Kamis, 28 Desember 2017

GUESS WHO? (CHP. 1)

GUESS WHO ?



      Hai namaku Atiqah. Tapi biasa di panggil Tiqa pake “q” bukan “k”. oke aku tidak akan membuat tulisan ini menjadi berat dengan drama mellow-melownya author selama ini. Kayaknya author juga cape dan ikutan nyesek lama-lama kalu bikin cerita bergenre drama. Lalu apakah kali ini author membuat tulisan bergenre komedi? Tanya aja sama author, Tiqa disini Cuma di tugasin sebagai pemeran utama wanita (cieileeehh) dan berhak menjadi POINT OF VIEW  utama.
      Oke kembali ke cerita Tiqa. Karena disini Tiqa bebas menghiasi tulisan yang author pikirkan. Oke? Jadi Tiqa bakalan sedikit berkisah (duileehh.. berasa seorang pendongeng Tiqa tuh :P).
      Suatu hari di bulan April. Tiqa melihat seorang cowok (ciee, Tiqa first shigt nih?). duh si author ikut-ikut aja sih? Udah diem! Oke gays, kembali ke cerita Tiqa. Jadi, Tiqa melihat seseorang yang memang taka sing, tapi asing. Kok bisa? Ya maka dari itu Tiqa juga bingung.
      Emang bener sih kata author, Tiqa first shigt gitu. Gimana enggak abis orangnya bening gitu (yaelaahhh.. aer kali yaa bening :P). liat aja hati rasanya adem, astaghfirullah maaf Tiqa khilaf ya?
      Nah pertanyaan Tiqa adalah. Tiqa nggak tahu siapa dia. Tapi kenapa bisa hadir di acara kakakku. Ia menghadiri pernikahan kakakku dan akrab dengannya, apa mungkin temannya? Dia bahkan terlihat jauh lebih muda dari kakakku. Perlu diketahui, kakak ku bernama Ikmal. Dia menikah di usia 27 tahun. Jarakku dengan kakak sekitar 5 tahunan, aku kini berusia 22 tahun.
      Oke balik lagi. Aku mengamati cowok itu dari jauh. Sempet sok sok caper sih, tapi kayaknya gak ngaruh ya? Iyalah siapa sih aku Cuma butiran upil yang kagak berguna dan gaenak di pandang… hikss.. hikkss.
***
      Suatu saat setelah pernikahan kakakku berlalu. Aku memberanikan bertanya pada kakaku yang sebenernya rese’ itu.
      “Mas Mal! Tiqa mau tanya dong!” tanyaku pada kakak.
      “Apa Tiq?” katanya.
      “Mas ini temennya mas ya?” aku menunjuk foto pernikahannya yang ada cowok itu.
      “Oh si Andovi? Dia anak baru di tempat mas kerja Tiq. Kenapa nih nanya-nanya?” curiga kakakku.
      “Oh, gak pa-pa mas. Kayak gak asing aja.” Sahutku cuek.
      “Oh iya. Dia kayaknya sih sepantaran sama kamu Tiq.” Jelas kakakku.
      “Masak mas? Kelihatannya emang masih muda juga sih.” Kataku.
      “Mungkin. Mas juga gak tahu, hehe soalnya mask an udah dipindah ke devisi lain, jadi mas udah jarang ketemu dia.” Cerita kakakku.
      Aku pun mengakhiri obrolanku dengannya setelah itu. Masih penasaran sih, siapa gerangan dia ini ya? Duh ayo dong thor kasih tahu Tiqa, siapa si do’I ini jadi Tiqa gak perlu nulis banyak-banyak buat mengasumsikan si do’I ini. Heheh.
***
      Beberapa bulan kemudian. Tiqa udah gak penasaran lagi sama si siapa kemarin dah ya? Aa.. si And… Ando..vi. yah, si Andovi itu. Karena Tiqa pikir, Tiqa hanya penasaran, jadi setelah tahu yaa udah gitu aja. Eh ternyata. Sudah 6 bulan berlalu sejak itu, Tiqa ketemu masa sama dia.
      Disebuah acara tempat Tiqa kerja sekarang, si Andovi juga datang. Mungkin karena kita bekerja di bidang yang sama kali ya. Jadi Tiqa itu kerja di dinas kesehatan gitu, sama kayak kakak Tiqa, tapi kakak Tiqa di farmasi dan bagian obat-obatannya.
      Saat itu Tiqa duduk sendirian sambil main HP gitu, sambil memandangin sawah-sawah (ceritanya, acaranya itu di adain di sebuah tempat outdoor yang lengkap fasilitas makan,mushala, dan bahkan tempat bermain gitu). Eh tiba-tiba si Andovi nyamperin Tiqa masa… kan Tiqanya jadi syok!
      “Hai!” sapanya. Aku hanya memandangnya kikuk. Diapun tersenyum canggung.
      “Ah iya…” jawabku.
      “Boleh gabung? Eh, ganggu nggak?” tanyanya.
      “Bo..leh. enggak kok santai aja.” Kataku.
      “Kamu adiknya mas Ikmal kan?” tanyanya. “Nah lho? Dia tahu ternyata kalau aku adik mas Ikmal’”. Batinku dalam hati.
      “Iya nih. Kok tahu?” tuduhku curiga.
      “Ahaaha. Masak kamu lupa sih?” dia malah balik bertanya.
      “Lah, malah balik tanya. Kalau aku inget gak bakal lupa kali.” Kataku sewot.
      “Hahah kamu lucu ya?” kekehnya.
      “Die malah ketawa.” Kataku menepuk jidat.
      “Sorry sorry… aku lihat kamu pas datang ke nikahnya mas Ikmal.” Katanya.
      “Oh, seperti itu…” aku hanya ber ‘oh’ ria.
      “Bukan itu aja sih… aku juga dulu sebenarnya dulu pas kecil sering main kerumah mu lho…”
      Oke, sekarang Tiqa lagi inget-inget. Siapa sih nih orang?

TBC
PS : Kira-kira siapa sih si Andovi ini? Tiqa sampai lupa gitu? Apa mereka….? Tunggu kisahnya di up date yang akan datang.

KIDUNG KEMATIAN

Kidung kematian.
Jika kematian adalah kesempurnaan, maka patah hati juga sama.
Mengapa kematian sama dengan patah hati. Karena patah hati adalah jiwa yang mati dipaksa harus bernapas.
Semenyakitkan apa? Bukankah kematian lebih sakit, wallahu’alam .
Beberapa orang yang menganut kepercayaan lain mengatakan, jika setelah mati maka tidak aka nada yang namanya beban lalu kau akan damai di alam sana. Tapi ada beberapa keyakinan yang menghapuskan dosa dengan ritual-ritual tertentu.
Namun bagi yang muslim, hal itu menjadi dilemma. Yah, hidup segan mati banyak dosa.
Bagaima mengatasi hal tersebut?
Sebelum kita menginjak pada hal diatas, kita telisik dulu. Mengapa manusia menginginkan mati setelah mengalami kehidupan yang sangat berat.
Beban psikologis dan lemahnya iman menjadi faktor yang kuat, namun disini kita akan membahasnya lebih sempit.

Patah hati sama dengan mati. Tapi mati lain cerita dengan patah hati. Jika kau merasakan patah hati, kau hanya perlu hidup walau tak memiliki jiwa, namun kau harus segera mengembalikan jiwamu yang mati, sebelum benar-benar mati.
Karena patah hati masih bisa hidup, tapi mati benar-benar pergi selamanya dan tak akan pernah kembali.

Seseorang yang merasa depresi, tertekan, dan stress cenderung tidak kuat mengadapi beban mentalnya, maka ia memilih segera mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sebenarnya itu bukan satu satunya jalan keluar, mengapa manusia seperti itu cenderung berpikiran dangkal? Seberapa tertekankah hidupnya?

Jika ia berpikir hidupnya akan tenang setelah mati. Hey! Mana ada? Justru kau akan semakin sakit di alam sana. Keyakinan setiap orang berbeda, namun saya dengan keyakinan yang saya anut, maka orang itu tentu tidak akan tenang dan menyesal telah mengakhiri hidupnya. Bisakah orang yang mati bunuh diri adalah di sebut takdir? Atau bukan? Mengapa Tuhanku berkata jika bunuh diri sangat di bencinya? Alih-alih menyembuhkan masalah psikologis seorang yang depresi memang sudah tidak kuat, itu artinya ia lemah iman. Bahkan ia memiliki keyakinan. Dalam keyakinan yang ia anut juga terdapat pembelajaran tentang keimanan. Bukankah setiap ajaran memiliki nilai positive. Apakah Tuhan member cobaan yang ia tidak kuat lalu bunuh diri, atau Tuhan benar-benar memberinya nikmat yang bahkah ia tak tahu cara bersyukur sehingga terjerumus ke dalam lembah.

Setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam membenahi diri. Manusia yang memiliki iman yang kuat akan lebih positif thinking. Bagaimana ia bisa berpikir dangkal dengan melakukan bunuh diri? Seberapa berat beban yang ia pikul?

Mungkin konsep ini lebih sensitive jika disandingkan dengan konsep religi. Namun saya tidak akan mengupas tentang kereligiannya, akan tetapi secara logika. Apakah orang yang bunuh diri dikatakan stress? Bisa jadi, karena bunuh diri ia kehilangan akan sehatnya bukan? Dalam kehidupannya yang menurutnya sangat berat itu, mungkin ia memang sudah benar-benar tidak waras.

CR. +Wasik Amalia 


INSENSIBLE

INSENSIBLE
Oleh    : Wasi’atul Amalia


Dua bulan berlalu, sejak saat itu pula perasaannya aneh, ia merasa mati rasa. Di depannya tengah duduk seorang pria yang melahab sarapannya dan asik bermain HP. Pria yang sangat ia cintai.
            “Hey, mengapa kau menatapku?” gadis Bernama Baby itu memalingkan pandangannya, lalu menggeleng pelan. Ia memilih ke dapur membersihkan sisa sarapan mereka.
            Sudah dua bulan sikap Kenny berubah, pria itu sibuk dengan HPnya. Baby bukannya tidak tahu apa-apa, ia hanya takut untuk mengetahui kebenarannya.
            Hingga suatu siang saat Kenny tertidur di sofa dengan HPnya, Baby penasaran. Ia mengambil HP itu.
            Baby membuka layar kunci, dengan ragu-ragu ia membuka galeri. Di lihatnya satu persatu gambar, tak ada yang mencurigakan, sampai ia menemukan beberapa potongan gambar gadis lain. gadis itu selfie bersama Kenny-nya, mereka tampak bahagia.
            “Apa yang kau lakukan?” suara berat Kenny mengejutkan Baby, Baby hanya tertunduk, Kenny menyahut HPnya dengan kasar.
            “Apa yang kau lakukan dengan HPku? Jawab!” pekik Kenny, HP itu di banting dan seketika hancur. Baby terbelalak lalu berlari memeluk Kenny-nya.
            “Lepaskan Beb! Ku bilang lepas!” namun keduanya terdiam dalam pelukan, dalam diam Baby menitikan air mata, ia sadar kekasihnya tak lagi mencintainya lagi. Rasa sakitnya telah hilang entah kemana, ia rela.
            “Jika kau ingin melepasku, lepaskan!” putusnya.

BEEN THROUGH Korean Ver.

BEEN THROUGH
(Korean Ver.)


      Seorang gadis tengah berjalan menuju apartemen. Di tengah hujan salju bulan desember yang turun di distrik Gangnam, Seoul kala itu. Ia tiba di sebuah apartemen yang cukup mewah. Sesekali ia ragu untuk melangkah. Namun tekadnya telah bulat, jika bukan sekarang kapan lagi? Batinnya.
      Ia segera naik ke lantai 28, dimana seseorang yang mungkin ia akan temui terakhir kalinya tinggal. Saat tiba dilorong lantai 28 ia menarik napas panjang sebelum ia berjalan menuju pinta apartemen.
      “Ku harap aku tidak akan pernah menyesal melakukan ini. Aku akan siap, tidak! Aku harus siap, apapun alasannya!” cetusnya pada diri sendiri untuk meyakinkannya.
      Kini gadis itu telah di depan pintu apartemen. Ia segera memencet bel. Sepersekian detik kemudian, seorang pemuda tinggi dan semampai membukakan pintunya. Pemuda itu tampak tercengang, ini sangat mengejutkannya, karena seorang gadis datang menemuinya dengan titik titik salju yang masih menempel di mantelnya. Sedang gadis itu hanya tersenyum kaku, ia memaksakannya. Padahal jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah perasaan yang tak ingin ia lihatkan.
      Setelah mempersilahkan masuk, gadis itu ragu-ragu untuk mengikuti pemuda itu.
      “Apa kau akan berdiri disitu saja, huh?” kata Sehun, pemuda itu yang melihat Lulu masih berdiri di depan pintu. Lulu lalu mengikuti Sehun masuk dan duduk.
      “Kau mau kopi panas? Atau coklat panas?” tawar Sehun yang berjalan memasuki dapur.
      “Kau pasti tahu kesukaanku.” Kata Lulu dengan senyum yang masih ia paksakan mengembang.
      Beberapa saat kemudian, ia membawa nampan berisi dua coklat panas, kesukaan mereka.
      “Sudah lama sekali aku tak main ke sini.” Lulu mengedarkan pandang melihit seisi apartemen Sehun yang masih sama. Sama seperti isi hatinya yang masih sama sejak pertama. Ia tersipu.
      “Yah, lama… sejak saat itu, bahwa aku masih disini menunggumu menjawabnya. Ah tidak, bahkan aku tidak menginginkan balasan, aku hanya ingin mengetahui perasaanmu padaku saja, itu sudah cukup mungkin.” Kali ini Sehun menunduk sambil menyesap coklat panasnya.
      Sudah satu bulan berlalu, saat terakhir mereka terlihat dekat dan semakin dekat, sampai Sehun mengatakan perasaannya pada Lulu, namun Lulu tidak menjawab sampai sekarang.
      “Baiklah, aku kemari juga bukan tanpa tujuan. Aku tahu kau pasti masih menungguku. Maaf membuatmu menungguku.” Lulu memelankan suaranya saat meminta maaf, ia sungguh tak sanggup, air matanya seakan akan ingin berontak, tapi ia harus menahannya.
      “Hey, sudahlah! Gak usah terlalu serius. Santai saja, aku akan menunggumu kapanpun kau mau. Yang aku inginkan, saat kau ada disini, saat aku bisa melihatmu tersenyum, selama kau masih disisiku aku masih bisa menerima, walaupun hanya sebagai teman.” Seketika hati Lulu mencelos, bukan kerelaan hati Sehun yang menerima jika di tolak namun karena mendengar kata ‘selama kau masih disini’. Sehun tersenyum tulus.
      “Ah, baiklah. Oh iya? Bolehkah jika aku menjawab dan mengatakan perasaanku dalam sebuah surat? Aku merasa aku akan canggung jika mengatakannya langsung?” tanya Lulu.
      “Apa kau berasal dari dinasti Joseon atau Goryeo? Kuno sekali?” Sehun tersenyum geli, namun Lulu menatapnya memohon.
      “Boleh ya? Sekali ini? Aku benar-benar tidak bisa.” Kekehnya.
      “Hm.. baiklah. Kau boleh.” Sehun menghembuskan napas berat. Ia harus siap juga dengan penolakannya, sangat siap malah.
      “Ini untukmu, jangan di baca sebelum aku pulang ya?” Lulu memberikannya dengan senyum tulusnya. Sehun menerima dengan perasaan campur aduk.
      Lulu melihat-lihat isi apartemen Sehun. Ia merapihkan kamar Sehun yang berantakan, menata isi lemari, bahkan ia memasakan Sehun untuk makan malam.
      “Mungkin ini jadi yang terakhir. Maafkan aku Hun.” Batin Lulu terasa teriris, melihat betapa lahabnya Sehun memakan spaghetti bikinannya. Lulu benar-benar harus menahan diri.
      Setelah makan, Lulu bergegas untuk pamit. Walaupun hatinya masih ingin bersama Sehun, tapi ia tak bisa. Sehun juga dengan berat hati juga harus merelakan Lulu pulang.
      “Aku pulang ya? Kau jaga diri baik-baik ya? Ingat jaga kesehatan dan jangan jahili hyung-hyungmu! Mereka itu sayang padamu, tapi kau sering mengerjainya, ishh.. dasar!” pesan Lulu sebelum pergi.
      “Dasar bawel! Kayak yang mau pergi jauh aja nih.” Tutur Sehun. Lagi! Hati Lulu mencelos.
      Setelah berpelukan cukup lama, Lulupun pergi.
      “Aku pasti akan merindukanmu Hun. I love you!” batinnya bergejolak. Selama dalam perjalanan, air matanya sudah tak sanggup di bendung.
***
      Di sisi lain. sehun masih ragu membuka surat Lulu. Namun, setelah beberapa jam berlalu. Ia beranikan membukanya.

Dear Sehun….
Anyeong Hun… mungkin saat kau membuka surat ini, aku telah pergi ke bandara… atau bahkan sangkin takutnya kau membukanya bisa jadi aku telah berada jauh. Maaf kan aku Sehun. Jika aku boleh berbohong, maka perasaanku padamu adalah… aku benar benar tak menyukaimu, aku benci kau yang kampret, kau yang jahil, kau yang manja padaku, aku benci sekali padamu Hun. Kau yang sangat teguh pendirian, kau yang masih BERUSAHA, kau yang tak menyerah. Aku membencimu. Bukankah kau benci aku setelah ini jika aku jujur tapi malah meninggalkannmu? Makanya aku bohong saja tentang perasaanku Hun.
Hun.. jika kau telah membaca surat ini, pada jam 11 malam aku akan terbang ke China. Aku tidak akan kembali ke Korea Hun. Bahkan jika kau menyusulku… kau tak kan pernah bisa bertemu denganku. Aku sungguh minta maaf. Dari awal kita memang tak mungkin bersatu. Beda Negara, beda budaya, beda agama, bahka beda usia aku yang lebih tua darimu 4 tahun. Selamat tinggal Sehun. Aku mencintaimu. Siapapun pasanganmu kelak, semoga kau mendapat yang jauh lebih baik dariku. Terimakasih untuk hari-hari menyenangkan denganmu. Terimakasih J

From Lulu

      Seketika saat setelah membacanya, Sehun melirik arlojinya yang menunjukkal pukul 10.20 pm. Lalu ia bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera melaju menuju Incheon International Airport. Masih ada waktu sebelum jam 11 batinnya.
      Dalam perjalanan, pikirannya begitu kalut. Bagaimana bisa Lulu pergi meninggalkannya begitu saja, dimana Sehun bisa menerima walau ditolak asal ia bisa melihatnya.
      Sehun sesekali mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras, matanya merah menahan air mata.
      Bagaimana bisa Lulu mengatakan membencinya saat berbohong, maka jika ia jujur artinya ia juga memiliki perasaan dengan Sehun.
      Sehun menorobos malam dari Seoul ke Incheon dengan kecepatan penuh.
      Pukul 10.55 pm. Sehun sampai di airport. Ia segera berlari menuju line penerbangan ke China. Ia memeriksa satu per satu di ruang tunggu.
      Sehun kalap. Ia tahu mungkin Lulu sudah memasuki pesawat karena sudah tinggal lima menit. Sehun tidak tahu harus bebrbuat apa lagi. Ia merasa hari ini adalah pertama kalinya ia merasa putus asa. Sehun mengerang, ia tak peduli orang-orang melihatnya aneh.
      Sehun memilih duduk di tempat menunggu penumpang yang akan ke China. Ia benar-benar frustasi tak menemukan Lulu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.
      “Oh Sehun, mengapa kau disini? Apakah…” kata orang itu, Sehun masih hapal betul suara gadis yang beberapa jam lalu masih dirumahnya ini. Seketika saat melihat Lulu , Sehun langsung berhambur memeluk erat gadis itu.
      Lulu pun membalas pelukannya. Bagaimanapun, ia juga sangat menyayangi orang itu. Mereka berpelukan erat sangat lama, lama sekali.
      “Jangan pergi, aku mohon tetaplah disisiku!” suara Sehun terdengar serak karena menangis, ia bahkan terlihat begitu frustasi.
      Penerbangan tujuan Beijing China akan segera. Di mohon para penumpang memasuki maskapai XXX.
      Para penumpang sudah mulai beranjak untuk masuk. Tapi Sehun menahan Lulu.
      “Please, biarkan aku pergi. Kau harus merelakanku. Sampai kapanpun, kita tak mungkin bersatu. Terimakasih Sehun, aku mencintaimu.” Lulu mengecup pipi Sehun sebentar lalu menarik diri dan pergi meninggalkannya.
      Sehun masih terpaku, lututnya terasa lemas, air matanya pun mulai membasahi pipi. Sehun memandangi punggung Lulu yang perlahan menghilang itu.
      Disisi lain, hati Lulu rasanya hancur. Ia tak sanggup memandang Sehun. Lulu hanya memukul-mukul dadanya yang sangat nyeri. Air mata nya juga tak henti hentinya mengalir.
      ”Goodbye… I  love you so much Oh Sehun…” gumannya dalam hati, lalu pesawat pun lepas landas, meninggalkan Incheon, Korea Selatan. Meninggalkan dua tahun ia setelah ia mengenal Sehun, meninggalkan kenangan bersama kakak dan adik adik yang ia kenal bersama Sehun, meninggalkan banyak waktu yang ia habiskan bersama Sehun, meninggalkan luka. Tapi Lulu sudah siap. Harus siap.


T H E  E N D

PS : pas baca harus ada BGM Been Through nya EXO ya. Author lagi suka banget sama tuh lagu. Pas banget deh buat cerita yang melo-melo. Buat EXO L, mian karena harus bercerita tentang HunHan Shipper, walau Luhan Gege udah jadi mantan. Gak tahu kenapa aku prefer sama dia ketimbang Tao dan Kris. Perpisahan itu emang selalu menyakitkan ya raeders… *author curcol. Oke cukup sekian. Thanks a lots for read my 2nd fan finction. Oh ya, jangan lupa baca “BEEN THROUGH Indonesian Version” yaa… Gomawoyo!