Kamis, 14 Desember 2017

PROJEK 153N9



INTERMEZO


       Di sebuah tempat, ah bukan tepatnya ruangan. Entah seperti ruang bersantai namun terbuka alias outdoor. Dua orang asyik berbincang-bincang. Bukan dengan mengobrol, melainkan chatting. Bukan saling, tapi dengan HPnya masing-masing.
       Seorang pemuda, sebut saja namanya Zafran dia asyik memainkan HP nya. Seorang gadis di depannya tak dihiraukan, ah tapi gadis itu hanya melamun sesekali juga bermain HP. Nama gadis itu Riani J.
       Gadis itu membuka suara,
       “Mas Juple (sebutan Zafran) kenapa?” tanya Riani penasaran.
       “Ini lho, calon mas Chatting.” Jawabnya sambil memperhatikan HPnya.
       “Oh ya? Gimana jadi ngelamar mbak nya kapan nih?” sindir Riani.
       “Ah entahlah, dia akhir-akhir ini berubah?” keluh Zafran.
       “Loh, kenapa?” Riani sebenarnya nggak peduli, tapi ia hanya mencoba menghormati saja.
       “Aku juga gak tahu. Rasanya aku ingin mengakhirinya saja. Mungkin itu sepertinya yang lebih baik.” Air muka Zafran yang awalnya sumringah kiri langsung berubah sendu. Riani hanya menatapnya heran.
       “Konyol. Aku pikir dia adalah pilihan terbaik. Keluarga kami sudah saling setuju, tinggal aku dan keluargaku saja yang datang secara resmi. Tapi… “ Zafran menggantungkan kalimatnya, Riani mengangkat alis tanda untuk ia melanjutkan ceritanya.
       “Sudah lebih dari dua minggu ia menghilang, bukan karena di culik, pindah atau apa. Tapi menghindariku. Banyak hal yang sudah ku lakukan agar menemukannya, di rumahnya pun ia tak pernah ada. Nomornya mati. Tapi, baru tadi pagi ia mulai menghubungiku. Awalnya aku lega…”
       “Ya, kau tampak senang dari tadi.” Riani menyunggingkan sebelah bibirnya.
       “Bukan itu masalahnya…” kata Zafran. Zafran kini tampak serius, ia menatap Riani.
       “Awalnya memang dia memberiku kabar, bahwa ia baik-baik saja. Sangat baik malah. Tapi satu kata membuatku sadar.” Kata Zafran.
       “Apa itu?” Riani merasa aneh dengan tatapan Zafran.
       “Putus.” Zafran malah menyunggingkan senyumnya saat mengucap kata itu. Riani speechless.
       “Uhukk..” bahkan Riani terbatuk-batuk. Ia heran mengapa Zafran terlihat senang.
       “Kamu pasti heran, kenapa aku malah senang?” Riani hanya mengangguk.
       “Karena aku sadar, bukan dia yang aku inginkan.” Cetus Zafran.
       “Lalu kenapa kamu berhubungan dengannya, bahkan mau melamar.” Kata Riani masih heran.
       “Aku anggap diriku kemarin adalah orang yang bodoh. Sangat bodoh, karena orang yang benar-benar aku inginkan adalah dekat, tapi aku tak menyadarinya.”
       “Oh ya? Siapa?” tanya Riani penasaran. Zafran semakin menatap mata Riani.
       “Kamu!” cetus Zafran sontak membuat Riani tak mampu berkata. Ia bahkan sampai terperangah.
       “Gila ya? Mana mungkin… kamu…? Ahh… kamu?” Riani bahkan kehabisan kata-katanya. Disisi lain, Zafran merasa lega.
       “Maaf jika ini terlalu mendadak. Ku pikir aku telah memilih calon yang salah. Dan aku baru menyadari ini. Dan bagiku Riani, kamu memang pilihan yang aku cari selama ini. Banyak hal yang mengarah padamu, dan rasa ini… ahh” Zafran menunduk, sesekali ia memegang dadanya yang rasanya tak mau berhenti berlonjakan, ia seperti sulit bernapas, Zafran masih memegangi dadanya itu.
       “Aku mencintaimu, Riani.” Aku Zafran kemudian. Mereka saling menatap. Riani tidak tahu harus bersikap ap, terlalu mendadak.
       “Maaf jika ini mengejutkanmu, tapi… maukah kau menjadi istriku?” tanya Zafran lagi. Kini Riani hanya bisa tertawa tak percaya. Sepersekian detik keduanya di rundung keheningan. Zafran memberikan waktu Riani mencerna lamaran yang dadakan itu. Hingga akhirnya Riani pun buka suara, setelah sebelumnya ia menghembuskan nafas panjang.
       “Hmm.. mas Juple dengar ya? Jika kamu memang serius melamarku, datanglah dan temui ayahku, maka kau akan tahu apakah aku menolak atau menerimamu.” Setelah dengan tegas mengatakan hal itu Riani beranjak dan meninggalkan Zafran sendirian dengan segala pikirannya.

T A M A T #JR/22-26/10/17
PS : Cerita ini terinspirasi dari mimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar