Rainy Season in December
Langit
gelap menggantung, angin berembus basahi jiwa yang kering. Rintik-rintik hujan
mulai membasahi bumi, dengan aroma tanah sangat kuat. Sore itu, di sebuah
tempat saksi Mita dan Very mengungkapkan janji tulus namun tak pernah
terlaksana. Dibawah payung hitamnya Mita menyeka air matanya. Merasa menyesal
dengan apa yang telah ia lakukan pada Very.
***
Suatu sore di awal bulan Desember,
seperti biasa Mita yang senang membaca akan menghabiskan waktunya setelah
pulang sekolah ke toko buku atau perpustakaan umum. Mita biasa membaca novel
atau komik tentang negeri-negeri dongeng. Mita adalah seorang yang ramah dan
mudah bergaul dengan siapapun yang baru di kenalnya.
Di sebuah perpustakaan umum-lah Mita
mengenal Very. Cowok yang kuliah di jurusan art
and design ini juga sering ke perpustakaan umum. Ceritanya, Mita yang tidak
sengaja ketiduran di sebuah meja dan jatuh dari kursinya, lalu Very yang
kebetulan melihatnya menolong.
“Dek
kamu gak papa kan? Hati-hati ya kalau membaca?” Mita kikuk malu karena dia
merasa cowok ini pasti tahu kalau dia ketiduran.
“Eh,
makasih!” spontan Mita duduk terkesiap merapikan penampilannya yang terlihat
acak-acakan. Kesan pertama Mita melihat cowok ini adalah sungkan.
“Iya,
silahkan diteruskan bacanya!” kata Very lembut.
“Ah,
udah kok. Ini juga mau pulang.”
“Diluar
hujan lebat loh dek! Apa sebaiknya gak nunggu reda?” Very menunjuk jendela
perpustakaan yang berembun dan hujan terlihat sangat lebat.
“Oh,
ya.” Mita menggiggit bibir bawahnya, lalu melirik jam tangannya. Jam 5 sore.
“Kenapa
dek? Emang rumahmu dimana?”
“Di
Jalan Mawar 7 kak! Wah, pasti di cari mama dirumah. Soalnya aku lupa pamit.”
“Kenapa
gak telfon aja?”
“Lupa
bawa HP nih.” Kemudian Very menyodorkan HPnya dan menyuruh Mita untuk telfon
orang rumahnya.
“Makasih
ya!”
Setelah kejadian itu, Mita sekarang
lebih rajin ke perpustakaan. Setelah sekian hari sering bertemu tapi belum tahu
namanya, mereka hanya bisa tertawa-tawa.
Keakraban Mita dan Verypun kian
terjalin. Very akhirnya tahu bahwa sebenarnya Mita adalah adik kelas di SMA
dulu, sekarang Mita sudah kelas 3 SMA, dan Very mahasiswa semester 3.
Suatu hari, saat mereka berencana
untuk ke perpustakaan bareng, Very mengajak temannya, Rizal. Saat melihat siapa
yang dibawa Very, Mita hanya bisa melongo kaget.
“Gak
mungkin!” kata Mita spontan.
“Apa
yang gak mungkin Mita?” Very yang tidak mengerti hanya bertanya-tanya.
“Oh,
gak papa kok.” Mita lalu membaca novelnya sok serius. Kemudian Very dan
Rizal-pun duduk di depan Mita.
“Oh
ya Mit, maaf nih aku bawa temen. Soalnya sekalian ngerjakan tugas.”
“Iya,
kak.” Nada suara Mita terasa tercekat dan ragu-ragu. Dia juga enggan menatap.
Very melihatnya aneh. Rizal hanya berdehem sok tak terjadi apa apa.
Sepulang kerumah, Mita langsung
meringkuk di kasurnya. Dia merasa pertemuannya dengan Rizal—mantan kekasihnya
sejak SMP itu muncul di depannya lagi setelah setahun menghilang membuatnya
mengingat kejadian setahun lalu.
Di bulan yang sama, Desember. Rizal
meninggalkannya begitu saja di derasnya hujan. Ketika Mita melihat Rizal bersama
seorang cewek yang dia kenal—Lusi sahabatnya sendiri. Kemudian Mita menghampiri
mereka dan marah besar—Mita juga seorang yang susah mengendalikan emosinya.
Rizal yang merasa terhakimi-pun justru malah memarahi Mita dan meminta
putus—lalu pergi dengan Lusi dan meninggalkan Mita sendirian.
Setelah setahun berlalu, hati Mita
masih sama. Masih milik Rizal. Dan setiap kali hujan, selalu mengingatkkannya
pada sosok Rizal. Setiap tetesnya membawa luka, merasa di khianati. Mita benci
pada Rizal.
Tapi, ada yang aneh pada Rizal. Dia
terlihat semakin kurus dan pucat. Ah, masa bodoh sama pengkhianat, batinnya. Keesokan harinya saat Mita bertemu Very, dia
menanyakan hal tentang Rizal. Very bilang, dia sekelas di hampir tiap mata
kuliah. Sepertinya dia memang sakit-sakitan sejak masuk kuliah, semakin hari
terlihat makin buruk. Tapi selalu bilang dia baik-baik saja. Begitulah paparan
Very.
Tanpa pikir panjang, Mita langsung
pergi meninggalkan Very dengan sejuta tanya—dan dituntun oleh intuisinya untuk
pergi kerumah Lusi. Sudah setahun dia tak pernah kerumah cewek yang di
anggapnya pengkhianat ini—bahkan untuk ngobrol dan bertegur sapa-pun.
Ting..tong!
Saat Lusi membuka
pintu, dia sangat terkejut sekali dengan kehadiran Mita, terlihat Mita juga
canggung.
“Mita? Silahkan masuk!”
Setelah beberapa belas
menit saling canggung, kemudian Lusi mencairkan suasana dengan joke joke mereka pada masa masih belum
ada konflik. Sampai akhirnya, Lusi pun bertanya.
“Mita..
apa yang.. membuatmu kemari? Bukankah kamu gak pernah mau untuk menyapaku lagi
bahkan bertemanpun sepertinya kamu enggan.”
“Kenapa?
Kenapa kamu menusukku dari belakang?”
“Maaf
Mita, maaf. Bukan inginku melakukan itu.”
“Ku
dengar kamu pacaran sama Yosi si mantan ketua OSIS. Apa apaan kamu Lus? Udah
ngerebut Rizal dariku, sekarang kamu mencampakkannya!” nada suara Mita mulai
meninggi. Tiba-tiba Lusi sesenggukan menahan tangis.
“Kamu
benar-benar gak tahu Mita.” Lusi kemudian mengambil album foto dan sebuah buku
catatan. Mita mengenal buku berwarna merah itu, milik Rizal. Itu, buku
diarinya—bahkan Mita tidak boleh memegangnya. Dan kini ada di tangan Lusi. Mita
tak habis pikir.
Dalam perjalanan pulangnya dari rumah
Lusi, mita berhenti di sebuah gazebo di samping pemakamam. Gazebo ini tempat
para peziarah yang ingin duduk. Mita merasakan sesak yang sangat begitu terasa,
darahnya panas dingin, perlahan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya,
saat itu-pun terdengar suara halilintar menyambar disusul hujan turun dengan
derasnya. Semua orang yang berziarah atau berada di areal pemakaman mulai
berteduh. Tapi tidak Mita, dia menengadah ke langit. Betapa hujan di bulan
Desember selalu memberinya luka. Mita akhirnya mengetahui sebuah kenyataan,
bahwa selama ini Rizal gak pernah melukai bahkan mengkhianati. Dia gak mau Mita
melihat kematiannya dan Mita bersedih melihatnya mati. Tapi Rizal ingin Mita
menemukan penggantinya dan bahagia sebelum dirinya mati. Rizal di vonis
mengidap HIV/AIDS gara-gara dia mendapat donor darah dari orang tak dikenal
sewaktu kecelakaan dulu, dan tidak melalui proses dari PMI karena kondisinya
sangat gawat. Bahkan, Rizal sudah memesan sebuah lahan di pemakaman ini untuk
dirinya kelak.
Sudah beberapa hari Mita tak pernah
datang ke perpustakaan, Very merasa kesepian, dia juga khawatir. Telfon Mita
tak pernah aktiv. Setelah mencari informasi sana sini, hasilnya nihil karena
Very gak kenal satupun teman Mita. Suatu ketika, saat Very mengetahui Rizal
sakit keras, diapun menjenguk Rizal di rumah sakit.
Betapa terkejutnya Very saat hendak
masuk kekamar Rizal, ada Mita. Dan mereka terlihat akrab. Dibelakang Very, ada
Lusi yang juga hendak masuk. Lusi mengajak Very untuk duduk diluar dan
menceritakan kejadian antara Mita dan Rizal. Di sisi lain, Rizal begitu
semangat menceritakan tentang Very.
“Maafkan
aku Mita.. aku gak pengen liat kamu sedih melihatku seperti ini. Aku gak pengen
kamu mengingatku sebagai orang yang meninggalkanmu untuk selamanya..” Rizal
berkata sambil terbaring lemah.
“Kamu
jahat Zal. Kamu tega. Kamu tahu aku sangat mencintaimu.. gak mudah melupakanmu.
Kita bersama udah lebih dari lima tahun...” Mita tak kuasa menahan air matanya.
“Oh
ya.. aku lihat kamu sudah mulai menyukai seseorang.. lihatlah dia Mita, dia
pasti sangat mencintaimu, dia selalu bersemangat saat cerita tentangmu—kulihat
kau juga Mita.. dia punya masa depan bersamamu..”
“Maksudmu
apa? Aku bahkan masih mencintaimu Zal. Kamu jangan ngarang!”
“Aku
mohon, berbahagialah dengannya. Dia.. orang baik.. kamu.. demi aku.. lihatlah..
Very..” tiba-tiba layar monitor pendeteksi jantung berbunyi, ‘tiiitt......’
dokter-dokter segera melakukan pertolongan. Beberapa menit kemudian dokter
keluar,
“Maaf,
dia sudah pergi!” segera setelah itu Mita kehilangan kesadarannya. Lusi dan
Very segera mengamankan Mita.
***
Hari setelah pemakaman Rizal, hujan
mengiringi kepergiannya. Mita meminta untuk sendiri bersama makam Rizal. Mita
mulai mengingat kata-kata terakhir Rizal, lihat Very. Sejenak Mita mengingat
masanya bersama Rizal dan membandingkannya dengan masa bersama Very. Bagi Mita,
tidak mudah menerima cinta baru menggantikan Rizal, tapi betapa dia meyakini
hatinya telah jatuh hati pada Very.
Saat Mita masih menangis di depan
makam dan dibawah payung hitamnya, Very muncul.
“Aku
gak tahu hubunganmu dengan Rizal, dengan PD-nya ku ceritakan tentangmu padanya.
Betapa dia selalu memberiku masukan untuk mendekatimu. Aku tahu dia memang kuat
Mita. Makanya kamu bahkan belum sanggup meniggalkannya. Kamu.. pasti sangat
mencintainya. Seperti aku.. mencintaimu.. tapi, kurasa kamu masih butuh waktu.
Tapi jujur, aku mencintaimu. Aku gak butuh sebuah jawaban darimu, aku
mengatakannya saja sudah lega.” Mita hanya mendengarkan Very tanpa membalikkan
badannya, bahunya terlihat bergetar.
“Oh
ya Mita. Malam ini.. aku akan berangkat ke Jepang. Beasiswaku diterima disana.
Terimakasih untuk hari-hari yang kamu berikan ya!” seketika Mita membalikkan
badan dan melihat Very tersenyum, dia melambaikan tangannya lalu pergi...
-TAMAT-
Assalamu’alaikum...
Hallo, namaku Wasi’atul Amalia. Aku tinggal di Jember. Aku seorang mahasiswi
semester 4 di IAIN Jember. Akun facebookku
adalah Wasik Amalia, atau mi_pangsohx@yahoo.co.id.
Terimakasih, wassalamu’alaikum. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar