LOVE IN MOUNTAIN RAIN
Oleh : Wasi’atul Amalia
“Ah, sial sekali
aku. Di tempat seindah ini tapi tak pernah menikmatinya bersama orang yang
spesial,” Dewa menatap Ranu Kumbolo kosong.
“Udah lah Wa.
Kamu pikir kita apa? Pajangan begitu?” Riani protes.
“Bukan begitu
Ni. Hanya saja aku merindukan kasih sayang perempuan, haha.” Dewa
terbahak-bahak.
“....” Riani
hanya mengerucutkan bibirnya.
“Aih, kenapa kamu
cemberut begitu?”
“Menurutmu?”
lalu Dewa mengedikkan bahunya, mendekat pada bibir danau dan mengedarkan pandangnya
ke sekeliling, indah. Mendaki gunung adalah kegiatannya setelah lima tahun
terakhir, apalagi kini ia sering mendaki dengan sahabat kecilnya, Riani.
“Bukankah kita
sering sekali melakukan perjalanan bersama, bahkan sejak kecil?”
“Ya, lalu kenapa
Wa?”
“Banyak kenangan
yang telah kita lewati, pelajaran yang kita ambil, dan solidaritas. Kita selalu
bersama Riani apa kamu gak sadar?”
“Aku tahu... dan
aku sadar. Apalagi sejak tergabung di Pecinta Alam ini, aku merasa menemukan
keluarga baru. Bersamamu, bersama kalian Pecinta Alam Semut Adv.”
“Bukan itu
maksudku...” kata-katanya mengambang seperti perasaannya.
“....” tiba-tiba
sunyi, tak ada jawaban dari Riani. Mereka bersama perasaan masing-masing
menerawang jauh bersama hilangnya kabut pagi Ranu Kumbolo dan matahari semakin
meninggi memancarkan sinarnya lalu jatuh berkilauan di air danau.
“Riani...”
“Apa yang ingin
kamu katakan?”
“Riani, apa
salah kalau ada seorang sahabat yang mencintai sahabatnya sendiri. Apa itu
nampak bodoh, huh?” Riani kembali tak
menjawab. Tiba-tiba pikirannya kalut. Perasaannya seperti bergolak.
“Mengapa kamu
diam saja? Apa itu sesuatu yang tak pantas?”
“Dewa, mungkin
perasaan itu tidak salah, tapi...”
“Tapi apa?”
“Semuanya akan
sulit ketika bukan hanya seorang saja yang merasakannya,” Riani berdiri
mendekati Dewa.
“Katakan, apa
sebenarnya yang ingin kamu katakan Dewa.”
“Baiklah...”
Dewa menghadap Riani memandang matanya intens. “Sepertinya kau mengerti
maksudku... bahwa sebenarnya aku adalah orang yang mencintaimu selama ini..”
“Aku tahu...”
Riani menundukkan kepala, matanya sudah penuh dengan air mata.
“Lalu?”
Tiba-tiba
seseorang memanggil mereka.
“Riani! Dewa!
Yok sarapan dulu,” pria itu menyunggingkan senyumnya.
“Maaf, tapi aku
sudah menerima perasaan Rio.” Riani menghampirinya, meninggalkan Dewa dengan
sejuta kekecewaan.[]
-FIN-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar