Selasa, 26 April 2016

Love In Mountainrain



LOVE IN MOUNTAIN RAIN
Oleh    : Wasi’atul Amalia
“Ah, sial sekali aku. Di tempat seindah ini tapi tak pernah menikmatinya bersama orang yang spesial,” Dewa menatap Ranu Kumbolo kosong.
“Udah lah Wa. Kamu pikir kita apa? Pajangan begitu?” Riani protes.
“Bukan begitu Ni. Hanya saja aku merindukan kasih sayang perempuan, haha.” Dewa terbahak-bahak.
“....” Riani hanya mengerucutkan bibirnya.
“Aih, kenapa kamu cemberut begitu?”
“Menurutmu?” lalu Dewa mengedikkan bahunya, mendekat pada bibir danau dan mengedarkan pandangnya ke sekeliling, indah. Mendaki gunung adalah kegiatannya setelah lima tahun terakhir, apalagi kini ia sering mendaki dengan sahabat kecilnya, Riani.
“Bukankah kita sering sekali melakukan perjalanan bersama, bahkan sejak kecil?”
“Ya, lalu kenapa Wa?”
“Banyak kenangan yang telah kita lewati, pelajaran yang kita ambil, dan solidaritas. Kita selalu bersama Riani apa kamu gak sadar?”
“Aku tahu... dan aku sadar. Apalagi sejak tergabung di Pecinta Alam ini, aku merasa menemukan keluarga baru. Bersamamu, bersama kalian Pecinta Alam Semut Adv.”
“Bukan itu maksudku...” kata-katanya mengambang seperti perasaannya.
“....” tiba-tiba sunyi, tak ada jawaban dari Riani. Mereka bersama perasaan masing-masing menerawang jauh bersama hilangnya kabut pagi Ranu Kumbolo dan matahari semakin meninggi memancarkan sinarnya lalu jatuh berkilauan di air danau.
“Riani...”
“Apa yang ingin kamu katakan?”
“Riani, apa salah kalau ada seorang sahabat yang mencintai sahabatnya sendiri. Apa itu nampak bodoh, huh?” Riani kembali tak menjawab. Tiba-tiba pikirannya kalut. Perasaannya seperti bergolak.
“Mengapa kamu diam saja? Apa itu sesuatu yang tak pantas?”
“Dewa, mungkin perasaan itu tidak salah, tapi...”
“Tapi apa?”
“Semuanya akan sulit ketika bukan hanya seorang saja yang merasakannya,” Riani berdiri mendekati Dewa.
“Katakan, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan Dewa.”
“Baiklah...” Dewa menghadap Riani memandang matanya intens. “Sepertinya kau mengerti maksudku... bahwa sebenarnya aku adalah orang yang mencintaimu selama ini..”
“Aku tahu...” Riani menundukkan kepala, matanya sudah penuh dengan air mata.
“Lalu?”
Tiba-tiba seseorang memanggil mereka.
“Riani! Dewa! Yok sarapan dulu,” pria itu menyunggingkan senyumnya.
“Maaf, tapi aku sudah menerima perasaan Rio.” Riani menghampirinya, meninggalkan Dewa dengan sejuta kekecewaan.[]


-FIN-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar