Minggu, 17 Mei 2015

MY OLD GIRLFRIEND



My Old Girlfriend
Distrik Dongdaemun, Seoul, Maret 2015.
Aku melihat wanita itu di balik kaca kafe melambaikan tangannya, wanita yang selalu memberikanku senyum tulusnya. Sikapnya yang lembut dan telaten menghadapiku yang sedikit tempramen. Yah, dia adalah kekasihku sejak tiga bulan lalu, dia juga musuh bebuyutanku—Lee Kang Joo. Wanita yang lebih tua tiga tahun dariku, adalah kekasihku. Tapi, tidak  untuk sebentar lagi.
“Yak! Kenapa kau mengacuhkanku? Aku memanggilmu dari tadi.” Lee Kang Joo mendaratkan pantatnya pada kursi didepanku.
“Heh. Apa harus?” kataku terkesan dingin.
Mwo?[1] Aishh.. kenapa kau akhir-akhir ini aneh padaku?” aku menyesap kopi yang ku pesan tadi dalam-dalam, Lee Kang Joo menatapku penuh tanya. Aku memang akhir-akhir ini mengabaikannya karena harus menyelidiki kebenaran yang ku dapat dari teman, bahwa ia adalah Oh Soo Soon, gadis yang membully-ku waktu SD sampai aku benar-benar trauma dan sialnya dia juga yang menyembuhkan segala traumaku.
Wae?[2] Apa yang kau ingin Kang Joo-ya?” aku memutar-mutar cangkir kopiku, dan menatapnya intens—mata hitam pekat yang selama ini membuatku gila karenanya.
“Maaf. Apa maksudmu?” aku melihat kilatan matanya menantang.
“Bagaimana bisa, kau Oh Soo Soon. Gadis yang selama ini paling ku benci. Dan kau melakukan kesalahan lagi, Soon-ah!” aku bergetar, menunjuk wajahnya sambil berteriak, rasanya ingin goyah. Betapa aku sangat menyayangi wanita yang paling ku benci. 
Ne! Ne! Ne![3] Itu adalah aku. Sekarang apa maumu. Kau ingin mengakhirinya? Baiklah, tapi kau harus tau satu hal. Aku, benar tulus mencintaimu. Bukan memanfaatkanmu!” mata itu kini mengeluarkkan mutiara beningnya, yang tidak ku sukai dari seorang wanita ketika ia menangis. Ia lalu beranjak pergi meninggalkanku sendirian. Yah, kita sudah berakhir. Tapi, ini belum selesai. Masih banyak tanya yang menggelayut di pikiranku. Ia tak seharusnya meninggalkanku dalam diam dan emosi seperti ini.
***
            Ia masih disini. Menemaniku belajar, mengajarkan apa yang ia bisa kepadaku, tahun ini aku harus lulus. Tapi, aku benar-benar tak bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa, OMO![4] Apa yang harus ku lakukan. Bagaimana ia benar-benar santai saat ini. Sial!
“Heh, Heung Soo-ya. Tetaplah konsentrasi, bahkan ujianmu kurang dari sebulan. Dan kau masih saja tak ada perubahan!” Lee Kang Joo melipat tangan didada. Dan aku mengerjakan latihan soal.
“Aish. Kau berisik sekali Kang—anio[5]. Soon-ah!” aku berkata tanpa menoleh sedikitpun dan sibuk dengan soal-soalku. Ku dengar ia berdecak dan mendengus kesal. Aku ingin semua terbuka dan ia mau mengakui kesalahannya, bukan mendiamkanku dan memusuhiku. Dasar keras kepala! Batinku.
            Setelah selesai belajar. Aku meninggalkannya yang beberes di meja. Aku benar-benar muak dengan situasi itu. Samar-samar ku dengar ia memanggilku.
“Heung Soo-ya. Bisakah kita berbicara sebentar?” aku menghentikan langkahku tanpa berbalik.
“Aku.. sudah siap menceritakan semua padamu. Aku mohon ...” suara itu terdengar lirih, aku mendengarnya samar-samar. Aku lalu menghampirinya.
“Katakan dan ceritakan saja.”
“Hemh..” ia mendesah pelan, memulai bercerita, aku hanya mengernyit.
“Heung Soo-ya, mianhaeyo[6] ! Aku sangat menyesal melakukannya waktu SD. Aku tidak tau kalau ternyata dampaknya begitu buruk terhadapmu. Dan aku tak tau menahu sejak aku lulus SD, ternyata kau menyimpan trauma yang dalam. Aku pasti sangat jahat waktu itu.” Aku mendecih dan tersenyum kecut, sekarang kau mengakui heh? Seruku dalam hati.
“Heung Soo-ya, saat itu aku memang anak nakal yang suka membully anak yang lemah. Karena apa, aku tak suka dengan mereka yang lemah. Aku hanya tinggal bersama ayahku sejak kecil, aku tak tau dimana ibuku. Ayahku, dia orang yang keras, dia tak mau melihatku lemah atau bahkan menangis dihadapannya. Kalau tidak dia tak segan memukulku ...” sejenak aku terkejut.
“sampai suatu hari saat aku kelas 7 di sekolah menengah, dia meninggal dan aku tinggal di rumah nenek, di pulau Nami. Sejak saat itu nenek mengganti namaku menjadi Lee Kang Joo, karena menurut perhitungannya nama Oh Soo Soon—nama yang di ciptakan oleh almarhum ayahku, menciptakan banyak kesialan. Saat itulah aku mulai berubah, menjadi Lee Kang Joo yang lemah lembut dan feminim.”
“Lalu, apa kau tau siapa aku?”
“Awalnya tidak. Tapi setelah lama aku mulai menyadarinya, aku mengingatnya. Aku ingin mengatakannya, tapi.. kupikir kau pasti akan marah, aku berpikiran kalau kau memang sebaiknya melupakan Oh Soo Soon, karena dia sudah tak pernah ada. Dan lagi, perasaan itu.. seharusnya tak pernah muncul. Kau bahkan lebih muda dariku, dari dulu kau juga kurang ajar padaku karena tak pernah memanggilku noona[7].
“Bagaimana mungkin aku bisa memanggilmu noona. Kau orang yang ku benci. Kau juga orang yang kucintai saat ini. Terimakasih sudah bercerita padaku, walaupun telat. Itu semua tak bisa mengubah keputusanku. Besok adalah les terakhir sebelum ujian. Dan ku harap itu pertemuan terakhir kita noona! Selama itu aku akan mengormatimu sebagai noona. Setelah itu, aku harap kita takkan pernah bertemu lagi.” Ku dengar ia menghela nafas panjang. Aku-pun merasa sesak didada. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin mengakhiri semuanya saja. Rasanya benar-benar menyakitkan mengetahui kenyataan. Ingin rasanya aku tak mengetahui identitasnya.
***
            Satu hari itu benar-benar kuhabiskan waktu terakhirku dengannya. Aku bahkan memanggilnya, noona. Dia mengajakku belajar di luar. Kita pergi ke sungai Han, menikmati senja sore—sampai malam menyapa. Tak terasa waktu cepat berlalu.
“Heung Soo-ya!” ia memecah keheningan.
Ne?” jawabku lirih.
Gomawoyo[8]. And anyeong gyeseyo[9]!” ia memejamkan mata hitamnya. Setelah mengucap sala perpisahan. Ia pergi meninggalkanku dalam diam.
            Sejak malam itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya, aku bahkan tak ada kontak dengannya. Semua nomornya yang bisa di hubungi mendadak salah sambung, dan apartemen yang biasa ia tinggali pun juga kosong. Mungkin sampai disini ternyata kisah cinta pertamaku. Benar-benar menyakitkan. Aku dengan keegoisanku, melepasnya begitu saja. Aku benar-benar bodoh. Padahal aku sangat mencintainya.


[1] apa
[2] kenapa
[3] iya
[4] Oh My God
[5] tidak
[6] maaf
[7] Kakak perempuan untuk adik laki-laki
[8] Terimakasih (informal)
[9] Selamat tinggal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar