Jumat, 11 Maret 2016

Boy... Oh Boy...








BOY, OH... BOY
Tidak ada nama lain yang terlintas dalam pikiranku setelah kejadian itu. Yah, nama itu yang selalu menggelayut di benakku. Entah siapa dia. Bahkan aku tak mengenal ataupun tahu jelas wajahnya hanya saja, name tag di seragam dan tas yang ia kenakan membuatku mengingatnya. Aku lupa kapan aku melihatnya atau bertemu dengannya. Yang ku ingat adalah saat gelap malam tiba, hanya di bawah lampu jalan yang temaran, ditemani sunyi saat itu, ia mengenakan seragam, dan aku hanya bisa melihat namanya, aku tak dapat melihat wajahnya saat itu. Ia pergi, dan sekali lagi aku hanya bisa melihat namanya. B.O.Y begitu aku mengejanya. Argh, itu semua sangat membuatku pusing. Aku benar-benar tak ingat kejadian itu yang membuatku sampai terbaring di rumah sakit ini. Bahkan tak ada yang bisa menjelaskan.
***
Di suatu malam yang gelap, saat diriku pulang bimbingan belajar, aku merasakan ada yang aneh. Seseorang yang mungkin ku curigai mengikutiku. Ku lihat sekeliling jalanan tampak lengang dan sepi. Karena aku merasa sangat takut, ku percepat langkahku sampai jalan raya. Ku pikir aku akan aman setelah naik bis, tapi ternyata aku bahkan tak menemukan bis yang melintas di jalan raya. Pikiranku pun semakin kalut. Aku sangat takut. Saat aku menoleh sekilas, ku lihat pria bertopi dan kaca mata hitam itu seperti memandang ke arahku. Ia berpakaian serba hitam.
“Oh Tuhan, selamatkan aku!” aku berdoa sambil gemeteran, setelah itu aku mengambil jurus langkah serubu. Aku lari sekuat tenanga, dan pria itu mengejarku.
“Ya Tuhan! Apa yang ia inginkan dariku? Kenapa aku bisa di kejar pria itu!” tanya ku dalam hati.
Tenagaku mulai habis. Aku berhenti tepat di depan SMU Global. Nafasku tersengal-sengal, aku benar-benar kehabisan tenaga sementara pria itu terus mengejar. Ku lihat ada ruang satpam di depan gerbang, ku putuskan untuk bersembunyi disana.
Dengan nafas memburu dan ketakutan yang dashat, rasanya jantungku mau copot. Mau apa pria itu sebenarnya. Saat aku meringkuk ketakutan, ku lihat dari kaca gelap pos ini pria itu tampak bingung tak menemukanku lalu memutuskan pergi. Sedikit lega, setelah suasana aman aku-pun keluar dengan hati-hati. Tapi, aku masih sangat merasa terancam. Tiba-tiba seseorang memgang pundakku. Betapa terkejutnya aku, pria itu kini di belakangku!
“Si.. si.. si.. apa.. kau?” tanyaku gemeteran.
“Apa kau sungguh tak mengenaliku? Oh, sukurlah aku tak perlu repot-repot menyamar seperti ini. Ha ha ha...” tawanya memecah keheningan malam. Aku tak yakin, tapi penampilannya itu, mengingatkanku pada Hans. Pembunuh psikopat yang selama ini di cari-cari polisi. Ia suka menculik anak kecil lalu membunuhnya. Aku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku begitu aku menyadarinya. Apa ia mengira bahwa aku adalah anak-anak karena aku pendek dan babyface.
“Tolong!” spontan aku berteriak kencang, berharap ada yang mendengar lalu menolong.
“Anak manis, sepertinya Dewi Fortuna tak berpihak padamu ya? Kau lihat saja, disini bahkan tak ada orang. Ha ha ha.” Aku benar-benar kehilangan kekuatan sangking lemasnya, ku rasakan sendi-sendiku mati rasa. Tepat saat aku mau jatuh aku tak melihat pria itu lagi, sejenak dalam kebingungan saat itu tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang menarikku dengan cepat.
Aku berlari dengannya sangat jauh dan ia menggandengku. Sampai kekuatanku benar-benar habis dan aku terjatuh. Aku benar-benar kehabisan nafas dan sangat capek. Anak laki-laki itu-pun segera kembali, dengan sigap ia menggendongku di belakang.
Entah apa yang terjadi setelah aku di gendongnya. Kini aku berada di bawah lampu di pinggir jalan bersamanya, tapi aku tak melihat jelas wajahnya.
“Permisi! Maaf, siapa kau? Aku dimana?” aku bahkan tak sanggup mendongak melihat wajahnya. Jadi, aku hanya melihat sebagian tubuhnya yang juga berseragam. Dari seragamnya ku tebak ia pasti anak SMU Global.
“Tenanglah. Sampai saat ini kau aman. Aku sudah telpon polisi untuk kesini. Aku akan menjagamu sampai polisi datang.” Suaranya begitu lembut dan terdengar tak asing.
“Oh, aku sangat takut. Aku juga capek!” aku bahkan tak sanggup berkata-kata, pandanganku mulai kabur, samar-samar aku membaca nama di seragamnya.
Instingku menuntun untuk mengejar lelaki itu, aku berjalan sempoyongan. Ku lihat ia telah berada di seberang jalan. Tiba-tiba, suara bel klakson berbunyi dan cahaya yang amat silau kian mendekat. “ Aaaa!” aku berteriak kala menyadari ada mobil box di depanku. Spontan semua menjadi gelap, dan kepalaku seakan ingin pecah. Setelahnya aku lupa.
***
  “Apa kau sudah baikan?” kata teman-teman yang menjengukku. Beberapa teman kelas rupanya repot-repot menjengukku kali ini.
“Aissh! Kenapa kau bisa sampai kecelakaan sih Thalia? Dan katanya kau di selamatkan seorang cowok yang sekolah di SMU Global. Wah, kayak pangeran menyelamatkan putri.”
“Ah, apa sih Jane? Aku bahkan tak ingat wajahnya. Hem, aku belum berterimakasih padanya. Aku hanya tahu namanya.”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Boy. Namanya Boy!”
“Wah, tenang! Kita pasti akan carikan informasi tentang pangeranmu Thal. Haha.” Tawa teman-teman yang lain juga. Akupun juga penasaran dengan sosok Boy.
***
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, juga menunggu kabar soal Hans, si pria psikopat yang suka menculik anak kecil—masih tahap penyelidikan. Teman-teman juga selalu update info terbaru tentang Boy.
Boy adalah anak seorang politisi. Ia juga kerap pindah sekolah karena pekerjaan ayahnya yang sering di tugaskan di luar kota. Cowok kelahiran Korea Selatan ini dulunya emang menetap di Korsel sampai umurnya lima tahun. Ia juga baru pindah setahun yang lalu di SMU Global. Itulah sedikit informasi yang ku ketahui tentangnya lewat teman-teman.
Hari ini aku bersiap untuk kembali ke sekolah. Rasanya aneh sekali lama tidak masuk sekolah. Ku lihat beberapa perubahan asing saat aku menyusuri jalan ketika berangkat. Sebenarnya masih sedikit trauma kalau jalan sendirian sejak kejadian lalu. Tapi aku mengatakan baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkanku pada orangtua.
Saat aku hendak memasuki gerbang sekolahku, tiba-tiba saja tali sepatuku terlepas dan berhenti tiba-tiba. Dan, seseorang menabrakku dari belakang. Aku menoleh sambil mengibaskan rambut panjangku yang tergerai. Ku lihat ia seorang cowok. ia menghalangi wajahnya dengan siku karena terkena kibasan rambutku. Sejenak aku terdiam, bengong. Barulah saat ia memperlihatkan wajahnya, aku merasa ia sangat tak asing bagiku. Tapi siapa?
“Maaf, apa kau tak apa?” seruku saat melihat reaksinya yang diam saja dan datar.
“Ya. Lain kali hati-hati.” Sahutnya dengan merekahkan senyumnya, akupun merasa terbang oleh senyumnya itu.
Tanpa sengaja saat ia berlalu aku membaca nametagnya. Namanya, Boy. Aku yang tersadar langsung berlari mengejarnya.
“Boy? Apa kau benar Boy?” tanyaku didepannya menghalangi jalan.
“Ya, aku memang Boy.” Jawabnya dengan nada lembut
“Apa kau murid dari SMU Global? Dan apakah kau yang menyelamatkanku beberapa waktu lalu. Aku gadis yang di kejar psikopat dan akhirnya tertabrak mobil.” tanyaku lebih lanjut.
“Tentu aku sangat ingat, kau benar-benar ketakutan saat itu. Dan aku juga yang mengurusmu di rumah sakit. Sukurlah kalau kau sudah sembuh.” Kali ini ia memperlihatkan rentetan gigi putihnya yang rapi dengan gingsul yang menyempil. Ah, Boy. Ia benar-benar bak pangeran dari negeri dongeng.
“Ah, terimakasih untuk semuanya ya. Kalau kau tak ada, aku tak tahu jadinya.”  Lalu ia kembali menyunggingkan senyumnya. “Oh Boy... sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan kau bahkan layaknya pangeran berkuda putih.” Tak henti-hentinya aku memujinya. Aku senang sekali ia kini satu sekolah denganku.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar