KKN
(Kuliah Kerja Nyata) POSKO 33
Oleh : Wasi’atul Amalia
Jember, 22 Juli 2016—the begin of comfortable adv. Di mulai
dengan keberangkatan yang menyimpang dan beda dengan yang lain. yakni setelah
dzuhur. Padahal yang lain sudah start dari jam 7 pagi.
Masih dengan kebingungan
tempat yang sudah tersurvei dua kali namun tetap miss. Alhamdulillah saat hari H sudah bisa menemukan tempat stay, meskipun keadaannya cewek dan
cowok harus berpisah.
Masih juga kurang mengenal
teman-teman satu kelompok. Perkenalkan, ketua coordinator kita, Dian
Sugiarto—yang belum pernah atau belum berpengalaman menjadi ketua, bahkan
kuliah saja asal-asalan. Tapi dilihat saja sudah cukup bertanggung jawab
terhadap anggota kelompoknya, well endingnya kita bisa merasakan buah hasil
koordinasi pak Dian. Thanks buat
kerja kerasnya pak Dian.
Diah Erlina Pratiwi—adalah
wakil coordinator alias driving
coordination. Dimana dia yang katanya sudah pengalaman dengan dunia
organisasi mencoba memberi arahan-arahan pada koor yang katanya belum
pengalaman. Sedikit banyaknya juga yang paling sering ngomong dalam acara forum
maupun luar forum. Terima kasih telah mewakili untuk berorasi bagi kaum cewek,
haha.
Sekretaris kita ada bu Ria
Rosdiyana Dewi. Ria yang K-Popers banget. Cenderung suka menyendiri tapi
sekalinya berpendapat keluar semua apa yang ia pengen usulkan. Katanya sih moody jadi susah deh kalau gak mood pada kena imbasnya. Gomawo juga buat bu Ria yang sudah kerja
keras menulis apapun untuk posko 33.
Ibu bendahara kita ada Nur
Imamah Megawati—katanya sih ning. Ning Ima ini telaten banget, cocok deh buat
di jadikan bendahara. Dimana dia harus bedakan beberapa dana yang masuk maupun
keluar. Padahal kalau dilihat saja sudah mumet. Hehe. Ning Ima ini juga akan
tegas saat nagih uang, wah pas banget kan? Syukron
katsir ning Ima sudah mau menjaga, mengelola, dan bermumet ria dengan uang.
Anggota pertama kita ada
Nurul Iftitah—yang ngakunya banyak argument yang ingin di orasikan tapi
terhalang oleh sebutan “anggota” membuatnya tak bisa berbuat lebih, ah.. sabar
ya jeh Itak. Tukang kentut dan doyan makan. Dia bisa menginfluence temen-temen buat suka jajan, wahh bahaya bagi yang
gendut.
Ada aku, Wasi’atul
Amalia—entah apa yang orang sebutkan tentangku. Yang jelas, buat yang baru
kenal pasti bilangnya pendiem/sombong/cuek. Entahlah, lalu cenderung tak
hati-hati, ini sudah aku sadari dari dulu. Tapi tak bisa sembuh gaes, suwerr!.
Si unyil ini namanya Siti
Mariatu Ulva—suaranya melengking dan tentu saja unyil. Paling kecil makanya
suka di bully, hehe. Tapi jago main rebana lho, sholawatan juga jago. Walau
kecil, tapi doyan banget jajan. Herannya kok gak gede-gede ya? Haha.
Muhammad Chanif—yang gak
bisa dan gak ngerti Madura sama sekali ini, dengan bahasa jawa-banyuwangi kidul
yang medok membuatnya kayak bapak-bapak muda, haha. Jago silat, dan pembocor
foto. Kalau sudah main foto-foto, pasti di bocorin sama nih orang.
Ada Oktavia Dewi, dia juga
pendiam plus penyendiri. Suaranya kalem banget, tapi kalau kumat ya tengil.
Gara-gara giginya, jadi gagal makan enak terus, duh kasian ya. Haha. Sempat
kena musibah, tapi Alhamdulillah sudah tertangani, dan semoga bisa jadi
pelajaran ya Via.
Siti Maulidatun Nafisah—eng
ing eng, si cempreng, si rempong, si most
popular girl in Sidodadi. Gimana enggak, pesonanya membuat nya cinlok sama Robi
anak Sidodadi, ciee ciee. Cenderung ke kanak-kanakan dan untungnya jago kalo di
suruh ngeMC.
Bahrul Ulum—si trouble maker. Banyak hal yang sudah
dilakukan tanpa kordinasi membuat kita kadang salah tompo sama si cebong “nama
kesayangan yang di kasih pak Dian untuk Ulum” ini. Mungkin gak asyik kalau
gitu-gitu aja, dan Ulum bisa membuat posko 33 berguncang karena isu mendirikan
sekolah. Wah salut.
Muhammad Anwari—anggota
yang hampir tiap hari pulang karena bekerja, satu-satunya yang sudah punya
istri, jadi sudah terlihat ke bapak-bapak’an (bos juragan manisa). Tapi sangat
royal karena setelah pulang juga pasti bawa sayuran. Juga ngajakin kita
jalan-jalan. Makasih pak Anwari.
To Be Continued—
Jember, 4 September 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar