Kamis, 28 Desember 2017

BEEN THROUGH Korean Ver.

BEEN THROUGH
(Korean Ver.)


      Seorang gadis tengah berjalan menuju apartemen. Di tengah hujan salju bulan desember yang turun di distrik Gangnam, Seoul kala itu. Ia tiba di sebuah apartemen yang cukup mewah. Sesekali ia ragu untuk melangkah. Namun tekadnya telah bulat, jika bukan sekarang kapan lagi? Batinnya.
      Ia segera naik ke lantai 28, dimana seseorang yang mungkin ia akan temui terakhir kalinya tinggal. Saat tiba dilorong lantai 28 ia menarik napas panjang sebelum ia berjalan menuju pinta apartemen.
      “Ku harap aku tidak akan pernah menyesal melakukan ini. Aku akan siap, tidak! Aku harus siap, apapun alasannya!” cetusnya pada diri sendiri untuk meyakinkannya.
      Kini gadis itu telah di depan pintu apartemen. Ia segera memencet bel. Sepersekian detik kemudian, seorang pemuda tinggi dan semampai membukakan pintunya. Pemuda itu tampak tercengang, ini sangat mengejutkannya, karena seorang gadis datang menemuinya dengan titik titik salju yang masih menempel di mantelnya. Sedang gadis itu hanya tersenyum kaku, ia memaksakannya. Padahal jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah perasaan yang tak ingin ia lihatkan.
      Setelah mempersilahkan masuk, gadis itu ragu-ragu untuk mengikuti pemuda itu.
      “Apa kau akan berdiri disitu saja, huh?” kata Sehun, pemuda itu yang melihat Lulu masih berdiri di depan pintu. Lulu lalu mengikuti Sehun masuk dan duduk.
      “Kau mau kopi panas? Atau coklat panas?” tawar Sehun yang berjalan memasuki dapur.
      “Kau pasti tahu kesukaanku.” Kata Lulu dengan senyum yang masih ia paksakan mengembang.
      Beberapa saat kemudian, ia membawa nampan berisi dua coklat panas, kesukaan mereka.
      “Sudah lama sekali aku tak main ke sini.” Lulu mengedarkan pandang melihit seisi apartemen Sehun yang masih sama. Sama seperti isi hatinya yang masih sama sejak pertama. Ia tersipu.
      “Yah, lama… sejak saat itu, bahwa aku masih disini menunggumu menjawabnya. Ah tidak, bahkan aku tidak menginginkan balasan, aku hanya ingin mengetahui perasaanmu padaku saja, itu sudah cukup mungkin.” Kali ini Sehun menunduk sambil menyesap coklat panasnya.
      Sudah satu bulan berlalu, saat terakhir mereka terlihat dekat dan semakin dekat, sampai Sehun mengatakan perasaannya pada Lulu, namun Lulu tidak menjawab sampai sekarang.
      “Baiklah, aku kemari juga bukan tanpa tujuan. Aku tahu kau pasti masih menungguku. Maaf membuatmu menungguku.” Lulu memelankan suaranya saat meminta maaf, ia sungguh tak sanggup, air matanya seakan akan ingin berontak, tapi ia harus menahannya.
      “Hey, sudahlah! Gak usah terlalu serius. Santai saja, aku akan menunggumu kapanpun kau mau. Yang aku inginkan, saat kau ada disini, saat aku bisa melihatmu tersenyum, selama kau masih disisiku aku masih bisa menerima, walaupun hanya sebagai teman.” Seketika hati Lulu mencelos, bukan kerelaan hati Sehun yang menerima jika di tolak namun karena mendengar kata ‘selama kau masih disini’. Sehun tersenyum tulus.
      “Ah, baiklah. Oh iya? Bolehkah jika aku menjawab dan mengatakan perasaanku dalam sebuah surat? Aku merasa aku akan canggung jika mengatakannya langsung?” tanya Lulu.
      “Apa kau berasal dari dinasti Joseon atau Goryeo? Kuno sekali?” Sehun tersenyum geli, namun Lulu menatapnya memohon.
      “Boleh ya? Sekali ini? Aku benar-benar tidak bisa.” Kekehnya.
      “Hm.. baiklah. Kau boleh.” Sehun menghembuskan napas berat. Ia harus siap juga dengan penolakannya, sangat siap malah.
      “Ini untukmu, jangan di baca sebelum aku pulang ya?” Lulu memberikannya dengan senyum tulusnya. Sehun menerima dengan perasaan campur aduk.
      Lulu melihat-lihat isi apartemen Sehun. Ia merapihkan kamar Sehun yang berantakan, menata isi lemari, bahkan ia memasakan Sehun untuk makan malam.
      “Mungkin ini jadi yang terakhir. Maafkan aku Hun.” Batin Lulu terasa teriris, melihat betapa lahabnya Sehun memakan spaghetti bikinannya. Lulu benar-benar harus menahan diri.
      Setelah makan, Lulu bergegas untuk pamit. Walaupun hatinya masih ingin bersama Sehun, tapi ia tak bisa. Sehun juga dengan berat hati juga harus merelakan Lulu pulang.
      “Aku pulang ya? Kau jaga diri baik-baik ya? Ingat jaga kesehatan dan jangan jahili hyung-hyungmu! Mereka itu sayang padamu, tapi kau sering mengerjainya, ishh.. dasar!” pesan Lulu sebelum pergi.
      “Dasar bawel! Kayak yang mau pergi jauh aja nih.” Tutur Sehun. Lagi! Hati Lulu mencelos.
      Setelah berpelukan cukup lama, Lulupun pergi.
      “Aku pasti akan merindukanmu Hun. I love you!” batinnya bergejolak. Selama dalam perjalanan, air matanya sudah tak sanggup di bendung.
***
      Di sisi lain. sehun masih ragu membuka surat Lulu. Namun, setelah beberapa jam berlalu. Ia beranikan membukanya.

Dear Sehun….
Anyeong Hun… mungkin saat kau membuka surat ini, aku telah pergi ke bandara… atau bahkan sangkin takutnya kau membukanya bisa jadi aku telah berada jauh. Maaf kan aku Sehun. Jika aku boleh berbohong, maka perasaanku padamu adalah… aku benar benar tak menyukaimu, aku benci kau yang kampret, kau yang jahil, kau yang manja padaku, aku benci sekali padamu Hun. Kau yang sangat teguh pendirian, kau yang masih BERUSAHA, kau yang tak menyerah. Aku membencimu. Bukankah kau benci aku setelah ini jika aku jujur tapi malah meninggalkannmu? Makanya aku bohong saja tentang perasaanku Hun.
Hun.. jika kau telah membaca surat ini, pada jam 11 malam aku akan terbang ke China. Aku tidak akan kembali ke Korea Hun. Bahkan jika kau menyusulku… kau tak kan pernah bisa bertemu denganku. Aku sungguh minta maaf. Dari awal kita memang tak mungkin bersatu. Beda Negara, beda budaya, beda agama, bahka beda usia aku yang lebih tua darimu 4 tahun. Selamat tinggal Sehun. Aku mencintaimu. Siapapun pasanganmu kelak, semoga kau mendapat yang jauh lebih baik dariku. Terimakasih untuk hari-hari menyenangkan denganmu. Terimakasih J

From Lulu

      Seketika saat setelah membacanya, Sehun melirik arlojinya yang menunjukkal pukul 10.20 pm. Lalu ia bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera melaju menuju Incheon International Airport. Masih ada waktu sebelum jam 11 batinnya.
      Dalam perjalanan, pikirannya begitu kalut. Bagaimana bisa Lulu pergi meninggalkannya begitu saja, dimana Sehun bisa menerima walau ditolak asal ia bisa melihatnya.
      Sehun sesekali mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras, matanya merah menahan air mata.
      Bagaimana bisa Lulu mengatakan membencinya saat berbohong, maka jika ia jujur artinya ia juga memiliki perasaan dengan Sehun.
      Sehun menorobos malam dari Seoul ke Incheon dengan kecepatan penuh.
      Pukul 10.55 pm. Sehun sampai di airport. Ia segera berlari menuju line penerbangan ke China. Ia memeriksa satu per satu di ruang tunggu.
      Sehun kalap. Ia tahu mungkin Lulu sudah memasuki pesawat karena sudah tinggal lima menit. Sehun tidak tahu harus bebrbuat apa lagi. Ia merasa hari ini adalah pertama kalinya ia merasa putus asa. Sehun mengerang, ia tak peduli orang-orang melihatnya aneh.
      Sehun memilih duduk di tempat menunggu penumpang yang akan ke China. Ia benar-benar frustasi tak menemukan Lulu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.
      “Oh Sehun, mengapa kau disini? Apakah…” kata orang itu, Sehun masih hapal betul suara gadis yang beberapa jam lalu masih dirumahnya ini. Seketika saat melihat Lulu , Sehun langsung berhambur memeluk erat gadis itu.
      Lulu pun membalas pelukannya. Bagaimanapun, ia juga sangat menyayangi orang itu. Mereka berpelukan erat sangat lama, lama sekali.
      “Jangan pergi, aku mohon tetaplah disisiku!” suara Sehun terdengar serak karena menangis, ia bahkan terlihat begitu frustasi.
      Penerbangan tujuan Beijing China akan segera. Di mohon para penumpang memasuki maskapai XXX.
      Para penumpang sudah mulai beranjak untuk masuk. Tapi Sehun menahan Lulu.
      “Please, biarkan aku pergi. Kau harus merelakanku. Sampai kapanpun, kita tak mungkin bersatu. Terimakasih Sehun, aku mencintaimu.” Lulu mengecup pipi Sehun sebentar lalu menarik diri dan pergi meninggalkannya.
      Sehun masih terpaku, lututnya terasa lemas, air matanya pun mulai membasahi pipi. Sehun memandangi punggung Lulu yang perlahan menghilang itu.
      Disisi lain, hati Lulu rasanya hancur. Ia tak sanggup memandang Sehun. Lulu hanya memukul-mukul dadanya yang sangat nyeri. Air mata nya juga tak henti hentinya mengalir.
      ”Goodbye… I  love you so much Oh Sehun…” gumannya dalam hati, lalu pesawat pun lepas landas, meninggalkan Incheon, Korea Selatan. Meninggalkan dua tahun ia setelah ia mengenal Sehun, meninggalkan kenangan bersama kakak dan adik adik yang ia kenal bersama Sehun, meninggalkan banyak waktu yang ia habiskan bersama Sehun, meninggalkan luka. Tapi Lulu sudah siap. Harus siap.


T H E  E N D

PS : pas baca harus ada BGM Been Through nya EXO ya. Author lagi suka banget sama tuh lagu. Pas banget deh buat cerita yang melo-melo. Buat EXO L, mian karena harus bercerita tentang HunHan Shipper, walau Luhan Gege udah jadi mantan. Gak tahu kenapa aku prefer sama dia ketimbang Tao dan Kris. Perpisahan itu emang selalu menyakitkan ya raeders… *author curcol. Oke cukup sekian. Thanks a lots for read my 2nd fan finction. Oh ya, jangan lupa baca “BEEN THROUGH Indonesian Version” yaa… Gomawoyo!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar