati-hati. Tapi, aku masih
sangat merasa terancam. Tiba-tiba seseorang memgang pundakku. Betapa
terkejutnya aku, pria itu kini di belakangku!
“Si..
si.. si.. apa.. kau?” tanyaku gemeteran.
“Apa
kau sungguh tak mengenaliku? Oh, sukurlah aku tak perlu repot-repot menyamar
seperti ini. Ha ha ha...” tawanya memecah keheningan malam. Aku tak yakin, tapi
penampilannya itu, mengingatkanku pada Hans. Pembunuh psikopat yang selama ini
di cari-cari polisi. Ia suka menculik anak kecil lalu membunuhnya. Aku segera
menutup mulutku dengan kedua tanganku begitu aku menyadarinya. Apa ia mengira
bahwa aku adalah anak-anak karena aku pendek dan babyface.
“Tolong!”
spontan aku berteriak kencang, berharap ada yang mendengar lalu menolong.
“Anak
manis, sepertinya Dewi Fortuna tak berpihak padamu ya? Kau lihat saja, disini
bahkan tak ada orang. Ha ha ha.” Aku benar-benar kehilangan kekuatan sangking
lemasnya, ku rasakan sendi-sendiku mati rasa. Tepat saat aku mau jatuh aku tak
melihat pria itu lagi, sejenak dalam kebingungan saat itu tiba-tiba ada seorang
anak laki-laki yang menarikku dengan cepat.
Aku
berlari dengannya sangat jauh dan ia menggandengku. Sampai kekuatanku
benar-benar habis dan aku terjatuh. Aku benar-benar kehabisan nafas dan sangat
capek. Anak laki-laki itu-pun segera kembali, dengan sigap ia menggendongku di belakang.
Entah
apa yang terjadi setelah aku di gendongnya. Kini aku berada di bawah lampu di
pinggir jalan bersamanya, tapi aku tak melihat jelas wajahnya.
“Permisi!
Maaf, siapa kau? Aku dimana?” aku bahkan tak sanggup mendongak melihat
wajahnya. Jadi, aku hanya melihat sebagian tubuhnya yang juga berseragam. Dari
seragamnya ku tebak ia pasti anak SMU Global.
“Tenanglah.
Sampai saat ini kau aman. Aku sudah telpon polisi untuk kesini. Aku akan
menjagamu sampai polisi datang.” Suaranya begitu lembut dan terdengar tak
asing.
“Oh,
aku sangat takut. Aku juga capek!” aku bahkan tak sanggup berkata-kata,
pandanganku mulai kabur, samar-samar aku membaca nama di seragamnya.
Instingku
menuntun untuk mengejar lelaki itu, aku berjalan sempoyongan. Ku lihat ia telah
berada di seberang jalan. Tiba-tiba, suara bel klakson berbunyi dan cahaya yang
amat silau kian mendekat. “ Aaaa!” aku berteriak kala menyadari ada mobil box
di depanku. Spontan semua menjadi gelap, dan kepalaku seakan ingin pecah.
Setelahnya aku lupa.
***
“Apa kau sudah baikan?” kata teman-teman yang
menjengukku. Beberapa teman kelas rupanya repot-repot menjengukku kali ini.
“Aissh!
Kenapa kau bisa sampai kecelakaan sih Thalia? Dan katanya kau di selamatkan
seorang cowok yang sekolah di SMU Global. Wah, kayak pangeran menyelamatkan
putri.”
“Ah,
apa sih Jane? Aku bahkan tak ingat wajahnya. Hem, aku belum berterimakasih
padanya. Aku hanya tahu namanya.”
“Oh
ya? Siapa namanya?”
“Boy.
Namanya Boy!”
“Wah,
tenang! Kita pasti akan carikan informasi tentang pangeranmu Thal. Haha.” Tawa
teman-teman yang lain juga. Akupun juga penasaran dengan sosok Boy.
***
Setelah
beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, juga menunggu kabar soal
Hans, si pria psikopat yang suka menculik anak kecil—masih tahap penyelidikan.
Teman-teman juga selalu update info
terbaru tentang Boy.
Boy
adalah anak seorang politisi. Ia juga kerap pindah sekolah karena pekerjaan
ayahnya yang sering di tugaskan di luar kota. Cowok kelahiran Korea Selatan ini
dulunya emang menetap di Korsel sampai umurnya lima tahun. Ia juga baru pindah
setahun yang lalu di SMU Global. Itulah sedikit informasi yang ku ketahui
tentangnya lewat teman-teman.
Hari
ini aku bersiap untuk kembali ke sekolah. Rasanya aneh sekali lama tidak masuk
sekolah. Ku lihat beberapa perubahan asing saat aku menyusuri jalan ketika
berangkat. Sebenarnya masih sedikit trauma kalau jalan sendirian sejak kejadian
lalu. Tapi aku mengatakan baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkanku pada
orangtua.
Saat
aku hendak memasuki gerbang sekolahku, tiba-tiba saja tali sepatuku terlepas
dan berhenti tiba-tiba. Dan, seseorang menabrakku dari belakang. Aku menoleh
sambil mengibaskan rambut panjangku yang tergerai. Ku lihat ia seorang cowok.
ia menghalangi wajahnya dengan siku karena terkena kibasan rambutku. Sejenak
aku terdiam, bengong. Barulah saat ia memperlihatkan wajahnya, aku merasa ia
sangat tak asing bagiku. Tapi siapa?
“Maaf,
apa kau tak apa?” seruku saat melihat reaksinya yang diam saja dan datar.
“Ya.
Lain kali hati-hati.” Sahutnya dengan merekahkan senyumnya, akupun merasa
terbang oleh senyumnya itu.
Tanpa
sengaja saat ia berlalu aku membaca nametagnya.
Namanya, Boy. Aku yang tersadar langsung berlari mengejarnya.
“Boy?
Apa kau benar Boy?” tanyaku didepannya menghalangi jalan.
“Ya,
aku memang Boy.” Jawabnya dengan nada lembut
“Apa
kau murid dari SMU Global? Dan apakah kau yang menyelamatkanku beberapa waktu
lalu. Aku gadis yang di kejar psikopat dan akhirnya tertabrak mobil.” tanyaku
lebih lanjut.
“Tentu
aku sangat ingat, kau benar-benar ketakutan saat itu. Dan aku juga yang
mengurusmu di rumah sakit. Sukurlah kalau kau sudah sembuh.” Kali ini ia
memperlihatkan rentetan gigi putihnya yang rapi dengan gingsul yang menyempil.
Ah, Boy. Ia benar-benar bak pangeran dari negeri dongeng.
“Ah,
terimakasih untuk semuanya ya. Kalau kau tak ada, aku tak tahu jadinya.” Lalu ia kembali menyunggingkan senyumnya. “Oh Boy... sepertinya aku jatuh cinta pada
pandangan pertama, dan kau bahkan layaknya pangeran berkuda putih.” Tak
henti-hentinya aku memujinya. Aku senang sekali ia kini satu sekolah denganku.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar