BEEN
THROUGH
(Korean
Ver.)
Seorang
gadis tengah berjalan menuju apartemen. Di tengah hujan salju bulan desember yang
turun di distrik Gangnam, Seoul kala itu. Ia tiba di sebuah apartemen yang
cukup mewah. Sesekali ia ragu untuk melangkah. Namun tekadnya telah bulat, jika
bukan sekarang kapan lagi? Batinnya.
Ia
segera naik ke lantai 28, dimana seseorang yang mungkin ia akan temui terakhir
kalinya tinggal. Saat tiba dilorong lantai 28 ia menarik napas panjang sebelum
ia berjalan menuju pinta apartemen.
“Ku
harap aku tidak akan pernah menyesal melakukan ini. Aku akan siap, tidak! Aku
harus siap, apapun alasannya!” cetusnya pada diri sendiri untuk meyakinkannya.
Kini
gadis itu telah di depan pintu apartemen. Ia segera memencet bel. Sepersekian
detik kemudian, seorang pemuda tinggi dan semampai membukakan pintunya. Pemuda
itu tampak tercengang, ini sangat mengejutkannya, karena seorang gadis datang
menemuinya dengan titik titik salju yang masih menempel di mantelnya. Sedang
gadis itu hanya tersenyum kaku, ia memaksakannya. Padahal jauh dilubuk hatinya
yang paling dalam, ada sebuah perasaan yang tak ingin ia lihatkan.
Setelah
mempersilahkan masuk, gadis itu ragu-ragu untuk mengikuti pemuda itu.
“Apa
kau akan berdiri disitu saja, huh?” kata Sehun, pemuda itu yang melihat Lulu
masih berdiri di depan pintu. Lulu lalu mengikuti Sehun masuk dan duduk.
“Kau
mau kopi panas? Atau coklat panas?” tawar Sehun yang berjalan memasuki dapur.
“Kau
pasti tahu kesukaanku.” Kata Lulu dengan senyum yang masih ia paksakan
mengembang.
Beberapa
saat kemudian, ia membawa nampan berisi dua coklat panas, kesukaan mereka.
“Sudah
lama sekali aku tak main ke sini.” Lulu mengedarkan pandang melihit seisi
apartemen Sehun yang masih sama. Sama seperti isi hatinya yang masih sama sejak
pertama. Ia tersipu.
“Yah,
lama… sejak saat itu, bahwa aku masih disini menunggumu menjawabnya. Ah tidak,
bahkan aku tidak menginginkan balasan, aku hanya ingin mengetahui perasaanmu
padaku saja, itu sudah cukup mungkin.” Kali ini Sehun menunduk sambil menyesap
coklat panasnya.
Sudah
satu bulan berlalu, saat terakhir mereka terlihat dekat dan semakin dekat, sampai
Sehun mengatakan perasaannya pada Lulu, namun Lulu tidak menjawab sampai
sekarang.
“Baiklah,
aku kemari juga bukan tanpa tujuan. Aku tahu kau pasti masih menungguku. Maaf
membuatmu menungguku.” Lulu memelankan suaranya saat meminta maaf, ia sungguh
tak sanggup, air matanya seakan akan ingin berontak, tapi ia harus menahannya.
“Hey,
sudahlah! Gak usah terlalu serius. Santai saja, aku akan menunggumu kapanpun
kau mau. Yang aku inginkan, saat kau ada disini, saat aku bisa melihatmu
tersenyum, selama kau masih disisiku aku masih bisa menerima, walaupun hanya
sebagai teman.” Seketika hati Lulu mencelos, bukan kerelaan hati Sehun yang
menerima jika di tolak namun karena mendengar kata ‘selama kau masih disini’.
Sehun tersenyum tulus.
“Ah,
baiklah. Oh iya? Bolehkah jika aku menjawab dan mengatakan perasaanku dalam
sebuah surat? Aku merasa aku akan canggung jika mengatakannya langsung?” tanya
Lulu.
“Apa
kau berasal dari dinasti Joseon atau Goryeo? Kuno sekali?” Sehun tersenyum
geli, namun Lulu menatapnya memohon.
“Boleh
ya? Sekali ini? Aku benar-benar tidak bisa.” Kekehnya.
“Hm..
baiklah. Kau boleh.” Sehun menghembuskan napas berat. Ia harus siap juga dengan
penolakannya, sangat siap malah.
“Ini
untukmu, jangan di baca sebelum aku pulang ya?” Lulu memberikannya dengan
senyum tulusnya. Sehun menerima dengan perasaan campur aduk.
Lulu
melihat-lihat isi apartemen Sehun. Ia merapihkan kamar Sehun yang berantakan,
menata isi lemari, bahkan ia memasakan Sehun untuk makan malam.
“Mungkin ini jadi yang terakhir. Maafkan aku
Hun.” Batin Lulu terasa teriris, melihat betapa lahabnya Sehun memakan
spaghetti bikinannya. Lulu benar-benar harus menahan diri.
Setelah
makan, Lulu bergegas untuk pamit. Walaupun hatinya masih ingin bersama Sehun,
tapi ia tak bisa. Sehun juga dengan berat hati juga harus merelakan Lulu
pulang.
“Aku
pulang ya? Kau jaga diri baik-baik ya? Ingat jaga kesehatan dan jangan jahili hyung-hyungmu! Mereka itu sayang padamu,
tapi kau sering mengerjainya, ishh.. dasar!” pesan Lulu sebelum pergi.
“Dasar
bawel! Kayak yang mau pergi jauh aja nih.” Tutur Sehun. Lagi! Hati Lulu
mencelos.
Setelah
berpelukan cukup lama, Lulupun pergi.
“Aku pasti akan merindukanmu Hun. I love
you!” batinnya bergejolak. Selama dalam perjalanan, air matanya sudah tak
sanggup di bendung.
***
Di
sisi lain. sehun masih ragu membuka surat Lulu. Namun, setelah beberapa jam
berlalu. Ia beranikan membukanya.
Dear Sehun….
Anyeong Hun… mungkin saat kau membuka
surat ini, aku telah pergi ke bandara… atau bahkan sangkin takutnya kau
membukanya bisa jadi aku telah berada jauh. Maaf kan aku Sehun. Jika aku boleh
berbohong, maka perasaanku padamu adalah… aku benar benar tak menyukaimu, aku
benci kau yang kampret, kau yang jahil, kau yang manja padaku, aku benci sekali
padamu Hun. Kau yang sangat teguh pendirian, kau yang masih BERUSAHA, kau yang
tak menyerah. Aku membencimu. Bukankah kau benci aku setelah ini jika aku jujur
tapi malah meninggalkannmu? Makanya aku bohong saja tentang perasaanku Hun.
Hun.. jika kau telah membaca
surat ini, pada jam 11 malam aku akan terbang ke China. Aku tidak akan kembali
ke Korea Hun. Bahkan jika kau menyusulku… kau tak kan pernah bisa bertemu
denganku. Aku sungguh minta maaf. Dari awal kita memang tak mungkin bersatu.
Beda Negara, beda budaya, beda agama, bahka beda usia aku yang lebih tua darimu
4 tahun. Selamat tinggal Sehun. Aku mencintaimu. Siapapun pasanganmu kelak,
semoga kau mendapat yang jauh lebih baik dariku. Terimakasih untuk hari-hari
menyenangkan denganmu. Terimakasih J
From Lulu
Seketika saat setelah membacanya, Sehun melirik
arlojinya yang menunjukkal pukul 10.20 pm. Lalu ia bergegas mengambil kunci
mobilnya dan segera melaju menuju Incheon International Airport. Masih ada
waktu sebelum jam 11 batinnya.
Dalam
perjalanan, pikirannya begitu kalut. Bagaimana bisa Lulu pergi meninggalkannya
begitu saja, dimana Sehun bisa menerima walau ditolak asal ia bisa melihatnya.
Sehun
sesekali mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras, matanya merah menahan air
mata.
Bagaimana
bisa Lulu mengatakan membencinya saat berbohong, maka jika ia jujur artinya ia
juga memiliki perasaan dengan Sehun.
Sehun
menorobos malam dari Seoul ke Incheon dengan kecepatan penuh.
Pukul
10.55 pm. Sehun sampai di airport. Ia segera berlari menuju line penerbangan ke
China. Ia memeriksa satu per satu di ruang tunggu.
Sehun
kalap. Ia tahu mungkin Lulu sudah memasuki pesawat karena sudah tinggal lima
menit. Sehun tidak tahu harus bebrbuat apa lagi. Ia merasa hari ini adalah
pertama kalinya ia merasa putus asa. Sehun mengerang, ia tak peduli orang-orang
melihatnya aneh.
Sehun
memilih duduk di tempat menunggu penumpang yang akan ke China. Ia benar-benar
frustasi tak menemukan Lulu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.
“Oh
Sehun, mengapa kau disini? Apakah…” kata orang itu, Sehun masih hapal betul
suara gadis yang beberapa jam lalu masih dirumahnya ini. Seketika saat melihat
Lulu , Sehun langsung berhambur memeluk erat gadis itu.
Lulu
pun membalas pelukannya. Bagaimanapun, ia juga sangat menyayangi orang itu.
Mereka berpelukan erat sangat lama, lama sekali.
“Jangan
pergi, aku mohon tetaplah disisiku!” suara Sehun terdengar serak karena
menangis, ia bahkan terlihat begitu frustasi.
Penerbangan tujuan Beijing China akan
segera. Di mohon para penumpang memasuki maskapai XXX.
Para
penumpang sudah mulai beranjak untuk masuk. Tapi Sehun menahan Lulu.
“Please,
biarkan aku pergi. Kau harus merelakanku. Sampai kapanpun, kita tak mungkin
bersatu. Terimakasih Sehun, aku mencintaimu.” Lulu mengecup pipi Sehun sebentar
lalu menarik diri dan pergi meninggalkannya.
Sehun
masih terpaku, lututnya terasa lemas, air matanya pun mulai membasahi pipi.
Sehun memandangi punggung Lulu yang perlahan menghilang itu.
Disisi
lain, hati Lulu rasanya hancur. Ia tak sanggup memandang Sehun. Lulu hanya
memukul-mukul dadanya yang sangat nyeri. Air mata nya juga tak henti hentinya
mengalir.
”Goodbye… I
love you so much Oh Sehun…” gumannya dalam hati, lalu pesawat pun
lepas landas, meninggalkan Incheon, Korea Selatan. Meninggalkan dua tahun ia
setelah ia mengenal Sehun, meninggalkan kenangan bersama kakak dan adik adik
yang ia kenal bersama Sehun, meninggalkan banyak waktu yang ia habiskan bersama
Sehun, meninggalkan luka. Tapi Lulu sudah siap. Harus siap.
T H E E N D
PS : pas baca harus ada BGM Been
Through nya EXO ya. Author lagi suka banget sama tuh lagu. Pas banget deh buat
cerita yang melo-melo. Buat EXO L, mian karena harus bercerita tentang HunHan
Shipper, walau Luhan Gege udah jadi mantan. Gak tahu kenapa aku prefer sama dia
ketimbang Tao dan Kris. Perpisahan itu emang selalu menyakitkan ya raeders…
*author curcol. Oke cukup sekian. Thanks a lots for read my 2nd fan
finction. Oh ya, jangan lupa baca “BEEN THROUGH Indonesian Version” yaa…
Gomawoyo!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar