Selasa, 13 September 2016

Tempe Restoran III




TEMPE RESTORAN III (Mengapa Begini?)

Cerita ini masih berlanjut, yah… bukankah memang belum kelar? Apalagi kegiatan KKN fix ngebuat cerita ini masih kusut. Seberapa besar menyangkal seberapa kuat berpaling, dan seberapa besar menepis rasa yang dengan sendirinya muncul itu, susah men! Lu kira segampang ngebalikin tempe ?
Harapan tinggalah harapan, kenangan ya biarkan menjadi kenangan. Karena tak akan ada yang terjadi setelah ini.
***
        KKN minggu awal. Masih setia dia menemani kesendirianku ini. Yah, dia yang ku pikir meperlakukanku special masih setia. Setia menjadi teman chating. Setia berbagi pengalaman dan curhatan. Tapi masih dalam batas batas koridor “teman”. Lalu aku hanya masih bisa menunggu.
        Sampai suatu ketika di awal minggu ke dua. Dengan ringan ia berkata. “aku mau main ke poskomu.” Yah, seneng sih pas di sambang. Hehe. Tapi ternyata, apa yang aku pikir sebelumnya salah besar. Aku malah tidak merasa senag apalagi lega. Malah terkesan marah, dan gak lega. Ada sesuatu yang mengganjal. Yah, sesuatu yang terus-terus ia tutupi yang gak pernah aku tahu, atau berhubungan sama temanku satunya lagi yang katanya punya rahasia juga?
        Ah, pusing, kesel. Aku makin gak suka karena mereka main rahasia-rahasiaan seperti itu.
        Someday di akhir minggu ke dua. Aku dan teman-teman berencana ke teman-teman di posko lain, nyatanya ibuku mau menjengukku. Namun ku paksakan, setidaknya kalau ibuku mau sampai aku akan pulang dulu.
        Eng ing eng… sampailah aku ke tempatnya. Ah, baru masuk saja sudah bikin keki. Gak tau kenapa hawanya panas saja. Bikin gak kerasan sama orang-orangnya. Apalagi sindiran sindiran sarkas membuatku muak. Lagi-lagi main rahasia-rahasiaan.
        Sebentar kemudian, kita cabut ke tempat temenku juga yang katanya biangnya rahasia. Sampai di sana suasana malah lebih rame, malah lebih bikin gak kerasan dengan “pemanasan” social nya. Ha? Apa coba maksudnya?
        Banyak hawa-hawa negative di areal sana, di tambah kerahasiaan itu belum terungkap. Tiba-tiba ibuku telfon. Mau tak mau aku harus pulang duluan. Tapi kok yao, nelangsa hati ini. Akhirnya mereka mengantarku sampai di jalan raya. Dan sayang sekali gak bisa datang di tempat temanku yang terakhir.
        Sepanjang perjalanan yang ada hati ini menelan amarah dan kekesalan. Apalagi melihatnya, bukan aku cemburu tapi ada rasa mengganjal yang tak tertahankan. Apa sih yang coba dia sembunyikan atau, apa sih maksudnya selama ini?
        Sejak saat itu, gak ada yang berubah sih. Kita tetap chatingan. Sempat waktu itu aku marah besar sama dia. Cuma balasannya apa? Supaya aku gak khawatir. Hello, gue di anggap apa sama elo selama ini? Ya sudah setelah itu, aku mencoba tak menggannggu dia yang katanya lagi bermasalah.
        Di sisi lain. masku tiba-tiba nembak. Ya ampun gaes, ini waktu perang bathin malah gak selesai selesai. Dengan tanpa pikir panjang ku tolak mentah-mentah dan histeris. Namun pembawaanya yang santai justru membuatku menoleh, melihat sisi baiknya dan memikirkannya lagi sampai waktu yang telah di tentukan.
        Sudah jarang komunikasi lagi sama dia kalau gak ada yang penting, makin dekat saja sama masku ini. Sempat mimpi juga. Siapa yang harus aku perjuangkan? Jelas-jelas, seseorang yang ada di hati ini.
        Tepat tanggal 17 agustus deadline jawaban masku. Dengan masih bimbang juga, dengan beberapa kemungkinan. Teman sendiri dan kakak sendiri. Kalau aku pilih kakakku, maka kemungkinan dia yang kecewa—kalau dia suka aku :p, kalau enggak ya gak ada yang di kecewakan. Kedua kalau aku pilih dia, aku ngecewain kakakku, ya kalau aku jadi sama dia—nah kalo enggak, aku juga yang sakit. Yang ketiga, kalau aku enggak milih dua duanya ya gak ada resiko, atau malah sakit semua. Wah repot kan?
***
        Dan pada batas waktu yang di tentukan, dengan sepenuh hati dan keyakinanku. Aku, menolak lagi masku. Tapi apa responnya? Mas suruh aku mikir lagi, dan memberiku waktu sampai idhul adha. Katanya, “tidak ada yang bisa ngelarang orang yang punya niat tulus.” Kalau ku jawab kok terkesan keburu-buru. “bukan keburu-buru, kalau enggak sekarang, kapan lagi? Keburu di ambil orang.” Gitu lah jawabannya. “tak perlu takut tentang segala keputusan, di yakinkan lagi karena kesempatan tak pernah datang kedua kali.” Itu juga kata kata mas yang bikin aku terhenyak, dan memutuskan tuk memikirkannya lagi. Oh men! Perang bathin masih berlanjut.
        Setelah itu, si dia tiba-tiba ngubungin. Kalau banyak hal yang ingin ia jelasin. Kita perlu face to face, dan bilang kalau selama ini dia coba cari jalan keluar. Jalan keluar ada kalau kamu cerita, dan katakan apa yang sebenarnya terjadi, bukan malah cari sendiri mengesampikan apa yang aku alami atau terjadi, dimana dia bukan lagi satu satunya orang yang ada dalam pikirku. dan mau ajakin aku jalan-jalan(ini janjinya). Aku pun setuju. Ku pikir akan dia lakukan minggu2 terakhir ini, terakhir KKN. Nyatanya? Fail!. Gak ada apa-apa.
        Terakhir dia bilang habis jatuh. Tiba-tiba dia mampir lagi ke posko. Bukan hubungin aku, tapi orang lain. aku yang lagi makan enak(karena lapar-laparnya) menjadi gak mood dan gak enak makan sama sekali. Ku temui dia dengan muka ogah-ogahan. Entah mengapa hari itu rasanya emosi sekali. Melihatnya selalu buatku nelangsa. Mukanya yang sayu, apalagi kondisinya yang habis jatuh. Ahh.. entahlah.
        Walau ngobrol berdua, bahkan ia tak sedikitpun menyentil masalah pribadi kita(kata si manja sih dia mau lihat keadaanku sekarang, dia masih bingung mau lakukan apa, apalagi respon negatifku seperti itu).
        Setelah kejadian itu, yang ada aku malah makin dekat sama mas. Mas yang notabene anak sana, pastilah menjadi tempat curhatanku selama ini. Mas yang emang di bilang bandel ini sudah ku kenal sejak kecil. Cuma gak pernah dekat saja.
***
        Sampai KKN pun berakhir. Dia telfon aku, ah tumben sekali. Kata-kata terakhir sebelum pulsanya habis, yang sangat aku ingat adalah. “ kenapa kok nangis. Udah jangan nangis ya. Jangan nangis.” Saat itu aku gak sedang nagngis, tapi baru bangun tidur. Cuma kata-kata itu membuatku makin nelangsa.
***
        Eng ing eng… sudah kuliah lagi seperti biasa. Perasaanku saat ini… meluntur pelan pelan kali ya. Karena sikapnya yang menurutku sangat pengecut ini membuatku mundur. Menyerah, dan pasrah. Aku sekarang sudah dekat sama mas. Walau orangnya jauh. Emang sama mas belum ada status.
        Lalu sikapku yang masih dengan keki sama dia emang gak bisa di ilangin, sampai si manja ngewanti-wanti untuk bersikap santai dan seperti biasanya kayak belum terjadi atau belum ngerti apa apa. Huuh, susah deh kalau lagi sebel sama orang gak bisa nutupin, gak jago nih!
        Bahkan sampai sekarang masih belum ada kejelasan dan kepastian. Ini yang paling aku gak suka dari dia. Gak jelas. Bukan apa-apa sih. Hanya saja gak mau kejadian 2 tahun lalu terulang, aku bahkan gak menganggapnya sebagai selingan. Gak juga bermaksud memanfaatkannya, namun nyatanya di persulit. Aku rasa kesabaranku dan perjuanganku sudah cukup. Karena aku juga melihat orang yang mau perjuangin aku, aku tak bisa mengabaikan itu. Ibarat nya ku payungi dia yang sedang lari kehujanan, ku biarkan diriku basah kehujanan, lalu ada orang lain yang  care denganku yang mau memayungiku yang rela kehujanan demi aku. Di situlah aku mulai berfikir matang-matang.
        Pengecut apakah selamanya bertindak sebagai pengecut? Kapan mau menang kalau gitu. Seorang pemenang adalah yang berani kalah duluan. Bukan ia yang nunggu di belakang seperti seorang pengecut. Apapun alasannya. Ku sudahi sampai disini segala yang tak pasti. Biarlah jika ada penyesalan itu sudah resikonya. Karena dia yang kalah pasti yang akan menyesali. Apalagi sampai dua kali seperti ini, itu semua karena kesalahan fatal yang di lakukan. Nanyanya juga hidup. Pasti terjal, ada batu cadas, batu besar, batu kerikil, dan apapun itu. Segala prosesnya di nikmati saja, sabar. Semua pasti indah pada waktunya, indahnya kapan? Yaa.. sabar saja :D. []

Oleh : Wasi’atul Amalia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar