TEMPE RESTORAN III (Mengapa
Begini?)
Cerita ini masih berlanjut, yah… bukankah memang belum kelar?
Apalagi kegiatan KKN fix ngebuat
cerita ini masih kusut. Seberapa besar menyangkal seberapa kuat berpaling, dan
seberapa besar menepis rasa yang dengan sendirinya muncul itu, susah men! Lu kira segampang ngebalikin tempe
?
Harapan tinggalah harapan, kenangan ya biarkan menjadi kenangan.
Karena tak akan ada yang terjadi setelah ini.
***
KKN minggu awal. Masih setia dia
menemani kesendirianku ini. Yah, dia yang ku pikir meperlakukanku special masih
setia. Setia menjadi teman chating. Setia berbagi pengalaman dan curhatan. Tapi
masih dalam batas batas koridor “teman”. Lalu aku hanya masih bisa menunggu.
Sampai suatu ketika di awal minggu ke
dua. Dengan ringan ia berkata. “aku mau main ke poskomu.” Yah, seneng sih pas
di sambang. Hehe. Tapi ternyata, apa yang aku pikir sebelumnya salah besar. Aku
malah tidak merasa senag apalagi lega. Malah terkesan marah, dan gak lega. Ada
sesuatu yang mengganjal. Yah, sesuatu yang terus-terus ia tutupi yang gak
pernah aku tahu, atau berhubungan sama temanku satunya lagi yang katanya punya
rahasia juga?
Ah, pusing, kesel. Aku makin gak suka
karena mereka main rahasia-rahasiaan seperti itu.
Someday
di akhir minggu ke dua. Aku dan teman-teman berencana ke teman-teman di posko
lain, nyatanya ibuku mau menjengukku. Namun ku paksakan, setidaknya kalau ibuku
mau sampai aku akan pulang dulu.
Eng ing eng… sampailah aku ke tempatnya.
Ah, baru masuk saja sudah bikin keki. Gak tau kenapa hawanya panas saja. Bikin
gak kerasan sama orang-orangnya. Apalagi sindiran sindiran sarkas membuatku
muak. Lagi-lagi main rahasia-rahasiaan.
Sebentar kemudian, kita cabut ke tempat
temenku juga yang katanya biangnya rahasia. Sampai di sana suasana malah lebih
rame, malah lebih bikin gak kerasan dengan “pemanasan” social nya. Ha? Apa coba maksudnya?
Banyak hawa-hawa negative di areal sana,
di tambah kerahasiaan itu belum terungkap. Tiba-tiba ibuku telfon. Mau tak mau
aku harus pulang duluan. Tapi kok yao, nelangsa hati ini. Akhirnya mereka
mengantarku sampai di jalan raya. Dan sayang sekali gak bisa datang di tempat
temanku yang terakhir.
Sepanjang perjalanan yang ada hati ini
menelan amarah dan kekesalan. Apalagi melihatnya, bukan aku cemburu tapi ada
rasa mengganjal yang tak tertahankan. Apa sih yang coba dia sembunyikan atau,
apa sih maksudnya selama ini?
Sejak saat itu, gak ada yang berubah
sih. Kita tetap chatingan. Sempat waktu itu aku marah besar sama dia. Cuma
balasannya apa? Supaya aku gak khawatir. Hello, gue di anggap apa sama elo
selama ini? Ya sudah setelah itu, aku mencoba tak menggannggu dia yang katanya lagi
bermasalah.
Di sisi lain. masku tiba-tiba nembak. Ya
ampun gaes, ini waktu perang bathin malah gak selesai selesai. Dengan tanpa
pikir panjang ku tolak mentah-mentah dan histeris. Namun pembawaanya yang
santai justru membuatku menoleh, melihat sisi baiknya dan memikirkannya lagi
sampai waktu yang telah di tentukan.
Sudah jarang komunikasi lagi sama dia
kalau gak ada yang penting, makin dekat saja sama masku ini. Sempat mimpi juga.
Siapa yang harus aku perjuangkan? Jelas-jelas, seseorang yang ada di hati ini.
Tepat tanggal 17 agustus deadline jawaban masku. Dengan masih
bimbang juga, dengan beberapa kemungkinan. Teman sendiri dan kakak sendiri.
Kalau aku pilih kakakku, maka kemungkinan dia yang kecewa—kalau dia suka aku
:p, kalau enggak ya gak ada yang di kecewakan. Kedua kalau aku pilih dia, aku
ngecewain kakakku, ya kalau aku jadi sama dia—nah kalo enggak, aku juga yang
sakit. Yang ketiga, kalau aku enggak milih dua duanya ya gak ada resiko, atau
malah sakit semua. Wah repot kan?
***
Dan pada batas waktu yang di tentukan,
dengan sepenuh hati dan keyakinanku. Aku, menolak lagi masku. Tapi apa
responnya? Mas suruh aku mikir lagi, dan memberiku waktu sampai idhul adha.
Katanya, “tidak ada yang bisa ngelarang orang yang punya niat tulus.” Kalau ku
jawab kok terkesan keburu-buru. “bukan keburu-buru, kalau enggak sekarang,
kapan lagi? Keburu di ambil orang.” Gitu lah jawabannya. “tak perlu takut
tentang segala keputusan, di yakinkan lagi karena kesempatan tak pernah datang
kedua kali.” Itu juga kata kata mas yang bikin aku terhenyak, dan memutuskan
tuk memikirkannya lagi. Oh men!
Perang bathin masih berlanjut.
Setelah itu, si dia tiba-tiba ngubungin.
Kalau banyak hal yang ingin ia jelasin. Kita perlu face to face, dan bilang kalau selama ini dia coba cari jalan
keluar. Jalan keluar ada kalau
kamu cerita, dan katakan apa yang sebenarnya terjadi, bukan malah cari sendiri
mengesampikan apa yang aku alami atau terjadi, dimana dia bukan lagi satu
satunya orang yang ada dalam pikirku. dan mau ajakin aku jalan-jalan(ini
janjinya). Aku pun setuju. Ku pikir akan dia lakukan minggu2 terakhir ini,
terakhir KKN. Nyatanya? Fail!. Gak
ada apa-apa.
Terakhir dia bilang habis jatuh.
Tiba-tiba dia mampir lagi ke posko. Bukan hubungin aku, tapi orang lain. aku
yang lagi makan enak(karena lapar-laparnya) menjadi gak mood dan gak enak makan sama sekali. Ku temui dia dengan muka
ogah-ogahan. Entah mengapa hari itu rasanya emosi sekali. Melihatnya selalu
buatku nelangsa. Mukanya yang sayu, apalagi kondisinya yang habis jatuh. Ahh..
entahlah.
Walau ngobrol berdua, bahkan ia tak
sedikitpun menyentil masalah pribadi kita(kata si manja sih dia mau lihat
keadaanku sekarang, dia masih bingung mau lakukan apa, apalagi respon negatifku
seperti itu).
Setelah kejadian itu, yang ada aku malah
makin dekat sama mas. Mas yang notabene
anak sana, pastilah menjadi tempat curhatanku selama ini. Mas yang emang di
bilang bandel ini sudah ku kenal sejak kecil. Cuma gak pernah dekat saja.
***
Sampai KKN pun berakhir. Dia telfon aku,
ah tumben sekali. Kata-kata terakhir sebelum pulsanya habis, yang sangat aku
ingat adalah. “ kenapa kok nangis. Udah jangan nangis ya. Jangan nangis.” Saat
itu aku gak sedang nagngis, tapi baru bangun tidur. Cuma kata-kata itu
membuatku makin nelangsa.
***
Eng ing eng… sudah kuliah lagi seperti
biasa. Perasaanku saat ini… meluntur pelan pelan kali ya. Karena sikapnya yang
menurutku sangat pengecut ini membuatku mundur. Menyerah, dan pasrah. Aku
sekarang sudah dekat sama mas. Walau orangnya jauh. Emang sama mas belum ada
status.
Lalu sikapku yang masih dengan keki sama
dia emang gak bisa di ilangin, sampai si manja ngewanti-wanti untuk bersikap
santai dan seperti biasanya kayak belum terjadi atau belum ngerti apa apa.
Huuh, susah deh kalau lagi sebel sama orang gak bisa nutupin, gak jago nih!
Bahkan sampai sekarang masih belum ada
kejelasan dan kepastian. Ini yang paling aku gak suka dari dia. Gak jelas.
Bukan apa-apa sih. Hanya saja gak mau kejadian 2 tahun lalu terulang, aku
bahkan gak menganggapnya sebagai selingan. Gak juga bermaksud memanfaatkannya,
namun nyatanya di persulit. Aku rasa kesabaranku dan perjuanganku sudah cukup.
Karena aku juga melihat orang yang mau perjuangin aku, aku tak bisa mengabaikan
itu. Ibarat nya ku payungi dia yang sedang lari kehujanan, ku biarkan diriku
basah kehujanan, lalu ada orang lain yang
care denganku yang mau
memayungiku yang rela kehujanan demi aku. Di situlah aku mulai berfikir
matang-matang.
Pengecut apakah selamanya bertindak
sebagai pengecut? Kapan mau menang kalau gitu. Seorang pemenang adalah yang
berani kalah duluan. Bukan ia yang nunggu di belakang seperti seorang pengecut.
Apapun alasannya. Ku sudahi sampai disini segala yang tak pasti. Biarlah jika
ada penyesalan itu sudah resikonya. Karena dia yang kalah pasti yang akan
menyesali. Apalagi sampai dua kali seperti ini, itu semua karena kesalahan
fatal yang di lakukan. Nanyanya juga hidup. Pasti terjal, ada batu cadas, batu
besar, batu kerikil, dan apapun itu. Segala prosesnya di nikmati saja, sabar.
Semua pasti indah pada waktunya, indahnya kapan? Yaa.. sabar saja :D. []
Oleh : Wasi’atul
Amalia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar