Kamis, 23 April 2015

HUJAN DESEMBER



Rainy Season in December
Langit gelap menggantung, angin berembus basahi jiwa yang kering. Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi, dengan aroma tanah sangat kuat. Sore itu, di sebuah tempat saksi Mita dan Very mengungkapkan janji tulus namun tak pernah terlaksana. Dibawah payung hitamnya Mita menyeka air matanya. Merasa menyesal dengan apa yang telah ia lakukan pada Very.
***
            Suatu sore di awal bulan Desember, seperti biasa Mita yang senang membaca akan menghabiskan waktunya setelah pulang sekolah ke toko buku atau perpustakaan umum. Mita biasa membaca novel atau komik tentang negeri-negeri dongeng. Mita adalah seorang yang ramah dan mudah bergaul dengan siapapun yang baru di kenalnya.
            Di sebuah perpustakaan umum-lah Mita mengenal Very. Cowok yang kuliah di jurusan art and design ini juga sering ke perpustakaan umum. Ceritanya, Mita yang tidak sengaja ketiduran di sebuah meja dan jatuh dari kursinya, lalu Very yang kebetulan melihatnya menolong.
“Dek kamu gak papa kan? Hati-hati ya kalau membaca?” Mita kikuk malu karena dia merasa cowok ini pasti tahu kalau dia ketiduran.
“Eh, makasih!” spontan Mita duduk terkesiap merapikan penampilannya yang terlihat acak-acakan. Kesan pertama Mita melihat cowok ini adalah sungkan.
“Iya, silahkan diteruskan bacanya!” kata Very lembut.
“Ah, udah kok. Ini juga mau pulang.”
“Diluar hujan lebat loh dek! Apa sebaiknya gak nunggu reda?” Very menunjuk jendela perpustakaan yang berembun dan hujan terlihat sangat lebat.
“Oh, ya.” Mita menggiggit bibir bawahnya, lalu melirik jam tangannya. Jam 5 sore.
“Kenapa dek? Emang rumahmu dimana?”
“Di Jalan Mawar 7 kak! Wah, pasti di cari mama dirumah. Soalnya aku lupa pamit.”
“Kenapa gak telfon aja?”
“Lupa bawa HP nih.” Kemudian Very menyodorkan HPnya dan menyuruh Mita untuk telfon orang rumahnya.
“Makasih ya!”
            Setelah kejadian itu, Mita sekarang lebih rajin ke perpustakaan. Setelah sekian hari sering bertemu tapi belum tahu namanya, mereka hanya bisa tertawa-tawa.
            Keakraban Mita dan Verypun kian terjalin. Very akhirnya tahu bahwa sebenarnya Mita adalah adik kelas di SMA dulu, sekarang Mita sudah kelas 3 SMA, dan Very mahasiswa semester 3.
            Suatu hari, saat mereka berencana untuk ke perpustakaan bareng, Very mengajak temannya, Rizal. Saat melihat siapa yang dibawa Very, Mita hanya bisa melongo kaget.
“Gak mungkin!” kata Mita spontan.
“Apa yang gak mungkin Mita?” Very yang tidak mengerti hanya bertanya-tanya.
“Oh, gak papa kok.” Mita lalu membaca novelnya sok serius. Kemudian Very dan Rizal-pun duduk di depan Mita.
“Oh ya Mit, maaf nih aku bawa temen. Soalnya sekalian ngerjakan tugas.”
“Iya, kak.” Nada suara Mita terasa tercekat dan ragu-ragu. Dia juga enggan menatap. Very melihatnya aneh. Rizal hanya berdehem sok tak terjadi apa apa.
            Sepulang kerumah, Mita langsung meringkuk di kasurnya. Dia merasa pertemuannya dengan Rizal—mantan kekasihnya sejak SMP itu muncul di depannya lagi setelah setahun menghilang membuatnya mengingat kejadian setahun lalu.
            Di bulan yang sama, Desember. Rizal meninggalkannya begitu saja di derasnya hujan. Ketika Mita melihat Rizal bersama seorang cewek yang dia kenal—Lusi sahabatnya sendiri. Kemudian Mita menghampiri mereka dan marah besar—Mita juga seorang yang susah mengendalikan emosinya. Rizal yang merasa terhakimi-pun justru malah memarahi Mita dan meminta putus—lalu pergi dengan Lusi dan meninggalkan Mita sendirian.
            Setelah setahun berlalu, hati Mita masih sama. Masih milik Rizal. Dan setiap kali hujan, selalu mengingatkkannya pada sosok Rizal. Setiap tetesnya membawa luka, merasa di khianati. Mita benci pada Rizal.
            Tapi, ada yang aneh pada Rizal. Dia terlihat semakin kurus dan pucat. Ah, masa bodoh sama pengkhianat, batinnya.  Keesokan harinya saat Mita bertemu Very, dia menanyakan hal tentang Rizal. Very bilang, dia sekelas di hampir tiap mata kuliah. Sepertinya dia memang sakit-sakitan sejak masuk kuliah, semakin hari terlihat makin buruk. Tapi selalu bilang dia baik-baik saja. Begitulah paparan Very.
            Tanpa pikir panjang, Mita langsung pergi meninggalkan Very dengan sejuta tanya—dan dituntun oleh intuisinya untuk pergi kerumah Lusi. Sudah setahun dia tak pernah kerumah cewek yang di anggapnya pengkhianat ini—bahkan untuk ngobrol dan bertegur sapa-pun.
Ting..tong!
Saat Lusi membuka pintu, dia sangat terkejut sekali dengan kehadiran Mita, terlihat Mita juga canggung.
“Mita? Silahkan masuk!”
Setelah beberapa belas menit saling canggung, kemudian Lusi mencairkan suasana dengan joke joke mereka pada masa masih belum ada konflik. Sampai akhirnya, Lusi pun bertanya.
“Mita.. apa yang.. membuatmu kemari? Bukankah kamu gak pernah mau untuk menyapaku lagi bahkan bertemanpun sepertinya kamu enggan.”
“Kenapa? Kenapa kamu menusukku dari belakang?”
“Maaf Mita, maaf. Bukan inginku melakukan itu.”
“Ku dengar kamu pacaran sama Yosi si mantan ketua OSIS. Apa apaan kamu Lus? Udah ngerebut Rizal dariku, sekarang kamu mencampakkannya!” nada suara Mita mulai meninggi. Tiba-tiba Lusi sesenggukan menahan tangis.
“Kamu benar-benar gak tahu Mita.” Lusi kemudian mengambil album foto dan sebuah buku catatan. Mita mengenal buku berwarna merah itu, milik Rizal. Itu, buku diarinya—bahkan Mita tidak boleh memegangnya. Dan kini ada di tangan Lusi. Mita tak habis pikir.
            Dalam perjalanan pulangnya dari rumah Lusi, mita berhenti di sebuah gazebo di samping pemakamam. Gazebo ini tempat para peziarah yang ingin duduk. Mita merasakan sesak yang sangat begitu terasa, darahnya panas dingin, perlahan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya, saat itu-pun terdengar suara halilintar menyambar disusul hujan turun dengan derasnya. Semua orang yang berziarah atau berada di areal pemakaman mulai berteduh. Tapi tidak Mita, dia menengadah ke langit. Betapa hujan di bulan Desember selalu memberinya luka. Mita akhirnya mengetahui sebuah kenyataan, bahwa selama ini Rizal gak pernah melukai bahkan mengkhianati. Dia gak mau Mita melihat kematiannya dan Mita bersedih melihatnya mati. Tapi Rizal ingin Mita menemukan penggantinya dan bahagia sebelum dirinya mati. Rizal di vonis mengidap HIV/AIDS gara-gara dia mendapat donor darah dari orang tak dikenal sewaktu kecelakaan dulu, dan tidak melalui proses dari PMI karena kondisinya sangat gawat. Bahkan, Rizal sudah memesan sebuah lahan di pemakaman ini untuk dirinya kelak.
            Sudah beberapa hari Mita tak pernah datang ke perpustakaan, Very merasa kesepian, dia juga khawatir. Telfon Mita tak pernah aktiv. Setelah mencari informasi sana sini, hasilnya nihil karena Very gak kenal satupun teman Mita. Suatu ketika, saat Very mengetahui Rizal sakit keras, diapun menjenguk Rizal di rumah sakit.
            Betapa terkejutnya Very saat hendak masuk kekamar Rizal, ada Mita. Dan mereka terlihat akrab. Dibelakang Very, ada Lusi yang juga hendak masuk. Lusi mengajak Very untuk duduk diluar dan menceritakan kejadian antara Mita dan Rizal. Di sisi lain, Rizal begitu semangat menceritakan tentang Very.
“Maafkan aku Mita.. aku gak pengen liat kamu sedih melihatku seperti ini. Aku gak pengen kamu mengingatku sebagai orang yang meninggalkanmu untuk selamanya..” Rizal berkata sambil terbaring lemah.
“Kamu jahat Zal. Kamu tega. Kamu tahu aku sangat mencintaimu.. gak mudah melupakanmu. Kita bersama udah lebih dari lima tahun...” Mita tak kuasa menahan air matanya.
“Oh ya.. aku lihat kamu sudah mulai menyukai seseorang.. lihatlah dia Mita, dia pasti sangat mencintaimu, dia selalu bersemangat saat cerita tentangmu—kulihat kau juga Mita.. dia punya masa depan bersamamu..”
“Maksudmu apa? Aku bahkan masih mencintaimu Zal. Kamu jangan ngarang!”
“Aku mohon, berbahagialah dengannya. Dia.. orang baik.. kamu.. demi aku.. lihatlah.. Very..” tiba-tiba layar monitor pendeteksi jantung berbunyi, ‘tiiitt......’ dokter-dokter segera melakukan pertolongan. Beberapa menit kemudian dokter keluar,
“Maaf, dia sudah pergi!” segera setelah itu Mita kehilangan kesadarannya. Lusi dan Very segera mengamankan Mita.
***
            Hari setelah pemakaman Rizal, hujan mengiringi kepergiannya. Mita meminta untuk sendiri bersama makam Rizal. Mita mulai mengingat kata-kata terakhir Rizal, lihat Very. Sejenak Mita mengingat masanya bersama Rizal dan membandingkannya dengan masa bersama Very. Bagi Mita, tidak mudah menerima cinta baru menggantikan Rizal, tapi betapa dia meyakini hatinya telah jatuh hati pada Very.
            Saat Mita masih menangis di depan makam dan dibawah payung hitamnya, Very muncul.
“Aku gak tahu hubunganmu dengan Rizal, dengan PD-nya ku ceritakan tentangmu padanya. Betapa dia selalu memberiku masukan untuk mendekatimu. Aku tahu dia memang kuat Mita. Makanya kamu bahkan belum sanggup meniggalkannya. Kamu.. pasti sangat mencintainya. Seperti aku.. mencintaimu.. tapi, kurasa kamu masih butuh waktu. Tapi jujur, aku mencintaimu. Aku gak butuh sebuah jawaban darimu, aku mengatakannya saja sudah lega.” Mita hanya mendengarkan Very tanpa membalikkan badannya, bahunya terlihat bergetar.
“Oh ya Mita. Malam ini.. aku akan berangkat ke Jepang. Beasiswaku diterima disana. Terimakasih untuk hari-hari yang kamu berikan ya!” seketika Mita membalikkan badan dan melihat Very tersenyum, dia melambaikan tangannya lalu pergi...
-TAMAT-

Assalamu’alaikum... Hallo, namaku Wasi’atul Amalia. Aku tinggal di Jember. Aku seorang mahasiswi semester 4 di IAIN Jember. Akun facebookku adalah Wasik Amalia, atau mi_pangsohx@yahoo.co.id. Terimakasih, wassalamu’alaikum. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar