Senin, 21 Maret 2016

Kenanga FF, Adv, Traveling, and Fun: Vampire-Formula

Kenanga FF, Adv, Traveling, and Fun: Vampire-Formula:                                                              VAMPIRE FORMULA             Kematian raja Yingluck membuat Kla...

Jumat, 11 Maret 2016

Boy... Oh Boy...








BOY, OH... BOY
Tidak ada nama lain yang terlintas dalam pikiranku setelah kejadian itu. Yah, nama itu yang selalu menggelayut di benakku. Entah siapa dia. Bahkan aku tak mengenal ataupun tahu jelas wajahnya hanya saja, name tag di seragam dan tas yang ia kenakan membuatku mengingatnya. Aku lupa kapan aku melihatnya atau bertemu dengannya. Yang ku ingat adalah saat gelap malam tiba, hanya di bawah lampu jalan yang temaran, ditemani sunyi saat itu, ia mengenakan seragam, dan aku hanya bisa melihat namanya, aku tak dapat melihat wajahnya saat itu. Ia pergi, dan sekali lagi aku hanya bisa melihat namanya. B.O.Y begitu aku mengejanya. Argh, itu semua sangat membuatku pusing. Aku benar-benar tak ingat kejadian itu yang membuatku sampai terbaring di rumah sakit ini. Bahkan tak ada yang bisa menjelaskan.
***
Di suatu malam yang gelap, saat diriku pulang bimbingan belajar, aku merasakan ada yang aneh. Seseorang yang mungkin ku curigai mengikutiku. Ku lihat sekeliling jalanan tampak lengang dan sepi. Karena aku merasa sangat takut, ku percepat langkahku sampai jalan raya. Ku pikir aku akan aman setelah naik bis, tapi ternyata aku bahkan tak menemukan bis yang melintas di jalan raya. Pikiranku pun semakin kalut. Aku sangat takut. Saat aku menoleh sekilas, ku lihat pria bertopi dan kaca mata hitam itu seperti memandang ke arahku. Ia berpakaian serba hitam.
“Oh Tuhan, selamatkan aku!” aku berdoa sambil gemeteran, setelah itu aku mengambil jurus langkah serubu. Aku lari sekuat tenanga, dan pria itu mengejarku.
“Ya Tuhan! Apa yang ia inginkan dariku? Kenapa aku bisa di kejar pria itu!” tanya ku dalam hati.
Tenagaku mulai habis. Aku berhenti tepat di depan SMU Global. Nafasku tersengal-sengal, aku benar-benar kehabisan tenaga sementara pria itu terus mengejar. Ku lihat ada ruang satpam di depan gerbang, ku putuskan untuk bersembunyi disana.
Dengan nafas memburu dan ketakutan yang dashat, rasanya jantungku mau copot. Mau apa pria itu sebenarnya. Saat aku meringkuk ketakutan, ku lihat dari kaca gelap pos ini pria itu tampak bingung tak menemukanku lalu memutuskan pergi. Sedikit lega, setelah suasana aman aku-pun keluar dengan hati-hati. Tapi, aku masih sangat merasa terancam. Tiba-tiba seseorang memgang pundakku. Betapa terkejutnya aku, pria itu kini di belakangku!
“Si.. si.. si.. apa.. kau?” tanyaku gemeteran.
“Apa kau sungguh tak mengenaliku? Oh, sukurlah aku tak perlu repot-repot menyamar seperti ini. Ha ha ha...” tawanya memecah keheningan malam. Aku tak yakin, tapi penampilannya itu, mengingatkanku pada Hans. Pembunuh psikopat yang selama ini di cari-cari polisi. Ia suka menculik anak kecil lalu membunuhnya. Aku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku begitu aku menyadarinya. Apa ia mengira bahwa aku adalah anak-anak karena aku pendek dan babyface.
“Tolong!” spontan aku berteriak kencang, berharap ada yang mendengar lalu menolong.
“Anak manis, sepertinya Dewi Fortuna tak berpihak padamu ya? Kau lihat saja, disini bahkan tak ada orang. Ha ha ha.” Aku benar-benar kehilangan kekuatan sangking lemasnya, ku rasakan sendi-sendiku mati rasa. Tepat saat aku mau jatuh aku tak melihat pria itu lagi, sejenak dalam kebingungan saat itu tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang menarikku dengan cepat.
Aku berlari dengannya sangat jauh dan ia menggandengku. Sampai kekuatanku benar-benar habis dan aku terjatuh. Aku benar-benar kehabisan nafas dan sangat capek. Anak laki-laki itu-pun segera kembali, dengan sigap ia menggendongku di belakang.
Entah apa yang terjadi setelah aku di gendongnya. Kini aku berada di bawah lampu di pinggir jalan bersamanya, tapi aku tak melihat jelas wajahnya.
“Permisi! Maaf, siapa kau? Aku dimana?” aku bahkan tak sanggup mendongak melihat wajahnya. Jadi, aku hanya melihat sebagian tubuhnya yang juga berseragam. Dari seragamnya ku tebak ia pasti anak SMU Global.
“Tenanglah. Sampai saat ini kau aman. Aku sudah telpon polisi untuk kesini. Aku akan menjagamu sampai polisi datang.” Suaranya begitu lembut dan terdengar tak asing.
“Oh, aku sangat takut. Aku juga capek!” aku bahkan tak sanggup berkata-kata, pandanganku mulai kabur, samar-samar aku membaca nama di seragamnya.
Instingku menuntun untuk mengejar lelaki itu, aku berjalan sempoyongan. Ku lihat ia telah berada di seberang jalan. Tiba-tiba, suara bel klakson berbunyi dan cahaya yang amat silau kian mendekat. “ Aaaa!” aku berteriak kala menyadari ada mobil box di depanku. Spontan semua menjadi gelap, dan kepalaku seakan ingin pecah. Setelahnya aku lupa.
***
  “Apa kau sudah baikan?” kata teman-teman yang menjengukku. Beberapa teman kelas rupanya repot-repot menjengukku kali ini.
“Aissh! Kenapa kau bisa sampai kecelakaan sih Thalia? Dan katanya kau di selamatkan seorang cowok yang sekolah di SMU Global. Wah, kayak pangeran menyelamatkan putri.”
“Ah, apa sih Jane? Aku bahkan tak ingat wajahnya. Hem, aku belum berterimakasih padanya. Aku hanya tahu namanya.”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Boy. Namanya Boy!”
“Wah, tenang! Kita pasti akan carikan informasi tentang pangeranmu Thal. Haha.” Tawa teman-teman yang lain juga. Akupun juga penasaran dengan sosok Boy.
***
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, juga menunggu kabar soal Hans, si pria psikopat yang suka menculik anak kecil—masih tahap penyelidikan. Teman-teman juga selalu update info terbaru tentang Boy.
Boy adalah anak seorang politisi. Ia juga kerap pindah sekolah karena pekerjaan ayahnya yang sering di tugaskan di luar kota. Cowok kelahiran Korea Selatan ini dulunya emang menetap di Korsel sampai umurnya lima tahun. Ia juga baru pindah setahun yang lalu di SMU Global. Itulah sedikit informasi yang ku ketahui tentangnya lewat teman-teman.
Hari ini aku bersiap untuk kembali ke sekolah. Rasanya aneh sekali lama tidak masuk sekolah. Ku lihat beberapa perubahan asing saat aku menyusuri jalan ketika berangkat. Sebenarnya masih sedikit trauma kalau jalan sendirian sejak kejadian lalu. Tapi aku mengatakan baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkanku pada orangtua.
Saat aku hendak memasuki gerbang sekolahku, tiba-tiba saja tali sepatuku terlepas dan berhenti tiba-tiba. Dan, seseorang menabrakku dari belakang. Aku menoleh sambil mengibaskan rambut panjangku yang tergerai. Ku lihat ia seorang cowok. ia menghalangi wajahnya dengan siku karena terkena kibasan rambutku. Sejenak aku terdiam, bengong. Barulah saat ia memperlihatkan wajahnya, aku merasa ia sangat tak asing bagiku. Tapi siapa?
“Maaf, apa kau tak apa?” seruku saat melihat reaksinya yang diam saja dan datar.
“Ya. Lain kali hati-hati.” Sahutnya dengan merekahkan senyumnya, akupun merasa terbang oleh senyumnya itu.
Tanpa sengaja saat ia berlalu aku membaca nametagnya. Namanya, Boy. Aku yang tersadar langsung berlari mengejarnya.
“Boy? Apa kau benar Boy?” tanyaku didepannya menghalangi jalan.
“Ya, aku memang Boy.” Jawabnya dengan nada lembut
“Apa kau murid dari SMU Global? Dan apakah kau yang menyelamatkanku beberapa waktu lalu. Aku gadis yang di kejar psikopat dan akhirnya tertabrak mobil.” tanyaku lebih lanjut.
“Tentu aku sangat ingat, kau benar-benar ketakutan saat itu. Dan aku juga yang mengurusmu di rumah sakit. Sukurlah kalau kau sudah sembuh.” Kali ini ia memperlihatkan rentetan gigi putihnya yang rapi dengan gingsul yang menyempil. Ah, Boy. Ia benar-benar bak pangeran dari negeri dongeng.
“Ah, terimakasih untuk semuanya ya. Kalau kau tak ada, aku tak tahu jadinya.”  Lalu ia kembali menyunggingkan senyumnya. “Oh Boy... sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan kau bahkan layaknya pangeran berkuda putih.” Tak henti-hentinya aku memujinya. Aku senang sekali ia kini satu sekolah denganku.

END

Terjebak Dunia Dianan



TERJEBAK DUNIA DIANA
“Kalau kau anggap ini semua tidak serius. Kau salah besar. Kau!” Diana menunjuk Ramuel yang sedang mendecih, lalu balas menatap tajam dan mengedikkan bahu acuh.
“Pecundang kelas kakap! Bye maksimal!” Diana meninggalkan Ramuel yang terheran-heran.
***
            Kejadian itu sudah sebulan lalu terjadi. Kejadian yang membuat Diana syok berat saat mengetahui Ramuel memainkan perasaannya. Ramuel adalah musisi di kampusnya. Ia menjadikan Diana sebagai ajang taruhan, sebagai balasannya maka Lecy akan menerima Ramuel sebagai pasangannya. Ramuel memang tergila-gila dengan Lecy sang primadona kampus. Seandainya Ramuel kalah taruhan, maka ia harus serahkan gitar kesayangannya—yang jika di jual bernilai puluhan juta pada teman-temannya itu.
            Sayup-sayup  Ramuel terngiang perkataan Diana.
            “Oh, jadi selama ini kau mempermainkanku? Setelah semua terjadi, ku pikir kau tulus ya? Kau tampak begitu tulus waktu itu. Melewati hari bersamamu. Dan bodohnya aku percaya. Lalu jatuh cinta beneran. Tapi setelah semua ini apa? Semoga kau juga tak terjebak permainanmu sendiri Ram. Ku doakan kau semoga tak jatuh cinta beneran sama aku, biar saja aku yang rasakan sakit ini.” Begitulah oceh Diana saat memergoki Ramuel berbincang dengan Lecy dan teman-temannya.
            “Yups. Kau boleh putuskan aku kalau mau.” Suara Ramuel sedikit tercekat dan tergetar namun mencoba tenang.
“Kalau kau anggap ini semua tidak serius. Kau salah besar. Kau !” Diana menunjuk Ramuel yang sedang mendecih, lalu balas menatap tajam dan mengedikkan bahu acuh.
“Pecundang kelas kakap! Bye maksimal!” Diana meninggalkan Ramuel yang terheran-heran.
“Maaf, Diana. Aarrgh...” Ramuel mengacak rambut frustasi melihat kepergian Diana. Setelah setahun ia bersama, mencoba mengenal lebih dekat yang namanya Diana, lalu menembaknya. Semua itu seakan bukan karena taruhan, tapi setelah seminggu berjalan, rupanya kali ini Lecy yang menginginkan Ramuel dan teman-temannya-pun membujuk Ramuel memutuskan Diana. Sampai saat mereka ketemuan untuk penyerahan Lecy. Diana menguping.
***
            Sepertinya hal yang tak diinginkan terjadi dengan Ramuel. Betapa Diana adalah gadis idaman. Ia yang ceria, yang selalu bisa buat tersenyum siapapun yang di dekatnya, ia gadis yang baik hati dan sabar. Ada ketulusan di setiap langkahnya. Mungkin dari luar ia hanyalah orang biasa yang cupu dan pintar, dan kebanyakan orang memanfaatkan kepintarannya dengan di bully. Tapi, saat Ramuel mulai bisa membuka matanya yang terlihat adalah Diana yang cantik, yang sabar dan mengajarkan banyak kebaikan. Lalu ia mulai melupakan taruhan, tapi perasaannya masih bimbang, dimana ia masih menginginkan Lecy tapi mulai tertarik dengan dunia Diana.
            Pilihan tetap pilihan, Ramuel telah memilih Lecy. Penyesalan tetap ada. Tapi Ramuel tak sanggup melihat ia menyakiti Diana lebih jauh lagi. Ramuel memilih mulai melupakan dan menjauhi Diana.
***
            Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, setahun... berlalu tapi Ramuel tak merasa bahagia bersama Lecy. Ia hanya merindukan sosok Diana. Bahkan Diana yang dulu biasa berjualan di kantin atau membagikan permen ke anak jalanan di jembatan sebelah kampus juga tak pernah muncul lagi. Ramuel berinisiatif menanyakan pada anak-anak jalanan itu.
            “Permisi dek. Nih kakak bawain makanan buat kalian, ayo ngumpul-ngumpul.” Ramuel membawa 2 kantong kresek yang berisi banyak makanan. Ia dulu pernah di ajak Diana main di sini.
            “Yee.. ada kak Ramuel bawa makanan, ayo ngumpul,” teriak salah satu anak yang menyambut Ramuel.
            “Kok sendirian kak? Kak Diana mana? Sudah lama banget kak Diana gak pernah mampir. Kita kangen.” Celetuk salah seorang.
            “Loh, emang sejak kapan kak Diana gak pernah mampir?” tanya Ramuel penasaran.
            “Sudah setahun mungkin. Terakhir ke mari kak Diana banyak berpesan dan meminta maaf. Katanya mau pulang kampung sebentar dan janji mau balik lagi untuk ngajari kita kak.”
            “Pulang kampung? Oh jadi kak Diana selain bagi permen juga ngajari kalian baca tulis ya?”
            “Iya kak. Kok kakak gak tahu sih. Kakak kan pacarnya. Waktu itu juga kesini sama kak Diana. Tapi sayang, kakak kan gak mau gabung sama kita dan nunggu di jalan ya?” komen salah satu anak yang makan dengan lahab itu.
            “Hehe, iya maaf. Kakak waktu itu terburu-buru. Bukan, kakak bukan pacarnya, hanya teman. Dan kita tidak sedekat itu. Oh ya, emang kampung kak Diana dimana sih?”
            “Wah, gak tahu ya kak.”
            “Oh, ya udah. Abisin makannya ya?”
            “Iya, makasih kak.”
            Setelah menemui anak-anak itu, Ramuel segera beranjak pamit meninggalkan anak-anak itu. Meskipun Cuma sekali ia ke tempat itu, mereka mengenali Ramuel karena ia adalah satu-satunya teman Diana yang pernah di ajak kesitu.
            Tiba-tiba, saat Ramuel meninggalkan kawasan itu ia berpapasan dengan seorang gadis yang terlihat buru-buru sampai tak melihat siapa yang di hadapannya. Ramuel langsung sadar dan berbalik. Gadis itu... Diana.
            “Diana,” panggil Ramuel. Sontak Diana langsung berhenti. Sepersekian detik ia masih mencoba mencerna suara yang barusan memanggilnya. Ia masih sangat ingat itu suara siapa. Jantungnya masih berdegup mendengarnya, hawa panas dingin menyergap. Itu suara Ramuel. Perlahan-lahan ia mulai berbalik.
            “Ram?” kebiasaan Diana hanya memanggil Ramuel dengan sebutan Ram.
            “Doamu itu nggak manjur Di. Kau benar, aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Bahkan sampai setahun ini, aku menyesalinya. Aku salah jika kau menderita sendiri. Aku juga merasakannya. Maaf, kini aku-pun tahu rasa sakitnya. Maaf banget Di.”
            “Aku sudah memaafkanmu Ram. Dari dulu juga aku sudah memaafkanmu.” Diana mengembangkan senyumnya lalu mendekati Ramuel.
            “Aku benar-benar jatuh cinta padamu Di. Semoga kau masih menyimpan rasa untukku. Apakah kau mau kembali padaku? Aku benar-benar menderita Di.”
            “Maaf Ram. Kali ini aku yang benar-benar minta maaf. Itu semua sudah berlalu, dan kau sangat terlambat Ram.” Ramuel-pun berubah ekspresi menjadi khawatir. Lalu datanglah seorang lelaki tampan yang memanggil Diana.
            “Sayang, alat-alat tulisnya masih banyak yang belum di turunkan.” Lalu Diana membalas dengan jawaban “ya” lalu menjelaskan pada Ramuel yang terlihat bingung.
            “Maaf. Tapi aku sudah menikah dengan Axel. Aku sudah menikah Ram. Aku mulai belajar melupakanmu. Dan Axel-lah penolongku.”

Author : Wasi'atul Amalia

Vampire-Formula

                                                             VAMPIRE FORMULA


            Kematian raja Yingluck membuat Klan Dracusmacus di landa kebingungan dan kekacauan, dimana wilayah mereka mulai di jajah oleh Klan Venezicus—vampir pemburu yang terkenal kejam dan licik. Klan Venezicus sebelumnya telah di asingkan setelah kalah saat perang dengan Klan Dracusmacus. Kini setelah raja Dracusmacus mati, Klan Venezicus juga mulai menyerang manusia di Thailand. Pangeran Jirayu Laongmanee tak tinggal diam. Ia harus cepat bertindak dan pergi ke dunia manusia.
            Namun, rencana Jirayu tentu tak berjalan mulus. Selain ia sendirian di dunia manusia, ia juga tak mempunyai strategi untuk melawan Klan Venezicus yang sangat kuat. Sampai suatu ketika, ia terpergok bertransformasi menjadi vampir setelah melawan musuh-musuhnya oleh seorang anak SMA.
            Anak itu terkagum-kagum dengan Jirayu, seolah-olah menemukan emas dan siap mengambilnya. Karena takut terjadi hal yang tak diinginkan—kalau sampai anak itu membocorkan kehadirannya, Jirayu menghampirinya.
            “Hei kau! Sedang apa kau disitu?” Jirayu menujuk anak berseragam dan berkacamata yang bersembunyi di balik tembok.
            “Eh.. sawadee khap[1]! Hehe...” anak itu memberi salam khas Thailand.
            “Apa yang sudah kau lihat, huh?” kini Jirayu menggeram dan menyeringai menampilkan taringnya yang tajam, matanya menghijau.
            Khor thot khrap[2]! Anda keren sekali.” Anak itu justru memuji Jirayu tanpa takut sedikitpun.
***
            Sejak pertemuannya dengan Pachara Chirathivat—anak SMA itu yang ternyata adalah anak jenius yang mampu menciptakan senyawa kimia mulai dari virus, antibodi, antivirus sekali-pun. Mereka akhirnya tinggal bersama, Jirayu mulai menyamar menjadi manusia. Sampai enam tahun kebersamaan mereka.
            Jirayu sudah menceritakan tentang jati dirinya sejak awal bertemu. Semua terasa begitu saja saat ia membuka semua rahasianya. Kini, misi Jirayu membalas Klan Venezicus mulai lengkap. Dengan Peach ia membuat Atisan—senyawa antivirus untuk memanusiakan manusia yang terinfeksi virus VTG-19. Virus itu dibuat oleh keluarga Jirayu yang ingin berubah jadi setengah manusia, tetapi saat di infeksi pada manusia, manusia juga akan menjadi vampir.
            Sekarang Peach menjadi seorang Profesor di sebuah perusahaan Farmasi. Jirayu juga menyamar sebagai seorang menejer penasehat bahan obat-obatan di sana. Dengan demikian Jirayu juga mudah memantau musuh-musuhnya. Termasuk Nattasha Nauljam—partnernya di lab, dan masih mengaku sebagai manusia—padahal ia sudah terinfeksi.
***
            “Bagaimana kau yakin  Natt mengabdi pada Klan Venezicus?” tannya Peach saat menformulasikan Atisan pada obat-obatan.
            “Heh, kau pikir aku siapa? Huh? Aku adalah vampir, tentu aku tahu mana manusia dan mana bangsa vampir! Tapi, berkat kau, aku bisa berjalan di siang bolong dan menjelma menjadi manusia saat aku ingin. Atisan yang kau campur dengan formula EE-99 benar-benar berguna. Bahkan Natt tak mengenaliku sebagai vampir.” Jirayu menyeringai. Sejak enam tahun lalu, Peach telah menciptakan Atisan itu untuk Jirayu agar ia bisa merasakan sebagai manusia dan mencegah nafsu akan darah.
            “Lalu apa misi kita selanjutnya?”
            “Yah, ku pikir kita harus cepat memvaksinasi mereka yang telah terinfeksi. Dunia vampir dan manusia memang tak bisa disatukan Peach. Aku merasakannya.” Peach hanya mengangguk paham.
***
            “Jirayu, apa kau ada acara nanti malam?” Natt tersenyum genit. Rupanya akhir-akhir ini ia merayu Jirayu. Tapi, dari kilatan mata Jirayu ia memandang muak.
            “Oh, tidak. Kenapa?” katanya memancing.
            “Ah, tidak. Sepertinya aku ingin mentraktirmu minum kopi karena kau telah baik sekali padaku.
            “Wow, dengan senang hati!” keduanya hanya tersenyum licik.
***
            Malam itu, seperti yang dijanjikan, Natt mengajak Jirayu minum. Kali ini Natt memilih kedai kopi di pinggiran kota Pattani, suasananya agak sepi dan bersebrangan dengan hutan. Natt permisi ke toilet. Setelah itu, Natt meng-SMS Jirayu untuk mengantarnya pulang dan menunggunya di mobil. Tetapi saat Jirayu hendak membuka mobil. Sesuatu menusuknya dari belakang. Natt menusuk paku besi pada leher Jirayu. Seketika Jirayu memucat, urat saraf keunguannya seakan menyembul, matanya yang hitam berubah hijau menyala, kelopak matanya menghitam, dan kukunya tumbuh panjang. Jirayu sangat kesakitan.
            “Natt... kau!” dengan susah payah Jirayu berdiri, tapi akhirnya jatuh juga. Matanya mulai berkunang-kunang. Setelah itu ia melihat beberapa orang berpakaian hitam-hitam mengelilinginya, termasuk Natt. Belum selesai penderitaan Jirayu. Orang-orang itu juga menusuk-nusukkan suntikan pada Jirayu. Mungkin itu adalah virus VTB-DOUBLE yang digunakan untuk membunuh vampir selain menusuk leher dengan paku. Rupanya mereka benar-benar ingin menghabisi Jirayu dan ingin mencuri Atisannya.
            Tiba-tiba, Jirayu mulai menggeram, paku dan suntikan-suntikan itu lepas dengan sendirinya.
            “Tamat riwayatmu pangeran! Dan... mungkin sebentar lagi teman yang kau sayangi itu juga akan menyusulmu. Haha, dasar bodoh!” Natt mulai meracau seenaknya. Jirayu menggeram marah dan—buumm! Ia bangkit.
            Jirayu tidak mati. Ia justru bertambah kuat, bahkan mata yang biasanya hijau, berubah merah. Itu karena Jirayu adalah vampir yang selalu memakai Atisan+EE-99. Tugasnya sekarang adalah, membunuh mereka semua.
            Dengan sekali tendangan tiga sampai lima orang mampu ia lumpuhkan. Hari ini ia benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya. Saat semua sudah lumpuh, Jirayu kehilangan seseorang. Yah, Natt tidak ada. Sial! Jangan-jangan ia kerumahku! Brengsek! Seru batinnya. Dengan lari  berkecepatan super ia melesat.
            Sesampainya dirumah, ia tak menemukan siapa-siapa. Ia tidak juga menemukan rumahnya yang berantakan, ataupun mencurigakan. Tapi, dimana Peach? Tanyanya dalam hati.
            “Oh, tidak! Atisannya!” Jirayu berlari keruangan Peach untuk memastikan Atisannya. Jirayu bernapas lega, karena Atisan itu masih utuh di ruang rahasianya. Setelah itu, HP Jirayu berbunyi. Natt? Keningnya berkerut.
            “Dimana kau? Dasar brengsek! Kau sembunyikan dimana Peach?” hujat Jirayu.
            “Jirayu, ini aku Peach. Sebaiknya kau jaga Atisannya. Aku tak apa.” Seru Peach dari seberang seperti ketakutan.
            “Apa? Kau tunggu aku. Dimana kau. Aku takkan membiarkanmu Peach!” Jirayu segera menutup telponnya dan melesat pergi.
            Jirayu yakin kalau Peach pasti disembunyikan di kastil Klan Venezicus. Setelah melawan beberapa penjaga kastil, Jirayu-pun menemukan Peach. Ia berlumuran darah, dan ternyata mereka menginfeksi Peach.
            “Kau pikir, kau bisa melawan kami?” tiba-tiba suara Natt mengagetkan Jirayu.
            “Kau! Licik sekali, benar-benar licik!”
            Dengan sekuat tenaga, Jirayu mulai melawan Natt, awalnya Natt sudah mulai lemah dan kelelahan. Tiba-tiba Peach bangkit. Ia berlaku seperti zombie. Dari belakang Jirayu, ia mengeluarkan suntikan dari jas labnya. Natt tersenyum licik. Semua sudah terlambat bagi Jirayu.
            Tak habis pikir, Peach menusukkan Atisan itu pada Jirayu. Atisan yang telah mereka ciptakan, kini justru tlah ia tancapkan sendiri pada sahabatnya kini. Jirayu mulai lemah.
            Peach! Sadarlah... apakah aku akan mati dengan ciptaan kita? Apa kita tak bisa lagi menolong manusia yang terinfeksi bahkan sekarang makin merajalela? Oh, Peach semoga kau sadar ketika aku sudah mati dan kau melanjutkan misi kita.”
            Jirayu menggeram kesakitan, kulitnya mulai menyusut dan kering perlahan. Natt tertawa puas melihatnya.
            “Haha, matilah kau brengsek!” seru Natt tertawa lepas lalu membakar mayat Jirayu. Peach seketika pingsan.
END




[1] Apa kabar.
[2] Saya minta maaf